← Daftar isi Markus (2) · bab 15/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (9)

Pembacaan Alkitab:

Mrk. 8:27-31; 9:30-31; 10:32-34; Yoh. 20:31; 2 Kor. 1:21-22; Gal. 2:20

Dalam Markus 8:27—9:1 Tuhan Yesus dikenal sebagai Kristus. Kemudian Dia melanjutkan mengungkapkan ke-matian dan kebangkitan-Nya untuk kali pertama. Sangatlah berarti bahwa pewahyuan ini datang segera setelah pe-nyembuhan orang buta di Betsaida (8:22-26). Sebelum Tuhan Yesus mengungkapkan diri-Nya sendiri, Dia menyembuhkan orang buta. Ini menunjukkan bahwa untuk nampak Kristus serta kematian dan kebangkitan-Nya, kita perlu disembuh-kan dari kebutaan kita.

Meskipun Tuhan Yesus telah menyembuhkan kebutaan murid-murid-Nya, mereka masih tidak mampu melihat siapa Dia sebenarnya. Mereka juga tidak dapat memahami kematian dan kebangkitan-Nya.

Jika kita bandingkan Markus 8:27—9:1 dengan bagian yang paralel dalam Matius 16, kita akan nampak tiga butir perbedaan. Pertama, dalam Markus 8:29 Petrus berkata, “Engkaulah Mesias (Kristus)!” Tetapi dalam Matius 16:16 dia berkata, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Injil Markus di sini tidak menyinggung perihal Yesus seba-gai Anak Allah yang hidup. Kedua, dalam Matius 16:18 Tuhan Yesus berkata, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendi-rikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Injil Markus tidak mencatat apa pun tentang Tuhan mem-bangun gereja di atas karang ini. Ketiga, Matius 16:19 me-ngatakan, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Injil Markus tidak memiliki catatan akan hal ini. Alasan dari per-bedaan ini adalah Injil Markus hanya memberi kita suatu biografi yang penuh mengenai Tuhan. Injil Markus tidak membahas begitu banyak butir doktrinal.

DIURAPI UNTUK MENYALURKAN ALLAH

TRITUNGGAL KE DALAM UMAT ALLAH

Kita telah nampak bahwa dalam Markus 8:29 Petrus menerima wahyu bahwa Yesus adalah Kristus. Apa arti da-ri sebutan “Kristus”? Kita tahu bahwa dalam bahasa Yunani, Christos berarti yang diurapi. Menurut perlambangan dalam Perjanjian Lama, seseorang selalu diurapi untuk suatu tuju-an khusus. Kemudian, apa tujuan Tuhan menjadi Kristus, Yang diurapi? Untuk apa Dia diurapi?

Ada orang mungkin berkata bahwa Tuhan diurapi untuk melaksanakan kehendak Allah, menjadi raja, dan menjadi imam. Ketika saya masih muda, saya diajar oleh Kaum Sau-dara bahwa sebutan Kristus berarti Tuhan Yesus diurapi Allah untuk melaksanakan amanat Allah. Tuhan diurapi un-tuk melaksanakan kehendak Allah dan untuk mencapai sasaran-Nya. Ini benar, dan saya mempercayainya. Namun, masih ada satu yang kurang dalam pengertian ini tentang makna sebutan Kristus.

Tuhan Yesus diurapi oleh Allah untuk memenuhi amanat Allah. Bagian yang penting dari amanat ini adalah menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam umat pilihan Allah. Karena itu, sebagai Sang terurap Allah, Kristus memiliki amanat untuk menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam umat-Nya.

Injil Markus tidak menekankan Tuhan diurapi untuk menjadi raja, imam, atau nabi. Dalam Injil ini kita nampak bahwa Tuhan Yesus diurapi oleh Allah untuk memenuhi amanat menaburkan Allah ke dalam umat-Nya. Karena itu, Tuhan adalah Kristus, Sang terurap untuk melakukan pekerjaan penaburan.

Mengenai Kristus, Sang terurap, Paulus berkata, “Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang membe-rikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita” (2 Kor. 1:21-22). Di sini kita nampak bahwa Allah telah meneguhkan kita se-mua kepada Kristus, Sang terurap. Di sini kita tidak me-miliki petunjuk apa pun bahwa amanat dari Sang terurap ini adalah menjadi raja atau menjadi seorang nabi. Amanat Kristus, Sang terurap Allah, adalah mengurapi kita dengan Allah sebagai unsur yang memeterai kita dengan Dia dan menjadi jaminan Allah sebagai bagian kita. Amanat ini ti-dak berhubungan dengan jabatan raja atau imam. Amanat ini adalah untuk menaburkan Allah Tritunggal ke dalam kita dan karena itu menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita. Pernahkah Anda nampak bahwa sebutan Kristus adalah untuk melaksanakan amanat sedemikian?

Mungkin Anda pernah mendengar pengajaran yang me-nekankan fakta bahwa sebagai Sang terurap Allah, Kristus diurapi untuk melaksanakan amanat Allah, mendirikan Kerajaan Allah, dan menjadi seorang raja, seorang imam, dan seorang nabi. Mungkin Anda belum pernah mendengar sebelumnya bahwa Kristus diurapi oleh Allah dengan suatu amanat yang khusus, yaitu menyalurkan hayat ilahi ke dalam kita dengan menaburkan diri-Nya ke dalam kita. Kristus diurapi untuk menaburkan Allah Tritunggal sebagai benih hayat ke dalam kita. Menurut wahyu Perjanjian Baru, ini adalah aspek pertama dari amanat Kristus, dan kita semua perlu nampak hal ini. Aspek pertama amanat yang diterima Kristus dari Bapa bukanlah menjadi seorang raja atau nabi; tetapi menjadi seorang penabur, orang yang menaburkan Allah Tritunggal ke dalam kita.

PERSONA DAN AMANAT TUHAN

Yohanes 20:31 mengatakan, “Tetapi hal-hal ini telah di-catat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias (Kristus), Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup (hayat) dalam nama-Nya.” Selama bertahun-tahun saya terganggu oleh ayat ini. Saya tidak mengerti mengapa Yohanes 20:31 bukan hanya membicarakan Putra Allah, tetapi juga Kristus. Saya telah diajar bahwa Kristus adalah Sang terurap Allah untuk melaksanakan amanat Allah gu-na mendirikan kerajaan. Mengapa perlu percaya bahwa Yesus adalah Kristus untuk memiliki hayat kekal? Saya pi-kir asalkan saya percaya kepada Anak Allah, saya sudah bi-sa memiliki hayat kekal. Yohanes 20:31 adalah suatu ayat yang kuat yang memberi tahu kita bahwa kita harus per-caya kepada Kristus untuk memiliki hayat kekal. Perjan-jian Baru mengatakan bahwa kita memiliki hayat kekal melalui percaya kepada Anak Allah (Yoh. 3:16). Akhirnya, saya mengerti bahwa Anak Allah mengacu kepada persona Tuhan dan Kristus mengacu kepada amanat-Nya. Kita perlu percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, karena pesona-Nya sebagai Anak Allah adalah perkara hayat kekal. Tetapi untuk melaksanakan amanat-Nya, yaitu menyalur-kan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat, Anak Allah harus menjadi Sang terurap Allah. Hanya dengan menjadi Kristuslah Tuhan Yesus menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai Anak Allah sehingga kita bisa memiliki hayat kekal.

PENGERTIAN MURID-MURID MENGENAI

PERKARA-PERKARA YANG DICATAT DALAM INJIL MARKUS

Dalam Injil Markus Tuhan Yesus bukan hanya melatih murid-murid-Nya atau mengajar mereka. Dia membawa mereka beserta-Nya ke mana pun Dia pergi sehingga me-reka bisa mengamati kehidupan-Nya. Mereka mendengar apa yang Tuhan katakan dan mereka melihat apa yang Dia kerjakan. Mereka mengamati bagaimana Dia menangani berbagai peristiwa. Pada saat itu, penafsiran akan peristiwa-peristiwa ini belum diberikan. Mereka heran ketika Dia ber-jalan di depan mereka ke Yerusalem: “Yesus dan murid-mu-rid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas (heran) dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut” (10:32).

Dalam Injil Markus, ke mana pun Tuhan Yesus pergi, Dia membawa murid-murid-Nya beserta-Nya. Mereka me-nyertai-Nya ketika Dia memasuki Yerusalem, mereka me-nyertai-Nya ketika Dia membersihkan Bait Suci, mereka menyertai-Nya ketika Dia menginap di Betania, mereka me-nyertai-Nya ketika Dia makan Paskah dan menetapkan perjamuan-Nya, dan mereka menyertai-Nya ketika Dia di-khianati dan ditangkap.

Setelah kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan, murid-murid mulai mengerti makna dari semua yang terjadi menurut catatan dalam Injil Markus. Dalam Surat Kirimannya yang pertama Petrus berkata, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan” (1 Ptr. 1:3). Ayat ini me-nunjukkan bahwa mata Petrus dibuka dan dia penuh pe-ngertian tentang apa yang telah Tuhan lakukan untuknya.

Setelah hari Pentakosta, Petrus pun memahami pengalamannya dulu terhadap Juruselamat. Mungkin Petrus berkata kepada dirinya sendiri, “Sekarang aku tahu mengapa Tuhanku melangkah dengan berani ke Yerusalem. Sekarang aku nampak bahwa aku tercakup ketika Dia dihakimi dan disalibkan. Ketika Dia disalibkan dan dikuburkan, aku pun disalibkan dan dikuburkan bersama Dia. Ketika Dia dibangkitkan, aku pun dibangkitkan bersama Dia. Saat itu, Dia yang membawa aku; sekarang, aku yang membawa Dia; karena Dia ada di dalamku dan aku ada di dalam Dia. Sejak Tuhan memanggilku, Dia mulai meletakkanku di dalam-Nya dan juga menaburkan diri-Nya ke dalamku. Puji Tuhan bahwa sekarang Dia di dalamku dan aku di dalam Dia! Tuhan dan aku adalah satu!”

Beberapa orang mungkin heran, bagaimana kita tahu bahwa Petrus dan murid-murid lainnya kemudian memiliki pemahaman sedemikian tentang perkara-perkara yang dicatat dalam Injil Markus. Dasar dari perkataan kita adalah apa yang ditulis dalam Surat-surat Kiriman. Surat-surat Kiriman Perjanjian Baru adalah penjelasan dari biografi Tuhan Yesus dalam Injil Markus.

KEBUTAAN MURID-MURID TUHAN

Menurut Injil Markus, murid-murid Tuhan dalam ke-adaan buta dan tidak mengerti. Dalam 8:31 Dia mengajar mereka dengan jelas mengenai kematian dan kebangkitan-Nya: “Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada me-reka bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak pen-deritaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” Meskipun Dia membicarakan perkataan yang jelas, murid-murid-Nya tidak memahami Dia.

Karena murid-murid Tuhan tidak memahami pengungkapan kematian dan kebangkitan-Nya kali pertama, Dia berbicara kepada mereka tentang hal itu lagi dalam 9:31: “Sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata ke-pada mereka, ‘Anak Manusia akan diserahkan ke dalam ta-ngan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.’” Ayat 32 menga-takan bahwa “mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.”

Dalam 9:33-34 kita memiliki suatu petunjuk lebih lan-jut betapa butanya murid-murid dan betapa mereka tidak mampu memahami perkataan-Nya mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Setelah Tuhan dan murid-murid-Nya da-tang ke Kapernaum, Dia menanyai mereka, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” (ayat 33). Mereka diam, “sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka.” Betapa butanya mereka! Tuhan telah memberi tahu mereka dengan jelas bahwa Dia akan dibunuh dan kemudian akan bangkit setelah tiga hari, tetapi mereka tidak mengerti perkataan itu. Secara fakta, segera setelah Dia mengungkapkan kematian dan kebangkit-an-Nya kepada mereka untuk kali kedua, mereka berdebat satu sama lain mengenai siapa yang terbesar.

Dalam 10:32 Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem bersama murid-murid-Nya. Dalam 10:33-34 tercantum pengungkap-an kali ketiga tentang kematian dan kebangkitan Tuhan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, te-tapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.” Segera setelah Dia mengatakan perkataan yang jelas ini, Yakobus dan Yohanes berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” (10:35). Ketika Dia menanyai mereka apa yang mereka ingin Dia perbuat un-tuk mereka, mereka berkata, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu” (ayat 36-37). Ketika murid yang lain mendengar hal ini, mereka “men-jadi marah kepada Yakobus dan Yohanes” (ayat 41). Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid tidak mampu mengerti pengungkapan Tuhan tentang kematian dan kebangkitan-Nya.

KITA PERLU DIBAWA KE ATAS SALIB

Meskipun murid-murid buta dan kekurangan pemahaman, Tuhan Yesus tetap tidak menyimpang dari sasaran-Nya. Dia berketetapan membawa murid-murid-Nya bersama Dia ke atas salib. Dia tahu bahwa ketika Dia disalibkan, mereka akan disalibkan bersama-Nya.

Permintaan Yakobus dan Yohanes untuk duduk di se-belah kanan dan kiri Tuhan dalam kemuliaan-Nya serta kemarahan kesepuluh murid lainnya membuktikan bahwa mereka semua buta dan perlu kesembuhan. Karena itu, sa-ngatlah berarti bahwa bagian selanjutnya dalam Injil Markus membahas penyembuhan Bartimeus yang buta (10:46-52). Bartimeus yang buta mewakili semua murid, termasuk kita. Kita juga buta dan perlu penyembuhan Tuhan. Bukti kebutaan kita terdapat pada fakta bahwa kita mungkin men-dengarkan berita demi berita tanpa melihat sesuatu. Kita tidak melihat wahyu Tuhan, malah mungkin tetap meme-gang konsepsi kita. Kita mungkin tidak tahu apa maksudnya mati bersama Kristus dan berbagian dalam kebangkitan-Nya. Memang kita perlu dibawa ke atas salib.

Tampaknya, ketika Tuhan Yesus disalibkan, Dia disalibkan sendirian. Sesungguhnya, dalam pandangan Allah, semua murid-Nya, termasuk kita, disalibkan bersama Kristus. Kita tahu hal ini dari apa yang diwahyukan dalam Suratsurat Kiriman.

Ketika kita melihat murid-murid, kita melihat bahwa mereka masing-masing adalah orang aneh. Jika kita meli-hat diri kita sendiri dengan jujur, kita akan menyadari bahwa kita semua aneh dan bahkan tidak normal. Apa yang harus kita lakukan terhadap situasi kita? Kita tidak perlu melakukan apa pun karena Tuhan telah melakukan apa yang perlu dilakukan. Dia telah membawa kita ke dalam kema-tian-Nya. Dia telah menyalibkan kita semua bersama-Nya.