← Daftar isi Markus (2) · bab 14/25

KEHIDUPAN YANG SEPENUHNYA SESUAI DENGAN DAN BAGI EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (8)

Pembacaan Alkitab:

Mrk. 8:27-31; 9:30-31; 10:32-34; Yoh. 20:31; 2 Kor. 1:21-22; Gal. 2:20

Injil Markus adalah biografi kehidupan seseorang yang sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Untuk mengerti biografi ini, kita perlu memahami bahwa setiap kejadian yang dicatat di dalamnya sangatlah berarti. Kita mengucap syukur kepada Tuhan bahwa kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru, terutama Surat Kiriman Paulus, membantu kita untuk memahami rincian biografi Tuhan dalam Injil Markus. Berita-berita yang disampaikan dalam Pelajaran-Hayat Surat-surat Kiriman Paulus juga memban-tu kita memahami makna Injil Markus sebagai suatu bio-grafi dari satu kehidupan yang sepenuhnya sesuai dengan dan bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Dalam berita sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa dalam Markus 8, kita memiliki wahyu Kristus, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya. Surat Kiriman Paulus juga menekankan Kristus, kematian, dan kebangkitan-Nya. Faktanya, satu ayat, Filipi 3:10, mencakup ketiga hal ini: “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Di sini kita nampak persona Kristus juga kematian dan kebangkitan-Nya.

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah membahas keempat pasal pertama dari Injil Markus. Kita telah nampak bahwa ketika Tuhan Yesus dibaptis, Roh Allah turun ke atas-Nya. Sejak saat itu, sebagaimana dicatat dalam pasal 1 dan 2, Tuhan Yesus menempuh suatu kehidupan yang memberitakan Injil, mengajarkan kebenaran, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mentahirkan orang kusta. Dia membawakan pengampunan kepada manusia dan Dia juga membawa mereka ke dalam kenikmatan akan diri-Nya sendiri sebagai kebenaran lahiriah dan hayat batiniah. Selain itu, Dia membawa mereka ke dalam kepuasan-Nya dan ke dalam kebebasan. Selanjutnya, Tuhan Yesus menempuh hidup dengan cara bersatu dengan Allah, meng-ikat musuh Allah, serta menyangkal hubungan alamiah dan tinggal di dalam hubungan hayat rohani.

Dalam pasal 4 Tuhan Yesus mewahyukan makna kehidupan-Nya dalam tiga pasal sebelumnya. Makna dari kehidupan Tuhan adalah Dia sebagai penabur menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam manusia. Tuhan menaburkan diri-Nya sendiri sebagai benih ke dalam orang-orang yang disentuh-Nya. Dengan menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam orang-orang, kerajaan pun terwujud. Kerajaan ini akan bertumbuh, berkembang, dan matang, siap untuk dituai.

EMPAT PERISTIWA PENYEMBUHAN

Dalam Markus 1—3 ada empat peristiwa penyem-buhan: penyembuhan ibu mertua Simon yang sakit demam (1:30-31); pentahiran orang kusta (1:40-45); penyembuhan orang lumpuh yang dibawa kepada Tuhan (2:1-12); dan pe-nyembuhan orang yang tangannya mati sebelah (3:1-6). Ke-empat peristiwa ini menggambarkan keadaan rohani kita sebelum kita beroleh selamat. Kita adalah orang yang sakit demam, yang suhunya tinggi secara abnormal. Hari ini se-tiap orang yang jatuh terkena demam. Sebelum kita beroleh selamat, kita juga adalah orang kusta; kita najis, cemar, dan kotor sampai puncaknya. Selain itu, sebagai orang yang belum beroleh selamat, kita adalah orang lumpuh. Dalam pandangan Allah, kita sama sekali lumpuh. Karena kita lumpuh total, kita tidak mampu melakukan apa pun bagi Allah. Sebagai orang lumpuh, kita tidak dapat berjalan. Ki-ta juga adalah orang yang tangannya mati sebelah. Karena itu, kita sakit demam, orang kusta yang tercemar, lumpuh, tidak mampu berjalan, dan kita adalah orang yang tangan-nya mati sebelah, tidak mampu bekerja. Meskipun peristi-wa-peristiwa ini terpisah-pisah dalam Injil Markus, secara rohani, peristiwa-peristiwa ini menggambarkan keadaan se-tiap manusia. Karena itu, peristiwa-peristiwa ini menggam-barkan situasi seseorang secara khusus.

PETRUS ADALAH WAKIL KITA

Pernahkah Anda menyadari bahwa dalam Injil Markus ada seorang yang adalah wakil kita? Orang yang mewakili kita adalah Petrus. Menurut catatan dalam Injil Markus, Petrus adalah orang pertama yang dipanggil oleh Tuhan. Setelah dia dipanggil, dia selalu memimpin. Dia bahkan me-melopori untuk menyangkal Tuhan Yesus. Kita dapat berka-ta, dalam satu arti, Petrus disalibkan sebelum Tuhan Yesus. Kemudian setelah Tuhan bangkit, nama Petrus disebut oleh malaikat: “Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea” (16:7).

Karena dalam Injil Markus, Petrus adalah wakil kita, maka semua peristiwa yang digambarkan dalam kitab ini dapat dianggap sebagai suatu kumpulan dan diberi nama Petrus. Sangatlah berarti bahwa peristiwa penyembuhan pertama dalam Injil ini adalah penyembuhan ibu mertua Petrus. Secara rohani, semua peristiwa dalam kitab ini ber-kaitan dengan Petrus. Ini berarti Petrus sakit demam dan Petrus adalah Bartimeus buta yang ada di pintu gerbang Yerikho. Petrus perlu disembuhkan dari demamnya dan dari kebutaannya.

PENYEMBUHAN ORGAN-ORGAN KHUSUS

Empat peristiwa penyembuhan dalam pasal 1—3 semua-nya berada dalam kategori yang sama, kategori penyembuh-an yang umum. Setelah pasal 4 Tuhan Yesus melakukan penyembuhan lebih lanjut. Tetapi penyembuhan ini adalah penyembuhan organ-organ khusus: organ pendengaran, or-gan pembicaraan, dan organ penglihatan. Untuk berkontak dengan orang lain, kita harus memiliki organ-organ ini. Ji-ka kita tuli, bisu, dan buta, bagaimana kita dapat berkontak dengan orang lain? Kita tidak dapat mengontak orang lain karena kita tidak mampu mendengar, berbicara, atau meli-hat. Sebagai wakil kita, Petrus disembuhkan dari demamnya, kustanya, kelumpuhannya, dan kondisi tangan yang mati sebelah; namun, dia masih tidak dapat mendengar, berbicara, atau melihat.

Setelah empat peristiwa penyembuhan yang umum, kita memiliki empat peristiwa penyembuhan organ yang khusus. Dalam 7:31-37 kita memiliki penyembuhan orang yang tuli dan bisu; dalam 8:22-26, penyembuhan orang yang buta di Betsaida; dalam 9:14-29, penyembuhan seorang laki-laki yang dirasuk roh bisu; dan dalam 10:46-52, penyembuhan Bartimeus yang buta. Dalam keempat peristiwa ini, ketiga organ yang khusus disembuhkan: organ pendengaran, organ pembicaraan, dan organ penglihatan.

DUA PERISTIWA KEBUTAAAN

Marilah kita perhatikan dua peristiwa penyembuhan ke-butaan. Ketika mereka datang ke Betsaida, seorang yang buta dibawa kepada Tuhan Yesus. “Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar desa. Lalu Ia me-ludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya kepadanya, ‘Sudahkah kaulihat sesuatu?’” (8:23). Orang itu memandang ke depan, lalu berkata, “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku meli-hat mereka berjalan-jalan” (ayat 24). Kemudian Tuhan me-letakkan tangan-Nya di atas mata orang itu, “maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.” Bukankah ini merupakan gambaran keadaan rohani kita? Kali pertama kita nampak Tuhan, kita tidak nampak Dia dengan jelas. Kita tidak nampak hal-hal rohani tepat seperti apa adanya. Kemudian, setelah berkontak dengan Tuhan lebih lanjut, kita mulai nampak segala hal dengan jelas.

Peristiwa kedua dari penyembuhan kebutaan adalah penyembuhan kebutaan Bartimeus. Ketika Tuhan Yesus me-nanyai Bartimeus apa yang dia kehendaki Tuhan perbuat baginya, orang buta itu menjawab, “Rabuni, aku ingin da-pat melihat!” (10:51). Kemudian Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ayat 52), dan saat itu juga Bartimeus dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya (ayat 52). Ini adalah peris-tiwa penyembuhan terakhir yang dicatat dalam Injil Markus.

KITA PERLU PENYEMBUHAN YANG KHUSUS

Secara rohani, hubungan kita dengan Allah tergantung pada organ pendengaran, organ pembicaraan, dan organ peng-lihatan kita. Jika kita tidak dapat mendengar perkataan Allah, jika kita tidak dapat berbicara kepada Allah, dan jika kita tidak dapat nampak visi Allah, kita tidak dapat memiliki hubungan apa pun dengan Dia. Jika situasi kita demikian, kita akan seperti berhala yang bisu yang berdiri di hadapan Allah. Karena itu, kita perlu penyembuhan organ pendengaran, pembicaraan, dan penglihatan.

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa secara rohani kita mati, tetapi Tuhan Yesus telah menghidupkan kita. Ketika Dia datang kepada kita dan menaburkan diri-Nya ke dalam kita, kita dihidupkan. Kemudian kita disembuhkan dari demam, kusta, lumpuh, dan kondisi mati sebelah.

Puji Tuhan, kita telah dihidupkan, kita telah dilahirkan kembali! Namun, setelah dilahirkan kembali, kita mungkin masih tuli, bisu, dan buta, kita perlu penyembuhan Tuhan yang khusus. Bukankah ini pengalaman Anda bersama Tuhan? Saya dapat bersaksi bahwa saya juga mengalaminya. Saya dilahirkan kembali pada tahun 1925, tetapi baru pada tahun 1932 telinga saya mulai mendengar suara Allah, mata saya mulai nampak visi-Nya, dan mulut saya terbuka untuk berbicara bagi Allah. Puji Tuhan bahwa hari ini, karena belas kasihan-Nya, saya dapat mendengar, berbicara, dan melihat.

DUA KATEGORI PENYEMBUHAN

Kita perlu memiliki pemahaman yang jelas atas dua kategori penyembuhan dalam Injil Markus. Empat peristiwa dalam kategori pertama berhubungan dengan dihidupkan. Empat peristiwa dalam kategori kedua berhubungan dengan pemulihan organ-organ yang penting: organ pendengaran, pembicaraan, dan penglihatan; organ-organ rohani yang diperlukan untuk mengontak Allah.

Dalam 5:21-43 tercatat penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan dan membangkitkan gadis yang mati. Pe-ristiwa perempuan yang sakit pendarahan adalah peristiwa bocornya hayat. Karena peristiwa perempuan ini digabung-kan dengan peristiwa gadis itu, dan karena 12 tahun sakit-nya perempuan itu sama dengan umur gadis itu, dan kedua-nya adalah perempuan, maka peristiwa-peristiwa ini dapat dianggap sebagai peristiwa satu orang. Dari sudut pandang-an ini, boleh dikatakan gadis itu dilahirkan dalam penyakit maut perempuan itu dan mati karenanya. Ketika penyakit maut perempuan itu disembuhkan oleh Juruselamat, gadis itu bangkit dari kematian.

Dalam 7:24-30 terdapat peristiwa pengusiran setan dari putri seorang perempuan Siro-Fenesia. Dalam 7:26 dikata-kan bahwa “perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia.” Dia adalah orang Siria menurut bahasanya, orang Fenisia menurut rasnya (lihat Kis. 21:2-3), dan karena orang Fenisia adalah keturunan bangsa Kanaan, maka dia adalah seorang perempuan Kanaan (Mat. 15:22). Apa yang membu-at dia seorang Yunani — agama, perkawinan, atau hal-hal yang lain — sulit untuk ditemukan. Meskipun perempuan ini adalah tiga ganda kafir, dalam pandangan Allah dia adalah seekor “anjing kecil” yang Dia sayangi (ayat 28-29).

Jika kita menjajarkan semua peristiwa ini, paham bahwa peristiwa-peristiwa ini menyusun suatu gambaran dari Petrus, wakil kita, kita akan nampak peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa Petrus sepenuhnya disembuhkan dan dipulihkan. Dalam Kisah Para Rasul 2, Petrus bukan hanya hidup, dia juga kuat dalam hayat dan dalam kemampuan untuk mendengar, berbicara, dan melihat.

KONDISI HATI MANUSIA

Dalam 7:1-23 Tuhan Yesus menyingkapkan kondisi hati manusia. Dalam bagian Injil Markus ini Tuhan adalah se-orang ahli bedah yang membedah manusia batiniah kita dan menyingkapkan kondisi kita yang sebenarnya. Dalam 7:20 Tuhan mengatakan, “Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya.” Kemudian Dia mencatat sejumlah hal jahat yang “keluar dari hati manusia” (ayat 21-22). Setelah itu, Dia menyimpulkan, “Semua hal jahat ini timbul dari da-lam dan menajiskan orang” (ayat 23). Kita semua perlu nam-pak kondisi batiniah manusia. Kita semua perlu nampak bahwa tidak ada yang baik dalam hati manusia yang jatuh.

DUA PERISTIWA PEMBERIAN MAKAN

Setelah penyingkapan hati, ada dua peristiwa pemberi-an makan: pemberian makan terhadap orang bukan Yahudi sebagai “anjing kecil di bawah meja” (7:27-30) dan pemberi-an makan terhadap empat ribu orang (8:1-9). Dalam 7:27 Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Siro-Fenisia, “Biar-lah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengam-bil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkan-nya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing (kecil) yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (7:28). Orang Yahudi dianggap sebagai anak-anak Allah, dan di sini orang kafir digambarkan sebagai “anjing kecil”, bukan sebagai an-jing liar, tetapi sebagai anjing peliharaan, anjing kecil di bawah meja keluarga. Sebagai anak-anak yang sedang ma-kan di meja, anjing-anjing peliharaan sedang menunggu re-mah-remah yang akan jatuh di bawah meja. Remah-remah menjadi bagian dari anjing peliharaan. Di sini kita nampak bahwa Tuhan bukan hanya roti anak-anak di atas meja, tetapi juga remah-remah di bawah meja. Dia bahkan adalah bagian “anjing kecil”, orang bukan Yahudi.

Dalam 8:1-9 tercantum pemberian makan terhadap em-pat ribu orang. Setelah orang-orang makan dan dipuaskan, “kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul” (ayat 8).

PENGUNGKAPAN KRISTUS DENGAN KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA

Dalam 8:27—9:1 kita memiliki pengungkapan Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Sebelum waktu itu, Tuhan Yesus belum diungkapkan kepada murid-murid-Nya. Mereka mengikuti Dia secara buta, tanpa menyadari siapakah Dia. Kemudian pada akhir pasal 8, Tuhan membawa mereka keluar dari atmosfer agamawi Yerusalem kepada atmosfer yang jernih di Kaisarea Filipi. Di tengah jalan “Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, ‘Kata orang, siapakah Aku ini?’” (8:27). Ada yang mengatakan: “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan: Seorang dari para nabi” (ayat 28). Kemudian Tuhan bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 29). Petrus mengambil pimpinan untuk mengumumkan, “Engkaulah Kristus!” Dia nampak visi bahwa Yesus adalah Kristus. Segera, Tuhan meneruskan pembicaraan-Nya kepada mereka mengenai kematian dan kebangkitan-Nya. Karena itu, di sini kita memiliki pengungkapan per-sona Kristus juga pengungkapan kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam ayat-ayat ini kita memiliki wahyu yang sangat penting tentang persona Kristus dengan kematian dan kebangkitan-Nya.