← Daftar isi Allah Mengasihi Manusia (1) · bab 4/8

MEMPERSEMBAHKAN DIRI (KONSEKRASI)

Minggu ke-4 – Senin Doa Baca: 1 Kor.6:19-20

"... dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu".

Mempersembahkan diri adalah reaksi positif kita, orang-orang yang menerima rahmat, terhadap karunia keselamatan Tuhan. Kita telah menerima karunia keselamatan dengan cuma-cuma, dengan sendirinya kita ingin membalas budi Tuhan. Kita mempersembahkan diri kepada Tuhan supaya Tuhan mendapatkan kita, hal ini sebagai balas budi yang kita berikan kepada Tuhan. Kita harus tahu, bahwa Tuhan yang bermurah hati kepada kita, Tuhan yang merahmati kita, Tuhan yang mengasihi kita, Tuhan yang menolong kita, karena itu kita wajib mempersembahkan segalanya kepada-Nya.

I. DASAR KONSEKRASI

Konsekrasi adalah berdasarkan hak Tuhan. Ini tercantum dalam I Korintus 6:19-20: "Bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah tunas dibayar." Tuhan telah membeli kita dengan harga pengorbanan jiwa-Nya. Jadi kita adalah orang-orang yang telah dibeli oleh darah Tuhan (Why.5:9). Karena kita telah ditebus oleh Tuhan, maka hak milik atas diri kita telah beralih kepada Tuhan. Kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan. Sebab itu, kita wajib memuliakan Allah dengan tubuh kita. Dengan harga pencucuran darah-Nya di atas salib, Tuhan telah menebus kita. Maka berdasarkan hak Tuhan itulah kita sudah seharusnya menjadi milik-Nya. Tuhan membeli kita bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan darah-Nya. Dalam hal ini terkandung kasih dan hak Tuhan. Karena hak Tuhan, kita memilih melayani Dia; karena hak Tuhan, kita tak dapat tidak berjalan mengikuti-Nya. Baik dari segi hak maupun kasih yang timbul dari penebusan-Nya, semuanya membuat kita mempersembahkan diri kepada-Nya.

II. MOTIVASI KONSEKRASI

Dua Korintus 5:14-15 dengan jelas memperlihatkan kepada kita, karena dikuasai oleh kasih Tuhan, maka anak-anak Allah hidup bagi Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk mereka. Seseorang hidup bagi Tuhan karena ia telah dikuasai oleh kasih Tuhan. Kata "dikuasai" dalam bahasa aslinya boleh diterjemahkan "diikat dengan erat". Jadi kita telah diikat dengan erat sekali dalam kasih, sehingga kita tak berdaya melarikan diri. Hal ini dapat dirasakan saat seseorang dijamah oleh kasih. Dia telah mati bagi kita, maka sekarang wajiblah kita hidup bagi Dia. Jadi kasih adalah motivasi konsekrasi seseorang. Oleh kasih Tuhanlah manusia dapat berkonsekrasi. Tidak ada seorang pun yang dapat berkonsekrasi tanpa merasakan kasih Tuhan. Orang yang ingin berkonsekrasi kepada Tuhan, terlebih dulu harus nampak kasih Tuhan. Begitu seseorang nampak kasih Tuhan, niscaya konsekrasi merupakan hasil yang timbul dengan sendirinya.

Karena Dia mati bagi kita semua, maka kita semua juga mati, sehingga kita tak perlu mati sendiri; lagi pula Dia mati agar kita mendapatkan hayat-Nya, hidup terhadap-Nya. Kasih ini menguasai kita, mendesak kita untuk mengasihi Dia, mempersembahkan diri kepada-Nya, sebagai ucapan syukur dan balas budi kita terhadap kasih-Nya yang agung. Dia dengan darah adi-Nya membeli kita, supaya kita menjadi budak yang Dia beli, itu adalah dasar konsekrasi kita kepada-Nya. Karena kasih Dia mati bagi kita, itu adalah motivasi konsekrasi kita. Karena kedua hal ini, kita harus menjadi milik Tuhan.

Catatan:

Minggu ke-4 – Selasa Doa Baca: Why.1:5-6

". . . Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya – dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya – . . ."

III. ARTI KONSEKRASI

Hanya tergerak oleh kasih atau hanya mengenal hak yang sah, itu belum berarti sudah melakukan konsekrasi. Konsekrasi adalah kita telah digerakkan oleh kasih Tuhan, nampak hak Tuhan, lalu kita memisahkan diri kita dari segala sesuatu bagi Tuhan, untuk Tuhan; menaruh diri kita pada kedudukan yang baru. Karena telah digerakkan oleh kasih Tuhan dan telah dibeli dengan harga yang mahal, maka wajarlah kita menyisihkan diri sambil menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Inilah yang disebut "ditahbiskan" dalam Perjanjian Lama. "Pentahbisan" berarti menerima jabatan untuk melayani Allah. Ini adalah jabatan yang kudus, inilah konsekrasi. Jadi, konsekrasi berarti menerima jabatan untuk melayani Allah, menyatakan kepada Tuhan, "Tuhan! Karena Engkau mengasihi aku, maka kini aku menyisihkan diriku dari segala sesuatu untuk melayani-Mu."

IV. ORANG YANG BERKONSEKRASI

Terlebih dulu marl kita lihat Keluaran 28:1-2; 29:1, 4, 9-10; juga beberapa ayat lagi dari Alkitab.

Setelah membaca ayat-ayat tadi, kita nampak bahwa konsekrasi adalah satu perkara yang amat khusus. Seluruh umat Israel merupakan satu negara pilihan Allah (Kel.19:5-6). Tetapi seluruh umat Israel bukan merupakan negara yang berkonsekrasi. Bangsa Israel terdiri dari 12 suku, namun bukan setiap suku bisa menerima "pentahbisan." Dari 12 suku itu, Allah hanya memilih suku Lewi (Bil.3:11-13). Di antara suku Lewi, hanya keluarga Harun yang bisa menerima "pentahbisan." Jadi tidak seluruh bani Israel bisa menerima pentahbisan, juga tidak seluruh suku Lewi, melainkan hanya keluarga Harun yang bisa menerima "pentahbisan." Jadi hanya orang-orang milik keluarga ini yang bisa melakukan konsekrasi. Jika bukan orang dalam keluarga ini, tidak bisa berkonsekrasi. Hanya orang dalam keluarga Harun yang bisa menjadi imam, bisa berkonsekrasi.

Syukur kepada Allah, hari ini kita adalah anggota keluarga ini. Orang yang percaya Tuhan adalah orang dalam keluarga ini. Semua orang yang beroleh karunia keselamatan adalah imam (Why. 1:5-6). Allah telah memilih kita untuk dijadikan imam. Dulu, hanya keluarga Harun yang boleh melaksanakan konsekrasi. Orang lain yang masuk akan dihukum mati (Bil. 18:7). Hari ini, Allah justru telah memilih kita untuk menjadi imam-iman; kita adalah orang-orang dalam keluarga ini; kita adalah orang-orang yang dapat berkonsekrasi.

Ada satu hal lagi yang wajib kita ketahui, yaitu bukan manusia yang memilih Allah, kemudian melakukan konsekrasi; melainkan Allah yang memilih manusia dan menghendakinya melakukan konsekrasi. Orang yang telah mengesampingkan dirinya untuk melayani Allah, lalu menganggap bahwa dengan ini ia telah memberi prioritas kepada Allah, ia adalah orang yang di luar pintu, bukan orang yang berkonsekrasi. Ketahuilah, bukan Anda yang menghargai atau menghormati Allah, lalu melayani Dia; juga bukan Anda yang membawakan diri Anda untuk melakukan pekerjaan Tuhan, melainkan Allah yang bermurah hati kepada Anda sehingga Anda diberi bagian dalam pekerjaan Allah. Allahlah yang mengaruniai Anda kemuliaan dan keelokan. Alkitab memberitahu kita, bahwa pakaian kudus yang dikenakan imam adalah untuk kemuliaan dan keindahan (Kel.28:2). Konsekrasi adalah Allah memberi kemuliaan dan keelokan kepada Anda, Allah memilih dan mengijinkan Anda melayani Dia. Orang yang dapat melayani Allah adalah orang-orang yang beroleh kehormatan dari Allah. Sekali-kali bukan kita yang meninggikan Allah, seolah-olah kita telah mengorbankan apa-apa bagi-Nya, atau seolah-olah kita memiliki suatu kemuliaan. Konsekrasi adalah Allah mengaruniai kita kemuliaan. Kita wajib berlutut sambil berkata, "Syukur kepada Allah, karena aku mendapat bagian dalam melayani Allah. Betapa banyaknya orang di dunia ini, tetapi aku, orang yang demikian ini, bisa beroleh bagian!" Konsekrasi berarti kita yang dijunjung tinggi oleh Allah, sekali-kali bukan kita yang berkorban. Memang kita harus berkorban sebesar-besarnya, tapi dalam konsekrasi tidak ada rasa berkorban, melainkan penuh dengan rasa dimuliakan oleh Allah.

Catatan:

Minggu ke-4 – Rabu Doa Baca: Kel.21:5-6

"Aku cinta kepada tuanku . . . aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka . . . bekerja pada tuannya untuk seumur hidup."

V. CARA KONSEKRASI

Kitab Imamat 8:14-28, mengisahkan tentang seekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, dan sebakul roti. Lembu untuk korban penghapus dosa, domba jantan yang pertama untuk korban bakaran, sedang domba jantan yang kedua dan roti dalam bakul untuk korban pentahbisan.

1. Korban Penghapus Dosa

Orang yang ingin menerima pentahbisan suci di hadapan Allah, yang ingin berkonsekrasi kepada Allah, persoalannya yang pertama ialah tentang penghapusan dosa. Ini sudah sepatutnya. Jadi, orang yang berkonsekrasi itu pasti adalah orang yang sudah beroleh selamat, dan telah menjadi milik Tuhan. Penghapusan dosa adalah dasar konsekrasi.

2. Korban Bakaran

Selanjutnya memperlihatkan kepada kita dua ekor domba jantan. Kita perlu membaca dengan teliti kitab Imamat 8:18-28. Kedua domba ini, seekor dijadikan korban bakaran, seekor lainnya dijadikan korban pentahbisan, yang membuat Harun sejak saat itu dapat melayani Allah.

Korban atau persembahan bakaran itu adalah suatu persembahan yang dibakar sampai habis. Daging dari persembahan ini tidak boleh dimakan oleh imam, harus dibakar sampai habis. Korban penghapus dosa hanya membereskan dosa kita, sedang korban bakaran membuat kita diperkenan di hadapan Allah. Pemberesan dosa di atas salib yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita ditujukan kepada pekerjaan-Nya sebagai korban penghapus dosa; sedang di atas salib Tuhan membelah tirai dari atas ke bawah ditujukan kepada pekerjaan-Nya sebagai korban bakaran, yang membawa kita memasuki tempat yang Mahakudus. Inilah pekerjaan korban bakaran.

3. Korban Pentahbisan

Setelah seekor domba jantan itu disembelih, masih perlu menyembelih yang seekor lainnya.

a. Pembubuhan Darah

Apakah yang harus dilakukan setelah domba jantan yang kedua itu disembelih? Pertama-tama, darah domba itu dibubuhkan pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan, dan jari kaki kanan Harun beserta anak-anaknya. Ini berarti setelah aku diperkenan oleh Allah di dalam Kristus, maka kini aku harus mengakui, bahwa darah telah menyisihkan aku bagi Allah -- telinga, tangan, dan kakiku, bagi Allah. Aku wajib berdiri di atas kedudukan di mana telinga, tangan, dan kakiku semuanya menjadi milik Allah. Karena penebusan-Nya, maka telingaku harus kupakai untuk mendengar suara Allah, tanganku harus kupakai untuk bekerja bagi Allah, kakiku harus kupakai untuk berjalan bagi Allah. Dengan membubuhkan darah pada cuping telinga kanan, jari tangan kanan, dan jari kaki kanan, aku menyatakan, bahwa telinga, tangan, dan kakiku, semua telah dibeli sehingga menjadi milik Tuhan. Sewajarnyalah kita berkata kepada Tuhan, "Ya Tuhan, karena penebusan-Mu, maka sejak kini telinga, tangan, dan kakiku, semuanya bukan milikku lagi, melainkan milik-Mu; bahkan seluruh diriku adalah milik-Mu, bukan milikku."

Darah adalah pertanda hak dan pertanda kasih. "Harga tunai" dalam l Korintus 6 tak lain ialah darah ini; sedang "kasih" dalam 2 Korintus 5 juga darah ini. Karena ada darah, ada kasih, dan ada hak, maka seluruh diriku bukan lagi milikku. Tuhan telah mengalirkan darah-Nya, aku harus mengakui hak darah ini atas diriku. Ia mengasihi aku, akupun wajib mengakui bahwa segenap diriku adalah milik-Nya.

Minggu ke-4 – Kamis Doa Baca: Rm.12:1

"Karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

b. Korban Timangan

Setelah pembubuhan darah, menyusullah korban timangan. Perhatikan, walaupun domba kedua sudah disembelih, darah sudah dibubuhkan pada cuping telinga, jari tangan, dan jari kaki, namun saat itu masih belum terhitung sebagai konsekrasi. Semua itu hanya merupakan dasar konsekrasi. Pembubuhan darah berarti mengakui kasih itu dan hak itu, ini memungkinkan kita melakukan konsekrasi; namun konsekrasi itu sendiri masih berada di bawahnya.

Setelah domba jantan yang kedua disembelih dan darahnya dibubuhkan, maka diambillah paha kanan domba beserta lemaknya, selain itu diambil pula roti bundar yang diolah dengan minyak, dan satu roti tipis. Semua benda itu mengibaratkan dua aspek Tuhan Yesus. Paha adalah bagian yang kuat. Paha domba mengibaratkan segala perkara pada aspek keilahian Tuhan. Lemak menunjukkan sesuatu yang tambun dan indah, ini mengacu kepada perkara-perkara pada aspek kemuliaan Allah. Roti mengacu kepada sifat manusia-Nya yang paling luhur. Dia adalah roti yang tidak beragi, manusia yang sempurna, tanpa cacat cela. Dia penuh dengan minyak urapan, penuh dengan Roh Kudus. Sifat, perasaan hati dan indera rohani-Nya sangat halus, laksana rod yang tipis; kalau terbentur sedikit saja, segera pecah; la penuh dengan perasaan dan simpati. Semua itu ditaruh di tangan Harun untuk ditimang-timang di hadapan Allah, kemudian ditambahkan ke atas korban bakaran serta dibakar habis. Inilah yang disebut konsekrasi.

Konsekrasi Dua Tangan Penuh dengan Kristus

Istilah "ditahbiskan" dalam bahasa Ibrani berarti "tangan dipenuhi." Demikian pula keterangan yang terdapat dalam Alkitab versi J.N. Darby dan dalam Konkordansi Robert Young. Tadinya tangan ini kosong, sekarang dipenuhi sesuatu. Tatkala tangan Harun dipenuhi sebanyak itu, berarti itulah saat ia dipenuhi oleh Tuhan, itulah saat konsekrasi. Jika tangan Harun masih kosong, tidak ada konsekrasi. Namun begitu tangan Harun penuh sehingga tak bisa memegang benda lain kecuali Tuhan, barulah itu disebut konsekrasi.

Jadi, apakah konsekrasi itu? Yaitu Allah menghendaki Harun sekeluarga menjadi imam yang melayani Dia. Tetapi Harun tak boleh datang dengan sembarangan. Dosanya harus dibereskan lebih dulu, ia wajib diperkenan di dalam Kristus, bahkan tangannya (tangan menandakan bekerja) harus penuh dengan Kristus. Tiada yang lain kecuali Kristus, sampai saat inilah baru disebut konsekrasi.

Anda harus datang ke hadapan Tuhan dan melihat, bahwa seumur hidup Anda, Anda hanya menempuh satu jalan, yakni melayani Allah. Aku tiada jalan lain kecuali melayani Allah. Demi melayani Allah, aku mempersembahkan segenap tubuhku. Mulai sekarang dan seterusnya, kedua telingaku hanya mendengar perkataan Tuhan, kedua tanganku hanya melakukan pekerjaan Tuhan, kedua kakiku hanya untuk menempuh jalan Tuhan. Dua telingaku ini untuk mendengar suara Tuhan, dua tanganku ini hanya menggarap pekerjaan Tuhan, dua kakiku ini hanya menempuh jalan Tuhan. Aku di sini hanya untuk melayani Allah. Aku sembahkan seluruh diri seperti korban persembahan bagi-Nya. Dan maju selangkah lagi, kedua tanganku penuh dengan Kristus, dan menjunjung tinggi Kristus. Kedua tanganku memperlihatkan Kristus, tindakan inilah yang disebut konsekrasi.

Jadi, konsekrasi adalah aku terjamah oleh kasih Tuhan, aku juga nampak hak Tuhan, dan berdasarkan dua faktor itu, aku datang ke hadirat Allah, mohon diperkenan melayani Dia. Bukan sekadar aku dipanggil oleh Allah, tetapi juga aku sendiri mohon untuk melayani Dia. Begitu Anda meletakkan diri di hadirat Tuhan, semuanya bagi Kristus. Tindakan penyerahan yang demikian inilah yang disebut konsekrasi. Inilah persembahan seluruh tubuh yang tercantum dalam Roma pasal 12.

Mingguke-4 – Jumat Doa baca: 2 Kor.5:15

"Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka."

VI. TUJUAN KONSEKRASI

Tujuan konsekrasi bukanlah berkhotbah bagi Allah atau bekerja bagi Allah, melainkan melayani Allah. Jadi, tujuan konsekrasi adalah pelayanan. Istilah konsekrasi menurut bahasa aslinya mengandung makna melayani. Ketahuilah, bahwa tujuan konsekrasi ialah melayani Allah. Melayani berarti berbuat menurut kehendak-Nya; melayani belum tentu selalu sibuk bekerja. Kalau Dia menyuruh Anda berdiri, berdirilah. Kalau Dia menyuruh Anda berdiri di samping, berdirilah di samping. Kalau Dia menyuruh Anda lari, berlarilah; itulah melayani.

Allah menghendaki agar semua orang Kristen mempersembahkan tubuhnya untuk melayani Dia. Belum tentu naik ke atas mimbar, belum tentu menuju daerah rawan atau perbatasan untuk menginjil di sana, melainkan melayani Allah. Ada yang ditugaskan Allah ke atas mimbar, maka ia harus ke atas mimbar, tak boleh tidak. Ada yang ditugaskan Allah ke daerah yang rawan atau perbatasan, maka ia wajib ke sana, tak boleh tidak. Seluruh waktu bagi Allah, tapi untuk pekerjaan apa, tidak bisa ditentukan. Semuanya melayani, namun untuk pekerjaan apa, tidak bisa ditentukan. Anda wajib belajar melayani Allah, Anda mempersembahkan tubuh Anda justru untuk menjadi orang yang melayani Allah, kecuali kita tidak mau menjadi orang Kristen. Kalau mau menjadi orang Kristen, hendaklah seumur hidup kita melayani Allah.

Semoga Allah merahmati kita, sehingga kita melihat, bahwa melayani Allah adalah kewajiban kita. Semua orang yang percaya Tuhan hendaklah nampak, bahwa sejak kini mereka harus melayani Allah. Kita perlu dibawa ke suatu tingkat sehingga tercelik, nampak setelah kita menjadi orang Kristen, maka segalanya tidak boleh sembarangan lagi.

Seumur hidupku ini berjalan pada jalan melayani Allah, segalanya untuk mencari perkenan Allah.

VII. HASIL KONSEKRASI

1. Kedudukannya Berubah

Begitu dipersembahkan sebagai korban, kedudukan sesuatu segera berubah. Ia tidak berada pada kedudukan yang semula, kini ia berada di mezbah. Sebab itu orang yang mempersembahkan diri adalah orang yang dipisahkan bagi Allah, sebagai korban yang hidup dipersembahkan kepada Allah. Kedudukannya berubah, kegunaannya juga berubah.

2. Kegunaannya Berubah

Begitu dipersembahkan sebagai korban, kegunaan sesuatu juga berubah. Dulu kambing atau lembu ini dipakai oleh orang dunia, begitu ditaruh di atas mezbah, tidak dipakai oleh orang dunia lagi, tetapi dipakai oleh Allah. Sebab itu begitu dipersembahkan sebagai korban, bukan hanya kedudukannya berubah, kegunaannya juga berubah. Jadi, persembahan yang sesungguhnya tidak hanya dalam mulut berdoa beberapa patah kata saja, lebih-lebih mempersembahkan diri sebagai korban. Hasil persembahan ini menyebabkan kedudukan dan kegunaan Anda berubah. Dulu Anda dalam dunia, sekarang di atas mezbah Allah. Dulu Anda hidup untuk keluarga, istri, suami, anak-anak, orang tua, dan dunia, sekarang Anda hidup untuk Allah.

3. Rupanya Berubah

Semua barang yang dipersembahkan sebagai korban, pasti melalui proses pemberesan oleh Allah. Satu lembu atau domba yang akan dipersembahkan sebagai korban bakaran, harus lebih dulu disembelih, dikuliti, dipotong-potong, dicuci, kemudian ditaruh di atas mezbah, dibakar dengan api, akhirnya terbakar habis menjadi setumpuk abu. Sampai saat ini, seekor lembu atau domba baru berubah menjadi bau-bauan wangi, menjadi kenikmatan Allah. Hanya melalui pemberesan Allah baru bisa untuk Allah. Setelah melalui pemberesan Allah yang demikian ini, barulah pelayanannya untuk Allah, pelayanannya dalam kebangkitan, bukan pelayanan alamiah. Orang yang demikian baru bisa dipakai oleh Allah, baru bisa memuaskan maksud hati Allah.

Catatan:

Minggu ke-4 – Sabtu Doa Baca: 2 Kor.8:5

“. . Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami."

VIII. KEHARUSAN MENCAPAI KEMAJUAN

Jika seseorang yang telah beroleh selamat, mau menempuh jalan yang di depan, mau maju dalam hayat, mau Allah bekerja dengan tuntas dan sempurna di atas dirinya dan menikmati segala kekayaan dalam karunia keselamatan Allah, ia harus mempersembahkan diri kepada Allah.

1. Untuk Menempuh Jalan Tuhan

Harus Mempersembahkan Diri

Begitu Anda beroleh selamat, Allah menaruh Anda di atas jalan mengikuti Dia. Pada mulanya, Anda harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Berkatalah kepada Allah, "Ya Allah, sejak sekarang, aku mau menerima pimpinan-Mu. Aku tidak menempuh jalanku sendiri. Aku mau menempuh jalan-Mu. Dalam segala hal aku tidak menentukan sendiri, semuanya kuserahkan kepada pimpinan-Mu. Aku menyerahkan diri sepenuhnya ke tangan-Mu, setiap langkah jalanku, sepenuhnya Engkau tentukan, aku tidak memilih untuk diri sendiri. Aku menyerahkan diriku ke tangan-Mu. Sejak hari ini tangan-Mulah yang menuntunku berjalan." Untuk menerima pimpinan Allah, harus ada persembahan yang tegas sedemikian.

2. Untuk Pertumbuhan Hayat

Harus Mempersembahkan Diri

Begitu Anda beroleh selamat, di dalam Anda ada hayat. Hayat ini perlu bertumbuh besar. Anda harus membiarkan hayat ini berkesempatan berkembang. Sebab itu hati Anda harus bagi Tuhan, pikiran Anda harus dijamah Tuhan, tekad Anda perlu tunduk kepada Tuhan. Dengan demikian, baru hayat Anda bisa bertumbuh sehari demi sehari. Kalau Anda mempersembahkan diri dengan tuntas kepada Tuhan, Anda akan nampak, segera hayat di dalam Anda timbul fungsinya yang lincah dan kuat, perasaan hayat akan sangat peka, dan melalui perwujudan hukum hayat dan bertambahnya perasaan hayat, hayat di dalam Anda bertumbuh sedikit demi sedikit.

3. Untuk Bekerja Bagi Tuhan

Harus Mempersembahkan Diri

Sejak beroleh selamat, Allah akan menggarapkan hayat, sifat, pikiran, kecenderungan, hikmat, dan berbagai macam kebajikan-Nya ke dalam kita. Untuk mengerjakan hal itu ke atas diri kita, Allah terlebih dulu harus mendapat persetujuan kita, kalau kita tidak setuju, Allah tidak berdaya. Allah tidak pernah memaksa orang. Kalau Anda mempersilakan Allah bekerja di atas diri Anda, Anda perlu sedikitnya pernah sekali rebah di hadapan Allah dan berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku tahu Engkau memilih aku, menyelamatkan aku, untuk menjadi satu bahan, Engkau akan mengerjakan pekerjaan baik-Mu di atas diriku, akan menggarap aku serupa dengan gambar Anak-Mu, merampungkan karya agung-Mu dalam alam semesta. Aku rela mempersembahkan diri kepada-Mu, menyerahkan diriku ke tangan-Mu, mohon Engkau lebih banyak bekerja di atas diriku.

4. Untuk Menikmati Kekayaan Karunia Keselamatan Allah,

Harus Mempersembahkan Diri

O, berkat yang kita dapatkan dalam karunia keselamatan Allah sangatlah limpah! Allah sendiri, Kristus, dan Roh Kudus, semua menjadi bagian kita. Kematian, kebangkitan, kenaikan ke surga, dimuliakan-Nya, kekuatan-Nya yang menaklukkan segala sesuatu, semuanya kita dapatkan ketika beroleh selamat. Tetapi kalau Anda mau menikmati segala kekayaan ini, Anda harus mempersembahkan diri. Semua orang yang membicarakan pengalaman rohani dari abad ke abad, memperhatikan perkara konsekrasi. Seperti saudara Andrew Murray, ia khusus membicarakan tinggal di dalam Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan, sampai akhirnya ia berkata, "Kalau orang mau mengalami tinggal dalam Tuhan dan bersekutu dengan Tuhan, ia harus menjadi orang yang mempersembahkan diri kepada Tuhan." Satu lagi, Muller, adalah seorang yang menekankan iman. Ia berkata, "Kalau orang ingin memiliki iman yang hidup, ia harus mempersembahkan diri kepada Tuhan." Perkataan-perkataan itu sangat benar. Konsekrasi adalah satu pos, adalah satu pintu, barangsiapa belum memasuki pintu ini, belum melewati pos ini, ia tidak bisa dengan riil mengalami kekayaan karunia keselamatan Allah.

Minggu ke-5 – Minggu Doa Baca: Rm.14:8

"Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan."

IX. PELAKSANAAN KONSEKRASI

1. Perlu satu kali Mempersembahkan Diri dengan Tuntas

Anda harus nampak, konsekrasi adalah satu pos. Anda harus satu kali dengan tegas dan tuntas mempersembahkan diri. Sebab itu Anda perlu memiliki satu doa yang sangat tuntas di hadapan Allah. Dalam doa yang tuntas kali itu, Anda perlu mengaku dosa, menyerahkan satu per satu. Anda perlu mengakui dosa, kesalahan, kecemaran, kebobrokan yang Anda rasakan satu persatu. Kemudian Anda perlu menyerahkan apa adanya Anda, semua milik Anda, dan segala sesuatu Anda satu per satu kepada Allah. Dalam hal ini jangan sembarangan, jangan secara global berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku mempersembahkan seluruhnya kepada-Mu." Doa semacam ini masih kurang; perlu dengan jelas menghitung satu per satu, menyerahkan diri sendiri kepada Tuhan, menyerahkan istri atau suami, anak-anak, ilmu, usaha, hari depan, dan segala-galanya kepada Tuhan. Anda perlu secara pribadi melakukan hal ini di hadapan Allah. Pada diri orang tertentu, persembahan boleh dikatakan keselamatannya yang kedua. Sebab itu semakin tuntas persembahan diri seseorang, itu semakin baik!

2. Perlu Terus Memperbarui Persembahan Diri

Konsekrasi tidak saja sebagai satu pos, juga sebagai satu jalan. Prinsip Alkitab, masuk pintu lebih dulu baru menempuh jalan (Mat.7:13-14). Sebab itu setelah melewati pos, perlu terus menempuh jalan konsekrasi. Melewati pos hanya sekali, tapi harus sangat tuntas; menempuh perjalanan perlu terus memperbarui, perlu setiap hari ada konsekrasi. Bilangan pasal 28 dan 29 memperlihatkan kepada kita lambang konsekrasi. Allah menghendaki orang Israel setiap hari mempersembahkan korban bakaran. Pagi perlu mempersembahkan korban, malam perlu mempersembahkan korban, setiap hari harus mempersembahkan korban. Anda jangan berkata, kemarin aku telah mempersembahkan, hari ini tidak perlu lagi. Hal persembahan seperti hal makan, perlu dilakukan setiap hari. Khususnya ketika menghadapi perkara yang besar, lebih perlu memperbarui konsekrasi kita kepada Thhan.

3. Percaya Allah Sudah Menerima Persembahan

Orang yang mempersembahkan diri harus nampak, bahwa tidak ada satu korban yang dipersembahkan ke hadapan Allah yang tidak diperkenan-Nya, meskipun mempersembahkan korban yang salah juga diperkenan Allah. Semua korban yang diletakkan di atas mezbah, semuanya dibakar oleh Allah. Dibakar artinya diterima. Sebab itu tidak takut Allah tidak berkenan, tetapi masalahnya apakah Anda mau mempersembahkan. Barang apa saja yang ditaruh di atas mezbah, semuanya diterima oleh Allah. Sebab itu Anda harus percaya, bahwa persembahan Anda telah diperkenan Allah. Pengalaman-pengalaman orang Kristen membuktikan hal ini. Banyak orang ketika muda telah mempersembahkan diri kepada Tuhan, kemudian mengasihi dunia lagi, mendapatkan jalan yang lancar dalam dunia, lewat 10 atau 20 tahun, Allah memanggil dia kembali, menyuruh dia kembali kepada kedudukan konsekrasinya sewaktu muda. Mereka sudah lama melupakan konsekrasinya pada masa muda, tetapi Allah tidak melupakannya.

4. Setelah Konsekrasi Tidak Boleh Ditarik Kembali

Tidak ada satu konsekrasi yang dapat ditarik kembali. Semua barang yang sudah dipersembahkan di atas mezbah, tidak dapat diambil kembali. Imamat pasal 27 berkata, korban yang dipersembahkan kepada TUHAN, semuanya menjadi kudus. Tidak ada orang yang boleh menggantikannya, misalnya yang baik diganti dengan yang jelek, atau yang jelek diganti dengan yang baik. Kalau dengan ternak menggantikan ternak, maka yang dipersembahkan atau yang digantikan semuanya menjadi kudus. Sebab itu, barang yang dipersembahkan di atas mezbah, tidak bisa ditarik kembali, atau diganti, karena Allah telah berkenan kepadanya sampai selamanya. Demikian juga satu kali konsekrasi di hadapan Allah, telah menjadi penetapan yang kekal.

Pengalaman pertama menerima kasih karunia adalah beroleh selamat, pengalaman kedua adalah konsekrasi. Orang dosa perlu beroleh selamat, orang yang beroleh selamat perlu konsekrasi. Orang dunia perlu beroleh selamat sehingga menjadi orang Kristen, setelah menjadi orang Kristen perlu konsekrasi untuk menempuh jalan Tuhan, menempuh penghidupan Tuhan, membiaril kan Tuhan bekerja, datang menikmati kekayaan karunia keselamatan Tuhan. Dengan demikian, Anda baru menjadi satu orang Kristen yang tepat, baru bisa menikmati segala berkat yang Allah sediakan di dalam Kristus.

(Dikutip dari buku Konsekrasi dan Pelajaran Bagi Pemula pelajaran ke-4)