SATU PERBUATAN YANG BAIK
Minggu ke-3 – Senin Doa Baca: Mrk.14:9
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."
MENGUDUSKAN KRISTUS DI DALAM HATI SEBAGAI TUHAN
Cerita yang tercatat dalam Injil Markus 14:1-9, menurut yang dikatakan Tuhan Yesus di sini (ay. 9), "Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia," jelaslah bahwa dalam setiap pemberitaan Injil, di mana dan kapan saja, kisah ini harus dituturkan; kalau tidak, maka dalam pandangan Tuhan, itu sangatlah kurang.
Kapan perkara ini terjadi? Mari kita membaca ayat 1, "Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan muslihat." Saat ini salib sudah berada di depan! Bayang-bayang salib sudah dapat dilihat!
Apakah arti terpenting dalam kisah ini? Untuk memahaminya, baiklah kita membaca I Petrus 3:15, yang mengatakan, "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!..." Jadi kisah ini hanya memimpin orang melakukan satu hal: "menguduskan Kristus." Karena itu Tuhan berkata, "Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia", tak lain hanya hendak mengabarkan kepada kita agar setiap pemberitaan Injil bisa berbuahkan ini, yaitu "menguduskan Kristus" serta menjunjung-Nya sebagai Tuhan.
DIPECAHKANNYA LEHER BULI!-BULI PUALAM ITU
"Datanglah seorang perempuan (Maria -- Yoh. 12:3), membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya." Minyak narwastu sudah cukup mahal harganya; minyak narwastu murni lebih-lebih betapa baik dan berharga. Minyak narwastu murni ini ditaruh di dalam buli-buli pualam. Buli-buli pualam ini juga mahal harganya. Jadi apa yang dipersembahkan perempuan itu, Maria, merupakan barang yang sangat berharga. Segala yang kita persembahkan kepada Tuhan seharusnya merupakan sesuatu yang paling berharga.
"Dipecahkannya leher buli-buli itu." Mengapa demikian? Karena minyak narwastu yang murni ini berasal dari Persia. Tanpa memecahkan lehernya, minyak narwastu itu tidak bisa mengalir keluar. Hal itu untuk menghindari barang palsu.
DICURAHKANNYA MINYAK ITU KE ATAS KEPALA TUHAN
"Dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus." Begitu minyak tercurah, harum semerbaklah seluruh ruangan itu (Yoh.12:3). Tidak hanya saat itu, rumah itu penuh dengan bau yang harum, sampai saat ini pun, ketika kita membaca kisah ini, seakan-akan masih tercium bau harum tersebut. Mula-mula ia hanya menarik perhatian orang, kini malah dapat dicium orang. Sungguh, kasih dan persembahan yang sedemikian kepada Tuhan membawa keharuman sepanjang masa, bahkan hingga kekal.
Dalam Injil Yohanes dikisahkan: "Menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya." Rambut merupakan kehormatan perempuan (1 Kor.11:15). Jadi, perempuan ini telah meletakkan kehormatannya di bawah kaki Tuhan.
Semula ia hanya dilihat oleh orang, sekarang membuat orang lain mencium bau harum. Perbuatan perempuan itu telah menimbulkan celaan dan kemarahan orang lain. Namun sedikit pun ia tidak menghiraukannya. Dia tidak memikirkan bahwa ia sedang berada di dalam rumah seorang penderita kusta. Ia tidak tnemikirkan keadaan rumah tangganya serta kesukaran-kesukaran di kemudian hari. Ia tidak menghiraukan kemungkinan celaan dan kemarahan orang banyak. Dia telah melakukannya.
Minggu ke-3 – Selasa Doa Baca: Yoh.12:3
"Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu."
DALAM PANDANGAN ORANG YANG PERCAYA,
TUHAN SANGATLAH BERHARGA
Maria mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan tanpa menghiraukan segala-galanya. Kita juga harus memiliki minat sedemikian, demikian berani, "Bau minyak semerbak di seluruh rumah itu", inilah persembahan yang sempurna Persembahan mengandung dua arti. Yang satu adalah mempersembahkan barang kepada Tuhan, lainnya ialah tulus murni terhadap Tuhan, segenap hati tertuju kepada Tuhan.
Mengurapi juga berarti "menguduskan". Tabernakel dan segala alat dan perkakas di dalamnya telah diurapi. "Kristus" adalah "Mesias", yang berarti "Sang Terurap". Terhadap Kristus, Sang Terurap, kita harus menguduskan-Nya dari dalam hati, dengan minyak urapan mengurapi Dia, mengakui Dia adalah Tuhan, serta meletakkan segala sesuatu kepada-Nya. Kita tidak perlu takut terlalu setia atau terlalu mengasihi Tuhan. Tepatlah seperti kata-kata seorang tua kepada seorang pemuda di saat mereka berpisahan, "Aku hanya menaruh satu pengharapan terhadapmu, yaitu semoga kamu bisa menjadi kekasih Tuhan yang mengasihi-Nya dengan sebulat hatimu." Mengasihi Tuhan, melayani Tuhan, taat kepada Tuhan, dan setia kepada Tuhan, adalah tanpa batas, mustahil akan keterlaluan.
Tuhan berkenan kalau kita mengasihi-Nya tanpa menghiraukan apa pun. Mengasihi-Nya tanpa beralasan, mengasihi-Nya dengan segala kemesraan. Ia menghendaki setiap pemberitaan Injil dapat menghasilkan buah-buah Injil; yaitu banyak orang mengetahui bahwa Ia telah mati, dan karena itu mau mengasihi-Nya, melayani-Nya, dan taat kepada-Nya dengan mutlak, sampai-sampai orang lain akan menganggapnya keterlaluan.
Seberapa banyak yang kita persembahkan kepada Tuhan, tergantung kita memandang seberapa besar nilai Tuhan. Tuhan berharga bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya (I Ptr.2:7). Petrus tahu hal ini, karena itu ketika ia menulis suratnya tentang: darah, iman, batu, perjanjian, dan sebagainya, semua diikuti dengan kata-kata yang searti dengan kata yang indah atau berharga.
Ketika Maria melakukan ini, bagaimana reaksi murid-murid Tuhan? Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain, "Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?" (ayat 4). Mereka mengira berbuat begitu merupakan suatu pemborosan. Tetapi sebenarnya minyak itu dicurahkan ke atas diri siapa? Apakah orang yang diurapi itu tidak layak? Minyak itu dicurahkan ke atas diri Tuhan, kalau dikatakan boros, berarti Tuhan tidak seharga itu. Benarkah Tuhan tidak layak menerima pengurapan minyak narwastu itu? Adakah sesuatu yang digunakan di atas diri Tuhan boleh dikatakan pemborosan? Orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, tentu akan menganggap itu sebagai pemborosan. Menurut pandangan manusia, taat kepada Tuhan, mengasihi Tuhan, berkorban segala bagi Tuhan, sering kali adalah keterlaluan, adalah pemborosan. Tetapi celaan itu justru menyatakan tingkat kasih mereka kepada Tuhan.
"Minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih, dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Mereka mengira beramal kepada orang miskin adalah lebih baik. Orang yang tidak mengasihi Tuhan, akan memakai bekerja bagi Tuhan untuk menggantikan kasih yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan. Bila seseorang menganggap mempersembahkan yang paling berharga kepada Tuhan adalah pemborosan, tentu akan mengalihkan yang berharga itu kepada orang. Sering kali kita pun seperti murid-murid Tuhan pada masa itu; terhadap Kristus tidak sebulat hati, tidak tutus, tiada kasih; malah ingin menggunakan pekerjaan yang di luar untuk menambal kekurangan ini.
Minggu ke-3 – Rabu Doa Baca: Mrk.14:6
"Tetapi Yesus berkata, biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku."
MENGAPA MENYUSAHKAN DIA?
"Lalu mereka memarahi perempuan itu" (ayat 5). Pada mulanya mereka hanya mencela, kemudian bangkitlah amarah mereka kepada perempuan itu. Tetapi Maria tidak menyisakan minyak itu dikarenakan orang lain marah kepadanya. Buli-buli telah dipecahkan, dan minyak pun mengalir sudah. Selamanya tidak ada korban yang telah diletakkan di atas mezbah ditarik kembali. Karena Maria demikian mengasihi Tuhan, maka ia memiliki keberanian melakukan itu tanpa menghiraukan celaan dan amarah orang lain.
Bagaimana tanggapan Tuhan kita? Ia berkata, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia?" Maksud Tuhan, dia terlalu mengasihi Tuhan, terlalu taat kepada Tuhan, itu tidak apa-apa, kalian jangan mencelanya. Kalau kalian mencela, itu menyusahkannya. O, kalau terlalu mengasihi Tuhan, atau terlalu banyak mempersembahkan kepada Tuhan juga bisa diampuni oleh Tuhan!
Dalam pandangan Tuhan, kalau Anda bisa mengasihi Dia seperti Maria, itu baik sekali; kalau tidak bisa, janganlah Anda menghalangi orang lain mengasihi Dia. Tangan kita seharusnya terlepas dari semua orang yang mengasihi Tuhan, jangan mengurusi mereka.
Orang menganggap perbuatan Maria sebagai pemborosan dan keterlaluan. Menurut pendapat orang pada umumnya: cukup dengan minyak narwastu biasa, buat apa dengan minyak narwastu murni; cukup dengan minyak narwastu murni, tidak perlu ditaruh dalam buli-buli pualam; buli-buli pualam sudah cukup, mengapa memakai yang berharga tiga ratus dinar lebih? Mereka mencela dia, marah kepadanya. Tetapi dalam pandangan Tuhan, hal ini tidak seharusnya dicela. Tuhan malah berkata, "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia?" Maksud Tuhan ialah dia terlalu mengasihi Tuhan itu tidak mengapa, kalian tidak perlu mencela dan memarahi dia; jika kalian mencela dan memarahi dia, berarti kalian menyusahkan dia.
Menurut keadaan orang-orang pada masa itu, tiga ratus dinar sama dengan upah yang didapat selama tidak kurang dari tiga ratus hari (lihat Mat. 20:2). Kalau itu masih ditambah dengan hari Sabat sebanyak lima puluh dua kali dalam setahun, maka hampir sama dengan upah yang didapat selama masa kerja satu tahun. Kita tahu, ketika Tuhan pergi ke Betania dan tinggal di rumah Maria, Marta sangat sibuk, tidak ada pembantu yang membantunya. Ini menyatakan bahwa keluarga mereka bukan termasuk keluarga mampu. Tetapi Maria tidak mencari kenyamanan diri sendiri, sebaliknya dengan sekuat kemampuannya ia telah menggunakan segala miliknya ke atas diri Tuhan. Mengasihi Tuhan, melayani Tuhan, tidak takut keterlaluan. Menggunakan segalanya di atas diri Tuhan bukanlah pemborosan.
IA TELAH MELAKUKAN SUATU PERBUATAN YANG BAIK
"Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik kepada-Ku." Tuhan menentang tanggapan murid-murid-Nya. Mereka menganggap pengurapan dan persembahan itu adalah pemborosan, tetapi Tuhan malah berkata bahwa hal itu adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Mengasihi Tuhan dengan tidak menghiraukan celaan saudara-saudara yang lebih senior dalam kerohanian adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Mengasihi Tuhan sehingga rela mengorbankan segalanya di atas diri-Nya adalah suatu perbuatan yang baik, bukan pemborosan. Terhadap Tuhan selamanya tidak ada terlampau baik, mengasihi Tuhan selamanya tidak ada terlampau dalam, taat kepada-Nya juga selamanya tidak ada keterlaluan. Tidak peduli bagaimana pandangan orang lain, tak peduli bagaimana celaan orang lain yang bersama-sama melayani; Tuhan mengatakan bahwa itu adalah suatu perbuatan yang baik. Buah-buah Injil tidak hanya menyebabkan orang dosa berkemungkinan naik ke sorga, bahkan menyebabkan orang yang telah menerima karunia itu menjadi kekasih Kristus. Karena itu dalam Alkitab ada tertulis, "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia" (1 Kor.16:22).
Sebab itu sekarang, setiap Maria harus merasa cukup karena memiliki perkataan Tuhan itu. Kalau kita mengharapkan pujian dari orang-orang yang sama-sama menjadi murid dengan kita, kita akan hidup menurut bimbingan hikmat orang dunia, tetapi tidak simpatik kepada isyarat hati Tuhan untuk mempersembahkan sesuatu kepada-Nya. Kita harus merasa cukup karena sudah diperkenan oleh Tuhan, jangan mempedulikan celaan orang lain.
Catatan:
Minggu ke-3 – Kamis Doa Baca: Mrk.14:7-8a
"Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya."
IA TELAH MELAKUKAN APA YANG DAPAT DILAKUKANNYA
Tuhan tidak menentang mereka beramal kepada orang-orang miskin, tetapi Ia menentang mereka yang mengatakan bahwa sesuatu yang diperbuat di atas diri Tuhan adalah pemborosan. Tuhan berkata kepada mereka, "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu" (ay.7). Maksud Tuhan ialah: Kesempatan untuk beramal kepada orang-orang miskin masih banyak, tetapi kesempatan untuk melayani Aku, akan segera berlalu.
"Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya" (ay.8). Di sini yang dipermasalahkan bukan berapa banyak yang sudah ia gunakan di atas diri Tuhan, melainkan masih ada atau tidak sisanya. Tidaklah sukar bagi seorang hartawan untuk mempersembahkan lebih banyak kepada Tuhan, tetapi sangatlah sulit bagi seorang yang miskin untuk mempersembahkan segala miliknya kepada Tuhan. Perempuan ini telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Dia tidak menyisakan apa-apa bagi dirinya sendiri. "Apa yang dapat" inilah yang menyebabkan Tuhan memujinya. Tanpa sedapatnya, tidak ada kasih. Mengasihi Allah hendaklah mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan dengan segenap tenaga.
Sering kali kita memperlakukan Tuhan lebih rendah daripada seorang sopir! Terhadap sopir, adakalanya kita masih menghadiahi dia uang tip, tetapi terhadap Tuhan, sering kali bahkan kita tidak rela memberikan dua ratus, ini sangat kasihan sekali!
Mengapa Maria berbuat demikian? Mari kita dengar bagaimana Tuhan mengatakannya. Tuhan berkata, "Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku." Beberapa hari lagi Tuhan akan mati. Maria sadar, bahwa Tuhan mati baginya, kematian Tuhan menyebabkan ia terhindar dari hukuman dosa. Karena inilah ia mengasihi Tuhan, dan tidak dapat tidak ia harus mengurapi Tuhan. Dorongan mengasihi Tuhan tergantung pada kematian-Nya. Tanpa memahami kematian Tuhan, tidak akan bisa mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Mengurapi Tuhan harus dilakukan pada saat ini, kalau menunggu setelah Tuhan bangkit dari kematian, itu terlambat! Seperti beberapa perempuan yang pada hari pertama minggu itu hendak mengurapi Tuhan, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengurapi Tuhan lagi, sebab Tuhan sudah bangkit. Kesempatan telah lewat.
"Terlebih dulu diurapi" -- inilah Kristus. Hari ini adalah saat kita mempersembahkan persembahan kepada Tuhan. Kalau ditunda-tunda, mungkin akan terlambat. Ingin mengurapi Tuhan setelah Tuhan bangkit, itu terlambat! Demikian pula ingin mempersembahkan persembahan kepada Tuhan dan mengasihi Tuhan dengan sebulat hati sesudah kita dibangkitkan kelak, itu pun terlambat. Karena pada masa kebangkitan, kalaupun kita memiliki laksaan dunia, sudah tentu dengan rela akan kita tinggal semua demi mengasihi Tuhan. Tetapi Tuhan menghendaki agar pada masa kini kita dengan mutlak mempersembahkan persembahan kita kepada-Nya. Saat ini adalah waktu bagi kita untuk mengasihi Tuhan.
Roma pasal 6 membicarakan mempersembahkan anggota tubuh kepada Allah. Roma 12:1 khusus membicarakan mempersembahkan tubuh. Ini adalah persembahan yang lengkap. Mempersembahkan anggota tubuh kelihatannya mudah, tetapi mempersembahkan tubuh sangat sulit. Namun persembahan yang demikian adalah yang kudus. Kudus yang sejati berasal dari persembahan yang lengkap. Ini juga selayaknya, bukan pemborosan. Semoga kita semua bisa sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Mumpung masih ada hari ini, marilah sekuatnya mengasihi Tuhan, melayani Tuhan, dan taat kepada Tuhan.
Minggu ke-3 – Jumat Doa Baca: Kid.1:12
"Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku."
PEMBOROSAN
Maria menghabiskan buli-buli pualam yang ia simpan dan minyak narwastu sejati yang bernilai tiga ratus dinar ke atas diri Tuhan. Menurut pikiran manusia, itu adalah satu pemborosan, perbuatan itu keterlaluan, apa yang ia berikan kepada Tuhan melebihi apa yang patut Tuhan dapatkan. Sebab itu Yudas mempelopori, murid-murid lain juga mengikuti, semua mencela Maria, menganggap perbuatan itu satu pemborosan.
Apakah "pemborosan/boros" itu? Pemborosan berarti memberi lebih banyak daripada yang diperlukan. Jika satu sen sudah cukup, tetapi Anda memberi sepuluh sen, itulah pemborosan. Jika dua gram sudah cukup, tetapi Anda memberi satu kilogram, itulah pemborosan. Jika tiga hari sudah cukup untuk merampungkan suatu tugas dengan baik, tetapi Anda menghabiskan lima hari atau satu minggu untuk itu, itulah pemborosan. Pemborosan berarti Anda telah mengeluarkan harga yang besar untuk perkara yang kecil. Jika seseorang telah menerima sesuatu yang oleh umum dipandang menerima lebih dari sepatutnya, itulah pemborosan.
Tetapi ingatlah, Tuhan justru mengatakan, bahwa di mana saja Injil diberitakan, perbuatannya itu juga harus diberitakan. Mengapa? Karena Tuhan menghendaki setiap pemberitaan Injil bisa menghasilkan sesuatu yang segaris dengan tindakan Maria, yaitu agar orang-orang datang kepada-Nya dan memboroskan diri mereka pada-Nya. Inilah hasil yang diminta oleh Tuhan.
Bagi Yudas, yang tidak pernah memanggil Yesus sebagai "Tuhan", segala yang dicurahkan pada diri-Nya tentu adalah pemborosan. Bukan hanya minyak itu dianggapnya suatu pemborosan, airpun bisa dianggap pemborosan. Di sini Yudas mewakili dunia ini. Dalam pandangan dunia, melayani Tuhan atau menyerahkan diri kepada-Nya demi pelayanan adalah tindakan yang sama sekali boros. Tuhan tidak pernah dicintai dan mendapat tempat di dalam hati orang dunia, karena itu, tak peduli apa saja yang diberikan kepada-Nya, itu dianggap sebagai pemborosan. Banyak orang berkata, "Jika orang itu bukan orang Kristen, ia pasti sukses di dunia ini." Dalam pandangan dunia, kalau orang yang memiliki bakat alam atau memiliki kekhususan bawaan melayani Tuhan, itu adalah perkara yang sungguh memalukan. Mereka sangat menyayangkan jika orang semacam itu melayani Tuhan. "Ia benar-benar telah memboroskan hidupnya yang berguna!" Demikian kata mereka.
Ijinkan saya memberi contoh pribadi. Pada tahun 1929, saya kembali dari Shanghai ke kampung halaman saya, Foochow. Suatu hari, ketika saya sedang berjalan dengan sebatang tongkat, (karena saat itu tubuh saya sangat lemah), saya bertemu dengan seorang profesor, mantan dosen saya dulu. Ia mengajak saya ke sebuah kedai teh yang terdekat untuk minum teh. Kami masuk ke kedai teh dan duduk di sana. Beberapa saat lamanya ia memandangi diriku dari kepala sampai kaki dan dari kaki sampai kepala. Lalu ia berkata, "Dengarlah! Ketika kamu masih kuliah dulu, kami sangat memperhatikanmu, kami mengira kamu akan mencapai sesuatu yang besar. Kini, apakah kamu ingin menyatakan dirimu kepadaku bahwa kamu seperti ini?" Tatapan matanya tajam sekali, pertanyaannya pun menusuk. Saya akui, ketika mendengar perkataannya itu, saya ingin menangis keras-keras. Ya, profesiku, kesehatanku, dan segala sesuatuku sudah habis. Sekarang, bertemu dan ditanya demikian oleh seorang profesor yang tua, yang dulu mengajarku tentang hukum di sekolah, "Inginkah engkau terus berada dalam keadaan seperti ini, tanpa keberhasilan, tanpa kemajuan, dan tanpa sesuatu yang bisa dibanggakan?"
Namun saat itu juga, saya mengalami apa yang disebut dengan "Roh kemuliaan" ada di atasku. (Saya akui, itu adalah kali pertama saya benar-benar mengenal makna perkataan itu). Begitu saya teringat bahwa saya boleh menyerahkan seluruh hidup saya bagi Tuhan, segera jiwa saya dipenuhi dengan kemuliaan. Saat itu, terasa sekujur diri saya dipenuhi dengan kemuliaan Roh Kudus. Saya dapat menengadahkan wajah saya dan dengan tanpa ragu berkata, "Tuhan, aku memuji-Mu! Tidak ada satu perkara pun yang lebih baik daripada ini; jalan yang saya pilih ini adalah yang terbaik!" Bagi mantan dosen saya, melayani Tuhan benar-benar suatu pemborosan. Tetapi justru inilah tujuan Injil -- agar kita bisa memiliki penilaian yang tepat dan benar terhadap Tuhan.
Catatan:
Minggu ke-3 – Sabtu Doa Baca: Mrk.14:8
"Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku."
LEBIH DULU MENGURAPI DIA
Dalam ayat-ayat di atas, Tuhan Yesus memakai istilah "persiapan" sebagai kata penunjuk waktu. Hal ini dapat kita terapkan pada hari ini, karena hal ini sama pentingnya bagi kita sekarang, sebagaimana bagi Maria di masa itu. Kita semua tahu, pada jaman yang akan datang, Tuhan akan mengamanatkan kepada kita perkara yang lebih besar, bukan malah menganggur. "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Mat.25:21; bd. Mat.24:47 dan Luk.19:17). Ya, kelak akan ada pekerjaan yang lebih besar yang akan diserahkan kepada kita; karena pekerjaan dalam rumah Allah akan terus berlangsung, sama seperti dalam kisah itu, bahwa perhatian terhadap orang-orang miskin akan terus berlangsung. Orang-orang miskin akan selalu bersama mereka, tetapi mereka tidak dapat selalu bersama-Nya. Maria harus mendahului melakukan sesuatu, kalau tidak, kelak tidak akan ada kesempatan lagi. Inilah perkara yang dipaparkan dalam pengurapan minyak narwastu di atas diri Tuhan. Saya percaya, pada hari itu, kita semua akan mengasihi Dia, bahkan melebihi keadaan sekarang. Namun berbahagialah mereka yang pada hari ini telah mencurahkan segalanya kepada Tuhan. Ya, saat kita berhadapan wajah dengan-Nya, saya percaya kita semua akan memecahkan dan menuangkan segala sesuatu untuk-Nya. Tapi hari ini, apa yang kita lakukan?
Beberapa hari setelah Maria memecahkan buli-buli pualam dan mencurahkan minyak narwastu ke atas kepala Yesus, juga ada beberapa perempuan yang pagi-pagi sekali sudah bangun untuk mengurapi tubuh Tuhan. Dapatkah mereka melaksanakannya? Berhasilkah mereka pada hari pertama minggu itu? Tidak. Hanya ada satu orang yang berhasil mengurapi Tuhan, dialah Maria, karena dia telah lebih dulu mengurapi-Nya. Yang lain tidak bisa melakukannya lagi karena Ia telah bangkit.
Tentang Maria, Tuhan berkata, "Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya." Apa artinya? Artinya, ia telah memberikan segala apa yang ada padanya. Ia tidak menyisakan sesuatu untuk kelak. Ia telah menghabiskan semua yang dimilikinya di atas diri Tuhan. Karena itu, pada pagi hari kebangkitan, ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya yang dianggap boros itu. Tuhan tidak akan dipuaskan jika kita tidak memberikan "apa yang dapat kita lakukan." Yang Tuhan Yesus inginkan atas diri kita ialah kita mau meletakkan hidup kita di bawah kaki-Nya, karena kita telah nampak kematian-Nya, penguburan-Nya, dan masa yang akan datang. Pada hari itu, di Betania, hal penguburan-Nya sudah terbayang; hari ini, yang terbayang di depan kita ialah pemahkotaan-Nya, yaitu Dia akan disambut di dalam kemuliaan dan dinyatakan sebagai Yang Terurap, Kristus Allah. Ya, pada hari itu kita akan menuangkan segala kita ke atas diri-Nya! Tetapi sangatlah berharga, -- dan ini adalah hal yang paling berharga bagi-Nya -- bila kita mengurapi-Nya sekarang, bukan dengan minyak material, melainkan dengan sesuatu yang paling berharga pada diri kita.
Tetapi sekarang, biarlah kita dengan segenap hati kita, dari batin kita yang terdalam, membawa barang yang sangat kita sayangi itu ke hadapan Tuhan, memecahkannya dan mencurahkannya, sambil berkata, "Tuhan, semuanya ada di sini. Semua ini miilk-Mu, karena Engkau layak!" Demikianlah Tuhan baru mendapatkan apa yang diinginkan-Nya. Semoga hari ini juga Ia telah menerima pengurapan semacam itu dari kita.
Catatan:
Mingu ke-4 – Minggu Doa Baca: 2 Kor.2:14
"Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana."
BAU MINYAK SEMERBAK
"Dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu." (Yoh.12:3).
Dengan memecahkan buli-buli pualam itu dan mengurapi Tuhan Yesus, rumah itu dipenuhi oleh bau semerbak. Setiap orang dapat menciumnya, dan tidak ada yang tidak mengetahuinya. Apa artinya ini?
Setiap kali Anda bertemu dengan orang yang benar-benar pernah menderita, yaitu orang yang bersama Tuhan telah menempuh pengalaman-pengalaman yang membatasinya, yang rela dipenjara oleh Tuhan tanpa mencoba melepaskan diri agar bisa dipakai, yang karenanya belajar merasa puas hanya di dalam Tuhan dan bukan di dalam hal lainnya, Anda segera merasakan menjamah sesuatu. Perasaan rohani Anda segera mencium bau harum Kristus. Di dalam hayatnya, ada sesuatu telah dipecahkan, ada sesuatu telah diremukkan, maka Anda mencium bau harum itu. Bau harum yang memenuhi rumah di Betania pada hari itu, masih memenuhi gereja pada hari ini; semerbak Maria tidak pernah pudar. Memecahkan buli-buli pualam untuk Tuhan cukup memukulnya sekali saja, tetapi peremukannya dan bau harum minyak bertahan hingga kekal.
Di sini kita membicarakan tentang apa adanya diri kita, bukan apa yang kita lakukan atau kita beritakan. Mungkin Anda sudah lama meminta Tuhan agar berkenan memakai Anda untuk membagikan kesan tentang diri-Nya kepada orang lain, menyalurkan Allah kepada orang yang berkontak dengan Anda, agar orang merasakan penyertaan Allah, merasakan Allah. Saudari-saudari kekasih, jika Anda tidak menghancurkan segalanya di bawah kaki Tuhan, tidak mencampakkan semua yang Anda pandang paling berharga di depan kaki Tuhan, Anda tidak akan bisa memberikan kesan akan Allah kepada orang lain.
Jika Anda telah mencapai taraf itu, secara luaran belum tentu Anda terlihat dipakai secara besar oleh Tuhan, namun Allah mulai memakai Anda untuk menciptakan rasa lapar dan haus di dalam diri orang lain. Orang lain akan mencium bau harum Kristus pada diri Anda, bahkan saudara dalam Tuhan yang paling kecil pun dapat merasakan realitas itu. Orang akan merasakan, bahwa di sini ada seorang yang hidup bersama Tuhan, yang pernah menderita, yang tindak-tanduknya tidak individualistis dan bebas, dan yang tahu menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Kehidupan semacam ini baru bisa menimbulkan kesan, dan kesan menimbulkan kerinduan akan Tuhan, dan kerinduan akan Tuhan mendorong orang mencari Tuhan sampai mereka mendapatkan wahyu ilahi serta dibawa masuk ke dalam kepenuhan hayat di dalam Kristus.
Yang terlebih dulu Allah inginkan atas diri kita bukanlah agar kita memberitakan Injil atau melakukan sesuatu bagi-Nya, melainkan agar kita bisa menciptakan rasa damba akan Tuhan di atas diri orang lain. Inilah yang dimaksud dengan menyiapkan tanah yang baik bagi pemberitaan.
Kita harus memiliki satu hati yang rela takluk, rela dihancurkan, dan rela mencurahkan segalanya kepada-Nya; demikian baru bisa menghasilkan bau harum Kristus, menghasilkan suatu rasa perlu di dalam diri orang lain, sehingga menarik orang lain datang untuk mengenal Tuhan. Inilah inti segala persoalan. Injil memiliki satu tujuan, yaitu menghasilkan suatu keadaan di dalam diri orang dosa yang dapat memuaskan hati Allah. Agar Ia mendapatkan apa yang Ia inginkan. Kita harus datang kepada-Nya dengan segala milik kita, dengan segala apa adanya kita, bahkan dengan apa yang paling kita hargai dalam pengalaman rohani kita, dan berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku rela melepaskan semua ini bagi-Mu, bukan hanya bagi pekerjaan-Mu, bukan hanya bagi anak-anak-Mu, bukan bagi yang lain, melainkan hanya bagi diri-Mu melulu!"
Kiranya Tuhan mengaruniai kita, agar kita dapat belajar bagaimana mencari perkenan-Nya. Ketika kita seperti Paulus, yaitu menjadikan perkenan Tuhan sebagai tujuan utama kita (2 Kor.5:9), Injil pasti dapat mencapai tujuannya.
(Dikutip dari tulisan Wacthman Nee yang berjudul: Satu Perbuatan Yang Baik, Tujuan Injil).
Catatan: