MEMELIHARA HUKUM TAURAT ALLAH MELALUI MENGASIHI DIA DAN FIRMAN-NYA DAN MENJADI SATU
DENGAN DIA
(2)
Pembacaan Alkitab:
Kej. 1:26; Yer. 31:3, 32; 2:2; Yoh. 3:29; Mat. 9:15; Ef. 5:25-27;
2Kor. 11:2; Why. 19:7; Yoh. 21:15-17; 2Kor. 5:14-15;
Yoh. 14:21, 23; Kid. 1:2-4
Berita ini merupakan lanjutan dari berita sebelumnya.
II. ROMAN ALLAH DENGAN MANUSIA
A. MENCIPTAKAN MANUSIA DENGAN TUJUAN MEMPUNYAI PASANGAN
Sepanjang abad, Allah mempunyai suatu roman (kisah kasih) dengan manusia. Allah menciptakan manusia dengan tujuan hendak memiliki pasangan (Kej. 1:26). Kehendak-Nya dalam menciptakan manusia bukan terutama untuk memiliki hamba. Jika kita membaca Alkitab dengan cara yang murni, tanpa prasangka sedikit pun, kita akan menyadari bahwa tujuan Allah dalam menciptakan manusia adalah memperoleh pasangan. Allah bukannya pejuang, Ia adalah Sang kekasih. Ia menciptakan manusia menurut gambar diri-Nya sendiri sebagai seorang kekasih. Ini berarti Ia menciptakan manusia agar manusia mengasihi Dia. Dalam kekekalan, Allah itu sendirian; bahkan kita boleh mengatakan bahwa Ia itu “bujangan”. Keinginan-Nya untuk mengasihi tak dapat digenapi oleh malaikat-malaikat. Karena itu, Allah menciptakan manusia serupa diri-Nya sendiri. Allah itu kasih, dan Ia menginginkan manusia mengasihi Dia. Dengan cara ini akan ada suatu jalinan saling mengasihi antara Allah dengan manusia, yang diciptakan untuk menjadi pasangan-Nya.
B. MEMILIH ORANG ISRAEL MENJADI ISTRI-NYA
Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa Allah datang dan memilih orang Israel menjadi istri-Nya. Dalam Yeremia 31:3, Tuhan berkata, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Ketika Allah nampak umat-Nya, Ia “mengadakan janji” dengan mereka dan kemudian bahkan meminang mereka. Menurut Yehezkiel 16, Allah mengasihi umat Israel ketika Ia nampak mereka di padang gurun. Ayat 8 melukiskan kasih ini, “Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya.” Dengan jalan memberikan perjanjian kepada orang Israel, Allah mempertunangkan orang Israel kepada diri-Nya sendiri. Yeremia 2:2 juga memperbincangkan tentang perjanjian ini, pertunangan ini, “Aku teringat kepada kebaikan hati pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau bertunangan, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya” (Tl.). Ayat ini menunjukkan bahwa perjanjian dibuat di padang gurun setelah Allah membawa orang Israel keluar dari Mesir. Keluaran 1–19 merupakan masa muda orang Israel. Tuhan teringat kebaikan hati pada masa muda orang Israel dan cinta pada waktu ia menjadi pengantin. Rasanya saya ingin tahu sebenarnya berapa besar orang Israel mengasihi Allah. Boleh jadi dalam ayat ini Tuhan menghibur diri-Nya sendiri sebagai seorang pemuda yang mencoba menyenangkan hati-Nya ketika orang yang dikasihi-Nya kurang menanggapi rayuan-Nya. Pemuda seperti ini akan sangat berbesar hati bila orang yang dikasihi-Nya kemudian memandang kepada-Nya. Di manakah dari kesembilan belas pasal yang pertama dari Kitab Keluaran, kita dapat nampak pertunangan orang Israel dengan Allah? Di manakah kita menemukan kisah pertunangan seperti ini? Sekalipun kita sulit menemukannya, namun Yeremia 2:2 memberi tahu kita bahwa Tuhan teringat kepada kasih orang Israel pada waktu bertunangan dan kebaikan hatinya pada masa mudanya. Ini menampakkan kepada kita bahwa orang Israel tidaklah begitu mengasihi, sopan, dan bersimpati terhadap Tuhan. Namun Yeremia memberi tahu kita bahwa Ia teringat kebaikan hati orang Israel pada masa mudanya. Ungkapan yang dipakai dalam Yeremia 2:2 menunjukkan betapa besarnya kasih Allah kepada orang Israel. Dalam hal itu, kita boleh mengatakan bahwa Allah telah dibutakan oleh kasih-Nya kepada umat-Nya. Setelah penciptaan manusia, Ia memilih sekelompok orang, orang Israel, menjadi pasangan-Nya.
C. DATANG MENJADI MEMPELAI LAKI-LAKI BAGI
MEMPELAI PEREMPUAN
Ketika Tuhan Yesus datang, Ia datang sebagai mempelai laki-laki bagi mempelai perempuan. Kebanyakan orang Kristen sangat hafal dengan pernyataan Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah” (Yoh. 1:29). Akan tetapi, tidak banyak yang menyadari bahwa Yohanes juga menunjuk Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki. Dalam Yohanes 3:29, ia berkata, “Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki.” Perkataan ini dimasukkan ke dalam pasal mengenai kelahiran kembali (Yoh. 3:3-6). Tujuan kelahiran kembali adalah menghasilkan dan mempersiapkan mempelai perempuan bagi Mempelai Laki-laki. Karena Kristus adalah Pemilik mempelai perempuan, maka Ia adalah Mempelai Laki-laki. Sebagai inkarnasi Allah, Kristus bukan hanya datang untuk menjadi Penebus dan Penyelamat kita; Ia juga datang untuk menjadi Mempelai Laki-laki.
Dalam Matius 9:15, Tuhan Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki. Kepada kaum agamawan yang buta yang bertanya kepada-Nya perihal puasa, Tuhan berkata, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan murid-murid Yohanes, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Mempelai Laki-laki yang datang untuk menjemput mempelai perempuan. Dalam kebutaan mereka, kaum agamawan tak bisa melihat bahwa Kristus adalah Mempelai Laki-laki. Karena itu mata kita perlu terbuka agar kita nampak bahwa Tuhan adalah Mempelai Laki-laki kita.
D. MELAHIRKAN KEMBALI GEREJA UNTUK MENJADI MEMPELAI PEREMPUAN-NYA
Tuhan Yesus melahirkan kembali gereja hingga gereja bisa menjadi mempelai perempuan-Nya (Yoh. 3:3, 5, 29-30). Tuhan adalah Mempelai Laki-laki dengan hayat ilahi dan sifat ilahi. Jika kita ingin jadi mempelai perempuan-Nya, kita juga harus mempunyai hayat ilahi dan sifat ilahi. Untuk ini, diperlukan kelahiran kembali. Selain memiliki hayat dan sifat ini, kita tak akan pernah dapat menjadi pasangan Kristus. Dalam Yohanes 3, kita nampak bahwa kelahiran kembali menyebabkan kita memenuhi syarat untuk menjadi mempelai perempuan Kristus. Hanya setelah kita dilahirkan kembali dengan hayat ilahi dan yang oleh karenanya kita juga menerima sifat ilahi, maka kita adalah orang-orang dosa yang diambil Kristus menjadi kekasih-Nya. Dia demikian tinggi, memiliki hayat dan sifat ilahi, dan kita demikian rendah, bagaimanakah kita dapat menjadi pasangan-Nya? Ini hanya mungkin melalui kelahiran kembali. Melalui kelahiran kembali kita menerima hayat yang lain, hayat ilahi. Dalam hayat ini serta oleh hayat inilah kita memenuhi syarat menjadi pasangan Kristus dan sepadan dengan Dia.
E. MENIKAHI UMAT TEBUSAN-NYA SEBAGAI ISTRI-NYA
Pada akhir zaman ini, Kristus akan datang untuk menikahi umat tebusan-Nya dan mengambilnya sebagai istri-Nya (Why. 19:7). Zaman sekarang ini merupakan zaman “janji” (kencan), peminangan, pertunangan antara Allah dengan umat-Nya. Pada akhir zaman ini, akan ada suatu pernikahan yang mulia, pada saat itu Kristus akan menikahi umat tebusan-Nya. Wahyu pernikahan antara Kristus dengan umat tebusan-Nya ini merupakan wahyu terbesar dalam Alkitab.
F. MENIKMATI KEHIDUPAN PERNIKAHAN
SAMPAI SELAMANYA
Pada akhir Alkitab kita nampak bahwa Allah akan menikmati kehidupan pernikahan dengan umat-Nya dalam kekekalan dan sampai kekal. Untuk selamanya dalam langit baru dan bumi baru, Yerusalem Baru akan menjadi istri Anak Domba (Why. 21:9). Ini merupakan penggenapan roman (kisah kasih) Allah yang diwahyukan dalam Alkitab.
III. KESELURUHAN ALKITAB MERUPAKAN ROMAN ILAHI
Keseluruhan Alkitab merupakan suatu roman ilahi. Ini berarti Alkitab merupakan sebuah buku yang sangat roman-tis. Demikianlah sesungguhnya, teristimewa Kitab Kidung Agung. Kaum modern tertentu menyangsikan apakah Kitab Kidung Agung seharusnya termasuk dalam Alkitab. Bahkan beberapa guru Kristen yang standar pun meragukan buku ini. Semasa muda, saya juga merasa heran mengapa buku semacam ini ada di dalam Alkitab, buku yang menyangkut roman antara pria dengan wanita. Buku ini merupakan gambaran hubungan kasih antara kita dengan Kristus. Menurut Kitab Kidung Agung, hubungan kita dengan Tuhan sangatlah romantis. Jika tak ada percintaan antara kita dengan Tuhan Yesus, maka kita adalah orang-orang Kristen agamawi, bukan orang-orang Kristen yang romantis. Jika Anda ingin mengetahui apa yang saya maksudkan dengan roman, saya akan mengajak Anda membaca dan mendoabacakan Kitab Kidung Agung. Mendoabacakan kitab roman ini akan menyebabkan Anda menjadi romantis dengan Tuhan. Anda akan lupa diri karena cinta kasih kita kepada Dia. Alkitab adalah sebuah roman ilahi, dan persekutuan kita dengan Tuhan akan menjadi semakin manis.
A. PENUH DENGAN “KENCAN” ALLAH
TERHADAP MANUSIA
Sebagai suatu roman ilahi, Alkitab penuh dengan catatan cumbu rayu Allah, bahkan “kencan”-Nya terhadap manusia. Dalam Alkitab, Allah berkali-kali datang kepada manusia dengan keadaan yang demikian. Sebagai dua buah contoh, adalah kedatangan Allah kepada Yakub di Betel pada kali pertama (Kej. 28:10-22) dan juga pada kali kedua (Kej. 35:9-15). Contoh lain adalah kedatangan Allah kepada Musa di Gunung Horeb (Kel. 3:1-17).
B. PENUH DENGAN PEMINANGAN ALLAH
TERHADAP MANUSIA
Alkitab juga penuh dengan peminangan Allah terhadap manusia. Sama seperti seorang pemuda ingin memberikan perhatian yang terus-menerus kepada perempuan yang dipinangnya, bahkan sampai menyusahkan perempuan itu, demikian juga Allah “menyusahkan” kita dengan peminanganNya. Alkitab mencatat peminangan Allah terhadap umat-Nya. Dalam Perjanjian Baru kita nampak Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, Dia sedang meminang mereka. Berkali-kali Tuhan Yesus menyusahkan Petrus ketika Ia melakukan peminangan. Ini berarti bukan Petrus yang datang kepada Tuhan, melainkan Tuhan yang datang kepada Petrus. Dalam Yohanes 21, Tuhan bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (ayat 15). Dua kali lagi Tuhan bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (ayat 16, 17). Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Petrus, Tuhan Yesus meminangnya. Ia tak mau Petrus mengasihi Dia seperti seorang anak menghormati orang tuanya, atau kasih seorang teman kepada teman-teman lainnya, pun kasih seorang kaya yang mengasihani orang yang miskin. Sebaliknya Tuhan ingin Petrus mengasihi Dia dengan kasih yang intim, dengan kasih seperti seorang perempuan muda kepada pemuda yang mengasihi dia.
Kita seharusnya tidak membaca Yohanes 21 terpisah dari Yohanes 3. Dia yang bertanya kepada Petrus, apakah Petrus mengasihi-Nya justru adalah Mempelai Laki-laki yang datang untuk memiliki mempelai perempuan. Berdasarkan wahyu Tuhan Yesus sebagai Mempelai Laki-laki dalam Yohanes 3, kita nampak bahwa percakapan-Nya dengan Petrus dalam Yohanes 21 bernada peminangan.
Hal tersebut sama dengan perkataan Tuhan dalam Yohanes 14:21 dan 23. Dalam ayat 21 Tuhan berkata, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia
dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Inilah perkataan yang diucapkan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan-Nya. Inilah perkataan “kencan” dan peminangan. Dalam ayat 23, Tuhan meneruskan, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Bapa dan Putra membuat tempat kediaman dengan orang yang mengasihi Tuhan Yesus merupakan keterangan hidup bersama dalam kehidupan pernikahan. Membuat tempat kediaman yang sama dengan Tuhan Yesus berarti hidup dengan Dia sebagai pasangan-Nya.
Sekalipun Tuhan sering berbicara seperti pengantin laki-laki yang bercakap-cakap dengan pengantin perempuannya, namun tak banyak orang Kristen yang memahami aspek yang demikian dari firman-Nya. Ada kecenderungan mereka menerima firman Tuhan dengan rasa yang sama sekali berbeda. Karena itu, saya berharap firman mengenai “kencan” Allah serta peminangan terhadap umat-Nya akan merombak konsepsi kita. Kedatangan Tuhan kepada kita adalah “kencan”-Nya serta peminangan-Nya kepada kita.
C. BAIK PERJANJIAN LAMA MAUPUN PERJANJIAN
BARU ADALAH PERJANJIAN PERNIKAHAN
Dalam berita-berita terdahulu kita menunjukkan bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan perjanjian pernikahan, perjanjian pertunangan.
1. Keseluruhan Perjanjian Lama Diucapkan secara Demikian
Secara keseluruhan, Perjanjian Lama diucapkan sebagai perjanjian pertunangan. Inilah alasannya Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Hosea semuanya menyatakan bahwa umat Allah adalah istri-Nya. Sekalipun umat-Nya ingin bercerai dengan Dia, namun Tuhan akan membawa mereka kembali kepada Dia. Ia akan mempertunangkan mereka sekali lagi dengan Dia. Perhatikan bagaimana perkataan “pertunangan” dipakai dalam Hosea 2:18-19, “Aku akan menjadikan engkau (mempertunangkan engkau menjadi) istri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau (mempertunangkan engkau menjadi) istri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau (mempertunangkan engkau menjadi) istri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.” Dalam ayat-ayat ini Tuhan memakai kata-kata akan “menjadikan istri” (mempertunangkan engkau menjadi) sebanyak tiga kali. Kata “akan” (future tense) menyatakan bahwa ini ditujukan kepada pertunangan umat Allah kepada diri-Nya sendiri untuk kali kedua, pertunangan di mana istri yang telah bercerai ini dibawa kembali kepada Tuhan sebagai Suaminya. Ini menunjukkan bahwa Perjanjian Lama adalah suatu masalah pertunangan, masalah pernikahan.
2. Hukum Taurat Diberikan secara Demikian
Seperti yang telah saya nyatakan, hukum Taurat diberikan berbentuk naskah pertunangan, suatu perjanjian pertunangan. Ketika Allah memberikan hukum Taurat-Nya kepada umat-Nya di atas gunung, Ia mempertunangkan mereka kepada diri-Nya. Dalam memberi hukum Taurat kepada mereka, Ia mencoba merangsang cinta mereka kepada-Nya dan tak akan mempunyai kekasih lain selain diri-Nya.
3. Keseluruhan Perjanjian Baru Ditulis secara Demikian
Keseluruhan Perjanjian Baru ditulis secara romantis dan dalam suasana peminangan. Injil Matius mengutarakan Kristus sebagai Mempelai Laki-laki, dan Kitab Wahyu menyatakan perkawinan Anak Domba dan yang diakhiri dengan wahyu Yerusalem Baru sebagai istri Anak Domba. Selanjutnya, dalam 2Korintus 11:2, Paulus mengekspresikan konsepsi yang sama ketika ia berkata, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Di sini kita nampak Paulus tahu bahwa ia telah mempertunangkan gereja kepada Kristus, Suaminya. Kemudian dalam Kitab Efesus, Paulus menyatakan kasih Kristus terhadap gereja, sehingga ia meminta para suami mengasihi istri-istri mereka “sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25). Jelaslah bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam suasana romantis. Tuhan adalah Sang peminang kita, dan kita adalah kekasih-Nya, pasangan-Nya. Akhirnya dalam akhir Perjanjian Baru, kita dapati pernikahan Kristus dengan umat-Nya.
4. Keseluruhan Alkitab Adalah Firman Peminangan Allah
Keseluruhan Alkitab adalah firman peminangan Allah. Dalam Alkitab kita nampak bahwa Allah mencari kasih kita. Ketika Tuhan menanyai Petrus apakah Petrus mengasihi Dia, Ia meminang Petrus, Ia menginginkan kasih sayangnya. Secara menyeluruh, Alkitab adalah firman peminangan seperti itu.
5. Kasih yang Menanggapi dan yang Intim Diperlukan untuk Memelihara Firman Peminangan Allah
Jika kita ingin memelihara firman peminangan Allah, kita memerlukan kasih yang menanggapi, kasih yang intim. Petrus menjawab kasih Tuhan dengan cara yang demikian, dan Paulus mendesak kita untuk mengasihi Tuhan secara demikian pula (2Kor. 5:14-15). Semua orang beriman perlu mengasihi Tuhan seperti ini (Yoh. 14:21, 23). Kita telah nampak bahwa tanggapan kasih seperti ini, kasih yang intim digambarkan dalam Kitab Kidung Agung, di mana kita mempunyai suatu gambaran kasih antara Kekasih dengan orang yang Dia kasihi (Kid. 1:2-4).
IV. MEMELIHARA HUKUM TAURAT ALLAH MELALUI MENJADI SATU DENGAN ALLAH
Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa kita memelihara hukum Taurat Allah melalui mengasihi Dia. Selanjutnya, kita memelihara hukum Taurat Allah melalui menjadi satu dengan Allah. Kesatuan semacam ini berhubungan dengan fakta bahwa hukum Taurat merupakan naskah pertunangan, perjanjian pernikahan. Tujuan Allah dalam memberikan hukum Taurat adalah untuk menjadikan umat pilihan-Nya esa dengan Dia, sebagaimana seorang istri esa dengan suaminya. Hukum Taurat kemudian menyalurkan hakiki Allah ke dalam mereka, mengantar mereka ke dalam Allah, dan menjadikan mereka satu dengan Allah dalam hayat dan sifat. Kesatuan Allah dengan umat-Nya dalam hayat dan sifat digambarkan dalam lambang Adam dan Hawa dalam Kejadian 2:18-24. Semuanya ini menyatakan bahwa hukum Taurat Allah hanya dapat dipelihara oleh mereka yang mengasihi Allah dan yang menjadi satu dengan Dia, baik dalam hayat, sifat, maupun ekspresi.
Alkitab benar-benar sebuah kitab peminangan, dan Allah kita adalah Allah yang meminang. Sebagian orang boleh jadi tidak menyetujui pernyataan bahwa Allah adalah Allah yang meminang. Tetapi kalau kita tidak mengabaikan Alkitab, kita harus mengakui bahwa hal ini benar. Alkitab dengan jelas mengungkapkan bahwa Allah meminang manusia.
Sejumlah lagu-lagu Injil mengatakan tentang panggilan Tuhan, dan banyak pemberita Injil yang mengatakan bahwa kaum beriman adalah orang-orang yang dipanggil Allah. Sudah tentu, hal ini benar. Akan tetapi, panggilan Allah terhadap orang-orang dosa kepada diri-Nya sendiri adalah cara-Nya meminang mereka. Panggilan-Nya adalah pinangan-Nya, orang-orang yang dicari-Nya bukan saja diselamatkan, tetapi juga menjadi mempelai perempuan-Nya yang mengasihi-Nya dengan kasih yang penuh rasa sayang.
Adalah pengaturan Allah bahwa Kitab Kidung Agung termasuk dalam Alkitab. Akan tetapi, sebagian orang Kristen yang menyebut dirinya sebagai penolak masuknya Kitab Kidung Agung ke dalam Alkitab, memandangnya sebagai buku cadangan, bukan sebagai salah satu buku kudus. Akan tetapi dalam faktanya, Kitab Kidung Agung adalah buku yang terkudus. Dalam buku ini para pencari mengatakan, “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku” kuning(Kid. 6:3). Andai kita tidak mempunyai Kitab Kidung Agung, kita mungkin tak dapat mempunyai ekspresi semacam ini mengenai hubungan kita dengan Tuhan. Dalamkuning Kidung No. 232 mengenai “mengasihi dengan kasih yang tak berkesudahan” pada bagian koornya ada sebaris kalimat yang mengatakan: “Aku milik-Nya, Dia milikku.” Kalimat ini merupakan referensi dari Kitab Kidung Agung. Mengucapkan “Aku kepunyaan kekasihku” tidak berarti bahwa Ia adalah Tuan yang memiliki kita sebagai hamba-hamba-Nya. Melainkan berarti kita adalah kesayangan-Nya. Hubungan ini bukan hubungan antara tuan dengan budak, tetapi hubungan yang penuh kasih sayang antara suami dengan istri. Kitab Kidung Agung merupakan buku yang paling romantis yang pernah ditulis. Namun buku ini mengisahkan hubungan kasih antara Allah dengan umat pilihan-Nya. Buku ini menyajikan gambaran kehidupan pernikahan antara Kristus dengan orang-orang yang mengasihi Dia.
Saya ingin mengingatkan Anda bahwa subyek berita ini adalah memelihara hukum Taurat Allah melalui mengasihi Dia dan firman-Nya dan menjadi satu dengan Dia. Memelihara hukum Taurat Allah sangat berhubungan dengan mengasihi Dia seperti seorang istri mengasihi suaminya. Telah berkali-kali kita tunjukkan bahwa dalam memberikan hukum Taurat, Allah meminang umat-Nya. Karena hukum Taurat diberikan sebagai suatu perjanjian pertunangan, maka janganlah kita berikhtiar memelihara hukum itu terpisah dari mengasihi Tuhan dan menjadi satu dengan Dia.
Beberapa guru Kristen mengira bahwa dalam Perjanjian Baru Allah membuang hukum Taurat. Ini jauh dari kebenaran. Isi hukum Taurat dan penebusan boleh dipandang sebagai suatu ikhtisar dari keseluruhan Alkitab. Selanjutnya, mengenai hukum Taurat Allah, isi Perjanjian Baru pada hakikinya adalah sama dengan Kesepuluh Perintah. Sebagai contoh, dalam Alkitab kita terus-menerus diberi tahu agar kita tidak memiliki allah lain selain Allah yang sejati. Allah adalah Allah yang cemburu, karena itu janganlah kita memiliki allah lain selain Dia. Paulus menunjukkan kecemburuan Allah dalam 2Korintus 11:2, di mana ia menyatakan bahwa kita haruslah sebagai perawan suci kepada Kristus. Tuhan haruslah menjadi Kekasih kita satu-satu-Nya. Ini bukan semata-mata diajarkan hanya dalam Kesepuluh Perintah saja, melainkan dalam keseluruhan Alkitab.
Keseluruhan Alkitab mengajarkan agar kita jangan menyembah berhala. Tuntutan ini bukan hanya dibatasi pada Kesepuluh Perintah. Selanjutnya, keseluruhan Alkitab meng-ajar kita untuk menyebut nama Tuhan dengan layak dan tidak menyebutnya dengan sembarangan. Sekali lagi, perintah ini tidak dibatasi sampai pada hukum Taurat saja.
Pada prinsipnya, bahkan perintah keempat, yakni mengenai memelihara Sabat, bukan hanya terbatas pada hukum Taurat saja. Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, umat Allah mempunyai hari peringatan sebagai tanda bahwa mereka adalah milik Tuhan. Dalam ciptaan lama, hari ini adalah hari Sabat, hari ketujuh dalam satu minggu. Tetapi dalam ciptaan baru, hari ini adalah hari kedelapan, hari pertama dalam satu minggu, hari kebangkitan Kristus. Karena hidup dalam ciptaan baru adalah dalam kebangkitan, maka hari peringatan kita adalah hari kedelapan, tidak lagi hari ketujuh. Meskipun bagi kita dalam ciptaan baru telah diubah harinya, namun prinsipnya tidaklah berubah. Selama Kerajaan Seribu Tahun, umat manusia yang telah diperbarui akan terus menjalankan hari ketujuh (Yes. 66:23). Berdasarkan fakta ini, kaum Advent hari ketujuh membuktikan bahwa kaum beriman dalam zaman ini akan terus menjalankan Sabat. Akan tetapi, dalam Kerajaan Seribu Tahun, Sabat dilakukan bukan oleh orang-orang yang telah dilahirkan kembali, melainkan oleh orang-orang yang dipulihkan dan dilindungi namun tidak dilahirkan kembali. Meskipun mereka akan dipulihkan kepada keadaan manusia seperti pada saat penciptaan, namun mereka tidak mempunyai hayat ilahi dalam kebangkitan. Sebaliknya, mereka akan menjadi orang-orang hari ketujuh, sedangkan kita adalah orang-orang hari kedelapan. Tetapi dalam setiap situasi, Alkitab mengajarkan bahwa umat Allah mempunyai hari tersendiri sebagai tanda terpisahnya mereka bagi Tuhan.
Kita telah nampak bahwa keempat perintah pertama menegaskan keseluruhan Alkitab. Hal yang sama berlaku pula pada keenam perintah terakhir mengenai menghormati orang tua, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan jangan iri hati. Jika kita membuang hukum Taurat, berarti kita mengesampingkan keseluruhan Alkitab.
Meskipun kita tidak seharusnya membuang hukum Taurat, namun kita harus berhati-hati dan jangan menyalahgunakannya, ataupun salah memakainya. Baik hukum Taurat maupun Alkitab sebagai suatu keseluruhan, haruslah digunakan dalam cara yang layak. Jika kita mencoba memelihara hukum Taurat tanpa berkontak dengan Allah, kita akan salah pakai. Demikian juga, jika kita mendekati Alkitab tanpa menjamah Tuhan, kita akan menyalahgunakan Alkitab. Orang-orang Yahudi melakukan kesalahan karena mencoba menggenapkan hukum Taurat tanpa berkontak dengan Allah. Jadi, mereka tidak menjadi pasangan-Nya. Yang menjadi pasangan-Nya adalah mereka yang memelihara hukum Taurat-Nya melalui mengasihi Dia dan menjadi satu dengan Dia. Pada prinsipnya, hari ini banyak orang Kristen yang melakukan kesalahan yang sama. Meskipun mereka membaca dan mempelajari Alkitab, namun mereka melakukannya tanpa berkontak dengan Tuhan sendiri. Mereka mengajar orang lain dengan pengetahuan Alkitab, na-mun tidak mendorong mereka berkontak dengan Tuhan dalam firman. Karena itu, mereka menjadi orang-orang Yahudi hari ini, yang menyalahgunakan firman Allah.
Kita dalam pemulihan Tuhan menghargai doa-baca firman. Kita tidak ingin membaca Alkitab tanpa berkontak dengan Tuhan dalam cara yang hidup. Kita harus waspada terhadap keadaan membaca Alkitab tanpa mendoakan dan menjamah Tuhan. Jika kita berkontak dengan Tuhan dalam firman, kita akan menjadi satu dengan Dia dalam cara yang riil dalam pengalaman kita. Kemudian kita akan menjadi pasangan-Nya. Dengan jalan mengasihi Tuhan sebagai Kekasih kita dan menjadi satu dengan Dia, juga menjadi kesayangan-Nya, maka firman-Nya akan menjadi suplai hayat kita. Hukum Taurat merupakan ikhtisar firman-Nya. Bila kita berkontak dengan Tuhan secara langsung dan dalam suasana yang intim, kita akan menjadi satu dengan Dia, dan firman-Nya menyuplai kita dengan hayat. Melalui hayat ini kita bertumbuh, menjadi ekspresi-Nya, dan hidup dengan cara yang sepadan dengan hukum Taurat Allah dan firman-Nya. Inilah cara yang layak dalam memakai hukum Taurat Allah dan firman Allah.