← Daftar isi Keluaran (4) · bab 6/15

MEMELIHARA HUKUM TAURAT ALLAH MELALUI MENGASIHI DIA DAN FIRMAN-NYA DAN MENJADI SATU

DENGAN DIA

(1)

Pembacaan Alkitab:

Kej. 1:26; Yer. 31:3, 32; 2:2; Yoh. 3:29; Mat. 9:15; Ef. 5:25-27;

2Kor. 11:2; Why. 19:7; Yoh. 21:15-17; 2Kor. 5:14-15; Yoh. 14:21, 23; Kid. 1:2-4

Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan kita pada pemberian hukum Taurat oleh Allah kepada umat-Nya dalam Keluaran 20. Seluruh pelajar Alkitab mengetahui bahwa hukum Taurat merupakan subyek yang sangat penting baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

Jika kita ingin mempunyai pengertian yang tepat mengenai pemberian hukum Allah dalam Alkitab, kita perlu mengetahui bagaimanakah hubungan perkara ini dengan subyek utama Alkitab secara keseluruhan. Untuk memahami buku-buku lain ataupun bagian dari sebuah buku, pertama-tama kita harus mempelajari apakah subyek utama buku tersebut. Misalkan subyek dari suatu buku adalah kasih. Andai kata dalam buku itu juga ada sejumlah rekomendasi dengan subyek hukum Taurat, dan jika pembaca buku tersebut mengambil rekomendasi dari konteks ini dan memperhatikannya dengan tekanan yang tak selayaknya, maka ia akan mengubah subyek buku itu dari kasih kepada hukum Taurat. Untuk memahami kedudukan hukum Taurat Allah dalam Alkitab, banyak orang Kristen telah berbuat demikian. Karena kegagalan mereka memahami hukum Taurat dalam terang subyek utama Alkitab secara keseluruhan, mereka tidak mempunyai pandangan yang tepat dan yang seimbang terhadap hukum Taurat.

Saya telah menunjukkan berkali-kali bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini sebenarnya mempunyai dua sisi, dua aspek. Sebagai contoh, selama periode yang tetap, 24 jam, kita mempunyai siang dan malam. Bukankah mustahil bila seseorang bersikeras menghendaki hanya ada siang atau hanya ada malam? Sesungguhnya begitu malam telah larut, fajar pun menyingsinglah. Kita tak akan pernah dapat memperpanjang siang atau mengulur malam. Gambaran siang dan malam ini dapat diterapkan pada hukum Taurat yang diberikan oleh Allah. Dalam hukum Taurat ada dua aspek, dua sisi: aspek “malam’, sisi yang gelap, dan aspek “siang”, sisi yang terang. Dalam berita-berita ini kita bahas aspek “siang”, bukan aspek “malam”, aspek malam akan kita bahas belakangan. Kita perlu memberikan perhatian yang memadai terhadap kedua aspek ini. Sekarang kita hendak bahas aspek “siang” dari hukum Taurat, yang kita tunjukkan adalah yang terang dan cerah. Tetapi sewaktu kita beralih kepada pembahasan aspek “malam”, kita akan menunjukkan yang gelap itu. Saya tidak mau menipu umat Allah dengan tidak menunjukkan kedua aspek ini. Dalam mengamati kedua aspek sewaktu Allah memberikan hukum Taurat, saya tidak bertentangan. Sebaliknya, saya hanya menyampaikan kedua aspek kebenaran ini.

Mengenai Allah memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya, terutama bukanlah aspek “malam”. Allah bukannya menciptakan alam semesta hingga di sana ada malam. Malam memang perlu, tetapi itu bukan tujuan Allah. Tujuan Allah adalah memiliki siang yang kekal. Sebuah ayat mengenai Yerusalem Baru dalam kekekalan, Wahyu 21:25 mengatakan, “Malam tidak akan ada lagi di sana.” Berikutnya, Wahyu 22:5 menyatakan, “Malam pun tidak akan ada lagi di sana.” Ketika tujuan Allah telah rampung sempurna dalam Yerusalem Baru, tidak akan ada malam lagi dalam kota yang kekal itu. Dari sini kita nampak bahwa tujuan Allah adalah memiliki siang, bukan malam.

Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, kita adalah “orang-orang siang”, bahkan “anak-anak siang” (1Tes. 5:8, 5). Namun, dalam membicarakan pemberian hukum Taurat Allah, banyak guru Kristen yang lebih menekankan aspek “malam”. Saya sama sekali bukan menyatakan bahwa mereka sedikit pun tidak memperhatikan aspek “siangnya”. Saya hanya menunjukkan fakta bahwa yang mereka tekankan hanyalah aspek “malam”. Jadi, di sini sudah tentu kita perlu membicarakan hukum Taurat, baik di aspek “siang” maupun di aspek “malam”.

Jika kita ingin memiliki pemahaman yang tepat tentang hukum Taurat Allah, kita perlu mengetahui apakah kehendak kekal Allah. Kehendak kekal Allah adalah mendapatkan sekelompok orang untuk mengekspresikan diri-Nya. Untuk menggenapkan kehendak ini, Allah harus menyalurkan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya dan menggarapkan diri-Nya ke dalam mereka. Inilah sebabnya menurut Kejadian 1:26, Allah menciptakan manusia dengan cara yang sangat istimewa menurut gambar dan rupa-Nya. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan rupa-Nya sehingga manusia dapat menerima Allah dan diisi oleh Allah. Allah menginginkan manusia menjadi wadah-Nya. Inilah sebabnya Alkitab menyebut manusia sebagai suatu bejana kehormatan dan kemuliaan (Rm. 9:23). Manusia adalah bejana yang berisikan Allah.

Perjanjian Baru dengan jelas dan tegas mewahyukan bahwa di dalam Kristus dan melalui Kristus, Allah telah datang melawat (mengunjungi) kita, bahkan menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Allah tidak hanya melawat kita. Dia damba membuat tempat kediaman-Nya di dalam kita. Tuhan Yesus berkata, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:23). Dalam Kolose 1:27, Paulus berkata, “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” Ayat-ayat lain juga menyatakan dengan tegas bahwa Kristus ada di dalam kita (Rm. 8:10; 2Kor. 13:5; Gal. 2:20; 4:19). Dari Efesus 4:6, kita tahu bahwa Bapa ada di dalam kita; dari Yohanes 14:17 dan Roma 8:11, kita tahu bahwa Roh itu diam di dalam kita. Satu Yohanes 4:12 mengatakan, “Allah tetap di dalam kita.” Ayat 15 dari pasal yang sama menyatakan, “Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia, dan dia di dalam Allah.” Perihal diam di dalam Allah dan Allah di dalam kita diulangi beberapa kali dalam Surat 1 Yohanes. Berkali-kali Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Allah diam di dalam kita. Bahkan kita disebut bait Allah (1Kor. 3:16; 6:19) dan tempat kediaman-Nya, rumah-Nya (Ef. 2:22; 1Tim. 3:15). Allah sendiri tinggal di dalam kita. Efesus 3:17 menyatakan bahwa Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita. Hanya ketika Allah menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita, barulah kita dapat mengekspresikan Dia.

Banyak orang Kristen hari ini yang tidak tahu hal yang penting ini, yaitu perihal Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita dan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Ketika kita menerangkan butir ini dan menegaskan kepentingannya, kita dituduh oleh beberapa orang sebagai pengajar panteisme bahkan sebagai pengajar “evolusi ke dalam Allah”. Betapa butanya! Ya, kita mengajarkan bahwa Allah ingin menggarapkan diri-Nya ke dalam manusia, tetapi sudah tentu kita tidak mengajarkan bahwa manusia berevolusi menjadi Allah atau manusia akan mencapai status ke-Allahan. Mereka yang menuduh kita mempertahankan doktrin semacam itu berada di dalam kegelapan. Kita harus berkali-kali menegaskan masalah yang mendasar ini, yaitu menurut wahyu ilahi dalam Alkitab, Allah ingin menjadi satu dengan umat-Nya dan menjadikan mereka satu dengan Dia. Kita tidak mempunyai pengertian yang sempurna tentang bagaimana dambanya Allah untuk bersatu dengan kita dan menjadikan kita esa dengan Dia. Bagi mereka yang berpendapat bahwa ini adalah “evolusi ke dalam Allah”, nyata sekali menunjukkan bahwa mereka sedikit pun tidak paham terhadap ekonomi Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Dalam terang firman Allah, kita nampak bahwa Ia ingin masuk ke dalam kita dan tinggal di dalam kita dan membuat kita tinggal di dalam Dia. Dengan cara ini, Ia dengan kita, kita dengan Dia, menjadi satu.

I. MEMELIHARA HUKUM TAURAT ALLAH

MELALUI MENGASIHI DIA

Sekalipun Allah itu ilahi dan kita manusiawi, namun masih ada kemungkinan bagi kita untuk bersatu dengan Dia. Tetapi agar Allah bisa bersatu dengan kita dan kita dengan Dia, harus ada kasih antara kita dengan Allah. Tanpa ada perasaan saling mengasihi, tak mungkinlah laki-laki dan perempuan bisa hidup bersama-sama sebagai suami istri dan tetap benar-benar bersatu. Kesatuan yang sungguh-sungguh antara seorang lelaki dengan istrinya sepenuhnya merupakan masalah kasih. Kasih merupakan motivasi untuk kesatuan semacam ini. Jika saya tidak mengasihi istri saya, saya tak dapat hidup dengan dia dalam kesatuan. Supaya dua orang menjadi satu, mereka harus saling mengasihi. Ini juga berlaku bagi kesatuan yang sejati antara Allah dengan umat-Nya.

Tanpa Allah, kita adalah kosong, dan segala sesuatunya adalah sia-sia. Jika kita tidak mempunyai Allah, kita pasti akan berkata seperti penulis Kitab Pengkhotbah: “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2). Tetapi karena kita mempunyai Allah, kita mempunyai realitas.

Keperluan kita akan Allah dapat disamakan dengan keperluan seorang perempuan akan seorang suami. Tambahan pula, Allah memerlukan kita bagaikan seorang laki-laki yang memerlukan seorang istri. Tak ada kasih yang lebih manis daripada kasih antara seorang laki-laki terhadap istrinya. Kasih seperti ini diperlukan untuk memelihara hukum Taurat Allah. Kita memelihara hukum Taurat Allah melalui mengasihi Dia dan firman-Nya dan melalui bersatunya kita dengan Dia.

Kasih yang harus kita miliki terhadap Allah tidak sama dengan kasih orang tua terhadap anak-anak, kasih yang penuh hormat dari anak-anak terhadap orang tua, kasih se-sama teman, atau kasih sayang antara orang yang kaya terhadap yang miskin. Kasih yang perlu kita miliki terhadap Tuhan adalah kasih sayang seperti kasih seorang laki-laki terhadap istrinya. Kasih kita terhadap Tuhan haruslah seperti yang diekspresikan dalam Kitab Kidung Agung, di mana kita mempunyai gambaran yang indah dan menjamah dari kasih sayang yang dalam dan lembut di antara Tuhan dengan orang yang dikasihi-Nya (kekasihnya, para pencari Dia, yang mengasihi Dia). Kasih ini demikian manis dan intim. Menggambarkannya secara sempurna sungguh di luar kemampuan kita.

Orang-orang Kristen sering mengatakan bahwa Alkitab adalah sebuah buku tentang kasih. Boleh jadi mereka mengutip Yohanes 3:16, yaitu mengenai kasih Allah kepada isi dunia; 1Yohanes 3:1, mengenai kasih Allah Bapa kepada anak-anak-Nya; atau Efesus 5:25, mengenai kasih Kristus kepada gereja. Akan tetapi, kaum beriman mungkin tidak menyadari bahwa kasih dalam ayat-ayat ini bukan hanya kasih Allah terhadap isi dunia, atau kasih Allah Bapa terhadap anak-anak-Nya, tetapi juga kasih Kristus sebagai Suami kepada istri-Nya, kasih sayang yang diungkapkan dalam Kitab Kidung Agung. Kasih antara Allah dengan umat-Nya yang dibentangkan dalam Alkitab kebanyakan adalah kasih sayang antara pria dengan wanita.

A. KASIH ALLAH KEPADA UMAT-NYA

1. Meminang Mereka

Menurut Perjanjian Lama, Allah mengasihi orang-orang Israel dengan kasih yang amat intim. Dalam Yeremia 31:3, Tuhan berkata kepada umat pilihan-Nya, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Apa yang kita miliki di sini bukanlah kasih antara sesama teman, ataupun kasih dari seorang yang kaya kepada yang miskin; melainkan kasih dalam masa peminangan, kasih yang membawa kepada pertunangan dan pernikahan. Karena Tuhan mempunyai kasih yang semacam ini kepada umat-Nya, Ia “memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari Tanah Mesir” (Yer. 31:32). Ini juga adalah kasih dalam Yeremia 2:2, sebuah ayat yang menyebutkan kasih pada waktu orang Israel menjadi pengantin. Kebanyakan, kasih yang disebutkan dalam Alkitab adalah kasih dalam masa peminangan, pertunangan, dan pernikahan.

Seperti yang telah saya tunjukkan dalam berita-berita sebelumnya, dalam membawa umat-Nya keluar dari Mesir dan memberikan hukum Taurat-Nya kepada mereka, Allah meminang mereka, merayu mereka, dan memikat mereka. Mula-mula mungkin terdengar sangat aneh, namun Allah memang meminang umat-Nya. Karena Ia telah meminang kita, maka kita hari ini berada dalam hidup gereja. Allah kita bukan saja Allah yang telah melalui proses, Allah Tritunggal yang telah melalui inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan terangkat ke surga, agar dapat masuk ke dalam kita sebagai Roh pemberi hayat yang serba ada. Ia bahkan adalah Allah yang meminang, Allah yang datang kepada kita, merayu kita, dan menarik kasih sayang kita. Kasih seperti inilah yang diperlihatkan dalam Keluaran 20, ketika Allah datang kepada umat-Nya dan memberikan hukum Taurat-Nya kepada mereka.

Ketika sampai kepada wahyu ilahi dalam Alkitab, janganlah kita diduduki oleh apa pun yang dapat membutakan kita dari terang Tuhan. Sebaliknya, kita perlu membuka seluruh batin kita kepada Tuhan. Tahun-tahun yang lalu, perihal Allah datang kepada umat-Nya sebagai seorang pelamar yang meminang seorang gadis muda dalam Perjanjian Lama, tidaklah sejelas seperti yang saya peroleh hari ini. Tetapi belakangan ini, ketika membaca Keluaran 20, saya kembali terbuka kepada Tuhan dengan cara yang segar. Saya tidak mempedulikan apa yang dulu saya ketahui tentang pasal ini. Saya terbuka terhadap apa yang hendak Tuhan katakan kepada saya. Saya dapat bersaksi bahwa setelah saya berbuat demikian, terang pun datanglah. Pada awal tahun 1932, saya telah memberitakan pasal ini. Akan tetapi, berita-berita itu menekankan aspek “malam” dalam pemberian hukum Taurat. Apa yang Tuhan tunjukkan kepada saya belakangan ini adalah pada aspek “siang”, khususnya mengenai fakta bahwa fungsi pemberian hukum Taurat dalam Keluaran 20 adalah sebagai naskah pertunangan, perjanjian pertunangan.

2. Sebuah Kitab Pertunangan

Karena terang Tuhan melalui firman-Nya, saya berkeyakinan bahwa seluruh Alkitab adalah buku pertunangan. Dalam Alkitab kita mempunyai catatan tentang bagaimana Allah meminang umat-Nya dan akhirnya menikahi mereka. Untuk selamanya, Allah Tritunggal sebagai Suami akan menikmati hidup pernikahan yang manis dengan istri-Nya, umat pilihan-Nya, umat tebusan-Nya. Yerusalem Baru bahkan akan disebut istri Anak Domba (Why. 21:9 Tl.), dan kesimpulan Alkitab adalah pernikahan Allah dengan umat-Nya. Karena demikianlah akhir dari Alkitab, maka Alkitab disebut kitab pertunangan. Subyek utama Alkitab adalah pertunangan Allah dengan umat-Nya. Jika bukan ini subyek utama Alkitab, Alkitab tidak akan berakhir dengan perkataan mengenai pernikahan universal antara Allah dengan umat tebusan-Nya.

Belakangan ini saya nampak bahwa Perjanjian Lama adalah sebuah perjanjian di mana Allah menikahkan umat-Nya kepada diri-Nya sendiri. Baik Yehezkiel 16:8 maupun Yeremia 31:32 menyatakan hal ini. Dalam Yehezkiel 16:8, Allah berfirman kepada umat-Nya, “Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya.” Perjanjian di sini adalah Perjanjian Lama yang berdasar pada hukum Taurat Allah. Yehezkiel 16:8 menyatakan bahwa sewaktu Allah membicarakan perjanjian ini dengan umat-Nya adalah “waktu berkasih-kasihan”. Ini berarti perjanjian Allah dengan umat-Nya adalah suatu perjanjian pertunangan. Melalui pengadaan perjanjian dengan umat-Nya, Allah mempertunangkan mereka kepada diri-Nya sendiri, dan Ia mempertunangkan diri-Nya kepada mereka. Yeremia 31:32 menegaskan hal ini, “Bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari Tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan (suami) yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.” Perhatikan, di sini dipakai perkataan “perjanjian” dan “suami”. Sekali lagi, kita nampak bahwa dalam membuat Perjanjian Lama dengan orang-orang Israel, Allah mempertunangkan diri-Nya dengan umat-Nya untuk menjadi Suami mereka. Ini membuktikan bahwa Perjanjian Lama adalah sebuah naskah pertunangan, perjanjian pertunangan.

Demikian pula prinsipnya dengan Perjanjian Baru. Yeremia 31 memberi penjelasan mengenai Perjanjian Lama, perjanjian pertunangan; juga menyinggung bahwa Tuhan akan membuat Perjanjian Baru dengan umat-Nya (ayat 31). Karena Perjanjian Lama adalah perjanjian pertunangan, Perjanjian Baru haruslah sama sifatnya. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan perjanjian pertunangan. Dalam menerapkan fakta ini kepada catatan pemberian hukum Taurat dalam Keluaran 20, kita nampak bahwa dalam memberikan hukum Taurat-Nya kepada umat-Nya, Allah menginginkan mereka bersatu dengan Dia, menjadi pasangan-Nya. Agar pertunangan semacam ini dapat berlangsung, maka secara mutlak diperlukan kasih sayang antara seorang pria dengan istrinya.

B. MENERIMA HAYAT ALLAH

1. Lambang Adam dan Hawa

Ketika kita sampai kepada hubungan kasih semacam ini dengan Tuhan, kita menerima hayat-Nya, sama seperti Hawa menerima hayat Adam. Jika Hawa tidak menerima hayat Adam, tak mungkinlah ia bisa bersatu dengan Adam. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia membawa kepadanya “segala binatang hutan dan segala burung di udara . . . untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu” (Kej. 2:19). Dalam Kejadian 2:20, kita dengan jelas diberi tahu bahwa Adam “tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Di antara ternak, unggas, binatang di ladang, Adam tidak menemukan satu pun pasangan untuknya; ia tidak menjumpai satu pun yang sepadan dengan dia. Maka kemudian Allah membuat Adam tidur nyenyak, dan mengambil salah satu rusuknya, dibangun-Nyalah seorang perempuan (Kej. 2:21-22). Ketika perempuan itu dibawa kepada Adam, maka berkatalah Adam: “Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki” (ayat 23). Akhirnya, Adam menemukan pasangannya. Tak dapat diragukan lagi, Adam dan Hawa saling mengasihi, karena Hawa telah menerima hayat dari Adam dan bahkan berasal dari Adam sendiri. Ia dan Adam mempunyai satu hayat dan satu sifat. Setiap serabut, jaringan, dan sel, sumbernya adalah Adam. Adam dan Hawa melukiskan Kristus dan gereja. Sama seperti Hawa berasal dari Adam dan memiliki hayat dan sifatnya, demikian pula gereja berasal dari Kristus, juga memiliki hayat dan sifat-Nya.

2. Kasih dan Hayat

Karena hubungan semacam ini adalah antara Kristus dan gereja, maka kita menerima hayat Allah saat kita mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia. Dari pengalaman kita mengetahui bahwa ketika kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” kita segera diinfus dengan hayat-Nya. Kebanyakan orang Kristen tidak mengetahui bahwa jika mereka mengasihi Tuhan Yesus, Ia akan masuk ke dalam mereka menjadi hayat mereka dan suplai hayat mereka. Anak-anak kecil sering bernyanyi, “Kucintalah Yesus!” dan kaum muda boleh jadi menyeru nama Tuhan untuk mengekspresikan kasih mereka terhadap Tuhan. Tetapi ekspresi kasih untuk Tuhan seperti ini janganlah terbatas hanya pada anak-anak dan kaum muda. Bahkan yang lebih tua pun perlu berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu.” Kita perlu sering kali mengekspresikan kasih kita terhadap Tuhan dengan cara seperti ini. Kita perlu menyatakan kepada Tuhan bagaimana besar kasih kita kepada-Nya.

Selama beberapa bulan belakangan ini, saya sungguh-sungguh menuntut Tuhan untuk memperhidupkan Dia dengan cara yang tepat. Hari demi hari, saya berdoa, meminta agar Dia menunjukkan kepada saya rahasia untuk memperhidupkan Dia. Tak dapat diragukan lagi, bagian dari rahasia itu ialah memberitahukan kepada Tuhan berkali-kali bahwa kita mengasihi Dia. Ketika kita memberi tahu Tuhan bahwa kita mengasihi Dia, Ia menyuplai kita dengan hayat-Nya. Hayat inilah yang memungkinkan kita menjadi satu dengan Allah dan menjadikan Dia esa dengan kita.

3. Proses Pembuahan Ilahi

Karena kebenaran-kebenaran dalam Alkitab sangatlah dalam, maka kita tak dapat memahami kebenaran-kebenaran itu tanpa menggunakan gambaran-gambaran dan perumpamaan-perumpamaan. Inilah sesungguhnya yang dikatakan Alkitab tentang bagaimana hayat Allah masuk ke dalam kita. Hayat Allah bukannya masuk ke dalam kita seperti air yang dituangkan ke dalam gelas. Kita menerima hayat Allah melalui proses pembuahan ilahi. Fakta bahwa kita dilahirkan dari Allah (Yoh. 1:12-13) menunjukkan bahwa hayat Allah masuk ke dalam kita melalui proses pembuahan ilahi. Kelahiran selalu melibatkan penyusunan hayat.

Saya telah disalahkan karena mengajarkan perbauran Allah dengan manusia. Izinkanlah saya bertanya, bagaimanakah kita bisa dikandung Allah dan dilahirkan dari Allah tanpa berbaur dengan Allah. Yohanes 3:6 mengatakan, “Yang lahir dari daging adalah daging, dan yang lahir dari Roh adalah roh” (Tl.). Hayat jasmani kita adalah suatu gambaran dari hayat rohani. Dalam prinsip, kelahiran rohani sama seperti kelahiran jasmani. Kedua jenis kelahiran ini melibatkan pengandungan hayat. Melalui keterkandungan dan kelahiran, kita menerima hayat Allah.

Dalam pemulihan Tuhan, kita menekankan aspek-aspek subyektif dari kebenaran Alkitab. Banyak agamawan terluka oleh hal ini. Dengan menunjukkan fakta bahwa Kristus itu besar lagi agung, bahwa Ia telah dipermuliakan dan duduk di atas takhta di surga, mereka bertanya bagaimana Kristus yang agung seperti ini dapat menjadi makanan kita. Bahkan sebagian orang mengejek kita, menanyakan dengan dasar apakah kita mengatakan bahwa Kristus itu dapat dimakan.

Dalam kebutaan mereka, mereka mengabaikan kebenaran subyektif bahwa Kristus, roti hayat, sungguh-sungguh dapat dimakan. Terhadap diri-Nya sendiri Ia berkata, “Siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57). Makan Kristus dan hidup oleh Dia sudah tentu adalah perkara-perkara subyektif.

C. DUA GAMBAR KESATUAN

1. Okulasi

Kita telah mengetahui bahwa hayat Allahlah yang menjadikan kita satu dengan Allah. Kesatuan dalam hayat ini dapat digambarkan dengan okulasi dari cabang sebuah pohon kepada pohon lainnya. Okulasi melibatkan proses metabolis. Ranting-ranting yang mati dapat ditempelkan menjadi satu, dipancangkan menjadi satu, ataupun diikatkan menjadi satu, tetapi keduanya tak dapat diokulasikan menjadi satu. Hanya sesuatu yang hidup yang dapat diokulasikan.

Kedua bahan yang diokulasikan haruslah yang berhayat sama. Kita mengetahui bahwa sifat hayat insani kita tidak sama dengan hayat ilahi. Pada prinsipnya menurut Kejadian 1, setiap jenis kehidupan mempunyai hayatnya sendiri-sendiri. Akan tetapi, sekalipun hayat manusia bukanlah hayat ilahi, namun hayat insani ini diciptakan menurut hayat ilahi, karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Selain hayat manusia, tidak ada satu hayat pun yang diciptakan menurut Allah. Karena hayat manusia dan hayat ilahi adalah sama dalam hal-hal tertentu, maka keduanya dapat diokulasikan menjadi satu. Selama okulasi ini berlangsung, getah hayat dari hayat ilahi mengalir masuk ke dalam hayat insani dan menghasilkan kesatuan yang ajaib antara Allah dengan manusia. Kemudian, bagaimanakah kita dapat bersatu dengan Allah dan Allah bersatu dengan kita? Kesatuan ini datang melalui okulasi hayat menusia ke dalam hayat ilahi dan hayat ilahi kepada hayat manusia. Yohanes 15 dengan jelas mengatakan bahwa kita adalah ranting-ranting di dalam Kristus yang adalah pokok anggur. Menurut gambaran yang dipakai oleh Rasul Paulus dalam Roma 11, kita adalah cabang-cabang yang diokulasikan ke dalam Kristus. Sekarang karena kita tinggal di dalam Kristus dan Ia tinggal di dalam kita, kita dan Dia, Dia dan kita, bersama-sama memiliki satu hayat dan satu kehidupan. Kesatuan dalam hayat dan kehidupan menjadikan kita benar-benar esa.

2. Suami dan Istri

Keesaan kita dengan Tuhan juga digambarkan dalam Alkitab melalui keesaan antara seorang laki-laki dengan istrinya. Suami dan istri adalah sama dalam hayat maupun sifat. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, seorang laki-laki dan perempuan yang menikmati hidup pernikahan yang sejati akan menjadi satu dan bahkan dalam ekspresi mereka. Selama berbulan madu, sepasang suami istri adalah satu di dalam kasih. Dengan bertambahnya waktu, mereka menjadi satu di dalam hayat. Tetapi akhirnya mereka yang membangun kehidupan pernikahan yang layak menjadi satu dalam ekspresi. Inilah gambaran hubungan kita dengan Tuhan. Pertama-tama kita esa dengan Dia dalam kasih; kemudian kita menjadi esa dalam hayat dan sifat; dan akhirnya kita akan esa dengan Dia dalam ekspresi. Ketika kita esa dengan Dia dalam kasih, kita mengalami hayat-Nya dan menikmati si-fat-Nya. Ketika kita memperhidupkan hayat-Nya dan berjalan menurut sifat-Nya, kita menjadi ekspresi-Nya.

Saya telah menunjukkan dalam berita-berita terdahulu bahwa hukum Taurat adalah gambaran dari apa adanya Allah. Ini berarti Taurat adalah ekspresi Allah. Jika kita esa dengan Allah di dalam kasih, hayat, sifat, dan ekspresi, secara otomatis kita akan memelihara hukum-Nya. Kita tak perlu lagi bertekad bulat untuk melakukannya, karena secara spontan kita akan hidup menurut hukum Allah.

D. HUKUM TAURAT DITINGGIKAN, BUKAN DIUBAH

Diulangi, dikembangkan, dan ditinggikannya Kesepuluh Perintah dalam Perjanjian Baru, merupakan suatu hal yang sangat penting. Menurut fakta, pengajaran dalam Perjanjian Baru melebihi Kesepuluh Perintah. Siapa saja yang menolak hukum Taurat Allah juga harus menolak keseluruhan Perjanjian Baru, yang mengulangi dengan cara memperluas hukum Taurat yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Dalam Matius 5, Tuhan Yesus menyempurnakan hukum Taurat dan meninggikannya. Lebih dari sekali Ia berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan . . . Tetapi Aku berkata kepadamu . . . “ (Mat. 5:21-22, 27-28, 31-32, 33-34, 43-44). Tuhan Yesus datang bukan untuk menghapuskan hukum Taurat. Ia sendiri berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17). Mengenai hukum Taurat, pengajaran Perjanjian Baru pada dasarnya adalah sama seperti Kesepuluh Perintah.

Ada orang membaca sampai di sini, mungkin merasa ingin tahu bagaimana dengan perintah keempat, mengenai memelihara hari Sabat. Bahkan mengenai Sabat pun Perjanjian Baru pada dasarnya tidak mengubahnya. Dalam Perjanjian Lama, hari ketujuh merupakan hari peringatan, tanda penciptaan Allah. Tetapi karena kita, kaum saleh di dalam gereja, telah dilahirkan kembali dalam kebangkitan Kristus (1Ptr. 1:3), kita bukan saja ciptaan Allah, tetapi juga ciptaan-Nya yang telah diciptakan kembali. Tidak seperti Adam, kita bukannya hidup dalam ciptaan Allah; kita adalah orang-orang yang hidup dalam kebangkitan Kristus. Karena itu, tanda peringatan kita bukan lagi hari ketujuh, melainkan hari kedelapan, hari pertama dalam satu minggu, hari kebangkitan. Menurut Kisah Para Rasul 20:7, murid-murid berkumpul bersama-sama pada hari itu, bukan pada hari ketujuh, menghadapi meja Tuhan. Menurut 1Korintus 16:2, juga pada hari inilah segala benda disisihkan untuk dipakai Allah. Berikutnya dalam Wahyu 1:10, Yohanes berkata bahwa ia di dalam roh pada hari Tuhan, yang juga adalah hari pertama dalam minggu itu. Karena adanya hari peringatan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, maka betullah bila dikatakan bahwa mengenai hukum keempat pada prinsipnya tak ada perubahan. Karena kaum beriman dalam Perjanjian Lama hidup dalam penciptaan Allah, maka hari peringatan mereka adalah pada hari ketujuh. Tetapi karena kita kaum beriman Perjanjian Baru, ada di dalam kebangkitan, hari peringatan kita adalah pada hari kedelapan. Hari yang sebenarnya telah diubah dari hari ketujuh ke hari kedelapan. Namun, Allah tidak meniadakan prinsip hari yang dipisahkan bagi Tuhan. Sekali lagi kita nampak bahwa mengenai hukum Taurat, seluruh Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pada prinsipnya adalah sama.

E. TUJUAN AKHIR ALLAH

Tujuan Allah yang terakhir adalah menjadikan kita satu dengan Dia. Jalan agar kita bisa satu dengan Dia adalah melalui kasih, hayat, sifat, dan ekspresi. Kasih kita kepada Allah haruslah seperti kasih seorang perempuan terhadap suaminya, kasih yang digambarkan dalam Kitab Kidung Agung. Dengan mengasihi Tuhan seperti ini, kita menerima suplai hayat-Nya. Saya sudah menyampaikan sejumlah berita mengenai hayat dan pembangunan yang berdasarkan Kitab Kidung Agung kuning (lihat buku yang berjudul “Hayat dan Pembangunan dalam Kitab Kidung Agung). Melalui kasih sayang kita kepada Tuhan Yesus, kita disuplai dengan hayat. Ketika hayat ini bertumbuh, pembangunan pun berlangsunglah. Sebenarnya, pertumbuhan hayat adalah pembangunan. Dengan mengasihi Tuhan sebagai Suami kita dan mengalami serta menikmati hayat dan sifat-Nya, kita akan menjadi ekspresi-Nya. Kitab Kidung Agung melukiskan rangkaian ini. Akhirnya, dalam arti yang riil, seorang yang menuntut dalam Kitab Kidung Agung menjadi kekasihnya. Kedua orang itu, laki-laki dan perempuan, secara mutlak menjadi satu, bahkan dalam ekspresi, hidup mereka bagaikan satu persona.

Dalam keesaan antara seorang laki-laki dengan istrinya, kita nampak cara yang tepat untuk memelihara hukum Taurat. Janganlah kita memelihara hukum Taurat melalui melatih pikiran dan tekad kita. Kita melakukannya karena mengasihi Tuhan sebagai Suami kita. Kita semua memerlukan kasih yang manis, intim, dan penuh kasih sayang antara kita dengan Tuhan. Kita wajib mengasihi Dia sebagai seorang perempuan yang mengasihi suaminya. Kita semua, baik yang muda maupun yang tua, memerlukan kasih semacam ini. Semakin kita mengasihi Dia dengan kasih yang seperti ini, semakinlah kita akan mempunyai bagian dari hayat-Nya dan dengan spontan memperhidupkan Dia menurut sifat-Nya. Kemudian kehidupan kita secara otomatis akan melakukan hukum Taurat-Nya. Apa yang kita perhidupkan akan menurut hukum Taurat sebagai gambar-Nya, definisi-Nya, dan ekspresi-Nya.

Seperti yang akan kita lihat dalam berita berikutnya, jika kita mencoba melakukan hukum Taurat Allah tanpa memiliki kasih sayang seperti ini terhadap Dia, kita akan berada di dalam kegelapan, hukuman, penyingkapan, dan bahkan akan dibunuh oleh hukum Taurat Allah. Inilah aspek gelap, aspek “malam” dari hukum Taurat. Dalam berita ini, kita curahkan perhatian kita kepada aspek terang, aspek “siang”. Camkanlah aspek ini, kita nampak bahwa kita dapat melakukan hukum Taurat Allah hanya dengan mengasihi Dia dan menjadi satu dengan Dia.