ALLAH MENCARI PARA PENCINTA-NYA KETIKA IA MEMBERIKAN HUKUM TAURAT KEPADA UMAT-NYA
Pembacaan Alkitab:
Kel. 20:1-12; 3:14-15; Yer. 31:3, 32; 2:2;
Hos. 2:19-20; Yes. 54:5; Yeh. 16:8; Yoh. 14:21, 23
Dalam berita terdahulu kita telah nampak bahwa hukum Taurat adalah firman Allah yang hidup, yang menginfuskan hakiki Allah ke dalam para pencari-Nya yang dikasihi-Nya. Inilah pandangan yang segar mengenai hukum Taurat. Mereka yang mencari Allah pasti mengasihi Taurat-Nya sebagai firman-Nya yang hidup. Melalui sedemikian mengasihi Allah serta firman-Nya, mereka akan diinfus dengan hakiki Allah dan hidup dengan cara yang sesuai dengan apa adanya Dia. Dalam berita ini kita akan meneruskan membahas satu perkara yang kelihatannya sangat luar biasa. Ini adalah suatu fakta bahwa Allah mencari para pencinta-Nya ketika Ia memberikan hukum-Nya kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Maksud Allah memberikan hukum Taurat kepada umat pilihan-Nya adalah supaya mereka menjadi orang-orang yang mengasihi Dia.
Empat nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Hosea menyebut Allah sebagai Suami orang-orang Israel, dan umat Allah sebagai pasangan-Nya, istri-Nya. Walaupun keempat nabi ini hidup pada zaman yang berlainan dan tempat yang berlainan, namun mereka semua memiliki konsepsi yang sama mengenai ini. Bagi mereka yang agamawi, kedengarannya hal ini aneh, bahkan merupakan suatu penentangan, dengan mengatakan bahwa Allah mempunyai istri. Namun, Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah adalah seorang Suami. Bagaimana mungkin Allah dapat menjadi seorang Suami tanpa mempunyai seorang istri? Semua orang yang percaya tahu bahwa Allah adalah Pencipta, Penebus, dan Juruselamat, akan tetapi banyak yang tidak mengenal bahwa Allah juga adalah seorang Suami, dan umat-Nya adalah istri-Nya. Allah dan umat-Nya adalah pasangan universal yang menakjubkan. Ini terwahyukan baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam suratnya yang ditujukan kepada gereja di Korintus, Paulus berkata, “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus” (2Kor. 11:2). Menurut Perjanjian Baru, gereja yang terdiri dari semua orang beriman adalah istri Kristus. Demikian juga, umat Israel dalam Perjanjian Lama dinikahkan dengan Allah, ditunangkan dengan Dia. Yeremia 2:2 mengatakan: “cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin”. Hosea 2:18-19 mengatakan, “Aku akan menjadikan engkau istriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau istri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.”
Kita perlu melanjutkan pertanyaan kapan, di mana, dan bagaimana Allah mempertunangkan Israel dengan diri-Nya sendiri. Terhadap hal ini kita memperoleh petunjuk dalam Yeremia 2:2, di mana Tuhan berfirman, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu pertunanganmu, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya” (Tl.). Kata “kasih” di sini berarti ramah tamah, intim, bersimpati. Perasaan serta sikap hasil semacam ini dari orang-orang Israel pada mulanya terhadap Allah merupakan suatu kenangan bagi Allah. “Cintamu pada waktu pertunanganmu” adalah semacam kasih yang khusus. Ada beberapa jenis kasih. Kasih orang tua kepada anak-anak berbeda dengan kasih anak-anak terhadap orang tua. Kasih antara teman juga merupakan macam kasih yang lain lagi. Kasih dalam Yeremia 2:2 adalah semacam kasih antara seorang pria dengan seorang wanita yang akan menikah. Kasih ini berbeda dengan kasih orang tua terhadap anaknya, atau kasih anak-anak terhadap orang tuanya, maupun kasih seseorang kepada temannya. Perkataan kasih dalam Yeremia 2:2 menyatakan kasih yang ditunjukkan pada masa pertunangan, kasih yang romantis. Teristimewa ini ditujukan kepada ekspresi kasih wanita kepada pria yang meminangnya. Allah memberi tahu orang-orang Israel bahwa Ia mengingat kasih mereka pada masa muda mereka.
Dalam Yeremia 2:2, Tuhan khusus menyebutkan: “cintamu pada waktu pertunanganmu” (Tl.). Pernyataan ini menunjukkan kasih orang-orang Israel pada waktu pertunangannya dengan Tuhan. Dalam ayat ini Tuhan sepertinya berkata kepada orang-orang Israel: “Aku telah mempertunangkan engkau kepada diri-Ku, dan engkau dengan Aku bertunangan. Mulai saat pertunanganmu, engkau mempunyai kasih yang khusus terhadap-Ku. Aku tak dapat melupakan kasih pada masa mudamu, yaitu ketika engkau bertunangan dengan Aku dan juga ketika engkau mengikuti Aku di padang gurun.” Di sini Tuhan mengutarakan empat hal yang diingat-Nya: umat-Nya, kasih pada masa muda mereka, ka-sih pada waktu menjadi pengantin, dan bagaimana mereka mengikuti-Nya di padang gurun. Karena itu, Yeremia 2:2 dengan jelas membicarakan pertunangan orang-orang Israel dengan Allah.
Di mana dan kapan pertunangan ini berlangsung? Yehezkiel 16:8 mengatakan, “Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya.” Menurut konteks pasal ini, ayat ini dikaitkan dengan masa keluaran dan saat-saat sesudahnya. Selain kasih yang dalam kepada umat itu, Tuhan juga mengadakan perjanjian dengan mereka. Perjanjian ini dibuat di gunung Allah, dengan memberikan hukum Taurat (Kel. 20:1-12). Pernahkah Anda menyadari bahwa pemberian Taurat merupakan suatu peristiwa yang di dalamnya umat Allah dipertunangkan dengan Allah?
Seperti yang akan kita lihat, hukum Taurat adalah suatu perjanjian pertunangan, suatu surat pertunangan. Yeremia 31:32 menyatakan hal ini, “Bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari Tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan (suami) yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.” Perjanjian di sini adalah yang disebut dalam Yehezkiel 16:8, yang dibuat di gunung Allah, setelah Allah membawa orang-orang Israel keluar dari Tanah Mesir. Perhatikan bahwa dalam Yeremia 31:32, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Suami yang memegang tangan mereka. Ini menyatakan bahwa ketika Allah memberikan hukum Taurat, Ia bertunangan dengan umat-Nya. Kita telah mengetahui bahwa Yehezkiel 16:8 maupun Yeremia 31:32 menggunakan perkataan perjanjian, sebuah kata yang mengacu kepada hukum Taurat yang diberikan dalam Keluaran 20. Hukum Taurat adalah suatu naskah perjanjian, perjanjian pertunangan. Ketika Allah memberikan hukum Taurat, Ia mempertunangkan Israel kepada diri-Nya sendiri, dan orang-orang Israel bertunangan dengan Dia. Dengan memakai hukum Taurat sebagai naskah pertunangan, Allah secara resmi mempertunangkan orang-orang Israel dengan diri-Nya sendiri dan Dia menjadi Suami mereka, seperti yang dinyatakan dalam Yeremia 31:32.
Saya tidak yakin ada banyak orang Kristen yang mengerti bahwa hukum Taurat adalah naskah pertunangan. Dalam dunia Barat, cincin dipakai sebagai tanda pertunangan. Tetapi di Asia Timur, umumnya kedua belah pihak menandatangani surat pertunangan, surat nikah. Penandatanganan surat ini menunjukkan pentingnya pernikahan dan surat ini bertindak sebagai saksi bahwa seorang pria dan seorang wanita telah diikat dalam pernikahan. Dalam Kejadian 24, hamba Abraham ditetapkan untuk mempertunangkan Ribka dengan Ishak. Pertunangan itu merupakan suatu ikatan pernikahan. Pertunangan orang-orang Israel dengan Allah terjadi di gunung Allah di Keluaran 20, dan hukum Taurat merupakan surat pengukuhan yang menyatakan situasi pertunangan ini.
Hukum Taurat memberikan perjanjian bagi pertunang-an antara Allah dengan umat-Nya. Perjanjian pertunangan Allah dengan umat-Nya adalah Kesepuluh Perintah. Lalu bagaimanakah kita akan menguraikan Yeremia 2:2, yang mengatakan, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin.” Tak dapat diragukan pula, waktu keluar dari Mesir adalah masa muda Israel. Kita boleh mengatakan bahwa kesembilan belas pasal yang pertama dalam Kitab Keluaran adalah pasal-pasal di mana Allah melamar, meminang, dan bahkan “berjanji” dengan umat-Nya. Ia ingin menjadi Kekasih mereka satu-satunya. Ia ingin umat-Nya mencintai-Nya dan hanya mencintai Dia semata. Jadi, Allah adalah Kekasih yang mencari kasih umat-Nya. Allah adalah Kekasih orang-orang Israel, dan umat itu menjadi orang-orang yang disayangi-Nya.
Sewaktu kita mencamkan Kesepuluh Perintah yang diberikan dalam Keluaran 20, kita nampak bahwa kelima perintah yang terakhir diberikan dengan cara yang sederhana dan secara langsung. Allah memerintahkan agar umat-Nya tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak mengucapkan saksi dusta, dan tidak tamak (Kel. 20:13-17). Namun, kelima perintah yang pertama diberikan dalam suasana yang intim. Ayat 2 mengatakan, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” Ini bukanlah ucapan hukum, melainkan ucapan kasih. Dengan intim Tuhan berfirman kepada umat-Nya, “Akulah TUHAN Allahmu.” Tuhan adalah Yang ada pada waktu lampau, Yang ada pada waktu sekarang, dan Yang ada selama-lamanya hingga kekekalan yang akan datang. Sebagai persona yang sedemikian, Ia membawa umat-Nya keluar dari perbudakan. Dalam ayat 3, Tuhan meneruskan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Di sini Tuhan memberi tahu umat-Nya agar mereka jangan mempunyai kekasih lain selain diri-Nya. Ia harus menjadi Kekasih mereka satu-satunya. Inilah perjanjian pertunangan kali pertama antara Allah dengan umat-Nya. Memang sudah sepatutnya bila seorang pria ketika bertunangan dengan seorang wanita menuntut agar tunangannya tidak mengasihi laki-laki lain selain dia. Ia menuntut perempuan itu agar hanya dialah kekasih satu-satunya. Sudah tentu, perkataan agar jangan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan merupakan suatu perintah, akan tetapi, perintah ini juga merupakan syarat kasih pertunangan umat Allah dengan diri-Nya. Jika kita membandingkan perintah ini dengan kelima perintah yang terakhir, kita akan nampak bahwa perintah ini diutarakan dalam kasih sebagai syarat pertunangan.
Dalam ayat 4, Tuhan meneruskan perkataan-Nya, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.” Di sini kita menemukan syarat lainnya bagi pertunangan ini. Allah tidak menginginkan umat-Nya membuat patung yang menyerupai apa pun. Demikian pula, ketika seorang pria muda bertunangan dengan seorang gadis, ia tak ingin gadisnya itu memiliki foto laki-laki lain. Ia mengingini gadisnya hanya memiliki fotonya saja. Kalau tidak, ia akan disalahkan. Perintah untuk tidak memiliki patung juga merupakan syarat pertunangan.
Ayat 5 meneruskan, “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.” Tuhan adalah Suami yang cemburuan, yang mengingini umat-Nya melayani Dia dan hanya Dia saja. Hal yang sama terjadi dalam pertunangan antar manusia. Setiap laki-laki yang telah bertunangan cemburu terhadap tunangannya.
Dalam ayat 5 dan 6, Tuhan berfirman, “Membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang (keturunan), yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang kepada perintah-perintah-Ku.” Ini juga adalah firman yang diucapkan Allah ketika Allah meminang umat-Nya, Allah mencari sekelompok orang yang mengasihi Dia. Mulai dari masa penciptaan dunia hingga masa pada Keluaran 20, Allah masih sendirian, masih “bujangan”. Dalam arti tertentu, Ia merasa kesepian. Karena itu ketika Ia memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya, Ia meminang mereka, seraya memberi tahu mereka bahwa jika mereka mau mengasihi Dia, Ia akan menunjukkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu keturunan mereka, yang berarti sampai kekekalan.
Dalam Keluaran 20:7, Tuhan mengumumkan syarat pertunangan ini: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allah-mu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Tuhan tak ingin umat-Nya menggunakan nama-Nya secara tak layak. Sebagai Kekasih mereka, Ia menginginkan mereka menghormati nama-Nya dan menggunakannya dengan penuh kasih. Demikian juga, seorang pria muda menginginkan gadis tunangannya menghormati namanya dan mengucapkannya dengan cara yang layak, penuh kasih dan penghargaan.
Ayat 8-11 mengatakan, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” Sama seperti seorang perempuan mengenakan cincin sebagai tanda pertunangannya, demikian juga pemeliharaan atas hari Sabat merupakan tanda bahwa umat Allah bertunangan dengan Dia. Seorang laki-laki muda yang memberikan cincin pertunangan kepada seorang perempuan yang dicintainya menginginkan gadisnya mengenakannya sebagai tanda bahwa gadisnya telah bertunangan dengan dia. Ia akan merasa tidak senang jika gadisnya tidak mau memakai tanda semacam itu.
Dalam Keluaran 20:11, kita diberi tahu bahwa TUHAN “memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” Ini berarti hari Sabat adalah hari yang dikuduskan-Nya, hari yang terpisah. Inilah alasannya mengapa memelihara hari Sabat dapat menjadi tanda pertunangan. Setiap perempuan yang berjanji menikah adalah “dikuduskan”; ia telah ditandai, dipisahkan, untuk seseorang. Ia satu-satunya perempuan yang berhak memakai cincin pertunangan kekasihnya. Hal ini membuat dirinya terpisah dari semua perempuan lainnya. Dalam Efesus 1:13 dikatakan bahwa ketika kita diselamatkan, kita menerima meterai Roh. Meterai Roh ini merupakan cincin pertunangan kita, suatu tanda terpisahnya serta terkuduskannya diri kita. Dalam Keluaran 20, hari Sabat merupakan tanda terpisahnya umat Allah bagi Dia saja. Sebagai syarat pertunangan, Ia menuntut umat-Nya mengenakan tanda bahwa mereka adalah milik-Nya dan mereka mutlak bagi Dia. Sabat adalah suatu lambang yang mengatakan bahwa umat Allah semata-mata adalah milik-Nya. Hari ketujuh aliran tertentu, dalam legalitas serta dogmatis mereka mengenai hari Sabat, mengabaikan makna hari Sabat yang sebenarnya, di mana hari Sabat sebagai lambang bahwa umat Allah memiliki Dia sebagai Kekasih mereka, Suami mereka. Kita memuji Tuhan karena Ia menunjukkan kepada kita bahwa hukum Taurat adalah surat pertunangan. Ketika hukum Taurat diresmikan di Gunung Sinai, syarat pertunangan umat Allah kepada diri-Nya diberikan.
Syarat pertunangan lainnya dicantumkan dalam ayat 12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa menghormati orang tua kita adalah menelusuri kembali asal kita kepada sumbernya. Pada akhirnya, sumber kita adalah diri Allah sendiri. Dengan mempertunangkan umat Israel kepada diri-Nya sendiri, Allah ingin agar mereka mengingat kembali bahwa Dia adalah sumber mereka.
Kelima perintah pertama yang diberikan secara intim adalah syarat pertunangan Allah dengan umat-Nya. Dalam setiap perintah dipakai ungkapan “TUHAN, Allahmu” suatu ungkapan yang secara intim diutarakan berkali-kali sebagai Allah yang penuh kasih meminang umat-Nya. Ia telah sendirian dalam jangka waktu yang cukup panjang dan sekarang Ia mencari para pencinta-Nya. Dalam Keluaran 20, Allah tidak sedang mencari teman-teman Ia sedang mencari kekasih. Dalam memberikan hukum Taurat-Nya kepada umat-Nya, Ia mencari orang-orang yang mengasihi Dia. Setelah memberikan kelima perintah pertama dalam suasana kasih seperti itu, Allah mengumumkan kelima perintah lainnya, yang menuntut mereka dengan lima “jangan”. Seorang pria juga akan menuntut tunangannya dengan permintaan “jangan” tertentu. Dalam mempertunangkan umat-Nya kepada diri-Nya, Allah mengambil suatu contoh yang menakjubkan tentang cara pertunangan yang akan berlangsung. Saudara-saudara muda di antara kita dalam hal ini boleh belajar dari Allah. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Alkitab memberi kita suatu contoh pertunangan yang menakjubkan seperti ini.
I. ALLAH INGIN MENGEKSPRESIKAN DIRI-NYA MELALUI SEKELOMPOK MANUSIA
Keinginan Allah adalah mengekspresikan diri-Nya melalui sekelompok manusia sebagai tempat kediaman-Nya. Kemudian, orang-orang ini harus menjadi ekspresi Allah sesuai dengan hukum Taurat-Nya. Karena hukum Taurat Allah merupakan ekspresi apa adanya Allah, maka yang sesuai dengan hukum Taurat Allah berarti sesuai dengan Allah. Umat Allah dapat mempunyai penyesuaian semacam ini hanya melalui mencintai Dia dan diinfus dengan hakiki-Nya.
II. ALLAH MENCARI UMAT-NYA BAGAIKAN KEKASIH YANG MENCARI PASANGANNYA
Menurut Kitab Kidung Agung, lelaki adalah kekasih; dan perempuan yang dengan kasih mencari dia adalah pasangannya (Kid. 1:13-16). Jadi, kekasih adalah suami, sedang pasangannya adalah istri. Alkitab mengungkapkan bahwa dalam Perjanjian Lama Allah mencari umat-Nya bagaikan Kekasih yang mencari seseorang yang menjadi pasangan-Nya, istri-Nya. Jika Anda membaca Keluaran 1–20 dalam terang ini, Anda akan nampak bahwa dalam pasal-pasal ini Allah datang kepada umat yang dipinang-Nya beberapa kali. Setelah meminang mereka, Ia bertunangan dengan mereka di Gunung Sinai.
A. MEWAHYUKAN DIRI-NYA KEPADA MEREKA SEBAGAI TUHAN ALLAH MEREKA, AKU ADALAH YANG AGUNG
Dalam Keluaran 3:14-15, Tuhan mewahyukan diri-Nya kepada umat-Nya sebagai TUHAN (Yehova), Allah mereka, Aku adalah Yang agung, Yang ada pada waktu yang lampau, Yang ada pada waktu sekarang, dan Yang ada pada waktu akan datang datang untuk selama-lamanya. Dia yang menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya itu adalah Dia yang mencari para pencinta-Nya.
B. MENGASIHI MEREKA DENGAN KASIH YANG KEKAL
Dalam Yeremia 31:3, Tuhan berfirman kepada umat-Nya, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Di tempat lain dikatakan bahwa Allah mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau (Rm. 9:13). Di sini nampaknya kasih Allah kepada umat-Nya itu tanpa alasan; Ia hanya mencintai mereka, seolah-olah Ia telah dibutakan oleh cinta. Ia melanjutkan kasih setia-Nya kepada umat-Nya, bahkan ketika mereka tak beriman kepada-Nya sekalipun. Cinta membutakan orang. Cinta yang unggul adalah cinta buta seperti ini. Jika Anda tidak buta, Anda tak akan bisa mengasihi dengan sebaik-baiknya. Jika mata Anda terbuka terhadap semua kesalahan orang yang Anda cintai, boleh jadi Anda mengingini suatu perpisahan, atau bahkan perceraian. Tetapi jika Anda dengan membuta mengasihinya, Anda akan mengatakan suami atau istri Anda adalah yang terbaik. Dalam mengasihi umat-Nya, Allah nampaknya menutup mata-Nya dan dengan membuta mengasihi mereka. Dalam perkara kasih, janganlah berlagak lebih bijaksana daripada Allah. Ikutilah Dia dan kasihilah pasangan Anda dengan membuta.
Semasa muda, saya menduga kalau-kalau Allah keliru dengan mengasihi orang-orang Israel. Walaupun Yakub adalah seorang yang suka merebut, namun Allah mengasihi Dia. Allah tetap mengasihi orang-orang Israel dengan kasih yang kekal, sama seperti yang Ia lakukan ketika Ia memberikan firman kasih-Nya dalam Yeremia 31:3. Boleh saja banyak bangsa bangkit melawan Israel, tetapi Allah melanjutkan kasih-Nya kepada umat-Nya dengan kasih yang kekal.
C. MEMPERLAKUKAN MEREKA SEBAGAI JODOH-NYA
Karena Allah adalah Kekasih yang mencari umat-Nya untuk dijadikan pasangan-Nya, maka Ia memperlakukan mereka sebagai jodoh-Nya. Ini dengan jelas dinyatakan dalam Yeremia 2:2; Hosea 2:19-20; Yesaya 54:5; dan Yehezkiel 16:8.
D. MEWAHYUKAN KEPADA MEREKA APA ADANYA DIA
DENGAN MEMBERI MEREKA HUKUM TAURAT-NYA
MELALUI PEMINANGAN
Telah berkali-kali kita tunjukkan bahwa hukum Taurat Allah diberikan melalui peminangan. Dengan memberikan hukum kepada umat-Nya melalui cara seperti ini, Allah memperkenalkan kepada mereka, Allah macam apakah Dia itu. Dalam setiap perintah dari kelima perintah yang pertama, dengan cara yang intim, Ia menunjukkan diri-Nya sebagai “TUHAN Allahmu”. Dengan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang cemburu, Ia meminta agar mereka tidak mempunyai allah lain selain diri-Nya. Ia menuntut kasih mereka, dengan maksud agar mereka mau memelihara perintah-perintah-Nya dan mengekspresikan Dia. Konsepsi yang sama terdapat dalam Yohanes 14:21 dan 23. Ayat 21 mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Seperti dalam Keluaran 20:1-12, di sini kita nampak kasih Tuhan ketika meminang kita dan mencari sekelompok orang yang mengasihi Dia. Dalam Yohanes 14:23, Tuhan meneruskan, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam Perjanjian Lama, Allah meminang manusia. Perintah dalam Keluaran 20:1-12 diberikan bukan dengan cara hukum, melainkan dalam suasana peminangan. Dalam memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya, Allah ingin mereka menjadi orang-orang yang mengasihi Dia.
Jika kita tidak mengasihi Allah, kita tak akan sanggup menuruti perintah-Nya, dengan sendirinya kita tak akan mampu mengekspresikan Dia. Tujuan pertunangan adalah membawa kedua orang yang bertunangan itu ke dalam keesaan. Dalam pernikahan, seorang pria dan istrinya menjadi satu daging. Demikian pula, Allah dan umat pilihan-Nya menjadi esa melalui pertunangan yang berlangsung dalam Keluaran 20. Keesaan antara Allah dengan umat-Nya maupun antara suami dengan istri merupakan prinsip dasar dalam Alkitab. Namun, banyak guru Alkitab kekurangan aspek ini ketika menyampaikan Kesepuluh Perintah. Sebaliknya, mereka malah menekankan jarak antara Allah dengan umat-Nya dan fakta bahwa Allah menginginkan mereka menuruti perintah-perintah-Nya. Tetapi kita tak dapat mengingkari fakta bahwa Kesepuluh Perintah itu bertindak sebagai surat pertunangan dan pertunangan Allah dengan umat-Nya membawa mereka ke dalam keesaan.
Dalam pernikahan yang normal, seorang laki-laki dengan istrinya dengan berlalunya tahun demi tahun, mereka menjadi semakin esa. Secara berangsur-angsur mereka menjadi satu baik dalam kebiasaan, sifat, dan ekspresi. Demikian juga, akhirnya umat pilihan Allah akan menjadi sama seperti apa adanya Dia dan akan benar-benar mengekspresikan Dia. Kita perlu diinfus dengan Tuhan sebagai Suami kita, dan menjadi semakin serupa dengan Dia. Kemudian kita akan menjadi ekspresi-Nya. Menurut Alkitab, prinsip dasar ini diterapkan baik dalam pernikahan manusia maupun dalam hubungan kasih antara Allah dengan umat-Nya.
Fungsi akta perkawinan adalah menjadikan satu pasangan, pria dan wanita, menjadi satu. Dalam prinsip yang sama, fungsi firman Allah adalah menjadikan kita satu dengan Allah. Karena Allah mengatakan bahwa Ia mempertunangkan orang-orang Israel kepada diri-Nya, seperti seorang istri bersatu dengan suaminya. Firman Allah membuat pasangan-Nya esa dengan Dia. Fungsi tertinggi dari hukum Taurat adalah membawa umat pilihan Allah ke dalam keesaan dengan Dia. Kesepuluh Perintah bukan semata-mata peraturan yang diberikan Allah sebagai kekuasaan tertinggi di alam semesta. Hukum Taurat adalah surat pertunangan yang membawa kita kepada Allah dan menjadikan kita esa dengan Dia. Demikian pula Alkitab. Fungsi utama Alkitab adalah membawa kita kepada Allah dan menjadikan kita esa dengan Dia. Karena kita mengasihi Allah, kita juga mencintai firman-Nya. Ketika firman-Nya menginfuskan diri-Nya ke dalam kita, kita menjadi satu dengan Dia dalam hayat, sifat, dan ekspresi. Pemahaman sedemikian terhadap hu-kum Taurat dan Alkitab sebagai firman Allah yang hidup, menyatakan fungsi yang sesungguhnya dari hukum Taurat dan Alkitab firman Allah.