← Daftar isi Keluaran (4) · bab 4/15

HUKUM TAURAT ADALAH FIRMAN ALLAH YANG HIDUP, MENGINFUSKAN HAKIKI ALLAH KE DALAM PENCARI

PENCARI-NYA YANG TERKASIH

Pembacaan Alkitab:

Kel. 20:1-17; 34:28; 31:18; Ul. 4:13; Mzm. 19:7-8

Ketika kita melihat pemberian hukum Taurat yang tercatat dalam Keluaran 20:1-17, kita perlu mengenal bahwa kejadian ini terjadi di atas gunung Allah, di mana umat Allah telah dibawa untuk bersekutu dengan Dia.

I. HUKUM TAURAT

Ketika saya masih muda, saya terpengaruh oleh sejumlah buku tentang teologi sistematis yang menilai hukum Taurat itu sebagai sesuatu yang negatif. Begitu menyinggung hukum Taurat, kesan yang negatif tidak hanya ada pada pikiran saya, tetapi juga pada sekujur apa adanya saya. Karenanya bertahun-tahun sesudah itu, saya selalu berpikiran negatif mengenai hukum Taurat. Sebagai orang yang berada di bawah anugerah Allah, tidak berada di bawah hukum Taurat, saya tidak peduli akan hukum Taurat. Sedemikian jauh saya terpengaruh, sehingga saya beranggapan bahwa hukum Taurat yang di dalam Alkitab tidaklah positif. Bagaimanapun, saya perlahan-lahan menyadari, terlebih lagi setelah membaca Kitab Keluaran, bahwa tidak ada sesuatu milik Allah atau dari Allah yang negatif. Sebaliknya, apa yang berasal dari Allah adalah positif. Ini benar, demikian juga dengan Kesepuluh Perintah Allah yang tercatat dalam Keluaran 20:1-17.

Jika merenungkan hukum Taurat itu hanya menurut mentalitas pengetahuan kita, kita akan memandangnya secara negatif. Tetapi jika kita menyadari bahwa hukum Taurat itu diberikan dalam situasi yang positif, kita akan nampak bahwa hukum Taurat itu adalah firman Allah yang hidup, yang menginfuskan hakiki-Nya ke dalam pencari-pencari-Nya yang terkasih. Rasul Paulus berkata bahwa hukum Taurat disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat (Gal. 3:19). Tetapi dalam Keluaran 20 tidak disebutkan mengenai malaikat-malaikat. Menurut pasal ini, hukum Taurat langsung diberikan oleh Allah sendiri.

Mengenai pemberian hukum Taurat, Keluaran 20:1 sangatlah bermakna: “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini.” Kata penghubung “lalu” menghubungkan Keluaran 20 dengan Keluaran 19. Kita telah nampak bahwa dalam Keluaran 19, Allah membawa umat-Nya ke gunung-Nya untuk bersekutu dengan Dia. Allah sudah membawa umat itu keluar dari Mesir dan telah mengumpulkan mereka dengan Dia di gunung-Nya. Ini berarti Allah turun dari surga ke bumi untuk bersekutu dengan umat-Nya. Tentu saja manusia mustahil naik ke surga, tempat Allah berada. Tetapi dalam Keluaran 19, Allah turun ke atas sebuah gunung, untuk bertemu dengan umat-Nya. Di tempat itu Allah bertemu dengan umat-Nya, sehingga mereka berkontak dengan Dia dalam persekutuan, lalu hukum Taurat diberikan. Beberapa ahli teologi boleh jadi mengabaikan gambaran pemberian hukum Taurat yang sedemikian. Mereka bahkan memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan Allah, sebaliknya berkonsentrasi pada hukum Taurat secara negatif. Inilah sebabnya sebagai seorang muda saya diberi kesan bahwa Allah di surga memberikan hukum Taurat melalui malaikat-malaikat kepada umat-Nya di bumi. Menurut konsepsi ini, Allah jauh dari umat-Nya ketika hukum Taurat diberikan, dan mereka tidak ada jalan untuk berkontak dengan Dia. Menurut pandangan ini, Allah pemberi hukum Taurat tidak berkontak dengan umat itu, dan umat penerima hukum Taurat tidak bertemu dengan Allah.

Ketika saya masih muda, saya juga diajari bahwa menurut Yohanes 1, hukum Taurat diberikan melalui Musa, sedangkan Allah tidak datang kepada manusia sampai pada masa inkarnasi Kristus. Namun, dalam Keluaran 19 dan 20, kita nampak bahwa Allah turun untuk bertemu dengan umat-Nya sebelum inkarnasi Kristus. Meskipun sebelum masa Keluaran 20, Allah telah menampakkan diri kepada Abraham, tetapi penampakan diri itu adalah dalam skala kecil. Dalam Keluaran 19 dan 20, lebih dari dua juta orang yang berkumpul di gunung Allah ketika Allah turun untuk mengunjungi mereka dan memberi mereka hukum Taurat-Nya.

Setelah Allah membawa umat itu keluar dari Mesir ke gunung Allah, Dia mulai bersekutu dengan mereka dan berbicara kepada mereka. Keluaran 31:18 menunjukkan bahwa Ia berkomunikasi dengan mereka. Di sana, di gunung Allah, Allah berbicara, bercakap-cakap, bersekutu dengan manusia. Menurut Keluaran 19:4-6, Allah berkata bahwa Dia telah mendukung mereka di atas sayap rajawali dan sudah membawa mereka kepada diri-Nya. Dia juga berkata bahwa mereka akan menjadi milik-Nya pribadi, harta kesayangan-Nya, dan akan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi-Nya. Kata-kata ini adalah bagian dari percakapan yang sangat positif antara Allah dan umat-Nya. Percakapan yang sedemikian bukanlah pemberian hukum-hukum tertentu, melainkan persekutuan di mana Allah berbicara kepada umat-Nya.

Sebagaimana ditunjukkan dalam Keluaran 20:1, pemberian Kesepuluh Perintah adalah kelanjutan dari percakapan ini dalam persekutuan. Ayat ini tidak mengatakan, “Dan Allah memberikan perintah-perintah kepada umat itu.” Tetapi di-katakan, “Lalu Allah mengucapkan segala firman ini.” Apa yang kita miliki dalam Keluaran 20 tidak hanya merupakan daftar perintah-perintah. Fakta bahwa Keluaran 20:1 mengatakan, “Allah mengucapkan segala firman ini,” menunjukkan bahwa Kesepuluh Perintah adalah firman Allah. Dalam Keluaran 34:28 perintah-perintah itu terlebih lagi disebut, “sepuluh kata” (Tl.). Menurut 2Timotius 3:16, firman Alkitab ialah hembusan Allah (Tl.). Ini menunjukkan bahwa firman Alkitab adalah hembusan Allah. Berbicaranya Allah ialah hembusan-Nya. Kapan saja Allah berbicara, hembusan-Nya membawa unsur-Nya ke dalam seseorang yang menerima firman-Nya.

Kata penghubung “lalu” pada permulaan Keluaran 20:1 sangatlah penting, karena menghubungkan Keluaran 20 dengan Keluaran 19. Keluaran 20 adalah lanjutan pembicaraan Allah dalam Keluaran 19. Sebagaimana telah kita lihat, Kesepuluh Perintah ialah firman Allah dan disebut pula “perkataan Allah”. Apakah Anda pernah mendengar bahwa Kesepuluh Perintah adalah sepuluh perkataan? Ada suatu perbedaan yang besar antara perkataan dengan perintah. Perintah adalah tuntutan-tuntutan yang harus kita pelihara dan laksanakan. Perkataan-perkataan Allah, bagaimanapun adalah hembusan Nya, sebab berbicaranya Allah ialah hembusan Allah. Demi berbicara, Dia menghembuskan sesuatu dari diri-Nya ke dalam mereka yang mendengar firman-Nya. Fakta bahwa Kesepuluh Perintah disebut sepuluh perkataan berarti kesemuanya itu bukanlah sekadar hukum-hukum untuk kita taati. Perintah-perintah ini bukan hanya meru-pakan putusan-putusan dari pembuat undang-undang yang ilahi. Allah tidak hanya memberi umat-Nya sepuluh hukum, sepuluh perintah, bahkan memberi mereka sepuluh perkataan dalam persekutuan-Nya dengan mereka. Jika perintah-perintah itu hanya merupakan hukum-hukum, umat Allah tidak dapat berbuat lebih banyak selain memeliharanya. Tetapi karena Kesepuluh Perintah juga merupakan perkataan-perkataan Allah, hembusan Allah, maka mereka yang mencari Allah di dalam kasih dapat menerima perkataan ini ke dalam mereka sebagai hembusan Allah.

Di dalam terang ini, saya meminta Anda untuk merenungkan pengalaman Musa dalam menempuh empat puluh hari bersekutu dengan Allah di atas gunung. Ketika dia turun dari gunung, dia memiliki sesuatu yang melebihi Kesepuluh Perintah yang tertulis di kedua loh batu itu. Dia adalah orang yang sepenuhnya diinfus oleh unsur Allah. Selama hari-hari persekutuan di atas gunung, Musa mengalami penginfusan yang ilahi, infus hakiki Allah ke dalam dirinya. Tetapi hal ini justru tidak diberi tempat yang memadai oleh orang-orang Kristen, kebanyakan mereka berkata bahwa Allah memberikan Kesepuluh Perintah dan ketika Musa melihat bahwa anak-anak Israel menyembah berhala, dia melempar loh-loh batu dalam kemarahan dan memecahkannya. Alkitab menunjukkan bahwa Musa tidak hanya telah menerima kedua loh batu, bahkan unsur Allah telah diinfuskan ke dalam dia dan menyebabkan wajahnya bercahaya. Sekalipun Musa dapat melempar kedua loh batu dan memecahkannya, dia tidak dapat membebaskan diri dari transfusi yang telah dia terima selama persekutuannya dengan Allah di atas gunung.

Pada prinsipnya, ini juga berlaku dalam pengalaman kita akan Tuhan. Sekalipun kita boleh jadi tidak bisa memelihara perintah-perintah itu, kita tak dapat membebaskan diri dari apa yang ditransfusikan ke dalam kita ketika kita mendengar perkataan Allah dalam masa-masa persekutuan kita dengan Dia.

Dalam ministri saya, saya telah sering kali memberi tahu orang-orang bahwa jika kita tinggal di dalam Tuhan menurut Yohanes 15, kita akan spontan memperhidupkan hayat pokok anggur. Tentu saja cabang-cabang sebuah pokok anggur tidak perlu berusaha tinggal di dalam pokok anggur dan memperhidupkan hayat pokok anggur. Sekalipun saya sudah melayani sejangka waktu, saya bingung membaca Yohanes 14:21, 23, dua ayat yang kelihatannya sangat mirip dengan perintah-perintah dalam Keluaran 20. Yohanes 14:21 mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.” Dan ayat 23 mengatakan, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” Paling tidak sampai pada suatu taraf tertentu, kata-kata Tuhan Yesus ini nampaknya adalah pengulangan firman dalam Keluaran 20. Ini dikarenakan: mengenai prinsip dasar dari hayat, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sama. Dalam diri kita, kita tidak dapat menuruti perintah-perintah Allah dalam Perjanjian Lama atau perintah-perintah Tuhan dalam Perjanjian Baru. Mengenai ini, Rasul Paulus berkata dalam Roma 7 bahwa tidaklah mungkin kita menuruti hukum Taurat. Secara khusus, Rasul Paulus membahas perintah-perintah mengenai ketamakan, suatu perintah yang tidak saja berhubungan dengan kelakuan kita yang di luar, tetapi juga keadaan kita yang di dalam. Meskipun dalam diri kita tak mampu melaksanakan semua perintah, kita bisa tinggal di dalam Tuhan dan mengalami Dia tinggal di dalam kita sehingga kita dapat diinfus oleh Dia. Renungkanlah sekali lagi mengenai pengalaman Musa di atas gunung. Karena dia telah menerima suatu tranfusi yang ajaib dari Allah, dia dapat tinggal di dalam Allah dan Allah bisa tinggal di dalam dia. Sebagai hasil dari infus yang sedemikian dan penghunian satu sama lain, Musa dapat menuruti perintah-perintah Allah, bukan demi usahanya sendiri, tetapi demi hakiki Allah yang telah diinfuskan ke dalam dirinya. Pada butir ini, saya lebih cenderung menarik perhatian Anda kepada judul berita ini: “Hukum Taurat adalah firman Allah yang hidup, menginfuskan hakiki Allah ke dalam pencari-pencari-Nya yang terkasih.” Hukum Taurat itu tidak hanya merupakan suatu daftar perintah-perintah yang ilahi, lebih-lebih adalah firman Allah yang hidup yang menginfuskan hakiki Allah ke dalam mereka yang mengasihi dan mencari Dia. Kalau kita merenungkan Kesepuluh Perintah sebagai hukum-hukum dan mencoba untuk menurutinya, kita ti-daklah tepat dalam pendekatan kita kepada hukum Taurat. Kita tidak seharusnya demikian menerapkan Kesepuluh Perintah itu. Sebaliknya kita harus menjadi orang yang mengasihi Allah dan mencari Dia. Dalam hal ini, kita harus seperti Rasul Paulus dalam Filipi 3, orang yang mencari Kristus dalam kasih, bahkan mengejar-Nya. Karena mengasihi Tuhan, maka kita mencari Dia, berkontak dengan Dia, dan tinggal di hadirat-Nya, tinggal bersama Dia. Jikalau kita melakukan ini, hari demi hari kita akan diinfus oleh Allah. Dengan otomatis kita akan berjalan menurut hukum Allah. Kita akan menuruti permintaan-permintaan hukum Taurat, bukan melalui usaha-usaha kita, tetapi melalui Tuhan yang kita kontak dan yang diinfuskan ke dalam kita. Dia sendiri dari dalam kita akan memelihara hukum-Nya sendiri. Kita seharusnya mengingat bahwa hukum Taurat diberikan di atas gunung Allah, tempat umat Allah diinfus oleh hakiki-Nya. Dengan demikian, kita seharusnya memandang hukum Taurat bukan hanya sekadar sebagai perintah-perintah-Nya, bahkan sebagai firman Allah dan kesaksian Allah, yang tidak hanya mengekspresikan Dia, tetapi juga menginfuskan hakiki-Nya ke dalam mereka yang mencari Dia di dalam kasih.

II. DUA MACAM ORANG YANG

MEMPERLAKUKAN HUKUM TAURAT

A. PENCARI-PENCARI ALLAH YANG TERKASIH

Sekarang marilah kita teruskan melihat bagaimana dua macam orang yang berbeda memperlakukan hukum Taurat. Kedua macam orang ini ialah pencari-pencari Allah yang terkasih (Mat. 22:36-38) dan pemelihara harfiah hukum Taurat, kaum agamawan Yahudi. Bagi mereka yang di dalam kasih mencari Allah, marilah kita renungkan pengalaman pemazmur-pemazmur dalam Perjanjian Lama dan pengalaman Simeon dan Hana dalam Perjanjian Baru.

1. Pemazmur-pemazmur

Menurut Kitab Mazmur, pemazmur-pemazmur mencintai hukum Taurat sampai pada puncaknya. Beberapa orang boleh jadi mengajarkan bahwa hukum Taurat ialah sesuatu yang negatif, tetapi pemazmur-pemazmur menyimpan hukum Taurat. Selama beberapa tahun saya disulitkan oleh fakta ini. Saya bahkan agak meremehkan hukum Taurat dalam buku “Kristus dan Gereja yang Diwahyukan dan Dilambangkan dalam Kitab Mazmur,” saya menunjukkan perbedaan yang nyata antara hukum Taurat dalam Mazmur 1 dan Kristus di dalam Mazmur 2. Saya masih percaya, tidaklah salah membedakan hukum Taurat secara harfiah dengan Kristus. Jika kita mencintai hukum Taurat secara terpisah dari Kristus, kita telah kehilangan sasaran. Namun, mencintai hukum Taurat sebagai suatu kesaksian Allah dan sebagai lambang Kristus itu adalah tepat. Marilah kita sekarang merenungkan sejumlah pasal dalam Kitab Mazmur yang menunjukkan bagaimana pemazmur-pemazmur memperlakukan hukum Taurat Allah.

a. Mengasihi Allah

Pemazmur-pemazmur mengasihi Allah. Mazmur 18:2 mengatakan: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!” Dalam Mazmur 73:25 kita memiliki kesaksian seseorang yang mengasihi Allah secara radikal, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Penulis mazmur mengasihi Allah demikian rupa sehingga baik di surga maupun di bumi tidak ada seorang pun selain Allah. Selain Allah tidak ada yang ia ingini di bumi.

b. Mencari Allah

Pemazmur-pemazmur juga adalah orang-orang yang mencari Allah. Mazmur 42:2-3 mengatakan, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Penulis mazmur ini haus akan Allah, mencari Dia ibarat seekor rusa yang merindukan air. Mazmur 43:4 mengisahkan bagaimana pemazmur mencari Allah sebagai kegembiraannya yang amat sangat, dan Mazmur 119:2 dan 10, menunjukkan bagaimana dia mencari Allah dengan segenap hati.

c. Diam Bersama Allah

Dalam Mazmur 27:4, kita nampak keinginan pemazmur untuk diam bersama Allah, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Pemazmur rindu diam di rumah Allah sepanjang hidupnya. Keinginan yang serupa terekspresi dalam Mazmur 84:1-7. Mereka yang membaca ayat-ayat ini pasti dapat terkesan oleh manisnya diam bersama Allah. Mazmur 90:1 mendeklarasikan, “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Sekali lagi, kita nampak keinginan pemazmur untuk diam bersama Allah bahkan di dalam Allah. Keinginan yang sama terekspresi pula dalam Mazmur 91:1, di mana pemazmur mendeklarasikan, “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa.” Kita nampak dalam ayat-ayat ini sesuatu yang di luar pemeliharaan harfiah hukum Taurat. Pemazmur bercita-cita untuk diam di dalam naungan hadirat Allah. Mereka yang mempunyai cita-cita yang sedemikian pastilah akan terinfus oleh unsur Allah.

d. Menyaksikan Keelokan-Nya

Mazmur 27:4 juga mengekspresikan kerinduan pemazmur-pemazmur untuk menyaksikan keelokan (LAI: kemurahan) Tuhan. Menyaksikan keelokan Tuhan berarti berjumpa muka dengan Dia. Kerinduan yang sama terdapat pula dalam Mazmur 105:4, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”

e. Terinfus oleh Kekayaan Allah

Dalam pengalaman mereka, pemazmur-pemazmur juga terinfus oleh kekayaan Allah. Mazmur 52:10 mengatakan, “Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.” Sebagaimana sebuah pohon menyesap kelimpahan dari tanah, begitu juga pemazmur-pemazmur menyesap kekayaan Allah. Mereka seperti pohon-pohon zaitun yang tertanam di dalam rumah Allah, dan mereka terinfus oleh kekayaan Allah sehingga mereka dapat bertumbuh secara rohaniah. Sebagaimana pohon-pohon zaitun, mereka bertumbuh oleh kekayaan yang terinfus ke dalam mereka.

Mazmur 92:14-15 juga mewahyukan bahwa pemazmur-pemazmur terinfus oleh kekayaan Allah, “Mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” Di sini kita nampak empat aspek terinfus oleh kekayaan Allah: tertanam di bait, bertunas, berbuah, serta menjadi gemuk dan segar. Apa yang kita miliki di sini bukanlah pengajaran atau teologi, tetapi pengalaman akan Allah yang hidup sebagai suplai hayat. Pemazmur-pemazmur bukan hanya pemelihara hukum Taurat, mereka juga orang-orang yang mencari Allah dan terinfus oleh kekayaan-Nya. Karena itu, mereka tertanam, mereka bertunas, mereka berbuah, serta menjadi gemuk dan segar. Melalui infus yang sedemikian rupa dari Allah, mereka dengan spontan diteguhkan untuk memelihara hukum Taurat dan memperhidupkan hukum Taurat.

Pada prinsipnya pengalaman pemazmur sama dengan apa yang diwahyukan dalam kitab Perjanjian Baru. Menurut Injil Yohanes, ketika kita tinggal di dalam Tuhan, Tuhan akan dengan unsur-Nya menginfus kita, dengan demikian kita mengisap getah sari pokok anggur ke dalam kita, barulah kita mampu berbuah. Jadi masalahnya bukan memelihara hukum Taurat, melainkan memperhidupkan hukum Taurat.

Mazmur 92:11 mengatakan, “Tetapi Kautinggikan tandukku seperti tanduk banteng, aku dituangi dengan minyak baru.” Dalam Perjanjian Lama, minyak adalah lambang Allah Tritunggal sebagai Roh itu. Diurapi oleh minyak baru adalah diurapi oleh Roh yang baru. Ini bukanlah semata mempelajari hukum Taurat atau berusaha memeliharanya, melainkan mencari Allah agar dengan sepenuhnya diurapi oleh Roh yang baru sehingga kita dengan spontan dapat memperhidupkan-Nya dan menempuh perjalanan sehari-hari yang sesuai dengan apa adanya Dia. Saya ulangi, bukanlah memelihara hukum Taurat, melainkan memperhidupkan Allah, agar kita memiliki suatu hidup sehari-hari yang sesuai dengan hukum Taurat Allah. Janganlah mencoba memelihara hukum Taurat, kita seharusnya memperhidupkan hukum Taurat dengan jalan diinfus oleh kekayaan Allah.

f. Menikmati Kekayaan Hayat

Pemazmur-pemazmur juga menikmati kekayaan hayat. Mazmur 36:9 dan 10 mengatakan, “Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” Ayat-ayat ini kedengarannya sama benar dengan suatu bagian dalam Perjanjian Baru. Dalam prinsip, pemazmur-pemazmur menikmati Allah Tritunggal sama dengan yang kita lakukan hari ini. Dikenyangkan dengan lemak di rumah Allah dan meminum dari sungai kesenangan Allah berarti menikmati Allah Tritunggal. Dikatakan bahwa pada-Nya ada sumber hayat berarti pada-Nya ada sumber suplai hayat. Sekali lagi kita nampak bahwa pemazmur-pemazmur tidak mencoba memelihara permintaan-permintaan hukum Taurat, melainkan mencari Allah. Dalam penuntutan mereka akan Allah, mereka diinfus oleh Dia. Dengan spontan mereka hidup bukan saja menurut hukum Taurat yang Allah berikan, tetapi juga menurut sifat Allah. Hidup mereka oto-matis sesuai dengan hukum Taurat Allah, yang adalah ekspresi sifat Allah. Karena itu, mereka memperhidupkan sifat Allah. Hidup mereka ialah ekspresi sifat Allah. Mereka bukanlah orang-orang yang berikhtiar memelihara hukum Taurat, tetapi mereka adalah yang memperhidupkan hukum Taurat. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Dia menun-jukkan hal penting ini kepada kita.

g. Disuplai dengan Allah untuk Memelihara Firman Allah

Lagi pula, pemazmur-pemazmur disuplai dengan Allah untuk memelihara firman Allah, yaitu hukum Taurat. Mazmur 119:57 mengatakan, “Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada (memelihara) firman-firman-Mu.” Ketika dua butir dalam ayat ini ditempatkan bersama, kita nampak bahwa pemazmur-pemazmur disuplai dengan Allah sebagai bagian mereka dan dengan demikian dapatlah mereka memelihara firman-firman-Nya. Penggunaan kata “bagian” mengingatkan kita akan Kolose 1:12, di mana Rasul Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus adalah bagian orang-orang kudus. Karena Allah adalah bagian pemazmur-pemazmur, maka dapatlah mereka memelihara firman Allah, yaitu hukum Taurat seperti yang mereka tunjukkan.

Untuk memelihara firman Tuhan, firman hukum Taurat, pemazmur-pemazmur menerima Allah sebagai bagian mereka. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita ini bisa memelihara hukum Taurat. Memelihara perintah-perintah hukum Taurat ialah perihal yang besar, dan kita tidak cukup untuk hal ini. Jika kita mau memelihara hukum Taurat, kita membutuhkan Allah menjadi bagian kita. Hanya di saat kita menikmati-Nya dan disuplai dengan Dia, baru kita bisa memelihara hukum Taurat. Sekali lagi kita lihat bahwa secara prinsip, pengalaman pemazmur-pemazmur dalam Perjanjian Lama sama dengan pengalaman kita hari ini.

h. Memustikakan Hukum Taurat Allah

Sebagai orang yang dengan kasih mencari Allah, pemazmur memustikakan hukum Taurat Allah. Mazmur 119:14 mengatakan, “Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.” Pemazmur menghargai peringatan Allah sebagai kekayaan mereka. Mazmur 119:72 meneruskan, “Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih daripada ribuan keping emas dan perak.” Lalu dalam Mazmur 119:127, pemazmur berkata lebih lanjut, “Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih daripada emas, bahkan daripada emas tua.” Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa pemazmur-pemazmur tidak hanya mengasihi Allah, bahkan memustikakan hukum Taurat-Nya, yang adalah firman Allah dan peringatan-peringatan Allah kepada mereka. Mereka menilai hukum Taurat Allah melebihi perak dan emas. Mereka memustikakan firman Allah.

i. Mengecap Kemanisan Hukum Taurat

Mazmur 119:103 mengatakan, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku.” Ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur mengecap kemanisan hukum Taurat. Bagi pemazmur, alangkah berharganya pengecapan yang manis akan firman Allah!

j. Berharap dalam Firman Allah dan Merenungkannya

Pemazmur juga berharap dalam firman Allah, hukum Taurat, dan merenungkannya. Mazmur 119:147-148 menunjukkan demikian, “Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu. Aku bangun mendahului waktu jaga malam untuk merenungkan janji-Mu.” Pagi-pagi buta, sebelum fajar menyingsing, pemazmur berharap dalam firman Allah dan merenungkannya. Dari hal ini kita nampak bahwa pemazmur menikmati firman Allah di saat penyegaran pagi.

Seluruh ayat-ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur-pemazmur adalah pencari-pencari Allah yang terkasih. Secara spontan mereka terinfus oleh Allah dan memperhidupkan hukum Taurat Allah. Hal yang sama terjadi pula pada kita hari ini. Jika kita terinfus oleh Kristus, kita akan memperhidupkan Kristus. Sebagaimana hukum Taurat adalah firman Allah, demikian juga Kristus yang dilambangkan oleh hukum Taurat adalah firman Allah. Sebagaimana pemazmur-pemazmur mencintai hukum Taurat Allah, memustikakannya, mengecapnya, berharap dalamnya, dan merenungkannya, maka kita hari ini seharusnya mengasihi Kristus, memustikakan-Nya, mengecap-Nya, berharap dalam Dia, dan merenungkan-Nya serta berdiam di dalam-Nya. Jauh dari kondisi negatif, hukum Taurat sebagai firman Allah yang hidup sepenuhnya positif.

2. Simeon dan Hana

Simeon dan Hana juga termasuk di antara mereka yang dengan kasih mencari Allah. Sambil menunggu Kristus, Roh Kudus ada di atas mereka (Luk. 2:25). Mereka juga memiliki wahyu akan Roh Kudus (Luk. 2:26) dan berjalan demi Roh (Luk. 2:27). Mereka tinggal di dalam bait, mereka melayani Allah dengan berpuasa dan berdoa (Luk. 2:37). Demikianlah mereka menikmati Allah dan menerima infus-Nya. Seperti pemazmur-pemazmur, mereka dengan spontan memperhidupkan hukum Taurat Allah, dan hidup mereka sesuai dengan ekspresi Allah. Karena mereka telah terinfus oleh hakiki Allah, mereka dapat memperhidupkan suatu kehidupan yang sesuai dengan hukum Taurat, ekspresi Allah.

B. PEMELIHARA HARFIAH HUKUM TAURAT

1. Kaum Agamawan Yahudi

Sekarang kita melihat orang-orang dalam kategori yang sama sekali berbeda dalam memperlakukan hukum Taurat Allah, yaitu kaum agamawan Yahudi. Saat hukum Taurat berada di tangan pemazmur-pemazmur, hukum itu bersifat kasih. Namun ketika hukum Taurat berada di tangan kaum agamawan Yahudi, hukum itu menjadi negatif. Menurut Matius 15:8, kaum agamawan Yahudi tidak memiliki hati untuk Allah. Menurut Galatia 6:12-23, mereka sangat doktrinal dan dogmatis dalam harfiah hukum Taurat. Alangkah bedanya mereka dengan pemazmur-pemazmur yang mengasihi Allah dan memiliki hati untuk Allah! Karena pemazmur-pemazmur hidup dan kaya dalam pengalaman akan Allah, mereka tidaklah doktrinal atau dogmatis, seperti kaum agamawan Yahudi.

2. Saulus dari Tarsus

Sebelum beroleh selamat, Saulus dari Tarsus bersemangat bagi hukum Taurat (Flp. 3:5-6). Sebagai seorang agamawan Yahudi, ia seorang penghujat Allah dan seorang penganiaya (1Tim. 1:13). Saulus sebagai agamawan Yahudi, tidak benar-benar mengasihi Allah. Sebaliknya, dia bersemangat bagi hukum Taurat menurut tradisi yang agamawi. Karena itu ketika Saulus bertobat dan berpaling kepada Kristus, dia menolak hukum Taurat. Itulah sebabnya Rasul Paulus meremehkan hukum Taurat yang disalahgunakan oleh kaum agamawan Yahudi.

III. PENYEMBAH-PENYEMBAH BENAR TERHADAP ALLAH

Sambil membandingkan situasi pencari-pencari Allah yang terkasih dengan situasi pemelihara harfiah hukum Taurat, kita nampak bahwa dalam hal ini prinsipnya adalah sama, baik dalam Perjanjian Baru maupun dalam Perjanjian Lama. Jika kita mengasihi Tuhan, carilah Dia dengan segenap hati kita, diamlah bersama Dia, dan nikmatilah kekayaan-Nya, maka hakiki-Nya akan terinfus ke dalam diri kita. Dengan spontan Dia sendiri akan menjadi kehidupan kita. Demikianlah, apa yang diperhidupkan melalui kita akan menjadi ekspresi Allah. Kehidupan yang sedemikian sesuai dengan hukum Taurat Allah. Hasilnya, kita menjadi penyembah-penyembah yang benar terhadap Allah. Penyembah-penyembah yang benar terhadap Allah adalah mereka yang menurut apa adanya Allah, yang sesuai dengan apa adanya Allah, dan yang mencerminkan apa adanya Allah. Memelihara hukum Taurat tak dapat menjadikan seseorang penyembah yang benar; penyembah yang benar adalah orang yang diinfus oleh Allah dan memperhidupkan Allah, yang dengan demikian menjadi orang yang menurut apa adanya Allah dan sesuai dengan apa adanya Dia. Kehidupan orang yang demikian sesuai dengan kehidupan Allah dan mencerminkan apa adanya Dia. Ini adalah kesaksian yang hidup akan Yesus.

Saya telah menyatakan berulang-ulang bahwa dalam prinsipnya, kenikmatan kaum beriman Perjanjian Lama sama dengan kenikmatan kaum beriman Perjanjian Baru. Kita telah nampak bahwa jika kita tinggal bersama Allah dan diinfus oleh Dia, kita akan dengan otomatis memperhidupkan-Nya. Kehidupan kita akan sesuai dengan hukum Taurat Allah, sebab kita akan menjadi satu dengan Dia dan akan memperhidupkan Dia. Karena itu, dalam pengalaman kita akan hukum Taurat, Allah dan Kristus adalah satu.

Kalau kita membaca Keluaran 20 dalam terang ini, pasal ini akan menjadi sama sekali baru. Kita akan nampak bahwa Kesepuluh Perintah yang diberikan kepada umat Allah di atas gunung ketika mereka bersekutu dengan Allah adalah kata-kata yang diterima dalam persekutuan dengan Allah. Kata-kata ini membawa tranfusi unsur Allah, yang membuat umat-Nya sanggup memiliki suatu kehidupan yang sesuai dengan apa adanya Dia.

Suatu perbedaan mencolok antara pemazmur-pemazmur dan kaum agamawan Yahudi ialah pemazmur-pemazmur mencari hukum Taurat dengan Allah; sedangkan kaum agamawan Yahudi menuntut hukum Taurat tetapi sama sekali terpisah dari Allah. Situasinya sama dengan hari ini dalam hal cara orang-orang Kristen yang berbeda-beda mempergunakan Alkitab. Jika kita adalah pemazmur-pemazmur hari ini, kita akan menuntut Alkitab, firman Allah, dikarenakan mengasihi Tuhan dan firman-Nya. Namun, sangat mungkin para pelajar Alkitab membaca Alkitab tanpa memiliki suatu hati yang sungguh-sungguh bagi Tuhan. Tujuan mereka boleh jadi untuk mendapatkan pengetahuan yang dapat membentuk suatu teologia yang sistematis. Karena itu, orang-orang yang mempelajari Alkitab ada kemungkinan menjadi kaum agamawan Yahudi hari ini.

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, kaum agamawan Yahudi tidak mau berkontak dengan Dia secara positif. Mereka ingin mengetahui Alkitab secara terpisah dari Kristus. Karena itu Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yoh. 5:39-40). Kita juga boleh jadi termasuk bilangan mereka yang menuntut pengetahuan Alkitab secara terpisah dari Tuhan sendiri. Tidaklah mengherankan, kita bisa membaca Alkitab secara terpisah dengan Kristus. Tetapi jika kita mendoabacakan firman, kita akan berada dalam kontak dengan Tuhan seraya membaca firman. Inilah sebabnya kita memustikakan perihal doa baca.

Kalau kita nampak bahwa hukum Taurat adalah firman Allah dan kalau kita menyadari bahwa firman Allah ialah hembusan Allah, maka kita akan nampak bahwa hukum Taurat ialah ekspresi diri Allah sendiri. Hukum Taurat melambangkan Kristus, sebab Dia adalah satu-satunya yang benar-benar mengekspresikan Allah. Ada pelajar-pelajar Alkitab yang tidak nampak bahwa hukum Taurat ialah firman Allah dan firman ini adalah hembusan Allah. Sebenarnya, hukum Taurat, firman, hembusan, dan Allah itu adalah satu. Kristus sendiri adalah hukum Allah yang hidup. Kepada kita, Kristus adalah hukum yang riil, firman Allah, ekspresi Allah, dan hembusan Allah. Kita dapat diatur oleh Dia dan hidup menurut Dia. Di dalam hati Allah, hukum Taurat benar-benar adalah Kristus sendiri. Allah tidak memberi kita suatu hukum yang terpisah dari Kristus. Hukum yang Dia berikan adalah Kristus sebagai ekspresi-Nya dan hembusan-Nya. Karena itu, Kristus adalah hukum Taurat kita, Kristus yang adalah firman Allah, hembusan Allah, dan ekspresi Allah.

Adalah suatu kesalahan yang sangat besar, jika kita mempelajari teologi yang sistematis yang memisahkan Alkitab atau wahyu Allah dari diri Allah sendiri! Hari ini kita harus mengindahkan peringatan untuk tidak memisahkan firman Allah dari Kristus. Firman Allah ialah hembusan-Nya, dan firman-Nya ialah sesuatu yang keluar dari diri-Nya yang tidak hanya mengekspresikan diri-Nya sendiri, tetapi juga memberikan diri-Nya kepada kita sehingga kita dapat menerima-Nya. Jika kita menerima firman Allah hanya sebagai huruf-huruf yang mati, kita akan menjadi kaum agamawan Yahudi hari ini, yang bersemangat bagi pengetahuan hukum Taurat, namun tidak sungguh-sungguh mencari Allah dari dalam hati yang penuh kasih. Tetapi jika kita menerima firman Allah sebagai hembusan Allah dan dengan demikian diinfus oleh hakiki-Nya, kita akan menjadi pemazmur-pemazmur hari ini, pencari-pencari-Nya yang terkasih.

Ketika kita membaca Keluaran 20:1-17, kita seharusnya memperhatikan fakta bahwa lima perintah yang terakhir diberikan secara berbeda dengan lima perintah pertama. Dalam hal lima perintah yang terakhir, kita dengan jelas diberi tahu untuk tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak memberi kesaksian dusta, atau tidak tamak. Kelima perintah yang pertama, diberikan dalam suasana yang penuh kasih dan akrab. Dalam ayat 2-3, Tuhan tidak berfirman, “Perintah yang pertama adalah jangan sekali-kali kamu memiliki allah yang lain selain diri-Ku.” Sebaliknya, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya secara khusus sekali, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ini adalah perkataan kasih. Demi mengingatkan umat itu bahwa Dia menyelamatkan mereka dan membebaskan mereka dari perbudakan, Allah berbicara kepada mereka seperti seorang pemuda yang mengasihi seorang gadis. Kata-kata-Nya adalah kata-kata yang penuh kasih.

Kata “kasih” dalam ayat 6 sangatlah penting. Dalam ayat 5-6 Tuhan berbicara mengenai kasih dan benci. Kalau kita membenci Tuhan, Dia akan membalaskan kesalahan-kesalahan kita sampai kepada keturunan (generasi) yang ketiga dan keempat. Tetapi kalau kita mengasihi Tuhan, Dia akan memberikan belas kasihan bagi beribu-ribu keturunan. Perkataan yang sedemikian ini dibicarakan dalam suasana yang penuh kasih dan kemesraan. Tuhan ingin mengetahui apakah umat-Nya akan mengasihi-Nya atau membenci-Nya. Sampai-sampai perintah-perintah mengenai jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan dan memelihara hari Sabat juga diucapkan dalam suasana yang penuh kasih.

Banyak orang Kristen mengabaikan aspek pemberian Sepuluh Perintah. Mereka tidak melihat fakta bahwa kelima perintah yang pertama, yang berkenaan dengan Allah sendiri, diberikan dalam suasana yang penuh kasih dan kemesraan. Sebaliknya, dalam membicarakan hukum Taurat, kebanyakan para pelajar Alkitab mencurahkan perhatian mereka sepenuhnya kepada hukum Taurat secara harfiah dan sama sekali menyangkal suasana kasih di mana hukum Taurat itu ditetapkan. Mereka tidak menyadari bahwa hukum Taurat ialah ekspresi Allah.

Kita telah nampak bahwa firman Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:21 dan 23 mirip dengan yang diucapkan oleh Tuhan dalam Keluaran 20:4-6. Dalam Keluaran 20:4-6, Tuhan berfirman bahwa kalau kita mengasihi Dia, Dia akan menunjukkan belas kasihan kepada beribu-ribu keturunan. Dalam Yohanes 14, Tuhan Yesus berfirman bahwa jika kita mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya, Dia dan Bapa akan mengasihi kita dan diam bersama-sama dengan kita. Dalam kedua peristiwa itu, kata-kata yang diucapkan adalah kata-kata kasih. Dan tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa seluruh Alkitab ditulis dalam suasana kasih dan kemesraan. Alkitab bahkan sebagai cerita kasih mesra antara Allah dengan manusia. Kitab Kidung Agung ialah sebuah ilustrasi yang indah mengenai ini. Kitab ini, ditulis dalam suasana yang penuh kemesraan, adalah sebuah kitab kasih. Jika kita mengasihi Tuhan, kita pasti akan memustikakan firman-Nya dan ingin menyimpannya. Tuhan pun akan menunjukkan belas kasihan kepada beribu-ribu keturunan kita.

Hukum Taurat ialah firman Allah, dan firman Allah adalah hembusan Allah. Melalui firman-firman-Nya, Allah menghembuskan diri-Nya ke dalam kita, menginfus kita dengan hakiki-Nya untuk menjadikan kita ekspresi-Nya. Karena hakiki yang ilahi diinfuskan ke dalam kita, dengan otomatis kita menempuh suatu kehidupan yang sesuai dengan apa adanya Allah. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru membicarakan perihal ini.

Kita sudah nampak bahwa Kristus sendiri adalah hukum Taurat yang sesungguhnya, firman, hembusan, dan eks-presi Allah. Hari ini kita seharusnya memandang Alkitab sebagai hembusan Allah. Melalui mendoabacakan firman, kita menghirup unsur Allah ke dalam diri kita. Dengan jalan ini kita diinfus oleh apa adanya Allah, dan dengan spontan kita mulai memperhidupkan Kristus. Kemudian kehidup-an kita akan sesuai dengan apa adanya Allah. Dengan jalan ini kita menjadi ekspresi yang hidup dari Allah, hukum Taurat Allah yang hidup.

Jika kita mendoabacakan Keluaran 20:1-17 secara memadai, ayat-ayat ini akan membawa kita ke dalam Allah dan akan mentransfusikan hakiki Allah ke dalam diri kita. Lebih banyak kita berkontak dengan Allah secara demikian, lebih banyak pula kita dijenuhi oleh Dia. Akibatnya, kita akan dengan spontan hidup di jalan yang sesuai dengan hukum Taurat Allah. Kita tidak bermaksud untuk memelihara hukum Taurat dan memperhidupkan hukum Taurat. Kita bukanlah kaum agamawan Yahudi. Kita adalah pemazmur-pemazmur hari ini yang mencari Tuhan di dalam kasih. Kuncinya ialah kasih kita terhadap Tuhan dan firman-Nya. Kalau kita mengasihi Dia dan menuruti firman-Nya, Dia akan datang kepada kita dan tinggal bersama kita. Alang-kah indahnya dan ajaibnya! Alkitab benar-benar merupakan kitab kasih.

Kesimpulannya, saya ulangi, hukum Taurat sebagai firman Allah adalah hembusan Allah, supaya kita menghirup Allah, sehingga kita mendapatkan kekuatan hayat untuk memperhidupkan hukum Taurat, yang sesuai dengan sifat dan ekspresi Allah.