← Daftar isi Keluaran (4) · bab 3/15

KESAKSIAN ALLAH MEWAHYUKAN DIRI-NYA KEPADA UMAT-NYA

Pembacaan Alkitab:

Kel. 20:1-17; 16:34; 25:16; 27:21; 31:18;

25:21-22; 26:33-34; 38:21; 34:28; Bil. 1:50,

53; Ul. 4:13; Mzm. 19:7

Dalam Keluaran 19, orang-orang Israel dibawa ke hadirat Allah dan mulai mempunyai persekutuan dengan Dia di gunung-Nya. Dalam berita terdahulu saya telah menunjukkan bahwa dalam persekutuan dengan Allah, umat-Nya mengenal anugerah serta kekudusan Allah. Selama dalam persekutuan ini, hukum Taurat diberikan (Kel. 20:1-17).

I. HUKUM TAURAT ADALAH

KESAKSIAN ALLAH

Banyak pembaca yang tidak memahami Keluaran 20 dengan tepat dan memadai. Menurut pemahaman mereka pasal ini memberi tahu kita bagaimana hukum Taurat diberikan. Ini benar. Tetapi bukanlah pengertian yang mendasar, yang utama. Pengertian yang mendasar dalam pasal ini adalah Allah mewahyukan diri-Nya kepada umat-Nya yang memungkinkan mereka mengenal Allah yang macam bagaimanakah Dia itu. Ia ingin orang-orang Israel mengenal macam apakah Allah yang mereka hampiri, macam apakah Allah yang telah bersekutu dengan mereka. Orang-orang Israel tidak hanya perlu mengetahui atribut ilahi seperti anugerah dan kekudusan, tetapi juga mengenal diri Allah sendiri.

Dalam Keluaran 20:4 dipergunakan kata “menyerupai” (menyerupai di sini berarti segambar dan serupa). Kejadian 1:26, sebuah ayat yang membicarakan penciptaan manusia, juga mempergunakan kata-kata segambar dan serupa. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Seperti yang dipakai dalam Kejadian 1:26, kata-kata gambar dan rupa ditujukan kepada persona Allah, diri Allah sendiri dan apa adanya Allah. Karena itu, manusia diciptakan menurut apa adanya Allah. Akan tetapi, dalam Keluaran 20:4, kata-kata ini dipakai dalam suatu peringatan, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.” Dalam ayat 3, Allah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Kata “di hadapan” di sini sebenarnya berarti “selain”, “di luar”. Jadi Tuhan seolah-olah berkata, “Aku adalah Sang unik itu (Yang satu-satunya). Di hadapan-Ku, selain Aku, janganlah kamu memiliki allah lain. Janganlah kamu memiliki patung atau yang menyerupai apa pun. Satu-satunya gambar dan rupa yang kamu miliki haruslah Aku. Akulah Sang unik itu dan Yang pencemburu. Janganlah membuat bagi dirimu sesuatu patung atau sesuatu yang menyerupai apa pun.”

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa perintah pertama dalam Kesepuluh Perintah membicarakan perihal gambar dan rupa Allah. Dengan perkataan lain, perintah-perintah ini mengarahkan kita kepada diri Allah sendiri. Ini menunjukkan bahwa hukum Taurat bukan semata-mata terdiri dari perintah-perintah yang harus kita pelihara. Yang terutama, hukum Taurat merupakan suatu kesaksian yang mewahyukan macam apakah Allah yang adalah Tuhan itu.

Menyangkut masalah hukum, ada suatu prinsip yang penting: macam hukum yang dibuat oleh seseorang menyatakan macam orang itu. Sebagai contoh, jika para narapidana dapat membuat hukum, mereka pasti akan menghalalkan kejahatan. Demikian juga, sebuah negara yang terbelakang akan memiliki hukum-hukum yang tidak beradab, sedangkan masyarakat yang berkebudayaan tinggi akan mempunyai hukum kebudayaan yang tinggi juga. Prinsip ini juga Allah pakai. Allah adalah Pemberi hukum. Dalam memberikan hukum, Ia tidak pernah menghalalkan kejahatan ataupun dosa. Ia tidak akan menghalalkan pencurian ataupun perzinaan, karena Ia bukanlah Allah macam itu. Hanya ilah ahli sihir yang menghalalkan hal-hal seperti itu. Sebuah hukum selalu mewahyukan macam orang yang membuat hukum itu sendiri.

Fungsi pertama dari hukum Taurat bukanlah untuk menyingkapkan kita; melainkan untuk mewahyukan Allah kepada kita. Dalam berita ini saya ingin menekankan fakta bahwa fungsi pertama dari hukum Taurat adalah mewahyukan Allah kepada kita. Setelah Allah membawa umat-Nya ke hadirat-Nya untuk memiliki persekutuan dengan Dia, dan bahkan berpesta dengan Dia, Ia menjadikan diri-Nya dikenal oleh mereka. Sebelum waktu ini, Allah tidak mewahyukan diri-Nya kepada umat-Nya macam apakah Dia itu sebenarnya. Memang dalam Kejadian 17, Allah memberi tahu Abraham bahwa Ia itu sempurna, Yang Maha Kuasa, dan Yang serba cukup. Namun, itu belumlah cukup mewahyukan diri Allah. Hanya sewaktu kita sampai pada Keluaran 20, barulah kita mempunyai wahyu tentang macam apakah Allah kita itu.

Namun, wahyu ini bukanlah diberikan secara langsung. Melainkan diberikan secara tak langsung melalui pemberian hukum Taurat. Kelihatannya Keluaran 20 berhubungan dengan pemberian hukum Taurat. Sebenarnya pasal ini mengenai pengungkapan diri Allah sendiri. Dalam menurunkan hukum Taurat, Allah menjadikan diri-Nya dikenal oleh umat-Nya. Melalui hukum Taurat, mereka bisa memahami Allah macam apakah Dia itu. Perundang-undangan ilahi merupakan wahyu diri Allah sendiri. Jika kita ingin memahami potongan firman ini dengan tepat, kita harus memegang erat-erat konsepsi ini dalam ingatan kita.

Ulangan 4:13 mengatakan “Kesepuluh Perintah” (Tl.), sedangkan Keluaran 34:28 mengatakan “Kesepuluh Firman”. Pernyataan “Kesepuluh Firman” sangat bermakna. Allah memandang Kesepuluh Perintah, Kesepuluh hukum Taurat itu sebagai Kesepuluh Firman (perkataan). Pernyataan ini merupakan petunjuk lebih lanjut bahwa hukum Taurat itu adalah Allah mewahyukan diri-Nya sendiri, karena perkataan yang diutarakan seseorang mewahyukan orang tersebut.

Keluaran 20 tidak dengan jelas mengatakan yang mana perintah yang pertama, yang mana yang kedua, dan seterusnya. Meskipun perintah keempat sampai kesepuluh dapat dengan jelas dikenali, namun sulit untuk menentukan mana yang pertama, kedua dan ketiga. Orang-orang Yahudi memahami hal ini dengan satu cara, orang-orang Katolik dengan cara lain, dan orang-orang Protestan dalam cara yang lain lagi. Untuk memiliki pengertian yang tepat terhadap Kesepuluh Perintah, kita haruslah mengetahui bahwa hukum-hukum itu sebenarnya dimulai dari ayat 2. Ayat 1 merupakan prakata, dan kemudian diteruskan oleh ayat 2 dan 3: “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Ayat 2 dan 3 menyusun perintah pertama. Perhatikan bahwa di dalam perintah pertama digunakan nama “TUHAN Allahmu”. Hal yang sama juga terdapat dalam keempat perintah berikutnya. Akan tetapi, walaupun pernyataan “TUHAN Allahmu” dipakai dalam tiap perintah dari kelima perintah yang pertama, namun tak di-pakai satu kali pun dalam kelima perintah berikutnya. Pemakaian nama TUHAN (Yehova) dalam ayat 2 hingga ayat 11 memberi kita alasan untuk menghubungkan ayat 3 dengan ayat 2 dan dengan demikian menganggap ayat 2 sebagai bagian dari perintah pertama. Perintah kedua ditemukan dalam ayat 4-6. Di sini kita diperintahkan untuk tidak membuat patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi; juga jangan menyembah kepada mereka, karena TUHAN adalah Allah yang cemburu. Pe-rintah ketiga, mengenai untuk tidak sembarangan menyebut nama Tuhan, terdapat dalam ayat 7; dan perintah keempat mengenai hari sabat, dicatat dalam ayat 8-11. Perintah kelima (ayat 12) adalah mengenai menghormati ayah dan ibu. Kelima perintah lainnya terdapat dalam ayat 12-17.

Jika kita membaca catatan Kesepuluh Perintah dengan cermat, kita akan nampak bahwa perintah-perintah itu terbagi dalam dua kelompok dengan masing-masing lima perintah. Seperti yang telah kita tunjukkan, dalam kelompok pertama nama kudus “TUHAN Allahmu” digunakan dalam tiap perintah. Tetapi terhadap lima perintah dalam kelompok kedua, tak sekali pun nama TUHAN disebut. Jadi, pemakaian nama Tuhan merupakan faktor yang menentukan dalam memperhitungkan susunan Kesepuluh Perintah.

Susunan Kesepuluh Perintah boleh jadi dipahami menurut cara Yahudi, secara Katolik, secara Protestan, atau secara Alkitabiah. Menurut cara Yahudi, ayat 2 dipandang sebagai perintah pertama, dan ayat 3-6 sebagai perintah kedua. Menurut cara Katolik, ayat 2 tidak dipandang sebagai bagian dari perintah pertama, melainkan hanya ayat 3-6. Berikutnya ayat 17 dipandang sebagai dua perintah yang berbeda. Menurut cara yang diikuti oleh kebanyakan kaum Protestan, yang menetapkan secara Alkitabiah, ayat 3 dipandang sebagai perintah pertama, sedangkan ayat 4-6, sebagai perintah kedua. Kemudian ayat 17 dipandang sebagai perintah kesepuluh. Namun, seperti yang telah kita tunjukkan, ayat 2 haruslah dimasukkan ke dalam ayat 3 sebagai bagian dari perintah pertama. Ini penting untuk memiliki nama yang kudus, TUHAN, termasuk dalam tiap perintah dalam kelima perintah kelompok pertama. Secara Alkitabiah, perintah pertama meliputi ayat 2 dan 3; perintah kedua, ayat 4-6; perintah ketiga, ayat 7; keempat, ayat 8-11; kelima, ayat 12; dan perintah keenam hingga kesepuluh, berturut-turut ayat 13-17.

Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa Kesepuluh Perintah ditulis oleh Allah sendiri dalam dua loh batu. Keempat perintah yang pertama berhubungan dengan Allah, sedangkan keenam perintah berikutnya berhubungan dengan manusia. Beberapa pembaca Kitab Keluaran boleh jadi mengira bahwa keempat perintah yang pertama, perintah mengenai Allah, dituliskan dalam satu loh batu, sedangkan keenam perintah sisanya, perintah mengenai manusia, dituliskan dalam loh yang kedua. Namun, Kesepuluh Perintah haruslah dibagi dalam dua kelompok dengan masing-masing lima perintah. Ini menunjukkan bahwa perintah kelima yang bersangkutan dengan penghormatan terhadap orang tua, ditempatkan bersama-sama dengan keempat perintah yang pertama, berhubungan dengan diri Allah sendiri.

Selama bertahun-tahun saya tidak berhasil untuk menemukan alasan ini. Akhirnya saya nampak bahwa alasannya adalah berhubungan dengan asal usul kita sebagai umat manusia. Dalam Lukas 3, generasi-generasi manusia ditelusuri ke belakang sampai kepada Adam dan kemudian kepada Allah. Ini menyatakan bahwa ketika kita menghormati orang tua kita, kita menghormati asal usul kita, yang akhirnya, adalah diri Allah sendiri.

Untuk membuktikan bahwa Allah bermaksud mengelompokkan perintah kelima dengan empat perintah pertama terletak pada fakta bahwa nama kudus “TUHAN Allahmu” dipakai dalam perintah-perintah ini, tetapi tak sekalipun disebut dalam kelima perintah berikutnya. Sudah tentu harus ada alasan nama TUHAN disebut dalam tiap keempat perintah mengenai Allah dan perintah pertama mengenai manusia, namun tak sekalipun disebut dalam kelima perintah lainnya tentang manusia. Alasannya adalah dengan menghormati orang tua kita, kita mengingat asal usul kita. Sering kali saya menanyai orang yang belum percaya Tuhan, siapakah ayah mereka. Kemudian saya menyuruh mereka menelusuri kembali asal usul mereka lebih jauh hingga akhirnya mereka menemukan bahwa asal usul mereka adalah diri Allah sendiri. Ayah manusiawi kita mengingatkan kita kepada Allah, mengarahkan kita kepada Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah sebagai asal usul kita. Karena itu, adalah perkara yang serius bila seseorang memandang rendah orang tuanya. Menghina orang tua berarti menghina asal usul kita, teristimewa saat kita menyadari bahwa asal usul kita bukan ayah manusiawi kita yang sebenarnya, melainkan diri Allah sendiri.

Asal usul kita sebagai umat manusia adalah Allah. Mereka yang tidak percaya kepada Allah harus bertanya kepada diri sendiri, dari mana asal usul mereka. Mereka seharusnya menelusuri asal usul mereka hingga mereka menemukannya. Mereka yang melakukan hal ini secara jujur akan menyadari bahwa asal usul mereka adalah Allah. Menghormati orang tua kita berarti mengingat asal usul kita. Saya percaya bahwa inilah sebabnya perintah kelima yang dituliskan pada loh pertama, sekelompok dengan keempat perintah yang pertama mengenai diri Allah sendiri. Saya yakin bahwa ini juga merupakan alasan bahwa ayat ini memuat nama “TUHAN Allahmu”.

Saya dapat bersaksi akan adanya berkat yang kita terima dengan menghormati orang tua kita. Dalam Efesus 6:2 dan 3, Paulus menunjukkan bahwa perintah mengenai meng-hormati ayah dan ibu kita merupakan perintah pertama yang mengandung janji. Menurut Keluaran 20:12, jika kita menghormati orang tua kita, umur kita akan panjang di bumi. Ini ditujukan kepada berkat umur panjang. Berkat umur panjang berhubungan dengan Allah sebagai asal usul kita, karena hanya Dialah, sumber hayat, yang dapat memberikan kita umur panjang. Ini merupakan alasan lain mengapa perintah kelima dihubungkan dengan keempat perintah yang pertama mengenai Allah. Perintah ini mengarahkan kita kepada Allah dan menunjukkan bahwa Ia adalah sumber hayat. Jika kita memelihara perintah ini, pastilah Allah akan memberi kita umur panjang. Jika kita ingin keluarga kita dan negara kita diberkati oleh Allah, kita harus menghormati orang tua kita dan dengan demikian ingat diri Allah sebagai asal usul kita.

Saya mengharapkan semua orang muda dalam pemulihan Tuhan akan menghormati orang tua mereka, bukan menentangnya. Tetapi ini tidak berarti bahwa mereka harus mengikuti orang tua mereka jika orang tua mereka menuntut mereka untuk menyangkal Tuhan atau menyembah berhala. Firman Allah haruslah menjadi standar kita. Selama orang tua tidak menuntut sesuatu pun yang berlawanan dengan standar Alkitab, kaum muda haruslah mematuhi mereka. Menurut perkataan Paulus dalam Efesus 6, ini adalah cara untuk menikmati berkat panjang umur.

II. MEWAHYUKAN APA ADANYA ALLAH

Kita telah melihat bahwa dalam Keluaran 34:28, “Kesepuluh Perintah” disebut “Sepuluh Firman” Allah. Menurut Alkitab, firman (perkataan) mewakili ekspresi. Perkataan yang diutarakan oleh seseorang merupakan ekspresi orang itu. Jika seseorang bersifat pendiam, ia adalah orang yang misterius. Tak ada jalan bagi kita untuk mengetahui apa yang terkandung dalam hatinya. Semakin kita berbicara, kita akan semakin terekspresi dan apa yang terkandung dalam kita akan tersingkapkan. Ini berlaku terhadap Kesepuluh Perintah sebagai Sepuluh Firman Allah. Perintah-perintah itu bukan hanya hukum Taurat, lebih-lebih adalah ekspresi Allah. Melalui Kesepuluh Firman ini, Allah telah mewahyukan diri-Nya kepada kita.

A. CEMBURU

Ketika saya masih muda, saya mengira Allah itu lapang hati. Ketika dalam Alkitab saya membaca bahwa Ia itu Allah yang cemburu, saya merasa resah. Bagi saya, cemburu bu-kanlah hal yang positif. Sudah tentu saya tak ingin menjadi seorang yang cemburu. Saya ingin lebih dihargai sebagai seorang yang panjang pikiran, lapang dada, dan suka mengalah. Banyak orang yang memiliki konsepsi demikian mengenai Allah, menganggap semua aliran (kepercayaan) itu sama. Mereka tidak senang mendengar bila di dalam penginjilan kita mengatakan bahwa aliran-aliran tertentu itu salah. Orang-orang semacam itu lebih suka menganggap bahwa Allah itu lapang hati dan sama sekali bukan pencemburu. Tetapi seperti yang diwahyukan oleh Kesepuluh Perintah, Allah adalah Allah yang pencemburu, Dia tidak akan bertoleransi sedikit pun terhadap berhala. Terpisah dari Kesepuluh Perintah, tak ada jalan bagi kita untuk memahami bahwa Allah itu sempit pandang, atau pencemburu. Allah ingin kita mengasihi-Nya dan hanya Dia sendiri. Jika kita mengasihi seseorang atau sesuatu menggantikan Dia, Ia akan cemburu. Jadi, Kesepuluh Perintah pertama-tama mewahyukan kecemburuan Allah, bahkan kebencian-Nya (Rm. 9:13). Cemburu menghasilkan kebencian. Alkitab tidak hanya mengatakan bahwa Allah adalah kasih, tetapi juga Allah yang pencemburu. Dalam 2Korintus 11:2, Paulus menyatakan cemburu Allah. Kesepuluh Perintah sebagai ekspresi Allah mewahyukan bahwa Allah adalah unik (satu-satunya). Ia adalah Allah yang pencemburu, dan Ia tidak akan memberikan tempat-Nya kepada allah yang mana pun. Janganlah membiarkan sesuatu yang lain menjadi allah Anda. Janganlah mengambil pendidikan Anda atau kesehatan Anda menjadi allah Anda. Allah sendiri haruslah menjadi Allah Anda.

B. KUDUS

Kesepuluh Perintah juga mewahyukan bahwa Allah itu kudus. Perintah keempat, mengenai memelihara hari Sabat, berhubungan dengan kekudusan Allah, yaitu Allah terpisah dari segala sesuatu. Menurut Kejadian 2, Allah menguduskan hari ketujuh, atau membuat hari itu kudus. Jadi, hari Sabat, hari ketujuh merupakan tanda kekudusan Allah, tanda pemisahan-Nya. Meskipun banyak orang Yahudi dan aliran Advent hari ketujuh memelihara Sabat, namun banyak yang tidak mengetahui makna sebenarnya atas pemeliharaan hari itu di hadapan Tuhan. Tak banyak yang memahami bahwa Sabat adalah tanda kekudusan Allah. Meskipun orang-orang kafir adalah awam, namun umat Allah telah terpisah bagi Allah. Sebagai tanda pemisahan ini, ditentukan satu hari yang disisihkan bagi Dia. Pemeliharaan terhadap hari ini menyatakan bahwa mereka adalah umat Allah yang kudus dan yang terpisah. Selanjutnya, ini juga menyatakan bahwa Allah yang kita sembah adalah kudus dan terpisah. Sebagai umat-Nya, kita harus mempunyai suatu tanda, ciri-ciri, terpisahnya kita dari segala sesuatu yang lain yang di luar diri Allah sendiri. Ini menunjukkan bahwa Allah kita adalah kudus.

C. KASIH

Ayat 12-14 menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang kasih. Jika kita tidak menghormati orang tua kita, berarti kita tidak mengasihi mereka. Demikian juga, jika kita mengasihi orang lain, kita tidak akan mengambil barang orang lain. Dalam Matius 22:37-40, Tuhan Yesus menjawab para penentang-Nya secara tidak langsung bahwa seluruh hukum tercakup dalam mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita tidak hanya harus mengasihi Allah dengan segala adanya kita, tetapi kita juga harus mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri. Dalam Galatia 5:14, Paulus berkata, “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’” Jika kita melihat Kesepuluh Perintah secara mendalam, kita akan nampak bahwa kasih Allah terwahyukan di dalam Kesepuluh Perintah itu.

Keluaran 20:5-6 mengatakan bahwa Allah membalas kesalahan para bapa kepada anak-anak mereka hingga kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Dia, tetapi Dia akan menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu (keturunan) orang yang mengasihi Dia dan yang berpegang kepada perintah-perintah-Nya. Kasih Allah juga diwahyukan dalam ayat-ayat ini. Allah akan membalas kejahatan sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat, tetapi kepada orang-orang yang mengasihi-Nya, Ia akan menunjukkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu keturunan mereka. Dalam hal ini kita nampak kebaikan hati serta kasih sayang Allah. Jika Anda membenci Allah, Ia akan membalas keluarga Anda sampai kepada keturunan ketiga dan keempat. Ini berarti Ia akan mengganjar Anda dengan kebencian yang Anda tunjukkan kepada-Nya hingga ke beberapa keturunan Anda. Tetapi jika kita mengasihi Allah, kasih setia-Nya akan menimpa kita hingga beribu-ribu keturunan. Dalam Alkitab, angka seribu menyatakan kepenuhan. Sebagai contoh, pemazmur mengatakan bahwa lebih baik satu hari di pelataran Tuhan daripada seribu hari di tempat lain (Mzm. 84:11). Menikmati kasih setia Allah dengan sepenuhnya adalah menikmati sampai kekal. Kasih setia-Nya adalah tanpa akhir. Sekalipun murka Allah dapat dihitung, namun kasih setia-Nya tidak terhitung.

D. KEADILAN

Kesepuluh Perintah juga menyatakan bahwa Allah kita adalah adil. Karena Ia itu adil, Ia akan membalas kepada siapa yang membenci-Nya sampai tiga atau empat keturunan. Jika Ia gagal melakukan hal ini, maka Ia bukanlah Allah yang adil. Ia harus bertindak demikian untuk menyatakan bahwa Ia itu adil. Jika Anda membenci Dia, Ia akan menanggulangi Anda seturut keadilan-Nya. Tetapi pada saat yang bersamaan, Ia juga penuh dengan rahmat dan kasih setia.

E. BENAR

Keluaran 20:16 mengatakan, “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Perintah ini mewahyukan bahwa Allah itu benar. Tidak mengucapkan saksi dusta berarti kita harus mengucapkan kata-kata dengan benar, tidak berbohong. Perintah ini berhubungan dengan kebohongan yang merugikan orang-orang lain. Ini berarti kita harus jujur dan benar.

Setiap orang yang mengucapkan kata-kata bohong berada di dalam kegelapan, tetapi mereka yang berbicara benar berada di dalam terang. Allah adalah Allah yang benar, adalah Allah yang terang. Bahkan kita diberi tahu bahwa Ia sendiri adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan (1Yoh. 1:5). Ini berarti pada diri Allah tak ada dusta. Sebaliknya, Iblis adalah bapa dusta (Yoh. 8:44). Ia adalah allah kegelapan dan kuasa kegelapan. Pada Iblis tidak ada kebenaran. Karena itu, Iblis itu sumber kegelapan. Tetapi pada Allah kita ada kejujuran dan kebenaran. Karena Ia adalah terang, Ia tak dapat berbohong. Terang adalah sumber kebenaran.

Jika kita menggali kedalaman ayat-ayat ini, kita akan nampak bahwa terang tercakup dalam Kesepuluh Perintah. Sebenarnya, Kesepuluh Perintah ini adalah firman terang. Hukum Taurat ilahi ini penuh dengan terang. Ini sama dengan hukum buatan manusia. Jika di dalam suatu kota atau negara tidak ada hukum, kota atau negara itu akan berada di dalam kegelapan. Tetapi di mana ada hukum, di sana ada terang. Hukum selalu memberi penerangan. Hukum menjelaskan situasi seseorang. Kesepuluh Firman Allah, Kesepuluh Perintah, adalah firman terang, yang menyiratkan bahwa Allah kita adalah Allah terang. Atas diri-Nya tidak ada kepalsuan dan tidak ada bayang-bayang kegelapan. Dalam segala hal Ia itu benar, karena Ia adalah terang. Jika seorang berdosa mau menghampiri Kesepuluh Firman Allah yang tercatat dalam Keluaran 20, mereka akan melihat terang dan diterangi. Misalkan seseorang telah mencuri sejumlah barang. Ketika orang yang seperti itu membaca perintah perihal mencuri, ia akan diterangi. Hukum Taurat ilahi akan menyoroti dirinya. Kesepuluh Firman menyinari kita dengan terang yang berasal dari Allah. Sesungguhnya, Kesepuluh Perintah itu memang merupakan wahyu dari Allah kita! Ketika kita memasuki kedalaman Kesepuluh Firman, kita nampak bahwa Allah adalah Allah yang pencemburu, kudus, kasih, adil, dan benar.

F. MURNI

Firman-firman ini juga menunjukkan bahwa Allah itu murni. Kemurnian-Nya menjamah batin kita. Kesembilan perintah yang duluan berhubungan dengan perbuatan kita yang di luar, sedangkan perintah kesepuluh berhubungan dengan dosa yang tersembunyi di dalam kita, terutama di dalam pikiran kita. Sebenarnya, perintah pertama itu berhubungan dengan keadaan kita yang di dalam. Memiliki allah lain di luar Allah yang sejati terutama adalah perkara di dalam. Namun, membuat patung atau yang serupa dengan apa pun adalah perbuatan di luar. Jadi, perintah pertama menyentuh kondisi kita yang di dalam, dan perintah mengenai mengingini milik orang lain juga menjamah kondisi kita yang di dalam. Perintah pertama dan terakhir sama-sama mengungkapkan penyembahan berhala dan keserakahan di dalam kita. Di dalam kita penuh dengan penyembahan berhala dan keserakahan. Kolose 3:5 mengatakan keserakahan sama dengan penyembahan berhala. Dalam Roma 7, Paulus menunjukkan perihal keserakahan. Semakin dia mencoba menghentikan keserakahannya, keserakahannya itu semakin mengganas di dalam dia. Jadi, dalam Roma 7, Paulus tidak memperhatikan perbuatan yang di luar, melainkan memperhatikan masalah keserakahan di dalam.

Fakta bahwa kita serakah menunjukkan kita tidak murni. Hanya Allahlah yang murni, karena siapa yang murni tidaklah serakah. Kita serakah karena kita tidak murni. Jika hati kita, keinginan kita, dan tujuan kita murni dalam segala hal, kita tidak akan serakah. Perintah mengenai keserakahan mewahyukan kemurnian Allah. Di bawah terang perintah ini, kita semua perlu nampak bahwa di dalam batin kita ini tidak murni. Kita semua mempunyai keserakahan. Tetapi karena Allah itu murni, maka pada diri-Nya tak ada keserakahan.

Karena hukum Taurat adalah wahyu Allah, maka hukum Taurat adalah kesaksian Allah. Menurut Keluaran 31:18, kedua loh batu yang ditulisi Kesepuluh Perintah disebut dengan “dua loh kesaksian” (Tl.). Ini menyatakan bahwa hukum Taurat adalah kesaksian Allah. Ketika loh hukum diletakkan ke dalam tabut, berarti kesaksian diletakkan di dalam tabut. Selanjutnya, kesaksian yang ditaruh dalam buli-buli emas ditempatkan di depan loh hukum. Akan tetapi dalam Keluaran 16:34 dikatakan bahwa buli-buli itu “ditempatkan di hadapan Kesaksian untuk disimpan”(Tl.). Ini membuktikan bahwa hukum Taurat adalah kesaksian. Mazmur 19:8 merupakan petunjuk berikutnya tentang hal ini. Di sini, dalam keadaan yang sama sering ditemukan dalam puisi Ibrani, dikatakan, “Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” Jadi, hukum Taurat Tuhan adalah kesaksian Tuhan. Sebagai kesaksian Tuhan, hukum Taurat mempersaksikan Tuhan kita adalah Allah yang bagaimana. Karena hukum Taurat, yaitu kesaksian Allah, ditempatkan di dalam tabut, maka tabut itu disebut tabut kesaksian (Kel. 25:21-22; 26:33-34 Tl.); dan karena tabut ada di dalam Kemah Pertemuan, maka Kemah Pertemuan disebut dengan Kemah kesaksian (Kel. 38:21; Bil. 1:50, 53 Tl.). Hukum Taurat adalah kesaksian; tabut adalah tabut kesaksian, dan Kemah adalah Kemah kesaksian.

Hukum Taurat adalah lambang, gambar Kristus yang membicarakan Allah, menjelaskan Allah, dan mengekspresikan Allah. Karena itu, hukum Taurat adalah lambang Kristus, Kristus adalah kesaksian Allah. Penting bagi kita untuk nampak bahwa hukum Taurat adalah suatu kesaksian yang mewahyukan Allah kepada kita. Sebagai lambang Kristus, hukum Taurat melambangkan Kristus sebagai kesaksian Allah, menggambarkan Allah dan mengekspresikan Dia dengan sempurna dan tepat. Karena hukum Taurat adalah sepuluh firman Allah yang mewahyukan Allah kepada umat-Nya, maka Kristus adalah firman Allah yang mewahyukan Allah kepada kita.