DIBAWA KE DALAM KEHADIRAN ALLAH DAN PENGENALAN AKAN ALLAH
Pembacaan Alkitab: Kel. 19:1-25; 3:1, 12; 5:1, 3a
Jika kita di dalam roh dan dengan disertai berdoa membaca dan menyelami arti rohani Kitab Keluaran, kita akan nampak bahwa kitab ini menggambarkan karunia keselamatan Allah, dari permulaan sampai pada penyempurnaan. Kitab Keluaran terdiri atas dua bagian utama, pasal 1 — 18, dan pasal 19 — 40. Pada bagian pertama kita nampak karunia keselamatan Allah, persediaan Allah, kemenangan atas daging, dan gambaran mengenai Kerajaan Allah dalam Keluaran 18. Setelah umat pilihan dan panggilan Allah dibawa masuk ke dalam kerajaan, mereka siap untuk menggenapkan kehendak Allah dalam membangun tempat kediaman-Nya di bumi. Dalam berita ini kita sampai pada bagian kedua dari Kitab Keluaran, yang berhubungan dengan tempat kediaman Allah.
Butir utama dalam Keluaran 19 — 40 adalah Allah menyelamatkan bangsa itu untuk dibawa ke dalam kehadiran Allah dan pengenalan akan Allah. Bila menggunakan istilahistilah dalam Perjanjian Baru, bangsa itu dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah.
Dalam delapan belas pasal pertama dari Kitab Keluaran tidak ditunjukkan bahwa orang-orang Israel telah dibawa masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Meskipun umat Allah telah mengalami karunia keselamatan Allah, telah menikmati persediaan Allah, dan telah dibawa masuk ke dalam Kerajaan Allah, mereka belum dibawa ke dalam persekutuan yang sedemikian ini. Tetapi mulai pasal 19, mereka dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah.
Keluaran 3:1 berbicara mengenai gunung Allah, yaitu Gunung Horeb. Dalam 3:12 Tuhan berkata kepada Musa, “Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Dalam pasal 19, kita nampak orang-orang Israel di gunung Allah, yaitu Gunung Sinai, tempat di mana Allah dapat bersekutu dengan umat-Nya. Dalam 3:12, Allah berkata bahwa umat-Nya akan beribadah kepada-Nya di gunung Allah. Beribadah kepada Allah merupakan hal yang sangat penting. Dalam Keluaran 5:1, Musa berkata kepada Firaun supaya ia membiarkan bangsa itu pergi untuk mengadakan perayaan bagi Tuhan di padang gurun. Menurut Keluaran 5:3, bangsa itu harus menempuh perjalanan tiga hari ke padang gurun, dan mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Mempersembahkan kurban kepada Allah ialah mempersembahkan sesuatu kepada-Nya, sedangkan mengadakan perayaan bagi Allah ialah menikmati bersama-sama dengan Allah apa yang telah dipersembahkan kepada-Nya. Hingga akhir pasal 18, kita belum melihat ibadah, kurban persembahan, atau perayaan. Meskipun umat Allah telah mempunyai banyak pengalaman dan kenikmatan, mereka belum mulai beribadah kepada-Nya.
Kita telah nampak bahwa dalam Keluaran 12—14, umat Allah mengalami penebusan dan penyelamatan-Nya. Dalam Keluaran 15—17, mereka menikmati persediaan Allah. Air pahit diubah menjadi air manis, bangsa itu menikmati 12 mata air dan 70 pohon korma di Elim, dan mereka makan manna serta minum air dari batu karang yang dipukul. Melalui penyelamatan dan persediaan Allah, umat-Nya dibawa ke dalam suatu posisi, yaitu berada di dalam Kerajaan Allah. Dalam berita sebelumnya kita telah nampak bahwa pasal 18 merupakan gambaran, lambang mengenai kerajaan. Kita bersyukur kepada Tuhan atas terang yang Ia tunjukkan kepada kita melalui pasal ini.
Pada tahun-tahun permulaan dari ministri saya, saya telah memberikan sejumlah berita mengenai Keluaran 19. Tetapi sebagian besar dari berita itu hanya mengenai segi negatifnya saja. Dalam berita-berita ini, saya lebih suka tidak mencampuri segi-segi negatif, melainkan menekankan segi-segi positifnya. Kita perlu mempunyai kesan yang positif terhadap Keluaran 19 dan 20. Banyak guru Kristen yang menekankan aspek-aspek negatif dari pasal-pasal ini, dengan menunjukkan bahwa hukum Taurat itu baik dan rohani. Tetapi kita masih di dalam daging, dan hukum Taurat tidak dapat menolong kita. Keluaran 19 sebenarnya bersifat sangat positif, sebab di sini umat pilihan Allah dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah.
Jarak antara Mesir dengan Gunung Sinai harus ditempuh lebih kurang tiga hari lamanya. Saya yakin inilah alasannya mengapa Musa mengatakan kepada Firaun bahwa orang-orang Israel harus menempuh perjalanan selama tiga hari ke padang gurun. Selanjutnya Keluaran 4:27 menunjukkan bahwa Harun diperintah oleh Allah untuk menemui saudaranya, Musa, di gunung Allah di padang gurun. Meskipun jarak antara Mesir dengan Gunung Sinai dapat ditempuh dalam waktu tiga hari, tetapi orang-orang Israel menempuhnya dua bulan lebih. Meskipun kita telah dapat bersekutu dengan Allah segera setelah kita beroleh selamat, tetapi dalam pengalaman kita, bahkan banyak di antara kita yang berkelana dan mengembara. Namun di dalam pengembaraan kita, kita menikmati persediaan Allah. Meskipun perjalanan kita boleh jadi di bawah pemeliharaan Allah dan menurut pimpinan-Nya, kita belum bersekutu dengan Allah. Tetapi dalam Keluaran 19, kita memiliki satu hal yang sangat berharga sekarang Allah membawa umat tebusan-Nya ke dalam hadirat-Nya. Sebelumnya mereka memang telah men-dengar tentang Allah, tetapi mereka tidak mendengar suara Allah secara langsung. Hal ini sama dengan kebanyakan orang Kristen hari ini. Meskipun mereka telah mendengar tentang Allah, mereka tidak mengalami perkataan Allah secara langsung. Sebelum mereka sampai di gunung Allah, orang-orang Israel telah mendengar tentang Allah melalui perkataan dan ajaran Musa. Tetapi di sini Allah membawa mereka secara langsung ke dalam hadirat-Nya. Ia turun ke atas gunung, menampakkan diri kepada bangsa itu, dan berbicara kepada mereka. Jadi, mereka mendengar sendiri suara Allah secara langsung, bukan melalui pengantara. Di dalam hadirat Allah, mereka mendengar perkataan-Nya secara langsung.
Jangan membaca Kitab Keluaran hanya berdasarkan tulisan hitam di atas putih. Sebaliknya, kita harus menganggap segala sesuatu dalam setiap pasal dari kitab ini sebagai gambaran. Saya telah menunjukkan bahwa setiap perkara dalam Kitab Keluaran adalah gambaran. Mesir adalah gambaran dunia, dan Firaun adalah gambaran Iblis. Demikian juga Paskah, penyeberangan Laut Merah, dan Amalek, adalah gambar-gambar. Selain itu, Zipora, Yitro, dan pemimpin-pemimpin pasukan dalam Keluaran 18, merupakan gambaran yang berhubungan dengan kerajaan. Sekarang dalam pasal 19, kita memiliki gambaran mengenai hubungan antara umat tebusan Allah dengan Allah sendiri. Di sini umat-Nya dibawa ke dalam hadirat Allah dan pengetahuan tentang Dia. Mereka dibawa ke dalam hubungan Allah dengan manusia. Menurut gambaran yang disajikan dalam pasal ini, Allah hadir di bumi, di puncak gunung, dan bangsa itu berkumpul di sekeliling gunung itu. Alangkah ajaib pemandangan ini!
I. TELAH MENGALAMI KARUNIA
KESELAMATAN ALLAH YANG SEMPURNA
Jika kita hendak masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, kita perlu mengalami karunia keselamatan-Nya yang sempurna. Kita perlu diselamatkan dari penghukuman dosa, dunia, dan Iblis, sebagaimana yang kita lihat dalam Keluaran 1—14. Kemudian kita perlu menikmati persediaan Allah yang berlimpah (Kel. 15:1—17:7), menaklukkan daging (Kel. 17:8-16), dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah (Kel. 18:1-27). Jika kita tidak memiliki pengalaman dan kenikmatan yang sedemikian ini, kita tidak akan memiliki persekutuan dengan Allah.
Pengalaman rohani kita sama dengan pengalaman orang-orang Israel. Pertama-tama kita diselamatkan dari dosa, dunia, dan Iblis. Kemudian kita menikmati persediaan Allah. Air pahit diubah menjadi air manis; kita makan manna, yaitu makanan surgawi; dan kita juga minum air hayat yang mengalir keluar dari batu karang yang dipukul. Melalui kenikmatan atas persediaan ilahi ini, kita diperlengkapi untuk menaklukkan dan mengalahkan daging. Kita jangan membela diri kita sendiri dengan mengatakan bahwa kita ini lemah. Jika kita mengajukan pembelaan yang sedemikian ini untuk diri kita, kita tidak akan sampai ke gunung Allah. Semakin banyak alasan yang kita kemukakan, kita akan semakin dijauhkan dari gunung Allah. Kita perlu berkata, “Ya, memang aku lemah, tetapi Tuhan tidak lemah. Aku memiliki Musa, Kristus yang surgawi, yang berdoa syafaat bagiku, dan aku memiliki Yosua, Kristus sebagai Roh pemberi hayat, yang tinggal di dalamku dan berperang bagiku.” Kita memiliki roh yang hidup dengan salib yang beroperasi untuk menanggulangi daging kita. Segera setelah daging dibunuh, kita berada di dalam kerajaan. Selanjutnya di dalam kerajaan, kita dibawa ke dalam hadirat Allah untuk menikmati hubungan dengan Dia. Kitab Keluaran memang merupakan gambaran mengenai pengalaman rohani kita. Jika kita memperhatikan pengalaman kita, kita akan menemukan bahwa pengalaman kita sama dengan catatan dalam kitab ini.
II. DIBAWA KE DALAM HADIRAT ALLAH
A. DI GUNUNG SINAI
Orang-orang Israel dibawa ke dalam hadirat Allah di Gunung Sinai (Kel. 19:11). Arti “Gunung Sinai” ialah “tempat Allah berbicara”. Di Gunung Sinai Allah tidak melakukan keajaiban-keajaiban. Sebaliknya, Ia hanya berbicara. Pada perkataan Allah, juga terkandung visi surgawi. Karena itu, arti rohani dari gunung Allah ialah tempat pembicaraan Allah dengan visi Allah. Mula-mula orang Israel mendengarkan perkataan Allah, kemudian mereka nampak visi. Visi ini merupakan pola bagi tempat kediaman Allah di bumi.
Selama kita berhimpun bersama-sama di dalam sidang gereja, kita harus memperoleh perkataan Allah dengan visi-Nya. Di banyak perhimpunan yang disebut “kebaktian gereja” hari ini, tidak ada perkataan Allah, lebih-lebih tidak ada visi dari Allah. Alangkah nikmatnya mendengarkan perkataan Allah secara langsung dan nampak visi-Nya di dalam sidang gereja! Sidang demi sidang kita memiliki firman Allah, dan juga lebih banyak nampak visi Allah. Mendengar perkataan Allah dan nampak visi Allah, terutama visi mengenai tempat kediaman-Nya, merupakan perkara yang sangat besar. Kita perlu pergi ke gunung Allah yang sejati, yaitu gunung Allah di bumi hari ini.
Menurut catatan dalam Alkitab, Allah sering berbicara dari atas gunung. Tuhan Yesus memberitakan Kerajaan Surga ketika Ia berada di atas gunung bersama-sama dengan murid-murid-Nya (Mat. 5:1-2). Tuhan Yesus juga berada di atas gunung ketika Ia mengatakan tanda-tanda mengenai akhir zaman (Mat. 24:3). Allah Bapa berbicara kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya ketika mereka berada di gunung pengubahan (Mat. 17:1-2, 5). Yohanes di bawa ke gunung yang tinggi, agar nampak visi tentang langit baru dan bumi baru serta Yerusalem Baru. Jadi dalam pengalaman kita, kita perlu keluar dari Mesir, menyeberangi Laut Merah, dan menempuh perjalanan melalui padang gurun sampai kita tiba di gunung Allah. Di gunung ini kita dibawa ke dalam hadirat Allah. Tanpa hadirat-Nya, apa yang kita katakan atau kita lakukan tidak ada artinya. Hadirat-Nya ialah segala sesuatu bagi kita. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa bila kita berhimpun bersama-sama dalam nama Tuhan, kita menikmati hadirat-Nya. Kita mendengar perkataan-Nya, dan kita nampak visi-Nya di gunung Allah.
B. MELALUI PENGUDUSAN
Kita dibawa ke dalam hadirat Allah melalui pengudusan. Keluaran 19:10 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya’”. Ayat 14 dan 22 juga membicarakan pengudusan. Dikuduskan berarti dipisahkan dari dunia bagi Allah. Ketika orang-orang Israel berkumpul di sekeliling Gunung Sinai, mereka telah jauh keluar dari Mesir. Mereka telah dipisahkan dari dunia. Di Gunung Sinai mereka hidup dalam hadirat Allah, dikuduskan, dipisahkan bagi Allah secara mutlak. Ketika kita berhimpun bersama-sama dalam sidang-sidang gereja, kita juga harus dipisahkan dari dunia bagi Allah. Puji Tuhan, kita adalah bangsa yang telah dikuduskan!
C. DI DALAM KEBANGKITAN
Keluaran 19:11 mengatakan, “Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di Gunung Sinai”. Ayat ini tidak membicarakan hari kedua atau hari keempat, melainkan hari ketiga. Dalam Alkitab, hari ketiga melambangkan kebangkitan. Berada dalam kebangkitan artinya ialah yang lama telah berlalu, dan kita sepenuhnya berada dalam posisi dan situasi yang baru.
Sebelum Allah berbicara kepada bangsa itu, bangsa itu telah menyiapkan diri mereka. Seandainya Allah datang untuk berbicara kepada mereka pada hari pertama, mereka pasti belum siap. Jika Anda berada di antara orang-orang Israel selama hari-hari persiapan itu, apa yang akan Anda kerjakan? Pasti Anda tidak akan membuang-buang waktu Anda dengan percakapan yang sia-sia. Sebaliknya, Anda akan berdoa, “Tuhan tunjukkanlah kepadaku setiap hal yang memisahkanku dengan-Mu. Tuhan, aku tidak ingin di antara diri-Mu dengan diriku ada sekatan.” Anda akan menggunakan waktu Anda untuk bersiap-siap berjumpa dengan Allah. Anda akan meninggalkan satu perkara demi satu perkara sampai Anda berada dalam kebangkitan, siap untuk berjumpa dengan Tuhan. Sebagai pengganti dari suka mencela, bergunjing, atau menggerutu, Anda akan berdoa sampai Anda berada dalam kebangkitan, yaitu sampai perkara-perkara lama berlalu dan Anda sepenuhnya berada dalam posisi yang baru.
D. MENDENGARKAN PERKATAAN ALLAH
Setelah dibawa ke dalam hadirat Allah, umat Allah mendengarkan perkataan-Nya (ayat 9). Inilah persekutuan. Untuk mendengarkan perkataan Allah, harus berada di dalam hadirat Allah.
III. DIBAWA KE DALAM PENGENALAN AKAN ALLAH
Ketika kita dibawa ke dalam hadirat dan hubungan dengan Allah, secara spontan kita akan dibawa ke dalam pengenalan akan Allah. Sebelum bersekutu dengan Allah, kita tidak mengetahui banyak hal, kita tidak mengenal baik dunia maupun pembangunan Allah. Kita tidak mengenal mezbah, kaki pelita, meja, roti sajian, atau tabut perjanjian. Segala sesuatu yang diwahyukan dalam Keluaran 25—40, sama dengan apa yang Paulus gambarkan sebagai pengenalan yang penuh akan Allah. Banyak orang Kristen hari ini yang tidak mengetahui apa itu gereja. Mereka tidak mengenal tumpuan gereja, isi gereja, atau fungsi gereja. Sebelum orang-orang Israel dibawa ke dalam hadirat Allah, apa yang mereka ketahui tentang pelataran luar, ruang kudus, atau ruang maha kudus? Apakah mereka mengetahui segala sesuatu tentang tabut perjanjian yang dibuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas? Pasti tidak! Mereka tidak tahu apa-apa tentang barang-barang tersebut.
Ketika kita sampai pada Keluaran 25, kita nampak bahwa hukum Taurat adalah wahyu dan penjelasan mengenai Allah sendiri. Hukum Taurat menunjukkan bagaimana keadaan Allah. Sebelum orang Israel dibawa ke hadirat Allah, mereka tidak memiliki pengenalan akan Allah ini, meskipun mereka telah mengalami penyelamatan-Nya, menikmati persediaan-Nya, mengalahkan Amalek, dan dibawa ke dalam kerajaan.
A. MENGENAL ANUGERAH ALLAH
Di dalam persekutuan dengan Allah, pertama-tama kita mengenal anugerah (kasih karunia) Allah. Dalam Keluaran 19:4 Tuhan berkata, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Inilah anugerah. Yesaya 40:31 mengatakan, “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya.” Siapa saja yang percaya kepada Tuhan, akan didukung di atas sayap rajawali. Secara pengalaman, ini adalah apa yang ditunjukkan Paulus dalam 1Korintus 15:10: “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.”
Semua pengalaman kita atas keselamatan dan persediaan Tuhan merupakan pengalaman atas sayap rajawali yang besar tersebut. Mungkin Anda telah beberapa tahun beroleh selamat, tetapi Anda tidak menyadari bahwa Allah telah mendukung Anda di atas sayap rajawali. Anda didukung oleh anugerah Allah, dan anugerah ini melakukan segala sesuatu bagi Anda. Pertama-tama Kristus adalah Domba Paskah kita; kemudian Ia adalah Rajawali.
Setiap kali saya mengingat kembali tahun-tahun saya bersama Tuhan, batin saya penuh rasa syukur. Selama lebih dari lima puluh tahun, saya telah menjadi sasaran rahmat dan anugerah-Nya. Dalam tahun-tahun ini, saya telah didukung oleh sayap rajawali yang besar. Banyak perkara yang terjadi yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan saya. Saya bersyukur kepada Tuhan, karena banyak perkara terjadi tidak menurut cara saya, melainkan menurut cara-Nya. Ia selalu mengetahui apa yang saya perlukan. Saya tidak pernah mengharapkan untuk datang ke Amerika Serikat, tetapi Tuhan telah membawa saya ke sini. Apakah Anda pernah membayangkan di mana Anda akan berada hari ini? Dalam sebuah kidung yang ditulis oleh Charles Wesley, ada kata-kata sebagai berikut: “Ini adalah rahmat, yang besar dan cuma-cuma; oh, Allahku, rahmat ini telah mendapatkan aku.” Didukung di atas sayap rajawali yang besar sungguh merupakan suatu rahmat! Di gunung Allah, orang-orang Israel dapat berkata, “Tuhan, kami tidak sendirian di sini. Kekuatan-Mu telah membawa kami keluar dari Mesir, dan membawa kami melalui padang gurun ke tempat ini, di mana kami berada bersama-sama dengan Engkau.”
Ketika kita mendengar suara Tuhan dan menerima wahyu-Nya, kita mengenal anugerah-Nya. Semakin lama kita tinggal di dalam persekutuan-Nya, kita akan semakin mengenal anugerah-Nya, dan kita akan tahu bahwa segala sesuatu berasal dari anugerah itu. Dari tahun ke tahun, kita didukung oleh anugerah Allah. Setiap pagi kita berdoa, “Tuhan, syukur kepada-Mu atas hari yang baru untuk memperhidupkan Engkau. Tuhan, aku mohon kepada-Mu supaya hari ini penuh dengan diri-Mu sendiri. Berilah aku bagian berkat hari ini. Berilah aku anugerah, agar aku hari ini boleh memperhidupkan Engkau, dan berlatih menjadi satu roh dengan-Mu.”
B. MENGENAL KEKUDUSAN ALLAH
Dalam persekutuan dengan Allah, kita juga mulai mengenal kekudusan Allah (Kel. 19:10-24). Keluaran 19 menunjukkan kesungguhan dalam menghormati kekudusan Allah. Kita harus menguduskan diri kita sendiri, karena Allah itu kudus, dan tempat di mana Ia tinggal adalah tempat yang kudus. Dalam Keluaran 19, Gunung Sinai adalah gunung yang kudus, maka dipasanglah batas di mana orang-orang Israel tidak diperkenankan melewatinya. Dalam ayat 21 Tuhan berkata kepada Musa, “Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa.” Musa menjawab, “Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki Gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus” (ayat 23). Untuk ini Tuhan menjawab, “Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun” (ayat 24). Hanya Musa dan Harunlah yang berhak melewati batas tersebut. Tentu saja mereka mengetahui bahwa Allah mereka adalah Allah yang kudus. Di tempat lain dalam Alkitab, Tuhan memerintah bangsa itu, “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Karena Allah itu kudus, maka bangsa itu harus menguduskan diri. Untuk beribadah kepada Allah yang kudus, mereka harus menjadi bangsa yang kudus.
Jangan menganggap perkataan ini hanya sebagai doktrin belaka. Jika Anda memperhatikan pengalaman Anda, Anda akan nampak bahwa untuk bersekutu dengan Tuhan, pertama-tama Anda bersyukur kepada-Nya atas rahmat dan anugerah-Nya. Kemudian Anda akan menyadari perlunya kekudusan. Dalam hadirat Allah kita harus kudus. Jika kita ingin tinggal bersekutu dengan Allah, kita harus menguduskan diri kita dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita. Kita tidak boleh melewati batas kekudusan Allah. Inilah pelajaran yang sangat penting yang terdapat dalam Keluaran 19.
Karena pasal ini menyajikan uraian yang rinci mengenai persekutuan dengan Allah, saya sangat menghargainya. Saya dapat bersaksi bahwa apa yang dicatat dalam pasal ini sama dengan pengalaman saya. Setelah saya mengenal anugerah Tuhan, saya merasakan perlunya kekudusan, perlu kesucian. Kesucian adalah aspek pengalaman dari kekudusan. Kekudusan Allah menjadi pengalaman kita, itulah kesucian. Kita perlu dipisahkan dari dunia bagi Allah. Ini untuk menghormati kekudusan Allah. Tetapi kita semua dapat bersaksi bahwa setiap kali kita melanggar batas kekudusan Allah, kita kehilangan persekutuan dengan Allah. Hanya ketika kita memelihara kekudusan, persekutuan kita dengan Allah bisa berlangsung terus.
C. MENJADI MILIK PRIBADI DAN
HARTA KESAYANGAN ALLAH
Dalam persekutuan dengan Allah, kita menjadi milik pribadi dan harta kesayangan Allah (Kel. 19:5). Ungkapan Ibrani dalam ayat 5 mempunyai arti rangkap; yaitu milik pribadi dan harta kesayangan. Sebagai contoh, seorang saudari mungkin memiliki sebuah cincin yang sangat berharga. Cincin itu merupakan milik pribadi dan juga harta kesayangannya. Ia tidak akan menukarkannya dengan benda lain. Demikian pula, ketika umat tebusan Allah dibawa ke dalam hadirat-Nya. Oh, kita dapat menjadi milik pribadi Allah! Kita dapat menjadi kesayangan-Nya dan berharga bagi-Nya, sehingga kita menjadi harta kesayangan-Nya. Ini menunjukkan betapa mesranya kasih yang ada dalam hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhan harus mencapai titik di mana kita menikmati kasih yang sedemikian mesra dengan Dia, sehingga Allah akan mengatakan bahwa kita adalah harta kesayangan-Nya, milik pribadi-Nya. Betapa intim, mesra, dan berharga! Bila kita masuk ke dalam persekutuan yang sedemikian ini dengan Allah, Ia akan menganggap kita sebagai milik dan harta yang demikian.
D. MENJADI KERAJAAN IMAM BAGI ALLAH
Menurut Keluaran 19:6, orang-orang Israel akan menjadi kerajaan imam bagi Tuhan. Selama kita tinggal dalam hadirat Tuhan, kita menjadi kerajaan imam bagi-Nya. Apa yang digambarkan mengenai hal ini dalam Perjanjian Lama, digenapi dalam Perjanjian Baru. Kita kaum beriman, adalah kerajaan imam bagi Allah (Why. 1:6). Sebagai imam, kita hidup dalam hadirat Allah, menikmati Dia sebagai bagian kita, bahkan Ia pun menikmati kita sebagai harta kesayangan-Nya. Inilah kenikmatan bersama. Jika hal yang sedemikian ini dapat terjadi pada Perjanjian Lama, maka hal ini harus lebih banyak kita alami pada zaman Perjanjian Baru. Apa yang digambarkan dalam Perjanjian Lama hanyalah merupakan gambaran; sedangkan dalam Perjanjian Baru kita memiliki realitasnya. Puji Tuhan, kita adalah harta kesayangan dan imam-imam yang menikmati Dia sebagai segala sesuatu kita!
E. MENJADI BANGSA YANG KUDUS
Akhirnya, kita akan menjadi bangsa yang kudus (Kel. 19:6). Kenikmatan bersama antara Allah dan umat-Nya, memisahkan mereka bagi diri-Nya sendiri. Tidak ada yang dapat memisahkan kita bagi Allah seperti kenikmatan bersama ini. Ketika Allah menikmati kita sebagai harta kesayangan-Nya dan kita menikmati-Nya sebagai segala sesuatu kita, kita akan dipisahkan secara mutlak bagi Allah sendiri dari segala sesuatu selain Allah. Akibatnya, kita menjadi bangsa yang kudus.
Keluaran 19 merupakan pasal yang sangat berharga. Ya, pasal ini membicarakan guruh, awan, dan asap. Jika kita tidak memelihara kekudusan Allah, kita akan mengalami hal-hal itu. Tetapi, Musa dan Harun tidak takut terhadap guruh tersebut. Mereka tahu bahwa guruh, awan, dan asap itu bukanlah bagi mereka. Bagian mereka adalah hadirat Allah dengan perkataan dan kenikmatan-Nya. Kita tidak perlu takut kepada Allah, karena Allah menghargai kita sebagai milik pribadi-Nya. Kita adalah imam-imam bagi-Nya, dan kita adalah bangsa yang kudus. Apa yang perlu kita takutkan?
Alangkah besarnya perbedaan antara Keluaran 1 dengan Keluaran 19! Dalam Keluaran 1 umat Allah berada di Mesir di bawah tirani Firaun. Tetapi dalam pasal 19, mereka berada di gunung Allah, menjadi harta kesayangan Allah. Di situ mereka menikmati Allah sepenuhnya, dan mereka dipisahkan bagi Dia. Tidak saja kita bersyukur kepada Tuhan atas gambaran ini, bahkan kita lebih bersyukur kepada-Nya karena hari ini kita boleh menikmati realitasnya, yaitu penggenapannya.