← Daftar isi Keluaran (4) · bab 1/15

POLA KERAJAAN

Pembacaan Alkitab: Kel. 18; Ul. 1:9-18

Kelihatannya Keluaran 18 bukanlah pasal yang sukar. Tetapi sesungguhnya, pasal ini merupakan pasal yang paling sukar untuk dipahami dalam Kitab Keluaran. Untuk memahami pasal ini kita perlu mengenal bahwa pada prinsipnya, Kitab Keluaran adalah gambaran mengenai karunia keselamatan Allah yang sempurna. Setiap perkara dan kisah yang dicatat dalam kitab ini, merupakan bagian dari gambaran tersebut. Dalam berita ini, kita akan memperhatikan bagian dari karunia keselamatan Allah yang digambarkan dalam Keluaran 18.

Beberapa pembaca Alkitab mungkin merasa heran, mengapa Keluaran 18 dimasukkan dalam Kitab Keluaran. Mungkin mereka mengira bahwa lebih baik dari Keluaran 17 langsung ke pasal 19, yaitu dari kekalahan orang Amalek langsung ke gunung Allah, di mana bangsa Israel menerima visi surgawi. Seolah-olah Keluaran 18 berdiri sendiri, tidak berhubungan dengan pasal 17 maupun pasal 19. Tetapi, jika kita memperhatikan prinsip bahwa Kitab Keluaran adalah kitab gambaran yang menggambarkan karunia keselamatan Allah yang sempurna, kita akan mengetahui makna hubungan Keluaran 18 dengan gambaran ini, dan apa makna pasal ini dalam karunia keselamatan Allah.

I. SEJARAH

Jika kita membaca dengan cermat Kitab Bilangan dan Ulangan, kita akan menemukan bahwa apa yang dicatat dalam Keluaran 18, bukanlah ditulis berdasarkan rangkaian sejarah. Peristiwa dalam Keluaran 18, tidak terjadi segera setelah peristiwa yang dicatat dalam Keluaran 17. Sebenarnya, peristiwa dalam pasal 18 terjadi setelah pembangunan Kemah Pertemuan, dan tidak lama sebelum orang-orang Israel memulai perjalanan mereka bersama Kemah Pertemuan menuju ke tanah permai. Karena itu, menurut sejarah, Keluaran 18 seharusnya terjadi setelah pasal 40. Ulangan 1:6-18 membuktikan hal ini. Waktu yang Musa tunjukkan dalam Ulangan 1:9, adalah waktu di mana orang-orang Israel hendak memulai perjalanan mereka bersama Kemah Pertemuan menunju ke tanah permai. Musa mengatakan kepada bangsa itu bahwa ia seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas kesusahan mereka, beban mereka, dan perkara mereka (Ul. 1:12). Pada saat itulah para pemimpin ditunjuk sebagai kepala pasukan seribu, kepala pasukan seratus, kepala pasukan lima puluh, dan kepala pasukan sepuluh.

II. DOKTRIN

Jika perkara-perkara ini terjadi setelah Keluaran 40, mengapa perkara-perkara ini dicatat dalam Keluaran 18 dan disisipkan di antara pasal 17 dan 19? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui prinsip penting yang lain: Alkitab ditulis terutama untuk memberi kita wahyu yang lengkap mengenai ekonomi Allah. Karena alasan inilah, kadang-kadang catatan Alkitabiah tidak menurut urutan sejarah, sebaliknya menurut doktrin. Sebagai contoh, Injil Matius tidak ditulis menurut urutan sejarah; tetapi menurut susunan doktrinal yang khusus. Sebaliknya, Injil Markus ditulis menurut urutan peristiwa sejarah. Injil Matius menyusun peristiwa berdasarkan arti yang doktrinal. Prinsip ini berlaku untuk penempatan Keluaran 18.

Tentu saja Kitab Keluaran tidak mencatat setiap perkara yang terjadi pada orang-orang Israel, ketika mereka keluar dari Mesir dan menghabiskan sejangka waktu di padang gurun. Prinsip yang sama berlaku pula untuk keempat kitab Injil dalam Alkitab. Keempat kitab Injil tersebut tidak mencakup segala sesuatu yang Tuhan Yesus perbuat dalam kehidupan-Nya di bumi ini. Penulis kitab-kitab Injil tersebut memilih perkara-perkara tertentu, dan menaruh perkara-perkara tersebut bersama-sama dengan tujuan memberitahukan maksud dari wahyu ilahi. Kitab Keluaran ditulis dalam prinsip yang sama, dan untuk tujuan yang sama pula. Maksud dari Kitab Keluaran bukanlah untuk memberi kita sejarah yang rinci mengenai segala sesuatu yang terjadi pada orang-orang Israel, tetapi untuk memberitahukan maksud yang lengkap dari karunia keselamatan Allah yang sempurna.

Dalam Keluaran 17, Amalek dikalahkan. Ini melambangkan penaklukan atas daging, yang menghalangi umat Allah untuk terus hidup bersama Tuhan. Setelah kekalahan Amalek, diperlukan beberapa hal untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Di bawah ilham ilahi, Musa menyisipkan suatu peristiwa yang terjadi kemudian untuk mengisi kekosongan antara pasal 17 dan 19, dan untuk menunjukkan kepada kita bahwa dalam karunia keselamatan Allah yang sempurna, kerajaan datang setelah dikalahkan dan ditaklukkannya daging. Setelah kekalahan orang Amalek, kerajaan dibutuhkan untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi.

Telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa Amalek melambangkan daging, musuh Allah yang ada di dalam manusia. Iblis adalah musuh Allah. Melalui kejatuhan manusia, Iblis telah menghasilkan musuh Allah lainnya. Musuh ini ialah daging manusia, adalah musuh Allah di dalam manusia. Dalam pandangan Allah, dua musuh Allah yang terbesar ialah Iblis dan daging. Dalam arti tertentu, Iblis juga berada di dalam diri manusia yang telah jatuh. Tetapi musuh Allah yang benar-benar subyektif dalam diri manusia adalah daging. Karena alasan inilah, maka Allah membenci daging manusia.

Menurut Perjanjian Baru, bila daging manusia telah dikalahkan dan ditaklukkan, Kerajaan Allah akan segera datang. Hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam Galatia 5:17-25. Galatia 5:17 mengatakan, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan.” Ayat 21 mengatakan bahwa siapa yang melakukan perkara-perkara daging, tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ayat 24, yang menggunakan ungkapan: “telah menyalibkan daging”, menunjukkan salib. Bila daging disalibkan, kerajaan hadir bersama kita. Hal ini ditegaskan oleh pengalaman kita. Roh itu adalah lawan daging. Di dalam Roh itu terdapat kekuatan untuk menyalibkan daging. Bila Roh itu dengan kekuatan salib mengalahkan dan menaklukkan daging kita, Kerajaan Allah ada bersama kita.

Empat kata yang penting dalam Galatia 5:17-25 adalah “daging”, “Roh itu”, “menyalibkan” (yang menunjukkan salib), dan “kerajaan”. Masing-masing dari empat istilah ini boleh ditandai dengan warna: Daging ditandai dengan warna hitam, Roh itu ditandai dengan warna hijau, salib ditandai dengan warna merah, dan kerajaan ditandai dengan warna biru. Mungkin akan berguna bagi kita, jika kita menandai kata-kata ini dalam Alkitab kita dengan keempat warna tersebut. Daging memang hitam, sedangkan Roh itu adalah hijau, penuh dengan hayat. Salib merah menanggulangi daging yang hitam. Ini mendatangkan kerajaan, yang ditandai dengan warna biru, yaitu warna langit. Jika kita memusatkan perhatian kita pada empat istilah ini, kita akan beroleh terang. Dalam pengalaman kita hari ini, kita memiliki hitamnya daging, hijaunya Roh itu, merahnya salib, dan birunya kerajaan.

Kitab Keluaran terdiri dari dua bagian yang penting. Pasal 1-17 merupakan bagian yang pertama, dan pasal 19-40 merupakan bagian yang kedua. Pada bagian yang pertama kita nampak bahwa kita yang jatuh telah ditebus, diselamatkan, dan dibebaskan. Selanjutnya, kita nampak bahwa kita telah melewati Laut Merah dan masuk ke padang gurun, di mana kita menikmati persediaan Allah dan mengalahkan daging. Alangkah ajaibnya karunia keselamatan ini! Pada bagian kedua, yaitu pasal 19-40, kita memiliki wahyu mengenai pembangunan tempat kediaman Allah di bumi. Beberapa pasal dalam bagian ini adalah mengenai hukum Taurat. Namun demikian, fakta ini jangan menghalangi kita dalam memperoleh maksud yang lengkap dari Kitab Keluaran. Tujuan dari kitab ini ialah menunjukkan karunia keselamatan Allah yang sempurna, bagi pembangunan tempat kediaman-Nya. Dalam pasal pertama kita nampak umat pilihan Allah dalam kondisi yang jatuh di Mesir, tetapi dalam pasal terakhir, kita melihat Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah. Alangkah kontrasnya! Umat Allah sepenuhnya diselamatkan dari kondisi mereka yang jatuh, ke dalam tempat kediaman Allah.

Pada permulaan Kitab Keluaran, orang-orang Israel, umat pilihan Allah, berada di bawah tirani dunia. Allah menyelamatkan mereka, membebaskan mereka, menolong mereka, dan menjadikan mereka tempat kediaman-Nya di bumi. Jadi, hal yang penting dalam Kitab Keluaran bukanlah pemberian hukum Taurat. Ya, kitab ini secara pasti mencatat ketetapan-ketetapan dari hukum Taurat. Tetapi jika kita hanya memperhatikan hal ini, kita tidak akan nampak bahwa maksud dari Kitab Keluaran adalah mencakup karunia keselamatan Allah bagi pembangunan tempat kediaman. Pada 17 pasal pertama kitab ini, kita memiliki gambaran mengenai bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya, membebaskan mereka, menolong mereka, dan memelihara mereka di padang gurun. Kemudian Ia membawa mereka ke Gunung Sinai, untuk memberi mereka visi tentang pembangunan tempat kediaman-Nya, sehingga mereka dapat membangunnya menurut visi ini.

Jika kita membaca Kitab Keluaran menurut konsepsi alamiah kita, kita akan menekankan pemberian hukum Taurat, sehingga bagi kita Kitab Keluaran terutama mencatat bagaimana Allah memberikan perintah-perintah, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum melalui Musa. Tetapi jika kita memiliki pandangan ilahi dan rohani dalam membaca kitab ini, kita akan menyadari bahwa Kitab Keluaran terutama bukanlah merupakan kisah tentang pemberian hukum Taurat, melainkan catatan mengenai bagaimana Allah menyelamatkan umat pilihan-Nya, dan bagaimana Allah memberi mereka visi surgawi, sehingga mereka dapat membangun tempat kediaman-Nya di bumi.

Meskipun mungkin kita memperhatikan ketetapanketetapan hukum Taurat dan pola Kemah Pertemuan, tetapi boleh jadi kita mempunyai konsepsi bahwa Kitab Keluaran terutama adalah untuk ketetapan-ketetapan hukum Taurat. Boleh jadi kita lebih banyak memperhatikan hukum Taurat daripada Kemah Pertemuan.

Di antara kedua bagian yang penting dari Kitab Keluaran, yaitu bagian keselamatan Allah dan pembangunan Allah, perlu kerajaan. Tanpa kerajaan, keselamatan Allah tidak akan ada hasilnya, tidak ada akibatnya. Hal ini justru merupakan situasi di antara kebanyakan orang Kristen hari ini. Karena sedikit sekali orang Kristen yang menanggulangi daging secara sepenuhnya, maka di antara mereka tidak terdapat hasil yang tepat dari keselamatan Allah, yaitu kerajaan. Orang Kristen tertentu mungkin bersifat fundamental, Alkitabiah, dan etis. Namun, mungkin ia sama sekali berada di dalam daging. Boleh jadi ia mengasihi orang lain dan sangat rendah hati. Tetapi kasih dan kerendahan hatinya itu mungkin berasal dari daging. Bahkan pekerjaan pemberitaan Injilnya pun mungkin dilakukan di dalam daging. Dalam pemberitaan Injil kita, mungkin kita bersifat manis, menyenangkan, dan rendah hati, selalu berbicara ramah kepada orang lain, dan tidak pernah bertengkar dengan orang lain. Tetapi semua kelakuan yang kelihatannya baik ini, mungkin berasal dari daging. Memberitakan Injil di dalam roh merupakan satu perkara, dan memberitakan Injil di dalam daging adalah perkara lain. Yang terlebih dulu Allah perhatikan bukanlah apa yang kita lakukan, melainkan berdasarkan apa kita melakukannya, apakah kita melakukannya berdasarkan roh, ataukah berdasarkan daging.

Banyak orang Kristen yang tidak dapat memahami perkataan yang sedemikian ini mengenai daging. Mereka menikmati keselamatan Allah sampai taraf tertentu, namun dalam kenikmatan mereka tidak ada hasil yang baik. Jika kita menikmati keselamatan Allah sampai taraf mengalahkan Amalek, menanggulangi musuh Allah yang ada di dalam kita, kita akan memiliki Kerajaan Allah sebagai hasil dari keselamatan Allah. Selama berada dalam ministri, saya tidak pernah melihat sekelompok orang Kristen yang mengenal daging secara sepenuhnya dan yang memiliki rasa takut untuk bertindak di dalam daging, seperti yang dimiliki oleh kaum beriman dalam pemulihan Tuhan. Karena alasan inilah, kita memiliki kerajaan sebagai hasil dari keselamatan Allah.

Bila kita berada di dalam daging, kita mudah sekali tersandung oleh orang lain. Tetapi bila kita berada di dalam Roh, kebalikannyalah yang terjadi. Tidak mudah bagi seseorang untuk menyandung kita. Lagi pula, daging mempunyai pilihannya sendiri, seleranya sendiri dalam melakukan sesuatu. Sebagai contoh, banyak orang Kristen yang suka memamerkan berapa banyak uang yang telah mereka sumbangkan untuk beberapa hal. Mereka berharap bisa menerima pujian dari banyak orang karena hal ini. Ini berasal dari daging. Apa yang orang Kristen lakukan hari ini, kebanyakan dilakukan di dalam daging.

Orang-orang tertentu yang mencela pemulihan Tuhan mengatakan bahwa kita semua ini berada di bawah pengendalian seseorang. Tetapi faktanya kita tidak berada di bawah pengendalian siapa pun. Saya tidak mengendalikan orang lain, dan orang lain tidak mengendalikan saya. Lagi pula, para penatua tidak mengendalikan kaum beriman. Tetapi kita semua berada di bawah pengendalian Roh yang hidup dengan salib yang beroperasi. Inilah yang membunuh daging. Saya dapat bersaksi bahwa Roh itu dengan salib mencegah saya bertengkar dengan istri saya. Kadang-kadang perkataan negatif telah berada di ujung lidah saya, tetapi Roh itu dengan salib yang beroperasi datang untuk menaklukkan daging. Karena saya dan istri saya telah mengalami pembunuhan daging, maka kami menempuh kehidupan pernikahan yang penuh damai. Jika hal ini merupakan pengalaman kita di rumah dan dalam hidup gereja, kita akan hidup di dalam kerajaan.

Kitab Keluaran tidak menjelaskan tentang kerajaan, melainkan memberi kita gambaran mengenai kerajaan. Kitab Keluaran merupakan kitab gambaran, bukan kitab penjelasan atau definisi. Sebagai contoh, Kitab Keluaran tidak mencoba mendefinisikan penebusan Allah. Sebaliknya, kitab ini menyajikan gambaran mengenai Paskah. Dalam kitab ini tidak terdapat definisi yang doktrinal, melainkan gambaran yang lengkap mengenai ekonomi Allah. Dalam Keluaran 18 tidak terdapat penjelasan mengenai kata kerajaan, melainkan gambaran yang jelas mengenai kerajaan. Jika kita membaca pasal ini dengan pengertian yang tepat, kita akan nampak bahwa pasal ini merupakan gambaran mengenai Kerajaan Allah.

III. GAMBARAN MENGENAI KERAJAAN

A. ORANG ISRAEL MILIK ALLAH

TELAH MENGALAHKAN MUSUH ALLAH

Sekarang kita akan memperhatikan gambaran mengenai kerajaan dalam Keluaran 18. Sebagaimana telah saya tunjukkan, kerajaan akan datang, setelah musuh Allah, yaitu orang Amalek yang melambangkan daging dikalahkan (Kel. 17:13-16). Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kerajaan akan datang bila umat pilihan Allah telah mengalahkan musuhnya. Sebelum kerajaan ada dalam Keluaran 18, musuh Allah yang ada di dalam kita, yang dilambangkan oleh Amalek, telah dikalahkan dalam pasal 17.

B. ORANG KAFIR DATANG MEMUJI ALLAH

DAN MENYEMBAH-NYA

Alkitab juga menunjukkan bahwa ketika kerajaan datang sebagai hasil dari kekalahan musuh Allah, orang kafir yang mencari Allah akan datang menyembah-Nya. Orang kafir ini diwakili oleh Yitro (Kel. 18:1, 5, 10-12). Yitro, mertua Musa, adalah imam di Midian. Menurut Hakim-hakim 6:3, orang Midian sangat dekat dengan Amalek. Orang Midian dan Amalek ada sedikit bercampur baur. Setelah Amalek dikalahkan, orang-orang Midian tertentu datang kepada umat Allah dalam cara yang sangat ibadah. Yitro bukanlah imam dari berhala, tetapi imam dari Allah yang benar. Ia memuji Allah, menyembah Allah, dan mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah. Karena itu, Yitro mewakili orang kafir yang berbalik kepada Allah, dan yang menjadi pencari Allah di dalam kerajaan.

C. GEREJA BERBAGIAN DALAM KERAJAAN

Ketika kerajaan datang, gereja berbagian dalam kerajaan. Sebenarnya, gereja akan menjadi wewenang yang mengatur dalam kerajaan. Dalam Keluaran 18, gereja diwakili oleh Zipora, istri Musa yang diperolehnya selama ia ditolak oleh orang Israel (Kel. 2:13-22). Banyak pelajar Alkitab tahu bahwa Zipora melambangkan gereja orang kafir (bukan orang Yahudi) yang diperoleh Kristus selama Ia ditolak oleh orang Israel. Bahkan hari ini pun Kristus masih ditolak oleh orang Yahudi. Selama penolakan ini, Kristus memperoleh gereja orang kafir yang diambil dari dunia orang kafir, sebagaimana Musa memperoleh istri orang kafir.

Jadi dalam Keluaran 18, kita memiliki tiga hal yang penting: kekalahan musuh, kedatangan orang kafir untuk menyembah Allah, dan gereja yang diwakili oleh Zipora. Jika hal-hal ini diuraikan bersama-sama, kita akan memiliki gam-baran mengenai kerajaan. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan pernyataan bahwa kerajaan digambarkan dalam Keluaran 18. Tetapi kita tidak berlebihan dalam membuat pernyataan ini. Jika Paulus tidak mengatakan kepada kita bahwa Paskah adalah gambaran Kristus, siapakah yang berani mengatakan hal ini? Rasul Paulus menggunakan yang buruk untuk mengiaskan Kitab Keluaran ketika ia memberi tahu kita bahwa Kristus adalah Paskah kita. Selanjutnya, manna dan batu karang yang dipukul juga merupakan lambang Kristus, dan air dari batu karang itu merupakan lambang dari Roh itu. Telah saya tunjukkan pula bahwa dalam Keluaran 17, Amalek melambangkan daging, Musa melambangkan Kristus yang telah naik ke surga dan menjadi Pengantara kita, Yosua melambangkan Roh yang berhuni yang berperang bagi kita. Dengan semua hal ini sebagai latar belakang, maka tepat sekali bila dikatakan bahwa Yitro dan Zipora dalam Keluaran 18 juga memiliki makna khusus. Apakah Yitro dan Zipora hanya merupakah tokoh-tokoh sejarah? Tidak. Kalau kita mengatakan demikian, kita tidak menyadari bahwa Kitab Keluaran adalah kitab gambaran. Sebagaimana Firaun mewakili Iblis dan Mesir mewakili dunia, demikian pula Yitro melambangkan orang kafir dan Zi-pora melambangkan gereja orang kafir. Menurut prinsip yang menyatakan semua perkara dalam Kitab Keluaran merupakan gambaran, maka perkara-perkara dalam Keluaran 18 tidak boleh dianggap sebagai perkecualian. Kita tahu bahwa Keluaran 18 menggambarkan kerajaan, sebab di sini kita nampak bahwa setelah umat Allah mengalahkan musuh-Nya, orang-orang kafir berbalik kepada umat Allah untuk memuji Allah, menyembah-Nya, dan mempersembahkan kurban persembahan kepada-Nya. Kita juga nampak bahwa gereja orang kafir dibangunkan. Ketika perkara-perkara ini terjadi bersama-sama, maka terdapatlah Kerajaan Allah.

Kita boleh menerapkan gambaran dari Keluaran 18 ini pada situasi kita sebagai orang Kristen hari ini. Dari pengalaman kita mengetahui bahwa ketika daging kita dikalahkan, orang-orang yang tidak percaya akan berbalik kepada kita. Memang baik kalau gereja dengan aktif memberitakan Injil. Namun demikian, jika kita hidup di dalam daging dan gagal mengalahkan Amalek, mungkin kita akan bekerja banyak dalam memberitakan Injil, tetapi tidak banyak orang kafir yang mau bertobat. Namun, jika kita lebih dulu mengalahkan dan menaklukkan daging kita, kemudian baru kita menghubungi orang-orang dan memberitakan Injil kepada mereka, Yitro akan datang kepada kita. Ini berarti orang kafir akan bertobat. Bila kita memberitakan Injil dengan Roh yang hidup melalui salib yang beroperasi, yang membunuh daging, orang akan berbalik kepada kita ke mana pun kita pergi. Tidak hanya demikian, gereja yang dilambangkan oleh Zipora akan terbangunkan. Jadi, pemberitaan Injil yang tepat harus menghasilkan kerajaan. Dalam Matius 24:14 dikatakan bahwa Injil Kerajaan akan diberitakan di seluruh dunia.

Injil harus menjadi kerajaan. Jika kita hidup di dalam daging, orang lain tidak akan berbalik kepada Allah melalui kita, bagaimanapun giatnya kita bekerja dalam memberitakan Injil. Kita harus menjadi orang yang mengalahkan Amalek, barulah Yitro, yang mewakili orang kafir, akan berbalik kepada Allah melalui kita, dan gereja akan terbangunkan.

D. KEKUASAAN DAN

URUTAN (KETERTIBAN) KERAJAAN

Dalam Keluaran 18:13-27 kita memiliki gambaran mengenai wewenang dan urutan (ketertiban) kerajaan. Kristus, yang dilambangkan oleh Musa, adalah Kepala, dan di bawah kekepalaan Kristus ada urutan kekuasaan. Beberapa guru Alkitab mengatakan bahwa anjuran Yitro terhadap Musa adalah berdasarkan cara organisasi manusia. C.I. Scofield mengatakan bahwa cara yang bersifat organisasi ini ditolak oleh Allah dalam Bilangan 11:11-17, 24-30. Tetapi jika kita mempelajari dengan saksama Keluaran 18, Ulangan 1, dan Bilangan 11, kita akan nampak bahwa bagian firman ini berkaitan dengan dua peristiwa yang berbeda, dan yang belakangan tidak meniadakan yang terdahulu. Sebaliknya bahkan menguatkan yang terdahulu. Dalam Bilangan 11 dibicarakan mengenai 70 tua-tua, tetapi dalam Keluaran 18 dan Ulangan 1 hal itu tidak disebutkan. Sebaliknya, dalam pasal-pasal ini kita membaca tentang para pemimpin. Karena orang Israel berjumlah paling sedikit 2 juta, maka kepala pasukan seribu, pasukan seratus, pasukan lima puluh, dan sepuluh, pasti berjumlah ribuan. Para kepala pasukan ini harus dibedakan dengan 70 tua-tua tersebut.

Jika kita membandingkan Keluaran 18 dan Ulangan 1 dengan Bilangan 11, kita akan nampak bahwa Bilangan 11 terdiri dari subyek yang berbeda dengan yang ada dalam Keluaran 18 dan Ulangan 1. Dalam dua pasal ini kita membaca tentang kesusahan, beban, dan perkara bangsa itu. Tetapi Bilangan 11 menjelaskan tentang pemberontakan bangsa itu terhadap Allah. Oleh karena pemberontakan inilah, Musa mengeluh kepada Tuhan, “Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” (Bil. 11:14). Kemudian Tuhan menyuruh Musa mengumpulkan 70 tua-tua Israel (ayat 16). Pemberontakan dalam Bilangan 11, sangat berbeda dengan kesulitan, beban, dan penanganan perkara yang ditunjukkan dalam Keluaran 18 dan Ulangan 1. Tujuan dari catatan dalam Keluaran 18 dan Ulangan 1 ialah untuk mengatur urutan (ketertiban) yang baik di antara umat Allah dalam kerajaan-Nya, sedangkan catatan dalam Bilangan 11 ialah untuk memelihara hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Setiap hari mungkin beratus-ratus masalah dibawa ke hadapan Musa. Ini menyebabkan Yitro menganjuri Musa supaya ia menunjuk kepala atas pasukan seribu, pasukan seratus, pasukan lima puluh, dan pasukan sepuluh untuk membantu dia. Persoalan yang ditanggulangi dalam Keluaran 18 dan Ulangan 1 relatif kecil, tetapi Bilangan 11 menanggulangi hasil yang penting dari hubungan kita yang tepat dengan Allah. Inilah alasannya, mengapa Roh Allah turun ke atas 70 tua-tua yang menjadi nabi. Ketujuh puluh tua-tua ini tidak menggantikan para kepala pasukan seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh.

Tujuan saya menunjukkan hal ini ialah membantu kita nampak bahwa usul Yitro itu sangat positif. Ini melukiskan urutan di bawah kekuasaan ilahi dalam Kerajaan Allah, dan ini juga membantu kita nampak bahwa dalam Kerajaan Allah tidak ada kekacauan. Sebaliknya, di bawah kekepalaan Kristus, yang diwakili oleh Musa, segala sesuatunya tertib. Di bawah kekepalaan Kristuslah segala sesuatu akan teratur berurutan.

Jika di dalam gereja lokal semua perkara baik besar maupun kecil diserahkan kepada para penatua, gereja itu akan lemah. Ini bukan Kerajaan Allah dalam arti yang riil. Jika sebuah gereja lokal benar-benar merupakan Kerajaan Allah, maka di sana tidak hanya terdapat para penatua, tetapi juga terdapat para pemimpin. Kita telah nampak bahwa dalam gambaran dalam Keluaran 18, Zipora mewakili gereja. Lalu apa yang diwakili oleh para pemimpin tersebut? Mereka mewakili pemeliharaan urutan (tata tertib) yang baik. Sebagaimana tidak perlu menyerahkan setiap perkara kepada Musa, demikian juga kita tidak perlu menyerahkan setiap perkara kepada para penatua. Sebaliknya, harus ada pemimpin-pemimpin dalam hidup gereja yang berada di bawah kekepalaan Kristus, yang membereskan masalah-masalah dan memelihara urutan (tata tertib).

Andaikata dua orang saudara memiliki masalah satu sama lain. Jika diserahkan kepada para penatua, Kerajaan Allah tidak akan hadir dalam hidup gereja secara riil. Di sana pasti kekurangan hayat dan kekuasaan. Bahkan di antara sekelompok kecil saudara saudari pun harus ada pemimpin, yaitu orang yang dapat mengingatkan orang lain mengenai Roh itu dan salib. Jika ada pemimpin yang melaksanakan hal ini, maka masalah di antara kedua saudara tersebut akan dapat dipecahkan, dan urutan dapat dipertahankan. Adanya pemimpin-pemimpin dalam hidup gereja ini merupakan tanda dari kerajaan. Ini merupakan suatu tanda bahwa kita memiliki Kristus yang dilambangkan oleh Musa, sebagai Kepala kita, dan ini juga menandakan bahwa kita semua berada di bawah kekepalaan-Nya.

Dalam berita ini telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa Keluaran 18 menyajikan gambaran mengenai kerajaan. Dalam pasal ini kita melihat empat aspek dari gambaran ini: kekalahan Amalek, yaitu daging, oleh umat Allah; kedatangan orang kafir yang ibadah untuk mencari Allah; bangunnya gereja orang kafir; dan pemeliharaan urutan yang tepat. Bila keempat hal ini digabungkan bersama, kita akan memiliki Kerajaan Allah sebagai hasil dari kenikmatan kita atas karunia keselamatan dan persediaan Allah.

Dalam tujuh belas pasal pertama dari Kitab Keluaran, umat Allah menikmati keselamatan dan persediaan-Nya.

Sekarang dalam pasal 18, kita memiliki hasil dari kenikmatan ini kerajaan sebagai ruang lingkup di mana umat Allah menerima visi tentang pola (contoh) tempat kediaman Allah, dan mendirikan Kemah Pertemuan menurut pola ini. Karena kerajaan diperlukan bagi pembangunan tempat kediaman Allah, maka Musa, di bawah ilham ilahi, menyisipkan peristiwa dari Ulangan 1 ini di antara Keluaran 17 dan 19, untuk melengkapi gambaran mengenai keselamatan Allah yang sempurna. Berdasarkan pengalaman kita, kita dapat bersaksi bahwa setelah kita menikmati karunia keselamatan dan persediaan Allah, kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, di mana segala sesuatunya teratur berurutan. Betapa kita memuji Tuhan atas hal ini! Adanya kerajaan memungkinkan kita membangun Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah.