← Daftar isi Keluaran (4) · bab 8/15

BAGAIMANA PARA PENCARI ALLAH DALAM PERJANJIAN LAMA MENIKMATI HUKUM TAURAT-NYA (1)

Pembacaan Alkitab:

Mzm. 119:1-2, 14-16, 20, 30, 35-36, 40, 42-43, 45, 47-48,

54, 55, 58, 66, 70, 74, 77, 80, 92, 94, 97, 103,

111-114, 117, 119, 127, 131-132, 135, 140, 147, 159,

162, 165, 167-170, 172-174; 19:10b

Mazmur 119 adalah sebuah mazmur yang teristimewa membicarakan hukum Taurat. Pasal ini merupakan bagian yang terpanjang dalam Kitab Mazmur, ditulis menurut rangkaian tulisan dengan abjad Ibrani, terdiri dari 22 bagian dengan masing-masing bagian terdiri dari 8 ayat. Jadi, mazmur yang terdiri dari 176 ayat ini mempunyai jumlah ayat yang lebih panjang daripada jumlah keseluruhan Kitab Efesus. Karena panjangnya, sulit mengungkapkannya secara ringkas.

Berita-berita terdahulu mengenai hukum Taurat Allah akan sangat menolong kita untuk memahami Mazmur 119. Pemazmur tidak menulis mazmur ini menurut teologi, melainkan menulis menurut perasaan dan pengalamannya, menurut aspirasi hatinya yang terdalam, dan menurut kenikmatannya akan hukum Taurat. Pemazmur mengekspresikan rasa lapar, rasa haus, dan rasa dambanya akan Tuhan. Seperti semua mazmur lainnya, Mazmur 119 dipenuhi dengan aspirasi, bukan doktrin. Ayat 131 mengatakan, “Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.” Di sini pemazmur menggunakan kata “megap-megap” (bernafsu sekali, mengharap-harapkan), yang mirip dengan kata-kata yang dipakai dalam Mazmur 42:2, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Catatan dalam sebuah ayat mengatakan bahwa dalam bahasa Ibrani kata “megap-megap” ditujukan kepada suatu keadaaan merindukan sumber mata air setelah menderita kepanasan yang hebat. Penggunaan kata-kata ini dalam Mazmur 119:131 dan 42:2 menunjukkan suatu perasaan dan aspirasi yang mendalam dari pemazmur tersebut. Pemazmur merasa kehausan dan megap-megap di hadapan Allah. Karena itu, sekalipun Mazmur 119 sangat banyak membicarakan tentang hukum Taurat, namun tidak membicarakan hukum Taurat dari sudut doktrin, tetapi dari pandangan pengalaman rohani. Mazmur ini ditulis oleh seseorang yang menghadapi hukum Taurat dengan cara menikmatinya. Dalam berita ini dan dalam berita-berita berikutnya, kita akan memeriksa Mazmur 119 dan memperhatikan bagaimana para pencari Allah dalam Perjanjian Lama menikmati hukum Taurat-Nya.

I. MENCARI ALLAH

Mazmur 119:2 mengatakan bahwa mereka yang menikmati hukum Taurat Allah dalam Perjanjian Lama adalah pencari-pencari Allah: “Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati.” Penulis Mazmur 119 adalah seorang pencari semacam ini. Banyak orang Kristen tidak mengenal dengan akrab akan istilah “pencari-pencari Allah”, sekalipun konsepsi ini sangat Alkitabiah. Menurut Mazmur 119, mencari Allah berhubungan dengan memelihara hukum Taurat. Jika Anda mencoba memelihara hukum Taurat tanpa mempunyai hati mencari Allah, maka usaha Anda akan sia-sia. Inilah kelemahan yang serius dari orang-orang Yahudi pada zaman Paulus. Berusaha memelihara hukum Taurat tanpa mencari Allah dengan sepenuh hati mereka, sehingga usaha keras mereka dalam memenuhi tuntutan hukum Taurat telah gagal. Jika kita ingin berjalan menurut hukum Taurat Allah, kita harus mencari Dia dengan segenap hati kita.

II. MENCINTAI NAMA-NYA DAN

MENGINGAT-NYA

Mazmur 119:132 mengatakan, “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebagaimana sepatutnya terhadap orang-orang yang mencintai nama-Mu.” Ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur mencintai nama Tuhan. Ayat 55 mengatakan, “Pada waktu malam aku ingat kepada nama-Mu, ya Tuhan; aku hendak berpegang pada Taurat-Mu.” Ketika pemazmur terjaga pada malam hari, ia mengingat nama Tuhan. Apa yang kita ingat pada malam hari mengungkapkan kegemaran kita yang sebenarnya, bahkan merupakan perkara yang memenuhi diri kita. Apakah yang Anda pikirkan ketika Anda terjaga pada malam hari? Jika Anda adalah seorang yang mencari Allah, Anda akan mengingat nama-Nya. Nama-Nya akan menjadi suatu pusat perhatian yang istimewa. Kaum muda, saya harap ketika Anda terjaga pada waktu malam, Anda tidak diduduki dengan barang-barang duniawi, melainkan mengingat nama Tuhan yang manis, yang tak ternilai indahnya. Seperti kaum beriman dalam Perjanjian Lama, kiranya kita semua mengasihi nama Tuhan dan mengingat-Nya, bahkan di tengah malam sekalipun.

III. MENCARI AKAN WAJAH-NYA

Mazmur 119:58 mengatakan, “Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati”. Terjemahan langsung: “Aku mencari wajah-Mu dengan segenap hati.” Mencari wajah seseorang sebenarnya adalah mencari diri-Nya. Jika kita mencari wajah Tuhan, kita akan menerima anugerah dan rahmat-Nya. Sering kali anak-anak tekun dan bersungguh-sungguh mencari wajah ibu mereka. Bagi mereka tidak ada sesuatu yang lain yang lebih berharga daripada melihat wajah ibu mereka. Kita juga seharusnya mencari Tuhan dengan cara yang intim seperti itu, mencari wajah-Nya. Wajah Tuhan membawakan belas kasihan kepada orang-orang yang mencari-Nya. Apa saja yang diperlukan pemazmur, ia akan mencari wajah Allah.

Mazmur 105:4 mengatakan, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” Menurut ayat ini, kita perlu terus-menerus mencari wajah Allah. Kemudian dalam Mazmur 42:6, pemazmur memuji Allah, “oleh pertolongan dari wajah-Nya” (Tl.). Dengan pribadi yang dalam dan dengan cara yang intim, pemazmur mencari pertolongan dari hadirat Tuhan.

IV. MEMOHON WAJAH-NYA MENYINARI MEREKA

Para pencari Allah dalam Perjanjian Lama juga memohon agar wajah Tuhan menyinari mereka. Mazmur 119:135 mengatakan, “Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu.” Pi-kiran ini berdasarkan pada aspek kedua dari berkat imam-imam dalam Bilangan 6:24-26, “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Tak dapat diragukan lagi, ketiga ganda berkat ini ditujukan kepada berkat Tritunggal; berkat Bapa, Putra, dan Roh. Mengenai berkat Putra, terdapat sebutan wajah Tuhan menyinari umat-Nya. Berdoa bagi penyinaran wajah Allah juga ditemukan dalam Mazmur 4:7 dan dalam 80:4, 8, 20, di mana pemazmur berdoa, “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar.” Kaum beriman pencari Allah dalam Perjanjian Lama bukanlah orang-orang yang hanya berusaha memelihara hukum Taurat secara harfiah. Dengan penuh kasih mereka mencari Allah dengan cara yang intim, dan bahkan memohon Dia untuk membuat wajah-Nya bercahaya atas mereka.

Jika kita tidak mempunyai hati yang seperti ini dalam mencari Tuhan, kita tidak akan peduli perihal penyinaran wajah-Nya. Bahkan andaikata Ia membuat wajah-Nya bersinar atas kita, kita juga tidak menyadari penyinaran itu. Untuk merasakan penyinaran wajah Tuhan, kita perlu sebuah hati yang mencari. Jika kita adalah orang-orang yang mencari Tuhan dalam cara yang intim, kita akan merasakan penyinaran wajah-Nya. Menurut 2Korintus 4:6, kita dapat mengalami penyinaran ini, “Sebab Allah yang telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus.” Terpujilah Tuhan karena kita dapat mengalami penyinaran wajah-Nya!

V. BERJALAN DI HADAPAN-NYA

Jika wajah Tuhan menyinari kita, dengan spontan kita akan berjalan di hadapan-Nya. Dalam Mazmur 119:168 pemazmur menyatakan, “Seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.” Ini menunjukkan bahwa semua perjalanannya adalah di hadapan Tuhan. Ini adalah suatu pernyataan yang jelas bahwa pemazmur bersatu dengan Tuhan.

Sekalipun perkara kesatuan dengan Allah ini diwahyukan secara sempurna dalam Perjanjian Baru, namun pernyataan ini juga ada dalam Perjanjian Lama. Mazmur 90:1 menyatakan, “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Mazmur ini ditulis oleh Musa, yang menunjukkan bahwa ia mengalami Tuhan sebagai tempat kediamannya. Allah adalah rumahnya, tempat tinggalnya. Tetapi perhatikan, Musa mengatakan “turun-temurun”. Ini menunjukkan kepada kita bahwa kaum beriman Perjanjian Lama turun-temurun mempunyai pengalaman tinggal di dalam Allah. Para pencari Allah dalam Perjanjian Lama tinggal di dalam Dia, mereka menjadi satu dengan Dia. Tinggal di dalam Allah adalah menjadi satu dengan Dia. Bagaimanakah para pencari ini dapat tinggal di dalam Allah tanpa orangnya benar-benar di dalam Allah dan menjadi satu dengan Allah? Apabila kita mempelajari Kitab Mazmur dengan cermat, kita akan nampak bahwa para pencari Allah dalam Perjanjian Lama menjadi satu dengan Dia melalui pemahaman dan kenikmatan mereka akan hukum Taurat. Mereka tidak saja berjalan di hadapan Allah, juga tinggal di dalam Allah, mengalami Allah sebagai tempat tinggal mereka.

VI. MEMANDANG HUKUM TAURAT ALLAH

SEBAGAI FIRMAN-NYA

Berkali-kali penulis Mazmur 119 mengatakan hukum Taurat Allah sebagai firman Allah. Ada perbedaan yang besar antara hukum Taurat dengan firman. Hukum Taurat adalah perintah-perintah yang membuat tuntutan-tuntutan bagi kita atau meminta kita memelihara aturan-aturan tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah. Sekalipun hukum Taurat menuntut, namun hukum Taurat itu sendiri tak dapat menyuplaikan hayat. Tentang hal ini Paulus menyatakannya dalam Galatia 3:21, “Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.” Sekalipun Taurat tak dapat memberikan hayat, namun firman Allah dapat menyuplai kita dengan hayat. Firman yang diucapkan oleh Allah adalah hembusan-Nya (2Tim. 3:16 Tl.). Menurut Alkitab, firman Allah juga adalah hayat, makanan, dan air. Firman ini akan menjadi suplai hayat kita setiap hari. Akan tetapi, jika kita memperlakukan hukum Taurat hanya sebagai hukum Taurat saja, dan tidak sebagai firman Allah, kita tidak akan menerima suplai hayat dari hukum Taurat itu. Terhadap kita, tak akan ada hembusan, air, atau makanan. Sebaliknya, kita akan mengambil hukum Taurat dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Akan tetapi, jika kita memandang hukum Taurat bukan hanya sebagai hukum Taurat, melainkan juga sebagai firman Allah, kita akan menerima firman Allah, kita akan menerima hayat, hembusan, makanan, dan air hidup melalui hukum Taurat itu. Menurut firman Tuhan Yesus dalam Yohanes 6:63, perkataan-perkataan-Nya adalah Roh dan hayat. Pemazmur dalam Mazmur 119 sekurang-kurangnya 37 kali menunjukkan hukum Taurat sebagai firman Allah. Pemazmur tidak hanya mendeklarasikan bahwa ia mengasihi hukum Taurat Allah, lebih-lebih mendeklarasikan bahwa ia mengasihi firman Allah. Ini membuktikan bahwa ia menganggap hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya yang hidup.

Alkitab adalah firman Allah. Tetapi jika kita membaca Alkitab hanya sebagai huruf-huruf hitam di atas putih dan tidak berkontak dengan Tuhan secara langsung, maka Alkitab hanya menjadi sebuah buku mati bagi kita. Paulus berkata, “Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh meng-hidupkan” (2Kor. 3:6). Kata “hukum tertulis” dalam bahasa Yunani dalam ayat ini sama dengan kata-kata yang dipakai oleh Paulus dalam 2Timotius 3:15 yang membahas tentang Kitab Suci. Jika Alkitab diambil hanya sebagai huruf-huruf saja, maka Alkitab itu mematikan. Akan tetapi, Roh mem-berikan hayat. Jika kita berkontak dengan Tuhan di dalam roh kita ketika kita membaca Alkitab, firman akan menjadi roh dan hayat bagi kita. Dalam pengalaman kerohanian kita, firman itu akan menjadi hembusan Allah. Ketika kita membaca Alkitab, kita perlu menjamah sumber firman ini, dan sumber ini tak lain adalah Allah sendiri.

Kita telah menunjukkan berkali-kali bahwa melalui fir-man, yang adalah hembusan nafas Allah (2Tim. 3:16), kita dapat menghirup Allah ke dalam kita. Orang-orang pengkritik telah memutarbalikkan perkataan-perkataan kita, mengulangi konteks kita kembali, dan mencela kita karena mengajarkan bahwa kaum beriman dapat menghirup Allah ke dalam mereka. Orang-orang itu mengatakan bahwa hal ini adalah suatu hujat dan pekerjaan daging. Namun, menurut Alkitab, firman Allah adalah hembusan nafas-Nya. Oh, betapa Allah ingin kita menghirup-Nya ke dalam kita! Kita berterima kasih kepada-Nya karena membawa realitas ini ke dalam pengalaman kita.

A. MEMPERCAYAINYA

Dengan memandang hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya, pemazmur percaya kepada firman, “Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu” (Mzm. 119:66). Menurut Perjanjian Baru, permintaan pertama untuk menerima firman Allah adalah kita percaya kepada firman tersebut. Kita harus mempercayai kesungguhannya, ketepatannya, kekuasaannya, dan kekuatannya.

B. MEMILIHNYA

Bersama-sama dengan para pencari Allah dalam Perjanjian Lama, kita juga harus memilih firman Allah. Mazmur 119:30 mengatakan, “Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.” Ayat 173 mengatakan, “Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu.” Betapa mengagumkan pilihan ini! Kita semua perlu mengambil keputusan yang tegas dalam memilih firman Allah.

C. MENAIKKAN TANGAN MEREKA KEPADANYA

Dalam Mazmur 119:48 kita menemukan suatu ekspresi yang luar biasa, “Aku menaikkan (mengangkat) tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.” Apakah artinya mengangkat tangan kita kepada firman Allah? Jika kita memperhatikan cara kita mengangkat tangan untuk memberi salam kepada seseorang, menyambutnya, kita akan bisa memahami hal ini. Mengangkat tangan kita kepada firman Tuhan berarti menyambutnya, menyatakan kita menerimanya dengan hangat dan mengatakan, “Amin,” kepadanya. Banyak di antara kita dengan spontan mengangkat tangan kita apabila diilhami oleh firman Allah. Karena itu, mengangkat tangan kita kepada firman Allah berarti menerimanya dengan senang hati.

D. MENGASIHINYA

Para pencari Allah dalam Perjanjian Lama mengasihi firman Allah. Sebanyak 11 kali penulis Mazmur 119 mengatakan mengasihi firman Allah (ayat 47, 48, 97, 113, 119, 127, 140, 159, 163, 165, 167). Saya juga dapat bersaksi bahwa saya mengasihi firman Allah. Tak ada buku lain yang bisa mendatangkan rasa sayang seperti Alkitab.

E. BERGEMAR DALAMNYA

Pemazmur juga menyenangkan dirinya dalam firman Allah (119:16, 24, 35, 47, 70, 77, 92, 174). Ia menikmati firman dan mendapatkan sumber kesenangan. Ada suatu kegemaran yang ditemukan dalam firman Allah. Setiap hari kita perlu mengambil waktu untuk menyenangkan diri kita dalam firman kudus.

F. MENGECAPNYA

Pemazmur bahkan mengecap firman Allah, “Betapa manisnya janji-Mu (perkataan-Mu, firman-Mu) itu bagi langit-langitku, lebih daripada madu bagi mulutku” (Mzm. 119:103). Perhatikan bahwa penulis bukannya mengatakan, “Betapa manisnya hukum-Mu!” Melainkan ia menyatakan, “Betapa manisnya perkataan-Mu!” Jika kita memandang hukum Taurat hanya sebagai perintah-perintah Allah, maka tidak akan terasa manis bagi kita. Tetapi jika kita menyadari bahwa hukum Taurat Allah adalah perkataan-Nya atau firman-Nya sebagai makanan dan suplai hayat kita, kita akan menikmati rasa yang manis. Menurut pengalamannya, pemazmur menyadari bahwa hukum Taurat adalah firman atau perkataan Allah yang manis. Taurat ini bukan hanya merupakan suatu daftar perintah yang mengatur, melainkan suatu firman yang menurut pengecapannya lebih manis daripada madu.

G. BERGEMBIRA DI DALAMNYA

Ketika kita mengecap firman Allah, kita bergembira di dalamnya. Pemazmur mengatakan, “Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira” (Mzm. 119:14), dan “Peringatan-peringatan-Mu . . . semuanya itu kegirangan hatiku” (ayat 111). Dalam ayat 162, pemazmur mempersaksikan kegembiraannya di dalam firman, “Aku gembira atas janji-Mu, firman-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan” (Tl.).

Bergembira di sini lebih daripada sekadar merasa senang. Boleh jadi kita merasa senang secara diam-diam, tetapi kita harus bersuara saat bergembira. Ada perbedaan suara antara kegembiraan dengan merasa senang. Ketika kita bergembira, memuji Tuhan, bahkan bersorak, kita bergejolak riang terhadap Tuhan. Bagi para penentang tertentu, hal ini adalah suatu kegaduhan. Mereka menyalahkan kita karena membuat suatu kegembiraan yang riuh di hadapan Tuhan. Namun, bagaimanapun juga kita harus menjadi orang-orang yang bergembira di dalam Tuhan dan di dalam firman-Nya. Jika Anda tidak bisa bergembira dengan spontan ketika Anda membaca Alkitab, boleh jadi Anda tidak pernah sepenuhnya digerakkan oleh firman itu. Setiap kali kita secara hidup memperoleh bantuan melalui Alkitab, dengan spontan kita bergembira di dalam firman.

H. MENYANYIKANNYA

Pemazmur mengatakan, “Ketetapan-ketetapan-Mu adalah nyanyian mazmur bagiku di rumah yang kudiami sebagai orang asing” (119:54). Pemazmur bahkan menyanyikan firman Allah. Kita tidak banyak mempunyai pengalaman ini. Kita perlu belajar dari pemazmur untuk menyanyikan firman dalam Alkitab. Saya anjurkan semua orang beriman menyanyikan firman Tuhan.

I. MENGHORMATINYA

Berikutnya, pemazmur menghormati semua perintah Tuhan (Mzm. 119:6 Tl.). Dalam ayat 117 ia menyatakan, “Aku hendak menghormati dalam ketetapan-ketetapan-Mu senantiasa” (Tl.). Jika kita benar-benar adalah pencari Allah yang sejati, kita pasti menghormati firman-Nya.

J. MEMPUNYAI HATI YANG TULUS DALAMNYA

Mazmur 119:80 mengatakan, “Biarlah hatiku tulus dalam ketetapan-ketetapan-Mu.” Kita perlu mempunyai hati yang tulus dalam firman Allah. Hati seperti ini adalah hati yang sehat, tidak mempunyai penyakit ketika berhubungan dengan firman Allah. Berkenaan dengan firman Allah, tak seharusnyalah kita mempunyai penyakit dalam hati kita. Kita perlu disembuhkan dari semua penyakit rohani, sehingga hati kita menjadi murni, tulus, dan sehat terhadap firman Allah.

K. HATI CONDONG KEPADANYA

Dalam Mazmur 119:36, pencari-pencari Tuhan berdoa, “Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.” Kemudian dalam ayat 112 ia menyatakan, “Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir.” Kita perlu mempunyai sebuah hati yang condong kepada firman Allah. Karena hati kita sering condong untuk berpisah dari firman Allah, kita perlu berdoa agar hati kita dipanggil kembali kepada firman Allah dan dicondongkan kepadanya. Pemazmur berdoa dengan cara seperti ini dan dapat bersaksi bahwa hatinya dicondongkan kepada ketetapan-ketetapan Tuhan. Di satu pihak, kita perlu berdoa agar Tuhan mencondongkan hati kita kepada firman; di pihak lain, kita perlu melatih roh kita untuk membawa hati kita kembali kepada firman dan menjadikannya condong kepada firman itu. Kita perlu memiliki hati yang tulus juga hati yang condong kepada firman Allah.

L. MENCARINYA, MERINDUKANNYA,

MENGHARAPKANNYA DENGAN DOA, DAN

MEMPERCAYAINYA

Para pencari Allah dalam Perjanjian Lama juga mencari firman Allah (Mzm. 119:45, 94), merindukannya (ayat 20, 40, 131), mengharapkannya dengan berdoa (ayat 43, 74, 114, 147), dan mempercayainya (ayat 42). Menurut pengalaman kita, hal-hal ini berjalan seiring dengan mempunyai hati yang tulus kepada firman dan hati yang condong kepada firman. Jika hati kita tulus kepada firman dan condong kepada firman Allah, maka kita akan mencari firman Allah. Banyak orang membaca Alkitab, namun tidak memperoleh sesuatu pun dari Alkitab, karena hati mereka tidak benar. Seorang sarjana memuji terjemahan dalam bahasa Mandarin dan sering mengutip dari dalamnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tidak menerima bantuan apa pun dari pembacaan firman Alkitab itu, dan ia mati sebagai seorang yang tidak beroleh selamat. Bahkan orang-orang Kristen boleh jadi mempelajari Alkitab tanpa memperoleh bantuan dari Alkitab itu sendiri. Alasan kekurangan ini ialah karena ada persoalan dalam hati mereka. Hati mereka tidak tulus, juga tidak sungguh-sungguh condong kepada firman Allah. Tetapi jika hati kita benar, kita tidak hanya mencari firman itu, tetapi juga merindukannya, mengharapkannya, dan mempercayainya.

Karena Mazmur 119 penuh dengan hasrat, ilham, terang, dan suplai, maka kitab ini dapat membantu kita untuk memahami aspek “siang” hukum Taurat, dan mengajar kita bagaimana menikmati hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya. Penulis Kitab Mazmur ini bukanlah seorang ahli teologi atau seorang guru Alkitab, melainkan seorang yang menulis untuk mengekspresikan pengalamannya dan kenikmatannya akan hukum Taurat Allah. Ketika kita membaca Mazmur 119, kita nampak bahwa apa yang telah ditunjukkan kepada kita mengenai aspek “siang” dari hukum Taurat adalah benar.

Gunung tempat hukum Taurat diberikan disebut Gunung Horeb atau Gunung Sinai. Gunung Horeb mempunyai referensi yang khusus terhadap aspek “siang” dalam pemberian hukum Taurat, sedangkan Gunung Sinai mempunyai penerapan yang khusus terhadap aspek “malam”. Berikutnya, ketika hukum Taurat diberikan, di sana ada dua golongan orang. Musa dan para pembantunya, adalah golongan yang pertama, yaitu orang-orang yang di atas gunung mengalami hadir Allah. Tetapi, mereka yang di kaki gunung adalah golongan yang lain lagi, yaitu orang-orang yang gemetar dalam kegelapan pada waktu pemberian hukum Taurat. Bagi Musa dan mereka yang mengikutinya, gunung itu adalah gunung Allah, tetapi bagi orang-orang lainnya, gunung itu adalah Gunung Sinai. Dalam berita-berita ini kita bukanlah berada di kaki gunung, melainkan berada di puncak gunung untuk menerima infus Tuhan. Dalam pengalaman mereka, para pemazmur dan semua pencari lainnya dalam Perjanjian Lama berada di puncak gunung dan menerima transfusi ilahi. Karena mereka diinfus dengan Allah, para pemazmur dapat menggunakan ungkapan yang mengagumkan, sangat bagus, dan bahkan yang menggairahkan untuk mengutarakan pengalaman mereka terhadap Allah dan kenikmatan mereka atas firman-Nya.

Mazmur 1 menyatakan bahwa hukum Taurat, bila diterima dengan cara yang tepat sebagai firman Allah, dapat menyuplai hayat kepada kita. Mereka yang senang akan hukum Taurat Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malam adalah seperti pohon yang tumbuh di tepi aliran air (ayat 2-3). Seperti yang akan kita tunjukkan dalam berita berikutnya, kata “merenungkan” di sini dalam bahasa Ibraninya meliputi dan menyiratkan arti penyembahan dan doa. Jika kita berkontak dengan hukum Taurat Allah dengan jalan merenungkan firman Allah dalam penyembahan dan doa, kita akan menjadi seperti pohon yang tumbuh di tepi aliran air. Inilah yang ditunjukkan oleh Mazmur 1, bahwa hukum Taurat dapat menyuplai kita serta mengairi kita.

Seperti yang telah kita tunjukkan dalam 2Korintus 3:6, Paulus mengatakan bahwa hukum tertulis mematikan. Apakah hukum mematikan kita atau menyuplai kita dengan hayat tergantung pada bagaimana kita memperlakukannya. Bila kita memandang hukum Taurat sebagai firman Allah yang hidup yang melalui-Nya kita berkontak dengan Tuhan dan tinggal bersama Dia, hukum Taurat akan menjadi sebuah saluran untuk penyuplaian hayat. Sumber hayat adalah diri Tuhan sendiri. Hukum Taurat sendiri bukanlah sumber semacam itu, melainkan merupakan sebuah saluran yang melaluinya hayat dan hakiki ilahi disampaikan kepada kita sebagai suplai dan jaminan makanan. Betapa penuh berkat menerima hukum Taurat dengan cara seperti ini!

Dalam Alkitab, mereka yang mengasihi dan mencari Allah bukanlah orang-orang yang hanya memelihara hukum Taurat Allah. Orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, orang-orang Yahudi juga memelihara hukum Taurat. Dalam keempat Injil kita nampak gambaran mereka yang fanatik dengan hukum Taurat dan menafsirkan hukum Taurat itu secara tradisional. Terhadap mereka, hukum Taurat bukanlah saluran hayat, melainkan huruf-huruf mati yang membawa mereka ke dalam maut. Sebaliknya, Simeon dan Hana yang tua memperoleh perawatan dan pendirisan dari hukum Taurat. Namun sukar untuk mengatakan di pihak mana Gamaliel berada. Sebagai guru hukum Taurat yang terna-ma, boleh jadi ia tidak di dalam “siang” maupun “malam”. Mungkin ia berada di dalam “sore”. Simeon dan Hana mewakili orang-orang “siang”; orang-orang Farisi dan Yahudi me-wakili orang-orang “malam”; sedang Gamaliel mewakili mereka yang di dalam “sore”.

Dalam pendekatan kita terhadap Alkitab hari ini, mungkin saja kita berada di dalam “siang”, atau di dalam “malam”. Oleh belas kasihan Tuhan, kita dapat bersaksi bahwa mengenai Alkitab, kita yang berada di dalam pemulihan Tuhan adalah di dalam “siang”. Ketika kita membaca firman Allah, kita mengalami terbitnya matahari, bukan terbenamnya matahari. Akan tetapi banyak di antara mereka yang membaca Alkitab berada di dalam “malam”. Seperti yang dikatakan Paulus perihal orang-orang Yahudi, pada mereka ada suatu selubung yang menyelubungi mereka tatkala mereka membaca Alkitab (2Kor. 3:14). Mereka diselubungi oleh tradisi mereka dan oleh konsepsi alamiah mereka. Dalam pengalaman mereka, Alkitab tak lain adalah buku yang terdiri dari huruf-huruf yang mati. Seperti orang-orang Farisi zaman kuno, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang Yahudi, mereka memegang firman tanpa kontak secara langsung dengan Tuhan. Mereka bukannya melatih roh mereka, sebaliknya mereka malahan bersandar kepada pengertian alamiah mereka. Selanjutnya, mereka sering bersikap fana-tik untuk mempertahankan tradisi agama mereka. Tetapi kapan saja kita datang kepada Tuhan, kita perlu berkontak dengan Tuhan. Ketika kita datang kepada Tuhan di dalam firman, kita perlu mempunyai suatu perasaan haus dan la-par akan Dia dan mencari Dia untuk menikmati Dia. Kisah mencari diri Tuhan ini diungkapkan dengan baik dalam baris-baris sebuah kidung:

Kudatang pada-Mu, dambakan diri-Mu!

Makan, minum Kau selalu, nikmati diri-Mu

Menatap wajah-Mu, hatiku pun rindu!

Bersentuhan ku dengan-Mu, puaslah di rohku

kuning(Kidung 588)

Dalam pembacaan dan doa-baca firman, kita harus mencari kemuliaan Tuhan, wajah yang bercahaya, sehingga pengalaman kita akan firman Allah ini akan menjadi sumber suplai hayat dan perawatan kita, dan kita akan berada di dalam “siang”, bukan di dalam “malam”.