← Daftar isi Keluaran (4) · bab 14/15

ASPEK NEGATIF PEMBERIAN HUKUM TAURAT DAN FUNGSINYA (2)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 19:10-24; 20:19-21; 32:1; Rm. 5:13,

20; 4:15; 7:7-8, 13; Gal. 3:19; Rm. 3:19; Gal. 3:23-24

Tidak banyak orang Kristen yang menyadari akan adanya dua aspek pemberian hukum Taurat dan fungsi hukum Taurat, yaitu aspek “siang” dan aspek “malam”. Sesungguhnya kebenaran yang sedemikian ini tersembunyi dalam Alkitab. Jika kita memasuki kedalaman dari kebenaran dalam Alkitab, dan merenungkannya dalam terang pengalaman rohani kita, kita akan nampak bahwa kedua aspek ini berhubungan dengan pemberian hukum Taurat dan fungsinya.

Orang-orang Kristen tidak seharusnya menganggap bahwa hukum Allah itu tidak baik. Dalam Roma 7:12, Paulus mengatakan, “Jadi, hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Selanjutnya dalam Roma 7:14 ia berkata, “Hukum Taurat bersifat rohani.” Jadi, hukum Taurat adalah baik juga rohani.

Kata sifat “rohani” digunakan oleh Paulus berkenaan dengan hukum Taurat, menunjukkan bahwa hukum Taurat berhubungan dengan Roh Allah. Karena hukum Taurat adalah sesuatu yang berasal dari Allah dan terbit dari Allah, juga milik Allah, yang adalah Roh (Yoh. 4:24), maka intisari dan sifat dari hukum Taurat itu sama seperti Allah. Apa saja yang terbit dari Allah, pasti memiliki substansi yang sama seperti Allah. Kata “rohani” dalam Roma 7:14 menunjukkan substansi ini. Benda-benda tertentu mungkin sangat baik, tetapi karena substansi dari benda-benda tersebut bukan berasal dari Roh itu, maka benda-benda tersebut tidak dapat dikatakan rohani. Karena hukum Taurat terbit dari Allah dan memiliki substansi yang sama seperti Allah, maka hukum Taurat adalah baik juga rohani.

Karena Allah adalah sumber dari hukum Taurat dan substansinya, maka sifat dari hukum Taurat sangat tinggi. Kita tidak seharusnya menganggap hukum Taurat sebagai sesuatu yang tidak baik atau tidak rohani. Dalam membicarakan hukum Taurat dalam Roma 7, Paulus sangat hati-hati. Ia dengan tegas menyatakan bahwa hukum Taurat itu kudus dan juga rohani. Tidak peduli apakah kita baik atau jahat, rohani atau tidak rohani, hukum Taurat tetap baik dan rohani. Meskipun kita jahat, hukum Taurat tetap baik. Mes-kipun kita tidak rohani, tetapi hukum Taurat bersifat rohani. Tidak peduli bagaimana kita, hukum Taurat tetap baik juga rohani.

Meskipun hukum Taurat itu sendiri selalu baik dan rohani, tetapi penyampaian hukum Taurat boleh jadi bersifat positif atau negatif, “siang” atau “malam”, tergantung pada keadaan rohani kita. Bagi seseorang mungkin penyampaian hukum Taurat bersifat sangat negatif, tetapi bagi orang lainnya, penyampaian hukum Taurat sama sekali bersifat positif.

Kedua aspek penyampaian hukum Taurat ini, yaitu aspek “siang” dan aspek “malam”, dapat dilihat pada saat yang sama pemberian hukum Taurat di atas gunung. Gunung tempat hukum Taurat diberikan, disebut Gunung Horeb dan Gunung Sinai. Bagi Musa yang berada di puncak gunung, gunung itu adalah Gunung Horeb, yaitu gunung Allah. Tetapi bagi bangsa yang berada di kaki gunung, gunung itu adalah Gunung Sinai.

Saya yakin, Musa tidak akan pernah melupakan pengalamannya yang indah bersama Tuhan di puncak gunung itu. Ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes bersama-sama dengan Tuhan Yesus di gunung pengubahan, mereka melihat Tuhan berubah rupa, tetapi mereka sendiri tidak berubah rupa. Namun ketika Musa berada di puncak gunung bersama-sama dengan Tuhan, ia sendiri benar-benar telah diubah. Ketika ia turun setelah menghabiskan waktu selama 40 hari bersama Allah di puncak gunung, kulit wajahnya bersinar dengan unsur Allah yang telah ditransfusikan ke dalamnya. Sinar terang yang dipancarkan dari wajah Musa adalah sinar terang Allah sendiri. Seandainya terang ini bukan terang Allah, lalu terang macam apakah itu? Bagi Musa, gunung tempat hukum Taurat diberikan bukanlah Gunung Sinai; melainkan Gunung Horeb, yaitu gunung Allah.

Ketika Musa berada di puncak gunung dan diinfus oleh Allah, ia telah berbaur dengan Allah. Sebagaimana Petrus tidak dapat melupakan pengalamannya di gunung pengubahan dan ia mengatakannya ketika ia telah tua (2Ptr. 1:17), demikian pula Musa tidak dapat melupakan pengalamannya di gunung Allah, tempat ia melihat Tuhan, diinfus dengan unsur-Nya, dan berbaur dengan Dia. Di dalam kebodohan dan kebutaan, beberapa orang hari ini menentang kebenaran yang mengatakan bahwa kaum beriman dapat berbaur dengan Allah. Menurut mereka, ajaran yang mengatakan bahwa kita dapat berbaur dengan Allah adalah bidah. Tetapi jika Musa tidak berbaur dengan Allah, bagaimana kita harus menerangkan bersinarnya wajah Musa? Apa yang menyebabkan wajahnya bersinar sehingga bangsa itu takut melihat dia? Musa diinfus oleh Allah sendiri dan mengalami semacam pengubahan rupa.

Dalam Alkitab dikatakan, hanya ada dua orang yang wajahnya bersinar: Kristus di gunung pengubahan, dan Musa ketika ia turun dari Gunung Horeb. Tatkala Kristus berada di gunung pengubahan, wajah-Nya bercahaya seperti matahari (Mat. 17:2). Seperti yang telah saya tunjukkan, ketika Musa turun dari gunung setelah memandang Tuhan selama 40 hari, kulit wajahnya juga bercahaya. Akhirnya, kaum beriman akan bercahaya seperti matahari. Dalam Matius 13:43, Tuhan Yesus berkata bahwa “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” Jika kita ingin menjadi orang yang bercahaya seperti matahari, kita perlu menjadi seperti Musa yang berada di puncak gunung, memandang Tuhan, dan diinfus oleh Dia.

Apakah dalam pengalaman kita penyampaian hukum Taurat itu bersifat positif atau negatif, “siang” atau “malam”, bukan tergantung pada hukum Taurat itu sendiri, melainkan tergantung pada kondisi kita. Jika kita adalah Musa yang berada di puncak gunung, bagi kita penyampaian hukum Taurat itu akan menjadi pengalaman yang indah. Tetapi jika kita seperti orang-orang Israel yang gemetar di kaki gunung, dalam pengalaman kita penyampaian hukum Taurat itu akan menakutkan dan mengerikan.

Pada saat hukum Taurat diberikan, di sini terlibat tiga kategori: Musa, dan mungkin juga Yosua, yang berada di puncak gunung; orang-orang Israel yang berada di kaki gunung; dan orang-orang yang berada di gunung itu serta sujud menyembah dari jauh. Sebagai orang yang berada di puncak gunung, Musa mengalami transfusi dan infus Allah. Sedangkan orang-orang yang berada di gunung, yaitu yang tidak berada di puncak maupun di kaki gunung, sujud menyembah dari jauh. Dan mereka yang berada di kaki gunung, gemetar ketakutan. Berada di manakah Anda dalam pengalaman Anda? Apakah Anda berada di kaki gunung dan gemetar, atau Anda berada di gunung itu sujud menyembah dari jauh, atau apakah Anda berada di puncak gunung itu dan sedang diinfus dengan unsur Allah?

Bagi Musa, dan mungkin juga Yosua, penyampaian hukum Taurat itu merupakan pengalaman yang indah. Tetapi bagi mereka yang berada di kaki gunung, penyampaian hukum Taurat itu sangat menakutkan. Inilah alasannya mengapa mereka ketakutan dan gemetar. Hal yang terpenting di sini ialah apakah pemberian hukum Taurat itu bagi kita bersifat positif atau negatif, “siang” atau “malam”, bukan ditentukan oleh hukum Taurat itu sendiri, melainkan oleh kondisi kita. Jika keadaan kita positif, maka pemberian hukum Taurat tersebut juga bersifat positif. Tetapi jika keadaan kita negatif, maka penitahan hukum Taurat tersebut akan menjadi negatif.

Prinsip ini berlaku pula ketika kita membaca Alkitab. Dalam pengalaman kita, Alkitab mungkin saja menjadi kitab “siang” atau kitab “malam”. Banyak orang yang berpegang pada ketakhayulan bahwa Alkitab hanya memberikan per-kara-perkara yang baik saja bagi orang yang membacanya. Menurut kepercayaan takhayul ini, bila seseorang datang kepada Alkitab, ia akan menerima sesuatu yang positif. Akan tetapi, banyak orang yang datang kepada Alkitab dan tidak menerima sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya demikian, secara rohani, kaum beriman dan kaum tidak beriman sama-sama terbunuh oleh Alkitab. Mereka yang menerima Alkitab sebagai buku dari huruf-huruf mati akan terbunuh olehnya. Hal ini telah menjadi pengalaman dari sebagian be-sar orang Kristen, termasuk para pendeta dan pelajar Alkitab. Jika orang-orang terbunuh oleh Alkitab, kesalahannya bukan terletak pada Alkitab, tetapi pada mereka yang membaca-nya. Sama seperti hukum Taurat, Alkitab adalah baik dan juga rohani. Sebagai suatu pemberian dari Allah, dalam segala hal Alkitab tidak mungkin keliru. Tetapi bagi mereka yang keadaan rohaninya “malam”, Alkitab menjadi kitab “malam”. Sekali lagi kita nampak, apakah Alkitab bagi kita merupakan kitab “siang” atau kitab “malam” dalam pengalaman kita tidak ditentukan oleh Alkitab itu sendiri, melainkan ditentukan oleh kondisi rohani kita.

Sejak semula, kehendak Allah dalam memberikan perintah-perintah-Nya kepada manusia bukanlah supaya manusia memelihara dan melakukan sesuatu untuk Dia. Kehendak kekal Allah ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Bila Ia datang dan berbicara kepada kita, Ia tidak bermaksud untuk memberikan sejumlah perintah kepada kita supaya kita ketahui dan kita pelihara. Sebaliknya, kehendak-Nya hanyalah tinggal bersama kita, untuk menginfuskan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Semakin kita tinggal dalam hadir Allah, kita akan semakin diinfus oleh Dia.

Di China Utara tempat saya dilahirkan, pada musim dingin, udaranya sangat dingin sekali. Bertahun-tahun yang lalu, kami menggunakan perapian batu bara untuk memanaskan ruangan. Pada hari-hari yang sangat dingin saya berdiri di dekat perapian itu dan menyerap panasnya. Ketika saya masuk ke dalam ruangan lain setelah beberapa saat berada di dekat perapian itu, orang lain dapat merasakan panas yang keluar melalui pakaian saya. Dengan berdiri di dekat perapian tersebut, saya telah diinfus dengan panas yang berasal dari perapian itu. Inilah gambaran mengenai bagaimana kita diinfus oleh Allah, dengan jalan menghabiskan waktu bersama Dia. Kehendak Allah ialah memiliki suatu bangsa yang tinggal di dekat-Nya, sehingga Ia dapat mentransfusikan unsur-Nya ke dalam mereka.

Ketika Musa berada di Mesir, ia melihat bagaimana orang-orang Israel dianiaya oleh orang-orang Mesir. Karena itu, ia memutuskan hendak membebaskan umat Allah dari perbudakan di Mesir. Apakah Musa benar atau salah dalam usahanya untuk membebaskan bangsa itu, yang jelas ia pasti bertindak dalam cara yang bodoh. Kemudian, ketika Allah membebaskan bangsa itu keluar dari tanah Mesir, kehendak-Nya bukanlah hanya untuk membebaskan mereka dari tawanan, Jika kita memiliki visi surgawi, kita akan nampak bahwa kehendak Allah adalah membawa kembali kepada-Nya bangsa yang telah dipisahkan dari Dia, sehingga mereka dapat tinggal bersama Dia.

Setelah mencoba menolong orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir, Musa melarikan diri ke padang gurun. Ia benar-benar merasa kecewa dan putus asa. Selama di pa-dang gurun, Musa terpaksa membuang harapannya untuk memiliki karir yang besar. Tidak peduli bagaimana bentuk ambisi atau keinginan yang dimiliki oleh seseorang, setelah tinggal 40 tahun di padang gurun, ambisi itu akan hilang. Musa berusia 40 tahun ketika ia mencoba menolong orang-orang Israel. Empat puluh tahun kemudian, ketika ia berusia 80 tahun, ia menganggap dirinya telah siap untuk mati. Menurut perkataan Musa dalam Mazmur 90, bahkan mereka yang kuat pun jangan berharap untuk hidup lebih dari 80 tahun. Menjelang saat ia mencapai umur 80 dan mengira dirinya telah tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain mati, Musa telah membuang segala ambisinya. Semua keinginannya telah hilang. Menurut pendapatnya, ia telah tamat. Mungkin ia berkata kepada jemaah itu ketika ia menuntun mereka, “Aku hendak mati, kawan, dan aku tidak tahu berapa lama lagi aku dapat menyertai kalian. Mungkin beberapa hari lagi aku akan meninggal.” Tiba-tiba pada suatu hari Musa melihat semak duri yang menyala, tetapi tidak dimakan api. Ketika ia menyimpang untuk “melihat penglihatan yang hebat itu”, dan memeriksa mengapa semak duri itu tidak terbakar (Kel. 3:3), Allah memanggilnya dari tengah-tengah semak duri itu (ayat 4). Tidak heran bahwa Musa kemudian berbicara mengenai Allah yang tinggal dalam semak duri (Ul. 33:16). Allah menghendaki Musa melupakan apa yang telah ia kerjakan. Lagi pula, Allah tidak menghendaki Musa kecewa atau putus asa. Ia telah datang untuk memanggil Musa dan mengutus Musa kembali ke Mesir, sehingga Musa dapat membawa bangsa itu keluar dari perbudakan, dan memimpin mereka ke tempat Allah berada. Dalam Keluaran 3:12, Tuhan berkata kepada Musa,”Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Seperti yang telah ditunjukkan dalam ayat ini, tujuan Allah bukan hanya menolong bangsa itu dari penganiayaan di Mesir, tetapi juga membawa mereka kepada diri-Nya sendiri di gunung Allah. Kita perlu nampak aspek yang positif dari penyelamatan Allah ini.

Tidak banyak orang Kristen yang nampak tujuan Allah dalam penyelamatan-Nya. Bagi mereka, keselamatan hanyalah meliputi dibebaskan dari neraka saja. Tetapi Alkitab menekankan perkara yang positif, yaitu penyelamatan Allah adalah untuk membawa umat-Nya kembali kepada diri-Nya sendiri. Menurut Perjanjian Baru, dalam penyelamatan-Nya Allah tidak hanya membawa umat-Nya kepada diri-Nya sendiri, tetapi juga ke dalam diri-Nya sendiri. Jadi, tujuan Allah dalam penyelamatan-Nya adalah untuk membawa umat pilihan-Nya kepada diri-Nya sendiri, bahkan ke dalam diri-Nya sendiri.

Menurut gambaran dalam Kitab Keluaran, Allah melakukan segala sesuatu untuk membawa umat-Nya keluar dari perbudakan di Mesir, dan memimpin mereka kepada diri-Nya sendiri di gunung Allah di padang gurun. Ia membawa mereka keluar dari Mesir melalui Laut Merah dan padang gurun, di mana Ia memberikan air untuk diminum dan makanan untuk dimakan. Akhirnya, Allah membawa orang-orang Israel ke tempat Ia telah menampakkan diri kepada Musa dan memanggilnya. Dalam Keluaran 5:1, Tuhan berkata kepada Firaun melalui Musa dan Harun, “Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.” Dalam Keluaran 10:9, sekali lagi Musa berkata kepada Firaun, “Kami harus mengadakan perayaan un-tuk TUHAN.” Allah menghendaki umat-Nya datang ke gunung-Nya, untuk mengadakan perayaan bersama Allah dan bagi Allah. Allah tidak berkata kepada Musa, “Banyak perkara yang harus dikerjakan oleh orang-orang Israel. Aku ingin engkau menolong mereka dari Mesir, sehingga mereka dapat mengerjakan suatu pekerjaan yang besar bagi-Ku.” Sebaliknya, Allah memerintah Musa untuk memimpin bangsa itu keluar dari Mesir, supaya mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Nya. Akhirnya, Allah menggenapkan firman-Nya, membawa bangsa itu ke gunung-Nya.

II. ASPEK NEGATIF DARI PEMBERIAN HUKUM TAURAT

Dalam membawa bangsa itu ke gunung Allah, Allah tidak bermaksud memberikan perintah-perintah kepada mereka untuk dipelihara. Kali pertama Allah berbicara kepada bangsa itu dalam Keluaran 19, di sana tidak ada guruh, kegelapan, dan bunyi sangkakala. Suasana gunung itu sangat menyenangkan dan tenang. Keluaran 19:4 mengatakan, “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Bangsa itu berjalan keluar dari Mesir melalui padang gurun, dan menuju ke gunung Allah. Tetapi dalam pandangan Allah, Ia telah mendukung mereka kepada diri-Nya sendiri di atas sayap rajawali. Setelah menyamakan diri-Nya dengan seekor burung rajawali yang besar, Tuhan lalu berkata bahwa bangsa itu akan menjadi milik pribadi-Nya, dan mereka akan menjadi bagi-Nya “kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (ayat 5-6). Apakah ini merupakan perkataan hukum Taurat atau perkataan anugerah? Perkataan ini adalah perkataan anugerah, bukan hukum Taurat. Sebenarnya, perkataan ini adalah perkataan kasih yang diekspresikan melalui anugerah.

A. MEMBAWA ORANG-ORANG ISRAEL KE DALAM SUATU POSISI UNTUK MENGENAL DIRI SENDIRI

Seandainya bangsa itu telah diberi penerangan mengenai Allah dan diri sendiri, mereka pasti akan berkata, “Tuhan, kami mengucap syukur atas belas kasihan-Mu. Kami tidak patut mendapatkannya. Kami tidak layak menerimanya. Apa yang dapat kami lakukan hanyalah mengucap syukur kepada-Mu.” Tetapi ketika orang-orang Israel mendengar firman yang Allah sampaikan kepada Musa, mereka menjawab “segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan” (ayat 8). Ini menunjukkan bahwa bangsa itu tidak mempunyai hati terhadap Allah, dan mereka tidak mengenal-Nya. Bahkan Harun pun setidak-tidaknya agak bodoh. Kalau tidak, bagaimana ia dapat dibujuk agar membuat anak lembu emas bagi bangsa itu untuk disembah? Reaksi bangsa itu dan perbuatan Harun dalam membentuk anak lembu emas tersebut, membuktikan bahwa orang-orang Israel tidak mengenal Allah, dan mereka benar-benar tidak mempunyai hati terhadap Dia.

B. MENGUJI ORANG-ORANG ISRAEL

Karena bangsa itu tidak mengenal Allah maupun diri mereka sendiri, maka Allah mengubah suasana dan sikap-Nya terhadap mereka. Ia berkata kepada Musa bahwa Ia akan datang dalam awan yang tebal (ayat 9). Ia juga menyuruh bangsa itu menguduskan diri mereka, mencuci pakaian mereka, dan mematuhi batas yang telah Allah tentukan. Keluaran 19:12 mengatakan, “Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati.” Dalam ayat 16 kita nampak, betapa menjadi menakutkan dan mengerikannya suasana di sana, “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.”

Tujuan Allah semula bukanlah untuk menciptakan suasana yang sedemikian ini. Tetapi hanya Musalah yang mengetahui tujuan Allah. Ia menyadari bahwa Allah tidak bermaksud membuat bangsa itu takut. Inilah alasannya mengapa ia mengatakan kepada bangsa itu dalam Keluaran 20:20, “Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu.” Musa tahu bahwa Allah sedang menguji bangsa itu. Ia menyadari bahwa tujuan Allah bukan untuk menciptakan guruh, kegelapan, kilat, dan bunyi sangkakala yang menakutkan. Di antara orang-orang Israel, hanya Musalah yang mengetahui kehendak hati Allah.

Kemudian Musa naik ke puncak gunung dan tinggal bersama Allah selama 40 hari. Bertahun-tahun yang lalu, saya mengira bahwa 40 hari ini adalah pengujian bagi orang-orang Israel. Tetapi 40 hari ini terutama bukanlah untuk menguji orang-orang Israel, melainkan untuk memberi kesempatan kepada Musa agar diinfus oleh Allah. Semakin lama saya tinggal di dekat perapian yang ada di rumah saya, semakin banyak pula panas yang saya serap. Demikian pula, semakin lama Musa tinggal bersama Allah di puncak gunung, ia semakin diinfus oleh Allah.

Mengenai sebagian besar dari waktu selama 40 hari ini, tidak terdapat catatan yang mengatakan bahwa baik Musa maupun Allah mengerjakan sesuatu. Hanya pada akhir dari hari-hari itulah Allah mulai berbicara kepada Musa. Allah benar-benar merasa gembira hanya karena salah seorang dari umat-Nya tinggal bersama Dia. Apakah Anda akan merasa puas tinggal bersama Allah selama 40 hari tanpa mengerjakan sesuatu apa pun? Mungkin seorang saudara mengundang Anda ke ruang tamunya, dan meminta Anda duduk bersama dia. Kemudian selama 12 jam ia hanya duduk bersama Anda dan memandang Anda, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Apakah Anda tahan? Saya rasa, tidak ada seorang pun yang tahan dalam situasi yang sedemikian ini, terutama mereka yang berwatak lincah. Tetapi Musa tinggal bersama Allah di puncak gunung selama 40 hari, tanpa makan, minum, dan tidur. Tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa telah diadakan transaksi dalam soal pekerjaan antara Allah dengan Musa. Satu-satunya perkara yang terjadi ialah Musa menerima transfusi ilahi. Unsur Allah diinfuskan ke dalam dia.

Seorang cucu perempuan saya yang kecil senang sekali mengunjungi kami suami istri. Seorang anak kecil, pada umumnya datang hanyalah dengan maksud supaya memperoleh sesuatu yang enak untuk dimakan. Jadi bila ia memiliki sumber lain yang dapat memberikan barang-barang tersebut, kami lama tidak melihatnya. Namun, ketika ia telah tidak memiliki sumber lain, ia datang mengunjungi kami. Akan tetapi kunjungannya itu tidak lama, karena tujuannya bukan untuk tinggal bersama kami, melainkan untuk memperoleh sesuatu dari kami dan kemudian pergi. Berbeda dengan kami, kami menikmati kehadirannya dan ingin supaya ia lebih lama tinggal bersama kami. Kelakuan cucu saya ini merupakan gambaran dari cara kita dalam berhubungan dengan Allah. Kita datang kepada Dia bukan untuk tinggal bersama-sama dengan Dia, melainkan untuk memperoleh sesuatu yang baik dari Dia. Segera setelah kita menerimanya, kita lalu pergi. Jadi, mungkin kita berdoa kepada Tuhan, dan bahkan bertemu dengan Dia dalam persekutuan, untuk memperoleh sesuatu yang berguna bagi kita.

Allah mengetahui, betapa sukarnya kita tinggal dalam hadirat-Nya tanpa mengerjakan apa pun. Karena bersimpati terhadap kelemahan kita, boleh jadi Ia menyuruh kita melakukan perkara-perkara tertentu untuk menjaga supaya kita tetap bersama Dia, sehingga kita boleh diinfus oleh Dia. Tetapi menurut konsepsi alamiah kita, kita menganggap Allah mempunyai keinginan dan permintaan terhadap kita. Oh, semoga kita nampak bahwa tujuan Allah ialah menginfus kita dengan apa adanya Dia dan apa yang Dia miliki! Agar infus ini terjadi, kita perlu tinggal bersama Dia.

Setelah menghabiskan waktu selama 40 hari di puncak gunung dan diinfus oleh Allah, Musa bersinar dengan terang Allah. Perhatikan, Allah tidak meminta Musa melakukan apa pun. Sebaliknya, Ia mentransfusikan diri-Nya sendiri ke dalam Musa, sampai Musa mulai bersinar oleh Dia. Inilah alasannya ketika Musa turun dari gunung, kulit wajahnya bercahaya. Pekerjaan yang terbesar di bumi ini ialah meng-habiskan waktu untuk diinfus oleh Allah, sehingga kita dapat memancarkan Allah. Ini jauh lebih besar daripada jika kita melakukan sesuatu untuk Allah. Jika kita ingin memancarkan Allah, kita perlu menghabiskan waktu bersama Dia, bukan untuk melakukan sesuatu, tetapi membiarkan Ia ditransfusikan ke dalam kita.

Beban saya dalam berita ini ialah menunjukkan bahwa tujuan Allah dalam membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir adalah untuk memimpin mereka ke gunung-Nya, sehingga Ia dapat menginfus mereka dengan diri-Nya sendiri. Ia menghendaki supaya mereka diinfus oleh Dia, bahkan seperti semak duri yang menyala yang telah diinfus itu. Semak duri yang menyala tanpa terbakar itu sepenuhnya telah diinfus oleh Allah. Allah berada di dalam semak duri itu, dan Ia berbicara dari tengah-tengahnya. Allah menghendaki seluruh umat-Nya dibawa ke tempat di mana Ia dapat menginfus mereka dengan diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, Ia berkata kepada mereka bahwa Ia mendukung mereka di atas sayap rajawali, dan Ia akan menjadikan mereka harta kesayangan dan kerajaan imam bagi Dia.

Ketika bangsa itu mendengar perkataan tersebut, seharusnya mereka bersujud dan mengaku, “Ya, Allah, kami tidak dapat menjadikan diri kami sendiri sebagai harta kesayangan-Mu. Kami tidak berharga. Tidak ada jalan bagi kami untuk menjadi harta kesayangan-Mu.” Jika mereka bersikap demikian, Allah pasti akan berkata, “Aku akan menjadikan kalian sebagai harta kesayangan-Ku. Tinggallah bersama-Ku, dan Aku akan menginfus kalian dengan apa adanya Aku. Akhirnya, kalian akan menjadi berharga dalam pandangan-Ku.” Bayangkan, bagaimana situasinya jika kedua juta orang Israel itu telah diinfus oleh Allah dan memancarkan Allah. Boleh jadi kemuliaan mereka sama dengan kemuliaan Yerusalem Baru.

Umat Allah tidak memahami tujuan Allah. Konsepsi mereka ialah mereka harus mengerjakan perkara-perkara tertentu bagi Allah. Lagi pula, mereka ingin mengerjakan perkara-perkara itu, dan mengira mereka mampu melaksanakan perkara itu. Mereka telah melihat apa yang Allah lakukan bagi mereka, dan sekarang mereka hendak melakukan sesuatu untuk Dia. Konsepsi inilah yang menyebabkan mereka jatuh.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri mengapa Allah memberikan buku besar yang sedemikian ini kepada kita sebagai Alkitab? Pada beratus-ratus pasal dalam Alkitab, terdapat banyak sekali perintah besar yang harus kita pelihara. Perintah-perintah itu sering diulang, sebab kehendak Allah ialah agar kita bersama Dia melalui firman. Untuk tinggal bersama Allah, kita perlu tinggal di dalam firman. Tetapi sering kali ketika kita datang kepada Alkitab, kita tidak datang kepada Allah. Selain itu, ketika kita tinggal bersama Alkitab, kita tidak memiliki perasaan bahwa kita sedang tinggal bersama Allah. Alangkah perlunya konsepsi kita ini diubah! Setiap kali kita datang kepada Alkitab, kita harus datang kepada Allah dan tinggal bersama Dia. Ya, Alkitab memang menunjukkan kepada kita perkara-perkara yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Tetapi semua perkara itu merupakan masalah yang kedua. Masalah utamanya ialah melalui firman kita tinggal bersama Allah dan diinfus oleh Dia. Sayang sekali, kita mudah dialihkan dari Allah oleh hal-hal lain. Tidak banyak orang seperti Musa, yang tinggal bersama Allah menurut kehendak hati-Nya. Sekali lagi saya ingin menunjukkan bahwa selama 40 hari bersama Allah di puncak gunung, Musa tidak melakukan apa pun. Allah tidak menghendaki Musa melakukan apa-apa, melainkan diinfus oleh Allah sendiri.

Dalam Alkitab, kita dapat mengetahui apa yang Allah katakan dan kehendaki terhadap kita. Tetapi masalah utama-nya ialah kita tinggal bersama Allah melalui firman. Namun tidak mudah bagi kita untuk melaksanakan hal ini. Kecenderungan kita dalam membaca Alkitab hanyalah untuk menge-tahui apa yang dikatakan Alkitab mengenai perkara-perkara tertentu. Selama membaca Alkitab, mungkin kita memutuskan bahwa kita akan melaksanakan apa yang Alkitab katakan. Sedikit sekali di antara kita yang menyadari bahwa jika kita membuat keputusan yang sedemikian, sebenarnya kita telah mengesampingkan Allah. Mereka yang datang kepada firman dalam cara yang sedemikian tidak diberkati oleh Allah. Jika kita ingin diberkati oleh Dia melalui firman, kita perlu nampak bahwa apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dan apa yang Dia katakan kepada kita, adalah masalah kedua. Yang menjadi masalah utamanya ialah kita tinggal bersama Allah dan diinfus oleh Dia. Alasan Allah berbicara kepada kita dan menyuruh kita melakukan perkara-perkara tertentu, ialah karena Ia menginginkan kita tinggal bersama Dia.

Mengapa kita sungguh-sungguh perlu membaca Alkitab? Ketika saya masih muda, saya diberi tahu bahwa sebagai orang Kristen, saya harus membaca Alkitab agar mengetahui apa yang harus saya lakukan. Ya, dengan membaca Alkitab, kita memang mengetahui banyak perkara besar yang harus kita lakukan, bahkan mungkin beratus-ratus atau beribu-ribu perkara. Masalahnya ialah kita tidak mampu melaksanakan perkara-perkara itu. Meskipun demikian, dalam konsepsi alamiah kita, kita ingin mengetahui apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan, dan kita bermaksud melaksanakannya. Kita selalu bersikap ingin melaksanakan apa saja yang Allah katakan. Kita bertekad untuk melaksanakan perkara-perkara tersebut, tetapi dalam prakteknya kita mengesampingkan Allah. Sebagai pengganti dari bertekad untuk melakukan apa yang Alkitab katakan, kita harus berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, aku mengasihi firman-Mu, dan aku mengasihi segala sesuatu yang Engkau katakan kepadaku.” Jika kita berkata demikian kepada Tuhan, Ia akan menjawab, “Sungguh baik sekali! Sekarang kamu perlu mengetahui bahwa untuk apa saja yang harus kamu lakukan, Aku akan melakukannya untukmu dan melalui dirimu.”

Dalam sebuah kidung mengenai amin terhadap firman Allah, terdapat sebaris kalimat yang sangat saya hargai:

Janganlah tegar, sandarlah firman, aminlah firman-Nya!

(Suplemen No. 414)kuning

Apa yang tidak mampu kita lakukan, Allah hendak melakukannya di dalam kita. Sebagai contoh, seorang suami harus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau menghendaki aku mengasihi istriku. Tuhan, aku mengasihi-Mu, tetapi aku tidak dapat mengasihi istriku.” Kemudian Tuhan akan berkata, “Benar, kamu tidak dapat mengasihi istrimu, tetapi Aku akan mengasihinya melalui dirimu. Apa yang tidak mampu kaulakukan, Aku akan melakukannya di dalammu.” Mengenai perintah untuk mengasihi para saudara dan sesama kita seperti diri kita sendiri, kita harus pula berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, tetapi aku harus jujur terhadap-Mu. Aku tidak dapat mengasihi para saudara, dan aku tidak dapat mengasihi orang lain seperti diriku sendiri. Aku mempunyai banyak tetangga dan keluarga, tetapi aku tidak dapat mengasihi mereka. Tuhan, aku mengasihi-Mu dan firman-Mu, tetapi aku tidak dapat mengasihi orang lain.” Sekali lagi Tuhan akan mengatakan kepada kita bahwa apa yang tidak mampu kita lakukan, Ia akan melakukannya dari dalam diri kita. Inilah ekonomi Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.