← Daftar isi Keluaran (4) · bab 13/15

ASPEK NEGATIF PEMBERIAN HUKUM TAURAT DAN FUNGSINYA (1)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 19:1-25; 20:18-22; 24:1-18; 32:1-35;

33:1-6; 34:1-4, 29-35; 3:1, 12; 4:27; 18:5;

Gal. 4:24-25; Ibr. 12:18-21

Setelah beberapa berita mengenai aspek “siang” hukum Taurat, kita sampai pada berita mengenai aspek “malam” hukum Taurat. Menurut wahyu ilahi dalam Alkitab, setiap kali Allah datang untuk berkontak dengan manusia, selalu terdapat dua aspek mengenai kontak tersebut, karena kontak yang sedemikian ini menyangkut Allah dan manusia. Sebelum kejatuhan manusia dalam Kejadian 3, manusia sepenuhnya berada di pihak Allah. Ia telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 1, kita nampak bahwa Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dan binatang menurut jenis mereka masing-masing. Memang, meskipun manusia tidak ilahi, tetapi ia diciptakan menurut jenis Allah, bukan menurut jenisnya sendiri seperti makhluk-makhluk lainnya. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan sejenis dengan Allah. Pada waktu penciptaan, Allah dan manusia bukanlah dua jenis. Karena manusia diciptakan menurut jenis Allah, maka hanya ada satu jenis, yaitu jenis Allah.

Dalam Kejadian 3, kita nampak bahwa dalam kelicikannya, ular menginjeksikan angan-angan jahatnya ke dalam pikiran Hawa. Pertanyaan yang ia tanyakan dan perkataan yang ia katakan kepada Hawa, merupakan jelmaan angan-angan Iblis. Ketika Hawa berkata-kata kepada ular dan men-jawab pertanyaannya, ia menerima konsepsi-konsepsi jahat ke dalam pikirannya. Ini berarti sebelum ia makan buah po-hon pengetahuan, angan-angan Iblis telah ditanamkan ke dalam dirinya. Kejatuhan manusia pertama-tama terjadi melalui menerima angan-angan Iblis, kemudian melalui tindakan fisik, yaitu makan buah pohon pengetahuan. Mula-mula angan-angan manusia berpihak pada Iblis; kemudian manusia bertindak menurut angan-angan dan perkataan Iblis dengan makan buah pohon pengetahuan. Akibatnya, sifat Iblis masuk ke dalam daging manusia. Demikianlah angan-angan dan sifat jahat itu memisahkan manusia dari Allah, sehingga manusia tidak lagi berada di pihak Allah, juga tidak lagi menurut jenis Allah. Seperti yang telah ditunjukkan dalam Alkitab, setiap orang yang berdosa adalah ular, keturunan ular beludak (Mat. 23:33). Dalam 1Yohanes 3:10 bahkan dikatakan bahwa orang-orang yang telah jatuh adalah anak-anak Iblis. Orang-orang yang jatuh telah menjadi makhluk ciptaan yang sejenis dengan Iblis. Ia tidak lagi sejenis dengan Allah. Karena alasan inilah, maka sewaktu Tuhan Yesus menegur Petrus, Dia menyebutnya Iblis. Selanjutnya, pada suatu hari Tuhan Yesus mengatakan bahwa Yudas, orang yang mengkhianati-Nya, adalah Iblis (Yoh. 6:70). Fakta bahwa seorang dari murid-Nya yang akrab, dan seorang murid-Nya yang licik disebut Iblis, menunjukkan bahwa sekarang manusia yang telah jatuh adalah menurut jenis Iblis. Keja-tuhan telah menyebabkan manusia menjadi jenis ciptaan yang lain, tidak lagi menurut jenis Allah.

Pada waktu Allah membawa orang-orang Israel ke Gunung Sinai, mereka menurut jenis Allah atau menurut jenis Iblis? Kita harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan ini. Dalam Keluaran 19:3, Allah menunjukkan sekaligus adanya keturunan Yakub dan orang Israel. Keturunan Yakub dan orang Israel merupakan dua macam orang yang berbeda. (Perbedaan ini tidak dapat dijelaskan secara paralel la-zimnya seperti dalam puisi Ibrani). Dalam pandangan Allah, keturunan Yakub berbeda dengan orang Israel. Menurut jenis siapakah Yakub itu? Apakah ia menurut jenis Allah? Tentu saja, Yakub, orang yang merebut adalah menurut jenis Iblis, sebab ia adalah orang yang jatuh. Seperti kita, Yakub adalah menurut jenis Iblis. Karena itu, sebutan “keturunan Yakub” mengacu kepada orang-orang yang menurut jenis Iblis, sedangkan sebutan “orang-orang Israel” mengacu kepada orang-orang yang menurut jenis Allah. Mereka adalah keturunan Israel, yaitu pangeran Allah. Sekarang kita dapat nampak bahwa ketika Allah membawa bangsa Israel ke Gunung Sinai, dalam pandangan Allah, mereka terdiri atas dua macam orang: keturunan Yakub yang menurut jenis Iblis, dan orang Israel yang menurut jenis Allah.

Agak sukar bagi kita untuk mengatakan berapa orang yang termasuk keturunan Yakub, dan berapa orang yang termasuk orang-orang Israel. Tentu saja Musa terbilang sebagai orang Israel, karena ia serupa dengan Allah. Tidak mudah bagi kita untuk mengatakan Harun itu terbilang go-longan yang mana. Kelihatannya Harun terbilang sebagai keturunan Yakub, juga terbilang sebagai orang Israel. Sering pengalaman kita sama dengan Harun. Pada pagi hari mungkin kita terbilang sebagai orang Israel, tetapi pada akhir hari kerja kita, boleh jadi kita bertindak seperti Yakub. Menurut Keluaran 24:1, Harun, Nadab, dan Abihu serta tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel, diperintahkan untuk datang kepada Tuhan. Tetapi kemudian Harun menunjuk-kan bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi opini dari jemaah agama tersebut, ketika mereka mengatakan kepadanya, “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami” (Kel. 32:1). Jemaah itu sudah sepantasnya disebut jemaah agama, sebab mereka mempunyai tujuan untuk menyembah sesuatu, meskipun benda itu adalah berhala. Harun tahu bahwa permintaan bangsa itu penuh dosa, tetapi ia terlalu takut untuk menentang mereka. Dalam beberapa hal, Harun berada di dua pihak. Kadang-kadang ia berada di pihak Allah, dan kadang-kadang ia berada di pihak jemaah agama tersebut.

Seperti Musa, Yosua mutlak berada di pihak Allah. Ia sangat setia dan berdiri bersama Allah sebagai orang yang menurut jenis Allah. Tetapi sukar bagi kita untuk menemukan secara fisik di mana keberadaan Yosua yang berkaitan dengan Musa pada saat hukum Taurat diturunkan di atas gunung itu. Tidak ada kata-kata yang jelas yang menyatakan di mana Yosua berada pada waktu itu.

Sejak masa kejatuhan, kondisi manusia menentukan hubungan Allah dengan manusia berada pada “siang” atau “malam”. Faktor yang menentukan itu berada di pihak ma-nusia, bukan berada di pihak Allah. Di pihak Allah tidak ada malam, karena Allah adalah terang (1Yoh. 1:5). Pada Allah tidak mungkin terdapat malam. Kejadian 1, pertama-tama membicarakan tentang malam, kemudian barulah pagi. Malam ditunjukkan kali pertama oleh karena kejatuhan dari ciptaan mula-mula pada masa sebelum Adam, yaitu ketika Iblis dan malaikat-malaikat tertentu serta ciptaan-ciptaan lainnya memberontak terhadap Allah. Kejatuhan itu menghasilkan malam (Kej. 1:2). Ketika Allah datang untuk memulihkan ciptaan yang telah jatuh ini, pekerjaan pemulihan-Nya sekali lagi menghasilkan siang. Fakta bahwa Kejadian 1 membicarakan tentang malam dan pagi, menunjukkan bahwa malam berhubungan dengan kejatuhan mula-mula dalam alam semesta ini, sedangkan siang berhubungan dengan pekerjaan pemulihan Allah. Karena itu, dalam alam semesta yang dipulihkan ini, siang mengikuti malam.

Pengalaman kekristenan kita juga berjalan dari malam ke siang. Kita dibawa keluar dari malam, dan masuk ke dalam siang. Oleh karena kondisi kita yang telah jatuh, kita berada di dalam malam. Tetapi penyelamatan Allah telah membawakan siang yang baru bagi kita. Ketika kita menerima penyelamatan ini, kita masuk ke dalam siang.

Banyak orang Kristen yang berharap bahwa pengalaman rohani mereka akan berada di dalam siang sampai selamanya. Tetapi hanya di dalam Yerusalem Barulah tidak ada malam. Mengenai Yerusalem Baru dikatakan, “Malam tidak akan ada lagi di sana” (Why. 21:25). Dalam pengalaman kita hari ini, malam kita selalu lebih lama daripada siang kita. Dengan kata lain, kemungkinan kita “tenggelam” lebih besar daripada kita “membubung”. Dalam pengalaman kita, malam dan siang akan berjalan terus sampai kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah dan tidak lagi ada malam.

Saya ulangi, hubungan Allah dengan kita berada di dalam aspek “malam” atau aspek “siang” tergantung pada kon-disi kita. Pada Musa tidak terdapat kegelapan. Karena itu, pada pihaknya pemberian hukum Taurat sepenuhnya merupakan masalah yang berada di dalam “siang”. Demikian pu-la mengenai fungsi hukum Taurat. Tetapi bagi keturunan Yakub, pemberian hukum Taurat dan fungsinya berada dalam aspek negatif, yaitu aspek “malam”.

Dalam memberikan firman kudus kepada kita, yaitu Alkitab, Allah tidak menghendaki adanya aspek “malam”, sebagaimana ada aspek “siang”. Tujuan-Nya mutlak berkena-an dengan aspek “siang”. Tetapi mayoritas dari orang-orang Kristen sejati yang telah dibasuh oleh darah dan telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, bahkan mereka yang mencari Allah pun, berada di dalam aspek “malam” ketika membaca Alkitab. Meskipun mereka adalah kaum beriman yang sejati di dalam Kristus, tetapi mereka tetap berada di dalam kondisi dan status mereka yang telah jatuh. Ini merupakan masalah yang sangat serius. Bila kita datang kepada Alkitab, kita harus meninggalkan segala sesuatu yang berkenaan dengan latar belakang kita yang negatif. Ini berarti kita harus mengesampingkan latar belakang kita yang telah jatuh, latar belakang alamiah kita, dan latar belakang keagamaan kita. Semua orang Kristen memiliki ketiga latar belakang yang sedemikian ini. Setelah kita beroleh selamat dan mulai menuntut Tuhan, kita masih berada di bawah pengaruh ketiga latar belakang ini ketika kita datang kepada Alkitab. Inilah alasannya mengapa kebanyakan orang Kristen berada di dalam “malam” ketika mereka membaca firman. Mereka seperti keturunan Yakub, di mana pemberian hukum Taurat bagi mereka adalah pengalaman di dalam “malam”, tidak seperti Musa, di mana pemberian hukum Taurat baginya adalah pengalaman di dalam “siang”. Bagi beberapa orang Kristen, Alkitab merupakan kitab “siang”, tetapi bagi kebanyakan orang Kristen, Alkitab merupakan kitab “malam”. Faktor yang menentukan apakah firman Allah berada di dalam pengalaman “siang” atau “malam” kita, adalah kondisi kita ketika kita datang kepada firman Allah. Bertahun-tahun yang lalu saya sangat mengasihi Alkitab, tetapi bagi saya hampir tidak terdapat “siang”, melainkan sebagian besar adalah “malam”. Namun beberapa tahun kemudian, bagi saya Alkitab sepenuhnya telah menjadi buku “siang”. Oleh karena belas kasihan Tuhan, saya telah diselamatkan dari ketiga latar belakang saya.

Kita perlu menyadari pentingnya kondisi kita ketika kita datang kepada firman dan mencari perkenan Tuhan. Kita boleh jadi berkontak dengan Allah di dalam “siang” atau mengubahnya ke dalam “malam”. Hal itu tergantung pada kondisi, status, kedudukan, dan situasi kita. Bagi keturunan Yakub yang berada di kaki gunung, pemberian hukum Taurat itu berada di dalam “malam”. Tetapi bagi Musa yang berada di puncak gunung, pemberian hukum Taurat tersebut berada di dalam “siang”. Ini merupakan prinsip yang mendasar dari pengalaman rohani kita, yaitu kondisi kitalah yang menentukan apakah hubungan kita dengan Allah berada di dalam “siang” atau “malam”.

Prinsip ini sama dengan ketika kita mendengarkan berita. Bagi Anda suatu berita merupakan “siang” atau “malam” bukan tergantung pada pemberitanya, melainkan tergantung pada Anda sendiri. Jika Anda berada di dalam “malam”, berita itu akan menjadi “malam” bagi Anda. Tetapi jika Anda berada di dalam “siang”, berita itu akan penuh dengan terang bagi Anda.

Menurut Keluaran 3, Musa berada di gunung Allah yaitu Gunung Horeb, ketika Allah memanggilnya (ayat 1, 4). Allah berkata kepadanya, “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (ayat 12). Firman di dalam “siang” ini terpenuhi ketika Allah membawa bangsa itu keluar dari Tanah Mesir melalui Laut Merah, dan melalui padang gurun menuju Gunung Horeb, yang juga disebut Gunung Sinai. Di gunung itu, Allah mengatakan lebih banyak lagi firman di dalam “siang”. “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri (milik pribadi-Ku) dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi” (19:4-5). Firman ini penuh dengan cahaya terang. Dalam Keluaran 19:6, kita nampak tujuan Allah dalam membawa bangsa itu keluar dari Tanah Mesir: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Jelas tujuan Allah datang kepada manusia bukanlah di dalam “malam”. Ia datang kepada mereka di dalam “siang”, dan mengutarakan firman yang penuh terang. Ia mengatakan kepada orang-orang Israel, bahwa Ia mendukung mereka di atas sayap rajawali dan membawa mereka kepada-Nya, menjadikan mereka sebagai milik pribadi-Nya serta kerajaan imam bagi-Nya. Alangkah indahnya!

Dalam Keluaran 19:7, Musa memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Ayat 8 mengatakan, “Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: ‘Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.’” Kelihatannya ini merupakan jawaban yang sangat positif. Namun jawaban ini melanggar Allah, sebab jawaban ini menunjukkan bah-wa bangsa itu tidak mengenal diri mereka sendiri. Mereka tidak mengenal apa adanya mereka, dan mereka tidak memiliki kedudukan yang tepat di hadapan Tuhan. Jadi ketika “Musa pun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN” (ayat 8), Tuhan berkata bahwa Ia akan datang dalam awan yang tebal. Suasananya berubah dari “siang” ke “malam”. Ayat 16 dengan jelas menunjukkan perubahan suasana ini: “Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.” Pada bagian pertama dari Keluaran 19 tidak terdapat asap, api, maupun gunung yang bergetar. Segala sesuatunya menyenangkan, dan Allah berbicara kepada bangsa itu dalam cara anugerah yang menyenangkan. Akan tetapi karena bangsa itu menjawab dalam cara yang menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, Allah merasa “marah”. Mereka menduga bahwa mereka dapat mengerjakan apa saja yang Allah kehendaki. Mereka tidak mengetahui bahwa mereka tidak mampu memenuhi perintah-perintah-Nya, dan mereka tidak menyadari bahwa mereka memerlukan belas kasihan-Nya. Seharusnya bangsa itu berkata, “Oh, Tuhan, belas kasihanilah kami. Engkau tahu bahwa kami adalah bangsa yang suka memberontak. Tuhan, kami mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah membawa kami kepada diri-Mu sendiri di atas sayap rajawali yang besar. Kami juga mengucap syukur kepada-Mu karena pemilihan-Mu. Engkau telah memilih kami menjadi milik pribadi-Mu. Tetapi Tuhan, kami tidak percaya kepada diri kami sendiri. Kami tidak mampu memelihara perintah-perintah-Mu. Kami hanya berharap kepada-Mu. Tuhan, kami mengharapkan belas kasihan-Mu.” Jika bangsa itu bersikap demikian, maka “siang” akan lebih panjang. Tetapi karena mereka tidak mengenal diri mereka sendiri dan menjawab dalam cara yang bodoh, maka “siang” mereka berubah menjadi “malam”.

Bahkan sebelum hukum Taurat itu diberikan secara lengkap, bangsa itu telah jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala. Setidak-tidaknya mereka telah melanggar kedua perintah yang pertama. Ketika Musa berada di puncak gunung bersama Tuhan, kesetiaan bangsa itu telah diuji, dicoba oleh Allah (Kel. 20:20). Keluaran 32:1 mengatakan, “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari Tanah Mesir kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.’” Tentu saja api masih menyala di puncak gunung itu. Tetapi mungkin bangsa itu telah menjadi terbiasa melihatnya. Pemandangan api tersebut telah menjadi biasa bagi mereka. Beberapa minggu kemudian, mereka menyuruh Harun membuat allah bagi mereka. Seharusnya Harun dengan keras menegur mereka. Sebaliknya, Harun malah berkata, “Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga istrimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku” (Kel. 32:2). Kemudian dikatakan bahwa Harun menerima emas dari bangsa itu dan “dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: ‘Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari Tanah Mesir!’” Kemudian Harun mendirikan mezbah di depan anak lembu itu, dan mengumumkan bahwa keesokan harinya adalah hari raya bagi Tuhan (ayat 5). Dikatakan pula bahwa “keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan” (ayat 6). Mereka mempersembahkan kurban kepada anak lembu emas yang telah dibuat oleh Harun. Bangsa itu mempersembahkan kurban dalam cara yang benar, tetapi mereka mempersembahkannya kepada berhala. Alangkah campur aduk! Cara mereka menyembah mungkin tepat, tetapi obyek penyembahannya yang keliru. Campur aduk yang sedemikian ini dapat ditemukan di antara orang-orang Kristen hari ini. Pemimpin-pemimpin kekristenan tertentu membuat “anak lembu emas”, dan menyebabkan orang lain menyembah “anak lembu” tersebut.

Begitu mengetahui situasi bangsa itu di kaki gunung, Tuhan berkata kepada Musa, “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari Tanah Mesir telah rusak lakunya” (Kel. 32:7). Di sini Tuhan mengatakan bahwa Musalah orang yang membawa bangsa itu keluar dari Tanah Mesir. Tuhan juga berkata kepada Musa bahwa Ia akan membinasakan bangsa itu, dan membuat Musa menjadi bangsa yang besar (ayat 10). Tuhan bisa saja menghancurkan bangsa itu dan masih memenuhi janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, sebab Musa adalah salah seorang keturunan mereka. Tetapi Musa berdebat dengan Tuhan dan berkata, “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari Tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?” (ayat 11). Selanjutnya Musa berkata, “Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu” (ayat 12).

Setelah itu berpalinglah Musa, lalu ia turun dari gunung dengan kedua loh hukum Allah dalam tangannya (ayat 15). Ketika Yosua mendengar suara bangsa itu bersorak, ia mengira bahwa itu adalah “bunyi sorak peperangan kedengaran di perkemahan” (ayat 17). Tetapi Musa berkata, “Bukan bunyi nyanyian kemenangan, bukan bunyi nyanyian kekalahan bunyi orang menyanyi berbalas-balasan, itulah yang kudengar” (ayat 18). Ketika Musa sampai di perkemahan itu dan melihat anak lembu serta orang menari-nari, maka “bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu” (ayat 19). Pecahnya loh-loh hukum Allah tersebut menunjukkan bahwa hukum Taurat telah dipecahkan. Sebelum rampung penyampaian hukum Taurat, hukum Taurat telah dipecahkan.

Ketika Musa bertanya kepada Harun apa yang telah ia lakukan, Harun berbohong kepadanya. Harun mengatakan bahwa ia melemparkan emas itu ke dalam api, dan “keluarlah anak lembu ini” (ayat 24). Karena bangsa itu, termasuk Harun, berada dalam kondisi kasihan yang sedemikian ini, bagaimana penyampaian hukum Taurat itu dapat menjadi sesuatu selain “malam” bagi mereka? Mereka mutlak telah berada di dalam “malam”. Mereka tidak mengenal Allah, dan tidak mengenal perlakuan Allah yang ramah serta belas kasihan Allah. Sekali lagi kita nampak bahwa meskipun pemberian hukum Taurat adalah di dalam “siang” bagi Musa, tetapi bagi keturunan Yakub, pemberian hukum Taurat itu adalah di dalam “malam”.

I. KEDUA ARTI DARI GUNUNG HOREB

A. GUNUNG ALLAH

Gunung Horeb, di mana hukum Taurat diberikan, mempunyai dua arti. Pertama, gunung itu adalah gunung Allah (Kel. 3:1, 12; 4:27; 18:5; 24:13; Bil. 10:33; 1Raj. 19:8). Gunung ini adalah tempat umat Allah bertemu satu sama lain. Di Gunung Horeb, Harun bertemu dengan Musa (Kel. 4:27). Yitro, mertua Musa, juga bertemu dengannya di gunung ini (Kel. 18:5).

Umat Allah harus selalu berhimpun bersama-sama di dalam “siang” firman-Nya. Jika kita semua datang kepada Alkitab di dalam “siang”, kita akan dibawa bersama-sama ke Gunung Horeb. Tetapi jika kita hanya beberapa orang berada di dalam “siang” dan yang lainnya berada di dalam “malam” ketika datang kepada firman, maka akan terjadi perselisihan dan pertengkaran. Alkitab yang sama bagi beberapa orang beriman merupakan kitab “siang”, dan bagi orang beriman lainnya merupakan kitab “malam”. Telah berabad-abad lamanya orang Kristen berselisih mengenai Alkitab. Memang, Alkitab tidak dapat disalahkan. Tanggung jawabnya terletak pada kondisi rohani orang yang membaca firman Allah ini. Bila para pembaca berada di dalam “malam”, dalam pengalaman mereka Alkitab menjadi kitab “malam”.

Mereka yang secara licik menuduh kita mengajarkan bidah, adalah orang-orang berada di dalam “malam”. Beberapa orang mengatakan bahwa kita mengajarkan “evolusi ke dalam Allah”, dan mereka juga mengatakan bahwa kita meng-ajarkan tentang deifikasi (pendewaan) orang beriman dan menjadi Allah sendiri. Alangkah besarnya kegelapan ini! Ada orang menolak fakta bahwa kita dapat tinggal di dalam Allah, dan Allah tinggal di dalam kita. Mereka membantah dengan mengatakan, tidak mungkin orang dosa tinggal di dalam Allah, dan Allah yang maha kuasa, Allah yang kudus, tidak mungkin tinggal di dalam mereka. Orang-orang itu benar-benar bersikeras menganggap bidah jika kita mengatakan bahwa kita dapat bersatu dengan Allah. Mereka menyatakan bahwa tidak mungkin orang dosa menjadi satu dengan Allah. Mereka yang membuat tuduhan yang sedemikian ini, sama sekali berada di dalam “malam” keagamaan. Mereka juga berada di dalam “malam” manusia alamiah. Mereka belum masuk ke dalam “siang” wahyu Allah. Saya ingin tahu, bagaimana mereka akan menerangkan fakta bahwa kita adalah anak-anak Allah? Alkitab dengan jelas mewahyukan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita telah dilahirkan dari Dia dan memiliki hayat serta sifat-Nya. Menurut 2Petrus 1:4, kita adalah orang-orang yang boleh mengambil bagian dalam kodrat (sifat) ilahi. Mereka semua yang menuduh kita bidah perlu menjelaskan ayat ini. Tentu saja untuk mengambil bagian dalam kodrat ilahi, secara tidak langsung kita menikmatinya. Pengertian yang sedemikian ini adalah di dalam “siang”. Tetapi bagi mereka yang berada di dalam “malam”, apa yang kita ajarkan dan beritakan merupakan bidah. Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa kita adalah menghujat jika kita mengajarkan bahwa kita dapat menjadi satu roh dengan Allah (1Kor. 6:17).

Ketika Musa berada di gunung bersama Allah, ia terinfus oleh Allah. Meskipun Musa tidak menyadari hal ini, tetapi infus itu menyebabkan wajahnya bersinar dengan cahaya ilahi. Cahaya yang sama yang merupakan api yang menakutkan dan menghanguskan bagi keturunan Yakub, adalah cahaya yang menyenangkan dan menginfus Musa. Ini merupakan tanda lebih lanjut bahwa apakah api tersebut menghanguskan kita atau menginfus kita tergantung pada kedudukan dan kondisi kita. Jika kita berada bersama mereka yang membuat berhala dan mempersembahkan kurban kepada berhala, api itu akan menakutkan kita. Tetapi jika kita berdiri bersama Musa, api itu akan menyenangkan dan menginfus kita. Kemudian api itu bukan hanya akan bersinar di atas kita, dan bukan hanya akan bersinar melalui kita, api itu bahkan bersinar dengan jalan berbaur dengan kita.

Jika sebuah besi diletakkan di dalam api, akhirnya besi itu akan mulai bercahaya. Bercahayanya besi ini disebabkan oleh berbaurnya api dengan besi tersebut. Ketika besi diletakkan di dalam api dan api telah menembus besi tersebut, api dan besi itu akan menjadi satu. Tetapi perbauran antara api dan besi ini tidak menghasilkan substansi ketiga. Demikian pula perbauran antara Allah dengan manusia bukannya berarti bahwa perbauran itu akan menghasilkan makhluk ketiga, makhluk yang bukan Allah maupun manusia. Mereka yang membuat tuduhan tak berdasar sedemikian ini terhadap ajaran kita mengenai perbauran, berada di dalam “malam”. Bagi kita, kebenaran mengenai perbauran ini merupakan aspek “siang” yang mengagumkan. Tetapi bagi mereka yang berada di dalam “malam”, perbauran ini tak lain adalah bidah. Oleh karena belas kasihan Tuhan, kita adalah orang-orang “siang”. Kita telah nampak dan menikmati perkara-perkara dalam firman Allah. Khususnya, kita menikmati infus Tuhan. Karena kita tinggal di bawah sorotan wajah Tuhan, maka kita terinfus dengan unsur-Nya. Lagi pula, karena Alkitab berada di dalam pengalaman kita atas Gunung Horeb, yaitu gunung Allah, maka kita berhimpun bersama-sama di gunung ini, dan sungguh-sungguh esa.

Sebagai gunung Allah, Gunung Horeb juga merupakan tempat bagi pencari-pencari Allah untuk bertemu dengan Allah (Kel. 24:13, 15-18; 1Raj. 19:8), untuk melayani Allah (Kel. 3:12), dan untuk menerima wahyu dan visi Allah (Kel. 3:1-3; 24:12-13; 1Raj. 19:8-9).

B. GUNUNG SINAI

Gunung Horeb mempunyai dua arti, gunung ini juga adalah Sinai (Kel. 19:11, 18, 20-24; 34:2-4; Gal. 4:24-25; Ibr. 12:18-21). Meskipun kita berhimpun bersama-sama di gunung Allah di mana kita melayani Allah dan menerima wahyu serta visi-Nya, tetapi bagi kebanyakan orang Kristen lainnya, gunung ini adalah Gunung Sinai. Di Gunung Sinai, dosa dari umat Allah tersingkap, dan di situlah oleh Allah dibuat batas yang tidak boleh dilewati oleh mereka. Di Gunung Sinai, orang-orang tidak dapat melihat Allah, dan mereka tidak dapat menerima wahyu atau visi dari Allah. Sebaliknya, mereka sendiri tersingkap dan datang untuk melihat batas yang telah Allah tentukan. Tidak seperti Musa, mereka harus tinggal sangat jauh.

C. ORANG-ORANG YANG BERBEDA PADA JARAK

YANG BERBEDA BERKENAAN DENGAN GUNUNG HOREB

Dalam Kitab Keluaran, setidak-tidaknya kita nampak tiga golongan orang yang berdiri pada jarak yang berbeda berkenaan dengan Gunung Horeb. Musa, yang mungkin didampingi oleh Yosua, berada di puncak gunung dan sedang diinfus oleh Allah (Kel. 24:13; 34:29). Harun, Nadab, Abihu, dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel, berada di gunung itu sujud menyembah dari jauh (Kel. 24:1, 9). Orang-orang Israel di kaki gunung itu berdiri jauh-jauh dan gemetar (Kel. 20:18, 21). Musa tengah diinfus, orang-orang lainnya tengah menyembah dan melihat, dan sebagian besar dari mereka berada di kaki gunung itu dengan gemetar. Berada di manakah Anda dalam pengalaman Anda? Apakah Anda sedang diinfus, sedang melihat, atau sedang gemetar? Di mana Anda berada, tergantung pada kedudukan dan kondisi Anda.