← Daftar isi Keluaran (4) · bab 12/15

BERKAT YANG DITERIMA OLEH PARA PENCARI ALLAH YANG TERKASIH MELALUI HUKUM TAURAT SEBAGAI FIRMAN-NYA YANG HIDUP (2)

Pembacaan Alkitab:

Mzm. 119:11, 57-58, 65, 98-101, 114, 133, 135,

169, 175; 19:8b

Berita ini melanjutkan aspek “siang”nya hukum Taurat. Sebenarnya, kita bahkan boleh mengatakan bahwa kita telah sampai pada “waktu tengah hari”, sebab sebagaimana kita nampak, melalui hukum Taurat sebagai firman Allah yang hidup, kita memiliki kenikmatan atas Allah sendiri sebagai bagian kita. Tentu saja ini merupakan hal yang paling penting mengenai semua berkat yang kita terima melalui firman Allah yang hidup.

Dalam Mazmur 119, pemazmur menggunakan ungkapan-ungkapan yang berlainan untuk menyebutkan hukum Taurat. Salah satu di antara istilah-istilah itu ialah kesaksian (Mzm. 119:88, 24 Tl.). Hukum Taurat ialah kesaksian Allah. Sebagai kesaksian Allah, hukum Taurat menerangkan Allah dan menyajikan gambaran mengenai macam apakah Allah itu. Sebuah hukum selalu merupakan kesaksian atau ekspresi dari orang yang membuat hukum itu. Sebagai contoh, seandainya perampok bank dapat membuat hukum, mereka pasti akan melegalisasikan perampokan bank. Sebuah hukum selalu merupakan ekspresi dari pembuatnya. Dalam cara yang sama, hukum Taurat yang diberikan oleh Allah di Gunung Horeb, merupakan kesaksian Allah sebagai Pemberi hukum ilahi. Hukum Taurat Allah ialah gambaran-Nya. Sebagai ekspresi Allah, hukum Taurat menunjukkan macam apakah Allah itu. Inilah alasannya kata “kesaksian” digunakan dalam Perjanjian Lama berkenaan dengan hukum Taurat. Sepuluh Perintah yang tertulis pada dua loh batu disebut kesaksian (Kel. 34:29; 31:18; 32:15 Tl.). Karena loh-loh batu ini ditempatkan di dalam tabut, maka tabut itu disebut tabut kesaksian (Kel. 25:22; 30:6 Tl.). Lagi pula, Kemah Pertemuan, tempat di mana tabut berada, disebut Kemah Kesaksian (Kel. 38:21 Tl.).

Istilah-istilah lain untuk hukum Taurat dalam Mazmur 119 ialah ketetapan, atau peraturan, titah, dan hukum. Hukum Taurat benar-benar menghakimi kita. Terlepas dari hukum Taurat Allah, tidak terdapat ukuran hukum. Hukum Taurat memberi tahu kita apa yang benar dan apa yang salah, apa yang dari Allah dan apa yang bukan dari Allah, apa yang bagi Allah dan apa yang bukan bagi Allah. Karena hukum Taurat menghakimi, maka hukum Taurat mengukur dan menyingkapkan. Hukum Taurat juga menyalahkan dan mengampuni, membenarkan dan menghukum. Karena semua alasan inilah, maka hukum Taurat disebut hukum Allah.

Menurut Mazmur 119:91, hukum Taurat juga disebut hukum-hukum Allah. Hukum adalah peraturan atau kaidah. Sebagai contoh, di kota tempat Anda tinggal, ada peraturan-peraturan mengenai di mana Anda boleh parkir dan di mana parkir dilarang. Setiap kota memiliki peraturan-peraturan sendiri. Demikian pula, hukum Taurat adalah peraturan-peraturan ilahi.

Dalam Mazmur 119, hukum Taurat juga disebut ketetapan-ketetapan Allah (Mzm. 119:12). Setiap perintah merupakan ketetapan. Pemazmur juga menunjukkan hukum Taurat sebagai titah Allah (Mzm. 119:4). Sebuah titah merupakan perintah yang diberikan sebagai pepatah di mana orang diberi tahu bagaimana mereka harus bertindak tanduk.

Dalam berita sebelumnya, telah kita cakup sepuluh golongan berkat yang diterima oleh para pencari Allah yang terkasih melalui hukum Taurat-Nya sebagai firman-Nya yang hidup: terang, suplai hayat, pendirisan, penyegaran, penyelamatan, peneguhan, penghiburan, perawatan, penunjangan, dan perlindungan. Berkat pertama yang kita terima ialah terang (Mzm. 119:130, 105; 19:8b). Jika keadaan kita tepat ketika kita datang kepada firman Allah, kita akan memasuki alam terang dan diterangi. Kemudian kita akan menerima suplai hayat dan mengalami pendirisan. Tiga hal ini berjalan seiring dan menghasilkan penyegaran, penyelamatan, peneguhan, penghiburan, perawatan, penunjangan, dan perlindungan. Rangkaian ini adalah menurut pengalaman rohani, bukan menurut doktrin.

Puji Tuhan, perkataan yang dikatakan oleh Allah telah ditulis dan dicetak. Hasil pencetakan tersebut adalah untuk menyebarkan firman Allah. Berjuta-juta salinan Alkitab telah dicetak dan beredar ke seluruh dunia. Meskipun Alkitab demikian mudah didapat, tetapi perihal kita menerima berkat atau tidak, tergantung pada keadaan kita. Sebagaimana telah saya tunjukkan, kita memerlukan hati yang tepat. Jika hati kita tepat ketika kita datang kepada firman Allah, kita akan masuk ke dalam alam terang. Allah itu terang (1Yoh. 1:5), dan terang ini tercakup di dalam firman. Ini berarti firman Allah adalah jelmaan Allah sebagai terang ilahi. Inilah alasannya Mazmur 119:130 mengatakan, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang.” Karena firman Allah adalah terang, maka tersingkapnya firman ini memberi terang. Sebenarnya, kita tidak perlu mengatakan bahwa kita menerima terang dari Alkitab mengenai hal-hal tertentu. Kita harus masuk ke dalam alam terang, dan tidak hanya menerima semacam terang yang khusus saja.

Terang mendatangkan hayat. Namun, hayat juga mendatangkan terang. Sukar bagi kita untuk mengatakan mana yang datang lebih dulu, hayat atau terang. Menurut Perjanjian Lama, terang datang sebelum hayat (Kej. 1:3). Tetapi menurut Perjanjian Baru, hayat mendahului terang (Yoh. 1:4). Meskipun kita tidak dapat mengatakan secara tepat mana yang datang lebih dulu, tetapi dalam pengalaman kita tahu bahwa asalkan kita memiliki terang, kita memiliki hayat, dan asalkan kita memiliki hayat, kita juga memiliki terang. Kita memiliki terang dan hayat, dan kemudian suplai hayat sebagai air. Seperti yang kita nampak, terang, hayat, dan pendirisan, mendatangkan banyak berkat lainnya.

I. MENIKMATI ALLAH SEBAGAI

BAGIAN KITA

Kesepuluh berkat ini akan memimpin kita kepada berkat yang tertinggi menikmati Allah sendiri sebagai bagian kita. Dalam 119:57, pemazmur menyatakan, “Bagianku ialah TUHAN.” Ketika kita memiliki Allah sebagai bagian kita, kita tidak hanya memiliki terang, hayat, air, dan semua berkat ini, bahkan kita memiliki Allah sendiri. Ada orang mungkin mengira bahwa kaum beriman Perjanjian Lama tidak menikmati Allah sebagai bagian mereka. Tetapi penulis Mazmur 119 mengatakan secara pasti bahwa Tuhan adalah bagiannya. Karena pemazmur itu memelihara firman Allah, Allah dapat menjadi bagiannya. Memiliki Allah sebagai bagian kita merupakan perkara yang betapa besar.

Allah dapat menjadi bagian kita, karena Ia adalah riil dan bukan takhayul. Jika Allah bukan merupakan realitas bagi pemazmur, tak dapatlah ia bersaksi bahwa Tuhan adalah bagiannya. Segala sesuatu yang bersifat takhayul adalah sia-sia, tidak sungguh, sedikit pun tidak riil. Bagaimana sesuatu yang sia-sia dan tidak riil dapat menjadi bagian kita? Hal itu tidak mungkin. Ketika pemazmur mengumumkan bahwa Allah adalah bagiannya, ia sedang menikmati dan menjamah sesuatu yang sangat riil.

Agar Allah menjadi bagian kita, Ia juga harus sangat riil, hadir, dapat dinikmati, dan tersedia. Bagaimana suatu benda dapat menjadi bagian kita jika benda itu tidak dekat dan tersedia? Dan bagaimana suatu benda dapat menjadi bagian kita jika benda itu tidak dapat dinikmati dan riil? Bagi banyak orang Yahudi, bahkan bagi banyak orang Kristen tertentu, Allah sangat jauh. Bagi mereka, Allah tidak riil, tidak hadir, tidak dapat dinikmati, dan tidak tersedia. Dalam pengalaman mereka, mereka tidak mendapatkan Allah sebagai bagian mereka.

Dari pengalaman pribadi saya, saya dapat bersaksi bahwa Allah saya benar-benar telah menjadi bagian saya. Saya tidak pernah melihat Dia dengan mata saya atau menjamah Dia dengan tangan saya, tetapi dalam insan batiniah saya, saya menikmati Dia sepanjang hari. Seseorang mungkin mengatakan bahwa ini hanyalah pengaruh kejiwaan saja. Namun, pengaruh kejiwaan biasanya tidak tahan lama; sedangkan menikmati Allah sebagai bagian kita adalah berlangsung lama. Allah tetap selamanya; Ia tidak pernah berubah. Allah yang riil, sungguh, hadir, dapat dinikmati, dan tersedia ini adalah bagian saya. Saya yakin Anda pasti juga memiliki beberapa pengalaman atas Allah sebagai bagian Anda. Meskipun pengalaman Anda mungkin terbatas, Anda tidak dapat menyangkal bahwa bagi Anda, Allah adalah riil, sungguh, hadir, dapat dinikmati, dan tersedia. Dia benar-benar adalah bagian kita.

Kita semua mempunyai masalah dalam kehidupan kita. Dari pengalaman bertahun-tahun saya menemukan bahwa hanya ada satu penawar bagi masalah-masalah kita. Penawar ini bersifat almuhit dan efektif yaitu Allah sendiri. Dialah satu-satunya jawaban bagi masalah-masalah kita dan obat bagi kesusahan-kesusahan kita. Jika kita tidak membiarkan Allah masuk ke dalam situasi kita, hidup kita tidak akan lebih daripada impian kosong belaka. Tanpa Allah, semua impian kita pertama-tama menjadi masalah, kemudian menjadi kesukaran, dan akhirnya berubah menjadi maut.

Tetapi jika kita menerima Tuhan dan menerapkan-Nya pa-da situasi kita, segala sesuatunya akan berbeda. Kita akan dapat bersaksi bahwa bagian kita bukanlah masalah ini atau itu. Bagian kita bukanlah pernikahan yang baik, keduduk-an yang tinggi, tabungan bank yang banyak, atau sebidang tanah yang luas. Bagian kita ialah Tuhan sendiri. Karena Ia hidup, riil, dan sungguh, maka kita dapat mengecap dan menikmati Dia.

Kita menikmati Allah sebagai bagian kita melalui fir-man dan oleh Roh itu. Kita boleh mengibaratkan firman dan Roh itu seperti antena dan kabel, yang merupakan sarana bagi “listrik” ilahi untuk disampaikan kepada kita. Bila kita datang kepada firman dengan Roh itu, kita menerima Allah. Ya, kita menikmati terang, hayat, dan pendirisan. Te-tapi dalam pengalaman kita, terang, hayat, dan air hidup itu sebenarnya adalah Allah sendiri. Bahkan Ia adalah penye-garan, penyelamatan, peneguhan, penghiburan, perawatan, penunjangan, dan perlindungan kita. Melalui berkontak dengan firman dalam cara yang tepat, kita menerima Tuhan sendiri. Kita tidak menerima terang, hayat, atau air sebagai benda-benda yang terpisah dari Dia. Tidak! Terang, hayat, dan air hidup yang kita nikmati sebenarnya adalah Allah sendiri. Allah juga merupakan keselamatan, makanan, mi-numan, penghiburan, dan perlindungan kita. Setiap aspek dari sepuluh berkat pertama yang kita terima melalui fir-man hidup adalah Allah sendiri.

Pernyataan dalam Mazmur 119 yang menyatakan bahwa Tuhan adalah bagian kita sangatlah penting. Kita dapat menerima terang, karena Allah adalah bagian kita. Kita dapat memiliki hayat dan air hidup, juga karena Ia adalah bagian kita. Karena Tuhan adalah bagian kita, maka semua berkat yang berlainan itu datang kepada kita melalui firman. Asalkan kita memiliki Dia, kita memiliki semuanya. Saya ulangi, berkat-berkat yang kita terima melalui firman hidup bukanlah perkara-perkara yang terpisah dari Allah sendiri, melainkan adalah berbagai atribut atau kebajikan Allah yang hidup sebagai bagian kita. Dalam bermacam-macam situasi, boleh jadi kita memiliki kelepasan dan keselamatan karena Allah adalah bagian kita. Semua berkat yang kita terima dari firman Allah yang hidup, membawa kita kepada Tuhan sendiri. Kesaksian pemazmur menyatakan bahwa Tuhan menjadi bagiannya karena ia memelihara firman-Nya. Dengan memelihara firman Allah, ia mengambil bagian di dalam Allah sendiri dan menikmati Dia. Ketika kita memelihara firman Tuhan, kita juga akan menikmati-Nya sebagai bagian kita.

Hanya Alkitablah yang dapat mengatakan bahwa Pengarang dari kitab itu akan menjadi bagian dari mereka yang membacanya. Banyak orang China yang mempelajari tulisan-tulisan Konghucu, tetapi Konghucu tidak menjadi bagian mereka. Demikian juga, para pelajar tidak akan mengalami penulis-penulis buku-buku pelajaran mereka sebagai bagian mereka. Tetapi hanya ada satu buku firman Allah yang Pengarangnya menjadi bagian kita. Semakin sering kita datang kepada Alkitab dalam cara yang tepat, maka Pengarang kitab ini, yaitu Allah sendiri, akan menjadi bagian kita.

II. MENIKMATI WAJAH ALLAH DAN SINAR

WAJAH-NYA

Selama kita menikmati Allah sendiri, kita juga menikmati wajah-Nya. Segera setelah berbicara mengenai Allah sebagai bagiannya, pemazmur mengatakan, “Aku mencari wajah-Mu dengan segenap hatiku” (ayat 58 Tl.). Ini juga merupakan pengalaman kita bahwa ketika kita menikmati Allah, kita damba untuk memandang wajah-Nya. Menurut ayat 58, pemazmur mencari wajah Tuhan. Pernyataan ini agak tidak lazim. Pernahkah Anda mendengar tentang seseorang yang berdoa dengan memohon untuk memandang wajah Tuhan? Jika Anda memperhatikan pengalaman Anda, Anda akan menyadari bahwa dari kasih Anda terhadap Tuhan, kadang-kadang Anda berharap bisa memandang wajah-Nya. Anda ingin berada di bawah sinar wajah-Nya. Wajah-Nya adalah yang paling utama bagi Anda, dan Anda tidak menginginkan apa pun selain tinggal di bawah wajah-Nya dan menikmati Dia. Dalam ayat 135, pemazmur berdoa, “Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu.” Ini menunjukkan bahwa pemazmur juga menikmati sinar wajah Allah.

Ungkapan-ungkapan dari pemazmur mengenai wajah Tuhan dan sinar wajah-Nya bukanlah ajaran yang doktrinal; sebaliknya, ungkapan-ungkapan ini merupakan ungkapan pengalaman. Pemazmur bukan hanya menerima ajaran-ajaran mengenai perkara-perkara ini, ia pun mengalami perkara-perkara ini. Saya juga dapat bersaksi bahwa meskipun saya tidak pernah menerima ajaran untuk mencari wajah Tuhan atau sinar wajah-Nya, tetapi dari pengalaman saya mengetahui betapa mengagumkan dan indahnya menikmati Tuhan sendiri, wajah-Nya, dan sinar wajah-Nya. Dalam mencari wajah Tuhan, saya mengalami sinar wajah-Nya.

Dalam bukunya yang berjudul The Practice of the Presence of God, Saudara Lawrence menekankan hadirat Allah. Tetapi saya tidak melihat bahwa ia mengatakan tentang sinar wajah Tuhan. Pernyataan pemazmur mengenai sinar wajah Tuhan ini sangat manis, lebih berharga dan lebih mesra daripada perkataan-perkataan Saudara Lawrence mengenai penyertaan Allah. Kita harus berdoa, “Oh, Tuhan, sinarilah aku dengan wajah-Mu. Tuhan, aku rindu menikmati sinar wajah-Mu.” Menikmati sinar wajah Tuhan lebih limpah dan lebih memuaskan daripada hanya mengalami penyertaan-Nya.

Jika Anda setia dalam berkontak dengan Tuhan melalui firman, Anda juga akan mengalami sinar wajah-Nya. Anda akan berhasrat untuk tinggal di bawah sinar yang menyenangkan ini. Pengalaman dan kenikmatan yang sedemikian ini membuktikan bahwa Allah kita adalah riil, hadir, sungguh, dan tersedia. Apa yang kita miliki bukan hanya merupakan doktrin, tetapi kenikmatan yang sejati atas Dia.

Ada orang mengatakan bahwa mereka sukar sekali percaya kepada Allah. Tetapi karena saya telah mengecap-Nya dan menikmati Dia sedemikian banyaknya, saya menemukan bahwa lebih sukar bahkan tidak mungkin bagi saya untuk menyangkal adanya Allah. Ketika saya masih kecil, ibu saya sangat mengasihi saya. Tetapi ia tidak dapat memberi saya kenikmatan seperti yang saya peroleh di dalam Tuhan. Hanya Allah sendirilah yang memberi kita kenikmatan yang tertinggi. Saya kekurangan kata-kata untuk mengutarakan betapa indahnya kenikmatan atas sinar wajah Tuhan.

Lebih mudah mengalami sinar wajah Tuhan daripada mengalami sinar lampu melalui memutar tombol. Ketika saya masih kecil, di rumah saya tidak ada listrik. Kami menggu-nakan lampu minyak model kuno. Pada waktu itu tanggung jawab saya ialah memelihara kebersihan lampu tersebut dan mengisinya dengan minyak. Tugas ini paling tidak saya senangi. Betapa gembiranya saya ketika listrik telah dipasang! Saya tidak perlu lagi membersihkan lampu dan mengisinya dengan minyak. Untuk memperoleh terang dalam sebuah ruangan, saya harus memutar tombol. Tetapi menikmati Allah lebih mudah daripada semuanya ini. Karena kita telah dilahirkan kembali, maka Allah sekarang berada di dalam roh kita. Ia itu terang, dan roh kita adalah tombolnya. Jika kita ingin mengalami Dia dan menikmati penyinaran-Nya, kita hanya perlu memutar tombol dengan melatih roh kita.

Begitu Allah masuk ke dalam kita, Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Tetapi fakta ini tidak dikenal oleh kebanyakan orang Kristen. Bertahun-tahun yang lalu, sebuah buklet mengenai Roh itu yang diterbitkan oleh seorang misionaris Jerman sangat disambut di China. Dalam buklet itu terdapat gambar seekor burung merpati, yang menunjukkan Roh itu. Menurut gambar dalam buklet itu, jika kita benar, merpati itu akan tinggal bersama kita. Tetapi jika kita mendukakan Roh itu, merpati itu akan meninggalkan kita. Mula-mula saya menghargai buklet itu dan menilainya sangat tinggi. Tetapi Watchman Nee menulis artikel yang me-nentang ajaran bahwa Roh Kudus meninggalkan kita. Burung merpati yang menggambarkan Roh itu tidak pernah mening-galkan kita. Ia selalu tinggal bersama kita; dan kita tidak dapat mengusir-Nya. Paling-paling kita hanya dapat menyebabkan Dia berduka. Paulus mengatakan, kita dapat mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30). Jika Roh itu meninggalkan kita saat kita membuat-Nya merasa tidak senang, maka Roh itu tidak mungkin akan berduka. Fakta bahwa kita dapat mendukakan-Nya membuktikan bahwa Ia tidak pernah me-ninggalkan kita. Allah selalu bersama kita meskipun kita sedang marah-marah. Tetapi bila kita tergoda untuk marah-marah atau kehilangan kesabaran kita, kita harus menyeru nama Tuhan. Kemudian Dia yang selalu bersama kita akan menyelamatkan kita dari kemarahan kita. Alangkah riil, tersedia, dan sejatinya Dia! Bersama pemazmur yang dulu, kita yang percaya kepada Kristus dapat bersaksi, bukan ha-nya dari doktrin, tetapi dari pengalaman kita, bahwa Tuhan adalah riil dan kita menikmati Dia.

III. MENIKMATI ALLAH SEBAGAI TEMPAT

PERSEMBUNYIAN DAN PERISAI

Berkat lain yang diterima oleh para pencari Allah yang terkasih melalui firman hidup ialah menikmati Allah sebagai tempat persembunyian dan perisai mereka. Pemazmur menga-takan, “Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu” (Mzm. 119:114). Ketika kita menikmati Allah sebagai bagian kita dan menikmati sinar wajah-Nya, Ia menjadi penutup dan persembunyian kita. Dari semua arah atas bawah, depan belakang, kanan kiri Ia menutupi dan menyembunyikan kita. Karena jabatan kita adalah memikul kesaksian Tuhan, kita menghadapi tentangan-tentangan dan serangan-serangan. Tetapi kita memiliki tempat persembunyian, dan tempat persembunyian ini ialah Allah sendiri. Hampir setiap hari di dalam doa saya, saya berkata kepada Tuhan bahwa saya menerima Dia sebagai tempat persembunyian saya. Sering saya berkata, “Tuhan, Engkau adalah menara yang tinggi bagiku. Ajarilah aku bersembunyi di dalam diri-Mu.”

Sebagai tempat persembunyian, Tuhan adalah perhentian dan kehidupan kita; sedangkan sebagai perisai, Ia adalah perlindungan kita sewaktu berperang. Ketika seorang prajurit hendak pergi berperang, ia tidak dapat membawa serta rumahnya. Tetapi ia masih memiliki perisai untuk melindunginya dari musuh. Demikian juga, ketika kita harus menghadapi musuh, Allah akan menjadi perisai yang melindungi kita. Karena kita di sini menempuh hidup dan berperang, maka kita memerlukan tempat persembunyian dan perisai. Untuk kehidupan kita, Allah adalah tempat persembunyian kita; untuk peperangan kita, Allah adalah perisai kita.

IV. MENIKMATI PERTOLONGAN DAN KEBAJIKAN ALLAH

Pemazmur di sini juga menikmati pertolongan Allah (Mzm. 119:175b) dan kebajikan Allah (Mzm. 119:65). Kebajikan Allah ialah perlakuan-Nya terhadap kita dalam cara yang sesuai dengan kehendak-Nya dan keperluan kita. Cara Allah dalam memperlakukan kita tidak pernah keliru. Tujuan-Nya selalu baik, dan motivasi-Nya selalu bersih. Karena Allah adalah yang berkuasa, Ia tidak pernah keliru. Ia mempunyai kehendak terhadap kita, dan kita sendiri mempunyai suatu keperluan. Ketika Allah memperlakukan kita, Ia memperhatikan kehendak-Nya dan keperluan kita.

Kita semua sering mengeluh kepada Tuhan. Jika kita tidak mengeluh secara terus terang, setidaknya kita mengeluh di dalam hati. Kadang-kadang ketika saya tergoda untuk meragukan perlakuan Tuhan terhadap saya, saya harus segera berhenti. Saya tahu bahwa perlakuan Allah adalah kebajikan-Nya.

Seorang saudara mungkin tergoda untuk mengeluh kepada Tuhan mengenai istrinya, atau seorang saudari mengeluh kepada Tuhan mengenai suaminya. Tetapi Allah memberi Anda seorang istri atau suami yang istimewa menurut kebajikan-Nya. Sekali lagi saya katakan, Allah tidak bisa keliru. Maksud-Nya baik, motivasi-Nya bersih, dan cara-Nya benar. Oleh karena itu, perlakuan-Nya terhadap kita selalu merupakan kebajikan-Nya.

V. PENGETAHUAN, KEBIJAKSANAAN, PENGERTIAN, DAN KEJERNIHAN

Melalui firman Allah yang hidup, kita juga menikmati Allah sebagai kebijaksanaan, pengertian, ketajaman, dan pengetahuan kita (Mzm. 119:66, 98-100, 169; 19:8b). Siapa yang menikmati Allah, ia memiliki pengertian. Semakin sedikit kita menikmati Allah, semakin sedikit pengertian yang kita miliki. Kekurangan pengertian membawa diri kita sendiri kepada sikap yang bodoh. Tetapi semakin kita menikmati Tuhan, semakin banyak pengertian yang kita terima.

Bagi kita lebih mudah mendefinisikan pengetahuan daripada kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan. Pengetahuan adalah masalah mengetahui. Dibandingkan dengan kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan, pengetahuan sangat dangkal. Saya mengetahui seorang saudara dan istrinya dari nama mereka. Inilah pengetahuan.

Saya tidak mau mencoba mendefinisikan kebijaksanaan, pengertian, atau kejernihan, tetapi dari pengalaman saya, saya dapat mengatakan sesuatu mengenai hal-hal tersebut. Pengetahuan berhubungan dengan perkara-perkara yang kita pelajari, tetapi kebijaksanaan bukanlah masalah mempelajari.

Kebijaksanaan terdiri dari sesuatu yang jauh di dalam kita, sebagian besar di dalam roh kita. Kebijaksanaan lebih dalam dan lebih tinggi daripada pengetahuan. Pengertian meliputi kebijaksanaan dan pengetahuan. Jika Anda memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan, Anda tidak akan dapat memiliki pengertian yang sejati. Kejernihan memerlukan ketiga-tiganya pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengertian. Menurut matematika rohani, jika kita menambahkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengertian, kita akan memiliki kejernihan. Tetapi masalahnya menjadi jauh lebih mudah bila kita menyadari bahwa asalkan kita mengalami Tuhan dan menikmati Dia, kita akan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan. Dari pengalaman pemazmur dapat mengatakan bahwa karena ia menikmati Allah sendiri, ia menjadi lebih bijaksana daripada musuh-musuhnya, dan ia memiliki lebih banyak pengertian daripada orang-orang tua dan semua gurunya. Karena ia menikmati Allah melalui firman, ia memperoleh pengetahuan, kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan. Sebenarnya bagi dia, Allah adalah semua perkara itu.

Saya percaya para pemuda dapat bersaksi bahwa bila mereka jauh dari Tuhan, mereka sering berperilaku dalam cara yang bodoh dan kurang pengertian. Tetapi bila mereka berpaling kepada Tuhan dan mengalami Dia, meskipun sedikit, mereka segera memiliki kebijaksanaan dan pengertian. Pengertian ini bukannya timbul dari pendidikan atau pelatihan, tetapi timbul karena mengasihi Tuhan, berkontak dengan Tuhan, dan dalam batin berpaling kepada Dia. Pengetahuan, kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan adalah hasil dari kenikmatan kita atas Tuhan.

VI. PERLINDUNGAN, PENEGUHAN, DAN KEMENANGAN

Melalui firman hidup Allah, para pencari Tuhan yang terkasih juga terlindung dari berbuat dosa (Mzm. 119:11), dari tersandung (Mzm. 119:165), dan dari setiap jalan kejahatan (Mzm. 119:101). Bagi kita sangatlah mudah untuk berbuat dosa, tersesat, atau tersandung. Banyak orang Kristen yang dibingungkan oleh ketiga hal ini. Tetapi jika kita menikmati firman dan setiap hari menerima-Nya, kita akan terlindung dari berbuat dosa, tersesat, dan tersandung. Langkah kita akan diteguhkan, dan kita akan berkemenangan (Mzm. 119:133). Tidak ada kejahatan yang akan berkuasa atas kita. Semua perkara negatif akan berada di bawah kaki kita. Ini juga merupakan hasil dari menikmati Allah melalui firman hidup-Nya.

Jika hubungan kita dengan Alkitab tidak menghasilkan berkat-berkat seperti yang tercakup dalam berita ini dan berita sebelumnya, maka hubungan kita dengan firman pasti keliru. Pendekatan yang tepat kepada firman Allah harus menghasilkan semua berkat ini. Jika kita datang kepada firman dalam cara yang tepat, kita akan menikmati terang Tuhan, hayat, pendirisan, penyegaran, dan penyelamatan. Akhirnya, kita akan menikmati Allah sebagai bagian kita. Kemudian kita akan memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, pengertian, dan kejernihan; kita akan dilindungi dari setiap jalan kejahatan; kita akan diteguhkan; dan kita akan menjadi pemenang, melampaui segala perkara negatif.