BERKAT YANG DITERIMA OLEH PARA PENCARI ALLAH YANG TERKASIH MELALUI HUKUM TAURAT SEBAGAI
FIRMAN-NYA YANG HIDUP
(1)
Pembacaan Alkitab:
Mzm. 119:130, 105; 19:8b; 119:25, 50;
1:1a, 2-3; 19:7a; 119:41, 110, 170, 28, 76,
103, 116-117
Hukum Taurat sebagai firman hidup Allah mempunyai banyak fungsi. Bagi para pencari Allah yang terkasih, fungsi-fungsi ini adalah berkat yang diterima melalui hukum Taurat sebagai firman-Nya yang hidup. Dalam berita ini dan dalam berita berikutnya kita akan melihat berkat yang dapat kita terima dari firman hidup Allah. Sekalipun para pencari Allah yang terkasih boleh menerima berkat dari firman-Nya, adalah mungkin kedatangan mereka kepada firman Allah tidak memperoleh apa-apa. Saya tahu banyak orang yang membaca Alkitab bahkan mempelajarinya, tetapi tidak mendapatkan sesuatu. Inilah keadaan yang ada di kalangan kebanyakan orang Kristen hari ini. Banyak orang Kristen membaca Kitab Suci tanpa menerima berkat apa pun. Satu-satunya yang mereka peroleh ialah pengetahuan yang sia-sia. Dengan pengetahuan yang mereka dapatkan dari pembacaan Alkitab, mereka mengikat diri dalam perdebatan-perdebatan atas perkara-perkara dalam Alkitab. Mereka tidak sungguh-sungguh mendapat bantuan melalui membaca Alkitab, malah berdebat mengenai firman Allah. Akibatnya, pertama-tama mereka sendiri dimatikan oleh macam-macam pengetahuan Alkitab, kemudian mereka mempergunakan pengetahuan ini untuk mematikan orang lain. Bagi mereka, Alkitab bukanlah sebuah kitab yang memberi hayat, melainkan sebuah kitab yang mematikan.
Selama berabad-abad, banyak orang yang telah dimatikan karena menerima Alkitab sebagai sesuatu yang tidak lebih daripada sebuah kitab pengetahuan. Boleh jadi contoh yang paling mencolok dari mereka yang dimatikan karena pengetahuan Alkitab adalah kritikus-kritikus tingkat tinggi Kitab Suci di abad ke-19. Dalam studi mereka mengenai Alkitab, para kritikus tingkat tinggi ini mempergunakan pikiran mereka secara ekstrem, sehingga mereka tidak menerima berkat apa pun dari studi mereka mengenai firman Allah.
Jika kondisi kita normal, kita seharusnya mendapatkan bantuan dan sungguh-sungguh diberkati saat kita datang kepada firman Allah. Kalau kita tidak menerima berkat apa pun, berarti ada sesuatu yang tidak beres di dalam kita. Firman dalam Alkitab ialah hembusan Allah (2Tim. 3:16 Tl.). Karena itu, perkataan-perkataan Alkitab adalah hembusan Allah. Lagi pula, sebagai jelmaan Allah (Kol. 2:9), Tuhan Yesus sendiri adalah firman (Yoh. 1:1, 14; Why. 19:13). Jadi, datang kepada firman seharusnya sama dengan datang kepada Allah, karena firman adalah jelmaan Allah dan berisi kekayaan Allah. Firman Allah meliputi apa adanya Allah. Oleh karena inilah firman Allah begitu kaya, riil, hidup, dan menerangi. Segala sesuatu yang Allah mampu perbuat atas diri kita, firman-Nya pun mampu. Asalkan kita tidak memiliki masalah apa pun di dalam diri kita yang menimbulkan suatu penghalang, kita seharusnya menerima berkat saat kita datang kepada firman Allah.
I. MASALAH HATI
A. TIDAK MENGGUNAKAN HATI
Jika Anda gagal menerima bantuan ketika Anda da-tang kepada firman, mungkin ada suatu masalah atas sejumlah hal tertentu di dalam hati Anda. Hati Anda tidak-lah murni. Boleh jadi Anda tidak menggunakan hati secara murni dalam hal datang kepada firman. Anda membaca Alkitab, tetapi Anda tidak mempunyai hati yang damba terhadap firman. Dalam kehidupan manusia adalah mungkin untuk mengerjakan beberapa hal di luar kebutuhan yang penting tanpa memiliki suatu hati yang sungguh-sungguh untuk hal-hal tersebut. Misalnya, seorang muda boleh jadi terpaksa bersekolah, namun dia tidak memiliki hati yang serius terhadap pendidikan. Dia bersekolah hanya karena dia terpaksa melakukan demikian. Demikian pula, kita membaca firman Allah, mungkin saja disebabkan oleh kewajiban, tetapi boleh jadi kita tidak memiliki hati yang sungguh-sungguh terhadap firman itu.
B. HATI BERCABANG
Masalah lainnya yang Anda miliki dalam hati Anda adalah masalah hati bercabang. Adalah mungkin hati Anda bercabang menjadi dua atau tiga bagian, bahkan lebih. Hal ini khususnya terjadi pada diri orang-orang muda. Seorang muda dapat mengasihi beberapa hal. Ini menyebabkan hatinya bercabang. Satu hal menduduki suatu bagian hati, dan satu hal lain menduduki bagian yang lain. Misalkan saja seorang pemuda memiliki suatu hati yang damba terhadap studinya, namun juga memiliki suatu hati yang damba terhadap kenikmatan yang bersifat duniawi. Hal ini menyebabkan hatinya bercabang.
Jika seseorang mendua hati, maka sebagian hatinya untuk sesuatu yang baik dan sebagian lainnya untuk sesuatu yang jahat, sedangkan keinginan jahat selalu lebih kuat. Hal ini nampaknya sebagai sesuatu yang berupa hukum alam atau prinsip. Dalam hatinya, seseorang dapat memiliki dua maksud yang berlawanan; dia boleh jadi bermaksud berdusta, juga ingin mengatakan yang sebenarnya. Maksud jahat, yaitu berdusta, akan mengalahkan maksud yang baik, mengatakan yang sebenarnya. Ketika hati kita bercabang, membaca firman Allah tidaklah berguna bagi kita. Kalau kita datang kepada Alkitab secara setengah hati atau dengan hati yang bercabang, kita tidak akan menerima berkat dari firman. Setiap kali kita datang kepada Alkitab, kita harus datang dengan sepenuh hati dan dengan hati yang tunggal. Tidaklah berfaedah jika membaca firman Allah secara setengah hati.
C. TIDAK ADA HATI
Masalah lain dari hati dalam hubungannya dengan firman ialah sama sekali tidak ada hati yang damba terhadap firman. Saya telah menunjukkan masalah tidak menggunakan hati kita dalam pembacaan firman. Namun, hal ini berbeda dengan tidak memiliki hati yang damba untuk firman. Ada orang yang nampaknya tidak ada hati sama sekali. Batin mereka seperti kayu yang mati. Orang yang demikian, tidak peduli bagaimana membaca Alkitab, dia tidak akan menerima apa pun dari pembacaannya, sebab dia kekurangan satu kemampuan untuk memahami apa yang Alkitab katakan. Singkatnya, hatinya tidak berfungsi dalam pembacaan firman. Ini adalah suatu masalah yang amat serius. Banyak orang Kristen ketika datang kepada Alkitab, mereka seperti kayu yang mati, tanpa hati yang damba.
D. SELUBUNG, PENGHALANG, DAN RINTANGAN
Masalah lain mengenai hati ialah yang berhubungan de-ngan hal-hal yang menyelubungi Anda, memisahkan Anda dari Tuhan, atau menghalangi persekutuan Anda dengan Tuhan. Dalam pembacaan firman Allah, Anda dapat saja berseru kepada Tuhan, tetapi tanpa menerima sesuatu dari Tuhan. Ini dikarenakan adanya halangan, rintangan dalam diri Anda. Boleh jadi ada suatu dosa yang menyelubungi Anda, menawan dan menguasai Anda. Di satu pihak, Anda mengasihi firman Allah. Di pihak lain, suatu dosa tersembunyi di dalam hati Anda dan Anda tidak bersedia menanggulanginya bagi Tuhan. Dosa yang tersembunyi semacam ini akan membuat Anda tidak bisa menerima berkat dari firman. Umpamanya, seseorang telah bersalah terhadap Anda, dan Anda tidak mau memaafkan perbuatannya. Mungkin Anda tidak berpikir bahwa keengganan Anda untuk memaafkan adalah suatu dosa, tetapi faktanya itu benar-benar suatu dosa. Anda dapat saja menyembunyikan dosa ini, atau dosa-dosa dalam bentuk yang lain dari hadapan manusia, bahkan dapat juga Anda berusaha menyembunyikannya dari hadapan Tuhan. Kalau Anda datang kepada Alkitab dengan dosa yang sedemikian di dalam Anda, Anda tak akan dapat menerima apa pun dari firman, meski Anda sudah memiliki hati yang damba akan firman. Jika Anda memiliki kecenderungan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan Tuhan, serentak itu pula Anda ingin datang kepada firman, Anda tidak akan diberkati dalam pembacaan firman Allah.
Kita mengetahui dari pengalaman kita bahwa pada waktu kita bergumul dengan Tuhan, mungkin yang berkenaan dengan persoalan konsikrasi, boleh jadi kita tidak mau mempersembahkan diri kita untuk dikuasai oleh Tuhan, atau diyakinkan oleh Dia. Kita mungkin mengukuhi pendapat kita mengenai suatu hal yang khusus. Walau Tuhan berbicara kepada kita berulang-ulang, kita masih tidak bersedia untuk diyakinkan, sebab pembicaraan-Nya berlawanan dengan opini kita. Kita berpegang erat kepada konsepsi kita dan bersikeras mempertahankannya. Sikap mempertahankan dengan keras seperti ini adalah suatu selubung yang menutupi hati kita. Apakah Anda berpikir Anda dapat menerima bantuan dari firman jika hati Anda tertutup seperti itu? Sudah tentu, membaca firman di saat Anda berada di dalam kondisi yang sedemikian, tidak akan mendatangkan bantuan bagi Anda.
Kalau kita ingin menerima berkat dari firman Allah, pertama-tama kita harus menanggulangi hati kita dan berbalik kepada Tuhan secara mutlak, dan dengan segenap hati kita. Kita juga perlu menanggulangi apa yang ada di dalam hati kita yang negatif atau yang menyebabkan tersekatnya kita dengan Tuhan. Jika kita menanggulangi hati kita dan hal-hal negatif di antara kita dengan Tuhan, kondisi kita akan jadi normal, yang memungkinkan kita mampu menerima bantuan dari firman.
Bahkan setelah kita menanggulangi hati kita dan halhal yang negatif di dalam hati kita, kita boleh jadi masih memiliki beberapa kerumitan. Kita semuanya, muda dan tua, sangat rumit. Di dalam kita terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kerumitan. Kerumitan ini juga menyulitkan kita untuk menerima berkat dari firman.
Ketika kita membaca Mazmur 119, kita nampak bahwa pemazmur berkenan dalam pandangan Tuhan, dan tidak ada suatu sekatan antara dia dengan Tuhan. Saya menghargai lirik sebuah kidung: “Tak bersekat, Tuhan, tak bersekat.” Tetapi sesungguhnya menyanyikan lagu ini merupakan suatu hal, sedang untuk mempraktekkan tidak adanya sekatan antara kita dengan Tuhan merupakan suatu hal yang lain lagi. Betapa limpahnya yang akan kita terima dari firman yang hidup jika tidak ada sekatan antara Tuhan dengan kita!
Kalau seseorang belajar dengan rajin selama beberapa tahun, dia dapat memperoleh titel kesarjanaan dalam suatu bidang ilmu, mungkin dalam ilmu fisika nuklir. Meski saya tahu adanya sejumlah orang muda yang sudah memperoleh gelar sarjana, namun saya tidak mengetahui berapa banyak orang yang telah sukses memperoleh suatu taraf yang sebanding dengan pengertian dalam hal-hal rohani. Beberapa orang sudah memiliki Alkitab, sebuah kitab surgawi, ilahi, serta kitab pengetahuan rohani, di dalam tangan mereka selama puluhan tahun, tetapi mereka masih memiliki suatu pengertian yang awal saja mengenainya. Ini menunjukkan bahwa walaupun mereka telah memperoleh sejumlah pengetahuan, mereka belum diberkati melalui pembacaan firman. Memperoleh suatu gelar sarjana memerlukan studi yang cukup banyak, namun untuk menanggulangi hati Anda tidak perlu sampai demikian. Sebagai contoh, apakah tidak mau memaafkan seseorang itu mampu menghalangi Anda dalam memperoleh gelar sarjana? Tentu saja tidak! Tetapi hal itu dapat mencegah Anda untuk menerima berkat dari firman Allah. Seorang saudari yang bernama Margaret E. Barber pernah berkata bahwa selembar daun yang kecil sekalipun dapat menutupi suatu sinar bintang yang terang. Demikian juga, suatu perihal kecil sekalipun dapat mencegah kita untuk menerima berkat dari Alkitab.
II. PERLU MERENDAHKAN DIRI
Alkitab lebih banyak menuntut kita daripada buku yang lain. Alkitab menuntut supaya kita merendahkan diri kita dan mengesampingkan percaya diri sendiri dan puas diri sendiri. Dalam hal datang kepada firman, kita perlu berdoa agar Tuhan membelaskasihani kita. Jika kita tidak menerima belas kasihan Tuhan, sesuatu yang ada di dalam diri kita secara tak sadar akan terus-menerus menutupi kita dan menghalang-halangi kita dari firman Tuhan. Marilah kita belajar berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Aku tidak mau tertutup oleh apa pun, dan aku tidak mau memiliki suatu sekatan antara Engkau dengan aku. Tuhan, karuniailah aku, agar tidak ada suatu sekatan di antara kita.” Ini seharusnya tidak hanya merupakan doa kita, bahkan sikap kita terhadap Tuhan.
Dalam hal datang kepada firman, kita tidak seharusnya memiliki suatu kepercayaan terhadap diri sendiri. Janganlah kita beranggapan pasti tidak akan ada masalah di antara kita dengan Tuhan. Kita sama sekali tidak mempunyai dasar untuk berkeyakinan sedemikian rupa. Meskipun kita boleh jadi tidak menyadarinya, masih ada sejumlah ma-salah di antara kita dengan Dia. Karena itu, kita perlu merendahkan diri. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Jikalau kita tidak merendahkan diri kita dalam hal datang kepada firman, kita akan sangat terhalang untuk menerima bantuan dari firman.
Ada orang mengira asalkan kita mengasihi Tuhan, segala sesuatu akan baik dan lancar. Memang, mengasihi Tuhan itu sudah seharusnya, tetapi kita mungkin mengasihi Dia tanpa pernah merendahkan diri kita di hadapan Dia. Karena sadar bahwa masih mudah timbul hal-hal negatif di dalam kita, kita perlu merendahkan diri kita. Untuk membersihkan secara tuntas segala sesuatu di sekeliling kita yang jasmaniah saja sudah sangat sulit, betapa lebih sulitnya lagi membersihkan hati kita. Dapatkah Anda membersihkan rumah Anda secara tuntas dan menyeluruh? Siapa pun sulit menjawabnya. Beberapa tahun yang lalu, ketika putri saya yang bungsu memerlukan pembedahan kecil, dokter berkata bahwa dia tak dapat mengadakan pembedahan di ruang kerjanya. Bagi saya, ruang kerjanya sangatlah bersih. Namun dokter tersebut menyadari, karena langit-langit pada ruang kerjanya tidak dapat benar-benar dibersihkan dengan tuntas, maka ruang kerjanya bukanlah tempat yang memadai untuk melakukan pembedahan. Saat dia mengatakan demikian, saya pikir ini cocok benar jika diterapkan dengan “langitlangit” insan batiniah kita. Karena langit-langit insan batiniah kita tidak mutlak bersih, sukarlah melaksanakan pembedahan di dalam kita. Karena itu, tidak seharusnya kita mempunyai keyakinan di dalam diri kita, sebaliknya dengan rendah hati kita memandang dan berharap kepada Tuhan mohon belas kasihan-Nya.
Baru-baru ini, beberapa orang muda telah selesai mengikuti suatu pelatihan khusus. Meskipun mereka sudah melewati suatu pelatihan yang baik, mereka tidak seharusnya berpikir bahwa di antara mereka dengan Tuhan sudah tidak ada suatu masalah apa pun. Mereka tidak seharusnya mengira bahwa segala sesuatunya telah dibereskan dan dikuduskan. Mereka masih memiliki banyak masalah dalam hati mereka. Jika kita memiliki pengenalan sedemikian terhadap diri sendiri, kita tidak akan percaya diri sendiri, mengira bahwa dalam segala sesuatu kita tidak ada masalah dengan Tuhan; sebaliknya, kita akan merendahkan diri kita di hadapan Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya.
III. DITERANGI OLEH FIRMAN
Jika kita memiliki sikap yang merendahkan diri saat datang kepada firman, dan tidak percaya terhadap diri sendiri, kita akan diterangi. Tidak percaya terhadap diri sendiri berarti kita tidak menyisakan apa-apa. Tidak ada suatu sisa yang menjadi masalah di antara kita dengan Tuhan. Namun, jika kita tidak memiliki suatu sikap yang merendahkan diri, tetap percaya terhadap diri sendiri, kita akan mengalami masalah yang serius dalam hal menerima berkat dari firman. Mungkin Anda merasa heran mengapa Anda tidak menerima terang dari firman, padahal Anda sudah membaca Alkitab secara teratur dalam waktu yang panjang. Sebabnya, boleh jadi Anda terlalu percaya terhadap diri Anda. Sekali lagi saya katakan, kita harus melepaskan percaya diri kita, merendahkan diri kita di hadapan Tuhan, dan berdoa agar Dia membelaskasihani kita. Kita seharusnya berkata, “Tuhan, aku tidak memiliki keyakinan apa pun di dalam diri-ku, dan aku tidak mempertahankan apa pun. Tuhan, aku terbuka kepada-Mu, dan aku mohon Engkau membelaskasihani diriku.” Kalau sikap Anda dalam hal datang kepada Alkitab adalah demikian, Anda akan menerima berkat dari firman, tak peduli bagian mana dari firman yang Anda baca. Sampai pun Matius 1:1-17, bisa mendatangkan suatu suplai bagi Anda. Jadi, perkara yang penting adalah Anda harus merendahkan diri Anda di hadapan Tuhan.
IV. RUANG LINGKUP TERANG
Sering kali kaum beriman bersaksi bahwa mereka telah nampak terang dalam pembacaan firman. Ini benar, melalui firman kita sungguh-sungguh menerima terang. Namun dalam pengalaman saya, saya menemukan, setiap kali saya merendahkan diri saya, tidak mempertahankan opini apa pun, dan memohon belas kasihan-Nya, maka saya merasa bahwa saya masuk ke dalam suatu ruang lingkup terang kapan saja saya datang kepada firman. Sekalipun saya tidak menerima suatu terang yang khusus, saya memiliki perasaan bahwa saya berada di dalam terang.
Kapan saja kita datang kepada firman, kita datang kepada terang, sebab firman adalah jelmaan Allah, dan Allah adalah terang (1Yoh. 1:5). Saat Anda berdiri di bawah sinar matahari, Anda tak perlu menerima terang, karena Anda telah berada di dalam terang. Demikian juga, bila kita da-tang kepada firman dengan sikap yang tepat, kita merasa bahwa kita berada di dalam terang dan di bawah terang, bukan hanya sekadar menerima terang. Kemudian, seluruh Alkitab dalam pengalaman kita akan menjadi sebuah kitab terang; di mana saja kita berada, ketika kita membaca Alkitab, bukan merupakan masalah, kita selalu merasa bahwa Alkitab ialah suatu terang yang bersinar.
Sebagai jelmaan Allah, terang yang unik, firman Allah adalah suatu terang yang bersinar. Terang ini sebenarnya adalah Allah sendiri yang berada di dalam firman. Karena firman ialah “kepadatan” terang ilahi, maka masuklah kita ke dalam suatu atmosfer terang kapan saja kita datang kepada firman. Ini seperti memasuki sebuah ruangan yang terang. Di saat kita berada di dalam sebuah ruangan yang terang, kita tidak hanya menerima terang, tetapi juga berada di dalam ruang lingkup terang.
Alkitab memberi terang atau tidak dalam pengalaman kita tergantung pada sikap kita dan kondisi kita. Kalau kita rendah hati dan memohon belas kasihan-Nya, Alkitab bagi kita akan menjadi suatu kitab terang. Setelah membaca sepotongan firman, boleh jadi Anda tidak mengerti banyak, namun Anda merasa bahwa Anda berada di dalam terang. Ini membuktikan bahwa Alkitab ialah firman ilahi. Anda tidak merasa bahwa Anda berada di dalam terang ketika Anda membaca sebuah surat kabar atau majalah. Namun jika Anda membaca firman atau mendoabacakan beberapa ayat dari Kitab Suci dengan hati yang tulus dan dengan sikap yang benar-benar merendahkan diri, Anda akan merasa bahwa Anda telah dibawa ke dalam terang. Setiap kali kita datang kepada firman secara tepat, kita memiliki keyakinan bahwa kita telah masuk ke dalam terang dan berada di dalam ruang lingkup terang. Kemudian dengan spontan kita menerima terang, dan jadilah kita orang-orang yang dengan mutlak berada di dalam terang.
A. TERSINGKAPNYA FIRMAN MEMBERIKAN TERANG
Dalam Mazmur 119:130 pemazmur berkata, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang.” Firman memiliki suatu jalan masuk. Ini berarti Alkitab memiliki suatu keterbukaan, suatu pintu. Menurut pengalaman saya, palang pintunya tidak di dalam, tetapi di luar, yang justru ada di pihak kita. Ini berarti jika pintu itu tertutup, kita sendirilah yang menutupnya. Apakah firman itu terbuka bagi kita atau tidak, tergantung pada bagaimana sikap kita terhadap firman itu. Kadang-kadang kita berdoa mohon Tuhan membukakan firman itu bagi kita. Bagaimanapun, ketika kita berdoa secara demikian, Tuhan akan memberi tahu kita bahwa di pihak-Nya, Dia telah membuka firman-Nya. Sekarang kita perlu membuka pintu firman itu. Pengalaman kita memberi kesaksian bahwa jika kita tidak mempunyai masalah dengan Tuhan ketika kita datang kepada firman, firman itu akan terbuka bagi kita. Tetapi kalau kita datang kepada firman saat kita bermasalah dengan Tuhan, pintu akan tertutup. Ini menunjukkan bahwa palang pintu itu ada di pihak kita. Di saat kita datang kepada firman dan membukanya, maka dalam pengalaman rohani kita, firman itu akan memiliki suatu jalan masuk, suatu keterbukaan.
Saya ingin menekankan fakta bahwa apakah pintu firman itu terbuka atau tertutup tergantung pada kita. Kita perlu bersyukur kepada Tuhan bahwa firman itu memiliki suatu jalan masuk, suatu pintu, dan palang pintunya ada di pihak kita, kita seharusnya berkata, “Tuhan, syukur kepada-Mu untuk jalan masuk dan keterbukaan firman-Mu.” Sering kali dalam pengalaman kita, karena kita datang kepada firman secara benar, kita merasakan bahwa firman memiliki suatu keterbukaan. Keterbukaan ini nampaknya seperti tergantung pada Tuhan dan datang dari Dia, tetapi sesungguhnya tergantung pada kita dan datang dari pendekatan kita terhadap firman secara tepat.
B. PELITA BAGI KAKI KITA
Dalam Mazmur 119:105, pemazmur mengucapkan suatu perkataan yang riil tentang terang, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Ini bukanlah suatu doktrin atau pengajaran, tetapi pengalaman dalam kehidupan sehari-hari pemazmur. Langkah demi langkah dalam kehidupannya sehari-hari, firman adalah terang-Nya.
Pada zaman dulu, sudah tentu, belum ada lampu-lampu penerang jalan raya. Mereka yang melakukan perjalanan di malam hari memerlukan sebuah pelita, lentera, atau obor untuk menerangi jalan mereka. Keadaan inilah yang terkesan dalam pikiran pemazmur ketika dia mengatakan bahwa firman adalah suatu pelita bagi kakinya dan terang bagi jalannya. Firman adalah pelita yang menerangi langkah-langkah kakinya. Secara riil firman Allah adalah pelita yang menerangi jalannya.
C. MENJADIKAN MATA BERCAHAYA
Mazmur 19:9 mengatakan, “Perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.” Ayat ini menunjukkan bahwa firman Allah yang hidup menjadikan mata kita bercahaya. Jika kita tidak merasa bahwa kita berada di dalam terang saat kita datang kepada firman, ini pertanda bahwa keadaan kitalah yang tidak tepat. Tidaklah cukup hanya memohon Tuhan memberi kita terang. Kita perlu merendahkan diri kita, memiliki suatu pergumulan yang tuntas dengan Tuhan, dan memohon Dia membelaskasihani kita. Pengetahuan yang diperoleh kebanyakan orang Kristen dari pembacaan Alkitab sesungguhnya menjadi suatu selubung yang mengurung mereka di dalam kegelapan. Mereka yang mempunyai pengetahuan yang sedemikian terhadap Kitab Suci, perlu merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan sehingga selubung-selubung mereka dapat disingkirkan. Jika kita merendahkan diri kita dan menerima belas kasihan Tuhan, Alkitab tidak lagi merupakan pengetahuan bagi kita lebih-lebih akan menjadi terang bagi mata kita.
Kita perlu membedakan pengetahuan dengan terang. Kita dapat memiliki Alkitab hanya sebagai pengetahuan, atau sebagai firman yang menyorotkan cahaya ilahi di dalam pengalaman kita.
V. MENERIMA SUPLAI HAYAT MELALUI FIRMAN
A. TERANG MENJADI HAYAT
Para pencari Allah yang Dia kasihi juga menerima suplai hayat, dikuatkan, dihidupkan melalui firman hayat-Nya (Mzm. 119:25, 50). Dalam pengalaman rohani, terlebih dulu kita memiliki terang, tetapi kemudian terang itu harus menjadi hayat. Hayat lebih dalam daripada terang. Kapan saja terang datang, hayat pasti datang juga. Faktanya, hayat adalah wadah terang. Yohanes 1:4 mengatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Sukar untuk menentukan yang mana datang lebih dulu, hayat atau terang. Seturut logikanya, terang datang sebelum hayat. Menurut Kejadian 1, kita pertama-tama memiliki terang, lalu berbagai macam aspek hayat.
Dalam pengalaman kita, bisa saja kita memiliki terang tanpa memiliki hayat. Terang terutama berada di dalam wilayah jiwa, khususnya di dalam ruang lingkup pengertian. Hayat, tentunya berada di dalam roh kita. Memiliki terang memang baik, tetapi terang itu haruslah menembus lebih dalam sampai menjadi hayat.
Telah kita tunjukkan, jika keadaan kita tepat dan normal ketika kita datang kepada firman, kita akan merasa bahwa kita sudah berada di dalam terang. Apa saja yang kita baca dalam Alkitab menjadi terang bagi kita. Kemudian saat kita melatih diri kita untuk berdoa, kita dengan spontan memakai roh kita dan masuk lebih jauh ke dalam firman. Melalui latihan roh di dalam doa ini, terang akan masuk ke dalam roh kita menjadi hayat. Dalam wilayah jiwa, dalam pengertian kita, firman adalah terang, namun bila firman masuk lebih jauh ke dalam, sampai ke roh kita, jadilah hayat.
Pengalaman kita menunjukkan bahwa suplai hayat tidaklah datang sebelum adanya terang. Terang datang lebih dulu. Tetapi kapan saja melalui doa kita terang ini masuk lebih dalam, mencapai roh kita, terang menjadi hayat, dan kita pun menerima suplai hayat. Ini menunjukkan kepada kita betapa perlunya perihal berdoa ketika kita membaca firman. Kita tidak berusaha membedakan apakah kita membaca lebih dulu kemudian berdoa, atau berdoa lalu membaca. Yang penting ialah kita perlu berdoa juga membaca.
B. MENGGUNAKAN KESELURUHAN DIRI KITA
Ketika kita datang kepada firman Allah, kita perlu membuka keseluruhan diri. Kita perlu menggunakan keseluruhan diri kita, tubuh kita, jiwa, dan roh. Kita menggunakan sepasang mata kita untuk membaca kata demi kata dan mulut kita untuk menyuarakannya. Kita juga menggunakan pikiran kita, bagian utama dari jiwa, untuk memahami apa yang kita baca. Kita dapat menggunakan kamus bahasa Ibrani-Yunani, kitab-kitab konkordansi, dan berbagai versi serta terjemahan. Allah menciptakan kita disertai pikiran, dan kita perlu menggunakannya untuk mengerti firman Allah. Mempelajari Alkitab juga perlu menggunakan perasaan kita untuk mengasihi firman dan menggunakan tekad kita untuk menerima jalan (prinsip) Allah dalam firman-Nya. Menggunakan pikiran, emosi, dan tekad adalah menggunakan jiwa. Namun kita juga perlu menggunakan roh kita. Ini terutama adalah berdoa, agar manusia batiniah kita dapat dikuatkan. Jika kita menggunakan seluruh diri kita untuk berkontak dengan firman, kita akan menerima terang dan suplai hayat.
VI. MEMPEROLEH PENDIRISAN FIRMAN
Dari pengalaman kita mengetahui bahwa suplai hayat yang kita terima menyebabkan kita didiris. Pertama kita memiliki penerangan; kedua, suplai hayat; dan ketiga, pendirisan. Pemazmur juga mengalami ini. Menurut Mazmur 1, mereka yang merenungkan firman Allah bagaikan pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air. Agar sebuah pohon dapat bertumbuh, pohon itu harus mempunyai akar, dan pada akar ini haruslah ada bulu-bulu akar yang amat kecil untuk menghisap air. Dalam pembacaan Alkitab, banyak orang Kristen seperti pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air. Ada beberapa orang yang tidak memiliki akar-akar memadai, sedangkan yang lain memiliki akar-akar, tetapi tidak memiliki bulu-bulu akar.
Mungkin Anda merasa heran, apa yang saya maksudkan dengan bulu-bulu akar dalam pengalaman kita. Untuk memiliki bulu-bulu akar, kita perlu masuk lebih dalam ke dalam firman secara halus. Sering kali kita gagal menerima suplai hayat karena kita terlampau kasar. Kehilangan kehalusan, menyebabkan kita kekurangan kelemahlembutan, bulu-bulu akar yang halus. Karena kita hanya memperhatikan akar-akar besar saja, dan tidak memperhatikan bulu-bulu akar, kita tak dapat menerima suplai hayat, yang selalu datang melalui kontak yang baik antara bulu-bulu akar dengan air. Kalau kita ingin didiris melalui firman, kita perlu berkontak dengan firman bukan dengan cara kasar melainkan secara halus. Apakah artinya berkontak dengan firman secara kasar? Artinya, Anda hanya secara sederhana membacanya dengan mata Anda dan mengucapkannya dengan mulut Anda, bahkan tidak memperhatikan suatu pengertian yang memadai terhadap firman. Orang-orang kasar biasanya sembrono.
Meski mereka boleh jadi adalah pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air, tetapi mereka tidak memiliki akar-akar yang tepat. Saya khawatir jika ada beberapa orang beriman dalam pemulihan Tuhan yang seperti ini. Memang mereka adalah pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air, namun mereka terlampau kasar. Bagi mereka segala sesuatu itu luaran saja, yang terlihat oleh mata jasmani dan terucapkan mulut. Pengetahuan mereka terhadap Alkitab tidaklah lebih mendalam daripada apa yang mereka lihat dan ucapkan. Karena mereka yang kasar ketika datang kepada firman tidak memiliki akar-akar yang tepat, maka mereka tidak dapat bertumbuh dalam hayat.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, beberapa orang Kristen memiliki akar, tetapi mereka tidak memiliki bulu-bulu akar yang halus. Kita perlu membiarkan firman masuk lebih dalam ke dalam kita secara halus, dan kita juga harus membiarkan seluruh diri kita, tenggelam lebih dalam di dalam firman secara halus. Ketika kita bersama firman dan firman masuk ke dalam roh kita, dalam pengalaman kita akan memiliki bulu-bulu akar. Bulu-bulu akar ini kemudian akan menghisap suplai hayat. Pengalaman kita mempersaksikan bahwa bila kita masuk lebih dalam ke dalam firman dan firman masuk lebih dalam ke dalam kita, ke dalam roh kita, kita memiliki kontak yang lebih baik dengan firman dan menerima hayat.
Ketika kita berada di dalam roh, kita sangat halus, tidak buruk atau kasar. Tidaklah mungkin menjadi kasar tetapi tetap berada di dalam roh. Setiap orang yang masuk ke dalam roh menjadi seorang yang amat halus. Jika seseorang kasar, dia pasti berada di dalam jiwanya. Namun jika ia sangat halus, dia telah masuk ke dalam roh. Bulu-bulu akar yang menghisap suplai hayat dapat ditemukan hanya di dalam roh kita.
Melalui bulu-bulu akar kita menghisap suplai hayat yang merupakan makanan dalam bentuk cair. Bahkan untuk memakan makanan jasmani kita saja kita memerlukan air. Kita tak dapat menghancurkan makanan kita dan menelannya tanpa air. Dalam perjalanan rohani, suplai makanan ada di dalam air. Pohon-pohon yang ditanam di tepi aliran air menerima kelimpahan dari air. Seluruh kelimpahan terdapat di dalam air. Bulu-bulu akar yang halus menghisap air dan dengan demikian menghisap kelimpahan yang ada di dalam air.
Firman Alkitab haruslah masuk ke dalam roh kita dan menjadi air yang berisi unsur-unsur kelimpahan makanan. Air ini bukan berada di dalam mulut kita atau di dalam pikiran kita, tetapi hanya di dalam roh kita. Air suplai hayat selalu masuk jauh ke dalam roh kita. Ketika kita membaca Alkitab hanya dengan mata dan mulut kita, kita adalah kasar. Ketika kita mencoba untuk mengerti firman melalui menggunakan pikiran kita, melalui mengasihinya, dan menerimanya dengan tekad kita, berarti kita menggunakan jiwa kita. Ini dalam hal tertentu agak halus. Tetapi bila kita menggunakan roh kita untuk berdoa, seluruh diri kita dibawa masuk ke dalam roh, dan firman masuk ke dalam roh kita juga. Sesungguhnya, kita membawa firman bersama diri kita masuk ke dalam roh sehingga kita menemukan air.
Roh Allah tidak tinggal di dalam jiwa kita, tetapi tinggal di dalam roh kita. Di dalam Alkitab, firman itu seperti makanan, sedangkan Roh itu seperti air. Firman sebagai makanan dapat tinggal di dalam pikiran kita, tetapi agar ia menjadi roh seperti air, ia haruslah masuk ke dalam roh kita. Ketika firman menjadi air di dalam roh kita, kita menerima unsur-unsur yang menyuplai kita. Dengan demikian kita memiliki penerangan, suplai hayat, dan pendirisan.
VII. BERKAT-BERKAT YANG LAIN YANG DATANG MELALUI FIRMAN
Ketika kita mengalami penerangan, suplai hayat, dan pendirisan, kita akan memiliki berkat-berkat yang lain melalui firman, yaitu penyegaran (19:8a), penyelamatan (119:41, 170), peneguhan (119:28), penghiburan (119:76), perawatan (119:103), penyokongan (119:117), dan perlindungan. Peneguhan dalam Mazmur 119:28 tidaklah mengacu kepada sesuatu yang doktrinal, tetapi sesuatu yang mengisi kita di dalam dan memberi kita tenaga. Ini pasti mengacu kepada suatu unsur yang organik, sebab hanya sesuatu yang organiklah yang dapat masuk ke dalam diri kita untuk menguatkan kita. Kenyataan bahwa firman Allah menguatkan kita menunjukkan bahwa firman itu menyalurkan suatu unsur organik ke dalam kita.
Ketika kita dikuatkan oleh firman, kita dihibur, dirawat, dan ditunjang. Di dalam diri kita sendiri kita mudah goyah, sangat mudah jatuh. Agar dapat berdiri, kita memerlukan suatu penunjang yang hidup. Penunjang yang hidup yang olehnya kita bisa berdiri adalah firman Allah yang menunjang kita terus-menerus. Lebih lanjut, firman Allah adalah perisai dan perlindungan kita.
VIII. MEMPERHATIKAN KENIKMATAN AKAN
ALLAH DI DALAM FIRMAN
Firman yang hidup bukanlah suatu teologi sistematis, melainkan Allah sendiri. Dari pengalaman saya telah belajar untuk memperhatikan kenikmatan yang riil terhadap Allah yang hidup dalam firman-Nya yang hidup. Saya tak peduli akan teologi saya menghargai pengalaman murni akan Allah melalui firman.
Jika kita merenungkan seluruh perkara yang telah kita bahas dalam berita ini di dalam terang pengalaman kita, kita akan dapat bersaksi bahwa melalui firman kita menerima sorotan, suplai hayat, dan pendirisan. Firman Allah yang hidup membuat kita disegarkan, diteguhkan, diselamatkan, dihibur, dirawat, ditunjang, dan dilindungi. Semoga kita terdorong untuk berada di dalam suatu kondisi yang tepat kapan saja kita berkontak dengan firman, agar firman dapat masuk ke dalam roh kita, sehingga menjadi suplai hayat. Jika firman menjadi hayat di dalam roh kita, kita akan menikmati berkat-berkat yang lain yang diterima oleh para pencari Allah yang terkasih melalui firman-Nya yang hidup.