← Daftar isi Keluaran (4) · bab 10/15

FUNGSI TAURAT ALLAH SEBAGAI FIRMAN-NYA YANG HIDUP TERHADAP PENCARI-PENCARI-NYA YANG TERKASIH

Pembacaan Alkitab:

Mzm. 119:11, 25, 28, 41, 49-50, 57-58, 65-66, 76, 98-101,

103, 105, 114, 116-117, 133, 135, 165, 175b;

Mzm. 19:7-8; Ef. 6:17-18a; 5:18-20; Kol. 3:16-17

Dalam berita ini, sebuah berita lain mengenai aspek “siang” hukum Taurat, kita akan memperhatikan fungsi hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya yang hidup terhadap para pencari-pencari-Nya yang terkasih. Jika kita ingin mengetahui bagaimana fungsi hukum Taurat Allah dalam hal ini, kita harus memperhatikan hukum Taurat bukan hanya sebagai peraturan-peraturan atau perintah-perintah yang diberikan oleh Allah, tetapi bahkan lebih dari itu, yakni sebagai firman yang keluar dari mulut Alah. Mazmur 119:13 membicarakan, “segala hukum yang Kau ucapkan,” ayat 72, “Taurat yang Kausampaikan,” dan ayat 88, “Peringatan yang Kauberikan.” Ayat-ayat ini menyatakan bahwa hukum Taurat keluar dari mulut Allah. Sebagai firman yang hidup dari Allah, hukum Taurat adalah udara ilahi, hembusan Allah.

Selanjutnya, jika kita mau menikmati fungsi hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya yang hidup, kita perlu menjadi para pencari Allah yang terkasih, yaitu orang-orang yang mencari Dia dengan kasih. Jika kita tidak memandang hukum Taurat Allah sebagai hembusan-Nya dan jika kita tidak dengan kasih mencari Dia, kita tidak akan mengalami fungsi positif hukum Taurat. Kita mungkin membaca kata-kata hukum Taurat, tetapi kita tidak akan disuplai dengan apa adanya Allah melalui hukum Taurat itu, dan hukum Taurat tidak akan berlaku di dalam kita dengan cara yang positif. Dengan kata lain, kita tidak akan mengalami fungsi hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya yang hidup.

Misalkan Anda ingin menggunakan suatu mesin dengan tenaga listrik. Supaya mesin berfungsi, maka tombolnya harus ditancapkan kepada stop kontak listrik. Adalah suatu ketololan bila mengharapkan mesin itu berjalan tanpa menancapkan ke stop kontak. Bila listrik mengalir ke mesin, mesin segera bergerak. Selain itu, Anda harus hati-hati dan memperhatikan mesin itu. Janganlah Anda meninggalkannya, pergi tidur, dan mengharapkannya berjalan dengan sendirinya. Demikian pula, jika kita ingin firman Allah berfungsi dengan tepat dalam pengalaman kita, kita perlu “ditancapkan” kepada aliran ilahi sewaktu kita membacanya. Kita melakukan hal ini melalui membawa firman ke dalam kita sebagai hembusan Allah. Juga, janganlah kita tertidur atau meninggalkannya. Kita harus menjadi pencari-pencari Allah yang sejati. Barulah kita akan mengalami fungsi firman Allah dalam pengalaman kita.

Ketika kita membicarakan fungsi hukum sebagai firman hidup Allah, kita sebenarnya membicarakan fungsi bekerjanya diri Allah sendiri. Fungsi firman Allah adalah beroperasinya (bergeraknya) Allah. Karena firman Allah adalah hembusan Allah, maka firman ini satu dengan Allah. Sama seperti kita tidak mungkin memisahkan hembusan seseorang dari orang itu sendiri, demikian juga kita tidak boleh memisahkan firman Allah dari diri Allah sendiri. Ini adalah suatu kekeliruan yang dilakukan oleh banyak orang Yahudi dalam membaca Perjanjian Lama dan oleh banyak orang Kristen dalam membaca Alkitab secara keseluruhan. Mereka membaca Alkitab dan mempelajarinya, tetapi dalam melakukannya mereka tidak berkontak langsung dengan Allah. Akibatnya, Alkitab yang di tangan mereka menjadi buku dengan huruf-huruf yang mati.

Dalam Yohanes 5:39-40 Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Sekalipun kaum agamawan pada zaman itu menyelidiki Kitab-kitab Suci, namun mereka memisahkannya dari diri Tuhan sendiri, dan tidak datang kepada-Nya untuk menerima hidup yang kekal. Hidup kekal ada di dalam Kristus. Jika kita membaca Alkitab tanpa berkontak dengan Dia, kita tidak akan menerima hayat, sehingga dalam pengalaman kita, Alkitab hanya menjadi buku yang terdiri dari tulisan-tulisan yang mati. Hayat ada di dalam persona yang hidup, yaitu diri Kristus sendiri. Janganlah memisahkan Alkitab dari persona yang hidup ini. Fungsi hukum Taurat sebagai firman hidup Allah sebenarnya adalah pergerakan dan pekerjaan diri Allah sendiri.

Sebagai firman hidup Allah, hukum Taurat memberikan terang kepada manusia (Mzm. 119:105). Hanya Allah itulah terang (1Yoh. 1:5). Alkitab itu sendiri dan huruf-huruf yang dicetak di dalamnya bukanlah terang dan tak dapat memberikan terang kepada kita. Paling-paling, Alkitab dengan huruf-hurufnya dapat memberi kita pengetahuan. Terang datang hanya dari diri Allah sendiri. Jadi, jika kita ingin menerima terang dari firman Allah, kita harus berkontak dengan Allah ketika kita membacanya. Ini menunjukkan bahwa berfungsinya firman Allah adalah berfungsinya diri Allah sendiri, pekerjaan Allah sendiri. Karena alasan inilah, janganlah kita menggunakan Alkitab dengan bentuk teologi sistematis. Tujuan kita adalah menikmati firman dengan fungsinya yang hidup.

Memang tak perlu diragukan bahwa dalam pembacaan Alkitab kita perlu melatih pikiran kita untuk memahami kata-kata dan istilah-istilah Alkitab. Dengan menggunakan buku-buku referensi dan konkordansi, boleh jadi kita mengeluarkan waktu berjam-jam untuk mempelajari sebuah kata. Dari pengalaman saya bisa bersaksi bahwa mempelajari seperti ini akan meletihkan jiwa kita. Sering kali, keadaan ini bahkan menekan roh. Akan tetapi, studi semacam ini terhadap firman Allah berguna jika keletihan kita menjadi pengalaman dan kenikmatan atas fungsi yang hidup dari firman itu. Di satu pihak, kita perlu berlatih mempelajari Kitab Suci. Di pihak lain, ada waktu untuk melupakan studi dan melatih roh kita untuk berdoa dengan firman dan di atas firman, mencari jalan untuk berkontak dengan Tuhan di dalam firman dan melalui firman. Jika kita berkontak dengan Tuhan melalui berdoa dengan firman, kita akan menerima hayat dari firman. Dengan demikian firman tidak akan menjadi tulisan-tulisan yang mati, karena melalui melatih roh kita, kita akan menjamah Sang hidup di dalam firman.

Sebelum saya masuk ke dalam pelayanan firman bagi kaum beriman, saya perlu mencurahkan sejangka waktu yang berharga untuk berkontak dengan Tuhan dengan cara ini. Kalau tidak, saya tak akan mempunyai sesuatu dari hayat untuk dibagikan. Saya mempersiapkan sebuah berita bukan hanya melalui mempelajari firman, tetapi terutama melalui bernafaskan Tuhan dan melalui berdoa, dan bersyukur kepada Tuhan. Dalam doa saya kepada Tuhan, saya tak mempedulikan bahasa, tata bahasa, atau susunan kalimat. Keinginan saya semata-mata menyampaikan sesuatu kepada Tuhan sehingga saya berkontak dengan Tuhan dalam cara yang hidup. Jika kita dirisaukan oleh susunan kalimat doa kita, roh kita akan menjadi lemah. Tetapi jika kita melupakan segala komposisi kalimat doa kita, sebaliknya melatih roh kita dalam doa, kita akan berkontak dengan Tuhan yang hidup.

Kita perlu berkali-kali datang kepada firman dengan maksud menerima suplai dan penyegaran. Pendekatan terhadap Alkitab ini diungkapkan dengan baik dalam sebuah kidung tentang makan firman:

Lapar pun haus roh dan hatiku,

Tuhan, kudatang mohon suplai-Mu,

Diri-Mu itulah yang kuperlu

Yang menjadi hayat dan kuatku

Koor:

Tuhan beriku makan, minum

Lapar, hausku, lerai pupus

Riang, segar, ku menempuh hidup

Tuhan, beriku makan, minum

(Kidung 586)kuning

Jika kita datang kepada Alkitab dengan roh seperti yang diungkapkan dalam nyanyian ini, kita akan memperoleh suplai dan penyegaran. Akan tetapi, sering kali kita tidak datang kepada firman dalam situasi seperti ini. Kita tidak berdoa atau berkontak dengan Tuhan. Kita hanya membaca kata-kata Alkitab dengan mata kita dan berupaya memahaminya dengan pikiran kita. Kita tidak mempunyai hati atau roh untuk berkontak dengan Tuhan. Dalam hal seperti ini, semakin kita membaca firman, kita akan semakin merasa letih, bahkan menjadi kosong. Kita perlu melatih roh kita sewaktu membaca Alkitab, dan kita perlu mempunyai hasrat untuk berkontak dengan Tuhan. Mazmur 119 penuh dengan keinginan semacam ini. Inilah sebabnya mengapa bagi pemazmur, hukum Taurat Allah adalah firman hidup Allah. Caranya berkontak dengan firman Allah dan diri Allah sendiri adalah melatih seluruh dirinya untuk mengekspresikan perasaannya yang intim dan keinginannya yang dalam. Ketika pemazmur membaca firman, ia berteriak minta tolong kepada Allah, dan dengan sungguh-sungguh mencari Dia.

Ketika kita membaca firman Allah, janganlah kita hanya berdoa, tetapi juga menyanyi bagi Tuhan. Ini adalah membaca firman melalui bermazmur. (Pada zaman dahulu, Kitab Mazmur itu dinyanyikan, bukan hanya dibaca atau dibicarakan). Berdoa memerlukan lebih banyak latihan roh daripada mengutarakan, dan menyanyi memerlukan lebih banyak latihan roh daripada berdoa. Melalui menyanyi kita dapat dengan sungguh-sungguh masuk ke dalam roh kita. Kita perlu lebih banyak menyanyi baik dalam sidang-sidang maupun dalam kehidupan kita sehari-hari.

Koor di bawah ini merupakan bagian Kidung “Bukti dan Sukacita Beroleh Selamat” yang tenar yang mengatakan:

‘Nilah b’ritaku dan kidungku, pujilah pada Jurus’lamat!

‘Nilah b’ritaku dan kidungku, pujilah pada Jurus’lamat!

(Kidung 265)kuning

Banyak orang Kristen telah menyanyikan kidung ini, tetapi tak banyak yang memuji Juruselamat mereka sepanjang hari. Menurut Anda, apakah yang akan terjadi bila kita memuji Tuhan sepanjang hari? Tak dapat diragukan lagi, kita akan tercelup sepenuhnya di dalam Tuhan.

Efesus 6:17-18 mengatakan, “Dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Dengan segala doa dan permohonan, berdoalah setiap waktu di dalam Roh.” Di sini Paulus tidak menyuruh kita melakukan dua perkara menerima firman Allah dan berdoa. Menurut susunan tata bahasa dengan jelas menunjukkan bah-wa ia meminta kita untuk menerima pedang Roh, yaitu firman Allah dengan segala doa dan permohonan. Ayat-ayat ini ditujukan kepada doa baca, mempraktekkan membaca firman Allah dalam doa. Bagaimana kita dapat menerima firman dalam doa jika kita tidak berdoa dengan firman dan di atas firman? Menerima firman melalui berdoa dengan jelas meminta kita mendoakan firman.

Sekalipun kita telah sering berbicara tentang doa-baca, namun kita kurang cukup menekankan perkara doa baca setiap saat di dalam roh. Satu Tesalonika 5:17 mengatakan, “Tetaplah berdoa.” Kita perlu berdoa setiap waktu, bahkan ketika kita dicobai dan marah-marah kepada istri atau suami kita, atau ketika mempergunjingkan kaum beriman. Jika kita berdoa pada saat-saat demikian, doa kita akan membunuh hal-hal negatif semacam itu. Berdoa adalah jalan terbaik untuk menghentikan lidah kita yang sedang bergunjing.

Dalam Efesus 6:18, Paulus mengatakan tentang doa dan permohonan. Berdoa adalah sesuatu yang umum, sedangkan permohonan adalah sesuatu yang khusus. Kita bukan hanya perlu menentukan waktu-waktu tertentu untuk berdoa, kita pun harus berdoa setiap waktu. Apakah Anda mendapat pencobaan dan bertengkar dengan istri atau suami Anda? Berdoalah! Apakah Anda kehilangan kesabaran Anda? Berdoalah! Apakah Anda hampir mengkritik seseorang? Berdoalah! Berdoalah setiap saat. Berdoalah, tak peduli di mana Anda berada atau sedang melakukan apa. Berdoa setiap waktu di dalam roh akan membunuh semua “kuman” dan “hama” dan membawa masuk suplai kelimpahan ilahi. Kita perlu menerima firman dalam segala doa dan permohonan, berdoa setiap waktu di dalam roh.

Dalam Efesus 5:18-19, Paulus meminta kepada kita agar “penuh dengan Roh, dan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”. Kita tidak hanya berdoa, tetapi juga bernyanyi dan bermazmur. Orang-orang Kristen pada zaman Paulus mungkin menyanyikan mazmur dalam Perjanjian Lama, boleh jadi menggunakan melodi-melodi tertentu dari orang-orang Yahudi. Kita hari ini juga harus berdoa-baca, nyanyibaca, dan bahkan bermazmur baca. Kita harus bermazmur dengan ayat-ayat dalam Alkitab. Menyanyikan firman lebih beroleh visi daripada hanya membacakannya. Bermazmur adalah satu cara bernyanyi sambil merenung. Bernyanyi itu tidak merenungkan, tetapi dalam bermazmur kita merenungkan firman. Pada waktu-waktu seperti itu kita menyembah Tuhan, mempunyai persekutuan dengan Dia, bahkan berkata-kata dengan diri kita sendiri di hadapan Tuhan. Inilah jalan untuk menerima suplai dari firman. Demikian kita menerapkan Alkitab, kita menerima kekayaan Allah melalui firman. Firman tertulis kemudian menjadi saluran yang melaluinya kekayaan Allah disampaikan kepada kita. Tetapi jika kita ingin menerima kekayaan-kekayaan ini, kita harus mempunyai sesuatu yang hidup, organik, dan dinamis dengan Allah setiap kali kita menjamah firman Allah.

Jika kita dipenuhi di dalam roh, kita akan mengucapkan syukur kepada Tuhan dan melakukan segala sesuatu dalam nama-Nya. Selama bertahun-tahun, saya tak dapat memahami apa yang dimaksud dengan melakukan segala seuatu dalam nama Tuhan. Sudah tentu, menurut pikiran saya ini berarti melakukan segala perkara di dalam kesatuan dengan Dia. Akan tetapi, hal ini hanya merupakan doktrin, bukan praktek yang riil. Sekarang saya nampak bahwa bila kita berkontak dengan firman dengan cara yang hidup, berdoa, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur, kita akan dijenuhi dengan Tuhan dan menjadi satu dengan Dia. Kemudian apa pun yang kita kerjakan dalam kehidupan kita setiap hari akan berada di dalam nama Tuhan.

Menurut Efesus 5, istri taat kepada suami dan suami mengasihi istri merupakan luapan dari dipenuhi di dalam roh. Di sini tak perlu istri bersusah payah untuk taat kepada suami atau suami mengerahkan segala tenaganya untuk mengasihi istri. Dalam diri kita sendiri kita tak akan sanggup menggenapkan semua tuntutan ini. Jika istri ingin taat kepada suami atau jika suami ingin mengasihi istri, mereka harus dipenuhi di dalam roh, bernyanyi, bermazmur, dan bersyukur kepada Tuhan. Jika seorang saudara berbuat demikian, ia akan dijenuhi dengan Tuhan dan secara otomatis mengasihi istrinya, tak peduli bagaimana istrinya memperlakukan dia.

Pada tahun 1969 hingga 1971, banyak orang beriman di Elden Hall di Los Angeles berlatih menyanyi dan memuji Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pada hari-hari itu, banyak keluarga yang tinggal berdekatan dengan tempat sidang, dan sering suara nyanyian, doa baca, dan pujian terdengar dari rumah-rumah kaum beriman. Nyanyian dan pujian kemudian juga dibawa ke dalam sidang-sidang, jauh sebelum waktu pertemuan-pertemuan akan dimulai. Sering kali pertemuan telah dimulai di jalan-jalan dengan nyanyian serta puji-pujian dari kaum beriman ketika mereka berjalan menuju tempat sidang. Pada faktanya, sidang mereka telah dimulai siang hari, ketika kaum beriman berkontak dengan Tuhan melalui bernyanyi, doa baca, dan memuji. Dalam tahun-tahun belakangan ini kecenderungan kita menyimpang kembali ke arah kebiasaan agama tradisional. Boleh jadi kita membaca firman dan berdoa pada waktu-waktu tertentu dan kemudian datang ke dalam sidang-sidang yang telah ditentukan waktunya, namun kita kurang mempunyai suatu kehidupan yang secara terus-menerus hidup dalam roh. Tetapi dalam tahun-tahun itu di Elden Hall, kaum beriman mempunyai kehidupan yang sedemikian itu setiap hari.

Efesus 5:20 mengatakan ucaplah syukur senantiasa, dan dalam 6:18 berdoalah setiap waktu. Kita seharusnya tidak hanya berdoa pada waktu-waktu yang telah ditentukan saja, tetapi berdoa setiap waktu. Selain itu, kita seharusnya mengucap syukur senantiasa untuk segala sesuatu. Inilah cara menerima firman Allah.

Firman Allah bukan hanya huruf-huruf hitam di atas putih, melainkan adalah hembusan Allah, bahkan nafas Allah. Bila kita mempunyai kontak dengan Tuhan terus-menerus secara pribadi, hidup, dan intim setiap hari, barulah kita sungguh-sungguh hidup berdasarkan menghirup Dia. Hayat jasmani kita tergantung kepada bernafasnya kita. Bila seseorang berhenti bernafas, ia mati. Demikian juga, kita memperhidupkan Kristus berdasarkan menghirup Dia.

Tetapi di manakah Kristus sehingga kita bisa menghirup Dia? Ia ada di dalam Roh, dan Roh itu diwujudkan di dalam firman. Setiap kali kita datang kepada firman dengan cara yang hidup, dengan cara menghirup Tuhan, dan bukan hanya mempelajari Alkitab secara harfiah, melainkan secara organik berhubungan dengan Dia, maka semua apa adanya Dia, hayat-Nya, dan kelimpahan-Nya, akan disalurkan ke dalam kita. Akibatnya, dalam kehidupan kita sehari-hari kita dijenuhi oleh Dia, Ia dan kita menjadi satu. Karena kita dalam kesatuan seperti ini dengan Dia, maka apa pun yang kita kerjakan, kita kerjakan di dalam Dia.

Beban saya dalam berita ini adalah mengenai perkara penting ini: dalam memperlakukan hukum Taurat Allah, para pemazmur membuka diri mereka kepada Tuhan, memandang hukum Taurat sebagai firman Allah, dan berkontak dengan diri Allah sendiri. Kitab Mazmur penuh dengan roh doa, penuh dengan keinginan dan seruan kepada Allah. Dalam doa-doa dan mazmur-mazmur mereka, para pemazmur merenungkan firman Allah. Secara otomatis, unsur Allah ditransfusikan ke dalam mereka, sehingga mereka dijenuhi serta diresapi. Bagi mereka, hukum Taurat bukan hanya sejumlah tuntutan, perintah, dan peraturan, melainkan melalui hukum Taurat mereka dapat menerima suplai hayat. Karena para pemazmur adalah para pencari yang merindukan Allah, maka mereka dijenuhi dengan persona ilahi. Kemudian segala sesuatu yang mereka lakukan adalah di dalam nama Allah. Melalui bergaul dengan firman Allah, mereka menjadi satu dengan Allah dan mengalami fungsi firman-Nya.

Berbagai macam fungsi firman ini adalah pekerjaan (pergerakan) persona yang hidup. Sebagai contoh, firman ini menghibur kita, menguatkan kita, dan menunjang kita. Semuanya ini adalah pergerakan diri Allah sendiri ketika Ia menunjang kita, menghibur kita, menguatkan, dan memenuhi kita. Semua fungsi hukum Taurat seperti firman hidup Allah yang diungkapkan dalam Mazmur 119 adalah perbuatan dan pergerakan dari persona yang hidup. Tetapi jika kita tidak berkontak dengan Tuhan sewaktu kita membaca firman, firman itu tak akan berfungsi seperti ini dalam pengalaman kita. Sebenarnya, bukan firman yang mempunyai fungsi-fungsi seperti ini, melainkan diri Allah sendiri yang bekerja dengan cara-cara tertentu. Kita berkontak dengan Sang hidup ini melalui firman dan diinfus dengan Dia serta dijenuhi dengan Dia sehingga Ia menjadi hayat kita dan apa adanya kita. Dalam pengalaman kita, Ia berfungsi memberikan hayat dan terang kepada kita serta menunjang kita, menguatkan kita, dan menghibur kita.

Sidang-sidang gereja haruslah menjadi kelanjutan kehidupan sehari-hari kita. Kita harus menyanyi dan memuji dalam kehidupan kita sehari-hari dan kemudian melanjutkan nyanyian serta pujian di dalam sidang-sidang. Tetapi jika kita hanya memuji Tuhan dalam sidang-sidang tanpa memuji Dia dalam kehidupan kita sehari-hari, sidang-sidang kita akan menjadi suatu sandiwara dan kita akan menjadi pemain-pemainnya. Janganlah kita bersidang untuk bersandiwara, melainkan mengekspresikan apa adanya kita dalam kehidupan sehari-hari kita.

Baru-baru ini telah ditunjukkan kepada kita bahwa untuk memperhidupkan Kristus setiap hari, kita perlu berdoa di dalam segala hal yang kita perbuat. Berdoa dengan tak henti-hentinya berarti bernafaskan Tuhan secara terus-menerus. Dalam segala hal yang kita perbuat makan, berpakaian, berbicara dengan orang lain, dan semua rincian lainnya dalam kehidupan kita sehari-hari kita perlu berdoa. Menurut Surat Efesus, kita perlu mengucapkan syukur senantiasa dan berdoa setiap waktu. Kemudian kita akan melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan. Inilah memperhidupkan Kristus. Kolose 3:17 mengatakan, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah, Bapa kita.” Untuk melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan, kita perlu menjadi orang-orang yang menyanyi, bermazmur, memuji, dan mengucap syukur senantiasa.

Kita juga perlu menjadi orang-orang yang mengikatkan diri kita sendiri kepada Allah Tritunggal melalui firman. Melalui firman, kita dapat berkontak dengan Tuhan dan menerima suplai-Nya. Tanpa menggunakan firman, kita akan menemukan kesulitan untuk menyusun doa atau pujian. Tetapi bila kita memakai firman, kita akan mudah berdoa dan memuji. Gunakanlah ayat-ayat Alkitab sebagai bahan untuk doa, pujian, nyanyian, dan mazmur Anda. Melalui demikian menerapkan firman Tuhan, Anda akan dijenuhi dengan Allah Tritunggal. Kemudian Anda akan melakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan. Ketika kita bernyanyi dan bermazmur dengan firman, Allah Tritunggal dibawa ke dalam kita dan kita dibawa masuk ke dalam Dia. Inilah cara untuk membiarkan firman berfungsi di dalam pengalaman kita.

Kolose 3:16 mengatakan, “Hendaklah perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di antara kamu.” Kata “tinggal” di sini dalam bahasa Yunani berarti bersemayam, berhuni. Supaya firman Kristus berhuni di dalam kita, firman haruslah menjadi persona, karena tak mungkinlah sesuatu yang tidak hidup berhuni di dalam kita. Karena firman Kristus tinggal di dalam kita dengan segala kekayaannya, berarti firman itu meresapi kita dan diasimilasikan ke dalam diri kita.

Dalam Kolose 3:16, kekayaan firman menggambarkan tempat kediaman, tempat tinggal. Bila firman Kristus tinggal di dalam kita dengan kekayaannya, maka firman itu meresapi, menjenuhi, dan menunjang setiap bagian dalam kita. Kristus adalah kekayaan yang tak terduga, terwujud dalam firman-Nya. Jadi, ketika firman-Nya tinggal di dalam kita, berhuni di dalam kita, dan bergerak di dalam kita, kita akan dijenuhi dengan kelimpahan-Nya.

Cara untuk membuat firman Kristus tinggal di dalam kita dengan kelimpahannya adalah “dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kol. 3:16). Kita harus menjadi orang-orang yang tidak hanya membaca Alkitab, tetapi juga berdoa, memuji, dan bermazmur dengan Kitab Suci dan bahkan mengucap syukur kepada Allah dengan firman-firman Alkitab. Ketika kita menerapkan firman Allah seperti ini, Allah akan bekerja melalui firman.

I. MEMBERIKAN TERANG DAN HAYAT

Dalam Mazmur 119 dan 19 kita nampak sedikitnya ada 26 fungsi hukum Taurat Allah sebagai firman hidup-Nya bagi mereka yang dengan kasih mencari Dia. Kita telah menunjukkan bahwa firman Allah memberi kita terang, pun memberikan hayat (Mzm. 119:25, 50, 107, 154). Jika kita membaca Mazmur 119 dengan cermat, kita akan nampak bahwa kata “hidupkanlah” dipakai berkali-kali. Kata Ibrani untuk “hidupkanlah”, seperti kata Yunani, berarti memberikan hayat. Firman Allah memberi kita terang; kemudian menghidupkan kita, menerangi kita, memberi kita hayat. Karena itu, kita hidup berdasarkan firman hayat, yakni, kita hidup berdasarkan diri Allah sendiri.

II. MENYEGARKAN JIWA DAN MENYUKAKAN HATI

Fungsi lain dari firman adalah menyegarkan jiwa manusia dan menyukakan hati manusia (Mzm. 19:8-9). Kita tidak hanya perlu dihidupkan oleh firman, tetapi juga disegarkan olehnya, terutama ketika kita mengalami depresi, tertekan, tertindas. Setelah kita melakukan pekerjaan kita sepanjang hari, kita boleh jadi berada di bawah tindasan setan dan memerlukan penyegaran. Dalam perjalanan Anda pulang ke rumah dari tempat pekerjaan Anda, ambillah waktu untuk membaca, berdoa, dan menyanyikan firman. Anda akan menemukan bahwa firman akan menyegarkan jiwa Anda dan menyukakan hati Anda.

III. MEMBAWAKAN KESELAMATAN

Firman Allah juga membawakan keselamatan kepada kita (Mzm. 119:41, 170). Kita memerlukan keselamatan setiap hari, bahkan setiap saat. Firman hidup Allah mendatangkan Allah sekarang ini juga kepada kita dan keselamatan yang terus-menerus.

IV. MENEGUHKAN, MENGHIBUR, DAN MERAWAT

Firman Allah meneguhkan kita (Mzm. 119:28), menghibur kita (ayat 76), dan merawat kita (ayat 103). Pemazmur mengatakan bahwa firman Allah manis bagi langit-langitnya, lebih daripada madu bagi mulutnya. Ini menyatakan bahwa ia beroleh rawatan dari firman.

V. MENOPANG, MENJAGA, MEMBUAT ORANG BERPENGHARAPAN

Karena firman Allah merawat kita, maka juga menopang (menunjang) kita. Firman menopang kita. Firman juga menyokong (menjaga) dengan keselamatan dan membuat kita berpengharapan (Mzm. 119:116-117, 49). Ketika kita mengalami fungsi firman hayat, kita tak akan menjadi orang yang tanpa pengharapan. Sebaliknya, kita akan berpengharapan dalam segala hal. Dalam Filipi 1:20, Paulus mengatakan tentang kerinduannya dan harapannya.

VI. MEMBUAT KITA MENIKMATI ALLAH SEBAGAI BAGIAN KITA

Firman Allah juga membuat kita menikmati Allah sebagai bagian kita (Mzm. 119:57). Jika kita ingin menikmati Kristus sebagai bagian kita di dalam firman, janganlah kita hanya mempelajari firman, melainkan menerima firman dengan cara yang hidup dengan jalan berdoa, bernyanyi, bermazmur, dan mengucapkan syukur.

VII. MEMBUAT KITA MENIKMATI WAJAH ALLAH

Melalui firman Allah, kita menikmati wajah Allah (ayat 58 Tl.) serta sinar wajah-Nya (ayat 135). Saat umat Israel takut dan gentar di bawah Gunung Sinai, Musa justru sedang menikmati sinar wajah Tuhan di puncak gunung. Keadaan kita seharusnya adalah keadaan Musa di puncak gunung, dan bukan keadaan umat Israel di bawah gunung. Kita seharusnya berada di puncak gunung, di bawah sorotan sinar wajah Allah.

VIII. MEMBUAT KITA MENIKMATI ALLAH

SEBAGAI TEMPAT PERSEMBUNYIAN DAN

PERISAI KITA, SERTA MENIKMATI

PERTOLONGAN DAN KEBAJIKAN ALLAH

Melalui firman kita menikmati Allah sebagai persembunyian kita dan perisai kita (Mzm. 119:114), juga menikmati pertolongan dan kebajikan Allah (ayat 175, 65). Dalam setiap aspek Allah melakukan kebajikan-Nya terhadap kita. Rawatan-Nya meliputi banyak hal; Ia memenuhi semua kebutuhan kita. Teguran-Nya pun merupakan aspek kebajikan-Nya. Jika kita mendapati firman-Nya dengan cara yang hidup, kita akan menikmati kebajikan-Nya.

IX. MENJADIKAN BIJAKSANA DAN

MEMBERIKAN AKAL BUDI

Mazmur 119:98 mengatakan, “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana daripada musuh-musuhku,” dan ayat 99 mengatakan, “Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa firman Allah menjadikan kita bijaksana. Semakin kita memasuki firman, kita menjadi semakin bijaksana.

X. MEMBERIKAN KEJERNIHAN DAN PENGETAHUAN

Firman Allah juga memberi kita kejernihan dan pengetahuan (ayat 66 Tl.). Banyak orang Kristen hari ini yang kekurangan daya pembeda (tamyiz). Mereka seperti orang-orang yang tak dapat membedakan ibu jari dengan jari-jari mereka. Kita memerlukan kejernihan ini. Firman Allah memberi kita kejernihan dan pengetahuan yang kita perlukan.

XI. MENJAGA KITA DARI DOSA DAN DARI SETIAP JALAN JAHAT

Mazmur 119:11 mengatakan, “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” Menurut ayat ini, firman Allah menjaga kita dari keadaan berdosa. Firman juga memelihara kaki kita dari setiap jalan jahat (Mzm. 119:101).

XII. MENJAGA KITA TIDAK TERSANDUNG,

MENEGUHKAN LANGKAH KITA, DAN

MEMBUAT KITA MENGALAHKAN KEJAHATAN

Firman Allah juga menjaga kita sehingga tidak tersandung (Mzm. 119:165), meneguhkan langkah kita, dan membuat kita mengalahkan kejahatan (Mzm. 119:133). Tidak ada kejahatan yang berkuasa atas diri kita, melainkan kita akan menaklukkan semua perkara jahat, karena firman Allah akan menjadikan kita penakluk dan pemenang.