← Daftar isi Keluaran (4) · bab 15/15

ASPEK NEGATIF PEMBERIAN HUKUM TAURAT DAN FUNGSINYA (3)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 19:10-24; 20:19-21; 32:1; Rm. 5:13,

20; 4:15; 7:7-8, 13; Gal. 3:19; Rm. 3:19; Gal. 3:23-24

Dalam pengalaman saya bersama Tuhan, saya telah mempelajari suatu rahasia yang istimewa, dan saya ingin memberitahukannya kepada Anda. Rahasia itu ialah bila Anda mendapati bahwa Alkitab menyuruh Anda melakukan suatu perkara, jangan berkata, “Tuhan, aku akan melakukannya. Aku hanya mohon Tuhan menolongku dalam melakukan perkara tersebut.” Sebaliknya, katakanlah kepada-Nya bahwa Anda mengasihi Dia, tetapi Anda tidak dapat memenuhi permintaan-permintaan-Nya. Sebagai contoh, seorang anak muda mungkin berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu. Alkitab menyuruhku menghormati orang tuaku. Tuhan, aku harus mengakui bahwa aku tidak dapat menghormati mereka. Tetapi aku mengasihi-Mu dan mengasihi firman-Mu. Aku ingin tinggal bersama-Mu sesuai dengan firman-Mu. Tuhan, aku hanya ingin berada bersama-Mu.” Kemudian Tuhan akan menjamin anak muda itu bahwa meskipun ia tidak dapat menghormati orang tuanya, Tuhan sendirilah yang akan melakukan hal itu di dalam dirinya. Kita hanya harus mengucapkan amin terhadap firman-Nya. Kemudian Tuhan akan melakukan di dalam kita apa yang tidak mampu kita lakukan. Alangkah ajaibnya!

Perkara mengenai kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mengasihi Dia dan firman-Nya tetapi tidak mampu melakukan apa yang Alkitab katakan ini, tentu saja bukan merupakan suatu konsepsi alamiah atau konsepsi agamawi, melainkan sesuatu yang menurut ekonomi Allah. Seandainya Tuhan menghendaki Anda memberitakan Injil kerajaan ke seluruh dunia, Anda harus berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, aku juga mengasihi firman-Mu. Tetapi jangankan mengabarkan Injil ke seluruh dunia, mengabarkan Injil kepada orang di sebelah rumah pun aku tidak mampu. Tetapi aku mengasihi-Mu, dan aku ingin tinggal bersama-Mu.” Jika Anda berkata demikian kepada Tuhan, Anda akan memiliki keyakinan bahwa meskipun Anda tidak dapat memenuhi permintaan ini, Tuhan akan melakukannya di dalam Anda dan melalui Anda. Asalkan Anda mengasihi Tuhan dan firman-Nya serta tinggal bersama Dia, Dia akan melakukan di dalam Anda apa yang tidak dapat Anda lakukan.

Bila saya membaca Alkitab pada beberapa tahun yang lalu, saya sering berkata, “Amin! Aku akan melakukan apa yang dikatakan dalam Alkitab.” Tetapi sekarang bila saya membaca Alkitab, saya berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu dan firman-Mu. Tetapi Engkau tahu bahwa aku tidak dapat melakukan apa yang dikatakan dalam Alkitab. Sekarang aku tahu bahwa Engkau akan melakukan bagiku apa yang Engkau perintahkan kepadaku. Aku tahu apa maksud hati-Mu. Engkau tidak menghendakiku melakukan apa pun. Meskipun Engkau menyuruhku melakukan perkara-perkara tertentu, tetapi Engkau sendirilah yang akan melakukan perkara-perkara itu di dalamku. Engkau hanya menghendakiku mengasihi-Mu dan tinggal bersama-Mu, dan mengatakan bahwa aku tidak dapat melakukan sesuatu apa pun, Engkau akan semakin merasa senang.”

Tuhan senang kalau kita berkali-kali mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh firman. Ia ingin kita bersama Dia. Semakin kita tinggal bersama Dia dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita tidak mampu melakukan apa pun, Ia akan semakin merasa senang. Allah menghendaki kita tinggal bersama Dia, sehingga kita, seperti Musa di puncak gunung, dapat diinfus oleh diri-Nya sendiri. Inilah yang Allah kehendaki hari ini.

Allah tidak hanya memberikan kepada kita Sepuluh Perintah, peraturan-peraturan dan perintah-perintah lain; Ia juga memberikan segenap Alkitab kepada kita. Apakah kita mengira bahwa kita akan dapat melakukan segala sesuatu yang dikatakan dalam Alkitab? Tentu saja tidak. Sebaliknya, kita harus tinggal bersama Tuhan, dan berkali-kali mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia dan firman-Nya, tetapi kita tidak dapat melakukan apa yang dikatakan dalam Alkitab. Tuhan ingin melakukan bagi kita dan di dalam kita, apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri.

Telah saya tunjukkan bahwa penyampaian hukum Taurat adalah berbeda-beda menurut kategori orang yang berbeda-beda pula. Ketika hukum Taurat diberikan, Musa yang berada di puncak gunung mengalami infus ilahi, beberapa orang yang berada di gunung sujud menyembah dari jauh, dan sebagian besar dari bangsa itu yang berada di kaki gunung gemetar ketakutan. Bukan mereka yang menyembah dari jauh maupun mereka yang berada di kaki gunung yang dapat memenuhi kehendak Allah. Kehendak Allah hanya dapat dipenuhi melalui Musa, yaitu orang yang mengalami infus-Nya. Hanya dialah yang dapat memenuhi kehendak hati Allah.

Karena Musa diinfus oleh Allah, ia menjadi manusia milik Allah, bahkan manusia-Allah. Sebagaimana besi dapat diinfus dengan api dan berbaur dengannya, demikian pula Musa diinfus oleh Allah dan berbaur dengan Dia. Kita seperti besi dan Allah seperti api. Sebagaimana besi dapat dibakar dengan api sampai bersinar, demikian pula Allah menghendaki kita dibakar oleh Dia, diinfus, dan berbaur dengan Dia, sampai kita bersinar oleh Dia. Inilah tujuan Allah.

Tidak peduli sampai di mana kita membaca Alkitab, kita perlu berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, dan aku ingin tinggal bersama-Mu. Tuhan, aku menerima apa yang Engkau katakan. Tetapi aku tidak dapat melakukannya. Sekarang aku telah mengetahui cara Tuhan. Engkau akan mengerjakan segala sesuatu bagiku dan di dalamku.” Jika seorang saudara berusaha di dalam dirinya sendiri untuk mengasihi istrinya, maka ia tidak akan dapat melakukannya. Tetapi, jika sebagai pengganti dari berusaha untuk mengasihi istrinya, ia tinggal bersama Tuhan dan diinfus oleh Dia, maka secara otomatis ia akan mengasihi istrinya. Istrinya pasti sama sekali tidak menduga akan kasih suaminya terhadap dirinya itu.

Saya dapat bersaksi bahwa telah berkali-kali saya bertekad untuk melakukan perkara-perkara tertentu, tetapi selalu gagal. Namun ketika dengan sederhana saya membuka diri kepada Tuhan untuk diinfus oleh Dia, saya mendapati bahwa Tuhan akan melakukan di dalam saya apa yang tidak dapat saya lakukan sendiri. Inilah yang diminta oleh Tuhan hari ini.

III. ASPEK NEGATIF FUNGSI

HUKUM TAURAT

A. MENYINGKAPKAN DOSA

Pada butir ini, saya merasa perlu membicarakan perkataan mengenai fungsi hukum Taurat pada segi negatifnya. Hukum Taurat menyingkapkan dosa kita (Rm. 5:13, 20; 4:15; 7:7-8, 11, 13; Gal. 3:19). Alkitab juga berfungsi untuk menyingkapkan keadaan kita. Tanpa hukum Taurat, kita tidak mengenal dosa. Tetapi saat hukum Taurat datang, dosa tersingkapkan.

B. MENAKLUKKAN ORANG-ORANG YANG BERDOSA

Jika kita benar di hadapan Allah, hukum Taurat tidak hanya akan menyingkapkan kita, tetapi juga akan menaklukkan kita (Rm. 3:19). Begitu kita disingkapkan dan ditaklukkan, kita akan menjadi rendah hati di hadapan Allah. Kita akan berkata kepada Dia, “Tuhan, aku penuh dengan dosa dan kotor. Alangkah bersyukurnya aku atas penebusan-Mu. Aku mengasihi-Mu, dan aku mengucap syukur atas darah yang telah membersihkanku, serta Roh-Mu yang menyucikanku.” Pada dasarnya, kita memang sombong. Jika kita tidak memiliki hukum Taurat, kita tidak akan pernah menyadari betapa kita ini penuh dengan dosa, dan kita tidak akan pernah ditaklukkan. Kita bersikap sombong di hadapan orang lain, dan bahkan di hadapan Allah. Tetapi hukum Taurat dan Alkitab menutup mulut kita. Kita tidak memiliki cara untuk membenarkan dan membersihkan diri kita sendiri.

C. MENGAWAL UMAT PILIHAN ALLAH DAN MEMBAWA MEREKA KEPADA KRISTUS

Menurut Galatia 3:23-24, hukum Taurat juga berfungsi untuk mengawal umat pilihan Allah, dan membawa mereka kepada Kristus. Begitu kita dibawa kepada Kristus, kita akan menerima berkat. Setelah kita diterangi, ditaklukkan, dikawal, dan dibawa kepada Kristus, kita boleh menerima Kristus sebagai hayat kita. Kemudian jika kita tinggal bersama Kristus, kita akan menikmati-Nya sebagai persona kita.

Kristus adalah jelmaan Allah. Bila kita memiliki Kristus, kita memiliki Allah. Bila kita tinggal bersama Kristus, kita tinggal bersama Allah. Jika kita tetap bersatu dengan Kristus, secara spontan kita akan memperhidupkan Kristus. Kita akan dapat berkata seperti Paulus, “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Memperhidupkan Kristus ini sama dengan memancarkan Allah seperti yang dikatakan Alkitab melalui terinfusnya kita oleh Allah. Saat unsur Allah ditransfusikan ke dalam kita, wajah kita akan bercahaya oleh Allah, dan ketika kita tinggal bersama Kristus, secara spontan kita akan memperhidupkan Dia.

Tujuan Allah bukanlah memberi perintah agar kita melakukan perkara-perkara tertentu untuk Dia. Konsepsi mengenai melakukan perkara-perkara tertentu bagi Allah adalah konsepsi manusia yang telah jatuh. Konsepsi itu juga merupakan konsepsi agama. Setelah Allah menciptakan manusia, Allah tidak menyuruh manusia melakukan banyak perkara bagi Dia. Sebaliknya, Ia memberinya perintah yang berkenaan dengan makan. Allah menempatkan manusia yang telah diciptakan oleh Dia itu di hadapan pohon hayat, dan memperingatkannya agar jangan makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Tujuan Allah ialah agar manusia makan dari pohon hayat, dan dengan demikian menerima Allah ke dalamnya.

Alkitab mewahyukan, Allah menciptakan manusia sebagai bejana untuk diisi oleh Dia. Allah tidak menghendaki bejana ini melakukan sesuatu untuk Dia. Siapakah orang yang membuat sebuah bejana dan kemudian mengharapkan bejana itu melakukan perkara-perkara untuk dia? Bejana adalah sebuah wadah. Alkitab mengatakan bahwa kita adalah wadah yang dipakai untuk tujuan yang mulia (Roma 9:21, 23). Karena Allah sendiri terhormat dan mulia, maka untuk menjadi bejana yang terhormat dan mulia, kita harus diisi oleh Allah. Allah tidak menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia melakukan perkara-perkara untuk Dia.

Berisikan Allah adalah mengekspresikan Allah. Jika sebuah botol diisi dengan cairan warna merah, botol ini akan mengekspresikan warna merah dari cairan tersebut. Sebuah wadah kaca yang bening, akan selalu mengekspresikan isinya. Inilah prinsip yang penting dan mendasar dalam Alkitab. Jika sebagai bejana kita diisi oleh Allah, maka secara otomatis kita akan mengekspresikan Allah.

Setelah kejatuhan manusia, Allah berkali-kali datang melakukan perkara-perkara bagi manusia. Ketika Allah menampakkan diri kepada Adam setelah kejatuhan itu, Ia tidak bermaksud mengatakan kepada Adam apa yang harus ia lakukan. Sebaliknya, menurut Kejadian 3:15, Allah mengutuk dan berkata kepada ular itu, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Tuhan berjanji bahwa keturunan perempuan itu akan datang untuk meremukkan kepala ular. Setelah berbicara lagi kepada Adam dan Hawa, TUHAN Allah membuat “pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kej. 3:21). Karena manusia telah jatuh, maka ia memerlukan penutup. Pakaian dari kulit yang Allah kenakan (tutupkan) kepada Adam dan Hawa itu menunjukkan Kristus sebagai penutup yang riil. Penutupan ini merupakan suatu tanda bahwa pada suatu hari, Allah akan menaruh manusia yang telah jatuh itu ke dalam Kristus. Menurut Perjanjian Baru, ketika kita dibaptis dalam nama Yesus Kristus, kita diletakkan ke dalam persona Kristus (Gal. 3:27). Yang penting di sini ialah bahwa dalam Kitab Kejadian, Allah menampakkan diri bukan dengan maksud untuk mengatakan kepada manusia apa yang harus ia lakukan. Sebaliknya, Allah berkali-kali datang untuk membuat janji, yaitu janji yang menunjukkan bahwa tujuan Allah adalah melakukan segala sesuatu bagi manusia. Di pihak kita, kita harus berbalik kepada Dia, mencari Dia, mengasihi Dia, menjadi satu dengan Dia, dan berdiri di pihak-Nya. Maka Ia akan melakukan segala sesuatu bagi kita. Ini seperti keadaan Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Orang-orang ini menerima janji Allah, dan mereka mengalami Dia yang datang untuk melakukan perkara-perkara bagi mereka. Tujuan Allah adalah melakukan segala sesuatu bagi umat-Nya.

Pada kesembilan belas pasal pertama dari Kitab Keluaran, kita melihat Allah datang untuk memenuhi janji yang telah Dia buat dalam Kitab Kejadian. Saya telah menunjukkan bahwa dalam Keluaran 19:4-6, Allah menyampaikan perka-taan yang manis tentang anugerah kepada bangsa itu, dan mengatakan kepada mereka bahwa Ia telah mendukung mereka di atas sayap rajawali serta membawa mereka kepada diri-Nya, sehingga mereka menjadi milik pribadi-Nya, dan Ia akan menjadikan mereka kerajaan imam bagi Dia. Namun demikian, orang-orang Israel tidak mengetahui kehendak hati Allah, dan mereka menyatakan bahwa mereka akan melakukan apa yang Allah kehendaki. Ini membuat Allah merasa perlu memberikan perintah-perintah tertentu kepada mereka.

Banyak orang Kristen yang memiliki konsepsi bahwa Perjanjian Lama adalah kitab perintah, sedangkan Perjanjian Baru bukan kitab perintah. Sebenarnya, perintah-perintah dalam Perjanjian Baru sama tegasnya dengan perintah-perintah dalam Perjanjian Lama. Coba pikirkan, banyak perintah yang kita temukan dalam pasal 5, 6, dan 7 dari Injil Matius. Perintah-perintah yang diberikan oleh Tuhan dalam khotbah-Nya di atas bukit, adalah perintah-perintah yang lebih dalam dan lebih tinggi daripada perintah-perintah yang kita temukan dalam Perjanjian Lama. Perintah-perintah-Nya itu demikian serius, sehingga tidak mungkin ada orang yang dapat memenuhi perintah-perintah tersebut.

Dalam Surat Kiriman, lebih banyak lagi perintah-perintah yang diberikan. Jika kita dengan teliti membaca Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa perintah-perintah yang diberikan melalui Musa diulang lagi dalam Surat-surat Kiriman, seperti perintah mengenai memelihara hari Sabat. Kitab Ibrani membicarakan tentang perhentian Sabat yang akan datang. Jadi, perintah mengenai memelihara hari Sabat tidak diulang dalam cara yang lama, melainkan dalam cara yang baru, yaitu cara yang lebih dalam.

Setelah Keluaran 19, Alkitab menjadi kitab yang penuh dengan perintah. Berkali-kali Allah datang untuk memerintah dan membuat permintaan-permintaan. Apa tujuan Allah dalam melakukan hal ini? Tujuan-Nya ialah supaya kita menerima Dia ke dalam kita. Allah telah memanggil kita dengan tujuan untuk menginfuskan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Tetapi manusia yang telah jatuh tidak memiliki pengertian ini. Konsepsi alamiah dari manusia yang telah jatuh ini ialah melakukan perkara-perkara bagi Allah. Karena manusia mempunyai konsepsi yang sedemikian ini, maka Allah merasa perlu menunjukkan kepada manusia betapa tingginya permintaan-Nya. Standar-Nya menjangkau langit. Kita sama sekali tidak dapat memenuhinya. Bila kita merenungkan standar Allah dan kemudian memandang diri kita sendiri, kita akan tunduk dan berkata, “Tuhan, aku tidak dapat melaksanakannya.” Bila kita berkata demikian, Tuhan akan menjawab, “Aku tahu bahwa kamu tidak dapat melakukannya. Biarlah Aku datang untuk memenuhi permintaan-Ku bagimu dan di dalammu. Aku hendak melakukan segala sesuatu untukmu, tetapi kamu harus membiarkan Aku masuk. Jika kamu menutup pintu terhadap-Ku, maka tidak ada jalan bagi-Ku untuk melakukan sesuatu di dalammu, untuk memenuhi permintaan-Ku. Supaya Aku dapat melakukan perkara-perkara ini bagimu, Aku harus tinggal di dalammu.” Akhirnya, kita mau tidak mau harus membuka diri kita kepada Tuhan dan menerima Dia.

Sebagai contoh dari permintaan Tuhan, perhatikanlah firman-Nya dalam Matius 5:48, “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” Apakah Anda dapat memenuhi firman ini? Kita hanya dapat berkata, “Tuhan, aku telah jatuh dan penuh dengan dosa. Bagaimana aku dapat menjadi sempurna seperti Bapa yang di surga? Hal ini sama sekali tidak mungkin bagiku. Aku tidak dapat melakukannya. Tetapi, Tuhan, aku mengasihi-Mu, dan aku mengasihi firman-Mu.” Jika kita bersikap demikian terhadap Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam kita, dan memenuhi permintaan ini bagi kita dan di dalam kita. Tanggung jawab kita ialah mengasihi Dia, menerima Dia, tinggal bersama Dia, dan menghabiskan waktu bersama Dia, sehingga Ia dapat menginfuskan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Janganlah merasa khawatir mengenai memenuhi permintaan Allah ini. Dengan sungguh-sungguh bukalah diri Anda dan terimalah Dia.

Karena banyak orang Kristen hari ini yang telah dibutakan oleh kesombongan, maka mereka tidak nampak tujuan Allah. Sebaliknya, mereka memiliki agama “pekerjaan dan usaha sendiri”. Sesungguhnya, agama itu mengajarkan kepada orang mengenai bagaimana harus melakukan perkara-perkara, bagaimana harus bekerja, bagaimana harus berperilaku, dan bagaimana harus memperbaiki diri sendiri. Tetapi yang ditekankan dalam Alkitab ialah kita memerlukan Allah masuk ke dalam kita, dan melakukan segala sesuatu di dalam kita dan bagi kita. Jika kita membaca Surat-surat Kiriman dalam terang ini, kita akan memperoleh pengertian yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, dalam Filipi 2:12 dan 13, Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Dalam ayat 12, Paulus memerintah kita untuk mengerjakan keselamatan kita. Standar keselamatan ini ialah Kristus, yaitu Dia yang mengosongkan diri, merendahkan diri, taat sampai mati, dan yang dimuliakan di langit tingkat tiga. Apakah Anda dapat mengerjakan keselamatan yang sedemikian ini? Kita harus mengakui bahwa tidak mungkin kita melaksanakan hal ini. Boleh jadi kita menerima keselamatan Allah, tetapi kita tidak dapat mengerjakan keselamatan kita sendiri. Inilah alasannya, mengapa Paulus mengatakan bahwa Allah mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Dalam diri kita sendiri, kita tidak dapat mengusahakan keselamatan kita. Tetapi Allahlah yang mengerjakannya di dalam kita. Kita perlu ter-buka kepada Dia, bekerja sama dengan Dia, dan bekerja bersama-sama Dia. Di satu pihak, dalam Surat-surat Kiriman terdapat banyak perintah. Di pihak lain, kehendak Allah ialah masuk ke dalam kita, dan memenuhi semua permintaan yang Ia minta atas diri kita.

Sesungguhnya, Paulus adalah pemberi peraturan yang lebih besar daripada Musa. Perintah-perintah yang diberikan oleh Musa, tidak sedalam dan sebanyak perintah-perintah yang diberikan oleh Paulus. Sebagai contoh, apakah Musa meminta seorang suami untuk mengasihi istrinya atau seorang istri untuk taat kepada suaminya? Musa tidak pernah memberikan perintah-perintah yang sedemikian ini, tetapi Pauluslah yang memberikan perintah-perintah ini. Seorang Farisi dapat saja menganiaya istrinya dengan masih menyombongkan diri bahwa ia telah memelihara perintah-perintah yang diberikan melalui Musa, sebab Musa tidak dengan tegas memerintahkan agar seorang suami mengasihi istrinya. Demikian juga, seorang perempuan dapat saja bersikeras mengatakan bahwa ia memelihara hukum Taurat, meskipun ia tidak taat kepada suaminya. Ini menunjukkan bahwa perintah-perintah Paulus lebih sukar untuk dipelihara daripada perintah-perintah yang diberikan Musa. Ketika kita membaca semua perintah dalam Perjanjian Baru ini, kita perlu terbuka kepada Tuhan, menerima Dia ke dalam kita, dan membiarkan Dia melakukan segala sesuatu di dalam kita dan bagi kita. Marilah kita belajar mendengarkan firman Tuhan, dan kemudian berkata, “Tuhan, aku mengasihi-Mu, tetapi aku tidak dapat memenuhi firman ini. Aku ingin melakukannya, tetapi aku tidak dapat.” Maka Tuhan akan berkata, “Aku hanya menghendakimu terbuka kepada-Ku, sehingga Aku dapat masuk ke dalammu, dan melakukan hal ini untukmu.” Kebenaran tentang Allah masuk ke dalam kita untuk melakukan segala sesuatu bagi kita dan di dalam kita, merupakan pengertian yang inti dalam Alkitab mengenai pemberian perintah.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas gambaran mengenai pemberian hukum Taurat dalam Kitab Keluaran ini. Dalam gambaran ini kita nampak seseorang, yaitu Musa, yang dipanggil oleh Allah untuk menerima hukum Taurat Allah. Namun, terlebih dulu Allah tidak memberikan hukum itu kepada Musa, sebaliknya, terlebih dulu Ia mengeluarkan waktu untuk menginfus Musa dengan diri-Nya sendiri. Selama empat puluh hari itu, hari demi hari, Musa diinfus oleh Allah. Sebelum Allah memberikan hukum Taurat itu kepada Musa, Allah memberikan diri-Nya sendiri kepadanya. Hal ini dengan jelas menggambarkan tujuan Allah. Allah tidak menghendaki kita seperti orang-orang Israel, yang gemetar dalam kegelapan di kaki gunung itu. Meskipun mereka beribadah, tetapi mereka tidak mengenal Allah atau mempunyai hati terhadap Dia. Akhirnya, mereka meminta kepada Harun supaya dibuatkan berhala dari emas untuk disembah. Tujuan Allah ialah agar kita berada di puncak gunung mengalami infus-Nya. Semakin banyak kita diinfus oleh Dia, Dia akan semakin memiliki jalan untuk melakukan segala sesuatu di dalam kita dan bagi kita, untuk memenuhi perintah-perintah yang Dia berikan kepada kita.

?