← Daftar isi Matius (3) · bab 6/19

PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (5)

Dalam Alkitab, bilangan tujuh terjadi dari enam ditam-bah satu, tiga ditambah empat, atau empat ditambah tiga. Ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3 tersusun dari tiga di-tambah empat. Namun ketujuh perumpamaan dalam Matius 13 terdiri dari empat ditambah tiga. Keempat perumpamaan yang pertama diberikan di atas perahu di alam terbuka. Per-umpamaan-perumpamaan ini ialah perumpamaan tentang penabur, lalang, biji sesawi, dan ragi. Ketiga perumpamaan sebelumnya yang berkaitan dengan penampilan lahiriah kerajaan diberitakan secara umum kepada massa oleh Raja surgawi di atas perahu (ayat 2, 34), sedangkan ketiga per-umpamaan berikutnya diberikan secara khusus kepada para murid di dalam rumah (ayat 36). Ini menunjukkan bahwa hal-hal yang tercakup dalam ketiga perumpamaan tersebut lebih tersembunyi.

Dalam tiap perumpamaan dari keempat perumpamaan yang pertama terdapat sesuatu yang berhubungan dengan makanan. Melalui hal ini kita nampak bahwa keempat perumpamaan yang pertama tersebut mencakup masalah makanan. Maksud Allah ialah memiliki orang-orang di atas bumi ini untuk menjadi unsur penyusun kerajaan-Nya, dan orang-orang ini harus menjadi makanan yang baik untuk memuaskan Allah dan manusia. Namun musuh datang me-naburkan benih lalang di antara benih gandum untuk meng-halangi pertumbuhan gandum dan merusaknya. Meskipun demikian, sejumlah gandum bertumbuh dan berkembang biak. Jadi, dalam keempat perumpamaan tersebut kita jumpai makanan. Alasan mengapa Tuhan Yesus menaburkan benih gandum ialah karena Allah ingin memperoleh tepung yang baik. Meskipun Iblis, musuh Allah, manaburkan benih lalang di antara benih gandum untuk menghalangi pertumbuhan gandum, Allah tidak dapat dikalahkan. Sejumlah gandum bertumbuh untuk menghasilkan biji-biji, dan biji-biji ditumbuk menjadi tepung halus untuk dijadikan roti. Ketika hal ini sedang berlangsung, Iblis menyebabkan biji sesawi yang hen-dak dijadikan sumber makanan bertumbuh secara abnormal, menjadi pohon yang besar, kehilangan fungsinya dalam meng-hasilkan makanan. Bahkan, menjadi tempat bersarang si jahat. Inilah gambaran dunia kekristenan hari ini. Dalam berbagai organisasi kekristenan kita melihat bangunan yang besar, kantor yang besar, dan hierarki yang kompleks. Kita melihat cabang-cabang dari pohon besar, namun sama sekali tidak terdapat tepung yang halus maupun biji sesawi. Menurut perumpamaan yang keempat, selanjutnya Iblis mengambil langkah berikutnya dengan menambahkan ragi pada tepung halus. Di sini kita melihat kelicikan Iblis. Pertama-tama, ia menaburkan benih lalang di antara benih gandum untuk menghalangi pertumbuhan gandum; kedua, ia menyebabkan biji sesawi bertumbuh secara abnormal untuk menghilangkan fungsinya; ketiga, melihat bahwa beberapa gandum telah dihasilkan untuk dijadikan tepung halus dan diolah menjadi roti bagi kepuasan Allah dan manusia, Iblis menambahkan ragi ke dalam makanan tersebut.

Keempat perumpamaan yang pertama semuanya berkait-an dengan ladang. Dalam 1 Korintus 3:9 Paulus berkata, “Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Dalam pasal ini kita nampak bahwa ladang Allah akhirnya menghasilkan emas, perak, dan batu permata. Alangkah rahasianya, hasil ladang Allah adalah emas, perak, dan batu permata, yaitu bahan-bahan untuk bangunan Allah. Ladang Allah mengha-silkan benda-benda hayat, dan benda-benda hayat ini men-jadi bahan untuk bangunan Allah. Jadi, ladang Allah ialah untuk bangunan Allah.

Dalam keempat perumpamaan pertama yang terdapat dalam Injil Matius kita jumpai hayat yang bertumbuh, se-dangkan dalam perumpamaan selanjutnya kita jumpai harta yang terpendam di ladang. Harta tersebut pastilah terdiri dari emas, perak, dan batu permata, mungkin sebagian besar ialah batu-batu berharga. Dalam perumpamaan selanjutnya ada mutiara. Yerusalem Baru dibangun dengan emas, batu permata, dan mutiara. Emas merupakan bahan kota yang sebenarnya, dan batu permata, serta mutiara merupakan bahan lain bangunan kota Allah. Dalam keempat perumpa-maan yang pertama Tuhan mewahyukan hayat yang mem-pertumbuhkan Kristus ke dalam kerajaan. Dalam kedua perumpamaan berikutnya, Ia mewahyukan masalah trans-formasi bagi pembangunan. Ini membawa kita kembali ke-pada pemikiran dasar Alkitab — hayat dan pembangunan. Perumpamaan-perumpamaan dalam Matius 13 mewahyukan masalah hayat dan pembangunan. Hayat ialah Kristus sendiri sebagai benih yang ditaburkan ke dalam manusia kita. Hayat ini bertumbuh di dalam kita, kita mempertum-buhkan Kristus ke dalam kerajaan. Bertumbuhnya hayat ini akhirnya menghasilkan batu permata dan mutiara.

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk Matius 13, saya mendapati bahwa pemikiran dasarnya sama dengan 1 Korintus 3. Dalam kedua pasal tersebut ada ladang dan ba-ngunan Allah. Keempat perumpamaan yang pertama berhu-bungan dengan ladang Allah untuk mempertumbuhkan Kristus ke dalam kerajaan, sedangkan kedua perumpamaan beri-kutnya berhubungan dengan transformasi untuk menghasil-kan bahan-bahan berharga bagi bangunan Allah. Jika tidak terkesan oleh masalah ini, kita tidak akan dapat memahami perumpamaan yang keempat dan kelima.

Saya telah menelaah sejumlah buku mengenai Matius 13, namun tidak satu pun di antara buku-buku tersebut yang menjamah pasal ini. Tidak satu pun dari penjelasan yang diberikan dalam buku-buku tersebut dapat memuaskan saya. Bahkan D.M. Panton mengatakan bahwa harta yang ter-pendam di ladang tersebut ialah kerajaan dan mutiara ialah kebenaran, sebab dalam 6:33 kita diberi tahu agar terlebih du-lu mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Ajaran yang lazim di antara Kaum Brethren tidak memasuki kedalaman dari pasal ini. Meskipun D.M. Panton nampak bahwa harta yang terpendam di ladang tersebut menunjukkan kerajaan, namun ia belum jelas mengenai mutiara. Dalam berita ini kita perlu memperhatikan kedua perumpamaan ini dengan jelas dan tepat.

V. KERAJAAN YANG TERPENDAM

DALAM DUNIA CIPTAAN ALLAH

Ayat 44 mengatakan,“Hal Kerajaan Surga itu seumpa-ma harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” Harta yang terpendam di ladang tersebut pasti terdiri dari emas atau batu permata, yaitu bahan bagi pembangunan gereja dan Yerusalem Baru (1 Kor. 3:12; Why. 21:18-20). Karena gereja adalah pelaksanaan dari kerajaan pada hari ini, dan karena Yerusalem Baru akan menjadi kerajaan dalam ma-nifestasinya pada zaman yang akan datang, maka harta yang terpendam di ladang tentu menyatakan kerajaan yang ter-sembunyi di bumi yang diciptakan oleh Allah.

Kerajaan Surga Seumpama Harta yang Terpendam di Ladang

Ladang dalam ayat 44 ialah tanah yang menunjukkan dunia yang diciptakan oleh Allah, dan laut menunjukkan du-nia yang telah dirusak oleh Iblis. Tanah juga menunjukkan Israel, bangsa Yahudi, karena Israel telah dipilih oleh Allah, dipisahkan oleh Allah, dan ditempatkan oleh Allah dalam situasi yang khas. Karena itu, orang-orang Yahudi berdiri di hadapan Allah sebagai tanah yang diciptakan oleh-Nya. Berdasarkan prinsip yang sama, laut juga menunjukkan du-nia bangsa kafir (bukan Yahudi) karena bangsa kafir adalah bangsa yang telah dirusak oleh Iblis.

Keempat perumpamaan yang pertama dalam Matius 13 memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang disebut ke-kristenan. Setelah memberikan perumpamaan-perumpamaan itu, Tuhan secara khusus memberi murid-murid-Nya per-umpamaan tentang harta yang terpendam di ladang dan mu-tiara yang dari laut. Jika kita memahami makna dari tanah dalam Alkitab, kita akan tahu bahwa harta yang terpendam di ladang tersebut pastilah kerajaan, dan mutiara yang ber-asal dari laut tersebut pastilah gereja. Kerajaan benar-benar merupakan harta bagi Tuhan. Betapa berharganya kerajaan ini dalam pandangan Tuhan! Gereja juga merupakan mutiara yang berharga bagi Tuhan. Tuhan senantiasa menuntut dua hal ini — kerajaan sebagai harta dan gereja sebagai mutiara. Efesus 5:27 mengatakan bahwa Kristus akan menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut maupun yang serupa itu. Inilah gereja sebagai mutiara yang indah, yang berasal dari dunia bangsa kafir.

Kejadian 1 mengatakan bahwa Allah menciptakan bumi, kemudian menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-nya, supaya manusia dapat melaksanakan kekuasaan-Nya atas binatang, unggas, dan ikan. Inilah kerajaan di atas bumi. Tetapi, manusia telah jatuh. Namun Mazmur 8 menya-takan suatu nubuat. Ayat 2 mengatakan, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” Ketika bumi men-jadi kekuasaan Allah, nama-Nya dimuliakan di atas bumi. Tentang manusia, Mazmur 8:7 mengatakan,“Engkau membu-at dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah Kakinya.” Ayat-ayat berikutnya me-wahyukan bahwa manusia memiliki kekuasaan atas binatang, burung-burung di udara, dan ikan-ikan di laut. Ibrani 2 me-wahyukan bahwa manusia yang dijelaskan dalam Mazmur 8 tersebut pertama-tama ialah Kristus. Kristuslah manusia yang membawakan kekuasaan Allah pada bumi dan membuat nama Allah dimuliakan di atas bumi.

Daniel 2 menunjukkan bahwa dunia akan berada di ba-wah berbagai kekuasaan duniawi, namun Kristus sebagai batu akan datang dari surga untuk meremukkan kekuasa-an duniawi ini (Dan. 2:34-35, 44-45). Batu ini akhirnya akan menjadi gunung yang besar, yang memenuhi seluruh bumi. Batu ini ialah Kristus yang diperbesar menjadi kerajaan universal di bumi. Semua ini berkaitan dengan harta yang berada dalam tanah. Wahyu 11:15 mengatakan, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Ini akan terjadi pada masa seribu tahun, yaitu ketika seluruh bumi ini akan menjadi Kerajaan Kristus. Ini-lah harta yang terpendam di ladang.

Ayat 44 mengatakan, bahwa Kerajaan Surga itu seum-pama harta yang terpendam di ladang, “yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya per-gilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” Orang yang disebut di sini adalah Kristus, yang menemukan Kerajaan Surga dalam 4:12—12:23; memendamnya lagi da-lam 12:24—13:43; dan dalam sukacita-Nya pergi ke atas salib dalam 16:21; 17:22-23; 20:18-19; 26:1—27:52; menjual se-mua milik-Nya dan membeli ladang itu, yaitu menebus bu-mi yang diciptakan dan hilang, bagi kerajaan. Pertama-tama Kristus menemukan harta ketika Ia keluar untuk melayani, Ia menyatakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.” Ketika penolakan orang-orang Yahudi terhadap Tuhan telah mencapai puncaknya, Ia meninggalkan mereka. Sejak saat itu, ia memendam harta tersebut. Kemudian Ia pergi ke atas salib tidak hanya untuk membeli harta tersebut, tetapi juga ladang, sehingga Ia dapat menebus bumi yang diciptakan oleh Allah.

Kristus pergi ke atas salib untuk menebus bumi ciptaan Allah, karena di dalam bumi terdapat kerajaan, yaitu harta. Untuk kerajaan ini, yaitu harta ini, Kristus menebus bumi yang diciptakan Allah. Untuk memiliki kerajaan di atas bu-mi, Ia harus menebus bumi, karena bumi ini telah dikotori dan dirusak oleh kejatuhan Iblis dan dosa manusia. Tuhan menjual semuanya itu agar Ia dapat memiliki dan membeli bumi dengan jalan mengurbankan apa yang Dia miliki di atas salib untuk menebus bumi bagi harta kerajaan. Tidak disangsikan lagi, kerajaan ini hanya bisa didapatkan dalam gereja. Namun manifestasinya berhubungan dengan bangsa Israel yang tertebus. Selama masa seribu tahun, bumi akan menjadi Kerajaan Kristus. Pada saat itu, bumi Israel akan menjadi inti Kerajaan Kristus. Karena itu, kerajaan teruta-ma berhubungan dengan bangsa Israel dan menyangkut Israel.

VI. GEREJA YANG BERASAL DARI DUNIA YANG TELAH DIRUSAK OLEH SETAN

A. Kerajaan Surga Adalah Seumpama Pedagang yang Mencari Mutiara yang Indah

Ayat 45-46 mengatakan, “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mu-tiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sa-ngat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” Pedagang yang dimaksud di sini juga adalah Kristus, yang mencari gereja untuk kerajaan-Nya. Setelah menemukannya dalam 16:18 dan 18:17, Dia pergi ke atas salib dan menjual semua milik-Nya dan membeli ge-reja untuk kerajaan-Nya.

B. Pekerjaan Raja Surgawi

Dalam ayat 46 kita nampak pekerjaan Raja surgawi untuk memperoleh mutiara yang berharga. Di atas salib Ia menjual semua milik-Nya dan membeli mutiara itu. Mutiara yang dihasilkan dalam air kematian (dunia yang dipenuhi oleh kematian) oleh tiram yang hidup (Kristus yang hidup), yang dilukai oleh pasir kecil (orang dosa), dan mengeluarkan getah hayatnya membungkus pasir yang melukai dirinya (kaum beriman), adalah bahan untuk membangun Yerusalem Baru. Karena mutiara dihasilkan dari laut, yang melambang-kan dunia yang dirusak oleh Iblis (Yes. 57:20; Why. 17:15), maka mutiara ini pasti mengacu kepada gereja, yang terutama tersusun dari kaum beriman yang dilahirkan kembali dari dunia bangsa bukan Yahudi dan yang sangat berharga.

Tuhan tidak hanya mencari kerajaan; Ia juga meng-inginkan gereja yang indah, yaitu mutiara. Saya telah me-nunjukkan bahwa menurut Wahyu 21, Yerusalem Baru di-dirikan dengan batu-batu permata dan mutiara. Dengan kata lain, Yerusalem Baru merupakan kombinasi antara harta dan mutiara. Dalam Matius 13 terdapat dua hal, yaitu harta di ladang dan mutiara di laut. Namun dalam Wahyu 21 kedua hal tersebut dikombinasikan dalam satu kesatuan. Yerusalem Baru ialah kerajaan juga gereja. Dalam Matius 16, istilah gereja dan kerajaan digunakan secara bergantian. Pertama-tama Tuhan berkata, “Aku akan mendirikan gereja-Ku”; Dia juga berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Fakta bahwa istilah-istilah ini digunakan secara ber-gantian menunjukkan bahwa gereja adalah Kerajaan, dan Kerajaan adalah gereja. Akhirnya, dalam Yerusalem Baru, kerajaan dan gereja menjadi satu kesatuan.

Mengenai butir ini mungkin ada beberapa orang yang mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Karena kerajaan adalah gereja dan gereja adalah kerajaan, maka perbedaan apakah yang terdapat di antara kerajaan dan gereja? Ini membawa kita kepada suatu perkara yang sulit dipahami. Untuk mempelajari hal ini, saya ingin bertanya, apakah kita yang berada di dalam pemulihan Tuhan ini berada dalam gereja atau kerajaan? Memang tidak salah jika kita me-ngatakan bahwa kita berada dalam gereja dan kerajaan, na-mun kita harus tahu dalam arti apa kita sebagai gereja dan dalam arti apa kita sebagai kerajaan. Dengan kata lain, kita harus tahu dalam arti apa kita sebagai harta dan dalam arti apa pula kita sebagai mutiara. Sebagai kerajaan, kita ada-lah sesuatu yang berasal dari bumi yang diciptakan oleh Allah dan yang ditebus oleh Kristus; dan sebagai gereja, kita ada-lah sesuatu yang keluar dari dunia yang telah dirusak oleh Iblis dan dihukum oleh Allah. Harta, lambang kerajaan, ter-pendam dalam tanah. Karena itu, harta mutlak berhubung-an dengan bumi. Namun mutiara, lambang gereja, sama sekali tidak memiliki hubungan dengan bumi. Mutiara adalah sesuatu yang dihasilkan dari laut. Dari laut yang telah dirusak dan dihukum Allah terdapat mutiara yang demikian indah. Sebagai gereja, kita dihasilkan dari dunia, namun kita sama sekali tidak memiliki hubungan dengan dunia. Meskipun kita adalah mutiara yang berasal dari laut, namun kita tidak lagi berada dalam laut. Kita telah dilahirkan kembali untuk menjadi mutiara yang indah. Dengan kata lain, kita tidak memiliki hubungan dengan dunia yang rusak ini. Sebagai kerajaan kita tidak memiliki hubungan dengan dunia yang telah dirusak oleh Iblis, namun kita berhubungan dengan dunia ciptaan Allah dan dunia tebusan Kristus. Di satu pihak, kita tidak lagi bergaul dengan dunia; di pihak lain, kita mendirikan sesuatu di atas bumi. Kita bukan mendirikan Menara Babel; kita mendirikan Ke-rajaan Surga. Sebagaimana dikatakan dalam Matius 6:10, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Kerajaan Allah tidak dapat didirikan di dalam laut, dan kehendak Allah tidak akan dilaksanakan dalam dunia yang telah dirusak Iblis. Kehendak Allah pasti dilaksanakan di atas bumi ciptaan Allah, dan Kerajaan Allah pasti didiri-kan di atas bumi tebusan Kristus. Pada saat yang sama kita berada di dalam gereja dan kerajaan, yaitu di dalam mutiara dan harta.

Ketika Yerusalem Baru datang tidak akan ada lagi laut, dan bumi akan diperbarui (Why. 21:1). Pada bumi yang baru itu akan terdapat kombinasi antara harta dan mutiara, yaitu kerajaan dan gereja. Dalam Yerusalem Baru harta ini tidak lagi terpendam di ladang, namun dibangun di atas per-mukaan ladang. Dalam kombinasi harta dan mutiara, harta akan dibangun bersama-sama dengan mutiara. Jika Anda memiliki visi ini, Anda akan nampak bahwa bahkan di anta-ra kita hari ini, kerajaan dan gereja sedang dibangun bersama-sama. Kita tidak memiliki dua perwujudan, melainkan hanya satu perwujudan. Di satu pihak, perwujudan ini ialah harta — kerajaan; di pihak lain, perwujudan ini ialah mutiara — gereja.

Di antara kita dalam pemulihan Tuhan tidak seharus-nya ada laut. Sebagai pengganti dari laut, kita harus memi-liki bumi yang baru. Namun seandainya Anda mengunjungi gereja di Anaheim dan di rumah-rumah kaum beriman, yang Anda dengar tidak lain ialah gosip, itu menandakan bahwa laut masih ada pada saudara saudari. Meskipun gereja yang penuh dengan gosip tetap adalah gereja, namun ia adalah gereja di dalam air laut. Gereja yang demikian tidak dapat menjadi kerajaan. Gereja ini mutiara, namun bukan harta. Seandainya dalam rumah-rumah kaum beriman dalam gereja di Anaheim tidak terdapat gosip, kritikan, maupun perka-taan-perkataan yang sia-sia, dalam keadaan demikian, tidak akan ada lagi laut. Sebaliknya, hanya ada hayat, terang, dan transformasi. Gereja yang demikian adalah tanah yang diper-barui untuk kerajaan. Dalam setiap rumah Anda akan nam-pak manusia yang tepat, dan Anda segera merasa bahwa di sana tidak ada lagi laut, melainkan bumi yang baru. Dalam bumi yang baru ini terdapat Yerusalem Baru yang terdiri atas mutiara dan harta. Ini bukan hanya gereja, tetapi juga kerajaan. Dalam gereja yang demikian Anda akan memiliki harta di ladang dan mutiara yang berasal dari laut.

Melalui gambaran ini kita nampak bahwa gereja dapat menjadi mutiara dan harta. Ketika kita sebagai mutiara, kita keluar dari laut, yaitu dunia. Ketika kita sebagai kera-jaan, kita berada di atas bumi. Namun, kita di atas bumi ini bukan dalam keadaan yang ditaklukkan, melainkan dalam keadaan yang berkuasa, karena di atas bumi ini kita adalah Kerajaan surgawi. Ini jangan hanya menjadi doktrin belaka bagi kita, melainkan harus menjadi praktek yang sejati dari kehidupan kita sehari-hari. Jika percakapan kita penuh dengan hal duniawi, uang, dan bioskop, itu menandakan bahwa kita penuh dengan hal dunia yang telah dirasuki oleh Iblis. Inilah yang dimaksud dengan laut. Namun jika di antara kita ti-dak terdapat gosip maupun kritikan, melainkan hanya ada Kristus, gereja, dan transformasi, ini menandakan bahwa kita adalah bumi yang baru. Dalam bumi yang baru ini kita memiliki harta, kerajaan, dan kehidupan manusia yang tepat. Bahkan hari ini, harta ini tidak lagi terpendam, me-lainkan berada di atas permukaan bumi. Bagi orang-orang duniawi dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya, harta ini terpendam di dalam tanah. Puji Tuhan, kita memiliki harta yang demikian dalam tanah yang baru! Tidak satu pun dari orang luar atau orang tidak percaya dapat memahami hal ini. Kadang-kadang mereka mengatakan, “Kami tidak me-mahami orang-orang itu. Kami tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Tetapi kami tahu bahwa mereka orang yang baik.” Inilah yang dimaksud dengan harta, yaitu tanda bah-wa kita memperhidupkan kehidupan manusia yang tepat di atas bumi yang diciptakan Allah dan ditebus oleh Kristus. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, dalam pandangan Allah seluruh bumi akan menjadi suatu harta.

Dalam keempat perumpamaan yang pertama dalam Matius 13 kita hanya melihat pertumbuhan hayat, kita ti-dak nampak transformasi. Dalam perumpamaan-perumpa-maan ini kita menjumpai gandum, biji, biji sesawi, dan te-pung halus. Puji Tuhan atas kedua perumpamaan selanjutnya! Kita tidak hanya memiliki empat perumpamaan mengenai hayat yang bertumbuh, juga memiliki dua perumpamaan me-ngenai transformasi. Transformasi membuat kita menjadi mutiara dan batu-batu permata. Mutiara untuk gereja, dan batu-batu permata untuk kerajaan. Di satu pihak, kita ke-luar dari dunia, tidak memiliki hubungan dengan dunia yang telah bobrok ini. Di pihak lain, kita hidup di atas bumi sebagai manusia yang tepat. Bagi kita tidak ada lagi laut, melainkan tanah kering yang diciptakan oleh Allah dan yang ditabur oleh Kristus. Sekarang kita hidup dan berjalan di atas tanah ini. Ini bukan hanya gereja sebagai mutiara saja, tetapi juga kerajaan sebagai harta. Puji Tuhan, saya me-rupakan bagian dari mutiara dan harta tersebut. Sebagai bagian dari mutiara, saya tidak memiliki hubungan dengan dunia yang telah rusak ini. Namun sebagai bagian dari harta, saya amat berminat pada bumi ini. Saya tidak ingin pergi ke surga. Saya lebih suka berada di atas bumi yang baik ini, di mana tidak ada lagi laut. Kita adalah mutiara dan harta. Kita keluar dari dunia, namun masih berada di atas bumi. Inilah pengertian yang tepat dari kedua perum-pamaan di atas.