PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (6)
Sebelum kita melihat perumpamaan tentang jala, saya ingin mengatakan lebih lanjut tentang harta dan mutiara. Dalam Alkitab angka tujuh terjadi dari empat ditambah tiga, tiga ditambah empat, atau enam ditambah satu. Pada pertama kali angka tujuh disebutkan dalam Alkitab, terdiri atas enam hari penciptaan ditambah satu hari, hari Sabat, hari untuk beristirahat. Dalam Kitab Wahyu, tujuh gereja terdiri atas tiga ditambah empat. Tujuh meterai pertama terdiri dari empat ditambah tiga, kemudian enam ditambah satu. Prinsipnya sama dengan tujuh sangkakala dan tujuh cawan. Dalam Matius 13 angka tujuh pertama-tama terdiri atas empat ditambah tiga, kemudian enam ditambah satu. Keempat perumpamaan yang pertama semua berkaitan de-ngan bahan makanan, tetapi perumpamaan kelima dan ke-enam berkaitan dengan transformasi untuk pembangunan. Roti yang betapa kerasnya pun dapat teragi; mutiara, dan batu-batu permata tidak dapat teragi. Lagi pula, walaupun biskuit atau bahkan roti yang keras dapat dihancurkan oleh air yang dituangkan di atasnya, namun batu-batu permata atau mutiara tidak dapat dihancurkan dengan air.
Firman Tuhan dalam Matius 13 bukan hanya merupa-kan sebuah nubuat atau doktrin, tetapi juga visi riil menge-nai situasi gereja, kerajaan, dan kekristenan hari ini. Firman Tuhan tentang rahasia kerajaan bukan merupakan kata-kata khayalan yang mengambang tanpa realitas, melainkan boleh kita praktekkan. Karena itu, jika kita ingin memahami perumpamaan-perumpamaan ini, kita harus menengadah kepada Tuhan memberi kita penerapan yang riil. Pengertian kita tentang perumpamaan itu harus sesuai dengan situasi yang riil.
Jika Anda melihat dunia kekristenan hari ini, Anda akan nampak bahwa orang Kristen sejati adalah gandum, dan orang Kristen palsu telah berbaur dengan yang sejati untuk mengandaskan pertumbuhan mereka. Di mana pun di bumi, terutama di Eropa, kita nampak lebih banyak orang Kristen palsu daripada yang sejati. Di negara Katolik seperti Italia dan Brazil, sulit kita temukan orang Kristen sejati di antara banyak orang Kristen sebutan. Sebab itu, tafsiran lalang sebagai orang Kristen palsu bukan hanya doktrin, te-tapi juga riil menurut sejarah dan keadaan sekarang. Di samping itu, pohon besar berdiri di hadapan kita. Setiap hari kita nampak permukaan dunia kekristenan yang amat be-sar. Ini bukan hanya doktrin atau nubuat semata. Di depan mata kita terpapar penggenapan riil atas nubuat ini. Kita pun nampak ragi di mana-mana. Dalam dunia kekristenan ter-dapat ragi di dalam setiap hal. Setiap aspek dan setiap sudut dari dunia kekristenan telah teragi. Jika ada sedikit kebenaran, maka di dalam kebenaran itu telah banyak ragi yang ditambahkan. Inilah situasi yang sesungguhnya hari ini.
Kita dapat menafsirkan keempat perumpamaan yang pertama secara riil dan menerapkannya secara riil pula. Kita harus berlaku sama seperti perumpamaan kelima dan ke-enam. Akhir-akhir ini Tuhan telah menunjukkan kepada kita jalan yang riil untuk memahami perumpamaan ini. Untuk mengerti nubuat mana pun secara riil, kita perlu fakta. Hanya dengan nampak fakta, barulah kita dapat me-mahami nubuat perumpamaan-perumpamaan ini secara riil. Dalam pemulihan Tuhan, kita mempunyai harta dan mutiara. Dalam keempat perumpamaan yang pertama ada gandum, lalang, biji sesawi, dan ragi. Kita ini bukan ladang, kita ini gandum dan tepung halus. Namun, dalam pemulihan Tuhan tidak cukup hanya menjadi gandum atau tepung halus. Jika kita hanya berupa gandum atau tepung halus, kita tidak akan dipuaskan. Dalam pemulihan Tuhan juga ada mutiara dan harta, yaitu batu-batu permata. Dalam pemulihan-Nya Tuhan perlu memiliki gereja yang murni, kukuh, dan sejati seperti mutiara. Dalam mutiara semacam ini tidak ada cam-puran atau kekaburan, mutlak murni, dan transparan. Jika Anda ingin mengetahui apa itu gereja dalam pemulihan Tuhan, lihatlah mutiara. Dengan melihat mutiara, Anda akan mengetahui bagaimana gereja seharusnya. Sekalipun kita belum puas sepenuhnya, kita dapat mengatakan bahwa gereja dalam pemulihan Tuhan seperti mutiara. Tidak peduli betapa kerasnya roti itu, masih ada kemungkinan teragi. Tetapi selama gereja menjadi mutiara, tidak akan dapat te-ragi. Siapa yang dapat mengkhamirkan mutiara atau batu-batu permata?
Dalam pemulihan Tuhan, di satu pihak kita harus se-perti mutiara, di pihak lain seperti batu-batu permata. Me-ngenai hayat, kita adalah mutiara; mengenai kehidupan, kita adalah harta, batu-batu permata. Lihatlah Yerusalem Baru: semua pintu gerbangnya adalah mutiara, dan dinding-din-dingnya terbangun dengan batu-batu permata. Pintu gerbang mutiara adalah pintu masuk, suatu permulaan; dan dinding adalah untuk pengekspresian. Gereja adalah hayat kita, dan kerajaan adalah kehidupan kita. Sebagai gereja, kita telah dilahirkan kembali keluar dari dunia yang telah dirusak oleh Iblis. Tetapi kita bukan hanya mutiara sebagai permulaan, pintu masuk; kita pun merupakan batu-batu permata untuk ekspresi. Ini menunjukkan bahwa kehidupan kita ada di ba-wah penguasaan surgawi. Inilah kerajaan. Sebagai gereja, kita adalah mutiara, memiliki hayat, permulaan baru, dan pintu masuk. Sebagai kerajaan, kita adalah harta, batu-batu permata, yang berdiri sebagai sesuatu yang telah dibangun untuk mengekspresikan Kristus di bawah konstitusi surgawi. Inilah kehidupan kita dan ekspresi kita.
Beberapa guru Alkitab mengatakan bahwa kerajaan berhubungan dengan Israel, tetapi mungkin tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa mutiara berhubungan dengan gereja. Mereka yang menghubungkan gereja dengan Israel terlalu doktrinal dan mementingkan zaman, sama sekali tidak riil. Kita perlu menerapkan perumpamaan harta dan mutiara tidak hanya secara doktrinal atau disesuaikan dengan zaman, tetapi juga harus secara riil. Untuk menerapkan secara riil kita harus nampak bahwa selama dunia kekristenan ada, Tuhan sedang berusaha mencari harta dan mutiara. Dunia kekristenan berlanjut dengan gandum, lalang, pohon besar, dan ragi dalam makanan. Tetapi Tuhan tidak hanya membicarakan empat perumpamaan atas dunia kekristenan, tetapi juga dua perumpamaan atas kehidupan gereja yang sejati dan wajar. Gereja dalam pemulihan Tuhan hari ini adalah harta dan mutiara. Dikatakan mengenai hayat, kita adalah mutiara, dan dikatakan mengenai kehidupan kita, kita adalah harta. Bagi hayat, kita adalah pintu gerbang mutiara; bagi kehidupan kita, kita adalah dinding yang terbuat dari batubatu permata. Yang terakhir ialah kehidupan kerajaan, hidup gereja di bawah pemerintahan Allah.
Hal ini membuat kita lebih mengerti akan Yerusalem baru. Kedua belas pintu gerbang mutiara menunjukkan gereja sebagai pintu masuk, dan dinding yang dibangun de-ngan batu-batu permata melambangkan kerajaan, ekspresi kehidupan di bawah kuasa surgawi. Ketika Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku sungguh berterima kasih kepada-Mu bahwa aku mempunyai hayat ilahi,” inilah mutiara. Tetapi ketika Anda berkata, “Oh Tuhan, berilah kepadaku karunia yang lebih banyak agar aku menjadi miskin dalam roh dan murni dalam hati, supaya aku berada di bawah pengaturan-Mu, dapat bergaul dengan Engkau, sehingga aku tidak mem-punyai batu-batu karang atau semak duri di dalamku, agar aku dapat hidup di bawah konstitusi surgawi.” Dengan de-mikian segera Anda menjadi harta. Di satu pihak, kita adalah mutiara, di pihak lain, kita adalah harta.
Perumpamaan kelima mengatakan tentang orang yang menemukan harta dan keenam tentang pedagang yang men-cari mutiara. Bagi kerajaan, Kristus ialah “orang” itu dan bagi gereja, Dia adalah “pedagang” itu. Ini sesuai dengan kon-sepsi seluruh Alkitab. Kerajaan memerlukan seorang manusia.
Untuk memperoleh Kerajaan Allah di bumi, diperlukan se-orang manusia. Justru Kristus datang sebagai manusia ini, bukan sebagai manusia pertama, tetapi sebagai manusia kedua. Pertama-tama Orang ini mendirikan kerajaan. Ke-mudian, karena penolakan bani Israel, Dia menyembunyikan kerajaan dari bangsa Yahudi. Bagi gereja, Kristus adalah pedagang, yang selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai tinggi. Mengenai kerajaan, orang itu membeli ladang yaitu bumi. Dia membeli bumi karena kerajaan itu berada di bumi. Namun untuk memperoleh mutiara, peda-gang itu tidak membeli laut, ia hanya membeli mutiara. Kristuslah satu-satunya yang langsung membeli mutiara, tetapi tidak membeli harta secara langsung. Sebaliknya Dia langsung membeli ladang. Meskipun Kristus menebus gereja dan bumi, Dia tidak menebus kerajaan. Kerajaan ti-dak memerlukan penebus atau pembeli. Namun, bumi yang telah hilang, bumi yang diciptakan oleh Allah dan kemudian hilang, membutuhkan seorang penebus. Di samping itu, ge-reja sebagai umat pilihan Allah dan umat yang sebelumnya telah ditentukan Allah, membutuhkan pula seorang pembeli, sebab mereka telah hilang. Karena itu, kerajaan hanya perlu seorang manusia, tetapi gereja perlu pedagang dan penebus.
VII. INJIL KEKAL DAN HASILNYA
Ayat 47 mengatakan,“Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut, lalu me-ngumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.” Perumpamaan ini berhubungan dengan 25:32-46. Jala di sini tidak melam-bangkan Injil anugerah, yang diberitakan pada zaman gereja, tetapi Injil kekal, yang akan diberitakan kepada dunia orang bukan Yahudi selama kesusahan besar (Why. 14:6-7). Laut di mana jala itu ditebarkan melambangkan dunia orang bukan Yahudi; sedangkan “berbagai-bagai jenis” ikan menunjukkan semua bangsa, semua orang bukan Yahudi (25:32).
Selama berabad-abad, perumpamaan jala telah disalahpahami dan diterapkan secara tidak tepat. Banyak yang mengatakan bahwa jala melambangkan Injil anugerah. Mereka juga mengibaratkan ini dengan perumpamaan lalang, dengan mengatakan bahwa perumpamaan lalang ada yang benar dan ada yang palsu, dan dalam perumpamaan jala ada yang baik dan ada yang buruk. Mereka mengatakan bahwa yang baik adalah gandum dan yang buruk adalah lalang. Jika ini benar, berarti Tuhan Yesus tidak begitu berhikmat, sebab Dia menggunakan dua perumpamaan untuk perkara yang sama.
Sekali lagi kita perlu melihat mengenai terbentuknya angka tujuh. Pertama, terjadi dari enam ditambah satu. Per-umpamaan yang pertama dalam Matius 13 berkaitan dengan gereja. Dalam gereja ada yang abnormal dan di sekitar gereja ada yang palsu. Jadi, secara langsung atau tidak langsung, keenam perumpamaan yang pertama berhubungan dengan gereja. Tetapi apa yang terjadi dengan orang-orang di luar gereja, orang-orang yang berada di dunia? Pastilah ada per-umpamaan yang mencakup mereka. Jika ketujuh perumpa-maan dalam Matius 13 hanya mencakup gereja, maka tidak akan ada perumpamaan yang mencakup bangsa-bangsa. Da-lam kasus demikian, pasal 13 tidak akan sempurna. Perum-pamaan ketujuh, perumpamaan jala berhubungan bukan de-ngan gereja, melainkan dengan dunia, dengan bangsa-bangsa.
Mereka yang berhubungan dengan gereja digolongkan dalam tiga kelompok: orang Kristen yang sejati dan normal yaitu para pemenang; orang Kristen yang sejati tetapi ab-normal, yaitu yang kalah; dan orang Kristen yang palsu, lalang, akan diikat dalam berkas-berkas dan dilemparkan ke dalam api pembakaran yaitu ke dalam lautan api. Itulah nasib lalang. Orang Kristen yang sejati dan normal yaitu para pemenang, akan dipindahkan dalam manifestasi kerajaan dan meraja dengan Kristus. Orang Kristen yang abnormal akan ditaruh dalam suatu tempat tertentu untuk diajar, didisiplinkan, dan dihukum. Keenam perumpamaan ini mem-beri kita suatu pandangan yang jelas tentang orang Kristen yang sejati dan yang palsu. Perumpamaan yang ketujuh, per-umpamaan jala, mencakup nasib umat dunia.
Jala di sini bukan Injil anugerah, melainkan Injil kekal yang dideklarasikan dalam Wahyu 16:6-7 (lihat Pelajaran-Hayat Kitab Wahyu, berita keempat puluh tujuh). Kebanyakan guru Kristen melalaikan hal ini. Selama masa kesusahan besar, antikristus akan menentang semua agama, akan meng-aniaya baik orang Kristen maupun orang Yahudi. Kristus akan mengakui orang-orang Kristen yang teraniaya ini se-bagai saudara-saudara-Nya. Sebab itu Antikristus akan meng-aniaya orang Yahudi dan orang Kristen, seorang malaikat akan diutus untuk memberitakan Injil kekal. Injil kekal ini isinya mutlak berbeda dengan Injil anugerah. Injil anugerah diberitakan dan diberikan untuk pertobatan dan beriman da-lam Tuhan Yesus, namun Injil kekal akan mengatakan bah-wa orang harus takut kepada Allah dan menyembah Dia. Injil ini tidak menyentuh masalah pertobatan ataupun keperluan iman. Sebaliknya oleh karena Antikristus akan mengangkat dirinya menjadi Allah, membuat suatu gambar dari dirinya dan memaksa orang menyembahnya, Injil kekal akan mem-beri tahu orang-orang untuk menyembah Allah, yang men-ciptakan langit, bumi, dan laut, tetapi jangan menyembah berhala Antikristus. Di samping itu, Injil kekal akan me-nyuruh orang takut kepada Allah, sebab Antikristus akan memimpin mereka untuk menganiaya dan membunuh umat Allah. Mereka yang membunuh umat Allah harus tahu bahwa Allah akan datang menuntut balas. Sebab itu, mereka semua harus takut terhadap Allah.
Alkitab mengatakan bahwa Kristus sebagai manusia telah diurapi oleh Allah untuk menghakimi mereka yang hidup dan yang mati (Kis. 17:31; 2 Tim. 4:1), Kristus akan menghakimi mereka yang hidup pada saat Dia kembali. Ini akan terjadi sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Selain orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, selama berabad-abad masih ada sejumlah besar orang yang tidak percaya, keba-nyakan telah mati sebelum Tuhan kembali. Tetapi ada se-bagian yang akan masih hidup pada saat Dia kembali. Orang-orang yang hidup ini akan menjadi bangsa-bangsa. Ketika Kristus datang kembali, Dia akan melaksanakan pengha-kiman-Nya pada mereka. Dia akan menghakimi mereka tidak menurut hukum Taurat Musa atau Injil anugerah, melainkan menurut Injil kekal yang dideklarasikan dalam tiga sete-ngah tahun menjelang kembalinya Kristus. Dalam Alkitab baik hukum Taurat Musa maupun Injil anugerah, merupakan dasar bagi penghakiman Allah. Injil kekal yang dideklara-sikan dalam Wahyu 14 akan menjadi dasar penghakiman Kristus pada bangsa-bangsa yang masih hidup.
Matius 25 mengatakan bahwa ketika Kristus kembali, Dia akan mengumpulkan bangsa-bangsa itu bersama-sama. Bagian firman ini tidak dikatakan untuk orang Yahudi atau kaum beriman, melainkan untuk bangsa-bangsa. Ada orang yang menyanggah hal ini dengan mengatakan bahwa bangsa-bangsa tidak akan menjadi domba Tuhan. Tetapi Mazmur 100 mewahyukan bahwa semua orang di bumi adalah domba Tuhan. Sebab itu, dalam pandangan Tuhan semua orang di bumi ini adalah domba-domba-Nya. Ketika Dia kembali, Dia akan mengumpulkan mereka semua di hadapan takhta ke-muliaan-Nya dan di sana Ia akan melaksanakan takhta peng-hakiman-Nya atas mereka, berdasarkan Injil kekal. Menurut Matius 25, Raja akan menghakimi bangsa-bangsa seturut dengan cara mereka memperlakukan saudara-saudara kecil-Nya. Selama masa kesengsaraan, orang Yahudi dan orang Kristen akan sangat menderita. Mereka akan kekurangan makanan dan pakaian, mereka akan sakit, dan mereka akan dipenjarakan. Orang yang mendengar Injil kekal dan yang takut kepada Allah dan menyembah Dia akan dengan sembunyi-sembunyi membantu kaum beriman, memberikan bantuan keuangan atau materi lain kepada mereka. Mereka yang memperlakukan kaum beriman dengan baik akan di-pandang oleh Raja sebagai domba. Tetapi mereka yang tidak memperlakukan mereka dengan baik akan dianggap sebagai kambing. Kambing akan dicampakkan ke dalam api kekal, tetapi domba akan dipindahkan ke Kerajaan Seribu Tahun menjadi penduduk bumi.
Keenam perumpamaan yang pertama mencakup berbagai aspek yang berhubungan dengan gereja. Umat dunia tercakup dalam perumpamaan jala. Gereja adalah mutiara dari laut. Setelah gereja dipanggil keluar dari laut, apa yang tertinggal dalam laut adalah bangsa-bangsa yang akan hidup di bumi, bangsa kafir. Ketika Tuhan kembali, Dia akan mengutus ma-laikat-Nya untuk mengumpulkan semua benda di laut. Se-telah dikumpulkan di hadapan takhta kemuliaan-Nya, mereka akan dipisahkan menurut cara mereka memperlakukan kaum beriman. Mereka yang memperlakukan kaum beriman de-ngan baik akan dianggap sebagi domba, orang yang baik; dan mereka yang memperlakukan kaum beriman dengan bu-ruk akan dianggap sebagai kambing, orang yang jahat. Orang yang baik akan dipindahkan ke dalam Kerajaan Seribu Tahun yang disiapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan (bukan sebelum dunia dijadikan). Di sana orang yang baik ini akan menjadi warga kerajaan yang akan datang, tetapi orang yang jahat akan dilemparkan ke dalam lautan api yang kekal. Ini akan menutup zaman ini.
Matius 13 menyatakan kepada kita sebuah visi yang jelas. Dalam pasal ini kita nampak bahwa ketujuh perumpamaan itu telah menutup zaman ini. Tuhan akan mengakhiri zaman ini dengan menanggulangi gereja menurut keenam perum-pamaan yang pertama; dan menanggulangi dunia, bangsa-bangsa, menurut perumpamaan yang terakhir. Dalam per-umpamaan ini kita nampak semua aspek rahasia Kerajaan Surga. Dengan gambaran yang jelas ini di hadapan kita, kita tahu di mana kita berada dan ke mana kita pergi. Kita pun tahu di mana kaum yang tidak percaya, ke mana mereka pergi, dan bagaimana nasib mereka.
VIII. HARTA YANG BARU DAN YANG LAMA
Pada akhir pasal ini Tuhan membicarakan perumpama-an tambahan. Ayat 52 mengatakan,“Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, ‘Karena itu, setiap ahli Taurat yang mene-rima pelajaran tentang (menjadi murid) Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.’” Setelah membe-rikan tujuh perumpamaan mengenai rahasia kerajaan, Tuhan menyamakan murid yang sebagai ahli Taurat seumpama tuan rumah yang memiliki suatu perbendaharaan, gudang yang kaya dengan barang-barang yang baru dan yang lama. Barang-barang yang baru dan yang lama menyatakan bukan hanya pengetahuan yang baru dan yang lama tentang Kitab Suci, tetapi juga pengalaman yang baru dan yang lama tentang hayat dalam kerajaan.
Perumpamaan tambahan ini menyinggung tentang ahli Taurat yang telah menjadi murid dalam Kerajaan Surga. Se-orang ahli Taurat ialah seorang yang paham akan kitab Musa dan nabi-nabi. Dalam perumpamaan ini Tuhan tidak meng-gunakan kata “percaya”, tetapi “menjadi murid” (Tl.). Orang yang terpelajar itu telah menjadi murid Kerajaan Surga. Dahulu ia seorang pelajar hukum Taurat Perjanjian Lama, tetapi kini ia telah menjadi murid Kerajaan Surga. Ini ber-arti bahwa ia telah diajari dalam ekonomi baru Allah. Ia me-ngetahui ekonomi lama Allah, tetapi kini ia tetap diajari dalam ekonomi baru Allah. Karena itu ia seumpama tuan rumah yang mengeluarkan barang yang baru dari perben-daharaannya. Ketika barang yang baru diambil beserta barang yang lama, kita mempunyai mustika. Rasul Paulus adalah seorang yang demikian. Ia seorang ahli Taurat Per-janjian Lama yang pada suatu hari menerima pelajaran masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena itu, Paulus dapat mengeluarkan harta yang baru dan yang lama. Hal ini membuat dirinya bersyarat menulis Kitab Ibrani. Dalam kitab ini Paulus mengeluarkan banyak barang yang lama dengan yang baru sebagai penjelasan.
Dalam memberikan perumpamaan ini Tuhan mengharapkan bahwa di antara para pendengar-Nya ada ahli Taurat, bukan semuanya nelayan, seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Andreas. Tuhan Yesus itu berhikmat. Pada peralihan ekonomi baru, Ia harus pergi ke Galilea untuk mencari nelayan yang tak terpelajar. Tetapi setelah terjadi perubahan, perlu orang-orang yang terpelajar untuk menyatakan semua hal yang rahasia. Sekalipun orang-orang Galilea itu mendengar Tuhan membicarakan semua rahasia, mereka bukan ahli Taurat. Dalam tulisannya, Petrus maupun Yohanes tidak menunjukkan banyak perkara dari Perjanjian Lama. Tetapi Paulus bukan seorang nelayan Galilea, ia seorang ahli Taurat yang kemudian telah menerima pelayanan kerajaan. Itulah sebabnya ia mempunyai perbendaharaan yang berlimpah, harta kekayaan yang sangat banyak.
Pemulihan Tuhan tidak hanya memerlukan orang Galilea yang tidak terpelajar, tetapi juga ahli Taurat. Setelah Tuhan mengatakan perumpamaan lain tentang ahli Taurat yang menjadi murid Kerajaan Surga, Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu nelayan Galilea harus mendengarkan ini. Kamu ku-rang memadai (cukup) menyatakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Aku dapat memakai kamu untuk melakukan peru-bahan, tetapi setelah ada perubahan, kamu kurang memadai (cukup). Aku memerlukan beberapa ahli Taurat. Aku memer-lukan seorang seperti Saulus dari Tarsus yang belajar di bawah Gamaliel.” Dalam hal ini kita nampak hikmat Tuhan. Orang-orang muda, Anda perlu kuliah di perguruan tinggi yang terbaik untuk memperoleh gelar. Kemudian Anda akan menjadi terpelajar. Hari ini Tuhan tidak hanya memerlukan nelayan Galilea untuk melakukan perubahan, Dia pun memerlukan ahli Taurat.
Ketika murid-murid mendengar perumpamaan tentang rahasia kerajaan, mereka mungkin merasa sangat girang sambil berkata, “Haleluya, kami nelayan Galilea mengetahui rahasia kerajaan!” Tetapi Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu bergembira, tetapi Aku masih memerlukan ahli Taurat. Sa-yang, tidak satu pun di antara kalian adalah ahli Taurat. Petrus, kamu baik untuk hari Pentakosta, baik untuk me-nebarkan jala dan mendapat sejumlah besar orang. Tetapi setelah begitu banyak orang dibawa ke dalam gereja, bagai-mana Anda menghadapi mereka? Kamu nelayan Galilea tidak mempunyai kemampuan ini. Aku memerlukan sejumlah ahli Taurat yang berpengetahuan penuh, ahli Taurat yang ter-pelajar dalam kehendak-Ku. Ahli Taurat ini akan mengeluar-kan barang yang baru maupun yang lama dari pengetahuan dan pengalaman mereka.” Karena itu Paulus begitu unggul dalam agama, ia dapat menulis Kitab Galatia yang dalam. Namun Petrus tidak dapat menulis kitab semacam itu. Ini dikatakan oleh Petrus dalam kitabnya yang kedua mengenai penebaran jala, tetapi ia tidak unggul dalam agama Yahudi. Ia tidak paham akan Kitab Imamat dan Mazmur sebaik Saulus dari Tarsus. Dengan demikian, semua nelayan orang Galilea tertaklukkan oleh perumpamaan ini oleh Paulus. Kita nampak alangkah kaya dan limpahnya harta yang ia miliki. Dari perbendaharaannya ia dapat memberikan doktrin-doktrin dan pengalaman-pengalaman yang baru dan yang lama. Saya harap sebagian dari kaum muda akan menjadi ahli Taurat. Bagi pemulihan Tuhan hari ini kita perlu nelayan dan ahli Taurat.