PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (4)
Dalam berita ini kita akan melanjutkan untuk melihat penampilan lahiriah Kerajaan Surga. Sebagaimana perum-pamaan lalang mewahyukan bahwa unsur-unsur penyusun kerajaan adalah anak-anak kerajaan, yang mempunyai hayat ilahi di dalam mereka. Namun lalang, anak-anak Iblis, telah masuk. Karena masuknya orang-orang palsu ini di antara unsur-unsur penyusun kerajaan, maka kerajaan ini dalam penampilan lahiriahnya telah menjadi dunia kekristenan. Pada mulanya adalah murni Kerajaan Allah, tetapi kini men-jadi dunia kekristenan yang terdiri atas kaum beriman se-jati dan kaum beriman palsu. Banyak orang ketika berbica-ra tentang kekristenan, mereka sesungguhnya berbicara tentang dunia kekristenan. Kerajaan Surga tidak sebesar dunia kekristenan, sebab kerajaan lebih kecil daripada dunia kekristenan, bahkan seolah-olah kerajaan berada di dalamnya. Kerajaan itu nyata, terdiri atas unsur-unsur pe-nyusun sejati yang adalah anak-anak kerajaan, anak-anak Allah. Tetapi lalang yang ditaburkan oleh Iblis menyebabkan percampuran di antara orang-orang yang menyebut dirinya Kristen pada penampilan lahiriah Kerajaan Surga, yang kita sebut dunia kekristenan.
III. PERKEMBANGAN ABNORMAL PADA PENAMPILAN LAHIRIAH KERAJAAN
Tuhan mengatur perumpamaan dalam Matius 13 dalam rangkaian yang sangat baik. Pertama-tama terdapat perum-pamaan penabur, yang menaburkan benih untuk mengha-silkan unsur-unsur penyusun Kerajaan Surga. Kemudian ter-dapat perumpamaan lalang yang ditaburkan oleh musuh, orang yang palsu di antara unsur-unsur penyusun yang me-nyebabkan Kerajaan Surga menjadi dunia kekristenan. Se-telah perumpamaan lalang, terdapat perumpamaan benih sesawi (13:31-32).
A. Kerajaan Surga Seumpama Biji Sesawi
Ayat 31 mengatakan,“Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladang-nya.” Gandum dalam kedua perumpamaan pertama dan biji sesawi dalam perumpamaan ketiga di sini adalah untuk ma-kanan. Ini menunjukkan bahwa umat kerajaan, unsur-unsur penyusun kerajaan dan gereja, seharusnya seperti tuaian yang menghasilkan makanan bagi kepuasan Allah dan ma-nusia. Gandum dan sesawi baik untuk dimakan. Pada haki-katnya, sangat sehat dan bergizi jika kita makan roti yang terbuat dari gandum dengan sayur. Namun, dalam perum-pamaan kedua dan ketiga kita nampak pemikiran si jahat, kelicikan Iblis. Si jahat masuk menaburkan lalang di antara gandum. Setiap petani dapat memberi tahu Anda bahwa lalang sangat mengganggu pertumbuhan gandum, sebab la-lang menyerap kesuburan tanah yang memberi gizi untuk pertumbuhan gandum. Karena kesuburan tanah telah dise-rap dan ditanduskan oleh lalang, gandum tidak dapat tumbuh dengan baik. Kita dapat menerapkan hal ini pada situasi kita sekarang. Banyak orang Kristen palsu mengganggu pertum-buhan orang Kristen sejati. Di mana ada banyak kaum ber-iman palsu, maka kaum beriman sejati sulit bertumbuh dalam hayat. Inilah kelicikan musuh. Sebagaimana kita akan nampak, kelicikan musuh ialah membuat biji sesawi ber-tumbuh menjadi pohon yang besar, yang tidak lagi baik untuk dimakan.
B. Raja Surgawi Menaburkan Biji Sesawi di Ladangnya
Di satu pihak, apa yang Tuhan taburkan ialah biji gandum. Tetapi di pihak lain, adalah biji sesawi. Baik biji gandum maupun biji sesawi melambangkan Kristus sebagai makanan bagi kita dalam aspek yang berbeda. Dia adalah gandum dan sesawi untuk gizi kita.
C. Biji Sesawi Tumbuh Lebih Besar daripada Sayuran dan Menjadi Pohon
Ayat 32 mengatakan bahwa setelah biji sesawi bertum-buh, “sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon.” Gereja, yang adalah perwujudan ke-rajaan, seharusnya seperti sayuran yang menghasilkan makanan. Namun, sifat dan fungsinya berubah sehingga gereja menjadi pohon, tempat bersarangnya burung-burung (ini berlawanan dengan hukum penciptaan Allah yang menetapkan setiap tanaman bertumbuh menurut jenisnya — Kej. 1:11-12). Perubahan ini terjadi dalam awal abad keempat, ketika Kaisar Konstantinus mencampuradukkan gereja dengan dunia. Dia membawa beribu-ribu orang beriman palsu ke dalam agama Kristen, sehingga membentuk dunia kekristenan, bu-kan gereja lagi. Karena itu, perumpamaan ketiga ini berhu-bungan dengan gereja ketiga dari ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3, yaitu gereja di Pergamus (2:12-17). Sesawi ialah ta-naman musiman, sedangkan pohon adalah tanaman keras tahunan. Menurut sifatnya yang surgawi dan rohani gereja seharusnya seperti sesawi, hanya sementara di bumi. Teta-pi karena sifatnya berubah, gereja menjadi berakar dalam-dalam dan menetap seperti sebuah pohon di bumi, semarak dengan berbagai usahanya seperti cabang-cabang, yang di dalamnya banyak orang jahat dan barang jahat bercokol. Hal ini mengakibatkan terbentuknya organisasi penampilan luar Kerajaan Surga.
Bagi biji sesawi, menjadi pohon merupakan suatu pe-langgaran prinsip yang ditentukan oleh Allah dalam ciptaan-Nya untuk masalah hidup — setiap tanaman harus ber-kembang menurut jenisnya. Inilah yang ditunjukkan dalam Kejadian 1, di mana kita diberi tahu bahwa setiap hayat ber-tumbuh menurut jenisnya. Buah persik tumbuh menurut jenis persik dan apel menurut jenis apel. Prinsip ini dite-rapkan tidak hanya pada hayat tanaman, tetapi juga pada ha-yat binatang, dan bahkan pada hayat manusia. Setiap jenis ha-yat harus berkembang menurut jenisnya. Lembu harus menjadi lembu, keledai harus menjadi keledai, dan kuda harus menjadi kuda. Bagal merupakan binatang yang berkembang tidak menurut jenisnya. Bagal bukan kuda atau keledai, melainkan suatu persilangan antara kuda dan keledai. Jika suatu sayur atau hayat tumbuh-tumbuhan tidak berkembang menurut jenisnya, akan menjadi abnormal dan melanggar prinsip yang telah ditentukan oleh Allah dalam penciptaan-Nya. Untuk me-naati prinsip ini, sesawi harus berkembang menurut sesawi dan pohon harus berkembang menurut pohon. Tetapi dengan bertumbuh menjadi pohon, sayuran sawi melanggar prinsip ini. Pertumbuhan ini abnormal, melanggar ketentuan Allah. Seandainya hayat manusia berkembang tanpa ketentuan apa pun, beberapa orang China bertumbuh menjadi kerbau, be-berapa orang Jepang tumbuh menjadi kuda, dan orang Amerika tumbuh menjadi gajah. Alangkah ganjilnya hal ini! Syukur kepada Allah bahwa dalam penciptaan-Nya Dia telah meletakkan prinsip hukum kepada setiap macam hayat! Namun, ketika Tuhan menaburkan benih sayuran sesawi, sayuran ini bertumbuh menjadi pohon. Alangkah abnormalnya perkembangan seperti ini.
Ketika muda, saya membaca beberapa buku yang me-ngatakan bahwa pohon besar ini ialah sesuatu yang positif. Tetapi pohon ini, sekalipun sangat besar, sama sekali tidak positif. Seandainya seseorang bertumbuh menjadi gajah, ini positif atau negatif? Kita semua akan ngeri melihat perkem-bangan yang demikian abnormal. Dunia kekristenan hari ini adalah suatu keabnormalan yang bersifat Iblis. Tidak hanya menjadi pohon, tetapi menjadi pohon yang besar. Melalui hal ini kita nampak bahwa tidak hanya unsur-unsur penyusun kerajaan telah berubah, bahkan ukuran kerajaan pun menjadi abnormal. Jika sayuran enak untuk dimakan, tidak seharus-nya tumbuh terlalu besar. Jika sayuran tumbuh abnormal besarnya, ia tidak lagi lunak, enak, atau baik untuk dimakan. Dalam ekonomi-Nya, kehendak Allah adalah agar anak-anak-Nya menjadi seperti gandum atau sesawi, semakin kecil, semakin lunak, akan semakin baik. Lagi pula, di dunia kita harus bersifat musiman seperti gandum dan sesawi, yang hidup di dunia tidak lebih dari semusim. Umat gereja hen-daklah bersifat musiman, jangan serba segala musim. Ja-nganlah berakar tunggang di bumi untuk jangka waktu yang lama, sebab Tuhan menginginkan kita hanya sebagai musafir di bumi. Jika kita musiman seperti gandum dan sayuran, kita akan menghasilkan bahan makanan yang terbaik; gan-dum untuk membuat roti dan sesawi untuk pelengkap roti. Ini akan menghasilkan makanan lain yang lezat untuk gizi dan kepuasan manusia. Namun, musuh telah membuat sesawi menjadi pohon yang serba segala musim yang tidak meng-hasilkan bahan makanan apa pun.
D. Burung-burung di Udara Datang Bersarang pada Cabang-cabangnya
Ayat 32 mengatakan pula bahwa burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabang pohon. Bukan-nya menghasilkan bahan makanan, pohon ini malah men-jadi tempat bersarangnya burung-burung. Karena burung dalam perumpamaan pertama melambangkan si jahat, Iblis (ayat 4, 19), burung-burung di udara dalam perumpamaan ini pasti mengacu kepada roh-roh jahat Iblis dengan orang jahat dan barang jahat yang digerakkan oleh mereka. Mereka bersarang di cabang-cabang pohon besar itu, yaitu di dalam usaha-usaha dunia kekristenan. Burung-burung mengacu ke-pada si jahat, orang jahat, perkara jahat, dan benda jahat. Dalam dunia kekristenan hari ini, banyak orang jahat, perkara jahat, benda jahat. Dunia kekristenan menjadi pohon besar yang tidak menghasilkan buah, tetapi menjadi tempat bersarangnya banyak kejahatan.
Ketika perumpamaan ini diucapkan oleh Tuhan, per-umpamaan ini hanya merupakan nubuat, tetapi hari ini telah menjadi sejarah. Di Vatikan kita nampak pengge-napan perumpamaan ini. Vatikan merupakan sebuah negara yang berdiri sendiri, yang dibentuk oleh persetujuan antara Mussolini dan Paus. Sejak itu Vatikan telah mengadakan tukar menukar kedutaan dengan berbagai negara. Inilah ke-lanjutan yang menunjukkan bahwa agama Kristen menjadi pohon besar. Sekalipun kekristenan telah menjadi pohon besar, dalam Lukas 12, Tuhan Yesus menyebut gereja-Nya “kawanan kecil”. Kita tidak seharusnya menjadi pohon besar, melainkan tetap sebagai kawanan kecil.
Di dunia kekristenan sulit ditemukan biji gandum atau biji sesawi. Bukannya sebagai makanan, pohon ini malah lebih banyak menjadi tempat bersarangnya burung-burung. Inilah situasi, penampilan lahiriah Kerajaan Surga hari ini.
IV. KEBEJATAN BATINIAH DARI PENAMPILAN LAHIRIAH KERAJAAN
A. Perumpamaan Ragi
Bersamaan dengan penampilan kerajaan, ada tiga hal: perubahan hakiki — lalang; perubahan penampilan lahiriah pada permukaan — pohon besar; dan kebejatan serta kerusakan batiniah — ragi. Sekarang mari kita melihat perumpamaan ragi.
1. Kerajaan Surga Seumpama Ragi
Ayat 33 mengatakan,“Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai me-ngembang seluruhnya.” Ragi dalam Alkitab melambangkan hal-hal yang jahat (1 Kor. 5:6, 8) dan ajaran yang jahat (Mat. 16:6, 11-12).
2. Seorang Perempuan (Kekristenan Tertentu yang Murtad) Mengambil Ragi
dan Mengaduknya ke Dalam Tepung Terigu Tiga Sukat
Ayat 33 mengatakan bahwa seorang perempuan meng-ambil ragi dan mengaduknya ke dalam tepung terigu tiga sukat (empat puluh liter). Gereja sebagai pelaksanaan Ke-rajaan Surga yang berisikan Kristus, tepung terigu yang halus dan tidak beragi, seharusnya adalah roti yang tidak beragi (1 Kor. 5:7-8). Namun, satu gereja, yang secara penuh dan resmi dibentuk dalam abad keenam, dan yang dilambang-kan dengan seorang perempuan di sini, memasukkan banyak praktek agama kafir, doktrin bidah, dan perkara-perkara yang jahat, dan mencampuradukkannya dengan ajaran-ajaran tentang Kristus, meragikan, mengkhamirkan seluruh isi ke-kristenan. Percampuran ini menjadi isi yang rusak dari pe-nampilan luar Kerajaan Surga. Perumpamaan keempat ini berhubungan dengan gereja keempat dari ketujuh gereja da-lam Wahyu 2 dan 3, gereja di Tiatira (2:18-29). Ini menjadi isi batiniah dari penampilan lahiriah Kerajaan Surga.
Tepung untuk membuat kurban sajian (Im. 2:1), melambangkan Kristus sebagai makanan bagi Allah dan manusia. Tiga sukat adalah jumlah yang diperlukan untuk membuat satu porsi hidangan yang penuh (Kej. 18:6). Jadi, mencam-purkan ragi ke dalam tiga sukat tepung melambangkan mengkhamirkan secara tersembunyi semua ajaran tentang Kristus. Inilah keadaan sebenarnya dalam aliran Kristen ter-tentu. Pengkhamiran ini mutlak bertentangan dengan Kitab Suci, yang dengan tegas melarang menaruh ragi ke dalam kurban sajian (Im. 2:4-5, 11).
Perumpamaan ragi mewahyukan masalah campur aduk. Tiga sukat tepung menunjukkan tepung halus yang dibuat dari biji gandum. Tepung yang halus ini selalu digunakan dalam kurban sajian, makanan untuk imam-imam Allah. Mereka yang melayani Allah sebagai imam diberi makan te-pung halus dari kurban sajian. Kurban sajian bukan hanya untuk kepuasan imam Allah, melainkan juga untuk kepuasan Allah sendiri. Sebab itu, kurban sajian adalah makanan untuk imam dan Allah. Kurban sajian ialah lambang penuh Kristus dalam insani-Nya, sedang tepung yang halus me-nunjukkan Kristus sendiri. Ketika Tuhan menyatakan diri kepada Abraham, Abraham menyuruh istrinya, Sara, menyi-apkan hidangan lengkap dengan tiga sukat tepung halus. Se-bab itu, dalam Alkitab, tiga sukat menunjukkan hidangan lengkap. Fakta bahwa tiga sukat tepung telah diragi oleh perempuan menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berhu-bungan dengan Kristus telah diragi oleh perempuan jahat ini.
Perempuan dalam Matius 13 ialah Izebel dalam Wahyu 2. Menurut sejarah, Tiatira melambangkan kekristenan tertentu yang murtad ini. Pada akhirnya perempuan yang jahat ini akan menjadi pelacur besar yang bernama Babilon Besar, dalam Wahyu 17. Sebab itu, perempuan dalam Matius 13, Wahyu 2, dan Wahyu 17 adalah kekristenan tertentu yang telah murtad. Setelah sistem kepausan didirikan, banyak prak-tek bidah yang dibawa masuk dan yang dibenarkan oleh sis-tem itu. Hal ini telah didokumentasikan dalam buku Alexander Hislop, yang berjudul “The Two Babylons”.
3. Seluruh Adonan (Agama Kristen) Telah Diragi (Khamir)
Menurut 13:33,“khamir seluruhnya” (Tl.). Seluruh adonan, yang menunjukkan kekristenan, telah khamir dan rusak. Penulis buku “The Two Babylons”, buku yang ditulis untuk menyingkapkan ragi kekristenan tertentu, justru menyebut dirinya sendiri dengan istilah pendeta, yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya bersih dari peragian. Jika Anda membaca sejarah agama Kristen, Anda akan nampak bahwa segala sesuatu di dalamnya telah terkhamirkan. Sebagai contoh, di Vatikan terdapat lukisan yang dianggap sebagai Trinitas. Di antara gambaran seorang tua yang mewakili Bapa, dan seorang muda yang mewakili Anak, terdapat se-orang gadis muda yang disebut ibu Allah. Di atas ketiga per-sona ini ada seekor burung merpati yang menunjukkan Roh Kudus. Menurut gambaran ini, Maria dijadikan persona ke-empat sehingga Trinitas telah menjadi Caturnitas. Betapa khamirnya ini!
Kekristenan tertentu telah meragi (mengkhamiri) segala sesuatu yang berkaitan dengan Kristus. Mereka memang mempunyai Kristus, tepung halus, tetapi mereka telah men-campurkan ragi ke dalam tepung ini. Mereka juga mempu-nyai cawan emas, tetapi dipenuhi dengan kekejian (Why. 17:4). Tidak disangsikan bahwa kekristenan tertentu ini mempu-nyai beberapa perkara ilahi, yang dilambangkan oleh cawan emas, tetapi mereka bercampur dengan kekejian dan semua cara dan perkara yang bersifat setani. Inilah dunia kekris-tenan hari ini. Tanpa kecuali, segala sesuatu dalam dunia ke-kristenan merupakan suatu campur aduk. Pikirkanlah ge-rakan Karismatik yang telah dibawa ke dalam kekristenan tertentu dan bahkan telah bercampur dengan penyembahan Maria. Banyak penganut Karismatik tersebut mengira diri mereka rohani, namun mereka masih menyembah Maria. Kekristenan tertentu ini juga memiliki apa yang disebut upa-cara Karismatik.
Apa saja yang tidak berasal dari roh atau dari Kristus adalah khamir. Ragi ialah sesuatu yang ditambahkan un-tuk membuat sesuatu mudah dimakan. Tanpa ragi, roti akan menjadi keras dan sulit dimakan dan dicerna. Kekristenan tertentu menggunakan ini sebagai alasan penggunaan ragi. Mereka mengatakan bahwa mereka harus membuatnya mu-dah agar orang dapat menerima Kristus. Kekristenan ter-tentu mengatakan bahwa Kristus itu rahasia, rohani, dan abstrak, karena itu orang perlu gambar-Nya supaya mengenal Dia. Manusia alamiah kita suka menggunakan cara-cara ter-tentu untuk membuat perkara-perkara rohani lebih mudah dicerna. Inilah yang Alkitab sebut “khamir”, yang harus kita waspadai. Kita harus terhindar dari semua peragian.
Tidak hanya kekristenan tertentu yang telah mencam-purkan ragi, tetapi juga denominasi tertentu dan kelompok-kelompok tertentu. Musik rock dan drama merupakan suatu jenis peragian, yang digunakan untuk membuat masalah rohani lebih mudah diterima. Ketika saya di China, saya mengenal beberapa orang muda dalam organisasi tertentu yang mencampuradukkan permainan bola basket dalam pe-ngabaran Injil. Menggunakan bola basket untuk pemberitaan Injil juga merupakan peragian. Saya sangsi akan banyak-nya orang yang betul-betul diselamatkan melalui cara ini. Seluruh prinsip YMCA (Young Men’s Christian Association) ialah peragian, sebab tujuan YMCA ialah membawa standar surgawi turun ke standar bumi, membawa Injil kepada masya-rakat dunia dengan cara-cara duniawi. Banyak hal dalam agama Kristen yang merupakan ragi. Ini termasuk hari Natal, hari raya kebangkitan, berhala, gambar-gambar, lu-kisan, musik rock, drama, dan seluruh sistem YMCA. Kita harus berhati-hati, jangan sampai mengambil sesuatu selain Kristus untuk tujuan Allah, sebab segala sesuatu selain Dia ialah ragi. Awas, si jahat sedang bertiarap di sekeliling kita menunggu mangsa! Kita dengan mudah bisa menjadi mang-sanya sebab dalam alamiah manusia kita ada kedambaan membuatnya mudah bagi orang untuk mengalami perkara-perkara rohani. Tetapi apa pun yang Anda gunakan untuk membantu orang menjamah perkara rohani adalah sejenis ragi. Satu-satunya cara yang murni dan kudus untuk memberi-takan Injil dan membawa orang Kristen ialah dengan ber-doa dan meministrikan firman. Janganlah menggunakan cara lain. Jika setelah berdoa dan meministrikan firman, orang masih tetap tidak mau menerima Injil, itu terserah kepada Tuhan. Orang mau menerima atau tidak firman yang kita sampaikan, itu masalah kehendak Bapa. Kita tidak mau menggunakan rekayasa apa pun untuk membantu pemberi-taan kita. Setiap rekayasa adalah ragi. Kita bukan untuk suatu pekerjaan atau suatu pergerakan, melainkan bagi kesaksian Yesus.
Penampilan luaran Kerajaan Surga mencakup tiga hal: Lalang, berubahnya hakiki unsur-unsur penyusun kerajaan; pohon besar, permukaan yang palsu; dan ragi, kerusakan dan kebejatan batiniah. Kita dapat menerapkan gambaran ini pada “agama Kristen” hari ini. Dalam “agama Kristen” kita bisa nampak lalang, pertumbuhan abnormal; dan kerusak-an yang disebabkan oleh ragi. Hampir pada setiap bagian “agama Kristen” hari ini terdapat kemerosotan, sekalipun me-mang ada sejumlah kebenaran, tetapi telah bercampur de-ngan ragi. Yang seharusnya murni, tetapi telah menjadi campur aduk. Mereka yang menentang dan mengkritik kita berkata bahwa untuk membela kebenaran, tidak dapat tidak mereka harus menggunakan cara-cara tersebut. Puji Tuhan, kita telah dipanggil keluar dari permukaan dan terhindar dari peragian! Namun, kita harus berjaga-jaga jangan sampai mengizinkan jenis ragi lain masuk. Waspadalah, jangan mengambil sesuatu selain Kristus. Dalam membangun gereja dan menyebarluaskan kesaksian Tuhan, jalan satu-satunya ialah berdoa dan meministrikan firman yang murni. Dalam pandangan Allah, rekayasa macam apa pun selain Kristus, firman, doa, dan Roh, adalah ragi. Kita harus ber-doa sampai pemberitaan kita mengandung kuasa Roh, dan kita harus berdoa sampai kesaksian kita dipenuhi dengan kekayaan Kristus. Inilah makanan sejati bagi Allah dan manusia. Inilah yang dikehendaki Tuhan hari ini.
Saya percaya bahwa alasan Tuhan memberikan semua perumpamaan ini ialah ingin menunjukkan rahasia kerajaan untuk membantu rasul dan murid-murid yang terdahulu menyadari bahwa inilah Kerajaan Surga. Kita harus nampak perbedaan antara realitas kerajaan dan penampakan lahiriah kerajaan. Realitas sangat berharga bagi Allah, tetapi pe-nampilan lahiriahnya sangat Dia benci. Sebab itu, kita ha-rus memustikakan realitas dan menolak penampilan lahiriah. Kita tidak suka akan lalang, pohon besar, atau kebejatan. Kita memperhatikan tepung gandum murni dan sayuran sesawi kecil yang baik untuk kita makan. Inilah kesaksian gereja, yang adalah makanan bagi Allah dan manusia. Se-belum orang-orang yang lapar dan para pencari kebenaran masuk ke dalam pemulihan Tuhan, mereka tidak mungkin menemukan makanan yang sejati bagi kepuasan rohani mereka. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa berta-hun-tahun kita lapar, tetapi begitu kita masuk ke dalam gereja, kita puas. Roh kita memberi tahu kita bahwa di sini, dalam gereja, ada makanan. Di sini tidak ada rekayasa atau ragi, melainkan tepung halus dengan sayur sesawi. Inilah pemulihan Tuhan dan inilah meja makan. Inilah ke-saksian Tuhan tanpa lalang, pohon besar, atau ragi.
B. Raja Surgawi Berkata kepada Orang Banyak Hanya dalam Perumpamaan
Ayat 34 mengatakan,“Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa per-umpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka.” Karena penolakan mereka, Raja surgawi berkata kepada mereka tidak dalam kata-kata yang jelas, tetapi dalam per-umpamaan, agar rahasia kerajaan tersembunyi terhadap mereka. Penyingkapan kerajaan menjadi suatu rahasia bagi mereka.
Apa yang dilakukan oleh Raja surgawi ialah penggenapan nubuat yang mengatakan, “Aku mau membuka mulut me-ngatakan Amsal” (Mzm. 78:2). Dengan berbuat demikian, Dia telah menguraikan perkara-perkara yang tersembunyi sejak kejadian dunia. Umat Kerajaan Surga dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4), tetapi rahasia kerajaan tersembunyi sejak dunia dijadikan. Perkara yang tersembu-nyi ini adalah perkara-perkara yang menyangkut kerajaan, yang kini telah diutarakan oleh Raja surgawi secara raha-sia sehingga masih merupakan suatu rahasia bagi banyak orang.