PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (3)
Dalam berita yang lalu kita nampak bahwa tanah yang baik adalah orang-orang yang sesuai dengan konstitusi Kerajaan Surga. Konstitusi ialah suatu penjelasan lengkap mengenai tanah yang baik, orang yang miskin dalam roh dan murni dalam hati, yang tidak ada lalu lintas duniawi di dalamnya, yang tidak dikeraskan, tidak ada batu-batu tem-peramen, nafsu, ego, dan daging yang tersembunyi di da-lamnya. Semua ini berpadanan dengan syarat-syarat konstitusi. Tanah yang baik tidak ada semak-semak duri, tidak ada kekhawatiran hidup, dan tidak ada tipu daya kekayaan. Se-bab itu mereka menjadi tanah yang baik tempat benih dapat bertumbuh. Tanah yang baik ini ialah orang-orang yang hidup menurut konstitusi Kerajaan Surga. Dengan kata lain, kehidupan mereka berpadanan dengan konstitusi.
Kerajaan Surga dibangun dari perlipatgandaan benih. Penabur menaburkan benih, benih bertumbuh dan berlipat ganda dan pada akhirnya pergandaan benih itu menjadi unsur penyusun kerajaan. Ini mewahyukan bahwa kerajaan tidak dibangun oleh pekerjaan apa pun, melainkan dibangun oleh pergandaan benih yang ditaburkan oleh penabur. Kristus datang sebagai penabur yang menaburkan diri-Nya sebagai benih hayat. Benih hayat ini masuk ke dalam manusia untuk menghasilkan buah, anak-anak kerajaan. Inilah pergandaan benih itu. Kerajaan dibangun oleh perlipatgandaan ini. Ka-rena itu, kerajaan ialah pergandaan benih yang ditaburkan oleh penabur. Penabur sendiri adalah benih itu dan pergan-daan benih itu adalah perlipatgandaan penabur. Kerajaan dibangun dengan pergandaan Kristus. Kerajaan ialah perlu-asan Kristus, pergandaan Kristus, sebagai benih yang dita-burkan ke dalam kita. Jika kita nampak hal ini, kita akan mengetahui bahwa kita harus mempunyai kehidupan macam apa dan kita harus berada dalam situasi macam apa se-hingga kita dapat berpartisipasi dalam kerajaan. Setelah nampak perkara ini, marilah kita sekarang melihat lebih lanjut perumpamaan yang kedua (13:24-30; 36-43).
II. BERDIRINYA KERAJAAN DAN UNSUR YANG PALSU
A. Kerajaan Surga Itu Seumpama
Orang yang Menaburkan Benih yang Baik
Ayat 24 mengatakan,“Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.” Dengan perumpamaan kedua ini Tuhan mulai mengatakan, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama . . . “, karena Kerajaan Surga mulai didirikan ketika gereja dibangun pada hari Pentakosta, yaitu pada waktu perumpamaan kedua mulai digenapi (16:18-19). Sejak saat itu, setelah gereja didirikan, lalang-lalang (kaum beriman palsu) ditaburkan di antara gandum (kaum beriman sejati) yang membentuk penampilan Kerajaan Surga.
Kerajaan Surga dimulai dengan perumpamaan yang ke-dua. Inilah sebabnya Tuhan menggunakan kata “hal Kerajaan Surga seumpama”. Perkataan ini tidak dikatakan oleh Tuhan dalam perumpamaan yang pertama, sebab pada saat itu Kera-jaan Surga belum tiba. Sebaliknya, perumpamaan itu ber-kenaan dengan pekerjaan pendahuluan bagi Kerajaan Surga. Tetapi pada saat perumpamaan yang kedua, Kerajaan Surga telah datang, maka Tuhan berkata bahwa Kerajaan Surga seumpama seorang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
B. Raja Surgawi Telah Menaburkan
Benih yang Baik di Ladangnya
Perumpamaan lalang mudah dimengerti. Dalam per-umpamaan yang pertama benih yang ditaburkan oleh pena-bur ialah firman kerajaan. Ayat 19 mengatakan hal ini de-ngan jelas. Tetapi dalam perumpamaan kedua kita nampak bahwa benih itu telah berkembang biak ke dalam anak-anak kerajaan (ayat 38). Pertama, ini berarti benih itu adalah firman yang ditaburkan dalam manusia, dan kedua bahwa firman itu telah bertumbuh dalam anak-anak kerajaan. Dalam berita sebelumnya saya menunjukkan bahwa benih itu ialah firman beserta Kristus di dalamnya sebagai hayat. Me-nurut perumpamaan kedua, benih ini bertumbuh di dalam kita, umat kerajaan, anak-anak kerajaan. Sebab itu, gandum ialah anak-anak kerajaan, kaum beriman yang sejati, yang dilahirkan kembali dengan hayat ilahi.
C. Musuh Datang dan Menaburkan Lalang di Antara Gandum
Ayat 25 mengatakan,“Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di an-tara gandum itu, lalu pergi.” Orang dalam ayat ini adalah hamba-hamba (ayat 27), mengacu kepada hamba-hamba Tuhan, terutama para rasul. Ketika hamba-hamba Tuhan tidur dan tidak berjaga-jaga, musuh Tuhan, Iblis, datang dan menaburkan kaum beriman palsu di antara kaum beriman sejati.
Ayat 25 mengatakan bahwa musuh menaburkan lalang di antara gandum. Lalang adalah semacam rumput yang mirip gandum. Bijinya beracun dan dapat menyebabkan ngantuk, pusing, kejang, dan bahkan kematian. Tunas dan daun lalang menyerupai gandum. Sulit sekali membedakan gandum dari lalang sebelum keduanya menghasilkan buah. Buah gandum berwarna kuning emas, tetapi buah lalang berwarna hitam.
Dalam Perjanjian Lama, orang Israel yang sebelumnya berada di dalam Kerajaan Allah, diumpamakan seperti pohon anggur yang tumbuh di kebun anggur (21:33-34), sedangkan dalam Perjanjian Baru, umat kerajaan yang berada di dalam Kerajaan Surga diumpamakan seperti gandum yang bertum-buh di ladang. Kebun anggur itu dipagari, dibatasi, dan hanya meliputi orang Yahudi, sedangkan ladang itu seluas dunia, terbuka, tidak terbatas, dan meliputi semua orang.
Perumpamaan ini menyingkapkan bahwa tidak lama se-telah pendirian kerajaan oleh terbangunnya gereja, situasi Kerajaan Surga berubah. Kerajaan itu didirikan dengan anak-anak kerajaan yakni gandum. Tetapi anak-anak si jahat, lalang-lalang, bertumbuh mengubah situasi. Maka, terjadilah perbedaan antara Kerajaan Surga dengan penampilan lahiriah-Nya. Anak-anak kerajaan, gandum, membentuk kerajaan; sedangkan anak-anak si jahat, lalang-lalang telah membentuk penampilan lahiriah kerajaan yang hari ini disebut dunia kekristenan.
Gandum ialah anak-anak kerajaan, kaum beriman yang sejati, yang dilahirkan kembali dengan hayat ilahi. Lalang adalah anak-anak si jahat, Iblis. Pada tahap permulaan pertumbuhan mereka, lalang nampaknya berwarna dan berbentuk sama seperti gandum. Bahkan yang ahli pun sulit menemukan perbedaannya sampai keluar buahnya. Ter-dapat perbedaan besar antara buah lalang dan buah gandum, sebab buah lalang hitam dan buah gandum kuning kehi-jauan. Anak-anak kerajaan ialah anak-anak Allah yang mem-punyai hayat ilahi di dalam mereka. Anak-anak si jahat adalah kaum beriman palsu, kaum beriman sebutan yang tidak memiliki hayat ilahi di dalam mereka.
D. Hamba-hamba Raja Ingin Mencabut
Lalang-lalang Itu, tetapi Raja Mengizinkan
Lalang-lalang Bertumbuh Bersama Gandum
Sampai Waktu Menuai
Ketika hamba-hamba Raja ingin mencabut lalang (ayat 28), Dia berkata, “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” Lalang dan gandum itu tumbuh di ladang, dan ladang itu adalah dunia (ayat 38). Kaum beriman palsu dan kaum beriman sejati hi-dup di dunia. Mengumpulkan lalang dari ladang berarti me-nyingkirkan kaum beriman palsu dari dunia. Tuhan tidak menghendaki hamba-hamba-Nya melakukan hal ini, karena pada saat menyingkirkan kaum beriman palsu dari dunia, mereka mungkin juga menyingkirkan kaum beriman sejati. Kekristenan tertentu pernah melakukan hal ini, dan dengan berbuat demikian telah membunuh banyak orang beriman sejati.
Banyak guru Kristen salah menafsirkan ladang dengan menyatakan bahwa ladang ialah gereja. Menurut tafsiran ini, di dalam gereja terdapat baik orang yang palsu maupun yang sejati. Tetapi Tuhan dengan jelas mengatakan dalam ayat 38 bahwa ladang ialah dunia. Gandum dan lalang di-biarkan tumbuh bersama di dalam dunia, bukan di dalam gereja. Menurut surat para rasul, bahkan orang berdosa saja tidak diperbolehkan tinggal dalam gereja. Dalam 1 Korintus 5, Rasul Paulus memerintahkan gereja di Korintus supaya mengucilkan orang-orang berdosa. Kalau kaum beriman sejati yang berdosa saja harus dikucilkan dari gereja, apalagi kaum beriman palsu. Gereja tidak membiarkan kaum beriman palsu ada di dalam gereja, tetapi yang palsu dan benar ke-duanya diperbolehkan tumbuh bersama-sama di dalam dunia. Ingatlah baik-baik, ladang menunjukkan dunia. Di dalam dunia terdapat kaum beriman sejati dan palsu, tetapi dalam gereja tidak.
Tuhan memberi tahu hamba-hamba-Nya supaya jangan memisahkan gandum dengan lalang, tetapi membiarkan ke-duanya bertumbuh bersama sampai waktu menuai. Jika ti-dak, gandum akan dicabut bersama lalang. Ini berarti bahwa kaum beriman palsu diperbolehkan berada dalam dunia ber-sama dengan kaum beriman sejati. Pada abad-abad yang lampau kekristenan tertentu membuat kesalahan yang serius dengan mencoba mencabut mereka yang dianggap lalang.
Tetapi kebanyakan mereka yang disingkirkan oleh ke-krisrenan tertentu justru adalah orang-orang beriman yang sejati, bahkan orang-orang yang terbaik. Inilah sebabnya Tuhan Yesus tidak mengizinkan hamba-hamba-Nya melakukan per-kara seperti itu.
E. Masa Menuai — Penutupan Zaman
Ayat 30 mengatakan,“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Masa me-nuai ialah penutupan zaman, dan penuai-penuai ialah ma-laikat (ayat 39). Pada penutupan zaman ini, Tuhan akan mengutus malaikat pertama-tama untuk mencabut semua la-lang, semua batu penyandung dan mereka yang tidak benar, mengikat mereka berberkas-berkas dan membakar mereka dengan api dalam lautan api (ayat 30, 40-42). Kemudian gandum, orang yang benar akan dikumpulkan ke dalam lum-bung Raja, Kerajaan Bapa mereka, untuk bersinar seperti matahari (ayat 30, 43).
Dalam Galatia 2:4 dan 2 Korintus 11:26 Paulus menyinggung tentang saudara palsu, dengan menyatakan bahwa ia dirusak oleh saudara palsu. Ini menunjukkan bahwa pada zaman Paulus sudah ada lalang. Sudah tentu, lebih banyak lagi lalang yang masuk sejak Konstantinus menjadikan agama Kristen sebagai agama negara.
Dalam perumpamaan ini Tuhan menunjukkan masalah yang serius tentang hukuman atas lalang. Ini akan merupakan hukuman yang khusus, sebab lalang akan diikat berberkas-berkas dan dibuang ke dalam tempat api, yaitu lautan api. Yang mula-mula dilemparkan ke dalam lautan api adalah antikristus dan nabi palsu. Selanjutnya, lalang akan dicampakkan ke dalam lautan api pada saat Tuhan datang kembali. Penghukuman atas lalang akan sangat serius sebab mereka mengacaukan, menghalangi, dan merusak ekonomi Allah. Dalam pandangan Allah, lalang sangatlah jahat.
Kaum modern hari ini sangat jahat. Mereka menghu-jat Tuhan dengan mengatakan bahwa Dia adalah seorang anak haram. Mereka pun mengatakan bahwa Tuhan Yesus bukan penebus, kematian-Nya karena mati martir dan ke-matian-Nya bukan untuk penebusan. Mereka juga menyang-kal bahwa Kristus telah bangkit. Di samping itu, sejumlah kaum modern sangat kabur tentang Allah. Sulit menentu-kan apa yang mereka percayai tentang Allah. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang Allah, Kristus, atau Roh, mereka akan menjawab bahwa itu semua perkara definisi. Jawaban ini sangat licik dan lebih daripada jahat. Maka, pada penutupan zaman ini, malaikat akan mengikat lalang berberkas-berkas dan membuang mereka ke dalam lautan api. Mereka tidak perlu melalui pengadilan takhta putih. Me-lalui penghakiman ini kita dapat melihat betapa jahatnya lalang dalam pandangan Tuhan.
Sekalipun lalang menyebabkan kekacauan, penghalang-an, dan kerusakan, tetapi beberapa kelompok orang Kristen sebutan pada hakikatnya bahkan merasa bangga, karena mereka mempunyai lalang di antara mereka, dan mereka me-nyalahkan kita, karena kita tidak mempunyai lalang.
Ketika Tuhan Yesus datang, Dia tidak menabur lalang; Dia hanya menabur gandum. Dalam pekerjaan pendahuluan-Nya untuk mendirikan kerajaan, Dia hanya menaburkan diri-Nya dan Dia sangat berhati-hati dalam berbuat demikian, dengan hanya menaburkan satu jenis benih. Ketika hamba Tuhan sedang tidur, Iblis, musuh, si jahat itu datang me-nabur benih lain, benih lalang. Ini terjadi tidak berselang lama setelah gereja didirikan pada hari Pentakosta. Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa beberapa orang yang tidak menerima Kristus ke dalam mereka sebagai hayat, masuk se-olah-olah yang sejati. Tetapi mereka adalah lalang, bukan gandum. Pada awal abad keempat, Kaisar Konstantinus men-jadikan agama Kristen sebagai agama kekaisaran Romawi. Untuk mengkristenkan orang, Konstantinus mendorong me-reka dibaptis. Banyak yang dibaptis ke dalam “agama Kristen” diberi hadiah uang perak atau pakaian. Inilah kesempatan yang terbesar bagi si jahat, menaburkan lalangnya. Pada saat itu boleh jadi terdapat sepuluh lalang di antara setiap tang-kai gandum. Ini berlangsung hingga sekarang. Dalam ke-kristenan terdapat berjuta-juta orang Kristen sebutan, tetapi begitu banyak yang bukan orang beriman sejati.
Izinkan saya mengatakan hal ini dari pengalaman saya sendiri. Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang adalah ang-gota gereja Baptis Selatan. Ia mengajarkan cerita-cerita Alkitab kepada kami; pada saat itu, sekalipun ia bagi ke-kristenan, tetapi ia sendiri belum diselamatkan dengan jelas. Dalam “agama Kristen” terdapat begitu banyak lalang se-hingga sulit untuk menemukan gandum. Profesor sejarah dunia di College Presbyterian Amerika di mana saya sekolah, berasal dari latar belakang agama Yahudi. Ia seorang ber-iman palsu, tidak percaya Alkitab atau kebangkitan Kristus. Tetapi misi Presbiterian mengutus dia sebagai guru misi dalam akademi mereka. Beberapa utusan Injil di China adalah kaum modern. Orang-orang Metodis dan Presbiterian utusan Injil modern mengajar orang bahwa Alkitab adalah sebuah buku dongeng. Mereka mengatakan bahwa Laut Me-rah sesungguhnya tidak dibuka oleh Allah, tetapi umat Israel lewat melalui bagian laut yang dangkal oleh tiupan angin. Hingga kini, aliran modern telah menyusup ke dalam se-minari-seminari, bahkan sampai pada Baptis Selatan. Seminari Union Theology di New York menganggap John Sung sakit mental. Setelah John Sung diselamatkan, ia berdiri di sisi Tuhan, tetapi mereka yang dalam seminari itu mengang-gapnya sakit jiwa, membawa dia ke rumah sakit jiwa. Ke-mudian John Sung kembali ke China, memberitakan Injil, dan boleh jadi menjadi penginjil yang terbesar di China. Da-lam dunia kekristenan hari ini terdapat beribu-ribu lalang.
Dalam Matius 13 kita nampak suatu gambaran penam-pilan lahiriah Kerajaan Surga (lihat gambar hal 644–645) Kerajaan Allah meliputi setiap hal dari kekekalan lampau sampai kekekalan kelak. Di antara dua kekekalan ada waktu yang dibagi menjadi berbagai angkatan atau zaman. Pertama adalah zaman sebelum hukum Taurat. Setelah Adam diciptakan, ia ditempatkan di sebuah taman yang tidak ada dosa dan kegelapan. Mulai dari Adam berlangsung terus hingga Musa, merupakan zaman nenek moyang. Periode nenek moyang ini dikenal pula sebagai zaman sebelum hu-kum Taurat. Kemudian tibalah zaman hukum Taurat. Be-rikut ini ada dua zaman yang penting, pertama ialah zaman anugerah (kasih karunia), zaman gereja, dan yang lain ialah zaman kerajaan, yaitu Kerajaan Seribu Tahun. Sebagaimana telah kita singgung bahwa Kerajaan Surga hanya mencakup dua zaman ini. Dalam zaman anugerah sangatlah kompleks, sebab Kerajaan Surga mempunyai tiga aspek: aspek realitas, aspek lahiriah, dan aspek manifestasi. Asalkan gereja normal, itu merupakan realitas kerajaan. Dalam situasi normal, ge-reja itu sama dengan realitas kerajaan. Aspek ketiga kera-jaan, manifestasi, ada di dalam bagian surgawi, bagian yang lebih atas, dari masa seribu tahun. Bagian yang lebih rendah, bagian bumi, ialah Kerajaan Mesias, tetapi bagian surgawi adalah manifestasi Kerajaan Surga. Bagian surgawi dalam 13:43 disebut pula Kerajaan Bapa, sedangkan bagian bumi dalam Matius 13:41 disebut Kerajaan Anak manusia. Sebab itu, Kerajaan Anak ialah Kerajaan Mesias dan Kerajaan Bapa ialah manifestasi Kerajaan Surga.
Dalam berita ini kita membicarakan penampilan kera-jaan. Pada gambar kita telah menandai penampilan kera-jaan dengan garis titik. Nampaknya dunia kekristenan ber-beda dengan dunia, tetapi sesungguhnya sama sekali tidak berbeda. Penampilan lahiriah Kerajaan Surga ialah dunia kekristenan hari ini. Penampilan tersebut gelap, seperti Iblis dan bahkan seperti neraka, dan kita semua harus meng-hakiminya. Di manakah Anda? Anda dalam penampilan la-hiriah kerajaan atau dalam realitas kerajaan? Anda dulu di dalam dunia, tetapi kini Anda di dalam gereja. Namun ge-reja tidak lagi normal, tetapi menjadi abnormal. Sebab itu, perlu garis-garis bertitik di dalam gereja. Gereja yang normal adalah realitas, tetapi area dalam garis yang bertitik me-nunjukkan gereja yang abnormal. Semua orang Kristen yang sejati berada di dalam gereja, tetapi sejumlah di antara orang-orang Kristen ini menjadi abnormal dan gagal. Anda mung-kin mengatakan bahwa Anda tidak di dalam dunia ataupun di dalam dunia kekristenan, penampilan lahiriah kerajaan. Anda di dalam gereja. Tetapi apakah di dalam gereja kea-daan Anda normal atau abnormal? Orang beriman yang adalah tanah bersemak duri tidaklah normal. Mereka adalah Kristen sejati, tetapi pertumbuhan benih terhambat oleh duri-duri sehingga tidak menghasilkan buah. Buah menunjukkan pergandaan, juga ekspresi. Tetapi orang beriman yang ada pada taraf konstitusi Kerajaan Surga adalah normal. Me-reka miskin dalam roh, murni dalam hati, semua tempe-ramen, nafsu, ego, dan daging mereka telah ditanggulangi; tidak ada kekhawatiran dan tidak ditipu oleh kekayaan. Me-reka adalah tanah subur yang menumbuhkan Kristus ke dalam kerajaan. Sebab itu, mereka berada di dalam gereja yang normal, yakni realitas Kerajaan Surga.
Ketika Tuhan Yesus kembali, Anda sedang berada di mana? Jika kita bertahan sampai pada akhirnya, yaitu me-melihara diri kita dalam roh sampai akhirnya, kita akan diselamatkan dan akan berada di dalam manifestasi Kerajaan Surga, bagian surgawi masa seribu tahun. Mereka yang ber-ada di sana akan memerintah bersama Kristus. Menurut 13:43, mereka akan “bercahaya seperti matahari dalam Ke-rajaan Bapa mereka”. Inilah lumbung sejati di mana semua gandum akan menyinari bangsa-bangsa. Penyinaran itu me-rupakan pemerintahan, penguasa sebagai raja.
Kita perlu nampak bahwa dunia kekristenan hari ini berada di dalam kegelapan sehingga banyak yang tidak tahu di mana mereka berada, di mana mereka harus ada, atau ke mana mereka akan pergi. Tetapi di dalam Alkitab ada terang, dan penglihatan itu sangat jelas. Apa yang kita lihat mutlak tidak menurut pikiran manusia, melainkan perkataan menurut wahyu ilahi. Segala sesuatu dalam gambar ini telah ditegas-kan dalam Alkitab. Setiap orang yang berada di dalam pe-mulihan Tuhan harus mempunyai kesan yang dalam akan gambar ini. Kita berada di dalam zaman yang kompleks. Kristus telah datang dan menaburkan benih, tetapi musuh juga datang dan melakukan hal yang sama, menimbulkan keadaan yang kompleks. Sebab itu, pada zaman ini terdapat umat duniawi; gandum, anak-anak kerajaan, umat Allah; dan lalang, orang beriman palsu, orang Kristen sebutan, anak-anak Iblis, yang berada di antara anak-anak Allah. Banyak anak kerajaan telah merosot dan jatuh sampai di bawah standar, sehingga menjadi abnormal.
Di sini ada empat golongan orang: orang beriman normal, orang beriman abnormal, orang beriman palsu, dan umat du-niawi. Hari demi hari kita terlibat dengan keempat golongan ini. Di tempat Anda bekerja, keempat macam orang ini ada wakilnya. Kita perlu menghadapi situasi ini dengan pan-dangan yang jelas tentang zaman ini. Kita tidak mau ber-diri bersama dengan dunia atau berbagian dengan dunia ke-kristenan. Lagi pula, kita tidak mau menjadi orang beriman sejati yang abnormal. Sebaliknya kita ingin menjadi orang beriman sejati yang normal, anak-anak kerajaan sejati yang hidup menurut konstitusi Kerajaan Surga. Kita mau me-numbuhkan Kristus dengan menempuh kehidupan yang se-suai dengan konstitusi kerajaan. Apa pun yang kita tumbuh-kan akan menjadi penggandaan unsur penyusun Kerajaan Surga. Karena itu, hari ini kita tidak hanya berada di dalam realitas, justru kita adalah realitas itu. Lalu pada saat Tuhan Yesus, Sang Raja, datang kembali, kita akan berada dalam manifestasi Kerajaan Surga, menyinari dunia, memerintah sebagai raja bersama-sama Kristus dan menikmati bagian surgawi Kerajaan Seribu Tahun.