← Daftar isi Matius (3) · bab 3/19

PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (2)

Kita mulai berita ini dengan rahasia pertama kerajaan, yang tercantum dalam 13:3-8, dan 18-23.

Pada awal perumpamaan pertama dari ketujuh perumpamaan tentang rahasia kerajaan, Tuhan tidak mengatakan, “Kerajaan Surga itu seumpama” seperti yang Dia katakan dalam keenam perumpamaan yang lain (ayat 24, 31, 44, 45, 47), karena Kerajaan Surga dimulai dengan perumpamaan kedua. Dalam perumpamaan pertama, Tuhan hanya keluar untuk menabur benih bagi kerajaan. Pada saat itu, benih itu belum tumbuh menjadi tuaian untuk pembentukan kerajaan. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan dalam pemberitaan-Nya pada saat itu, kerajaan belum datang, hanya sudah dekat (4:17).

E. Perumpamaan Penabur — Pekerjaan Pendahuluan Raja bagi Kerajaan

Ketika Tuhan Yesus datang, Dia datang melakukan pekerjaan pendahuluan bagi pendirian kerajaan. Sepanjang hidup insani-Nya, dari kelahiran sampai kepada kebangkitan-Nya, Kerajaan Surga masih belum datang. Apa yang Dia la-kukan dalam hidup-Nya merupakan persiapan untuk mendi-rikan Kerajaan Surga.

1. Penabur Telah Menabur Benih

Ayat 3 dan 4 mengatakan bahwa seorang penabur keluar untuk menabur benih. Dalam pekerjaan pendahuluan-Nya untuk mendirikan Kerajaan Surga, Tuhan Yesus datang sebagai penabur. Beberapa kali Tuhan disebut guru, tetapi di sini Dia mengibaratkan diri-Nya bukan sebagai guru, me-lainkan penabur. Penabur dalam ayat 3 dalah Tuhan sendiri (ayat 37). Sebenarnya, Tuhan datang bukan untuk mengajar, melainkan menabur benih. Benih ini apa? Inilah perkataan kerajaan, Tuhan ada di dalam perkataan ini sebagai hayat (ayat 19). Benih itu juga anak-anak kerajaan, umat kerajaan (ayat 38). Jika kita memeriksa pengalaman kita, kita akan menyadari bahwa benih yang ditabur oleh Tuhan Yesus ke dalam insani kita ialah Dia sendiri sebagai hayat untuk menjadikan kita benih kerajaan. Di sini ada tiga hal yang sa-ling berkaitan: firman kerajaan, anak-anak kerajaan, dan Kristus sendiri sebagai hayat di dalam benih itu. Ketiga hal ini tak dapat dipisahkan. Firman kerajaan sebenarnya ialah Kristus sendiri sebagai hayat. Benih ini akhirnya mengha-silkan anak-anak kerajaan. Oleh Kristus sebagai hayat firman hidup yang ditaburkan dalam insan kita, kita dijadikan anak-anak kerajaan.

Dalam perumpamaan ini kita nampak bahwa Kristus mendirikan Kerajaan Surga bukan dengan berperang atau mengajar, melainkan dengan menaburkan diri-Nya sebagai benih hayat ke dalam orang-orang yang percaya, supaya Kerajaan Surga dapat bertumbuh. Berdirinya Kerajaan Surga mutlak merupakan suatu masalah pertumbuhan dalam hayat. Mendirikan kerajaan ialah mempertumbuhkan kerajaan. Ke-rajaan tidak didirikan melalui pekerjaan lahiriah, melainkan melalui pertumbuhan batiniah. Kita perlu berkali-kali mene-kankan masalah ini. Karena banyak pekerja Kristen belum nampak hal ini, mereka masih mengira bahwa gereja diba-ngun dengan jerih payah dan kerja keras. Tetapi gereja ha-nya dapat dihasilkan oleh penaburan Kristus sebagai benih ke dalam manusia. Benih ini akan bertumbuh di dalam ma-nusia dan menghasilkan gereja. Benih hayat, Kristus sendiri dalam firman, ditaburkan ke dalam manusia akan menum-buhkan gereja. Gereja tidak dihasilkan oleh pekerjaan, melainkan seluruhnya dihasilkan oleh pertumbuhan dalam hayat. Jadi, Kerajaan Surga tidak dihasilkan dari pengajaran atau pekerjaan, melainkan oleh penaburan Kristus sebagai hayat firman hidup ke dalam manusia. Benih ini akan bertumbuh dan hayat yang di dalamnya akan menghasilkan kerajaan. Kerajaan mutlak merupakan masalah hayat yang bertumbuh. Sumber kerajaan ialah Kristus sebagai benih hayat. Kiranya kita semua benar-benar terkesan dengan fakta bahwa kerajaan adalah masalah hayat.

Dalam perumpamaan yang memberi kita gambaran yang jelas tentang pekerjaan pendahuluan kerajaan, Kristus da-tang sebagai penabur. Setiap orang yang pernah menabur benih mengetahui bahwa jika tidak ada hayat benih itu, tidak akan terjadi sesuatu. Tanpa hayat, tidak mungkin ada pertumbuhan. Dalam perumpamaan ini Kristus datang bukan sebagai nabi besar untuk bernubuat atau sebagai raja yang berkuasa untuk memerintah. Memang benar, Dia adalah nabi, adalah raja; namun dalam perumpamaan ini, Dia mun-cul sebagai seorang penabur, bukan sebagai nabi atau Raja. Dalam tangan-Nya tidak ada tongkat kekuasaan untuk me-merintah atau untuk menggunakan kekuasaan, tetapi ada benih untuk menghasilkan hayat. Dia datang sebagai penabur untuk menaburkan diri-Nya sebagai benih. Oh, kiranya kita semua nampak hal ini! Visi ini akan mengubah konsepsi ki-ta dan pekerjaan kristiani kita. Jika kita nampak visi ini, kita takkan lagi mengandalkan apa yang kita lakukan, se-bab kita akan tahu bahwa kerajaan merupakan masalah hayat, dan gereja pun merupakan masalah pertumbuhan da-lam benih hayat yang ditaburkan dalam insan kita. Karena itu, kita akan sepenuhnya mengandalkan pertumbuhan hayat. Mereka yang bersama-sama dengan saya selama beberapa tahun dapat bersaksi bahwa saya tidak mengajar orang lain apa yang harus mereka perbuat. Saya tidak memberi mereka instruksi tentang kelakuan mereka. Namun dalam sidang-sidang, konferensi-konferensi dan pelatihan-pelatihan, saya selalu menyuplaikan Kristus sebagai Roh yang almuhit, Roh pemberi-hayat. Yang kita suplaikan dari awal hingga akhir adalah Kristus, hayat, Roh, dan gereja.

Kita semua perlu nampak visi dasar ini: kerajaan meru-pakan masalah pertumbuhan hayat di dalam kita. Anak-anak muda yang berbeban terhadap kampus harus nampak visi ini. Anak-anak muda, jika kalian pergi ke kampus untuk mela-kukan suatu pekerjaan, itu tidak akan berarti. Kalian tidak seharusnya pergi ke sana untuk bekerja, melainkan untuk menabur benih, menjadi seorang penabur. Selama bertahun-tahun ketika saya bersama-sama dengan Saudara Watchman Nee di China, saya nampak bahwa ia tidak bekerja, tetapi ia menaburkan Kristus sebagai benih. Ia memberi tahu saya bahwa Miss M.E. Barber datang ke China tidak untuk be-kerja. Ia berada di China untuk menaburkan Kristus, bahkan menaburkan dirinya dalam Kristus. Ia adalah benih yang di-taburkan di daerah-daerah di China. Pada akhirnya, sesuatu tumbuh dari benih itu. Pemulihan Tuhan hari ini merupakan hasil benih yang ditaburkan oleh Miss Barber dan Saudara Watchman Nee. Jangan mengira bahwa pekerjaan kita sangat berarti. Tidak! Pekerjaan kita tidak berarti apa pun. Jika Anda mempelajari Alkitab sekali lagi, Anda akan nampak bahwa pekerja Kristen yang pertama ialah diri Kristus sen-diri. Namun, Dia tidak banyak bekerja; sebaliknya Dia me-nabur.

Dalam perumpamaan penabur, Tuhan memberi kita gambaran tentang apa yang akan Dia lakukan. Dia datang sebagai penabur untuk menaburkan benih. Bagi mereka yang sombong, perumpamaan ini merupakan suatu rahasia. Orang Farisi mungkin berkata, “Kami mengetahui semua ini dan tidak mau mendengarkannya. Kami tahu apa penabur itu. Kami tahu seorang penabur hanya menabur benih dan benih ini jatuh di antara berbagai macam tanah. Ini hanyalah dasar. Kami hendak mendengar sesuatu yang dalam, suatu falsafah. Berbicaralah kepada kami tentang hukum Taurat Musa. Yesus, apakah Engkau membaca ajaran Musa dan Mazmur? Kami ingin mendengarkan hal ini, bukan benih yang jatuh di pinggir jalan, tempat-tempat yang berbatu, berduri, dan tanah yang baik. Engkau semata-mata hanya guru taman kanak-kanak”. Tetapi, bagi mereka yang miskin dalam Roh dan murni dalam hati, perumpamaan ini jauh lebih dalam daripada ajaran Musa dan semua mazmur. Haleluya bagi penabur, benih, dan tanah yang baik! Ini semua masalah hayat. Kita perlu lebih banyak nyanyian mengenai penabur, penaburan, benih, dan pertumbuhan. Sekali lagi saya katakan, kerajaan bertumbuh, bukan dibangun oleh jerih payah kita. Janganlah mencoba membangun gereja, sebab apa yang gereja butuhkan adalah pertumbuhan. Dari hari ke hari kita perlu menaburkan Kristus.

Akhir-akhir ini seorang penentang berkata kepada se-orang saudara “Kami akan menghentikan kamu.” Ia mengata-kan bahwa mereka sedang berencana menghentikan pemulihan Tuhan. Jika para penentang itu mencoba berbuat demikian, mereka akan menyusahkan diri mereka sendiri. Janganlah menjamah sesuatu yang menyangkut hayat, sebab semakin Anda menjamahnya, ia akan semakin berkembang. Jika Anda membiarkannya, mungkin ia akan tetap diam tenang. Tetapi jika Anda menjamahnya, ia akan bertumbuh. Misalkan, Anda berkata kepada beberapa benih, “Benih, aku akan menghen-tikanmu, menguburmu dalam tanah.” Alangkah baiknya hal itu bagi benih! Tetapi jika Anda meletakkan benih itu di atas sebuah meja, mengapresiasinya, memandangnya, dan me-mustikakannya, itulah jalan yang paling efektif untuk meng-hentikannya. Namun jika Anda mencoba menamatkan benih itu dengan menguburnya di dalam tanah, benih itu akan ber-tumbuh. Para penentang jelas tidak tahu apa pemulihan Tuhan itu. Pemulihan Tuhan bukan pekerjaan, ajaran, atau teologi, melainkan benih, Kristus yang hidup sebagai benih. Saya mempunyai jaminan untuk mendeklarasikan kepada seluruh alam semesta bahwa Kristus yang almuhit sebagai Roh pemberi-hayat telah ditaburkan ke dalam beribu-ribu orang. Janganlah menyentuh mereka. Jika Anda coba-coba menganiaya mereka atau mengubur mereka, sebutir biji gandum akan dilipatgandakan menjadi banyak butir gandum. Siapa yang dapat menghentikan pemulihan Tuhan? Benih telah ditaburkan. Tuhan datang ke bumi sebagai penabur un-tuk menaburkan diri-Nya. Haleluya, Yesus telah ditaburkan ke dalam manusia! Prinsipnya sama dalam pemulihan Tuhan hari ini. Pemulihan sebagai benih hayat itu telah ditaburkan di Amerika, Eropa, Brazil, dan banyak tempat lainnya. Tidak ada seorang atau sesuatu pun yang dapat menghentikannya. Pemulihan Tuhan bukan suatu pergerakan, melainkan Kristus sendiri sebagai benih hayat yang ditaburkan di dalam diri kita. Si penabur adalah Kristus, dan benihnya pun Kristus, Kristus dalam firman ditaburkan ke dalam kita untuk men-jadikan kita anak-anak kerajaan.

Menurut perumpamaan ini dan menurut penjelasan Tuhan sendiri, benih ini ditaburkan dalam hati kita (ayat 19). Pada masa lampau kita telah menunjukkan bahwa hati kita bukan organ penerima, tetapi organ yang mengasihi, sedangkan organ penerima kita ialah roh kita. Kita menga-takan hal ini berdasarkan Yehezkiel 36, di mana Allah ber-janji memberi kita Roh baru dan hati baru. Roh baru untuk menerima Allah dan hati baru untuk mengasihi-Nya. Di sini Tuhan Yesus tidak menyebutkan apa pun tentang Roh, tetapi Dia mengatakan bahwa hati adalah tempat benih itu ditaburkan. Tidak ada sesuatu yang dapat masuk ke roh kita tanpa melalui hati kita terlebih dulu. Dalam 1 Petrus 3:4, roh kita disebut manusia batiniah kita. Ini menunjukkan bahwa roh kita dikelilingi oleh hati kita. Ketika kita perca-ya kepada Tuhan Yesus, kita tidak sadar bahwa kita telah menggunakan roh kita. Tetapi kita benar-benar mengetahui bahwa kita percaya kepada-Nya dengan hati kita. Dengan kata lain, ketika kita percaya kepada Dia, kita membuka hati kita. Namun hasilnya ialah Dia masuk ke dalam roh kita. Ketika kita membuka hati kita dan percaya kepada Dia, Dia masuk ke dalam roh kita. Tetapi roh kita bukanlah tanah untuk menumbuhkan Kristus. Tanah itu adalah hati kita. Perumpamaan ini jelas menunjukkan bahwa hati kita adalah tanah, tempat benih itu ditaburkan dan bertumbuh. Karena itu, dalam perumpamaan ini Tuhan tidak menying-gung tentang roh kita. Dia terutama menjamah hati kita.

2. Sebagian Benih Jatuh di Tepi Jalan

Ayat 4 mengatakan, “Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.” Pinggir jalan adalah tanah yang dekat dengan jalan. Tanah di pinggir jalan itu menjadi ke-ras karena lalu lintas jalan; jadi, benih itu sulit untuk me-nembusnya. Pinggir jalan melambangkan hati yang dike-raskan oleh lalu lintas duniawi dan tidak dapat terbuka untuk memahami, mengerti perkataan kerajaan (ayat 19). Burung di sini melambangkan si jahat, Iblis, yang datang dan merebut perkataan kerajaan yang ditaburkan ke hati yang keras.

Jika Anda membandingkan konstitusi Kerajaan Surga dengan perumpamaan penabur, Anda akan nampak bahwa perumpamaan ini berdasar pada konsepsi konstitusi. Konstitusi itu mencakup masalah miskin di dalam roh kita dan murni di dalam hati kita. Mereka yang berada di pinggir jalan tidak dapat menerima benih sebab mereka tidak miskin di dalam roh ataupun murni dalam hati. Karena tanah di pinggir jalan masih termasuk tanah untuk bercocok tanam, tetapi karena sangat dekat dengan lalu lintas, maka menjadi keras oleh lalu lintas. Hal ini membuat benih tidak mungkin menem-busnya sehingga benih-benih itu tetap berada di permukaan pinggir jalan. Ini mengacu kepada orang-orang yang tidak miskin dalam roh atau murni dalam hati, karena mereka mempunyai begitu banyak lalu lintas duniawi. Pendidikan, perdagangan, politik, ilmu pengetahuan, pekerjaan, dan lalu lintas duniawi lainnya keluar masuk dalam pikiran, emosi, dan tekad mereka. Mereka dikuasai oleh promosi, posisi, dan ambisi. Karena alasan itulah sulit sekali memberitakan Injil kepada orang-orang yang terjun dalam dunia politik. Ahli-ahli politik mempunyai terlalu banyak lalu lintas duniawi dalam diri mereka, mereka yang menuntut kemajuan dalam politik, berambisi untuk memperoleh kedudukan atau melampaui orang lain. Demikian pula, sulit memberitakan Injil kepada mereka yang berada di “wall street”. Kecuali Tuhan menjatuh-kan mereka; mereka terlalu keras untuk menerima firman ke dalam mereka. Siang malam mereka dikuasai oleh angka-angka, uang, dan usaha. Mereka tidak dapat miskin dalam roh atau murni dalam hati. Lalu lintas “wall street” mem-buat mereka keras dalam hati mereka. Ketika Anda men-coba menaburkan benih ke dalam mereka, benih tidak dapat menembus mereka. Tidak ada tempat dalam mereka bagi benih itu. Ini pun berlaku di antara begitu banyak orang dalam pendidikan. Dalam hati mereka terdapat begitu ba-nyak lalu lintas sehingga hati mereka mengeras, sama seperti pinggir jalan dalam perumpamaan Tuhan. Sekalipun mereka mungkin mendengarkan Injil Kristus, tetapi tak sepatah kata pun dapat menembus hati mereka.

Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa dalam belas ka-sihan-Nya, ketika Injil diberitakan kepada kita, kita miskin dalam roh dan murni dalam hati. Pada hari saya diselamat-kan oleh Tuhan, saya berkata kepada-Nya, “Jika seluruh dunia dapat menjadi milikku, aku tak mau menerimanya. Aku tidak mau dan tidak menyukainya. Tuhan, aku ingin menyimpan hatiku untuk-Mu. Aku tidak suka lalu lintas duniawi apa pun berada dalam hatiku.” Pasti tidak baik jika tanah ladang diinjak-injak oleh sarana lalu lintas. Tidak seorang petani pun yang mengizinkan hal ini. Apakah Anda berada di pinggir jalan? Janganlah berada di dekat jalan. Tetaplah berada di tengah-tengah ladang, supaya lalu lintas duniawi tidak menjamah Anda.

3. Sebagian Benih Jatuh di Tempat yang Berbatu-batu

Ayat 5-6 mengatakan, “Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanam-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar.” Tanah yang berbatu-batu yang tidak banyak tanahnya melambangkan hati yang dangkal dalam menerima perkataan kerajaan. Di lubuk hati yang demikian terdapat batu-batu — dosa-dosa yang tersembunyi, keinginan pribadi, penuntutan pribadi, dan iba diri — yang menghalangi benih itu berakar dalam lubuk hati. Matahari dengan panasnya yang terik melambangkan penderitaan atau penganiayaan (ayat 21). Panas matahari yang terik me-mbuat benih yang tidak berakar itu menjadi layu. Asal benih itu berakar dalam, panas matahari akan berfungsi untuk pertumbuhan dan kematangan tanaman. Tetapi karena benih itu tidak berakar, panas matahari yang seharusnya membuat benih itu bertumbuh dan matang, malah menjadi suatu pukulan yang mematikan bagi benih itu.

Benda-benda yang dilambangkan oleh batu-batu ber-kaitan dengan apa yang tercakup oleh hukum Taurat yang telah dilengkapkan dalam konstitusi Kerajaan Surga (5:17-48). Macam tanah yang kedua berkaitan dengan amarah, hawa nafsu, ego, dan daging — benda-benda yang tersembunyi da-lam hati kita. Boleh jadi tidak banyak di antara kita seperti tanah pinggir jalan, tetapi saya sangat khawatir dengan adanya sejumlah besar yang mungkin merupakan tanah ber-batu-batu. Secara luaran, mereka terlihat sama dengan orang lain karena ada tanah di permukaan. Namun tanah mereka tidak dalam. Mereka masih mempunyai hawa nafsu, tempe-ramen, ego, dan daging. Semuanya ini adalah batu-batu yang tersembunyi dalam tanah. Karena itu, macam tanah yang pertama berkaitan dengan mereka yang tidak miskin dalam roh dan murni dalam hati, dan macam tanah yang kedua ber-kaitan dengan mereka yang masih mempunyai temperamen, hawa nafsu, dosa, ego, dan daging di bawah permukaan. Be-berapa di antara Anda mungkin masih menyembunyikan nafsu, keegoisan, dan daging Anda. Anda mungkin berseru haleluya dalam sidang, tetapi Anda tidak memiliki keda-laman, melainkan batu. Lambat atau cepat, batu-batu itu akan tersingkap sebab firman yang ditaburkan di dalam Anda tidak dapat berakar di dalam Anda. Anda mungkin bergem-bira, bersukacita, dan berteriak memuji Tuhan, tetapi tidak ada akar di dalam Anda. Karena itu, ketika penderitaan dan penganiayaan datang, Anda akan layu kering seperti tanam-an tanpa akar yang layu kering di bawah terik panas ma-tahari. Kiranya Tuhan membelaskasihani kita dan menggali keluar semua batu yang tersembunyi. Mohon Dia menggali keluar temperamen kita, nafsu, ego, daging kita, serta benda negatif lainnya sehingga terdapat tempat luang dalam hati kita agar benih dapat berakar di dalam batin kita.

4. Sebagian Jatuh di Tengah Semak Duri

Ayat 7 mengatakan, “Sebagian lagi jatuh di tengah se-mak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.” Semak duri melambangkan kekhawatiran zaman ini dan tipu daya kekayaan, yang akhirnya menghim-pit firman itu, membuatnya tidak bisa bertumbuh dalam hati dan membuatnya menjadi tidak berbuah. Semak duri, kekhawatiran dunia, dan tipu daya kekayaan berpadanan dengan bagian dalam konstitusi mengenai sikap orang kera-jaan terhadap kekayaan (6:19-34). Bagian konstitusi itu beberapa kali menggunakan kata “kekhawatiran” atau “kha-watir”. Tuhan memberi tahu kita agar jangan khawatir akan hidup kita, tentang apa yang akan kita makan, minum, atau pakai. Macam tanah yang ketiga tidak seburuk yang kedua, tetapi benih itu masih sulit bertumbuh di dalamnya karena ada kekhawatiran dan tipu daya kekayaan. Semak-semak duri ini harus dicabut. Jika kekhawatiran akan dunia dan tipu daya kekayaan dicabut keluar dari hati kita, barulah benih dapat bertumbuh.

Perumpamaan penabur nampaknya sangat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam dan rahasia, yang me-nyingkapkan keadaan riil hati kita di hadirat Raja surgawi. Apa pun yang ada di dalam kita telah disingkapkan. Perumpamaan ini meliputi kekerasan oleh lalu lintas duniawi, nafsu, ego, daging yang tersembunyi, dan kekhawatiran dunia, serta tipu daya kekayaan. Ini adalah pinggir jalan, tanah berbatu, dan semak-semak duri. Asalkan Anda adalah pinggir jalan, tanah dengan batu-batu yang tersembunyi, atau tanah dengan semak-semak duri, kerajaan tak dapat bertumbuh dalam Anda. Dengan kata lain, gereja tidak dapat bertumbuh dalam tanah semacam ini. Agar gereja dapat bertumbuh, benih itu harus jatuh di tanah yang baik.

5. Sebagian Jatuh di Tanah yang Baik

Ayat 8 mengatakan, “Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Tanah yang baik melambangkan hati yang baik, yang tidak dikeraskan oleh lalu lintas duniawi, yang tidak memiliki dosa-dosa yang tersembunyi, dan yang tidak memiliki kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan. Hati yang demikian memberikan setiap jengkal tanahnya untuk menerima firman, agar firman itu bisa bertumbuh, berbuah, dan bahkan menghasilkan buah seratus kali lipat (ayat 23). Hati yang baik adalah hati yang tidak ada lalu lintas duniawi, tidak berbatu-batu, dan tidak ada semak duri. Tidak ada dosa yang tersembunyi, ego, nafsu atau daging, dan tidak ada kekhawatiran dunia atau tipu daya kekayaan. Hati yang demikian adalah tanah yang baik yang menumbuhkan Kristus. Kristus sebagai benih ha-yat hanya dapat bertumbuh dalam hati semacam ini, tanah yang semacam ini. Inilah tanah yang dapat menumbuhkan kerajaan.

Di Amerika Serikat terdapat jutaan orang Kristen. Akhir-akhir ini sebuah majalah mengatakan bahwa ada lima puluh juta orang Kristen yang dilahirkan kembali dalam negeri ini. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak di antara jumlah ini yang merupakan orang Kristen yang murni. Sekalipun terdapat begitu banyak orang Kristen, saya sangsi berapa banyak yang merupakan tanah yang baik. Berapa banyak yang tidak ada lalu lintas duniawi, tidak ada dosa yang ter-sembunyi, daging, nafsu, atau ego yang tersembunyi dan tidak ada kekhawatiran atau tipu daya kekayaan? Berapa banyak orang yang miskin dalam roh dan murni dalam hati? Menemukan orang Kristen yang sedemikian sangatlah sulit. Walaupun orang-orang di sekeliling kita mungkin adalah orang-orang Kristen, tetapi kita jarang menemukan seorang yang benar-benar miskin dalam roh dan murni dalam hati. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih mempunyai lalu lintas duniawi dalam hati Anda? Apakah Anda benar-benar miskin dalam roh dan murni dalam hati? Adakah batu-batu yang tersembunyi di dalam hati Anda? Bagaimana de-ngan kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan? Walau kita harus memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, kita tidak boleh kecil hati. Sebaliknya, kita harus terdorong. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikan ekonomi Allah. Setidak-tidaknya ada sebagian yang merupakan tanah yang baik. Menurut persentase yang ditunjukkan oleh perumpa-maan Tuhan, ini adalah dua puluh lima persen dari kaum beriman. Saya akan bergembira bahkan dengan lima persen. Betapa baiknya jika di antara semua orang Kristen yang sejati, lima persen miskin dalam roh dan murni dalam hati, tidak ada kekhawatiran atau tipu daya kekayaan! Alangkah ajaibnya jika lima persen murni bagi Kristus untuk ber-tumbuh di dalam mereka! Di sini dan sana, dalam begitu ba-nyak kota besar, Tuhan akan menemukan tanah yang baik. Tuhan itu berbelaskasihan. Kita mungkin mempunyai terlalu banyak lalu lintas, tetapi Tuhan menyelamatkan kita dari pinggir jalan dan menempatkan kita di tengah-tengah ladang. Saya tahu banyak saudara saudari yang di dalam mereka Tuhan telah menggali semua benda yang tersembunyi dan mencabut semua semak duri, untuk menjadikan hati mereka tanah yang baik. Puji Tuhan karenanya! Tidak disangsikan bahwa di antara kita, sejumlah besar adalah tanah yang baik. Kerajaan dan gereja bertumbuh di sini. Di sini, dalam hi-dup gereja, kita menumbuhkan Kristus dan kita menumbuh-kan kerajaan. Kerajaan tidak dihasilkan oleh pekerjaan kita, tetapi hanya dihasilkan oleh pertumbuhan Kristus di dalam kita. Kiranya kita semua terkesan bahwa hari ini dalam pe-mulihan Tuhan, Tuhan melakukan pekerjaan menaburkan diri-Nya untuk menumbuhkan diri-Nya ke dalam kerajaan. Inilah perumpamaan yang pertama, dan inilah pekerjaan pen-dahuluan untuk mendirikan Kerajaan Surga.