PENYINGKAPAN RAHASIA KERAJAAN (1)
Dalam berita ini kita sampai pada Matius 13. Untuk memahami pasal ini, kita harus ingat bahwa Injil Matius berkenaan dengan doktrin kerajaan. Apa saja yang tercatat dalam Injil Matius sesuai dengan kerajaan dan sejarah kerajaan. Rangkaian doktrin dalam kitab ini berdasarkan sejarah kerajaan.
Kita perlu ingat akan butir utama yang tercakup da-lam kedua belas pasal pertama Injil Matius. Pasal 1 meli-puti silsilah dan kelahiran Yesus, dan pasal 2 meliputi orang-orang Majus yang mencari dan menyembah-Nya, penying-kiran Kristus ke Mesir dan kembali-Nya ke tanah Israel serta dibesarkan di Nazaret. Dalam pasal 3 kita nampak penge-nalan dan pengurapan; dalam pasal 4 kita nampak pencoba-an dan permulaan ministri Raja untuk mendapatkan banyak orang; dalam pasal 5, 6, dan 7, kita nampak pengumuman konstitusi Kerajaan Surga. Pasal 8 meliputi kelanjutan mi-nistri Raja dalam menyembuhkan penderita kusta, hamba seorang perwira, dan mertua Petrus, serta kekuasaan Tuhan atas angin, laut, dan setan. Pasal 9 meliputi kuasa Raja dalam mengampuni dosa; panggilan terhadap Matius; pera-yaan di mana Tuhan diwahyukan sebagai Tabib, Mempelai Laki-laki, baju baru, anggur baru, dan kantong kulit baru; lambang-lambang dengan makna zaman; serta doa bagi pe-ngiriman pekerja-pekerja untuk tuaian. Dalam pasal 10 kita dapati panggilan dan terutusnya kedua belas rasul, dan dalam pasal 11 kita temukan usaha Yohanes untuk me-rangsang Raja, jawaban Raja serta pujian-Nya terhadap Yohanes, kecaman-Nya terhadap angkatan yang keras ke-pala, dan panggilan untuk datang kepada-Nya guna menda-patkan perhentian. Yang terakhir, yaitu pasal 12, meliputi pelanggaran terhadap peraturan-peraturan hari Sabat untuk menunjukkan bahwa Tuhan adalah Kepala dan Dia meme-lihara anggota Tubuh-Nya, peperangan bagi kerajaan, pun-cak penolakan terhadap Raja, nubuat tentang angkatan yang menjadi semakin jahat, dan ditinggalkannya orang-orang Yahudi serta berpaling kepada orang-orang yang percaya (kaum beriman).
Sewaktu Tuhan melanjutkan ministri-Nya, pembangunan kerajaan telah dilaksanakan sampai pada suatu tingkat ter-tentu. Namun, karena orang-orang Yahudi sama sekali telah menolak Tuhan, maka terpaksa Dia berpaling kepada orang-orang yang percaya. Ini merupakan tindakan yang serius, ber-paling dari orang Israel kepada orang kafir, berpaling dari hu-bungan yang berdasarkan kelahiran alamiah kepada hubungan di dalam Roh. Karena itu, ayat terakhir dari pasal 12 me-nandakan suatu garis batas dalam Injil Matius.
Sebagaimana telah kita nampak, pasal 5, 6, dan 7 mewahyukan realitas batini kerajaan. Saya telah menunjukkan bahwa konstitusi ini terbagi dalam tujuh bagian: hakiki umat kerajaan (5:1-12); pengaruh umat kerajaan atas dunia (5:13-16); hukum Taurat umat kerajaan (5:17-48); perbuatan benar umat kerajaan (6:1-18); harta umat kerajaan (6:13-34); prinsip umat kerajaan dalam menghadapi orang lain (7:1-12); dan dasar kehidupan dan pekerjaan umat kerajaan (7:13-29). Dalam ketujuh bagian konstitusi ini kita melihat realitas kerajaan yang surgawi dan rohani. Ini bukan hanya perilaku atau kehidupan lahiriah, melainkan Kerajaan Surga dalam realitas. Apa yang diwahyukan dalam pasal 13 sebagian be-sar adalah penampilan lahiriah Kerajaan Surga. Realitas ba-tiniah adalah satu hal, penampilan lahiriah adalah hal yang lain.
Berdasarkan sejarah, sedikit sekali orang Kristen yang nampak masalah perbedaan antara realitas batiniah dengan penampilan lahiriah kerajaan ini. Robert Govett dan murid-nya, D. M. Panton, telah melihat hal ini. G. H. Lang, seorang guru di antara Kaum Saudara (Brethren), juga nampak hal ini sampai pada tingkat tertentu, tetapi ia tidak nampak hal ini seakurat dan sejelas Govett dan Panton. Saya menerima banyak sekali bantuan dari tulisan-tulisan Govett dan Panton. Namun kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan terus memimpin kita lebih maju dalam hal ini. Kita telah nam-pak Kerajaan Surga ini secara lebih mendalam dan lebih terperinci. Saya dapat bersaksi, terutama selama 15 tahun yang lalu, masalah ini telah menjadi sangat jelas bagi saya. Pada tahun 1936, saya menerbitkan tulisan saya yang per-tama mengenai hal tersebut. Selama lebih dari 40 tahun sejak penerbitan buku kecil itu, saya menjadi semakin jelas mengenai Kerajaan Surga.
Butir yang mendasar mengenai kerajaan, ialah perlunya membedakan realitas batiniah kerajaan dengan penampilan lahiriah kerajaan. Jika Anda tidak membedakan kedua hal ini, Anda tidak akan mampu memahami kitab mengenai Kerajaan Surga ini.
Selain bagian mengenai realitas kerajaan, yaitu pasal 5-7, dan bagian mengenai penampilan lahiriah kerajaan, yaitu pasal 13, masih terdapat tiga bagian yang sama pen-tingnya dalam memahami Kerajaan Surga, yaitu nubuat Tuhan yang diberikan di atas Bukit Zaitun yang tercatat dalam pasal 24. Realitas kerajaan diwahyukan di atas sebuah gunung, dan penampilan kerajaan diwahyukan di pantai, sedangkan manifestasi kerajaan yang dikatakan dalam nubuat juga disampaikan dari atas gunung. Gunung tempat ter-wahyunya realitas kerajaan tidak termasuk wilayah pusat administratif pemerintahan, melainkan termasuk wilayah yang berhubungan dengan pencaharian nafkah, karena rea-litas kerajaan tersebut berkenaan dengan penghidupan kita sehari-hari. Ini bukan masalah administrasi atau pemerin-tahan.
Ciri-ciri geografis tanah Israel sangatlah bermakna. Pusat pemerintahannya berada di daerah yang berbukit, di tengah-tengah tanah kudus. Pada puncak daerah yang berbukit ini terletak Yerusalem, ibukota, yaitu pusat daerah tersebut. Dalam wilayah inilah raja melaksanakan administrasinya. Daerah utara dan selatan keduanya merupakan daerah per-tanian, daerah untuk mencari nafkah. Kali kami terakhir mengunjungi tempat itu, masalah-masalah ini menjadi jelas bagi kami. Betsyeba, yang terletak di daerah selatan, penuh dengan gandum dan sekoi (gandum untuk membuat bir). Ini menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan tanah subur untuk bercocok tanam. Daerah Utara Yerusalem, agak dekat dengan Samaria, merupakan dataran subur dengan penghijauan, daerah yang terbentang luas. Ini juga merupa-kan daerah pertanian di mana orang bisa mencari nafkah. Di tengah-tengah kedua daerah inilah dilaksanakan adminis-trasi pemerintahan. Telah saya tunjukkan bahwa realitas ke-rajaan bukan diwahyukan di daerah administratif, melainkan di daerah penghidupan. Tetapi, hal ini diwahyukan di atas bu-kit. Manifestasi kerajaan dinubuatkan di atas sebuah bukit dekat ibu kota yang berada di daerah administratif. Ini sangat bermakna, karena manifestasi berhubungan dengan admi-nistrasi, yaitu pemerintahan. Jangan mengira bahwa masalah ini tidak bermakna. Tuhan Yesus dengan sengaja pergi ke tempat ini untuk membicarakan realitas, penampilan, dan manifestasi kerajaan. Jika Anda terkesan oleh ketiga aspek kerajaan ini, Anda akan memahami Injil Matius.
Syukur kepada Tuhan, kita telah nampak penampilan kerajaan. Dalam pasal 5, 6, dan 7 tidak terdapat kepalsuan; segala sesuatunya murni, sejati, surgawi, rohani, dan pada suatu tingkat tertentu, bersifat ilahi. Dalam pasal-pasal ini kita nampak hakiki umat kerajaan dan pengaruh mereka ter-hadap dunia. Mereka adalah garam dunia dan terang dunia. Kita juga nampak hukum Taurat umat kerajaan yang telah ditingkatkan, dan perbuatan-perbuatan bajik umat kerajaan. Perbuatan-perbuatan ini murni, sejati, dan riil, dilakukan se-cara diam-diam tanpa penonjolan di luar. Selain itu, kita nampak sikap umat kerajaan terhadap harta dan fakta bah-wa mereka tidak tamak terhadap harta. Yang terakhir, kita nampak prinsip umat kerajaan dalam berhubungan dengan orang lain, dan dasar penghidupan serta pekerjaan mereka. Pada bagian mengenai realitas kerajaan ini segala sesuatunya riil, murni, rohani, dan surgawi.
Situasi dalam pasal 13, yaitu pasal yang berkenaan de-ngan penampilan kerajaan, sama sekali berbeda. Dalam pasal ini ada lalang (ayat 25-30) dan pohon besar yang tidak lagi sesuai dengan jenisnya (31-32). Dalam Kejadian 1 Allah men-ciptakan segala sesuatu, terutama tumbuh-tumbuhan dan sayur-sayuran, sesuai dengan sifat bawaannya. Sebagai contoh, buah persik sesuai dengan sifat bawaan buah persik, dan buah pisang sesuai dengan sifat bawaan buah pisang. Namun dalam Matius 13, biji sesawi telah menjadi pohon yang be-sar. Ini menunjukkan bahwa biji tersebut berubah sifat ba-waannya, tidak lagi sesuai dengan sifat bawaannya. Karena itu, dalam pasal ini kita nampak suatu permukaan, suatu penampilan tanpa realitas. Bersamaan dengan lalang dan permukaan, terdapat juga ragi (ayat 33). Semua benda ini terdapat dalam penampilan kerajaan, yang menyebabkan pe-nampilan kerajaan menjadi suatu percampuradukan.
Hari ini dengan mudah kita dapat melihat percampur-adukan tersebut dalam dunia kekristenan. Dunia kekristenan dewasa ini benar-benar sesuai dengan gambaran dalam Matius 13 mengenai penampilan lahiriah Kerajaan Surga. Dalam du-nia kekristenan terdapat berjuta-juta lalang, penampilan luar yang besar, dan ragi yang merusak. Tetapi, tidak satu pun dari benda-benda tersebut dalam pasal 5, 6, dan 7, di mana segala sesuatunya riil, murni, rohani, dan surgawi. Na-mun apa yang kita lihat dalam pasal 13 merupakan suatu percampuradukan yang luar biasa!
Bila kita sampai pada pasal 24 mengenai manifestasi kerajaan, kita akan nampak bahwa manifestasi itu lebih serius daripada realitas, sebagaimana masa ujian merupa-kan masa yang lebih serius daripada hari-hari biasa. Para siswa belajar dengan rajin selama seminggu dalam realitas sekolah mereka, namun mereka boleh bermain, berdansa, atau menonton bioskop pada akhir pekan. Hal ini seperti pe-nampilan kerajaan. Para siswa tidak seharusnya demikian bergembira dan bersukacita, karena mereka harus mengingat ujian yang akan datang. Lagi pula, mereka pasti memikir-kan lulus atau tidaknya mereka, yaitu waktu manifestasi. Melalui ketiga hal ini — realitas, penampilan, dan manifestasi — kita dapat memahami Kitab Matius.
Pada akhir pasal 12, orang-orang Israel dipotong dan orang kafir diokulasikan. Pada butir ini, ada guru-guru ter-tentu, termasuk Dr. Scofield, telah membuat suatu kesa-lahan besar. Mereka mengatakan bahwa setelah pasal 12, karena orang-orang Israel yang tidak percaya, kerajaan telah dikesampingkan. Mereka tidak nampak bahwa keraja-an tidaklah dikesampingkan, melainkan telah diberikan ke-pada bangsa lain. Tuhan tidak mengatakan, “Mulai saat ini dan seterusnya Aku tidak memiliki saudara laki-laki, sau-dara perempuan, maupun ibu.” Jika Dia berkata demikian, berarti kerajaan telah dikesampingkan. Apa yang Tuhan lakukan ialah berpaling dari satu bangsa kepada bangsa lain. Tuhan seolah-olah berkata, “Orang-orang yang mela-kukan kehendak Bapa-Ku, yaitu yang lahir dari Bapa-Ku dan hidup oleh hayat-Nya, merekalah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.” Karena itulah, kerajaan bukan dikesampingkan, melainkan berpindah dari satu bangsa kepada bangsa lain.
I. PEKERJAAN AWAL KERAJAAN
A. Raja Surgawi Keluar dari Rumah dan Duduk di Tepi Danau
Matius 13:1 mengatakan, “Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah dan duduk di tepi danau (laut).” Bagi sebagian besar guru agama Kristen, ayat ini tidak berarti. Ketika sa-ya membaca ayat ini semasih muda, ayat ini sama sekali ti-dak berarti bagi saya. Namun sekarang saya menyadari bahwa ayat ini sangat bermakna. Pada akhir pasal 12, Raja surgawi yang telah ditolak sepenuhnya oleh para pemimpin agama Yahudi, memutuskan hubungan dengan mereka. Pada hari itu, Dia keluar dari rumah itu dan duduk di tepi danau (laut). Ini sangat bermakna. Rumah melambangkan rumah Israel (10:6), dan laut melambangkan dunia orang bukan Yahudi (Dan. 7:3, 17; Why. 17:15). Raja keluar rumah dan duduk di tepi laut. Hal ini melambangkan, setelah Dia me-mutuskan hubungan dengan orang Yahudi, Dia meninggalkan umat Israel dan berpaling kepada orang bukan Yahudi. Se-telah ini, di tepi laut Dia menyampaikan perumpamaan-per-umpamaan mengenai rahasia kerajaan. Ini menyatakan bah-wa rahasia kerajaan diwahyukan dalam gereja. Jadi, semua perumpamaan dalam pasal ini disampaikan kepada murid-murid-Nya, bukan kepada orang Yahudi.
Tiga kata pertama dari pasal 13, “Pada hari itu”, menghubungkan pasal ini dengan pasal 12, sebagaimana kata “pada saat itu” yang menghubungkan pasal 12 dengan pasal 11. Kata “pada hari itu” menunjukkan saat Tuhan menyatakan bahwa Dia telah meninggalkan umat Israel, yaitu saat Dia memutuskan hubungan dengan umat Israel serta berpaling kepada orang bukan Yahudi yang percaya. Rumah menunjukkan rumah Israel, sedangkan tepi laut menunjukkan dunia orang bukan Yahudi. Perpindahan dari rumah tepi laut ini sesuai dengan pernyataan-Nya. Dia telah menyatakan bahwa Dia tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga-Nya yang dalam tubuh daging, dan Dia telah berpaling ke-pada orang bukan Yahudi yang percaya kepada-Nya. Seka-rang ini Dia sedang berjalan sesuai dengan pernyataan-Nya. Karena itu, kita nampak betapa bermaknanya ayat ini.
B. Orang Banyak Berbondong-bondong
Mengerumuni Raja di Tepi Laut
Ayat 2 mengatakan bahwa orang banyak berbondongbondong mengerumuni-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa semua orang yang mengerumuni-Nya itu menjadi kerabat-Nya.
C. Raja Naik ke Perahu — Gereja
Ayat 2 juga mengatakan, “Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.” Perahu ada di laut, tetapi bukan milik laut. Perahu ini me-lambangkan gereja yang ada di dunia, tetapi bukan milik dunia. Laut ialah dunia orang kafir (bukan Yahudi), sedang-kan perahu ialah gereja di dunia orang kafir (bukan Yahudi) tersebut. Setelah meninggalkan orang Yahudi dan berpaling kepada orang kafir, di dalam perahu, yaitu gereja, Raja Ke-rajaan Surga mewahyukan rahasia kerajaan dalam perum-pamaan. Haleluya, hari ini kita bukanlah rumah maupun danau — kita adalah perahu! Kita adalah perahu yang bersa-ma-sama dengan Raja. Suatu hari Raja naik ke dalam perahu kita. Sekarang kita memiliki Raja di dalam perahu kita, yaitu gereja. Tetapi orang banyak berdiri di pantai. Anda berdiri di pantai atau berada di dalam perahu bersama-sama dengan Raja? Saya dapat bersaksi bahwa saya tidak berdiri di pantai — saya berada di dalam perahu.
D. Raja Berbicara kepada Orang Banyak dalam Perumpamaan
Ayat 3 mengatakan, “Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka.” Dia membicarakan perumpa-maan-perumpamaan ini di dalam perahu yang ada di laut. Apakah Anda ingin memahami perumpamaan-perumpamaan tentang rahasia kerajaan? Jika Anda ingin memahaminya, Anda harus meninggalkan rumah dan tidak berdiri di tepi laut, melainkan berada di dalam perahu dekat dengan Tuhan. Inilah satu-satunya tempat di mana kita dapat memahami rahasia kerajaan. Oh, kita berada di dalam gereja, di dalam perahu! Gereja bukanlah rumah orang Israel maupun dunia orang kafir; sebaliknya, gereja ialah perahu kaum beriman. Di dalam gereja semua rahasia kerajaan diwahyukan kepada kita.
Untuk memahami rahasia kerajaan, kita harus belajar kiat menjelaskan perumpamaan. Jika Anda tidak mengerti bagaimana cara mengiaskan Alkitab, Anda tidak akan dapat menjelaskan perumpamaan. Sebagai contoh, perahu meru-pakan suatu perumpamaan. Bagaimana Anda dapat menjelas-kan perahu tersebut jika Anda tidak mengetahui bagaimana cara mengiaskannya? Semua penentang perlu mengikuti cara ini. Dengan demikian barulah mereka dapat memahami Alkitab. Tetapi, karena mereka tidak memiliki cara untuk me-ngiaskan Alkitab, maka mereka tidak memahaminya. Karena kita memiliki cara untuk mengiaskan Alkitab, maka kita tahu makna dari rumah, laut, dan perahu. Lagi pula, kita me-mahami seluruh perumpamaan. Betapa bahagianya saya dapat memahami perumpamaan-perumpamaan tersebut!
Ketika lima puluh tahun yang lalu saya membaca Matius 13, saya dibingungkan oleh banyak hal. Saya memi-liki banyak pertanyaan yang tak terjawab mengenai apa yang terdapat dalam pasal ini. Saya membeli beberapa buku mengenai Matius 13, namun buku-buku tersebut sama sekali tak berharga. Buku-buku itu bahkan mengatakan bahwa ra-gi menunjukkan kekuatan agama Kristen hari ini, dan pohon adalah organisasi agama Kristen yang indah dan menakjub-kan. Namun ketika saya membaca buku-buku itu, saya tidak memiliki perasaan yang indah di dalam saya; saya tidak percaya pada apa yang mereka katakan. Tetapi, saya tidak mempunyai cara untuk memahami pasal ini. Karena itu, saya menulis surat kepada Saudara Watchman Nee, mence-ritakan kepadanya tentang hasrat saya untuk memahami Alkitab kata demi kata dan meminta kepadanya untuk me-nunjukkan buku terbaik yang dapat membantu saya dalam hal ini. Dalam surat balasannya ia memberi tahu saya bahwa kumpulan buku yang terbaik ialah Sinopsis Alkitab (Synopsis of the Bible) yang ditulis oleh John Nelson Darby. Namun ia menunjukkan bahwa sinopsis Darby tersebut sangat sulit untuk dipahami. Ketika beberapa tahun kemudian saya mem-baca sinopsis Darby, saya mendapati bahwa apa yang dika-takan oleh Saudara Watchman Nee memang benar. Saya tidak dapat memahami tulisan Darby. Terus terang, saya tidak mendapat bantuan apa pun dari sinopsis Darby tersebut. Se-karang dengan penuh keyakinan saya dapat mengatakan bahwa kita memahami perumpamaan dalam Matius 13. Tidak satu pun tersembunyi bagi kita. Bagi kita, rahasia kerajaan bukan lagi sebagai rahasia karena rahasia ini telah terbuka bagi kita.
1. Rahasia Kerajaan Surga Tersembunyi bagi Orang Banyak,
Namun Terbuka bagi Para Murid
Sebelum kita membahas perumpamaan yang ada dalam Matius 13, saya ingin mengesankan lebih dalam pada Anda beberapa peringatan yang terdapat dalam pasal ini. Ayat 10-11 mengatakan, “Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’ Jawab Yesus, ‘Kepada-mu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak.’” Raja Kerajaan Surga menggu-nakan perumpamaan untuk mewahyukan hal-hal kerajaan (ayat 34) untuk membuat hal-hal itu menjadi rahasia bagi orang-orang Yahudi yang menentang dan menolak, sehingga mereka tidak bisa mengerti hal itu. Dari saat Raja datang untuk menabur benih sampai saat Dia datang kembali un-tuk menuai tuaian, segala hal mengenai kerajaan menjadi sebuah rahasia bagi pikiran yang alamiah. Hanya pikiran yang diterangi dari hati yang taat yang dapat memahami rahasia ini.
Ketika murid-murid bertanya kepada Tuhan mengapa Dia membicarakan kerajaan dalam perumpamaan, Tuhan seolah-olah berkata, “Agar kalian tahu dan tidak membiar-kan mereka tahu. Segala sesuatunya tergantung pada kali-an dan mereka, bukan tergantung pada-Ku. Apakah kalian memahami atau tidak akan apa yang Kukatakan dalam perumpamaan tergantung pada kalian sendiri.” Dalam ayat 12 Tuhan meneruskan, “Karena siapa yang mempunyai, kepa-danya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia.” Kata “siapa yang mempunyai” me-nunjukkan penerima dan pengikut Raja surgawi, bagi orang semacam ini, wahyu tentang kerajaan akan diberikan dengan berkelimpahan. Siapa yang tidak mempunyai adalah orang-orang Yahudi yang menentang dan menolak. Dari mereka, Tuhan akan mengambil semua yang telah dikatakan dan dilakukan-Nya. Ini adalah keadaan yang sejati dari orang Yahudi hari ini. Mereka tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Kerajaan Surga. Hal ini sepenuhnya merupakan suatu rahasia yang tidak mereka kenal.
Ayat 13-14 mengatakan, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada me-reka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami.”
Ayat 15 mengatakan,“Sebab hati bangsa ini telah me-nebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Alasan mengapa orang-orang yang berada dalam angkatan yang keras kepala itu tidak dapat memahami perkataan Tuhan ialah karena hati mereka telah menebal. Tebal menunjukkan kebanggaan karena memiliki sesuatu. Hati orang-orang dalam
angkatan yang keras kepala itu telah menjadi sombong. Inilah situasi yang sebenarnya pada orang-orang Farisi. Karena hati mereka telah menebal, maka mata dan telinga mereka ter-pengaruh. Mereka melihat, namun tidak nampak; mereka mendengar, namun tidak mengerti. Akibatnya, rahasia ke-rajaan sama sekali tidak berarti bagi mereka. Semua perum-pamaan hanya menjadi rahasia saja oleh karena kesombongan mereka.
Demikian pula situasi hari ini. Jika guru-guru dan pemimpin-pemimpin agama Kristen tertentu mendengar berita seperti ini, mereka pasti akan menyalahkan, mengkritik, dan menolaknya. Mereka mendengar, namun tidak mengerti. Mereka melihat, namun tidak nampak. Alasan mengapa me-reka tidak nampak atau mengerti ialah karena mereka sombong. Jika guru-guru Brethren mendengar berita ini, me-reka pasti akan berkata, “Tidak, kerajaan telah dikesamping-kan. Ini bukan zaman kerajaan, melainkan zaman gereja. Zaman kerajaan akan berada pada masa seribu tahun.” Ini menunjukkan ketebalan hati mereka, yaitu kesombongan me-reka karena memiliki sesuatu. Kesombongan ini menyebabkan mereka tidak nampak dan tidak mengerti. Kita harus mem-pelajari pelajaran pertama yang diberikan dalam konstitusi Kerajaan Surga: “Berbahagialah mereka yang miskin di dalam roh” (5:3, Tl.). Kapan kala kita miskin di dalam roh, hati kita tidak akan sombong. Kita tidak akan menyombongkan apa pun. Sebaliknya kita mengesampingkan yang usang, kosong, dan siap untuk menerima sesuatu yang baru dari Tuhan. Kita semua perlu mempersiapkan diri kita bagi apa yang diwahyukan dalam pasal ini.
Saya percaya bahwa Tuhan telah menunjukkan kepada kita penjelasan yang benar mengenai semua perumpamaan ini. Selama bertahun-tahun saya tidak meragukan apa pun mengenai pengertian kita tentang perumpamaan-perumpamaan tersebut. Sebenarnya, saya pernah menegaskan bahwa kita memiliki penjelasan yang benar, karena penjelasan kita se-suai dengan sejarah gereja dan pengalaman kita. Karena situasi kekristenan hari ini, kita semua perlu memahami pasal yang penting ini, yaitu pasal yang bahkan lebih penting daripada pasal 5, 6, dan 7. Kita memerlukan terang yang ber-kenaan dengan pasal ini, supaya kita tidak terkena ragi, di-sesatkan, dan dirusak.
2. Murid-murid Berbahagia
Tuhan juga berkata kepada murid-murid-Nya bahwa mereka sungguh bahagia. Menurut ayat 2, mereka dianu-gerahi telinga untuk mendengar. Selanjutnya, ayat 16-17 mengatakan, “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin me-lihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengar-nya.” Betapa bahagianya melihat dan mendengar rahasia Kerajaan Surgawi!