← Daftar isi Matius (3) · bab 1/19

TERBENTUKNYA PENOLAKAN TERHADAP RAJA (3)

Dalam berita ini kita akan melihat Matius 12:38-50

IV. TANDA BAGI ANGKATAN YANG MENOLAK

A. Angkatan yang Menolak Ingin Melihat Tanda

Karena orang Farisi tidak dapat membantah Tuhan Yesus, mereka mengubah pokok pembicaraan; secara luaran, kelihat-annya dari segi yang negatif ke segi yang positif. Ayat 38 mengatakan,“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus, ‘Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari Engkau.’” Karena mereka tidak dapat me-ngalahkan Tuhan Yesus dengan cara berdebat, untuk me-nyelamatkan muka mereka, mereka lalu mengubah pokok pembicaraan dari suatu hal ke hal lain, dengan memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan tanda mukjizat. Ini usul yang licik. Tanda di sini berarti mukjizat yang memiliki makna rohani. Orang-orang Yahudi selalu memiliki tanda (1 Kor. 1:22). Sekali lagi, ini memberi Tuhan kesempatan untuk mewahyukan lebih jauh tentang diri-Nya kepada seluruh alam semesta.

B. Tidak Ada Tanda yang Diberikan

kepada Mereka Kecuali Tanda Kematian Raja

Ayat 39 mengatakan,“Tetapi jawab-Nya kepada mereka, ‘Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda se-lain tanda Nabi Yunus.’” Seandainya Anda adalah salah se-orang di antara orang-orang Farisi itu, tidakkah Anda di-sulitkan oleh jawaban Tuhan? Orang-orang Farisi seolah-olah berkata, “Kami ingin Engkau menunjukkan kepada kami suatu tanda, tetapi Engkau menyebut kami angkatan yang jahat dan tidak setia. Sebelum ini, Engkau menyebut kami keturunan ular beludak (berbisa). Kami tahu Engkau seorang guru yang baik. Guru, tunjukkanlah kepada kami sebuah tanda. Tunjukkanlah kepada kami keajaiban dengan makna tertentu.” Tuhan Yesus seolah-olah berkata, “Ya, kamu akan melihat tanda. Sekalipun kamu bukan angkatan yang jujur atau yang murni, melainkan angkatan yang jahat dan tidak setia, ada juga tanda bagimu, yaitu tanda Nabi Yunus.”

Tuhan Yesus selanjutnya memberi tahu mereka makna tanda Nabi Yunus. Dalam ayat 40 Dia berkata, “Sebab se-perti Yunus tinggal di dalam perut ikan besar tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Ini suatu tanda yang sa-ngat bermakna bagi mereka, “rahim bumi” disebut bagian bumi yang paling bawah (Ef. 4:9) dan dunia orang mati (Kis. 2:27), tempat yang Tuhan kunjungi setelah kematian-Nya. Dunia orang mati memiliki dua bagian: bagian penderitaan dan bagian penghiburan (Luk. 16:23-26). Bagian penghibur-an adalah Firdaus, tempat yang Tuhan kunjungi bersama penyamun yang beroleh selamat setelah mereka mati di ka-yu salib (Luk. 23:43). Jadi, rahim bumi, bagian bumi yang paling bawah, dunia orang mati, dan Firdaus adalah istilah-istilah yang bersinonim, mengacu kepada tempat yang Tuhan diami selama tiga hari tiga malam setelah kematian-Nya dan sebelum kebangkitan-Nya.

Dalam ayat 41 Tuhan meneruskan, “Pada waktu peng-hakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!” Kata “lebih daripada” dalam ayat 41 dan 42, dalam bahasa aslinya berarti lebih baik dalam kualitas dan lebih besar da-lam kuantitas; karena itu dikatakan “lebih daripada”. Ber-beda dengan kata “melebihi” dalam ayat 6 yang berarti “lebih besar” dalam ukuran luarnya. Sebagai nabi yang diutus oleh Allah kepada umat-Nya (Bil. 18:15, 18), Kristus lebih dari-pada Nabi Yunus. Nabi Yunus adalah nabi yang berpaling dari Israel kepada bangsa lain dan dimasukkan ke dalam pe-rut ikan besar. Setelah tinggal di sana tiga hari, dia keluar untuk menjadi tanda bagi angkatan itu agar mereka bertobat (Yun. 1:2, 17; 3:2-10). Ini adalah lambang Kristus, yang akan berpaling dari Israel kepada bangsa bukan Yahudi dan yang akan dikuburkan di dalam rahim bumi selama tiga ha-ri dan kemudian dibangkitkan, menjadi tanda bagi angkatan ini untuk beroleh selamat.

Dalam ayat 41 Tuhan seolah-olah berkata, “Orang-orang Niniwe itu bertobat akibat tanda Nabi Yunus, namun kamu angkatan yang jahat dan tidak setia, juga akan nampak tan-da yang sedemikian, yaitu terkuburnya Anak Manusia dalam rahim bumi selama tiga hari dan tiga malam, tetapi kamu tidak bertobat.” Perkataan Tuhan dalam ayat 40 dan 41 bu-kan perkataan yang biasa, melainkan nubuat. Sebelum Tuhan dikuburkan dalam rahim bumi, Dia telah bernubuat demikian, untuk memberi tahu orang-orang Farisi bahwa Dia akan berada dalam rahim bumi selama tiga hari tiga malam. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus memberi tahu mereka hal ini dalam belas kasihan-Nya. Dia seolah-olah berkata, “Aku memberi tahu nubuat tentang kematian dan penguburan-Ku. Ini akan merupakan tanda bagimu, sama seperti Yunus yang menjadi tanda bagi orang Niniwe yang menyebabkan mereka bertobat. Aku kini menubuatkan hal ini, sehingga bila kamu nampak, kamu mau bertobat.” Na-mun, mereka tidak bertobat. Dengan ini kita nampak alangkah degilnya orang-orang Farisi itu.

C. Raja dalam Kebangkitan

Adalah Salomo yang Lebih Besar

Dalam percakapan Tuhan dengan orang-orang Farisi, tiba-tiba muncul sebuah tanda lain: tanda Salomo. Ayat 42 mengatakan,“Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bu-mi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!” Sebagai Anak Daud, seba-gai Raja, Kristus lebih daripada Raja Salomo. Salomo memba-ngun Bait Allah dan mengucapkan perkataan hikmat. Ratu dari bangsa bukan Yahudi datang kepadanya (1 Raj. 6:2; 10:1-8). Ini juga lambang Kristus, yang membangun gereja, menja-dikannya Bait Allah dan mengucapkan perkataan hikmat. Orang-orang bukan Yahudi berpaling kepada-Nya.

Lambang ini dan lambang yang terdapat dalam ayat 41 menunjukkan bahwa Kristus, baik sebagai Nabi yang diutus oleh Allah maupun sebagai Raja yang diurapi oleh Allah, akan berpaling dari Israel kepada bangsa bukan Yahudi, seperti yang dinubuatkan dalam ayat 18 dan 21.

Menurut sejarah, Raja Salomo ada sebelum Nabi Yunus. Tetapi menurut makna rohani, Yunus muncul lebih dulu, se-perti yang dicatat dalam Matius. Ini juga menunjukkan bah-wa catatan Matius tidak dibuat berdasarkan urutan sejarah, melainkan berdasarkan urutan doktrin. Berdasarkan doktrin, mula-mula Kristus harus mati dan dibangkitkan, kemudian Dia akan membangun gereja dan mengucapkan perkataan hikmat. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah tanda se-jati bagi angkatan ini, bagi orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (1 Kor. 1:22, 24).

Melalui perkataan-Nya dalam ayat 40-42 Tuhan sepenuh-nya menubuatkan tentang kematian-Nya, penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya. Yunus merupakan suatu lambang Kristus dalam kebangkitan-Nya. Andaikata orang-orang Farisi tidak keras kepala, mereka akan menyadari bahwa kata-kata itu tidak dikatakan secara ringan. Sebaliknya, perkataan Tuhan sangat serius, penting, dan penuh makna. Orang Farisi seha-rusnya tidak menganggapnya tidak penting. Kalau kita ber-ada di sana dan mendengar kata-kata ini, niscaya kita akan menganggapnya serius, berbobot, dan penuh makna. Jika orang-orang Farisi menerima perkataan Tuhan, mereka akan bertobat dan percaya setelah Tuhan disalibkan, dikuburkan, dan dibangkitkan. Dalam jawaban-Nya kepada orang-orang Farisi, Tuhan sangat berbelaskasihan. Sekalipun nampaknya Dia mencela mereka, tetapi sebenarnya Dia lebih berbelas-kasihan daripada mencela. Ia memberi mereka tanda Yunus dan Salomo, untuk menunjukkan bahwa Dia akan mati, di-kubur, dan dibangkitkan. Kematian dan kebangkitan-Nya ada-lah tanda unik bagi zaman ini dan angkatan itu. Demikian juga pada hari ini dalam abad kedua puluh. Kematian dan kebangkitan Kristus masih merupakan tanda yang unik bagi zaman ini. Kematian-Nya dan kebangkitan-Nya sungguh ber-makna. Namun orang-orang Farisi yang keras kepala, yang mewakili angkatan yang jahat dan tidak setia itu tidak mau mempedulikannya.

Firman Tuhan tentang Yunus dan Salomo menunjukkan pula bahwa sejak saat itu Dia takkan berbuat keajaiban apa pun bagi orang-orang Yahudi. Hingga Dia mati dan di-bangkitkan, Dia takkan memberi mereka tanda apa pun. Kematian dan kebangkitan-Nya menjadi tanda yang sejati bagi semua orang Yahudi yang keras kepala. Kematian dan kebangkitan-Nya adalah tanda yang unik bagi angkatan itu.

V. ANGKATAN YANG MENOLAK

MENJADI LEBIH BURUK

Ayat 43-45 menunjukkan bahwa angkatan yang menolak akan menjadi lebih buruk. Ayat 43 mengatakan,“Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak men-dapatnya.” Roh jahat, atau roh najis, setan (ayat 22), mencari perhentian, tetapi tidak mendapatkannya di tempat-tempat yang tandus, tidak berair, karena tempat kediaman setan, setelah penghakiman Allah dengan menggunakan air dalam Kejadian 1:2, adalah laut. Karena setan tidak mendapatkan perhentian di tempat-tempat yang tandus, ia kembali ke tubuh manusia yang semula dirasukinya dan menetap di sana (ayat 44-45).

Ayat 44-45 melanjutkan, “Lalu ia berkata: Aku akan kem-bali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu, dan rapi ter-atur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripada dia dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya, keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaan-nya semula. Demikian juga akan berlaku atas orang-orang yang jahat ini.” Secara doktrinal, ayat 43 melanjutkan ayat 22. Di antara kedua ayat ini terdapat catatan penolakan orang Yahudi terhadap Kristus dan catatan tentang Kristus me-ninggalkan mereka. Di sini Tuhan menyamakan angkatan yang jahat, (orang Yahudi yang menolak) ini dengan orang yang kerasukan setan. Dalam pandangan Tuhan, orang Yahudi yang menolak Tuhan sama seperti orang yang kerasukan setan. Tanda Yunus dan Salomo menunjukkan bahwa orang bukan Yahudi akan bertobat, tetapi perkara orang yang ke-rasukan setan menunjukkan bahwa orang Yahudi yang me-nolak itu tidak mau bertobat. Mereka hanya mau member-sihkan kenajisan dan berhias dengan menambahkan hal-hal yang baik untuk mempercantik diri mereka. Mereka tidak mau menerima Kristus dan membiarkan-Nya memenuhi me-reka. Sebaliknya, mereka mau tetap berada dalam kekosong-an dan tidak terisi. Inilah keadaan sebenarnya dari orang-orang Yahudi hari ini. Menjelang akhir zaman ini, mereka akan tujuh kali lebih parah dirasuki setan, dan keadaan mereka akan menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.

Tuhan Yesus mengibaratkan angkatan yang jahat itu se-bagai orang yang dirasuk setan; ada satu setan keluar dari dirinya. Karena orang itu tidak mau bertobat dan menerima Kristus, ia tetap kosong. Sekalipun setan telah diusir, Kristus tidak dapat masuk. Maka, orang itu seperti rumah yang ko-song. Tuhan Yesus berkata bahwa angkatan ini seperti “sese-orang”. Tuhan menggambarkan rumah ini dengan tiga kata: kosong, bersih tersapu, dan rapi teratur (terhias). Perkataan ini pun suatu nubuat, nubuat yang telah digenapi dan masih akan digenapi. Orang-orang Yahudi yang telah kembali dan membentuk negara Israel adalah bersih tersapu, rapi teratur, namun kosong. Seluruh negara Israel hari ini telah diber-sihkan dan juga banyak perkara telah dibuang. Tidak hanya demikian, mereka telah dihias dengan berbagai macam benda yang baik. Orang Yahudi unggul dalam ilmu dan dalam ba-nyak bidang lain. Namun bangsa Yahudi tetap kosong. Perkataan Tuhan dalam ayat-ayat ini merupakan sebuah nu-buat yang ditujukan kepada angkatan orang Yahudi yang keras kepala hari ini.

Saya menyukai orang Israel, tetapi saya harus berbicara menurut wahyu Allah. Dalam kunjungan yang lalu ke Israel, saya nampak bahwa orang Yahudi memang bersih tersapu, rapi teratur, tetapi mereka kosong. Saya setuju dengan firman Tuhan. Ketika setan itu menyadari bahwa orang itu masih kosong, ia mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripa-danya, dan mereka semua datang menduduki kekosongan itu. Ini menunjukkan bahwa tahun demi tahun negara Israel akan menjadi semakin buruk. Banyak perkara setani akan ditemukan di tempat itu. Orang-orang Yahudi seperti sebuah rumah yang bersih, tetapi mereka tidak mau menerima Kristus dan menerima-Nya ke dalam mereka. Sebaliknya mereka te-tap kosong. Lihatlah negara Israel hari ini. Apa sasaran orang-orang Yahudi? Banyak orang akan mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai sasaran lain, kecuali mempertahankan ke-beradaan negara mereka. Tetapi itu bukan menjadi sasaran mereka. Negara Israel ada atau tidak bukan tergantung pada usaha orang-orang Yahudi, melainkan tergantung pada belas kasihan Allah. Saya tidak mengkhawatirkan keberadaan ne-gara Israel. Allah telah memulihkannya dan tak seorang pun dapat melenyapkannya. Semua yang dilakukan oleh orang-orang Arab adalah sia-sia, sebab pemulihan bangsa Israel merupakan perbuatan Allah. Namun, negara Israel hari ini ti-dak mempunyai sasaran; mereka kosong.

Saya menjadi jelas tentang firman bagian mengenai Israel, lebih dari empat puluh lima tahun yang lalu. Pada saat itu, tentu saya tidak nampak pemulihan Israel atau pengembalian Yerusalem. Saya tidak akan lupa pada suatu hari di Shanghai, ketika saya membaca dalam surat kabar tentang pemulihan Israel, atau pada suatu hari pada tahun 1967, ketika saya mendengar bahwa Yerusalem kembali ke-pada Israel. Tidak diragukan lagi bahwa Israel akan terwujud sebagai suatu negara sampai Tuhan kembali. Kekhawatiran saya ialah bahwa Israel tetap kosong. Mengapa orang Yahudi tidak mau menerima Kristus sebagai Mesias mereka? Me-ngapa mereka tidak mau membiarkan Kristus menduduki mereka? Hari ini mereka tetap kosong, dan kondisi mereka akan menjadi semakin buruk.

VI. PENOLAKAN MENGAKIBATKAN

RAJA MENINGGALKAN MEREKA

Kemudian, ketika Tuhan Yesus masih berbicara dengan orang banyak, ibu-Nya dan saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seseorang berkata kepada-Nya, “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau” (ayat 46-47). Ini pun merupakan suatu keadaan yang memberi Tuhan kesempatan untuk me-wahyukan sesuatu. Tuhan berkata, ‘Siapa ibu-Ku? Siapa saudara-saudara-Ku?’ Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, ‘Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!’” (ayat 48-50). Ini menunjukkan bahwa Raja surgawi memutuskan hubungan-Nya dalam daging dengan orang Yahudi. Dalam pasal ini, penolakan orang Yahudi terhadap Kristus sudah mencapai puncaknya sehingga Kristus mening-galkan mereka sama sekali. Pada butir ini, putuslah hubung-an antara mereka dengan Kristus dan mereka terpisah dengan Kristus (Rm. 11:17, 19-20). Setelah memutuskan hubungan dengan orang Yahudi, Kristus berpaling kepada orang bukan Yahudi. Sejak saat itu hubungan-Nya dengan para pengikut-Nya bukan di dalam daging, melainkan di dalam roh. Siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Nya adalah saudara yang membantu-Nya, saudara perempuan yang bersimpati ke-pada-Nya, dan ibu yang dengan lemah lembut mengasihi-Nya.

Dalam ayat 46-50 kita nampak suatu perubahan besar, suatu perubahan zaman. Saat itu, hubungan Yesus dengan orang-orang tidak berdasarkan kelahiran alamiah, melainkan berdasarkan kelahiran rohaniah. Siapa saja yang melaku-kan kehendak Bapa yang di surga adalah saudara Yesus. Dengan kata lain, pada akhir pasal 12, Tuhan dengan tegas menunjukkan bahwa Dia telah meninggalkan seluruh orang Israel. Setelah itu, hubungan-Nya dengan orang-orang hanya berdasarkan sesuatu yang rohani. Mereka semua yang mela-kukan kehendak Bapa adalah saudara-Nya. Haleluya kita bukan hanya saudara Kristus, tetapi juga anggota-Nya! Kita anggota-Nya bukan karena hubungan darah alamiah kita dan kelahiran alamiah kita, melainkan oleh kelahiran rohaniah kita di dalam roh. Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6:17). Kini kita tidak hanya menjadi saudara dan saudari-Nya, kita pun satu roh dengan Dia, satu tubuh di dalam-Nya dan satu insan baru di dalam Dia.

Pada akhir pasal 12 Tuhan Yesus mengumumkan dekla-rasi yang jelas kepada seluruh alam semesta bahwa Dia putus dengan Israel secara darah alamiah, karena itu Roma 11 mengatakan bahwa Israel telah dipotong. Pemotongan ini terjadi pada akhir Matius 12. Roma 11 mengatakan pula bahwa orang kafir (bukan Yahudi) telah diokulasikan. Ini pun terjadi pada akhir Matius 12. Dalam berita selanjutnya kita akan nampak misteri kerajaan. Dalam pasal itu kita ti-dak lagi nampak Israel, melainkan orang kafir yang telah diokulasikan, sehingga terwujudlah gereja.