← Daftar isi Matius (3) · bab 18/19

HUBUNGAN DALAM KERAJAAN (1)

Pasal 18, 19, dan 20 adalah bagian yang jelas dari Injil Matius yang berbicara tentang hubungan di antara umat kerajaan. Dalam pasal-pasal sebelumnya kita nampak peng-umuman Raja mengenai konstitusi kerajaan, ministri Raja, dan wahyu misteri (rahasia) kerajaan. Kita juga nampak jalan yang menuju kemuliaan serta perkara-perkara riil se-telah transfigurasi Tuhan. Kini kita wajib nampak hu-bungan di antara umat kerajaan, yaitu bagaimana sangkut-paut satu dengan yang lain dalam kerajaan. Ini merupakan perkara yang riil, bukan hanya doktrin, seperti konstitusi kerajaan, atau nubuat seperti rahasia kerajaan. Pasal 18 khusus membicarakan bagaimana berada dalam Kerajaan Surga, yaitu menjadi seperti anak-anak kecil (ayat 2-4); tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain atau mendirikan ba-lok sandungan apa pun (ayat 5-9); tidak menghina kaum ber-iman bahkan yang terkecil sekalipun (ayat 10-14); mende-ngarkan gereja dan tidak dipersalahkan olehnya (ayat 21-35). Semua ini menunjukkan bahwa untuk memasuki Kerajaan Surga kita harus rendah hati dan tidak menghina kaum beriman yang mana pun, melainkan mengasihi saudara kita dan mengampuni saudara kita.

Sebelum kita melihat 18:1-20, kita perlu mempunyai pandangan menyeluruh atas ketiga pasal ini, yang menca-kup lima perkara. Yang pertama ialah kesombongan. Jika kita ingin berhubungan dengan orang lain secara tepat dalam kerajaan, kesombongan kita perlu ditanggulangi. Kita perlu kerendahan hati. Tidak seorang pun di antara kita adalah orang yang rendah hati. Setiap orang yang jatuh itu sombong. Pada masa lampau ada beberapa saudara dan saudari ter-tentu memberi tahu saya bahwa istri atau suami mereka rendah hati. Sejangka waktu kemudian, saudara dan saudari ini tidak dapat tidak mengakui bahwa istri atau suami me-reka tidak begitu rendah hati. Beberapa suami yang pernah mengatakan bahwa istri mereka tidak pernah memberi me-reka kesulitan, kemudian datang kepada saya dengan ber-linang air mata dan berkata bahwa mereka dipersulit oleh istri mereka. Orang yang rendah hati tidak akan ada masalah itu.

Berada dalam kerajaan adalah masalah korporat, bukan masalah individu. Namun setiap kali kita datang bersama sebagai suatu kelompok, akan ada kesulitan. Inilah sebabnya ada sebagian orang muda yang tidak mau menikah. Sekalipun akan menimbulkan kesulitan, orang muda perlu menikah. Karena sulit berada bersama dalam kelompok, maka Matius memasukkan pasal-pasal ini untuk mencakup hubungan kita dengan orang lain. Mengenai ini kita tidak ada pilihan. Jika saya mempunyai pilihan, saya lebih suka sendirian, mencurahkan semua waktu saya untuk berdoa, dan seorang diri menunggu datangnya kerajaan. Tetapi, dalam hidup bersama ini, kesombongan kita itulah masalah yang pertama.

Masalah kedua ialah ketidakmampuan kita mengampuni orang lain. Masalah mengampuni tercakup dalam setengah bagian kedua dari pasal 18. Kita semua wajib bel-ajar mengampuni orang lain, meskipun tidak seorang pun dari kita yang menyukainya. Di dalam batin kita, kita tidak mau mengampuni orang lain.

Menurut Alkitab, mengampuni berarti melupakan. Bagi kita, mengampuni seseorang dapat berarti bahwa kita semata-mata tidak mempedulikan kesalahan khusus itu, padahal kita masih mengingatnya. Alangkah sulitnya melupakan se-suatu yang menyalahi kita! Tanpa belas kasihan dan anuge-rah Tuhan, kita akan mengingat kesalahan-kesalahan orang lain bahkan sampai kekekalan. Tetapi jika Allah mengam-puni, itu berarti Ia melupakan. Ibrani 10:17 mengatakan, “Dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran mereka.” Mengampuni dengan sepenuhnya berarti melupa-kan-Nya. Bapa kita di surga menganggap seolah-olah kita ini tidak pernah berdosa, sebab Ia telah mengampuni dan me-lupakan dosa-dosa kita. Tetapi jika kita mengampuni suatu kesalahan, kita sering mengungkit-ungkit di hadapan orang lain. Misalnya, seorang saudara mungkin mengatakan, “Para penatua memperlakukan aku sangat buruk, tetapi aku telah mengampuni mereka. Namun biarlah aku memberitahumu sedikit tentang apa yang terjadi.” Mengampuni yang murni berarti kita melupakan kesalahan itu. Akar dari ketidak-mauan kita mengampuni orang lain terletak pada tempera-men kita. Tidak peduli betapa manisnya Anda, Anda masih mempunyai temperamen. Anda merasa tersinggung karena Anda mempunyai temperamen sedemikian. Saya dapat me-nampar kursi berkali-kali, tanpa membuat kursi itu marah, sebab kursi tidak mempunyai temperamen. Tetapi jika saya menampar Anda, Anda akan marah, karena temperamen yang tersembunyi di dalam Anda. Kita semua mudah ter-sentuh pada temperamen kita. Kadang kala saya menyalahi seorang saudara, dan ia mengatakan bahwa ia tidak mem-pedulikannya. Sesungguhnya, kita semua mempedulikan jika kita disalahi. Boleh jadi reaksi atau wajah lahiriah mungkin berbeda, tetapi temperamen yang tersembunyi dalam diri kita adalah sama. Karena temperamen, kita sulit mengampuni orang lain.

Temperamen ini terungkapkan di antara suami dan istri. Saya menasihati saudari-saudari muda jangan menyakiti hati suami Anda. Bila tidak, suami Anda akan sulit melupakan sakit hati itu. Walau suami Anda mungkin mengatakan bah-wa ia telah mengampuni Anda, tetapi di dalam lubuk batin-nya ia belum mengampuni Anda. Setiap orang laki-laki mem-punyai temperamen yang membuat dia mudah tersinggung, terutama oleh istrinya. Para wanita mudah sekali mengeluh (mengomel) kepada suami mereka. Penyebab terjadinya per-pisahan dan perceraian ialah bahwa wanita suka mengomel dan pria merasa sulit mengampuni. Hai saudari, usahakanlah jangan mengomel kepada suami Anda. Jika ia terlambat pulang, lupakanlah hal itu. Jangan membuat kabar angin tentang hal itu. Saudara-saudara, saya menasihati Anda mengabaikan omelan istri Anda. Saya menasihati saudari jangan mengomel dan saudara jangan tersinggung.

Kita telah nampak masalah kesombongan dan ketidakmampuan kita untuk mengampuni orang lain. Kini kita melihat masalah hawa nafsu daging yang disinggung dalam pasal 19. Dalam konstitusi surga, hawa nafsu daging selu-ruhnya telah ditanggulangi. Hal itu disinggung pula dalam pasal 13, pasal tentang rahasia Kerajaan Surga. Nafsu da-ging merupakan masalah besar bagi umat kerajaan. Ba-nyak perpisahan dan perceraian bersangkutan dengan hawa nafsu daging. Sebab itu dalam pasal 19, Tuhan Yesus me-nyinggung perkara hawa nafsu daging ini. Terpisah dari anu-gerah (kasih karunia) Tuhan, kita satu pun tidak dapat meng-atasinya.

Masalah keempat ialah masalah kekayaan. Orang kaya sangat sulit memasuki Kerajaan Surga, bahkan jauh lebih sulit daripada seekor unta masuk melalui lubang jarum. Masalah kekayaan merupakan halangan yang besar bagi ke-hidupan kerajaan, sebagaimana telah disinggung dalam kons-titusi Kerajaan Surga, dan dalam perumpamaan penabur dalam pasal 13.

Masalah yang terakhir ialah ambisi, yang tercakup da-lam pasal 20. Istri Zebedeus berambisi agar kedua anaknya menikmati kedudukan yang tinggi dalam kerajaan, berkata kepada Tuhan, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu” (Mat. 20:21). Tuhan berkata kepadanya bahwa ia tidak tahu apa yang ia minta. Matius mencatat kisah istri Zebedeus memohon bagi anaknya, tetapi Yohanes tidak mencatatnya, sebab Injilnya bukan Injil tentang kerajaan. Matius men-catat kejadian ini, sebab dalam kerajaan terdapat masalah ambisi terhadap kedudukan.

Ambisi merupakan masalah baik di belahan Timur maupun Barat. Sering kali ketika penatua diangkat dalam gereja ada saudara-saudara yang tersinggung, sebab orang lain yang diangkat dan bukan mereka. Sekalipun dalam sebuah gereja paling banyak hanya membutuhkan tiga atau empat penatua, tetapi jumlah calon yang mengangkat diri bagi kepenatuaan mungkin lebih dari lima belas orang. Apakah saudara-saudara itu berdoa supaya diangkat sebagai pena-tua, saya tidak tahu. Tetapi saya tahu pasti bahwa mereka mengharapkan diangkat. Ketika mereka mengetahui bahwa mereka tidak diangkat menjadi penatua, mereka mulai ber-kata-kata secara negatif mengenai gereja, hanya karena me-reka tidak menerima kedudukan yang mereka dambakan. Kita telah menjumpai masalah ini di gereja di Taipei, gereja yang anggotanya lebih dari dua puluh ribu orang. Setiap kali suatu sidang rumahan baru dibuka, perlu diangkat dua atau tiga saudara dan saudari pemimpin untuk mengurusi urusan-urusan riil dalam sidang rumahan itu. Hampir setiap kali para pemimpin itu diangkat, beberapa saudara saudari ter-singgung karena tidak ada di antara mereka yang diang-kat. Karena mereka tersinggung, mereka berhenti bersi-dang sejangka waktu. Ini mengungkapkan masalah ambisi.

Ketiga pasal tersebut sebenarnya mencakup lima per-kara, yaitu kesombongan, temperamen, hawa nafsu, keka-yaan, dan ambisi. Semua masalah ini terdapat di dalam kita. Jika kita ingin memasuki kedalaman pasal-pasal ini, kita pasti terjamah. Misalnya, kita ingin melihat bahwa kita adalah orang yang penuh kesombongan dan amarah yang tersembunyi di dalam perangai kita. Tidak peduli be-tapa kita berusaha bersabar atau berbaik hati, amarah masih tetap berakar dalam perangai kita. Inilah yang membuat kita sulit mengampuni orang lain. Tidak hanya demikian, kita diganggu oleh hawa nafsu daging dan kekayaan, yang me-rusak kehidupan kerajaan. Pada akhirnya, adalah masalah ambisi. Matius dengan sengaja mencakup kelima masalah ini dalam Injilnya untuk menunjukkan bahwa kita harus memperhatikannya agar kita dapat berada dalam kerajaan. Kesombongan, temperamen, hawa nafsu daging, kekayaan, dan ambisi semuanya adalah “kalajengking”. Kita perlu “pes-tisida” ilahi untuk membunuh “kalajengking-kalajengking” ini di bawah terang Allah. Matius memilih berbagai perka-ra dan meletakkannya bersama untuk menyingkapkan per-kara-perkara ini. Kini kita perlu mempertimbangkannya satu per satu.

I. PERLU RENDAH HATI

Dalam kehidupan kerajaan, perlu rendah hati (18:1-4). Dalam prinsipnya, seluruh umat kerajaan harus menjadi anak kecil. Rendah hati adalah berlaku seperti anak kecil. Jika kita tidak rendah hati, kita akan tersinggung oleh orang lain atau kita akan menyinggung hati orang lain, yaitu kita akan tersandung oleh orang lain atau menyandung orang lain. Semua ketersandungan disebabkan karena kesombongan. Andaikata kita tidak sombong, kita tidak akan tersandung. Fakta bahwa kita dapat tersandung membuktikan bahwa ki-ta ini sombong. Jika seorang anak kecil tersinggung, sakit hati itu akan terlupakan hanya dalam beberapa menit. Te-tapi begitu orang dewasa tersinggung, mereka tersandung oleh karena kesombongan mereka. Di samping itu, penyan-dungan kita kepada orang lain juga berasal dari kesombongan kita.

II. MEMBUANG HAL YANG MENYANDUNG

Menjadi batu sandungan bagi seseorang merupakan per-kara yang serius. Ayat 6 mengatakan, “Tetapi siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa (tersandung), lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Dalam ayat-ayat ini Tuhan memperingatkan kita untuk menanggulangi masalah ini. Jika tangan, kaki, atau mata membuat kita tersandung, kita harus menanggulangi penyebab ketersandungan ini se-cara serius. Jika tidak, kita tidak akan menjadi orang yang tepat dalam kehidupan kerajaan. Agar kita menjadi orang yang tepat dalam kehidupan kerajaan, kita perlu rendah hati sehingga kita tidak tersandung atau menjadi penyebab orang lain tersandung. Semua batu sandungan harus dibuang.

III. BAPA SURGAWI MEMPERHATIKAN YANG TERKECIL SEKALIPUN

Tidak peduli betapa kecilnya kita, di pandangan Bapa, Dia mengasihi dan memperhatikan kita. Ia tidak suka me-lihat seseorang tersandung. Mudah sekali kita menyinggung si kecil yang diperhatikan Bapa dan sebagai yang kecil kita pun mudah tersandung. Jika kita ingin tidak tersandung dan tidak menyandung orang lain, kita perlu rendah hati. Rendah hati akan menyelamatkan kita.

IV. MENANGGULANGI SAUDARA

YANG BERBUAT DOSA (BERSALAH)

A. Dengan Teguran Langsung

Ayat 15 mengatakan,“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Dalam ba-gian ini kita juga nampak bagaimana menanggulangi saudara yang berbuat dosa (bersalah). Jika seorang saudara berdosa atau bersalah terhadap kita, pertama-tama kita harus menghadapinya dengan kasih dan menunjukkan kesalahan-nya.

B. Dengan Kesaksian Dua atau Tiga Orang

Ayat 16 mengatakan,“Jika ia tidak mendengarkan eng-kau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas kete-rangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disang-sikan.” Jika saudara itu tidak mau mendengarkan Anda, Anda tidak boleh mundur. Anda harus pergi kepadanya ber-sama seorang atau dua orang saksi, dengan harapan agar saudara itu akan mendengarkan Anda dan diselamatkan.

C. Dengan Gereja

Ayat 17 mengatakan,“Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Jika seorang saudara berdosa terhadap kita, kita perlu menanggulangi di-ri, mula-mula dalam kasih (ayat 15), kemudian dengan dua atau tiga orang saksi (ayat 16), dan akhirnya melalui gereja dengan kuasa (ayat 17).

D. Dengan Dikerat dari Persekutuan

Bagian terakhir ayat 17 mengatakan,“Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Jika seorang beriman tidak mau mendengarkan gereja, dia akan kehilangan persekutuan gereja dan akan seperti orang kafir dan pemungut cukai (orang dosa), yang berada di luar persekutuan gereja. Seorang kafir atau pemungut cukai ialah seorang yang tidak ada persekutuan dalam kerajaan hayat atau dalam kehidupan gereja. Menganggap seseorang itu orang kafir atau pemungut cukai bukan berarti pengucilan, tetapi adalah menganggapnya sebagai orang yang telah dikerat dari persekutuan gereja. Pengucilan disebutkan dalam 1 Korintus 5. Gereja harus mengucilkan orang yang berzina dan menyembah berhala. Tetapi saudara yang bersalah yang tidak mau mendengarkan dua atau tiga orang saksi atau gereja, tidak perlu dikucilkan. Walau keadaannya tidak me-nyenangkan, namun tidak bisa dikategorikan sama dengan perzinaan atau penyembahan berhala. Ia dikerat dari perse-kutuan gereja sehingga saat dia kehilangan persekutuan, dia mau bertobat dan memulihkan persekutuannya kembali.

E. Dengan Menggunakan Kuasa Kerajaan

Untuk menanggulangi seorang saudara yang bersalah demikian, kita harus menggunakan kuasa kerajaan. Karena lemah, gereja hari ini tidak menyadari perlunya mengguna-kan kuasa ini. Saudara yang disebutkan dalam bagian firman ini, mula-mula bersalah, kemudian memberontak. Mula-mula ia bersalah terhadap seseorang. Kemudian karena ia tidak mau mendengarkan orang yang telah ia salahi, tidak mau mendengarkan dua atau tiga saksi, bahkan tidak mau mende-ngarkan gereja, ia menjadi pemberontak. Karena ia melawan gereja, gereja harus menggunakan kuasanya untuk mengikat dan melepaskan. Gereja mengikatnya jika ia memberontak dan gereja melepaskannya jika ia bertobat. Dalam ayat 18 mengikat berarti menyalahkan, dan melepaskan berarti mengampuni. Karena saudara yang memberontak itu tidak mau mendengarkan gereja, gereja harus menggunakan ku-asa kerajaan untuk mengikat dia sampai dia bertobat. Te-tapi jika ia bertobat, gereja harus menggunakan kuasa ke-rajaan mengampuni dia dan memulihkan dia kembali pada persekutuan gereja.

F. Dengan Sehati Berdoa

Penanggulangan terhadap saudara yang berdosa itu ha-rus dibawa dalam doa dengan sehati. Ayat 19 mengatakan,“Lagi pula Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.” Dikatakan secara tegas, kata “meminta” dalam ayat 19 mengacu kepada doa yang menanggulangi saudara yang menolak mendengarkan gereja. Jika kita berdoa me-nurut janji Tuhan, doa kita akan dikabulkan, dan saudara yang berdosa itu akan dipulihkan.

G. Dalam Penyertaan Tuhan

Semua ini harus dilakukan dalam penyertaan Tuhan. Ji-ka Anda coba-coba menjalankan kuasa kerajaan tanpa pe-nyertaan-Nya, Anda akan sia-sia. Ayat 20 menunjukkan perlunya penyertaan Tuhan: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

V. PENYINGKAPAN GEREJA LOKAL

A. Gereja dalam Lokalitas

Ayat 17 mengatakan,“Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Gereja yang diwahyukan dalam 16:18 adalah gereja yang universal, yaitu Tubuh Kristus yang unik, sedangkan gereja yang di-wahyukan di sini adalah gereja lokal, ekspresi dari Tubuh Kristus yang unik di lokal tertentu. Pasal 16 membahas pem-bangunan gereja universal, sedangkan pasal 18 membahas praktek gereja lokal. Dalam kedua aspek itu gereja mewa-kili Kerajaan Surga yang memiliki kuasa untuk mengikat dan melepaskan.

Supaya kita bisa berada dalam Kerajaan Surga secara riil, kita perlu berada dalam gereja lokal. Menurut konteks ayat 17, baik realitas maupun pelaksanaan kerajaan berada dalam gereja lokal. Dalam pasal yang menyinggung hu-bungan dalam kerajaan, Tuhan akhirnya mengatakan ten-tang gereja. Ini membuktikan bahwa pelaksanaan kerajaan hari ini berada di dalam gereja lokal. Tanpa gereja lokal, ti-dak mungkin ada pelaksanaan dan realitas kehidupan kera-jaan. Banyak orang Kristen hari ini membicarakan tentang kehidupan kerajaan, tetapi tanpa kehidupan gereja (church life) lokal yang riil, pembicaraan ini sia-sia.

Dalam pasal 16 Tuhan mewahyukan gereja universal. Tetapi gereja universal memerlukan pelaksanaan gereja lo-kal. Tanpa gereja lokal, gereja universal tidak dapat dilak-sanakan, sebaliknya akan menjadi sesuatu yang terkatung-katung di udara. Gereja Lokal ialah realitas baik kerajaan maupun gereja universal.

B. Lebih dari Dua atau Tiga Orang

Berhimpun dalam Nama Tuhan

Banyak orang Kristen mengira bahwa asalkan dua atau tiga orang berhimpun dalam nama Tuhan dan ada penyerta-an-Nya, sudahlah merupakan gereja, dan realitas gereja ada di sana. Namun, jika Anda membaca bagian firman ini de-ngan saksama, Anda akan nampak bahwa dua atau tiga orang yang disebutkan dalam ayat 20 bukan gereja. Dua atau tiga orang ini adalah dua atau tiga orang dalam ayat 16. Mere-ka berkumpul bersama dalam nama Tuhan, tetapi mereka bukan gereja; karena ayat 17 mengatakan bahwa jika ada persoalan, mereka perlu memberitahukannya kepada gereja. Jika dua tiga orang adalah gereja, mereka tidak perlu mem-bawa masalah itu kepada gereja. Fakta bahwa mereka perlu “memberitahukan kepada gereja” membuktikan bahwa me-reka bukan gereja, melainkan hanya bagian dari gereja. Me-reka milik gereja dan mereka adalah anggota gereja, tetapi mereka bukan gereja.

Jangan mengira bahwa dua atau tiga orang berhimpun dalam nama Tuhan, ada penyertaan Tuhan, itu adalah ge-reja. Jika kita percaya demikian, maka ada kemungkinan bagi suatu gereja yang anggotannya tiga ratus dipisah men-jadi seratus gereja, dengan setiap kelompok dua atau tiga orang. Hal ini akan menjadi sangat kacau! Dua atau tiga orang dapat berhimpun dalam nama Tuhan dan Tuhan bisa benar-benar berada di tengah-tengah mereka, tetapi ini bu-kan berarti bahwa mereka adalah gereja.

C. Sebagai Kerajaan dengan Kekuasaan Surgawi

Gereja memiliki kekuasaan dan kita wajib mendengarkan gereja serta takluk kepada gereja. Kalau kita tidak takluk kepada gereja, kita putus hubungan dengan kerajaan, sebab kehidupan kerajaan ialah kehidupan yang takluk kepada gereja.

D. Ada Penyertaan Tuhan sebagai Realitasnya

Konteks Matius 18 menunjukkan bahwa realitas gereja ialah hadirat Tuhan. Penyertaan Tuhan itulah kekuasaan gereja. Gereja harus yakin bahwa gereja mempunyai pe-nyertaan Tuhan sebagai realitasnya. Jika tidak, tidak ada kekuasaan yang sejati. Realitas dan pelaksanaan kekuasaan gereja ialah penyertaan Tuhan. Jika seseorang tidak mende-ngarkan gereja, ia memberontak terhadap penyertaan Tuhan. Gereja memiliki tumpuan untuk melaksanakan kedaulatan dalam penyertaan Tuhan atas setiap perkara pemberontakan.

Faktor dasar yang menyebabkan kekacauan dalam ge-reja ialah kesombongan. Kesombongan menyebabkan seorang saudara menyakiti hati orang yang mencarinya di dalam ka-sih; hal itu juga yang membuat dia tidak mau mendengar-kan dua atau tiga orang saksi dan bahkan tidak mau men-dengarkan gereja. Kita semua harus membunuh “musang” kesombongan. Marilah kita merendahkan hati kita dan se-lalu mendengarkan gereja, serta takluk kepada gereja. Kira-nya Tuhan membelaskasihani kita dalam hal ini.