← Daftar isi Matius (3) · bab 19/19

HUBUNGAN DALAM KERAJAAN (2)

Matius 18 memang kelihatannya merupakan pasal yang tidak dalam, dan perumpamaan dalam ayat 23-35 kelihat-annya pun dangkal. Sesungguhnya, apa yang diwahyukan dalam pasal ini sangatlah dalam. Ketika membaca Kitab Matius, sebagian besar orang Kristen tidak mengetahui bah-wa kitab ini tidak hanya berisi doktrin kerajaan, tetapi juga pelaksanaan kehidupan kerajaan. Jika kita ingin memahami setiap bagian Matius, kita harus selalu mengingat fakta ini. Ketika muda saya tidak membaca Matius 18 dengan cer-mat, sebab saya tidak nampak bahwa pasal ini berbicara mengenai kehidupan kerajaan. Sekalipun Anda sebelumnya telah membaca pasal ini, Anda mungkin belum nampak apa yang sebenarnya dibahas pasal ini. Sebaliknya, mungkin Anda berpikir bahwa pasal ini hanya berbicara mengenai perilaku orang Kristen, hanya berisi perkataan tentang meng-ampuni saudara kita. Karena konsepsi alamiah kita, kita ti-dak nampak bahwa pasal ini sangat erat berhubungan de-ngan kehidupan kerajaan.

Fakta bahwa bagian firman ini berbicara mengenai pe-laksanaan kehidupan kerajaan dibuktikan oleh ayat 1: “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, ‘Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?’” Memasuki Kerajaan Surga berarti memasuki manifestasi Ke-rajaan Surga. Sebab itu, pasal ini bersama-sama dengan pasal 19 dan 20 merupakan pasal mengenai kehidupan kerajaan.

Untuk menetap dalam kehidupan kerajaan, kita harus rendah hati. Jika kita rendah hati, kita tidak akan menya-lahi orang lain atau disalahi oleh orang lain. Kita tidak akan menyandung atau tersandung oleh orang lain. Semua yang menyandung diri kita maupun orang lain, berasal dari ke-sombongan. Kita perlu membenci kesombongan dan mem-perlakukannya sebagai “musang” yang harus dibunuh. Jika tidak, “musang” kesombongan akan meruntuhkan kehidupan kerajaan.

Dalam pasal 18 kita nampak bagaimana menanggu-langi orang yang bersalah kepada orang lain. Jika ada se-orang saudara bersalah kepada kita, kita harus langsung pergi kepadanya di dalam kasih. Jika ia tidak mendengar-kan kita, kita harus pergi kepadanya lagi dengan seorang atau dua orang saksi. Jika ia masih tetap tidak mau men-dengarkan kita, bahkan di depan saksi-saksi, kita harus mem-beritahukan masalah itu kepada gereja dan membiarkan ge-reja yang menanggulanginya. Jika ia menolak mendengarkan gereja, maka gereja harus menganggap dia sebagai seorang kafir atau pemungut cukai dan memutuskan hubungannya dengan gereja. Perkataan ini selain memberi tahu kita ba-gaimana menanggulangi seorang saudara yang bersalah ke-pada orang lain, juga menunjukkan bahwa bersalah kepada orang lain merupakan perkara yang serius. Keseriusan hal ini ditunjukkan oleh bahaya dikucilkan dari persekutuan ge-reja. Dikucilkan dari persekutuan gereja berarti dikeluarkan dari kehidupan kerajaan. Ini serius.

Firman Tuhan tentang menanggulangi saudara yang berbuat dosa berkaitan dengan kekuasaan kerajaan. Ayat 18 mengatakan,“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Jika seseorang bersalah kepada seorang saudara dan memberontak melawan gereja, surga akan mengikatnya. Perhatikanlah bah-wa ayat 18 mengatakan gereja mengikat apa yang telah di-ikat di surga. Ini menunjukkan bahwa kesalahan dan pem-berontakan itu menyebabkan surga mengikat orang yang bersangkutan dengan kesalahan itu. Jika Anda menolak ge-reja dan memberontak melawan gereja, surga akan mengikat Anda. Karena surga telah mengikat Anda, gereja melaksa-nakan apa yang telah diikat oleh surga. Jika Anda melihat ayat 18 dalam konteksnya, Anda akan mengetahui bahwa memberontak melawan gereja bukan suatu hal yang tidak berarti. Gereja hanya mengikuti surga untuk mengikat apa yang telah terikat di surga. Gereja mengikat sesuatu seturut pelaksanaan pengikatan surga. Sebelum gereja mengatakan, “Ya Tuhan, kami mengikat saudara yang melawan ini,” se-benarnya ia sudah terikat dulu di surga.

Sama halnya dengan pertobatan. Bertobat kepada gere-ja atas pemberontakan Anda merupakan suatu perkara yang besar artinya. Jika Anda bertobat kepada gereja, sur-ga akan segera melepaskan Anda, dan kemudian gereja akan melepaskan apa yang telah terlepas di surga. Memberontak melawan gereja itu serius, dan bertobat kepada gereja amat bermakna. Dengan ini kita nampak bahwa Matius 18 mencakup kehidupan kerajaan.

Apa yang tercantum di sini bukan hanya merupakan masalah bersalah kepada orang atau mendengarkan gereja; lebih-lebih merupakan masalah apakah kita akan tetap ber-ada dalam kerajaan atau tidak. Jika kita memberontak mela-wan gereja, surga berdiri di belakang gereja dan mendukung gereja. Sebab itu, jika Anda bertobat, surga akan berkata, “Kamu dilepaskan.” Kemudian gereja akan melaksanakan apa yang telah dilepaskan surga. Kita memberontak mela-wan gereja atau bertobat kepada gereja, kedua-duanya sa-ngat serius. Kedua hal itu menunjukkan bahwa hubungan kita dengan saudara dan dengan gereja sangat bersangkut paut dengan kehidupan kerajaan.

VI. MENGAMPUNI KARENA DIAMPUNI

A. Mengampuni Saudara yang

Menyalahi Kita Bahkan Sampai Tujuh Puluh Kali Tujuh

Setelah mendengarkan firman Tuhan tentang kehidupan kerajaan, Petrus menanyakan sebuah pertanyaan kepada-Nya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (ayat 21). Petrus tidak menanyakan hal ini untuk ke-pentingan orang lain, sebaliknya si cepat dan si pemberani ini bertanya menurut apa yang ada di dalam dirinya. Orang yang cepat sering kali menyalahi orang lain. Semakin aktif, cepat, dan berani, kita semakin mudah menyalahi orang lain. Tetapi mereka yang berhati-hati dan lambat jarang menya-lahi orang lain. Mengapa bukan Yohanes yang menanyakan pertanyaan ini? Sebab, Petruslah yang sangat terkena oleh firman Tuhan tentang menyalahi saudara. Karena Petrus se-ring menyalahi orang lain, maka ia memperhatikan hal ini, dan bertanyalah ia kepada Tuhan tentang pengampunan.

Ayat 22 mengatakan,“Yesus berkata kepadanya, ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melain-kan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” Tujuh puluh kali tujuh berarti kita harus mengampuni orang lain tanpa batas, tanpa perlu menghitung atau mencatat berapa kali Anda meng-ampuni orang lain. Berulang kali Anda perlu mengampuni orang lain.

B. Mengampuni Orang Lain Sebagaimana Tuhan Telah Mengampuni Kita

1. Hutang Kita kepada Tuhan Tak Mungkin Terbayar

Dalam ayat 23-35, Tuhan memberi perumpamaan seba-gai ilustrasi. Ayat 23-24 mengatakan, “Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.” Menurut kon-teks perumpamaan ini, perhitungan yang diadakan di sini mengacu kepada Tuhan menanggulangi kita pada zaman ini melalui bermacam-macam perkara, seperti sakit berat atau suatu kesulitan yang luar biasa, akan menyebabkan kita mengetahui berapa banyak kita berhutang kepada Tuhan dan mohon Dia mengampuni kita. Menurut ayat 24, seorang hamba berhutang sepuluh ribu talenta dari tuannya; jumlah yang demikian besar menunjukkan bahwa tidak mungkin orang yang berhutang itu melunasi hutangnya. Ini mengacu kepada hutang dosa kita yang begitu besar ter-hadap Tuhan, yang menumpuk setelah kita beroleh selamat.

2. Pengampunan Tuhan oleh Belas Kasihan-Nya

Setelah hamba itu memohon raja untuk bersabar hati terhadap dia, sampai ia sanggup membayar hutangnya, “Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya” (ayat 27). Ini mengacu kepada pengampunan hutang kita dalam peng-hidupan kita sebagai orang Kristen yang gagal untuk pe-mulihan persekutuan kita dengan Tuhan.

3. Hutang Orang Lain kepada Kita Sangat Sedikit

Bila Dibandingkan dengan Hutang Kita kepada Tuhan

Ayat 28 mengatakan,“Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang sera-tus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawan-nya itu, katanya: Bayar hutangmu!” Ini sungguh-sungguh menunjukkan perkara yang berlaku pada zaman ini. Seratus dinar yang dikatakan dalam ayat ini lebih kuat daripada satu per sepuluh ribu dari sepuluh ribu talenta. Ini meng-acu kepada dosa yang dilakukan seorang saudara terhadap kita setelah kita beroleh selamat dan menjadi hamba Tuhan. Betapa kecilnya hutang saudara kita kepada kita dibanding-kan dengan hutang kita kepada Tuhan!

4. Kita Tidak Mau Mengampuninya

Namun, kita mungkin tidak mau mengampuninya. Ayat 29-30 mengatakan, “Lalu sujudlah kawannya itu dan me-mohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.” Di sini saudara yang disalahi, orang yang tidak mau mengam-puni orang lain, tentunya sudah beroleh selamat. Jadi, dalam perumpamaan ini Tuhan bukan berbicara mengenai orang dosa, melainkan orang beriman, orang yang telah beroleh selamat. Ia menanggulangi seorang yang telah disalahi, na-mun yang tidak mau mengampuni orang lain.

5. Saudara-saudara Lain Sedih karena Kita Tidak Mau Mengampuni

Ayat 31 mengatakan,“Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi ke-pada tuan mereka.” Jika kita tidak mau mengampuni sau-dara yang bersalah (berdosa) kepada kita, akan menyedihkan saudara-saudara lain, dan mereka mungkin membawa per-kara itu kepada Tuhan.

6. Dihukum oleh Tuhan karena Kita Tidak Mau Mengampuni

Ayat 34 mengatakan,“Tuannya itu pun marah dan me-nyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi se-luruh hutangnya.” Ini mengacu kepada penanggulangan Tuhan atas kaum beriman-Nya pada kedatangan-Nya kem-bali. Jika kita tidak mengampuni saudara yang bersalah (berdosa) terhadap kita, kita akan didisiplin oleh Tuhan sam-pai kita mengampuni dia dari dalam hati kita, yaitu sampai kita membayar semua hutang kita. Kemudian Tuhan akan mengampuni kita. Inilah pengampunan dalam kerajaan. Ini menyiratkan bahwa jika kita tidak mengampuni saudara dari dalam hati kita hari ini, kita tidak akan diizinkan ma-suk ke dalam kerajaan pada zaman yang akan datang.

Banyak orang Kristen tidak memahami bagian firman ini. Ayat 34 dan 35 menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengampuni saudaranya dari hatinya akan berada di bawah tangan algojo-algojo sampai ia mengampuni semua-nya. Walaupun sudah pasti orang yang dimaksud di sini adalah orang yang telah diselamatkan, ia diserahkan juga kepada algojo-algojo untuk sejangka waktu. Namun ini bu-kan berarti bahwa ia akan dilemparkan ke dalam penjara selamanya, ia hanya akan menderita sampai ia membayar lunas semua hutangnya, yakni sampai ia mengampuni sau-daranya dari dalam hati.

Hari ini banyak orang Kristen berpendapat, asalkan sudah beroleh selamat sudah tidak ada masalah lagi di masa mendatang. Dalam perumpamaan ini, orang yang tidak mau mengampuni sesama temannya bukanlah orang Kristen palsu, tetapi orang Kristen sejati. Anda perlu menyadari bahwa mungkin saja seorang Kristen sejati akan diserahkan ke-pada algojo-algojo pada suatu hari. Mungkin Anda akan ber-kata, “Tidak mungkin Tuhan berbuat demikian terhadapku. Aku tidak pernah merampok bank. Aku selalu berbuat baik dan tidak pernah menipu orang lain.” Tetapi Tuhan mungkin akan berkata, “Memang kamu tidak pernah merampok bank atau merugikan orang lain, tetapi kamu tidak mengampuni saudaramu dari dalam hatimu.” Apakah Anda berpikir bah-wa saudara yang tidak mau mengampuni saudaranya se-demikian ini sesungguhnya berada di dalam kerajaan seca-ra riil? Menurut matematika Allah, mengampuni adalah me-lupakan. Tetapi, Anda tetap tidak mau mengampuni orang yang menyalahi Anda. Ini merupakan perkara yang serius. Bila Anda menuntut untuk berada di dalam kehidupan kera-jaan secara riil, mengapa Anda tidak sudi mengampuni orang lain dari dalam hati? Ketidaksudian Anda untuk mengam-puni orang lain menyebabkan Anda kehilangan kehidupan kerajaan.

Dalam ayat 15-20, penekanannya adalah perlunya per-tobatan setelah bersalah kepada orang lain. Sedangkan dalam perumpamaan, penekanannya adalah perlunya yang disalahi itu mengampuni orang yang menyalahi. Dengan demikian jelaslah bahwa ketidaksudian kita untuk bertobat maupun ketidaksudian kita untuk mengampuni akan menye-babkan kita terkunci di luar kerajaan. Bila kita bersalah kepada seseorang dan tidak mau bertobat untuk minta ampun, kita akan terkunci di luar kerajaan. Dalam prinsip yang sama, bila kita disalahi dan tidak mau mengampuni orang yang menyalahi kita, kita juga akan terkunci di luar kera-jaan. Sering kita mengira bahwa kita berada di dalam ke-rajaan, padahal menurut matematika Allah, tidak. Ini tergantung pada sudi atau tidaknya di satu pihak kita ber-tobat dan minta ampun dan di pihak lain mengampuni orang lain dari dalam hati.

Saya telah memperhatikan kedua masalah ini dalam hidup gereja selama bertahun-tahun. Beberapa saudara menyalahi orang lain, namun mereka tidak mau bertobat dan minta ampun. Akibatnya, mereka berada di luar hidup ge-reja. Karena berada di luar hidup gereja, maka mereka ber-ada di luar kerajaan. Saya juga nampak orang-orang yang disalahi, tetapi tidak mau memaafkan orang yang telah ber-salah kepada mereka, mereka juga berada di luar hidup ge-reja. Mereka yang tidak mau bertobat dan tidak mau me-maafkan orang lain kelihatannya masih tetap berada di dalam kerajaan, tetapi sesungguhnya menurut perhitungan Allah, mereka sudah tidak ada lagi di dalam kerajaan. Setiap kali gereja baru didirikan, gereja mengalami bulan madu. Selama bulan madu, segala sesuatu serba indah. Saudara dan saudari berkata, “Alangkah indahnya berada dalam gereja! Biasanya kita bercerai-berai dan terpecah belah dalam berbagai deno-minasi. Tetapi kini tawanan telah kembali pulang ke rumah. Puji Tuhan, Dia telah mengembalikan kita!” Namun ketika waktu berlalu, muncullah pelanggaran-pelanggaran. Dalam hidup gereja kita tidak dapat terhindar dari saling menyalahi, sebab kita tiap hari berhubungan erat. Kita mungkin me-nyalahi orang lain tanpa sengaja. Sejak hari pertama saya masuk dalam ministri hingga kini, saya tidak bermaksud sedikit pun menyakiti hati orang. Saya bahkan berdoa agar Tuhan memberikan hikmat kepada saya agar saya mengerti bagaimana bergaul dengan segenap umat Tuhan. Tetapi, ti-dak peduli berapa banyak saya berdoa kepada Tuhan untuk hal ini, tanpa saya sadari dan tidak sengaja kadang-kadang saya juga menyalahi perasaan orang. Sama halnya dengan kehidupan pernikahan. Saya tidak percaya akan adanya pa-sangan suami istri yang tidak ada kesalahan di antara mereka. Kesalahan-kesalahan itu tidak dapat dihindari.

Selama bertahun-tahun, saya sering mengunjungi gerejagereja. Setiap orang bergembira dalam gereja yang baru, dan semua wajah berseri-seri. Tetapi ketika saya mengunjungi gereja yang sama dua tahun kemudian, saya melihat ba-nyak wajah yang tidak gembira di sana. Secara pribadi saya menghubungi beberapa di antara mereka yang nampaknya paling tidak gembira dan bertanya apa yang terjadi atas diri mereka dan mengapa mereka membungkam di dalam sidang. Mereka berkata kepada saya tentang saling menyalahi serta perasaan-perasaan yang tidak gembira terhadap penatua atau terhadap orang lain. Setiap kali saya mendengar hal itu, saya berdoa dengan tekun bagi gereja ini dan berkata, “Tuhan, gereja tidak dapat terus-menerus demikian.” Lalu saya menghubungi para penatua dan bertanya kepada mereka tentang situasi itu. Kadang kala penatua itu mengatakan, “Saudara Lee lupakanlah orang itu. Sekalipun ia seorang di antara pelopor hidup gereja di sini, tetapi ia telah bersalah kepada hampir setiap orang.” Mendengar demikian saya ber-tanya kepada saudara penatua, apakah mereka mau meng-ampuninya. Sering kali, mereka tidak mau. Jadi, yang se-pihak tidak mau bertobat, dan pihak lain tidak mau meng-ampuni. Jika situasi yang demikian berlarut-larut, hidup gereja akan tamat. Kaum beriman mungkin masih berhim-pun bersama dan menyanyikan beberapa lagu, tetapi oleh karena kesalahan-kesalahan, pertimbangan-pertimbangan, dan ketidakmauan bertobat atau mengampuni, di sana tidak ada kehidupan kerajaan. Allah yang nampak segala sesuatu, tahu apa yang tersembunyi di bawah permukaan hidup gere-ja. Kita mungkin bersidang sebagai gereja, tetapi di antara kita sebenarnya tidak ada kehidupan kerajaan. Karena tidak mau bertobat dan mengampuni, kehidupan kerajaan lenyap.

C. PENGAMPUNAN DALAM KERAJAAN

1. Pengampunan pada Zaman Sekarang

Dalam administrasi pemerintahan Allah, pengampunan-Nya memiliki seluk-beluk zaman. Untuk administrasi-Nya, Ia telah merencanakan berbagai zaman. Periode dari keda-tangan Kristus kali pertama hingga kekekalan secara za-man dibagi menjadi tiga zaman: zaman ini, zaman sekarang, dari kedatangan Kristus kali pertama sampai kedatangan-Nya yang kali kedua; zaman yang akan datang, masa se-ribu tahun untuk pemulihan dan kekuasaan surgawi, dari kedatangan Kristus kali kedua sampai akhir dari langit lama dan bumi lama; dan zaman kekekalan, kekekalan dalam langit baru dan bumi baru.

Pengampunan Allah pada zaman ini adalah bagi kese-lamatan kekal orang-orang berdosa (Kis. 2:38; 5:31; 13:39). Jika seorang beriman berdosa setelah diselamatkan, tetapi tidak mau dibersihkan melalui pengakuan dan pencucian darah Tuhan (1 Yoh. 1:7, 9) sebelum ia meninggal atau Tuhan kembali, dosa ini tidak akan diampuni pada zaman ini, tetapi akan tetap ada hingga diadili pada takhta pengha-kiman Kristus. Ia tidak bisa mendapatkan kerajaan sebagai pahala, tidak bisa berpartisipasi dalam kemuliaan dan suka-cita dengan Kristus dalam manifestasi Kerajaan Surga, te-tapi akan didisiplin untuk pemberesan dosanya dan diampuni pada zaman yang akan datang. Pengampunan macam ini akan mempertahankan keselamatan kekalnya, tetapi ia tidak akan bersyarat ikut serta dalam kemuliaan dan kegirangan kerajaan yang akan datang.

2. Pengampunan pada Zaman Kerajaan

Jika seseorang menyalahi gereja dan tidak mau bertobat atau disalahi dan tidak mau mengampuni orang yang me-nyalahi dia, ia akan berada di luar kerajaan. Tidak hanya pada zaman ini, tetapi juga pada zaman yang akan datang. Ini berarti bahwa ia tidak akan berbagian dalam manifes-tasi kerajaan. Jangan mendengarkan ajaran-ajaran yang keliru bahwa orang Kristen tidak ada kesulitan apa pun pada zaman yang akan datang. Ada sejumlah orang akan mempunyai masalah besar dan dikucilkan dari kemuliaan dan sukacita para pemenang dengan Tuhan Yesus selama masa seribu tahun. Di samping itu, mereka akan ditaruh di bawah tangan algojo-algojo. Jika hari ini Anda dianggap oleh gereja sebagai orang kafir atau pemungut cukai, lalu apa yang akan terjadi setelah manifestasi kerajaan? Menya-lahi kaum beriman atau gereja dan memberontak melawan gereja adalah perkara yang sangat serius. Jika Anda tetap tinggal dalam keadaan sedemikian, di manakah Anda akan berada pada saat manifestasi kerajaan? Demikian pula, ba-gaimana dengan mereka yang tidak mau mengampuni orang yang telah menyalahi mereka? Benar, beberapa orang mung-kin menyalahi Anda, tetapi Anda perlu ingat betapa banyak-nya Allah Sang Bapa telah mengampuni Anda. Mengapa Anda tidak mau berlaku sebagai anak Bapa yang terkasih dan mengampuni orang lain sebagaimana Ia telah mengampuni orang. Jika Anda masih ingat kesalahan seorang saudara ter-hadap Anda, itu menunjukkan bahwa Anda belum mengam-puni dia dari hati Anda. Jika ini keadaan Anda ketika ke-rajaan datang, Anda akan diserahkan kepada algojo-algojo.

Boleh jadi sebelumnya Anda belum pernah mendengar perkara yang begitu serius, dan telah disesatkan mengenai hal ini. Banyak orang Kristen tidak tahu bagaimana mene-rangkan bagian firman ini, sebab mereka belum nampak administrasi zaman Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa Allah telah mengatur tiga zaman: zaman kini, zaman yang akan datang, dan zaman kekekalan. Menurut Matius 12:32, beberapa orang berdosa tidak dapat diampuni baik pada za-man ini maupun pada zaman yang akan datang. Jika Anda menyalahi gereja dan memberontak melawan gereja, Anda melakukan dosa. Tetapi jika Anda bertobat kepada gereja, dosa ini akan diampuni pada zaman ini. Namun, jika Anda tidak bertobat kepada gereja, dosa ini tidak akan diampuni pada zaman ini. Sebaliknya, Anda perlu menunggu hingga zaman kerajaan yang akan datang baru dosa Anda itu di-ampuni. Dalam zaman kerajaan, Anda akan berada di bawah penanggulangan Allah. Kemudian Anda akan bertobat dan mendapatkan pengampunan. Di zaman yang akan datang mungkin saja Anda akan didisiplinkan, ditanggulangi, na-mun Anda tidak akan hilang. Setelah Anda ditanggulangi, Anda akan bertobat dan menerapkan darah. Kemudian pada zaman itu Anda akan diampuni. Kita perlu memandang se-rius hal ini. Pernahkah Anda bersalah kepada orang? Jika pernah, Anda perlu bertobat. Pernahkah orang bersalah ke-pada Anda? Jika pernah, oleh anugerah Tuhan, Anda harus mengampuni kesalahan orang itu dan melupakannya. Jika kita berbuat demikian, tidak akan ada perpecahan di anta-ra kita. Semua kesalahan akan disingkirkan oleh pertobat-an kita dan pengampunan kita.

Jika kita tidak melaksanakan pertobatan dan pengampunan, semakin lama kita berada dalam hidup gereja, semakin banyak terdapat kesalahan dan pelanggaran. Kesalahan-kesalahan itu akan menumpuk sampai setinggi gunung. Ini akan meniadakan kehidupan kerajaan dan membuat kita kehilangan hidup gereja. Kiranya Tuhan memberi kita anugerah yang kita butuhkan. Jika saya menyalahi Anda, saya perlu datang kepada Anda dan bertobat. Jika Anda menyalahi saya, saya perlu memandang kepada Tuhan dan demi anugerah mengampuni Anda dari hati saya. Begitu saya mengampuni suatu kesalahan, saya harus melupakan-nya dan tidak pernah menyinggungnya lagi. Jika kita berlaku demikian, kita akan mempunyai hidup gereja yang tepat. Kemudian kita akan berbagian dalam manifestasi kerajaan. Jika tidak, selama masa seribu tahun kita akan berada di bawah pendisiplinan Allah, sehingga kita akan bertobat atas kesalahan kita atau mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

?

PELAJARAN HAYAT

SURAT 1KORINTUS

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11

12 13 14 15 16 17 18 19

20 21