← Daftar isi Matius (3) · bab 17/19

PENERAPAN WAHYU DAN VISI TENTANG KRISTUS

Setelah kisah transfigurasi Tuhan di atas gunung, segera diikuti kisah penyembuhan orang yang dirasuk setan (17:14-21). Selanjutnya, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya untuk kali kedua tentang penyaliban-Nya dan kebangkitan-Nya (17:22-23). Kemudian ada perkara tentang membayar pajak dua dirham (17:24-27). Sebagaimana kita baca dalam pasal 17, kita mungkin sulit mengerti akan hubungan antara semua perkara ini. Jika kita ingin mengerti Injil Matius, kita perlu ingat bahwa Matius mengemukakan secara bersama fakta-fakta yang berbeda untuk mewahyukan sebuah doktrin. Seka-lipun ketiga murid, yang mewakili murid-murid lain telah berada dalam miniatur manifestasi kerajaan, tetapi masih ada saja kebutuhan tiga hal: penanggulangan terhadap orang yang dirasuk setan, pewahyuan tentang penyaliban dan kebangkit-an Tuhan, serta pembayaran pajak dua dirham kepada pemu-ngut cukai.

I. KUASA KEGELAPAN DI LUAR KERAJAAN

Saya telah menunjukkan bahwa kedatangan kerajaan dalam 16:28—17:2 bukan datangnya kerajaan secara penuh, melainkan hanya sebuah miniatur dan pencicipan. Nubuat tentang manifestasi kerajaan belum tergenapi sepenuhnya. Jika kita keluar dari lingkungan transfigurasi, keluar dari suasana manifestasi kerajaan, kita akan menghadapi kuasa kegelapan di luar kerajaan. Dirasuk setan melambangkan kuasa kegelapan. Dalam ruang lingkup transfigurasi Tuhan terdapat kemuliaan, tetapi di luar ruang lingkup ini terdapat kuasa kegelapan. Ketika kita sedang menikmati transfigura-si di puncak gunung, yang lain berada di lembah menderita kerasukan setan. Selama sidang khusus atau pelatihan yang menggugah orang, kita dapat merasakan bahwa kita berada di atas gunung transfigurasi. Namun, bila kita kembali ke rumah, kita tahu bahwa kuasa kegelapan masih mengeli-lingi kita. Untuk menghadapi kuasa kegelapan perlu menggu-nakan kekuasaan Raja surgawi (17:18). Kita dapat menggu-nakan kekuasaan ini hanya melalui doa dan puasa. Sebagai Raja surgawi, Tuhan mempunyai kekuasaan sedemikian, tetapi kita perlu berdoa bahkan berpuasa, untuk terlaksa-nanya kekuasaan Tuhan.

II. PENYALIBAN DAN KEBANGKITAN TUHAN

Dalam 17:22-23 Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Ketika murid-murid mendengar hal ini, “hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.” Transfigurasi di atas gunung bukan transfigurasi sepenuhnya. Kristus masih harus melalui salib dan masuk ke dalam kebangkitan. Matius terutama mengatakan bahwa murid-murid “sedih sekali”. Menurut konsepsi Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Kristus yang telah bertransfigurasi di puncak gunung tidak perlu disalibkan. Sebab itu, mereka mungkin berkata, “Kristus te-lah bertransfigurasi. Mengapa masih perlu melalui penya-liban dan kebangkitan!” Karena murid-murid mempunyai konsepsi keliru, maka mereka merasa sedih akan perkataan Tuhan.

Kita pun bisa mempunyai saat-saat di mana kita mencicipi transfigurasi. Namun kemudian kita masih perlu turun dari gunung dan memikul salib di depan suami atau istri kita. Tidak peduli betapa indah pengalaman transfigurasi itu, kita masih perlu berada di bawah pembunuhan salib. Dengan memikul salib, kita berjalan melalui penyaliban masuk ke dalam kebangkitan. Inilah hubungan antara ketiga bagian Matius ini.

III. PENERAPAN WAHYU DAN VISI TENTANG KRISTUS

Kecuali kita menerima terang dari Tuhan, sulit nam-pak hubungan antara ayat 1-23 dengan ayat 24-27. Dalam 17:24-27 terdapat peristiwa pembayaran pajak dua dinar ke-pada pemungut pajak. Ini merupakan suatu ujian untuk me-nentukan apakah kita mengetahui bagaimana menerapkan wahyu dan visi tentang Kristus. Dalam pasal 16 Petrus me-nerima wahyu yang jelas dari Bapa surgawi tentang Kristus sebagai Anak Allah yang hidup. Sejak saat itu, Petrus sudah memastikan bahwa Kristus adalah Anak Allah yang hidup. Selanjutnya, di puncak gunung ia nampak Kristus yang di-manifestasikan sebagai Anak Allah yang hidup. Jadi, ia telah menerima wahyu dan juga telah nampak visi. Mempunyai wahyu tanpa visi itu mungkin. Apa yang Petrus terima dari Bapa surgawi dalam pasal 16 semata-mata hanya wahyu. Dalam pasal 17 ia nampak Anak Allah dimanifestasikan dan diekspresikan melalui Yesus orang Nazaret. Tidak ada yang lebih jelas daripada wahyu dan visi ini.

Namun Petrus harus diuji tentang penerapan wahyu dan visi. Menerima wahyu dan nampak visi adalah suatu hal, te-tapi menerapkan keduanya secara riil merupakan suatu hal lain. Sebagai umpama, kita semua mungkin menerima wahyu dari Galatia 2:20 bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus dan bahwa Kristus hidup di dalam kita. Boleh jadi bahkan yang terlemah di antara kita pun telah menerima wahyu ini. Namun ketika istri atau suami Anda mempersulit Anda, dapatkah Anda masih berkata, “Bukan aku lagi, melainkan Kristus?” Ketika Anda bersama istri atau suami Anda, wahyu mengenai “disalibkan bersama Kristus” dan “wahyu Kristus hidup di dalam Anda” mungkin lenyap. Sangat sedikit orang yang menerima wahyu ini dapat menerapkannya pada hal-hal yang riil dalam kehidupan sehari-hari mereka. Petrus mung-kin seperti ini. Ia mungkin berkata, “Aku telah menerima wahyu bahwa Yesus ialah Anak Allah yang hidup dan aku telah nampak Dia bertransfigurasi di atas gunung. Ini sangat jelas bagiku.” Boleh jadi Anda belum nampak visi ini, tetapi aku sudah. Bagi Petrus menerima wahyu dan nampak visi adalah sangat indah. Tetapi kini ia diuji oleh orang yang me-mungut pajak.

A. Konsepsi Alamiah Petrus

Ayat 24 mengatakan,Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut pajak Bait Allah kepada Petrus dan berkata, ‘Apakah gurumu tidak mem-bayar pajak sebesar dua dirham itu?’” Dua dirham adalah pajak orang Yahudi untuk bait, setara dengan setengah syi-kal (Kel. 30:12-16; 38:26). Ketika Petrus ditanyai demikian, ia segera menjawab, “Memang membayar.” Petrus tidak tahu bagaimana menerapkan wahyu dan visi itu sehingga ia ter-singkapkan. Di gunung pengubahan Petrus mendengar su-ara dari surga, yang menyuruhnya mendengarkan Kristus (17:5). Jika dia masih ingat perkataan itu, dia tentu me-nyampaikan pertanyaan pemungut pajak itu kepada Kristus, agar dia mendengar apa yang dikatakan-Nya. Tetapi dia menjawab tanpa mendengarkan apa yang akan dikatakan Kristus. Di atas gunung Petrus mendengar Bapa berkata, Ini-lah Anakku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Pada saat itu, Petrus terlalu banyak ber-bicara, dan ia ditegur karena itu. Sekarang ketika pemungut pajak bertanya kepadanya, apakah Tuhan membayar dua dirham, ia masih saja terlalu banyak bicara dan tidak ragu-ragu menjawab. Andaikata ia telah belajar, ia tentu akan berkata, “Tuan, biarlah aku pergi kepada-Nya dan mende-ngarkan Dia. Aku perlu bertanya kepada-Nya apakah Ia membayar dua dirham. Aku tidak berhak mengatakan apa pun.” Namun Petrus tidak menjawab sedemikian, sehingga tersingkapkan oleh ujian ini. Hal ini sama dengan kita hari ini. Setelah suatu sidang atau pelatihan, kita mungkin me-ngatakan bahwa kita takkan sama lagi. Tetapi saya meya-kinkan Anda bahwa setelah kembali ke rumah, Anda akan tetap sama. Namun, janganlah membiarkan hal ini menge-cewakan Anda.

B. Koreksi Kristus

Ayat 25-26 berkata,“Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan, ‘Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea atau pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?’ Jawab Petrus, ‘Dari orang asing.’ Lalu kata Yesus kepadanya, ‘Jadi, bebas-lah rakyatnya.’” Pemungut pajak datang kepada Petrus, sebab ia orang yang sangat menonjol, seperti “hidung” pada wajah kita. Si cepat, si pemberani adalah “hidung” dalam hidup ge-reja. Ketika gereja mengalami ujian, “si hidung” adalah ba-gian yang terkena luka lebih dulu sebab dialah yang pertama-tama terbentur. Karena terlalu menonjol, maka Petrus ter-libat dalam kesulitan. Setelah berkata kepada pemungut cukai bahwa Tuhan Yesus membayar dua dirham, Petrus masuk ke dalam rumah. Tetapi sebagaimana dikatakan da-lam ayat 25, Yesus “mendahuluinya”. Petrus sangat cepat, tetapi Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, Dia tidak mem-berinya kesempatan untuk berbicara. Di atas gunung Petrus diputus oleh suara dari surga, dan di rumah ia dihentikan oleh Tuhan. Petrus telah berbicara dengan sembrono. Karena itu, Tuhan menghentikan dia dan mengoreksinya sebelum dia mulai berbicara kepada-Nya.

Tuhan bertanya kepada Petrus, apakah raja-raja di dunia ini memungut pajak dari anak-anak mereka atau dari orang asing. Anak-anak raja selalu bebas dari membayar bea atau pajak. Dua dirham itu dibayar oleh umat Allah untuk bait-Nya. Karena Kristus adalah Anak Allah, Dia bebas dari membayar pajak itu. Ini berlawanan dengan jawaban Petrus mengenai perkara ini.

Petrus telah menerima wahyu tentang diri Kristus sebagai Anak Allah (16:16-17) dan telah melihat visi tentang Anak Allah (17:5). Kini dalam penerapan apa yang telah dilihatnya, dia diuji oleh pertanyaan pemungut pajak. Dari jawabannya dia gagal karena dia melupakan wahyu yang telah diterima-nya dan visi yang telah dilihatnya. Dia lupa bahwa Tuhan ada-lah Anak Allah, tidak perlu membayar pajak bagi rumah Bapa-Nya.

Ketika Tuhan bertanya kepada Petrus apakah raja-raja di dunia ini memungut pajak dari anak-anak mereka atau dari orang asing, Petrus menjawab, “Dari orang asing.” Seca-ra doktrin dan agama jawaban Petrus benar. Ketika Tuhan bertanya kepadanya, “Jadi bebaslah anaknya,” Petrus tentu terkejut. Tuhan seolah-olah berkata, “Petrus, apakah kamu lupa akan wahyu yang mengatakan Aku adalah Anak Allah? Di atas puncak gunung, kamu nampak Aku sebagai Anak Allah.” Dua dirham bukan pajak yang dibayarkan kepada pemerintah duniawi, melainkan dikumpulkan untuk maksud pengeluaran ongkos-ongkos Bait Allah, rumah Allah di bumi. Menurut Keluaran 30 dan 38, setiap orang Israel wajib mem-bayar dua dirham untuk merawat rumah Allah. Karena Yesus ialah Anak Allah, Dia tidak perlu membayar pajak ini. Ke-tika Tuhan berkata bahwa anaknya bebas, Dia menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah, bebas dari membayar pajak. Setelah mendengar demikian, Petrus tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia mungkin setuju dan berkata, “Me-mang benar, anak-anaknya bebas. Karena Engkau Anak Allah, Engkau bebas. Tuhan, aku menyesali jawabanku. Aku lupa wahyu dan visi itu. Aku menerima wahyu bahwa Engkau adalah Anak Allah. Tetapi ketika pencobaan datang, aku lupa semuanya. Tuhan, ampunilah aku.”

C. Keluwesan Kristus Sebagai Pemberi Hukum yang Hidup Menggantikan Musa

Ayat 27 mengatakan,“Tetapi supaya jangan kita mem-buat mereka gusar, pergilah memancing ke danau. Tang-kaplah ikan pertama yang kaupancing dan bukalah mulut-nya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” Setelah meyakinkan (menakluk-kan) Petrus bahwa Dia tidak perlu membayar dua dirham, Tuhan, sebagai Pemberi hukum Perjanjian Baru, Musa hari ini, memerintahkan Petrus untuk membayarkannya untuk Dia. Tuhan sengaja melakukan hal ini untuk mengajar Petrus bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, Dialah Yang unik. Musa, Elia, Petrus, atau orang lain, tidak berhak ber-bicara atau memberi perintah.

D. Penerapan Melalui Mukjizat yang

Dinubuatkan oleh Kristus sebagai Nabi yang Hidup Menggantikan Elia

Setelah menutup mulut Petrus, Tuhan, sebagai Nabi Perjanjian Baru, Elia hari ini, menyuruhnya memancing, dan dengan memancing, dia akan menemukan uang empat dirham. Nubuat ini tergenapi. Petrus pasti merasa sulit ke-tika disuruh memancing dan menunggu ikan yang mulutnya berisi uang empat dirham. Ketika Tuhan mengoreksi dan mengajar Petrus, Dia memperhatikan keperluannya. Begini-lah cara Tuhan dalam menanggulangi kita.

Ketika Petrus menjawab “bayar”, Tuhan mengatakan “tidak”. Tetapi ketika Petrus ditaklukkan bahwa Tuhan tidak perlu membayar pajak, Tuhan berkata bahwa Ia mau membayar. Boleh jadi Petrus hampir saja pergi ke pemu-ngut pajak dan memberi tahu mereka bahwa Tuhan tidak perlu membayar pajak. Petrus mungkin mempertimbangkan hal ini ketika Tuhan menyuruh dia memancing ikan dengan empat dirham yang ada dalam mulut ikan itu dan menggu-nakan empat dirham itu untuk membayar pajak. Pajak itu wajib dibayarkan agar tidak menjadi batu sandungan orang lain. Kita tidak dapat menundukkan Tuhan Yesus. Apa pun yang Dia katakan selalu benar, dan apa pun yang kita usul-kan selalu keliru. Kristus adalah Musa hari ini, Dia membu-at hukum Taurat. Jika Dia mengatakan benar, jawabannya benar, dan jika Ia mengatakan tidak, jawabannya tidak. Apa yang kita katakan tidak terhitung. Apa yang Dia katakan barulah terhitung. Makna visi di atas gunung ialah kita wajib mendengar Tuhan Yesus, bukan orang lain, termasuk diri kita sendiri. Kristus, bukan Musa, adalah satu-satunya orang yang mengatakan “ya” atau “tidak”. Terhadap perkara yang sama, Tuhan mungkin mengatakan “ya” kepada sese-orang, tetapi mengatakan “tidak” kepada Anda. Jika Ia ber-buat demikian, janganlah berdebat dengan Dia.

Ketika Petrus pergi memancing ikan untuk menemu-kan empat dirham, ia mendapat pelajaran. Tidakkah Anda mengira bahwa Petrus merasa sulit. Sekalipun Tuhan Yesus itu baik hati dan berbelaskasihan, yang takkan mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang bera-sap, Ia kadang-kadang menanggulangi kita secara keras. Ketika Tuhan menunjukkan kepada Petrus bahwa Dia mem-bayar pajak bait, Dia tidak mengambil dari saku-Nya, mengeluarkan empat dirham, dan memberikannya kepada Petrus. Seandainya Dia berbuat demikian, ini akan terlalu mudah bagi Petrus. Empat dirham telah disiapkan oleh Tuhan, tetapi Petrus harus memancing untuk itu. Saya ti-dak mengerti bagaimana perasaan Petrus pada waktu itu. Apakah ia merasa seperti hendak tertawa atau menangis? Saya yakin ketika Petrus memancing ikan, tentunya ia tidak gembira, tetapi sangat susah. Seandainya saya ini Petrus, saya akan berkata kepada Tuhan, “Tuhan jika Engkau da-pat menyediakan empat dirham dari mulut ikan, mengapa Engkau tidak langsung saja merogoh ke dalam saku-Mu dan memberikannya kepadaku? Mengapa Engkau begitu mere-potkan? Kini aku harus turun ke laut dan memancing. Bo-leh jadi akan datang badai ketika aku sedang memancing. Tuhan, jika Engkau ingin melakukan mukjizat, mengapa tidak melakukannya sekarang?” Namun, Petrus telah belajar banyak, dan kali ini, ia tidak berkata sepatah kata pun dan melakukan apa yang Tuhan katakan kepadanya.

Saya tidak percaya bahwa ikan datang segera. Sebalik-nya saya percaya bahwa Tuhan menggunakan kuasa ke-daulatan-Nya untuk menjauhkan ikan sejangka waktu. Sebab itu Petrus menunggu tanpa tanda seekor ikan pun. Ketika ia sedang menunggu, ia mungkin menegur dirinya dan berkata, “Mengapa aku menjawab begitu cepat? Aku seharusnya jangan menghadapi para pemungut cukai itu. Yakobus dan Yohanes tidak terlibat dalam kesulitan. Tetapi karena aku begitu berani dan begitu cepat, aku menyulitkan diriku sen-diri.” Pada akhirnya ikan itu muncul dengan empat dirham dalam mulutnya. Ini cukup buat Tuhan dan Petrus.

Catatan ini amat sederhana, tetapi kisahnya berlimpah dalam penerapannya. Kisah ini menyiratkan bahwa Kristus adalah Nabi, sebab itu Ia memberi tahu Petrus untuk pergi memancing dan ikan yang pertama didapat berisi empat dir-ham dalam mulutnya. Bukankah itu suatu nubuat? Nubuat Tuhan itu riil, dan terbukti tepat seperti yang Dia katakan. Sebab itu, pengalaman Petrus di sini merupakan suatu bukti bahwa Tuhanlah Elia yang sejati dan kita wajib mendengar-kan Dia. Kisah ini pun menyiratkan bahwa Tuhan adalah Musa hari ini. Bukan tergantung kita mengatakan “ya” atau “tidak”, melainkan seluruhnya tergantung kepada-Nya. Kita semata-mata hanya perlu melakukan apa yang Dia katakan. Di samping itu, kita tidak boleh melakukan apa yang tidak Dia perintahkan untuk dilakukan.

Melalui peristiwa ini Petrus diuji agar ia dapat menge-tahui bagaimana menerapkan wahyu dan visi tentang Kristus. Melalui pengalaman ini, ia mulai belajar apa yang diartikan “mendengarkan” Dia. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu mendengar Musa atau Elia, melainkan mendengarkan Dia. Bagi kita hari ini, Kristus ialah Musa dan Elia kita. Dialah Pemberi hukum dan Nabi kita masa kini dan yang hidup. Apa pun yang Dia katakan, itulah hukum Taurat, hukum Taurat hayat. Tambahan pula, apa pun yang Dia ka-takan adalah nubuat hari ini untuk menghadapi situasi kita yang sekarang secara riil. Ini bukan hanya suatu kisah, melainkan suatu pelajaran bagi Petrus dan bagi kita.