← Daftar isi Matius (3) · bab 16/19

MINIATUR MANIFESTASI KERAJAAN

Catatan Matius 13:53—17:8 menggambarkan jalan untuk mengikuti Raja surgawi, mulai dari penolakan sampai me-masuki manifestasi kerajaan. Para pengikut-Nya bukan ha-nya berbagian dalam penolakan atas diri-Nya yang dilaku-kan oleh orang Yahudi (13:53-58), tetapi juga dianiaya dan bahkan mati martir karena politik bangsa-bangsa bukan Yahudi (14:1-12). Mereka semula berada di padang gurun ber-sama-Nya dalam keadaan yang miskin, tetapi mereka dengan limpah diperhatikan oleh-Nya (14:13-21). Ketika mereka ber-ada di laut yang bergelombang di bawah angin sakal, Dia berjalan di atas laut, meneduhkan badai, dan membawa me-reka melaluinya (14:22-34). Pada saat itu, banyak orang sakit disembuhkan dengan menjamah diri-Nya (14:35-36), tetapi para penyembah Allah yang munafik datang mengganggu-Nya karena para pengikut-Nya melanggar tradisi mereka (15:1-20). Kemudian murid-murid-Nya mengikuti-Nya ke daerah bangsa-bangsa lain, tempat seorang yang dirasuk se-tan disembuhkan (15:21-28). Setelah itu, mereka mengikuti-Nya sepanjang pantai Laut Galilea dan naik ke gunung, tempat orang sakit macam apa pun disembuhkan dan ke-perluan para pengikut-Nya serta orang banyak kembali di-sediakan dengan limpah di padang gurun yang gersang (15:29-39). Setelah itu, kaum fundamentalis dan kaum mo-dernis pada saat itu datang untuk mencobai Dia, dan Dia menunjukkan bahwa Dia akan mati sebagai satu tanda yang unik bagi mereka (16:1-4). Kemudian Dia menasihati para pengikut-Nya untuk berhati-hati terhadap ragi dari kaum fundamentalis dan kaum modernis (16:5-12). Sesudah itu, Dia membawa para pengikut-Nya ke perbatasan tanah kudus, de-kat dengan tanah kafir, agar mereka memiliki wahyu tentang diri-Nya, tentang gereja, dan tentang salib sebagai jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam kerajaan (16:13-28). Akhir-nya, Dia membawa mereka masuk ke dalam kemuliaan da-lam manifestasi kerajaan (17:1-8). Dalam berita ini kita akan nampak bahwa transfigurasi Tuhan ialah sebuah miniatur kerajaan (16:28-17:13).

Jika kita membandingkan semua hal di atas dengan pengalaman kita, kita akan nampak bahwa jalan kita hari ini tepat sama seperti yang diwahyukan dalam 13:53—17:8. Pada jalan menuju kemuliaan, kita menghadapi penolakan, angin ribut, dan tuduhan-tuduhan. Kita mengalami makan, waspada terhadap ragi, dan mempunyai wahyu Kristus dan gereja. Lagi pula kita menempuh jalan salib serta menyang-kal diri dan hayat jiwa. Inilah langkah kita di sepanjang jalan menuju kemuliaan.

Matius 13:53—17:8 ialah bagian doktrin yang ajaib. Tiga puluh empat tahun yang lalu, saya memberitakan bagian firman ini di Shanghai. Saya baru saja tiba di sana sebagai pendatang baru dalam pekerjaan dengan Saudara Watchman Nee. Saya diminta memberitakan pada suatu Minggu pagi. Kemudian saya menerima beban untuk melayani dalam judul jalan menuju kemuliaan. Saya minta hadirin membaca le-bih dari tiga pasal Injil Matius, dari akhir pasal 13 sampai dengan bagian pertama pasal 17. Kemudian saya menyam-paikan pemberitaan panjang seturut pasal-pasal ini. Hampir semua butir dalam berita itu sama dengan yang tercakup dalam berita pada jalan menuju kemuliaan ini. Sekalipun saya belum pernah nampak perkara makan, tetapi struktur berita itu sama dengan berita ini. Betapa ajaibnya berada pada jalan menuju kemuliaan. Saya dapat bersaksi bahwa selama empat puluh empat tahun yang lalu saya telah me-nempuh setiap jengkal jalan ini. Saya mengalami penolakan, kekurangan dalam keperluan materi, badai, dan tuduhan-tuduhan. Di samping itu, saya telah nampak wahyu tentang Kristus dan gereja. Karena saya telah berjalan pada jalan ini sangat lama, maka di satu aspek, saya telah masuk ke dalam kemuliaan. Orang lain selain kita juga sudah berada dalam kemuliaan atau amat dekat dengan kemuliaan. Seka-lipun beberapa di antara kita mungkin dalam kemuliaan, kita masih berada pada jalan menuju ke tingkat kemuliaan yang lebih besar. Kita semua perlu tetap berjalan pada jalan ini sampai Tuhan kembali.

I. KERAJAAN TELAH DATANG

Matius 16:28 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang ti-dak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia da-tang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Ini digenapi dengan transfigurasi Tuhan di gunung (17:1-2). Transfigurasi-Nya adalah kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya. Hal ini dilihat oleh tiga orang murid-Nya, Petrus, Yakobus, dan Yohanes.

II. KRISTUS BERTRANSFIGURASI DI ATAS GUNUNG YANG TINGGI

Matius 17:1 mengatakan, “Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi.” Karena transfigurasi Tuhan terjadi enam hari setelah wahyu tentang Kristus dan gereja dalam pasal 16 (diberikan di kaki Gunung Hermon), gunung tinggi di sini tentu Gunung Hermon. Untuk menerima wahyu tentang Kristus dan gereja, kita harus jauh dari lingkungan yang agamawi, tetapi un-tuk melihat visi tentang transfigurasi Kristus, kita perlu berada di gunung yang tinggi, jauh melampaui permukaan bumi.

Ayat 2 mengatakan, “Lalu Yesus berubah rupa di de-pan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.” Tidak banyak orang Kristen mengetahui bahwa transfigurasi (perubahan rupa) Kristus adalah kedatangan-Nya dalam ke-rajaan-Nya. Pada masa lampau telah saya tunjukkan bahwa kedatangan Tuhan tidak akan terjadi sekonyong-konyong, sebaliknya akan berangsur-angsur datang. Dalam suatu arti Tuhan akan kembali dari surga, tetapi dalam arti lain, Ia akan keluar dari diri kita. Ketika Ia dengan sepenuhnya mem-perhidupkan diri-Nya dari diri kita, itulah saat kedatangan-Nya. Menurut Matius 17:1 dan 16:28, kedatangan-Nya adalah transfigurasi-Nya, dan transfigurasi-Nya adalah kemu-liaan-Nya. Ketika Ia bertransfigurasi, Ia dimuliakan.

Kini kita harus nampak apa arti dimuliakan. Ketika Kristus yang adalah Allah menjadi seorang manusia, keila-hian-Nya tersembunyi dalam keinsanian-Nya. Ia seorang yang unik, Seorang yang memiliki baik keilahian maupun kein-sanian. Keilahian-Nya tersembunyi dalam keinsanian-Nya. Secara lahiriah, Ia seorang manusia, tetapi secara batiniah Ia adalah Allah yang sejati. Allah tersembunyi, terisi, tersim-pan dalam orang ini. Kemuliaan adalah Allah termanifes-tasikan, Allah terekspresikan. Kemuliaan tidak lain adalah Allah termanifestasikan dan terlihat oleh manusia. Allah yang tersembunyi di dalam insani Yesus itulah kemuliaan. Jadi, unsur ilahi yang mulia tersembunyi di dalam unsur insani Yesus. Ketika Ia hidup di atas bumi, tidak seorang pun nampak keilahian-Nya yang mulia. Banyak yang nampak mukjizat dan mengetahui bahwa Ia seorang yang luar biasa, tetapi sebelum transfigurasi-Nya, tak seorang pun pernah nampak kemuliaan yang tersimpan di dalam-Nya. Pada suatu hari, Ia membawa tiga di antara murid-Nya yang paling dekat untuk naik ke atas gunung yang tinggi dan di sana Ia bertransfigurasi di depan mereka. Tuhan Yesus bertransfi-gurasi berarti insani-Nya terbaur dan teresapi oleh keilahian-Nya. Kita boleh mengatakan bahwa insani-Nya dijenuhi de-ngan keilahian. Transfigurasi ini adalah kemuliaan-Nya, sama dengan kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa kedatangan Kristus dalam kerajaan-Nya berhubungan dengan transfigurasi-Nya. Di mana terdapat transfigurasi-Nya, di sanalah datangnya kerajaan. Datangnya kerajaan ialah kemuliaan Tuhan, transfigurasi-Nya; kemulian-Nya ada-lah dijenuhinya keinsanian-Nya oleh keilahian-Nya. Inilah arti transfigurasi. Karena Tuhan telah bertransfigurasi, Ia kini di dalam kemuliaan.

Dalam transfigurasi Kristus, keinsanian-Nya dipermu-liakan, dibawa ke dalam kemuliaan Allah. Sebelum saat itu, Allah ada di dalam-Nya, tetapi keinsanian-Nya tidak di dalam kemuliaan Allah. Dalam transfigurasi-Nya seluruh insani-Nya dijenuhi oleh keilahian-Nya yang mulia. Dalam manifestasi kerajaan yang akan datang, Kristus akan sede-mikian. Ia adalah Kristus dengan keilahian dan keinsanian, tetapi keinsanian-Nya akan diresapi oleh keilahian-Nya.

Hari itu akan tiba ketika kita tidak hanya nampak hal ini, tetapi juga mengalaminya sendiri. Kita kini mempunyai hayat ilahi dengan sifat ilahi di dalam kita. Namun, kita masih mempunyai sifat insani yang alamiah. Tidak peduli betapa rohani dan kudusnya kita, insani kita tetap alamiah, belum dijenuhi oleh kemuliaan ilahi. Tetapi pada saat mani-festasi kerajaan, keinsanian kita akan dipermuliakan dengan keilahian yang mulia di dalam kita.

Boleh jadi para penentang akan menggolongkan ini se-bagai evolusi ke dalam Allah. Tetapi ini bukan evolusi ke dalam Allah, melainkan kemuliaan. Para penentang perlu membaca Roma 8:30: “Mereka yang ditentukan-Nya dari se-mula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipang-gil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Saya ingin bertanya kepada para penentang bagaimana mereka mengartikan kata dimuliakan. Apakah mereka mengira bah-wa dipermuliakan hanyalah masuk ke wilayah kemuliaan? Itu pengertian kemuliaan yang dangkal sekali. Dimuliakan ialah dibaurkan dengan kemuliaan Allah, bukan dari luar, melainkan dari dalam. Pada suatu hari kita akan menjadi kejutan yang besar bagi orang-orang yang tidak beriman. 2 Tesalonika 1:10 berkata, “Apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudus-Nya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya.” Orang yang tak beriman akan tercengang oleh kemuliaan kita, sebab da-lam insani kita, kita sama dengan kaum tak beriman, mereka tidak dapat nampak perbedaan kita dengan mereka. Tetapi bila hari itu tiba mereka akan nampak perbedaan yang mu-lia, sebab keinsanian kita akan dijenuhi dengan keilahian dan kita akan menjadi umat yang mulia. Kita tidak hanya rohani, kudus, murni, dan bersih. Kita akan mulia. Inilah kerajaan yang akan datang. Kita sedang menunggu hal ini terjadi.

III. MUSA DAN ELIA MEWAKILI PARA

PEMENANG PERJANJIAN LAMA,

YANG AKAN BERADA DALAM MANIFESTASI KERAJAAN

Ayat 3 mengatakan, “Lalu tampaklah kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.” Musa dan Elia mewakili para pemenang Perjanjian Lama yang akan berada dalam manifestasi kerajaan. Mereka berdua muncul dalam ke-rajaan yang akan datang, berarti mereka hadir dalam mani-festasi kerajaan.

IV. PETRUS, YAKOBUS, DAN YOHANES

MEWAKILI PARA PEMENANG

PERJANJIAN BARU YANG AKAN BERADA

DALAM MANIFESTASI KERAJAAN

Dalam miniatur manifestasi kerajaan bukan hanya terdapat para pemenang Perjanjian Lama, tetapi juga para pemenang Perjanjian Baru yang diwakili oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Dalam manifestasi ini kita mempunyai sekilas pandang tentang manifestasi penuh kerajaan di masa yang akan datang.

V. MUSA DAN ELIA MEWAKILI

HUKUM TAURAT DAN NABI-NABI, SALAH

BESAR BILA MEREKA DISEDERAJATKAN

DENGAN KRISTUS

Musa mati dan Allah menyembunyikan tubuhnya (Ul. 34:5-6); Elia diangkat oleh Allah ke surga (2 Raj. 2:11). Allah sengaja melakukan dua hal ini agar Musa dan Elia dapat me-nampakkan diri bersama Kristus di gunung pengubahan-Nya. Mereka dipelihara oleh Allah supaya dapat menjadi dua orang saksi dalam kesusahan besar (Why. 11:3-4). Musa mewakili hukum Taurat dan Elia mewakili nabi-nabi. Hukum Taurat dan para nabi adalah unsur yang menyusun Perjanjian Lama sebagai kesaksian yang lengkap dari Kristus (Yoh. 5:39). Kini Musa dan Elia menampakkan diri dan bercakap-cakap dengan Kristus mengenai kematian-Nya (Luk. 9:31) menurut Perjan-jian Lama (Luk. 24:25-27, 44; 1 Kor. 15:3).

Kita telah menunjukkan bahwa Allah menyembunyikan tubuh Musa dan tubuh Elia ke surga, namun Elia tidak di-bawa ke surga tingkat tiga. Kisah Para Rasul 2:34 menunjuk-kan bahwa terpisah dari Kristus, tidak seorang pun naik ke surga. Maka, Elia bukan berada di surga ketiga. Allah me-nyembunyikan tubuh Musa dan memelihara Elia sampai pada hari transfigurasi Kristus. Ketika Kristus bertransfigurasi, kedua orang ini tertampak bersama Dia.

Dalam ayat 4 Petrus berkata, “Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudi-rikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ini menunjukkan bahwa Petrus menge-nal Musa dan Elia. Boleh jadi Anda heran bagaimana Petrus mengenal mereka. Dalam percakapan Tuhan dengan Musa dan Elia pasti terdapat suatu petunjuk dari ciri-ciri mereka yang memungkinkan Petrus mengenal mereka. Petrus mung-kin berkata, “Ini Musa dan ini Elia! Alangkah gembira aku nampak engkau! Oh, betapa indahnya kita berada di sini!”

A. Konsepsi Alamiah Petrus

Dalam kegembiraannya, Petrus mengusulkan hal yang mustahil. Ia mau membuat tiga kemah, satu untuk Tuhan, satu untuk Musa dan satu lagi untuk Elia. Usul Petrus yang mustahil itu berarti menempatkan Musa dan Elia pada ting-kat yang sama dengan Kristus, yaitu dia menjadikan hukum Taurat dan para nabi setara dengan Kristus. Ini mutlak ber-tentangan dengan ekonomi Allah. Dalam ekonomi Allah, hu-kum Taurat dan para nabi hanyalah suatu kesaksian Kristus; tidak seharusnya ditempatkan pada tingkat yang sama dengan Dia.

B. Wahyu Bapa

Ayat 5 mengatakan, “Tiba-tiba sementara ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari da-lam awan itu terdengar suara yang berkata, ‘Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.’” Pernyataan Bapa yang diberikan untuk menegaskan Anak, diucapkan untuk kali pertama setelah Kristus keluar dari baptisan, yang melambangkan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Ini adalah kali kedua Bapa menyatakan hal ini, kali ini untuk menegaskan Anak dalam transfigurasi-Nya, yang melambangkan kerajaan yang akan datang. Dalam ekonomi Allah, setelah Kristus datang, kita harus mendengarkan Dia; kita tidak seharusnya mendengarkan hukum Taurat atau para nabi, karena hukum Taurat dan para nabi sudah digenapi di dalam dan oleh Kristus.

C. Tidak Melihat Lain Kecuali Kristus

Ketika murid-murid mendengar suara dari dalam awan, “tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat keta-kutan” (ayat 6). Setelah Tuhan Yesus datang kepada mereka, Dia menjamah mereka dan berkata, “Berdirilah, jangan ta-kut!” mereka baru mengangkat kepala, “tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri” (ayat 8). Petrus mengusulkan untuk menempatkan Musa dan Elia, yaitu hukum Taurat dan para nabi, bersama Kristus, tetapi Allah menyingkirkan Musa dan Elia, tidak meninggalkan seorang pun selain Yesus sendiri. Hukum Taurat dan para nabi adalah bayangan dan nubuat, bukan realitasnya. Realitasnya adalah Kristus. Kini, karena Kristus, realitasnya ada di sini, bayangan dan nubu-at tidak diperlukan lagi. Tidak ada seorang pun selain Yesus sendiri yang boleh tinggal dalam Perjanjian Baru. Yesus adalah Musa hari ini. Sebagai Musa, Dia memberikan hukum hayat ke dalam kaum beriman-Nya. Yesus juga Elia hari ini. Sebagai Elia, Dia berbicara bagi Allah dan menyampai-kan Allah ke dalam kaum beriman-Nya. Inilah ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Allah menyingkirkan Musa dan Elia sebab Ia tidak mau umat-Nya menyejajarkan seseorang setaraf dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Karena itu, ketika murid-murid nampak Tuhan Yesus, mereka tidak nampak yang lain kecuali Dia sendiri. Ini suatu pelajaran bagi mereka. Dalam Kerajaan Allah, Allah tidak bisa membiarkan hukum Taurat atau para nabi disamakan dengan Kristus. Karena kerajaan telah datang, seharusnya tidak ada yang lain kecuali Kristus.

Dalam ekonomi Allah hari ini, Kristus adalah pemberi Taurat yang hidup, Dia adalah pemberi Taurat yang me-nyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Jadi, Kristus adalah Musa yang sejati; Musa adalah lambang, bayangan Kristus. Hukum Taurat yang Musa berikan bukan hukum Taurat sejati, me-lainkan hukum Taurat dari huruf-huruf yang mati. Hukum Taurat yang sejati ialah hukum Taurat hayat, dan hanya Kristus yang mampu memberikannya kepada kita, karena Ia telah memberi kita hukum Taurat hayat, maka Dia adalah pemberi hukum Taurat yang sejati. Lagi pula, dalam ekono-mi Allah Kristus adalah nabi yang sejati. Elia juga lam-bang, bayangan Kristus yang adalah nabi sejati (Kis. 3:22). Kristus yang ada di dalam kita tidak hanya menyalurkan hukum hayat kepada kita, tetapi juga berbicara bagi Allah. Kristus membicarakan Allah. Karena kita mempunyai Kristus sebagai Musa yang sejati dan Elia yang sejati, maka kita ti-dak perlu Musa atau Elia yang lain dalam ekonomi Perjan-jian Baru Allah.

Ketika kita sedang menunggu kerajaan yang akan da-tang, kita harus belajar tidak menyamakan Musa, Elia, atau orang lain setaraf dengan Kristus. Sebaliknya kita perlu bel-ajar mengalami Kristus sebagai Musa dan Elia kita. Dialah yang menyalurkan hukum hayat ke dalam kita. Dengan per-kataan lain, sebagai Musa kita masa kini, sejati, dan subyektif, Ia melarang kita dari dalam. Lagi pula Ia pun sebagai Elia kita yang sekarang dan subyektif yang terus berbicara bagi Allah dan membicarakan Allah di dalam kita. Kita harus mendengarkan Dia.

Setelah Tuhan bertransfigurasi di hadapan murid-murid, Petrus mungkin merasa gembira juga sedih. Ia mungkin me-rasa sedih karena ditegur. Ditegur dalam situasi yang begitu mulia adalah perkara yang serius. Ketika setiap orang me-nikmati saat yang menyenangkan, Petrus mengatakan hal yang tidak masuk akal dan karenanya ia ditegur. Mungkin Yakobus dan Yohanes berkata kepadanya, “Petrus, kamu selalu berbuat demikian. Boleh jadi sekarang kamu telah mendapat pelajaran. Ketika kita menikmati saat indah ber-sama Tuhan Yesus di atas gunung, kamu berkata yang bukan-bukan sehingga kamu ditegur, dan kami pun ikut kena batunya bersamamu. Kami takkan kena batu, jika kamu tidak kena batu lebih dulu. Hal semacam ini jangan kamu ulangi lagi.”

VI. MANIFESTASI KERAJAAN DIRAHASIAKAN

Ayat 9 mengatakan, “Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, ‘Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada siapa pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.’” Visi tentang Yesus yang ditransfigurasi dan dimuliakan dapat terlihat dengan jelas hanya dalam kebangkitan Kristus. Di sini kita nampak prinsip bahwa manifestasi kerajaan hanya dapat diwahyukan dalam kebangkitan. Setiap orang yang tidak ber-ada dalam kebangkitan tidak bersyarat melihat Dia. Jika ki-ta percaya akan kebangkitan dan hidup dalam kebangkitan, kita akan berada dalam kemuliaan, sekalipun manifestasi kerajaan belum datang. Jika kita hidup dan berperilaku da-lam kebangkitan, kita akan merasa bahwa kita berada da-lam kemuliaan dan kita dapat nampak manifestasi kerajaan yang mulia. Jadi, manifestasi kerajaan hanya dapat diwah-yukan kepada mereka yang ada dalam kebangkitan. Karena itu, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid agar jangan mem-bicarakan kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya.

VII. YOHANES PEMBAPTIS ADALAH ELIA

YANG DATANG SEBELUM KERAJAAN

Dalam ayat 10 murid-murid Tuhan bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Masalah Elia datang lebih dulu sesuai dengan Maleakhi 4:5-6. Dalam ayat 11 Tuhan menja-wab, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala se-suatu.” Ini akan digenapi pada saat kesusahan yang besar, ke-tika Elia menjadi salah satu di antara dua orang saksi (Why. 11:3-4), seperti yang dinubuatkan dalam Maleakhi 4:5-6. Dalam ayat 12 Tuhan melanjutkan, “dan Aku berkata kepa-damu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Ini meng-acu kepada Yohanes Pembaptis (ayat 13), yang datang da-lam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:13-17), ditolak (11:8) dan di-penggal (14:3-12).

Murid-murid mempunyai masalah agama. Mereka se-olah-olah berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, kerajaan-Mu telah datang, dan kita telah melihatnya. Tetapi Alkitab mem-beri tahu kita bahwa Elia akan muncul sebelum kerajaan datang. Kita nampak Engkau dalam kerajaan-Mu, tetapi Elia belum muncul. Bagaimana hal ini dapat berlaku demikian?” Murid-murid terganggu sebab mereka mempunyai pengeta-huan tentang teori-teori Alkitab. Andaikata saya seorang di antara mereka, saya akan menanyakan hal yang sama. Ber-lawanan dengan usul Petrus yang tidak masuk akal di atas gunung, pertanyaan murid-murid itu masuk akal. Sering kali ketika kita dalam situasi yang mulia, kita melakukan perkara yang mustahil. Tetapi setelah kita menjadi terang dan jelas, kita sangat masuk akal.

Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid bahwa Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu (ayat 11). Per-kataan ini menunjukkan bahwa kerajaan itu belum sepenuh-nya datang. Pada masa yang akan datang akan terdapat manifestasi penuh kerajaan. Sebelum itu, Elia akan datang. Di satu pihak ia telah datang, tetapi di pihak lain ia belum datang sepenuhnya. Yohanes Pembaptis adalah Elia, tetapi ia bukan Elia sepenuhnya. Kedatangan Elia yang sepenuhnya akan terjadi pada masa yang akan datang. Elia yang telah datang sudah ditolak dan dibunuh. Murid-murid mengerti bahwa Tuhan membicarakan Yohanes Pembaptis. Sama seperti transfigurasi Kristus yang merupakan datangnya kera-jaan, tetapi tidak sepenuhnya, demikian juga kedatangan Yohanes Pembaptis ialah kedatangan Elia, tetapi bukan ke-datangannya yang penuh. Sebelum kedatangan kerajaan sepenuhnya, Elia akan datang.

Dalam Alkitab, penggenapan nubuat sering kali seperti ini. Pertama-tama penggenapan sebagian, kemudian pengge-napan sepenuhnya. Prinsipnya sama benar dengan pengalaman kita dalam kemuliaan. Selama bertahun-tahun yang lalu, saya mengalami berada dalam kemuliaan, tetapi pengalaman ini belum penuh. Pada saat manifestasi penuh kerajaan Kristus, kita semua akan sepenuhnya masuk ke dalam kemu-liaan. Tetapi hari ini kita nampak sebuah miniatur mani-festasi kerajaan yang akan datang melalui transfigurasi Kristus. Miniatur itu meyakinkan kita bahwa manifestasi penuh pasti akan datang.