JALAN MENUJU KEMULIAAN (7)
Pada jalan menuju kemuliaan kita mengalami penolakan, kekurangan atas keperluan, angin sakal (badai laut), dan tuduhan dari agama, kemudian kita belajar bagaimana makan Kristus. Hasil makan Kristus adalah penyembuhan bagi kemuliaan Allah, kemudian makan secara korporat, peringatan tentang ragi, dan wahyu yang jelas tentang Kristus dan gereja. Dalam berita ini kita melihat pos terakhir dari jalan menuju kemuliaan, yaitu jalan salib. Setelah kita bel-ajar bagaimana makan Kristus dan waspada terhadap ragi agama serta berada di bawah langit yang cerah, barulah wahyu Kristus dan gereja itu dapat diberikan. Banyak di an-tara kita bisa bersaksi bahwa sebelum kita tiba ke tempat itu, wahyu Kristus dan gereja belum datang. Wahyu itu ha-nya datang di Kaisarea Filipi. Kita makan Kristus bukan hanya sebagai remah-remah tetapi juga secara korporat sebagai suplai hayat yang kaya, tak terbatas, dan takkan asat. Sete-lah itu, kita dapat nampak wahyu Kristus dan gereja. Jadi, ada tiga perkara yang utama: kita tahu bagaimana makan Kristus dan menikmati suplai Kristus yang kaya yang tidak akan habis; kita dibersihkan dari semua ragi agama; dan kita berada di Kaisarea Filipi di bawah langit yang cerah. Di sini kabut dilenyapkan. Kita tidak seharusnya tinggal dalam situasi di mana terdapat kabut agama. Jika kita tetap berada di tempat semacam itu, kita tidak akan nam-pak wahyu yang diberikan di Kaisarea Filipi. Haleluya, kita mempunyai suplai yang kaya, langit yang cerah dan tidak berkabut! Sebab itu kita nampak visi Kristus dan gereja.
XI. MENEMPUH JALAN SALIB
Banyak guru Kristen telah nampak hubungan antara Matius 16:13-20 dan 16:21-28, hubungan antara bagian firman mengenai Kristus dan gereja, dan mengenai jalan salib. Untuk mengalami Kritus dan mempunyai gereja yang terbangun atas Kristus, kita perlu menempuh jalan salib. Kristus itu Pelopor, Pembuka jalan dalam menempuh jalan salib. Inilah jalan unik bagi Kristus untuk dibebaskan dan itu pula jalan unik bagi gereja untuk dibangunkan dengan Kristus dan di atas Kristus.
A. Kristus Pergi ke Yerusalem untuk Menderita Penyaliban dan Dibangkitkan
Ayat 21 mengatakan,“Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Setelah wahyu tentang ra-hasia besar mengenai Kristus dan gereja, wahyu tentang penyaliban dan kebangkitan Kristus disingkapkan. Dalam ayat 21 Tuhan pertama-tama mewahyukan kepada murid-murid-Nya penyaliban dan kebangkitan-Nya. Sebelum ini, Ia tidak pernah menyinggung apa pun tentang hal-hal ini. Setelah wahyu Kristus dan gereja, Tuhan Yesus mewahyukan ke-pada murid-murid yang diterangi-Nya tentang penyaliban dan kebangkitan-Nya. Hal ini sangat bermakna. Sesudah kita nampak Kristus dan gereja, kita harus bersiap-siap menem-puh jalan salib. Anda mungkin tidak tahu apa jalan salib itu. Menempuh jalan salib ialah tidak mengacuhkan ego kita se-dikit pun. Tidak peduli betapa baik, benar, atau bergunanya Anda, Anda perlu disalibkan. Bagi kenikmatan atas Kristus dan pembangunan atas gereja, kita harus disalibkan. Tidak ada sesuatu pun dari diri kita yang boleh tetap tinggal.
Dalam ayat 21 Tuhan Yesus membicarakan baik penya-liban-Nya maupun kebangkitan-Nya. Murid-murid mengerti hal penyaliban, tetapi mengabaikan hal kebangkitan. Murid-murid mendengar bahwa Tuhan harus dibunuh, tetapi mere-ka agaknya tidak mendengar bahwa Ia akan dibangkitkan; padahal Tuhan menyatakan bahwa Ia akan dibangkitkan pada hari ketiga. Mereka tidak mengerti bagian firman Tuhan ini, sebab mereka tidak mempunyai konsepsi kebangkitan. Di dalam mereka terdapat ketakutan bahwa Tuhan Yesus akan dibunuh. Karena itu ketika Tuhan membicarakan tentang kebangkitan-Nya, murid-murid tidak memahaminya. Sama halnya dengan kita hari ini. Kita segera saja menerima berdasarkan konsepsi kita. Tetapi jika sesuatu hal tidak berhubungan dengan apa yang telah ada di dalam kita, kita tidak menerimanya. Sebagian orang bertanya mengapa da-lam perkataan saya, sesuatu hal saya ulangi berkali-kali. Meskipun saya mengulangi hal-hal tertentu berkali-kali, ada sebagian orang yang masih tidak memahaminya. Sekali lagi saya katakan, walau Tuhan Yesus mengatakan dua masalah, penyaliban dan kebangkitan, murid-murid hanya memahami yang pertama, tetapi tidak yang kedua.
B. Iblis Menghalang-halangi Kristus
Melalui Konsepsi Alamiah Petrus
Ayat 22 mengatakan,“Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, ‘Tuhan, ki-ranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.’” Perkataan Petrus menunjukkan bah-wa orang alamiah tidak pernah mau menerima salib. Petrus pemberani dan baik hati kepada Tuhan. Tanpa Petrus, kita tidak akan mempunyai begitu banyak wahyu. Melalui ke-beraniannya membuat kesalahan, dia banyak memberi kita wahyu. Di sini Petrus cukup berani menegur Tuhan. Ketika Petrus menegur Tuhan, ekspresinya mungkin adalah ekspresi Iblis. Perkataan Petrus — “Tuhan, kiranya Allah menja-uhkan hal itu!” — kedengaran-Nya sangat baik, tetapi sebe-narnya adalah suatu teguran. Petrus merasa kesal mengenai akan terbunuhnya Tuhan. Karena itu ia sepenuhnya berada di dalam dirinya sendiri, sesungguhnya ia menegur Tuhan Yesus.
Dalam ayat 23 kita nampak tanggapan Tuhan: “Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, ‘Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.’” Kristus mengetahui bahwa bukan Petrus, melainkan Iblis yang mencegah-Nya memikul salib. Ini mewahyukan bahwa manusia alamiah kita, yang tidak mau memikul salib, bersatu dengan Iblis. Ketika kita menga-rahkan pikiran kita tidak kepada hal-hal Allah, melainkan kepada hal-hal manusia, kita menjadi iblis, batu sandungan bagi Tuhan pada perjalanan-Nya menggenapkan tujuan Allah.
C. Mengikuti Kristus dengan Menyangkal Diri dan Memikul Salib
Ayat 24 mengatakan,“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus me-nyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.’” Di sini Tuhan mengatakan tentang menyangkal diri. Menyangkal diri (ego) kita adalah melepaskan hayat jiwa kita, hayat alamiah kita (ayat 26; Luk. 9:25).
Dalam ayat 25 Tuhan melanjutkan: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawa-nya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Dalam ayat 23-25 ada tiga hal yang saling berhubungan: pikiran, diri (ego), dan hayat jiwa. Pikiran kita adalah ekspresi dari diri (ego) kita, dan diri kita adalah perwujudan hayat jiwa kita. Hayat jiwa kita terwujud dan diperhidupkan oleh diri kita, dan diri kita dinyatakan me-lalui pikiran kita, pemikiran kita, konsepsi kita, dan opini kita. Bila kita meletakkan pikiran kita bukan pada hal-hal Allah, melainkan pada hal-hal manusia, pikiran kita menyerap ke-sempatan untuk bertindak dan menyatakan dirinya. Inilah yang terjadi pada Petrus. Karena itu, perkataan selanjutnya dari Tuhan menunjukkan bahwa Petrus harus menyangkal dirinya yaitu tidak menyelamatkan hayat jiwanya, melainkan kehilangan hayat jiwanya. Kehilangan hayat jiwa adalah realitas menyangkal diri. Itulah yang disebut memikul salib.
Sesungguhnya, dalam ayat-ayat ini ada empat hal yang saling berhubungan: Iblis, pikiran, diri, dan hayat jiwa. Berita ini terutama menyangkut keempat hal ini, yang dimulai de-ngan pikiran dan akhirnya berkesimpulan dengan Iblis. Pi-kiran adalah ekspresi diri (ego), dan diri adalah perwujudan hayat jiwa. Hayat jiwa diperhidupkan melalui diri, dan diri di-ekspresikan melalui pikiran. Apa yang dipikirkan atau diper-timbangkan oleh pikiran ialah opini, ide atau konsepsi. Opini pikiran, konsepsi, atau ide, adalah ekspresi ego, perwujudan hayat jiwa. Hayat jiwa terwujudkan dalam diri, sama seperti Bapa terwujudkan dalam Putra. Hayat jiwa itu seumpama Bapa, diri seumpama Putra, dan pikiran seumpama Roh. Jadi, di sini kita mempunyai ketritunggalan pikiran, diri, dan hayat jiwa.
Hayat jiwa itu sumbernya, terwujud dalam diri, dan terekspresi dalam pikiran. Mungkin Anda sebelumnya tidak pernah memikirkan bahwa pikiran Anda adalah ekspresi diri Anda. Jika Anda nampak akan hal ini, mungkin Anda tidak akan begitu banyak menggunakan pikiran Anda. Opini Anda adalah ekspresi diri Anda. Waspadalah terhadap opini Anda, sebab itu bukan suatu hal yang positif. Opini alamiah, konsepsi, ide, dan angan-angan adalah hal-hal yang negatif, sebab semuanya merupakan ekspresi diri. Jiwa itu terwujud dalam diri dan diperhidupkan melalui diri, sedangkan diri diekspresikan dalam opini. Ketika diri diekspresikan melalui pikiran sebagai opini, itulah Iblis.
Saya telah belajar takut akan opini saya. Selama bertahun-tahun saya telah diterangi sehingga nampak bahwa opini alamiah atau konsepsi alamiah ialah jelmaan Iblis. Jika tidak demikian bagaimana Tuhan Yesus sampai mencela Petrus dan menyebutnya Iblis? Ketika kali pertama saya membaca ini dalam Alkitab, saya tercengang. Dalam ayat 23 Petrus dan Iblis menjadi satu dalam opini Petrus yang egois. Opini Petrus adalah Iblis. Saya ulangi, hayat jiwa terwujud dalam ego dan diekspresikan melalui pikiran. Ketika pikiran mengekspresikan suatu opini, itulah jelmaan Iblis.
Pernahkah Anda menyadari bahwa sering kali opini Anda adalah ekspresi Iblis? Saya ragu bahwa Anda pernah mengerti akan masalah seperti ini. Nampak bahwa opini alamiah kita ialah jelmaan Iblis itu penting sekali dan me-nentukan. Tidak ada sesuatu yang lebih merusak hayat ke-kristenan Anda lebih daripada opini Anda. Ekspresi opini alamiah merupakan hasil inspirasi Iblis. Karena opini alamiah Anda berasal dari ilham Iblis, maka Anda perlu waspada. Jika Anda menggunakan pikiran Anda secara berlebihan, Tuhan Yesus akan menyebut Anda Iblis. Jika Anda terlalu banyak melatih pikiran Anda, Anda akan menjadi ekspresi Iblis, dan Tuhan Yesus akan berkata kepada Anda, “Enyahlah dari hadapan-Ku, Iblis.”
Untuk menempuh jalan salib guna memasuki kemuliaan, menuntut kesediaan kita untuk tidak menggunakan pikiran kita secara alamiah. Kita harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus. Saya tidak percaya bahwa sese-orang yang menggunakan pikirannya secara alamiah mampu menjadi pengikut Kristus yang baik. Ketika kita terlalu ba-nyak menggunakan pikiran kita, kita tidak dapat mengikuti Kristus. Kristus tidak berada dalam pikiran kita, melain-kan dalam roh kita. Jika Anda memeriksa konteks ayat-ayat ini, Anda akan nampak bahwa pikiran adalah ekspresi diri, diri ialah perwujudan hayat jiwa, ini semua harus ditaruh pada salib.
Dalam ayat 24 Tuhan berkata, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib-nya dan mengikut Aku.” Salib bukan hanya suatu pende-ritaan, tetapi juga suatu pembunuhan. Salib membunuh dan mengakhiri penjahat. Pertama-tama Kristus memikul salib, kemudian Dia disalibkan. Hari ini kita, kaum beriman-Nya, disalibkan lebih dulu dengan Dia dan kemudian memikul salib. Bagi kita, memikul salib adalah tetap tinggal di bawah kematian pembunuhan Kristus untuk mengakhiri diri kita, hayat alamiah kita, dan manusia lama kita. Dengan berbuat demikian, kita menyangkal diri kita agar kita dapat meng-ikuti Tuhan.
Banyak orang Kristen berpendapat keliru tentang salib. Mereka mengira bahwa salib hanyalah suatu penderitaan. Namun dalam bagian firman ini, salib tidak menunjukkan penderitaan, melainkan pembunuhan. Tujuan terakhir salib bukan membuat Anda menderita, melainkan untuk meng-akhiri Anda, membunuh Anda. Firman Tuhan di sini tidak mengandung konsepsi menderita, konsepsi-Nya tentang salib ialah membunuh.
Tuhan Yesus pertama-tama memikul salib, kemudian disalibkan di atas salib dan diakhiri. Ketika Tuhan Yesus me-mikul salib, Ia terus-menerus di bawah pembunuhan, bukan penderitaan. Hanya menghubungkan salib dengan penderi-taan itu suatu konsepsi yang keliru. Tuhan Yesus mulai memikul salib segera setelah pembaptisan-Nya. Baptisan berarti memasukkan orang yang dibaptis ke dalam kematian, diakhiri, dan dikubur. Sejak saat baptisan-Nya, Tuhan Yesus terus-menerus menaruh diri-Nya di bawah salib dan mempertahankan diri-Nya di sana. Ia seorang yang terus-menerus dimatikan, sedangkan kita adalah kebalikannya. Sebab kita terlebih dulu disalibkan bersama-sama dengan Dia, baru kemudian memikul salib.
Ketika muda, saya mengira bahwa memikul salib ialah menderita. Saya ulangi, konsepsi memikul salib dalam Matius 16 bukan penderitaan, melainkan dimatikan. Untuk memikul salib, kita harus menyadari bahwa kita telah disalibkan. Kita telah dibunuh pada kayu salib dengan Kristus, dan kini kita wajib tetap berada di bawah pembunuhan ini. Saya ada-lah seorang yang telah dibunuh. Hayat diri saya, pikiran saya, hayat alamiah saya, dan seluruh apa adanya saya telah dimatikan. Kini saya perlu berada di bawah pembunuhan ini. Inilah arti memikul salib.
Ketika muda, saya mendengar suatu nasihat yang meng-anjuri orang untuk memikul salib. Seorang istri yang men-derita aniaya dari suaminya dikatakan harus memikul salib. Dengan kata lain, orang memberi tahu dia bahwa menahan penderitaan oleh karena suaminya adalah memikul salib. Namun, menderita tidak dapat membangun gereja; memikul salib yang sejati baru membangun gereja; sebab memikul salib mematikan diri, hayat jiwa, dan hayat alamiah. Kita se-mua telah dikubur, dibaptis, dan ditamatkan. Kini kita perlu berada dalam penamatan ini. Inilah menempuh jalan salib.
Orang yang mati tidak beropini. Orang yang mati tidak dapat membelokkan pikirannya, sebab pikirannya tak lagi berfungsi. Jika pikiran Anda dapat dibelokkan, berarti Anda masih hidup, aktif, dan agresif. Jika Anda coba-coba membelokkan pikiran mereka yang terkubur dalam makam dan seandainya mereka dapat berbicara, mereka tentu akan ber-kata, “Anda datang ke tempat yang salah. Kami semua telah mati, dan pikiran kami telah berhenti berfungsi. Anda tidak perlu datang membelokkan pikiran kami.” Jika kita memikul salib, kita akan seperti mereka yang terkubur da-lam makam. Kita akan tetap berada dalam penamatan dan terbaring di bawah kematian. Inilah makna yang tepat dari memikul salib.
Dalam Matius 16 Petrus sangat aktif dan agresif. Di satu pihak, memang baik membangkitkan perkara dengan agresif. Namun semua saudara yang cepat perlu dimatikan. Saya menyukai yang cepat, berani, yang merepotkan, sebab mereka membangkitkan masalah. Jika tidak ada saudara seperti ini dalam pemulihan Tuhan, tidak ada orang yang akan membuat masalah. Karena saudara saudari demikian inilah, selalu ada masalah dalam pemulihan. Tanpa ada masalah-masalah ini, Tuhan Yesus tidak dapat diwahyukan sedemikian tinggi. Namun pada akhirnya Tuhan menyebut Petrus, si cepat itu, Iblis. Semua Petrus yang cepat itu ha-rus ditamatkan. Mereka perlu dibunuh dan tinggal di bawah pembunuhan salib. Jika tidak, gereja tidak ada jalan untuk dibangunkan.
Menempuh jalan menuju kemuliaan pada akhirnya ber-arti menaruh diri kita pada kematian. Jalan ini bukan hanya masalah penolakan, mengalami kekurangan, menghadapi ba-dai laut, tuduhan agama, belajar makan Tuhan Yesus sebagai suplai hayat yang takkan habis, diperingatkan agar waspada terhadap ragi, dan nampak visi Kristus dan gereja; selain itu semua, kita perlu ditamatkan. Pos terakhir jalan menuju ke-muliaan ialah pos penamatan diri. Pandangan yang ditampilkan dalam Injil Matius sangat indah. Pandangan Matius menca-kup penolakan, keperluan, badai, tuduhan agama, ragi, Iblis, diri, pikiran, dan jiwa. Jika Anda tidak tahu bagaimana menghadapi perkara-perkara ini, Anda akan sulit masuk ke dalam kemuliaan. Langkah terakhir sebelum masuk ke dalam kemuliaan ialah pengakhiran diri. Hanya melalui penolakan atau mengalami suplai Tuhan akan keperluan materi tidak-lah cukup. Lagi pula, tidaklah cukup menderita badai laut, menghadapi tuduhan agama tentang masalah-masalah la-hiriah, makan Kristus, dan waspada terhadap ragi. Pada ak-hirnya, jalan menuju kemuliaan adalah perkara ditamatkan.
Anda mungkin mengira bahwa Iblis (Satan) ada di da-lam penolakan, badai, atau tuduhan. Pada hakikatnya Iblis tidak ada dalam perkara-perkara ini, sebaliknya hanya setan yang ada di dalamnya. Setan-setan berada di belakang pe-nolakan, badai, dan tuduhan agama. Tetapi Iblis (Satan), raja setan ada dalam benak Anda, diri Anda, dan jiwa Anda. Sebab itu Anda harus membenci diri Anda lebih daripada Anda membenci penolakan. Pernah sekali Martin Luther menga-takan bahwa ia lebih takut terhadap dirinya sendiri daripada terhadap Paus, sebab ia tahu bahwa ia mempunyai paus yang terkuat, yaitu diri yang ada di dalamnya. Musuh yang licik, tersembunyi, bahkan yang membangkang itu ialah diri kita. Sebab itu penanggulangan terakhir sepanjang jalan menuju kemuliaan ialah menanggulangi diri ini. Sebagaimana kita telah nampak, diri itu aktif dalam opini, konsepsi, dan ide yang diekspresikan oleh pikiran kita. Orang Kristen hari ini bertengkar dan terpecah belah karena berbeda opini. Dengan alasan ini, Rasul Paulus berkata bahwa kita semua perlu mengucapkan perkataan yang sama (1 Kor. 1:10).
Jadi, menempuh jalan menuju kemuliaan pada akhirnya ialah menanggulangi diri kita.
Saya yakin kita telah nampak visi yang jelas bahwa memikul salib bukan masalah penderitaan, melainkan mempertahankan diri di bawah pengakhiran maut. Salib Kristus menamatkan, dan kita harus berada di tempat penamatan ini. Untuk tetap tinggal di bawah penamatan ialah memikul salib. Saya memikul salib, sebab saya mempertahankan diri di bawah penamatan Kritus. Karena saya telah ditamatkan, maka saya tidak beride, tidak berkonsepsi, tidak beropini. Oleh belas kasihan Tuhan, saya berharap mampu berada di tempat penamatan seluruh hayat saya.
Selanjutnya setelah penamatan ialah kebangkitan. Ke-tika kita mempertahankan diri kita di bawah penamatan Kristus, dengan spontan akan ada reaksi roh kita. Reaksi ini ialah kebangkitan, kebangkitanlah yang diperlukan untuk pembangunan gereja. Mengalami penamatan dan kebangkit-an itulah jalan menikmati Kristus dan membangun gereja. Dalam ayat 24 Tuhan menyuruh kita untuk menikmati Dia. Sebelum Tuhan disalibkan, murid-murid mengikuti-Nya se-cara luaran. Tetapi kini, setelah Dia bangkit, kita meng-ikuti-Nya secara batin. Karena di dalam kebangkitan, Dia telah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45) yang tinggal di dalam Roh kita (2 Tim. 4:22), kita mengikuti Dia di dalam roh kita (Gal. 5:16-25).
1. Yang Menyelamatkan Nyawa Kehilangan Nyawa, yang Kehilangan Nyawa karena Kristus Akan Memperolehnya
Dalam ayat 25 Tuhan berkata, “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Dalam mengikuti Tuhan, janganlah kita menyelamatkan nyawa kita dengan membiarkan nyawa mem-peroleh kenikmatan. Jika kita menyelamatkannya pada za-man ini, kita akan kehilangan pada zaman yang akan da-tang. Tetapi jika kita kehilangan nyawa karena Kristus, kita akan memperolehnya dalam kerajaan pada zaman yang akan datang.
2. Memperoleh Seluruh Dunia, tetapi Kehilangan Nyawa Tidak Ada Gunanya
Dalam ayat 26 Tuhan bertanya, “Apa gunanya sese-orang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa-nya?” Kenikmatan nyawa (jiwa) hari ini terbungkus dengan dunia. Memperoleh dunia untuk kenikmatan jiwa sekarang ini ialah kehilangan hayat dalam kenikmatan kerajaan pada zaman yang akan datang. Bahkan jika kita memperoleh seluruh dunia bagi kenikmatan jiwa pada zaman ini dengan kehilangan kenikmatan jiwa pada zaman yang akan datang, tidak akan berguna. Tidak ada yang berharga sebagai ganti kenikmatan jiwa dalam kerajaan.
D. Pahala Kerajaan
Ayat 27 mengatakan,“Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut per-buatannya.” Kata “Sebab” pada permulaan ayat ini menun-jukkan bahwa ganjaran Tuhan terhadap para pengikut-Nya pada saat kedatangan-Nya kembali, tergantung pada apakah mereka kehilangan jiwa mereka atau menyelamatkan jiwa mereka, seperti yang disebutkan dalam ayat 25-26. Ganjaran itu akan diberikan menurut bagaimanakah kita telah me-mikul salib. Tergantung apakah kita mempertahankan diri kita di bawah pembunuhan salib, apakah kita menyelamatkan jiwa kita pada zaman ini atau kehilangan jiwa.
1. Pada Kedatangan Kristus dalam Kemuliaan Bapa
Ini akan diadili oleh Tuhan pada kedatangan-Nya dalam kemuliaan Bapa-Nya. Jika kita benar-benar memikul salib mengikut Dia karena kehilangan kenikmatan jiwa kita pada zaman ini, Ia akan membalas kita dengan kenikmatan jiwa dalam kerajaan.
2. Menurut Perbuatan Kaum Beriman
Dalam ayat 27 Tuhan mengatakan bahwa, “Ia akan mem-balas setiap orang menurut perbuatannya”, yaitu menurut apakah kita kehilangan kenikmatan jiwa kita pada zaman ini. Ini memang tidak berhubungan dengan keselamatan ke-kal kita, namun sangat berhubungan dengan pahala seza-man Tuhan kepada kita.
3. Pada Takhta Penghakiman Kristus
Pahala itu akan diberikan kepada setiap orang di depan takhta penghakiman Kristus ketika Dia datang kembali (2 Kor. 5:10; Why. 22:12). Ini menunjukkan bahwa hal ini akan diketahui di angkasa setelah semua orang beriman terangkat ke hadirat Tuhan.
4. Dinikmati pada Manifestasi Kerajaan
Pahala Tuhan adalah masuk ke dalam kerajaan, yang akan terjadi pada manifestasi kerajaan. Tuhan menunjukkan manifestasi kerajaan dalam ayat 28: “Sesungguhnya Aku ber-kata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia da-tang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Ini digenapi dengan transfigurasi Tuhan di gunung (17:1-2). Transfigurasi-Nya adalah kedatangan-Nya dalam kerajaan-Nya. Hal ini dilihat oleh ketiga orang murid-Nya, Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Dalam berita berikutnya saya akan menunjukkan bahwa transfigurasi Kristus adalah suatu miniatur manifestasi ke-rajaan. Manifestasi kerajaan pada masa seribu tahun itulah pahala bagi para pengikut Kristus yang tetap berada di ba-wah pembunuhan salib pada jalan menuju kemuliaan. Semua orang kudus terkasih yang mengikuti Kristus pada jalan ini akan mendapatkan pahala dengan manifestasi kerajaan.