JALAN MENUJU KEMULIAAN (6)
Kitab Matius sering kali mengaitkan perkara-perkara yang nampaknya tidak ada hubungannya. Kita nampak hal ini pada akhir pasal 15 dan permulaan pasal 16. Mengapa 16:1 mengatakan bahwa Tuhan Yesus dicobai? Apa hubungan antara pasal ini dengan akhir pasal 15? Perkara terakhir yang tercakup dalam pasal 15 ialah makan secara korporat. Empat ribu orang selain perempuan dan anak-anak, diberi makan dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil. Nam-paknya 16:1-12 tidak ada hubungannya dengan pasal 15. Namun, jika kita meneropong sampai ke kedalaman yang diilhamkan dalam Matius, kita nampak bahwa hubungan itu ada.
IX. WASPADA TERHADAP RAGI ORANG FARISI DAN ORANG SADUKI
Menyinggung masalah makan, kita harus berhati-hati jangan makan ragi apa pun. Dalam 16:1-12 yang terpenting bukan pencobaan oleh orang Farisi dan Saduki, melainkan ragi. Yang tersembunyi dalam pencobaan terhadap Tuhan Yesus ialah ragi. Ragi merupakan suatu campuran untuk mengkhamirkan suatu adonan, digunakan untuk membuat roti. Namun, apa yang kita lihat bukan ragi, melainkan roti. Ketika kita makan roti, kita mungkin tidak menyadari bah-wa kita sedang makan ragi, sebab ragi tersembunyi di dalam roti sehingga tidak kelihatan. Sekalipun tidak ada seorang pun dapat nampak ragi yang tersembunyi dalam pencobaan yang diberikan oleh orang Farisi dan Saduki, bagaimanapun ragi itu tersembunyi di dalamnya.
Sebagaimana kita nampak, pasal 15 membicarakan ma-salah makan. Dari 15:1—16:12, catatan Matius menyinggung perkara makan dengan sangat mendalam. Makan makanan yang najis bisa mencemari kita. Keperluan kita bukanlah pembasuhan di luar, melainkan makan yang batiniah. Ma-kan adalah jalan untuk mengambil bagian dalam Kristus (15:21-28), dan makan menyebabkan anjing kafir menjadi anak Allah, bahkan orang benar. Melalui makan kita dike-nyangkan oleh suplai Kristus yang tidak terbatas dan tidak ada habisnya (15:32-39). Matius 15 menyimpulkan kisah ma-kan yang korporat. Tetapi, kita harus waspada agar tidak makan ragi (16:5-12), terutama ragi agama yang tersembu-nyi dalam umat beragama, seperti orang Farisi dan orang Saduki. Orang-orang Farisi adalah golongan fundamentalis kuno dan orang-orang Saduki adalah kaum modern zaman dulu. Saya bersyukur bahwa Alkitab menyinggung kedua-duanya. Dalam agama hari ini terdapat pula kaum funda-mentalis dan kaum modern. Golongan pertama, kaum fun-damentalis mempunyai kepercayaan yang lengkap dan alkitabiah. Golongan kedua orang-orang Saduki menyangkal apa yang dikatakan Alkitab.
Dalam Matius 16 Kristus ditampilkan sebagai roti, te-tapi kaum agamis tersembunyi di dalamnya, merupakan ragi yang merusak. Saya ulangi, Kristus ialah roti, sedangkan pada umat agama, baik kaum fundamentalis maupun kaum modern terdapat ragi. Dalam kelicikan agama, ragi berusaha menyusup ke dalam roti. Ingatlah perumpamaan ragi (Mat. 13:33). Kristus itulah tepung halus sebagai makanan umat Allah bagi kepuasan Allah. Tetapi dalam perumpamaan, ke-kristenan tertentu yang murtad, mengambil ragi dan me-nyembunyikannya dalam tepung halus. Nampaknya ragi membuat tepung halus lebih mudah dicerna, tetapi pada ha-kikatnya ragi mendatangkan pembusukan. Dalam pasal 15 kita nampak roti yang tersedia bukan untuk anjing kafir, te-tapi juga untuk manusia yang berada di padang gurun. Da-lam pasal 16 Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya dan seolah-olah berkata kepada mereka, “Waspadalah dengan makananmu. Memang tepat jika kamu memakan Aku, teta-pi kamu harus berhati-hati dengan ragi agama.” Pada zaman Tuhan terdapat orang Farisi dan Saduki. Kaum agamawan ini, baik kaum fundamentalis maupun kaum modern, mempu-nyai sesuatu yang tersembunyi yakni ragi yang tersembunyi.
Kini kita dapat nampak hubungan antara pasal 15 dan 16. Kita dapat nampak alasan Matius membicarakan ragi segera setelah kisah makan secara korporat. Waspadalah! Ketika Anda menikmati makan secara korporat, ragi mudah sekali menyusup masuk secara diam-diam. Pada akhirnya, ragi benar-benar menyusup masuk ke dalam gereja. Karena gereja tidak begitu berhati-hati mengenai hal ini, maka tidak lama kemudian, setelah hari Pentakosta, ragi pun masuk. Roti yang gereja makan menjadi khamir seluruhnya. Jadi, perkataan Tuhan dalam 16:6 dan 11 bukan hanya merupakan suatu peringatan, tetapi juga suatu nubuat.
Pada akhir pasal 15, murid-murid dibantu untuk me-ngetahui bahwa Tuhan Yesus telah datang sebagai roti untuk anak-anak Allah. Pada mulanya orang kafir adalah anjing-anjing yang najis, tetapi setelah makan Kristus, mereka telah dilahirkan kembali sehingga menjadi anak-anak Allah, orang-orang yang layak untuk menikmati Kristus secara korporat. Ketika murid-murid mengerti jelas akan semua ini, mereka bergembira. Namun kemudian Tuhan seolah-olah ber-kata, “Makan Aku dan menikmati makan secara korporat itu baik. Tetapi ada agamawan yang berlindung dalam nama Allah, mengenakan jubah penyembahan Allah dan seolah-olah juga memuliakan Allah, akan memasukkan ragi. Mereka akan diperalat oleh musuh untuk secara diam-diam menda-tangkan sesuatu yang merusak dan menghancurkan. Kali-an harus waspada terhadap hal ini.”
Tuhan Yesus datang sebagai roti untuk diterima oleh orang-orang dosa sehingga mereka dapat dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah dan diubah menjadi orang yang la-yak untuk memakan Kristus secara korporat. Sekalipun hal ini ajaib, ada pula bahaya yang berupa ragi agama yang datang dari umat beragama. Di kalangan kekristenan kaum agama-wan sangat dihormati. Tetapi saya membicarakan mereka se-cara negatif sebab saya tahu bahwa umat agamawan selalu beragi. Di balik kedok agama, mereka membawakan bebe-rapa masalah yang merusak dan menghancurkan perkara Allah. Sebab itu, kita harus belajar waspada terhadap ragi pada saat kita menikmati Kristus sebagai roti surgawi kita.
Ragi ini selalu datang dari agama, dari orang Farisi dan Saduki. Markus 8:15 mengatakan pula tentang ragi Herodes. Matius tidak menyinggung ragi ini sebab maksudnya ialah menunjukkan bahwa dalam hal makan Kristus terdapat ba-haya menerima sesuatu yang agamis. Sesuatu yang agamis mungkin mengandung ragi di dalamnya. Ragi orang Farisi dan Saduki adalah ajaran mereka (16:12). Memang dalam pengajaran orang Farisi tidak dengan terang-terangan me-rusak orang. Jika mereka berbuat demikian, tentunya tidak seorang pun yang sudi mendengarkan mereka. Sama halnya dengan orang Saduki. Jika mereka tidak memberi kesan ke-pada orang banyak bahwa ajaran mereka akan membantu mereka, tidak ada seorang pun yang mau mendegarkan me-reka. Prinsipnya hari ini pun sama. Dalam kekristenan hari ini terdapat ajaran demi ajaran, yang kelihatannya mem-bantu orang. Tidak seorang pun akan pernah memberi tahu kepada Anda bahwa ajaran yang akan ia berikan kepada Anda dapat merusak Anda atau menyesatkan Anda, sebalik-nya, setiap orang yang datang dengan sesuatu ajaran tentu berlagak bahwa ajarannya itu baik dan berguna. Inilah se-babnya orang menyukai ajaran. Tetapi kita perlu mengeta-hui bahwa ragi sering kali dapat terselubung di bawah kedok ajaran agama.
Kristus itulah roti surgawi yang diutus oleh Allah dan dari Allah. Namun ragi ialah sesuatu yang diutus Iblis dan dari Iblis. Jadi Allah memberikan roti, sedangkan musuh Allah memberikan ragi. Allah berusaha menaruh Kristus ke dalam umat-Nya, tetapi musuh berupaya memasukkan ragi ketika umat Allah menerima Kristus. Prinsip ini jelas ada dalam kekristenan tertentu hari ini. Misalnya, hari Natal.
Kelahiran Kristus dan inkarnasi Kristus merupakan tepung yang halus untuk makanan kita. Tetapi hari Natal itulah ragi. Kelahiran Kristus itu murni. Allah telah berinkarnasi, alangkah murninya. Tetapi lihatlah betapa cemar dan bejat-nya praktek Natal tertentu hari ini. Bahkan ada pesta Natal yang mirip dengan pesta dansa. Betapa banyaknya ragi da-lam Natal ini! Natal begitu penuh dengan ragi sehingga sama sekali sulit bagi kita untuk menemukan tepung yang halus.
Kita dapat menerapkan prinsip ini pada setiap perkara dalam dunia kekristenan hari ini. Sebagai contoh, tidak ada salahnya menjadi pelayan Allah. Tetapi mengapa orang harus menggunakan sebutan yang terhormat tuan Pendeta? Me-manggil diri Anda tuan Pendeta berarti memasukkan ragi. Menggunakan nama-nama yang berbau denominasi juga me-rupakan ragi. (Seperti nama-nama denominasi). Semua sebut-an ini adalah ragi. Ada lagi, menyanyi memuji Tuhan adalah perbuatan murni, tetapi penyanyi solo berarti penambahan ragi. Sekalipun kita menikmati makan Yesus secara korporat, kita perlu waspada terhadap ragi agama yang tersembunyi. Bahkan beberapa di antara kaum beriman yang terkasih da-lam pemulihan Tuhan mungkin merasa heran, apa salahnya mempunyai penyanyi solo dalam sidang. Oh! Betapa kita ha-rus waspada terhadap setiap macam ragi! Tidaklah mudah menentukan adanya ragi yang tersembunyi dalam roti.
A. Pencobaan oleh Orang Farisi dan Saduki
1. Meminta Tanda Mukjizat
Matius 16:1 mengatakan, “Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari surga kepada mereka.” Mereka yang membawa masuk ragi ingin melihat tanda mukjizat. Tidak ada yang lebih licik daripada mukjizat. Misalnya saja antikristus muncul dengan bayang-bayangnya di depan Anda dan nabi palsu mampu membuat bayang-bayang ini berbicara kepada Anda. Anda dengan mu-dah dapat ditipu oleh hal ini sambil berkata, “Ini sangat he-bat. Jika ini bukan tanda ajaib, bagaimana ia dapat mem-buat bayang-bayang ini berbicara?” Ragi selalu menyusup masuk melalui kelicikan tanda mukjizat. Dalam 16:1-12, kedua kata kuncinya ialah tanda mukjizat dan ragi. Kaum agamawan, orang Farisi dan Saduki datang kepada Tuhan Yesus dan minta Ia menunjukkan kepada mereka tanda mukjizat dari surga. Namun Tuhan Yesus menolak untuk menunjukkan kepada mereka tanda seperti itu. Roti murni, Kristus murni, tidak menunjukkan tanda mukjizat. Sebagai-mana yang akan kita lihat, Ia sendiri adalah tanda mukjizat yang unik.
2. Tidak Dapat Membedakan Tanda-tanda Zaman Ini
Dalam ayat 2-3 Tuhan menunjukkan kepada orang Farisi dan Saduki bahwa sekalipun mereka mengetahui bagaimana membedakan rupa langit, tetapi mereka tidak dapat membedakan tanda-tanda zaman. Tanda-tanda zaman di satu pihak menerangkan bahwa angkatan itu jahat dan tidak setia, di pihak lain menjelaskan bahwa Kristus akan mati dan dibangkitkan bagi angkatan yang jahat itu. Orang Farisi dan Saduki tidak dapat membedakan perkara-perkara ini.
3. Hanya Tanda Nabi Yunus yang Diberikan kepada Angkatan yang Jahat dan Tidak Setia Ini
Ayat 4 mengatakan, “Orang-orang yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Yunus ada-lah nabi yang berpaling dari Israel kepada orang kafir dan dimasukkan ke dalam perut ikan besar. Setelah tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari, dia keluar dan menjadi suatu tanda bagi angkatan itu untuk bertobat (Yun. 1:2, 17; 3:2-10). Dia adalah lambang Kristus, sebagai nabi yang diutus oleh Allah kepada umat-Nya (Ul. 18:15, 18), namun berpaling dari Israel kepada bangsa lain, dikuburkan dalam perut bumi selama tiga hari dan kemudian bangkit, menjadi tanda bagi angkatan itu untuk beroleh selamat. Perkataan Tuhan di sini menyiratkan bahwa terhadap angkatan orang Yahudi dan agamawi yang jahat dan tidak setia ini, Tuhan tidak akan melakukan apa-apa selain mati dan dibangkitkan sebagai suatu tanda, tanda terbesar bagi mereka bahwa mereka dapat beroleh selamat jika mereka percaya. Dalam hal membi-carakan tanda mukjizat Yunus, Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu, orang Farisi dan Saduki, tidak memerlukan mukjizat. Kamu perlu membedakan bahwa angkatan ini jahat dan percayalah kepada-Ku dan menerima Aku ke dalammu se-bagai yang tersalib dan dibangkitkan. Kamu perlu bertobat seperti orang-orang di Niniwe dan kamu perlu percaya bahwa Aku akan mati bagi dosa-dosamu dan dibangkitkan untuk menyalurkan diri-Ku ke dalammu sebagai hayat. Inilah tanda untuk angkatan ini. Tidak ada tanda lain yang akan diberikan. Akulah tanda bagimu, tanda Kristus yang tersalib dan bangkit kembali. Kamu perlu bertobat dan menerima Aku ke dalammu sebagai rotimu.”
B. RAGI ORANG FARISI DAN SADUKI
Dalam suasana ini Tuhan mengemukakan masalah ragi, kata-Nya, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki” (ayat 6). Sebagaimana telah saya tunjukkan, ragi ini ialah ajaran orang Farisi dan Saduki (ayat 12). Ajaran orang Farisi bersifat munafik (23:13, 15, 23, 25, 27, 29), dan ajaran orang Saduki, yang menyangkal kebangkitan, malaikat, dan roh (Kis. 23:8), seperti aliran modernis hari ini. Jadi, ajaran orang Farisi dan Saduki ke-duanya jahat dan tidak murni, diumpamakan seperti ragi, yang tidak boleh ada di antara umat Allah (Kel. 13:7).
Sekali lagi saya katakan bahwa tanda mukjizat dan ragi adalah dua kata yang penting dan menentukan dalam bagi-an ini. Kita tidak boleh percaya akan mukjizat apa pun yang di dalamnya tidak mengandung unsur penyaliban dan ke-bangkitan Kristus. Saya telah melihat apa yang disebut “kebaktian penyembuhan” dalam gerakan Pentakosta. Namun terus terang saya katakan, ada banyak sekali ragi di da-lamnya dan kurang akan unsur penyaliban Kristus dan hayat kebangkitan Kristus. Setiap mukjizat, setiap tanda ha-rus berazaskan prinsip penyaliban dan kebangkitan. Tanda Yunus, tanda penyaliban dan kebangkitan Kristus harus mendampingi setiap mukjizat yang sejati. Jika tidak, muk-jizat itu hanya merupakan corak peragian. Banyak sekali orang Kristen telah teragi oleh mukjizat. Hari ini apa yang disebut “bahasa lidah” telah menjadi corak peragian dan be-gitu banyak dari mereka yang berbahasa lidah telah teragi oleh praktek-praktek itu. Ketika beberapa orang datang ber-sidang, mereka hanya memperhatikan bahasa lidah, tidak peduli apakah itu sejati dan murni. Asal ada manifestasi “lidah”, mereka gembira. Itu menunjukkan betapa mereka sudah teragi. Mereka tidak berminat terhadap roti murni, tanda murni dengan unsur penyaliban serta kebangkitan Kristus. Sebaliknya, mereka teragi. Sekali lagi saya katakan, waspadalah terhadap segala jenis ragi.
X. MENERIMA WAHYU
TENTANG KRISTUS DAN GEREJA
Dalam 16:13-20 kita akan melihat bagian Injil Matius yang berkaitan dengan wahyu Kristus dan gereja. Sebelum kita mengkaji perincian bagian ini, kita perlu melihat hu-bungan antara bagian ini dengan bagian sebelumnya, ayat 1-12.
A. Di Daerah Kaisarea Filipi
Ayat 13 mengatakan bahwa Tuhan Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Nampaknya hal ini ti-dak ada hubungannya dengan masalah ragi. Kaisarea Filipi terletak di sebelah utara Tanah Kudus, dekat dengan per-batasan, di kaki Gunung Hermon, tempat Tuhan berubah rupa (17:1-2). Tempat ini jauh dari kota kudus dan Bait Kudus. Kota kudus dan Bait Kudus adalah tempat dengan atmosfer agama Yahudi yang usang yang memenuhi setiap pikiran manusia, tidak memberikan tempat bagi Kristus, Raja baru. Tuhan sengaja membawa murid-murid-Nya ke tempat yang beratmosfer jernih agar pikiran mereka dapat dibebaskan dari pengaruh-pengaruh lingkungan agamawi di dalam kota kudus dan Bait Kudus, dan agar Dia dapat me-wahyukan kepada mereka sesuatu yang baru tentang diri-Nya dan gereja, yang merupakan urat nadi kerajaan surgawi-Nya. Di Kaisarea Filipi inilah visi tentang diri-Nya sebagai Kristus, Anak Allah yang hidup, dilihat oleh Petrus (ayat 16-17). Di sini pula gereja diwahyukan dan disebutkan untuk kali per-tama sebagai sarana untuk mendatangkan Kerajaan Surga (ayat 18-19).
Beberapa bulan yang lalu, beberapa saudara dan saya me-ngunjungi Yerusalem dan Kaisarea Filipi. Suasana kehidupan agama di Yerusalem kotor dan mengerikan. Secara jasmani, jiwani, dan rohani, suasananya busuk. Kami merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang kami nampak di tempat itu. Suatu hari, kami berkendaraan ke utara, ke Kaisarea Filipi. Alangkah sejuk udara di sana! Kami nampak sebuah sum-ber mata air yang merupakan salah satu di antara tiga sum-ber Sungai Yordan. Kami berhenti sejenak di sana menikmati makan siang kami, dan menikmati saat-saat yang menyenang-kan. Alasan Tuhan Yesus membawa murid-murid-Nya ke Kaisarea Filipi adalah untuk membersihkan mereka dari kabut suasana agama di Yerusalem serta agama Yahudi. Ha-nya setelah membawa murid-murid ke Kaisarea Filipi, Ia mu-lai bertanya kepada mereka tentang siapakah Dia. Kaisarea Filipi merupakan tempat yang tepat bagi Tuhan Yesus me-wahyukan diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Itu pun tempat yang tepat bagi wahyu yang diberikan tentang gereja.
Namun kita masih belum nampak hubungan antara kedua bagian firman ini. Hubungannya ialah jika kita masih berada di bawah pengaruh ragi agama, kita tidak akan nampak jelas tentang Kristus ataupun gereja. Agar nampak jelas tentang Kristus dan gereja, Anda perlu menyingkirkan semua ragi. Anda bukan hanya perlu menyingkir dari pusat agama, dari Kota Kudus dan Bait Kudus, dengan suasana yang busuk, kotor dipenuhi dengan konsepsi agama, tetapi Anda pun perlu dibersihkan dari ragi agama. Jika masih ter-dapat ragi di dalam Anda, Anda akan berada di bawah selu-bung, dan mata Anda tidak akan dapat nampak Kristus dan gereja. Untuk melihat Kristus dan gereja Anda perlu me-nyingkir dari pusat agama dan semua yang disebut benda-benda kudus, tempat-tempat dan orang-orang suci, dan Anda perlu melenyapkan segala jenis ragi.
Meskipun ada sebagian orang Kristen memiliki hati ke-pada Allah, tetapi mereka masih tidak dapat nampak gereja. Mereka juga tidak dapat nampak Kristus secara murni dan sejati, sebab mereka terkhamiri ragi agama. Kini kita dapat nampak mengapa Matius mengatur bagian pertama dari pasal 16 segera setelah kisahnya tentang makan secara korporat. Sewaktu makan, kita perlu waspada terhadap ragi. Selain itu, jika kita ingin nampak Kristus dan gereja, kita tidak boleh mempunyai ragi agama apa pun. Kita perlu langit yang jer-nih dan suasana yang bersih. Kita pun perlu pikiran dan akal budi yang jernih; akal budi yang tidak dipengaruhi ragi agama. Jika kita masih mengukuhi pendapat bahwa tidak ada yang salah dengan Natal atau denominasi, itu menunjukkan bahwa pengertian kita terkhamir dengan ragi agama yang tersembunyi. Ragi ini bukan menciptakan kabut lahiriah, melainkan kabut batiniah. Jika terdapat kabut yang demi-kian di dalam kita, visi kita akan kabur. Keadaan batiniah sejumlah orang beriman justru seperti ini. Mereka penuh dengan kabut. Walaupun sekali waktu muncul suatu celah kecil dan tertampak sebagian langit yang jernih, namun se-saat kemudian kabut segera menutup bagian yang jernih itu. Beberapa di antara kaum beriman mungkin berkata, “Apa salahnya dengan sebutan Baptis selatan? Sebuah denominasi bukan kasino judi? Jika Anda berpikir demikian, visi Anda akan kabur. Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa Anda masih mengukuhi ragi, konsepsi agama.
Banyak di antara kita telah teragi sejak saat kita dila-hirkan. Sepanjang masa kanak-kanak, kita terus-menerus di bawah pengaruh ragi. Walau Anda tidak mengetahui apa pun tentang Kristus, Anda sudah kenal sinterklas, kaos kaki Natal, dan pohon yang dihiasi dengan lampu-lampu berwarna. Pikiran dan perasaan Anda telah terkhamir seluruhnya. Bagi Anda, gereja adalah menara yang tinggi dan lonceng yang besar. Itu menunjukkan bahwa secara tidak sadar Anda te-lah teragi. Selain itu, semakin Anda menerima pelajaran dan pendidikan di sekolah, ragi semakin merasuk ke dalam Anda. Sebab itu, kita perlu meninggalkan pusat agama dan jauh-jauh pergi ke utara, ke daerah Kaisarea Filipi, di mana langit itu jernih. Lagi pula, kita perlu berkata kepada Tuhan di dalam batin, “Tuhan Yesus, murnikanlah aku dari segala jenis ragi. Aku ingin menjadi seorang yang jernih di bawah la-ngit yang bersih.”
Sekali lagi saya katakan bahwa roti dalam dunia ke-kristenan itu tidak bersih, sudah teragi. Kristus sejati yang diberitakan dan diajarkan oleh agama hari ini telah teragi. Lihatlah betapa banyaknya ragi yang terdapat dalam pembe-ritaan Kristus dan dalam ajaran tentang gereja. “Roti” gereja, yaitu kebenaran tentang gereja, terutama telah teragi. Akhir-akhir ini saya merasa sedih mendengar bahwa beberapa pengkotbah Kristen telah menghimbau orang-orang Kristen untuk kembali ke apa yang disebut gereja historis. Tidak-kah mereka tahu bahwa mahkamah agama gereja historis itu membuat banyak keputusan jahat, salah satu di antara-nya yang diputuskan di Mahkamah Agama Efesus (431 M), yaitu untuk mengukuhkan penyembahan kepada Maria? Se-bagaimana Anda tahu, gerakan karismatik telah menembus gereja tertentu dan bahkan telah tercampur dengan penyem-bahan kepada Maria. Bagaimana mereka yang berpengala-man di karismatik dapat membiarkan berhala semacam itu? Tetapi hari ini beberapa orang mengatakan, juga me-lalui radio, bahwa tidak ada berhala dalam gereja tersebut. Suatu kelompok dalam Beskeley berusaha menyelidiki kita. Saya heran mengapa mereka tidak menyelidiki gereja itu. Mengapa mereka tidak pergi ke sana dan melihat aliran agama kafir, berhala, dan bidat? Fakta bahwa mereka me-nyelidiki kita tetapi bukan gereja tersebut menunjukkan maksud jahat mereka, yakni untuk mengungguli kita dan mengakhiri kita. Dalam setiap sudut dunia kekristenan hari ini terdapat ragi yang tersembunyi. Tidak ada sesuatu yang murni di sana. Seluruh dunia kekristenan telah teragi. Ini bukan perkataan saya, melainkan firman nubuat Tuhan Yesus dalam 13:33, di mana Tuhan berkata bahwa “sampai mengembang (khamir) seluruhnya”. Namun, kita berdiri me-nentang ragi dan kita mempersaksikan Yesus yang murni. Sekalipun hal ini menyinggung hati banyak orang, tidak ada yang lain yang dapat kita lakukan. Kita harus memper-saksikan Kristus yang murni dan berdiri menentang semua ragi.
B. Menerima Wahyu tentang Kristus
Dalam ayat 13 Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya sebuah pertanyaan: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Sebagai seorang manusia, Kristus adalah rahasia bagi angkatan itu, demikian pula bagi orang-orang pada hari ini.
1. Kristus Bukan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, atau Salah Seorang Nabi
Ayat 14 berkata, “Jawab mereka, ‘Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.’” Tanpa wahyu surgawi, orang-orang hanya dapat mengenal bahwa Kristus adalah nabi yang paling besar, tetapi tidak dapat mengenal bahwa Dia adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (ayat 16).
2 Kristus, Anak Allah yang Hidup
Setelah Tuhan bertanya kepada murid-murid-Nya siapa-kah Dia, jawab Simon Petrus: “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup!” (ayat 16). Kristus mengacu kepada Yang diurapi oleh Allah, berhubungan dengan amanat Tuhan, sedangkan Anak Allah yang hidup mengacu kepada Yang kedua dari Allah Tritunggal, berhubungan dengan persona-Nya. Amanat-Nya adalah merampungkan tujuan kekal Allah melalui penyaliban-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya ke surga, dan kedatangan-Nya kali kedua, sedangkan persona-Nya menyatakan Bapa dan rampung dalam Roh untuk me-nyatakan Allah Tritunggal secara penuh.
Allah yang hidup berlawanan dengan agama yang mati. Tuhan adalah perwujudan Allah yang hidup, tidak ada hubungannya dengan agama yang mati.
3. Diwahyukan oleh Bapa Surgawi di Bawah Berkat-Nya, Bukan oleh Daging dan Darah
Ayat 17 mengatakan,“Kata Yesus kepadanya, ‘Berba-hagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.’” Darah dan daging mengacu kepada manusia alami-ah, yang diciptakan dan jatuh. Hanya Bapalah yang dapat mewahyukan Anak (Putra) kepada kita.
C. Menerima Wahyu tentang Gereja
Dalam ayat 18 Tuhan berkata, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Wahyu Bapa mengenai diri Kristus hanya paruhan pertama dari rahasia besar, yaitu Kristus dan gereja (Ef.5:32). Karena itu, Tuhan perlu mewahyukan pula kepada Petrus paruhan kedua mengenai gereja.
1. Pembangunan Gereja
a. Melalui Kristus
Dalam ayat 18 Tuhan berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Tuhan membangun gereja-Nya mulai hari Pentakosta (Kis. 2:1-4, 41-42). Tetapi nubuat Tuhan di sini masih belum digenapi bahkan sampai abad kedua puluh ini. Tuhan tidak membangun gereja-Nya dalam kekristenan, yang terdiri atas kelompok-kelompok (aliran-aliran kekristenan). Nubuat ini sedang digenapi melalui pemulihan Tuhan, yang di dalamnya pembangunan gereja yang sejati sedang dirampungkan.
Kata Yunaninya “gereja” adalah “ekklesia” yang berarti “dipanggil keluar”. Perkataan ini dipakai mengacu kepada jemaat yang terpanggil keluar. Kata “gereja-Ku” menunjukkan bahwa gereja berasal dari Tuhan, bukan dari siapa pun atau barang apa pun, bukan seperti denominasi, yang diberi nama di bawah nama orang tertentu atau perkara tertentu.
b. Di Atas Batu Karang
Tuhan berkata kepada Petrus bahwa Ia akan mendirikan gereja-Nya di atas “batu karang ini”. Kata “batu karang ini” tidak hanya mengacu kepada Kristus, tetapi juga kepada wahyu tentang Kristus, wahyu yang diterima oleh Petrus dari Bapa. Gereja didirikan di atas Kristus dan di atas wahyu ten-tang Kristus.
Kekristenan tertentu menyatakan bahwa batu karang dalam ayat 18 mengacu kepada Petrus, sedangkan keba-nyakan orang Kristen fundamentalis mengatakan bahwa batu karang mengacu kepada Kristus. Meskipun tidak salah me-ngatakan bahwa batu karang mengacu kepada Kristus, te-tapi bahkan pengertian mereka terhadap ini pun tidak cukup. Batu karang di sini tidak hanya mengacu kepada Kristus, lebih-lebih mengacu kepada wahyu tentang Kristus. Dalam pasal ini Bapa mengilhamkan sesuatu dari surga kepada Petrus. Wahyu surgawi dari Bapa ini ialah batu karang. Gereja dibangun di atas Kristus dan di atas wahyu tentang Kristus, bukan merupakan masalah yang tidak penting.
Denominasi tidak dibangun di atas batu karang ini. Sebagai contoh, denomisi Baptis selatan dibangun di atas wahyu aliran baptis oleh permandian, bukan di atas wahyu Kristus. Dalam prinsip yang sama, denominasi Presbiterian dibangun di atas doktrin persaudaraan. Demikian pula, gereja-gereja atau golongan karismatik tidak dibangun di atas wahyu tentang Kristus ini, mereka dibangun di atas pengetahuan perkara-perkara karismatik mereka dan pengalaman-pengalaman mereka tentang hal-hal itu. Jadi, denominasi “keempat segi” dibangun di atas wahyu keempat segi Injil, bukan di atas wahyu Kristus.
Gereja yang didirikan di atas wahyu tentang Kristus adalah gereja yang sejati, dan bukan suatu sekte. Masalah hari ini ialah orang Kristen suka membentuk golongan atau gereja sebutan menurut konsepsi dan pandangan mereka. Tetapi konsepsi mereka bukan wahyu tentang Kristus. Ge-reja harus dibangun di atas “batu karang” ini yaitu di atas wahyu Kristus. Jika kita nampak hal ini, kita akan terto-long dari perpecahan. Hanya sesuatu yang dibangunkan di atas wahyu Kristus, itulah gereja. Semua golongan yang di-bangun di atas doktrin, pandangan, praktek, atau konsepsi, bukan gereja yang dibangun di atas wahyu tentang Kristus. Wahyu tentang Kristus ialah batu karang yang di atasnya Tuhan Yesus mendirikan gereja-Nya.
c. Dengan Batu
Bahasa Yunani menerjemahkan kata “Petrus” dalam ayat 18 dengan kata “batu”, yakni materi untuk pembangunan Allah. Seperti Petrus, semua orang beriman perlu diubah menjadi batu-batu bagi bangunan gereja (1 Ptr. 2:5).
d. Pintu Alam Maut Tidak Dapat Menguasainya
Dalam ayat 18 Tuhan mengatakan pula bahwa pintu alam maut tidak akan menguasai gereja-Nya.“Pintu Alam Maut” mengacu kepada kuasa Iblis atau kuasa kegelapan (Kol. 1:13; Kis. 26:18), yang tidak dapat menguasai, mengalahkan gereja sejati yang dibangun oleh Kristus di atas wahyu ten-tang Dia sebagai batu karang, dengan batu-batu seperti Petrus, manusia yang sudah mengalami pengubahan. Perkataan Tuhan ini juga menunjukkan bahwa kuasa kegelapan Iblis akan menyerang gereja. Karena itu, terjadi peperangan ro-hani antara kuasa Iblis yang adalah kerajaannya dengan gereja, yang adalah Kerajaan Allah.
Ketika kami berada di Roma beberapa bulan yang lalu, kami mengunjungi Katedral Santo Petrus. Di atas kubah ter-tulis kata-kata dari Matius 16:18. “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku.” Namun, bagian akhir ayat ini, “dan alam maut tidak akan menguasainya” — tidak tertulis di sana. Ini mungkin menunjukkan bahwa pintu alam maut telah mengalahkannya, namun gereja dalam Pemulihan Tuhan benar-benar didirikan di atas wahyu tentang Kristus, dan terhadap gereja ini pintu alam maut tidak dapat mengu-asainya.
2. Gereja sebagai Kerajaan Surga
Ayat 19 membicarakan Kerajaan Surga. “Kerajaan Surga” di sini digunakan secara bergantian dengan “gereja” yang dipakai dalam ayat sebelumnya. Ini adalah suatu bukti kuat bahwa gereja yang sejati adalah Kerajaan Surga dalam zaman ini. Ini ditegaskan oleh Roma 14:17, yang menyebutkan Kerajaan Allah mengacu kepada hidup gereja yang wajar.
a. Kunci Diberikan kepada Petrus
Dalam ayat 19 Tuhan berkata kepada Petrus, “Kepada-mu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Menurut sejarah ada dua kunci. Petrus menggunakan satu buah pada hari Pentakosta untuk membuka pintu agar kaum beriman Yahudi dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Kis. 2:38-42), dan dia memakai yang lain di rumah Kornelius untuk mem-buka pintu agar kaum beriman bukan Yahudi dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga (Kis. 10:34-48).
b. Mengikat dan Melepas di Dunia Apa yang Diikat dan Dilepas di Surga.
Dalam ayat 19 Tuhan berkata pula kepada Petrus, “Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” Injil Matius berhubungan dengan Kerajaan Surga, yang adalah perkara kekuasaan. Gereja yang diwahyukan dalam kitab ini mewakili kerajaan dengan pemerintahannya. Karena itu, kuasa untuk mengikat dan melepaskan tidak hanya diberikan kepada Petrus, rasul untuk gereja di sini, melainkan juga diberi-kan kepada gereja sendiri (18:17-18). Apa pun yang diikat atau dilepas oleh umat gereja di bumi haruslah sesuatu yang sudah diikat atau dilepaskan di surga. Kita hanya dapat mengikat atau melepaskan apa yang telah diikat atau dile-paskan di surga.
D. WAHYU TENTANG KRISTUS DAN GEREJA DIRAHASIAKAN
Ayat 20 berkata,“Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.” Wahyu tentang Kristus bersama gereja-Nya selalu tersembunyi bagi umat agamawi.