JALAN MENUJU KEMULIAAN (5)
Sebagaimana telah saya tunjukkan berulang kali, Injil Matius bukan kitab sejarah, melainkan kitab doktrin. Matius mengemukakan fakta-fakta sejarah tertentu dengan maksud mewahyukan sebuah doktrin. Jika Anda membandingkan keempat Injil, Anda akan nampak bahwa Matius menam-pilkan fakta-fakta sejarah dalam susunan yang berbeda de-ngan yang terdapat dalam Markus atau Yohanes. Markus dan Yohanes ditulis menurut urutan sejarah. Namun, pengaturan fakta dalam catatan Matius tidak menurut sejarah melainkan menurut doktrin, sebab Matius menampilkan kepada kita doktrin tentang kerajaan. Jadi, Matius tidak memperhatikan urutan sejarah, melainkan urutan doktrin.
Dalam ayat 15, segera setelah perdebatan mengenai pem-basuhan tangan, terdapat catatan tentang mendapatkan ra-watan dari Yesus (15:21-28). Ketika Anda membaca pasal 15, Anda mungkin tidak menemukan bagaimana menghubung-kan ayat 1-20 dengan ayat 21-28. Tetapi sebenarnya kedua bagian ini sejajar. Dalam naskah asli Alkitab, tidak ada alinea-alinea atau ayat-ayat, sebab itu bagian kedua meru-pakan kelanjutan langsung dari bagian pertama. Matius ber-alasan kuat meletakkan kedua bagian ini bersama. Maksud-nya hendak menunjukkan bahwa apa yang Tuhan kehendaki bukan pembasuhan tangan, melainkan makan Dia, menerima Dia sebagai makanan. Dia tidak menghendaki kita memba-suh secara lahiriah, Dia menghendaki kita makan, menerima Dia masuk. Tak peduli seberapa banyak kita membasuh ta-ngan kita, kita akan tetap lapar. Dalam 15:21-28 tidak ada pembasuhan, kita nampak seekor anjing yang kotor sedang makan. Tuhan tidak memperhatikan pembasuhan tangan. Lahiriah Anda kotor atau tidak, tidak berarti apa-apa bagi-Nya. Masalah sesungguhnya bagi Tuhan ialah dipuaskannya rasa lapar Anda. Tuhan Yesus tidak berkata kepada perempuan Kanaan, “Ya, kamu berhak makan Aku, tetapi kamu kotor; cucilah tanganmu lebih dulu, kemudian kembali untuk ma-kan!” Tidak, pembasuhan lahiriah ada dalam bagian sebelum-nya, tidak dalam bagian ini. Di sini kita nampak masalah makan. Dalam pasal ini kita nampak bahwa yang diperso-alkan Tuhan bukan praktek lahiriah, melainkan kondisi ba-tiniah. Kita tidak seharusnya hanya membasuh kenajisan secara lahiriah, sebaliknya kita perlu dibersihkan dari dalam.
Pertanyaannya ialah bagaimana kita dapat dibersihkan secara batiniah. Agar dibersihkan dari dalam, sesuatu ha-rus masuk ke dalam kita, dan satu-satunya jalan agar hal ini bisa terlaksana ialah dengan makan. Sebagai makanan yang bergizi, Tuhan Yesus adalah unsur pembersih yang terbaik. Ketika Ia masuk ke dalam kita sebagai makanan, Ia tidak hanya memberi kita gizi, tetapi juga membersihkan kita secara batiniah. Ia tidak membasuh tangan kita, Ia membasuh susunan kita dan apa adanya kita. Masalah pembasuhan batiniah melalui makan Yesus ini merupakan rantai yang menghubungkan kedua bagian pertama pasal 15.
Dalam agama hari ini apa yang diajarkan kebanyakan sejenis pembasuhan tangan. Seminggu lewat seminggu, khot-bah diberikan terutama untuk hal pembasuhan lahiriah. Namun, apa yang orang-orang perlukan bukan pembasuhan lahiriah, melainkan pembasuhan batiniah, pembasuhan dalam hayat dan sifat. Mereka perlu unsur pembasuhan yang dapat masuk ke dalam susunan mereka, bahkan ke dalam pembuluh-pembuluh darah mereka. Mereka tidak memerlukan pemba-suhan tangan lahiriah, tetapi pembasuhan batiniah yang ber-asal dari makanan yang memadai. Yesus bukan hanya ma-kanan yang bergizi, Ia juga unsur pembersih. Saya dapat ber-saksi bahwa hari demi hari Tuhan Yesus masuk ke dalam saya, membersihkan saya dari dalam. Ia membasuh apa ada-nya batiniah saya. Dalam hidup gereja kita tidak dibasuh secara lahiriah, melainkan dibersihkan dan dimurnikan se-cara batiniah.
Banyak orang beriman ingin dimurnikan dari dalam. Se-ring kali mereka berdoa, “Tuhan Yesus, masuklah ke dalam-ku. Aku ingin semakin dikuduskan. Tuhan, aku bukan hanya membenci dosa dan dunia, tetapi juga diriku, hayat alamiah-ku serta sifat alamiahku. Oh Tuhan, aku begitu ditulari oleh sifatku. Betapa aku ingin sekali dibersihkan dari pencemaran ini!” Kalau kita berdoa demikian, dengan spontan kita makan Tuhan Yesus dan Ia masuk ke dalam kita, baik sebagai ma-kanan yang bergizi maupun sebagai unsur pembersih. Di da-lam lubuk hati nurani kita, kita dapat bersaksi bahwa ketika kita menikmati Tuhan dalam hidup gereja, kita dikuduskan, bahkan ketika kita tidak ingin dikuduskan sekalipun. Asal-kan kita menikmati Tuhan, kita dikuduskan dari dalam. Se-bab itu, apa yang kita miliki bukan pembasuhan tangan, melainkan pembasuhan apa adanya kita. Akhir-akhir ini, kita difitnah telah melakukan pencucian otak. Namun, kita tidak melaksanakan pencucian otak, melainkan kita sungguh mengalami pembasuhan sifat kita. Bukan hanya pikiran kita, bahkan seluruh diri kita perlu dibersihkan. Tuhan dapat ber-saksi bagi saya bahwa sering kali saya berdoa, “Tuhan, aku masih najis. Tuhan, aku merasa bahwa aku masih begitu ala-miah dan begitu banyak dalam sifatku. Tuhan, aku menga-sihi-Mu dan aku ingin hidup oleh-Mu. Tetapi bahkan sampai hari ini, Tuhan aku masih berada dalam sifat alamiahku. Oh Tuhan, karena sifatku najis, aku perlu pembasuhan-Mu.” Inilah pembasuhan yang kita perlukan. Ini bukan masalah pembasuhan tangan lahiriah untuk pamer betapa bersihnya kita, melainkan masalah pembasuhan batiniah yang berasal dari makan Yesus. Kita semua perlu pembasuhan batiniah semacam ini dari Tuhan.
VI. BERDASARKAN IMAN MEMPEROLEH
RAWATAN DARI KRISTUS
A. Di Luar Ruang Lingkup Agama
Ayat 21 berkata, “Kemudian Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon”. Orang Galilea tidak percaya sehingga Tuhan Yesus tidak banyak melakukan mukjizat di antara mereka (13:58), dan penolakan Herodes membuat Dia pergi ke padang gurun (14:13). Dalam 15:1 kaum agamawan turun dari Yerusalem mengamati Tuhan Yesus untuk mencari kesalahan-Nya. Penentangan lebih lanjut karena penolakan kaum agamawan menyebabkan Raja surgawi lebih jauh lagi meninggalkan mereka, bahkan sampai ke da-erah Tirus dan Sidon, ke tanah kafir. Penolakan orang Galilea menyebabkan Tuhan tidak banyak melakukan mukjizat di antara mereka. Penolakan Herodes membuat Dia pergi dari negeri yang beradab ke padang gurun. Kini penentangan oleh kaum agamawan membuat Tuhan pergi bahkan lebih jauh, ke dunia kafir.
B. Mengenal Kristus dengan Tepat
1. Dengan Salah Menyebut Dia Anak Daud
Ayat 22 mengatakan, “Lalu datanglah seorang perem-puan Kanaan dari daerah itu dan berseru, ‘Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.’” Karena penolakan kaum agama-wan Yahudi, kesempatan untuk berkontak dengan Raja sur-gawi datang kepada orang bukan Yahudi, bahkan kepada perempuan bukan Yahudi yang lemah. Perempuan Kanaan ini menyebut Tuhan Yesus sebagai Tuhan, Anak Daud. Sebutan Tuhan menyiratkan keilahian Kristus, dan sebutan Anak Daud menunjukkan keinsaniannya. Memang tepat bila perem-puan ini, orang bukan Yahudi, menyebut Kristus sebagai “Tuhan”. Namun, dia tidak berhak untuk menyebut-Nya “Anak Daud”. Hanya umat Israel yang memiliki hak berbuat de-mikian.
Murid-murid terganggu oleh teriakan perempuan Kana-an, sehingga mohon Tuhan mengusirnya. Ini menunjukkan bahwa sekali lagi mereka mengajari Tuhan untuk melakukan sesuatu. Ini pun merupakan prinsip hukum Taurat. Murid-murid seolah-olah berkata, “Tuhan, ia berteriak-teriak mengganggu kita. Tidakkah Engkau dapat berbuat sesuatu, Tuhan? Suruhlah ia pergi.” Pada saat ini Tuhan berkata, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (ayat 24). Bila Anda membaca Injil secara sak-sama, Anda akan nampak bahwa Tuhan Yesus tak pernah menuruti perkataan murid-murid-Nya. Ketika mereka menga-jukan usul, Tuhan selalu menolak untuk mempertimbang-kannya. Tetapi ketika murid-murid tidak ingin melakukan sesuatu hal yang khusus, Tuhan akan memberi tahu mereka untuk melakukannya. Demikian pula, ketika kita ingin me-lakukan sesuatu, Tuhan mengatakan, tidak. Tetapi ketika kita tidak ingin melakukan sesuatu, Tuhan akan menyuruh kita melakukannya. Maksud Tuhan ialah melatih kita tidak hidup dan bertindak menurut ego atau konsepsi alamiah kita. Petrus boleh jadi berkata kepada Tuhan, “Tuhan, jika Engkau diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, apa yang Engkau lakukan di sini di Tirus dan Sidon? Mengapa Engkau datang ke sini?” Tetapi jika Petrus mengatakan demikian kepada Tuhan, Tuhan masih mempu-nyai cara untuk menaklukkannya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan Tuhan Yesus. Murid-murid terka-lahkan dalam hal ini, dan mulut mereka tertutup.
Meskipun Tuhan diutus kepada domba-domba yang hi-lang dari umat Israel, namun pada saat ini Dia datang ke daerah bukan Yahudi, dengan demikian memberikan ke-sempatan kepada orang bukan Yahudi untuk berbagian da-lam anugerah-Nya. Hal ini mengandung makna zaman, yang menunjukkan bahwa Kristus datang kepada orang Yahudi lebih dulu, dan karena ketidakpercayaan mereka, maka keselamatan-Nya beralih kepada orang bukan Yahudi (Kis. 13:46; Rm. 11:11).
2. Memanggil Dia Tuhan secara Tepat dan Menyembah Dia
Dalam ayat 25 perempuan bukan Yahudi dengan tepat me-manggil Yesus Tuhan dan menyembah Dia, katanya,“Tuhan, tolonglah aku!” Kali kedua dia menyebut Kristus hanya se-bagai “Tuhan”, bukan sebagai “Anak Daud”, karena dia sa-dar bahwa dia bukan seorang Israel, melainkan seorang bukan Yahudi.
C. Mendapatkan Rawatan dari Tuhan
Dalam ayat 26 Tuhan menjawab perempuan Kanaan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Ministri Raja surgawi dalam semua kunjungan-Nya menciptakan kesem-patan bagi-Nya untuk mewahyukan diri-Nya lebih jauh. Da-lam suasana yang diciptakan dalam pasal 9 dan 12, Dia memi-liki kesempatan untuk mewahyukan diri-Nya sebagai Tabib, Mempelai Laki-laki, kain baru, anggur baru, Gembala, Daud yang sejati, Bait yang lebih besar, Tuan yang Empunya tu-aian, Yang melebihi Yunus, dan Yang melebihi Salomo. Di sini kesempatan lain diciptakan bagi-Nya untuk mewahyukan diri-Nya, kali ini sebagai roti bagi anak-anak. Perempuan Kanaan menganggap-Nya Tuhan, orang yang ilahi, dan Anak Daud, turunan raja, agung dan besar dalam pemerintahan-Nya. Tetapi Dia menyingkapkan diri-Nya sebagai roti kecil yang baik untuk dimakan. Ini menyiratkan bahwa sebagai Raja surgawi, Dia memerintah atas umat-Nya melalui memberi mereka makan dengan diri-Nya sebagai roti. Kita dapat menjadi orang yang tepat dalam kerajaan-Nya hanya dengan menerima rawatan-Nya dengan diri-Nya sebagai ma-kanan kita. Makan Kristus sebagai suplai kita adalah jalan untuk menjadi umat kerajaan dalam realitas kerajaan.
Tuhan berkata bahwa roti anak-anak tidak patut dilemparkan kepada anjing. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Tuhan semua orang kafir adalah anjing najis di mata Allah (Im. 11:27).
Percayakah Anda bahwa ketika Tuhan Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya tentang perempuan Kanaan ini, Ia bermaksud merawatnya (memberinya makan)? Pastilah Tuhan sebelumnya mengetahui bahwa Ia harus merawat (memberi makan) perempuan ini. Lalu mengapa Ia tidak me-lakukannya segera? Sekalipun perempuan itu datang dan berseru kepada-Nya, Ia tetap diam pada mulanya dan tidak mengatakan apa-apa. Nampaknya seolah-olah Ia bisu. Kebi-suan-Nya membuat murid-murid memohon Dia melakukan sesuatu untuk mengusir ia pergi. Tuhan Yesus tidak segera melakukan sesuatu karena Ia ingin mengambil kesempatan ini untuk mengajar murid-murid-Nya. Ketika murid-murid datang kepada-Nya, Ia berkata bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Ketika perempuan itu datang kepada-Nya, Ia menunjukkan kepadanya bahwa Ia datang sebagai roti untuk anak-anak dan tidaklah patut melemparkan roti anak-anak itu kepada anjing.
1. Berdiri pada Kedudukan yang Benar — Sebagai Anjing Kafir di Bawah Meja Majikan
Ketika Tuhan Yesus menganggap perempuan Kanaan itu sebagai anjing, ia berkata, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (ayat 27). Perempuan Kanaan itu tidak tersinggung karena perkataan Tuhan, malah mengakui bahwa dia adalah anjing kafir. Dia memperhatikan bahwa pada saat itu Kristus yang sudah dito-lak oleh anak-anak, orang Yahudi, menjadi remah-remah di bawah meja, sebagai bagian bagi orang kafir (bukan Yahudi). Tanah Kudus Israel adalah meja yang di atasnya Kristus, sebagai roti surgawi, telah datang sebagai bagian bagi bani Israel. Tetapi mereka membuang-Nya dari meja ke tanah, tanah kafir, sehingga Dia menjadi remah-remah sebagai ba-gian bagi orang kafir. Betapa hebatnya pemahaman perem-puan kafir ini pada saat itu! Tidak heran kalau Raja surgawi mengagumi imannya (ayat 28).
Perempuan kafir itu seolah-olah berkata, “Ya Tuhan, aku seekor anjing yang najis, kafir. Tetapi jangan lupa Tuhan, bahkan anjing pun memiliki bagiannya. Bagian anjing ti-dak seperti bagian anak-anak yang berada di atas meja, te-tapi bagian anjing di bawah meja. Kini Tuhan, Engkau tidak di atas meja di mana anak-anak itu berada. Kini engkau ber-ada di bawah meja di mana anjing itu berada. Tuhan, anjing boleh makan remah-remah yang di bawah meja.” Perempuan Kanaan sangat bersemangat dan Tuhan Yesus tertangkap olehnya.
2 Oleh Imam
Ayat 28 mengatakan,“Lalu Yesus berkata kepadanya, ‘Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.’ Seketika itu juga anaknya sembuh.” Perka-taan ini menunjukkan bahwa tanggapan perempuan Kanaan dengan Tuhan adalah oleh iman; imannya sangat besar, mengalahkan keadaan yang di luar.
Karena saya amat berhati-hati dalam masalah doktrin, saya heran mengapa Tuhan Yesus tidak menyuruh perem-puan Kanaan itu membasuh dirinya dan kemudian kembali untuk makan. Andaikata saya ini Tuhan, saya akan berkata, “Ya, sebagai seekor anjing, kamu mempunyai bagianmu. Tetapi tidakkah kamu mengetahui bahwa kamu ini najis? Jika kamu mau makan Aku sebagai remah-remah, kamu perlu membasuh dirimu.” Menurut doktrin, sudah pasti pe-rempuan ini perlu dibasuh. Tetapi mengapa Tuhan Yesus tidak menyuruh dia membasuh dirinya sebelum memakan Dia? Seandainya Tuhan menyuruh perempuan itu membasuh diri lebih dulu, berarti Ia telah melakukan sesuatu yang ber-tentangan dengan apa yang telah Ia katakan dalam ayat-ayat sebelumnya bahwa Ia tidak mengindahkan masalah pemba-suhan lahiriah. Di sini Tuhan menitikberatkan masalah ma-kan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu dibasuh. Darah tersedia. Kita boleh mengambil darah dan makan domba. Tetapi agar tidak membingungkan, dalam bagian ma-kan ini, Tuhan Yesus tidak menyatakan apa pun tentang pembasuhan. Saya yakin Tuhan Yesus sengaja melakukan hal ini untuk menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka hanya memerlukan satu hal — makan. Sekalipun kita senajis anjing kafir, kita masih berhak dan mempunyai posisi untuk makan Yesus. Oh, kita perlu menjadi pemakan yang tidak terbatasi! Jangan menunggu sampai Anda sudah terbasuh. Datanglah kepada Tuhan menurut apa adanya Anda dan makan Dia. Seperti yang dikatakan dalam sebuah nyanyian, “Menurut adanya aku, aku datang.” Kita perlu berkata, “Tuhan, aku datang menurut apa adanya aku. Aku tidak perlu diubah atau dibersihkan. Tuhan, aku perlu Engkau dan aku datang kepada-Mu untuk makan. Bahkan andai-kata aku anjing yang najis, aku datang kepada-Mu sebagai-mana adanya aku.” Makan adalah yang utama dan makan adalah segala-galanya.
Perempuan Kanaan itu tidak datang kepada Tuhan ka-rena lapar, ia datang karena anak perempuannya sakit. Na-mun Tuhan mengubah situasi itu menjadi masalah makan. Tuhan tidak berkata, “Aku datang sebagai Tabib umat Israel, Aku tidak mau menyembuhkan orang kafir. Aku tidak sudi mengobati anjing.” Sebaliknya, Tuhan seolah-olah berkata, “Aku datang sebagai roti untuk anak-anak. Tidaklah patut melemparkan roti anak-anak kepada anjing.” Sekalipun per-mohonan perempuan itu tidak berhubungan dengan makan, Tuhan sengaja menghubungkan perkaranya dengan masalah makan untuk menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kita perlukan bukan pembasuhan lahiriah, melainkan Kristus masuk ke dalam kita. Apakah Anda sakit atau lemah? Apa-kah Anda mempunyai masalah tertentu? Jangan mencoba membereskan masalah-masalah itu secara luaran. Lebih baik hadapi masalah itu dengan makan Yesus. Sesungguhnya Anda harus melupakan semua itu. Apa yang Anda perlukan bukan pembasuhan lahiriah, melainkan Kristus yang masuk ke dalam Anda. Tuhan seolah-olah berkata kepada perem-puan Kanaan, “Kamu tidak memerlukan penyembuhan. Ka-mu memerlukan Aku! Kamu tidak memerlukan Aku secara lahiriah, kamu memerlukan Aku secara batiniah. Kamu per-lu makan Aku. Aku datang sebagai roti untuk dimakan, dicer-na, dan diasimilasi. Aku akan masuk ke dalam kamu, masuk ke dalam peredaran darahmu, organ, dan jaringanmu. Aku akan masuk ke dalam unsur penyusunmu dan menjadi kamu. Karena itu kamu perlu makan Aku. Janganlah membereskan masalah secara lahiriah. Sebaliknya, bereskanlah segala se-suatu secara batiniah dengan menerima Aku menjadi kamu. Asalkan Aku dapat masuk ke dalammu untuk memberi gizi, segala masalah akan terselesaikan.”
Kita tidak memerlukan ritual atau praktek-praktek lahiriah. Dalam agama hari ini, pengikut agama mengikuti praktek-praktek lahiriah. Tetapi ekonomi Allah bukan ma-salah lahiriah, melainkan masalah Kristus masuk ke dalam kita secara batiniah. Untuk ini kita perlu menerima Kristus dengan makan Dia.
Ketika saya datang ke negeri ini, saya datang dengan suatu amanat dan beban, serta sesuatu yang saya terima dari surga. Sebelum Anda masuk ke dalam gereja, Anda ti-dak pernah mendengar berita tentang makan Yesus, sebab semua ajaran dalam agama berkaitan dengan pembasuhan tangan lahiriah, bukan dengan menghidangkan Yesus untuk dimakan. Tetapi ministri ini telah datang ke sini dengan amanat untuk melayankan Yesus yang dapat dimakan ke-pada kaum beriman-Nya. Saya tidak peduli terhadap ten-tangan atau serangan. Saya tahu apa yang sedang saya la-kukan. Sebagian orang menganggap saya terlalu berani dan mengatakan, “Mengapa orang ini begitu berani? Bukankah kita mempunyai banyak orang terpelajar dalam negeri, orang-orang dengan gelar doktor dari seminari-seminari terbaik?” Saya tidak peduli gelar-gelar itu. Saya hanya mempedulikan beban saya. Saya sungguh yakin bahwa saya mempunyai sesuatu dari Tuhan yang datangnya dari surga yang tidak ditemukan dalam agama hari ini. Di sini saya tidak menga-jar atau berkhotbah, melainkan melayankan Kristus yang dapat dimakan. Inilah yang dibutuhkan umat Tuhan hari ini. Anda tidak perlu pembasuhan agamawi. Lupakanlah se-mua itu! Sebagaimana anjing yang najis, kita perlu makan Yesus. Kita perlu menerima Yesus ke dalam kita. Haleluya, Yesus hari ini bukan di atas meja! Ia ada di bawah meja. Ia telah dilemparkan dari meja oleh orang Israel, dan kini Ia ber-ada dalam dunia kafir. Kita semua, termasuk saya, adalah najis, anjing kafir. Namun kita dapat memuji Tuhan bah-wa kitalah anjing, sebab roti hayat sejati yang dari surga itu kini berada di tempat anjing itu berada. Andaikan roti itu di atas meja, tidak akan tersedia bagi kita. Tetapi hari ini roti itu berada di bawah meja di mana anjing berada. Kita me-merlukan Kristus yang dapat kita makan yang kini begitu dekat dengan kita.
Saya sungguh mengapresiasi Kitab Matius bagian ini! Bagian ini mengilhamkan bahwa kita harus melupakan pem-basuhan lahiriah, dan makan Tuhan Yesus. Jangan coba-coba mengubah diri Anda, mengoreksi diri Anda, atau mem-perbaiki diri Anda. Apa yang kita perlukan ialah makan Yesus.
VII. PENYEMBUHAN UNTUK MEMULIAKAN ALLAH
Dalam ayat 15:29-31 terdapat catatan tentang penyembuhan untuk memuliakan Allah. Karena Dia telah ditolak oleh agama Yahudi, Tuhan tinggal di Galilea sebagai sinar kesembuhan bagi bangsa-bangsa lain. Dia tidak mau pergi ke Yerusalem, pusat agama Yahudi, untuk menyembuhkan orang Yahudi (13:15). Menurut pengaturan doktrin dari ca-tatan pasal 15, penyembuhan datang setelah makan. Dengan kata lain, penyembuhan yang tepat berasal dari makan yang batiniah. Ahli gizi mengatakan bahwa orang yang makan de-ngan tepat, tidak akan sakit. Sakit berasal dari makan yang tidak tepat, tetapi kesembuhan datang dari makan yang tepat. Inilah inti doktrin mengenai penyembuhan dalam bagian firman ini.
VIII. PERSEDIAAN LEBIH LANJUT UNTUK KEPERLUAN
A. Oleh Belas Kasihan Raja Surgawi
Dalam 15:32-39 terdapat mukjizat pemberian makan ke-pada empat ribu orang. Oleh karena Tuhan membelaska-sihani orang banyak di padang gurun, Ia tidak mau menyu-ruh mereka pulang dengan lapar (ayat 32). Kristus tidak membiarkan para pengikut-Nya kelaparan dan pingsan di jalan ketika mereka mengikuti-Nya.
B. Karena Perlu Belajar Pelajaran Iman
Ketika murid-murid mendengar bahwa Tuhan bermaksud menyediakan makanan bagi orang banyak, mereka berkata kepada-Nya,“Bagaimana di tempat terpencil ini kita men-dapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” (ayat 33). Di padang gurun yang gersang pun, Tuhan mampu menyuplai para pengikut-Nya dan menge-nyangkan mereka, tidak peduli mereka berapa banyak. Mu-rid-murid itu telah mengalami hal ini sebelumnya (14:15-21); namun, kelihatannya mereka belum belajar pelajaran iman. Di sini mereka mengarahkan pandangan mereka pada ling-kungan, bukan pada diri Tuhan. Tetapi kehadiran Tuhan lebih baik daripada gudang yang limpah.
C. Persembahan yang Diberikan oleh
Murid-murid Mendatangkan Berkat yang Berlimpah
Tuhan bertanya kepada murid-murid, “Kamu punya be-rapa roti?” Ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu ingin me-makai apa yang kita miliki untuk memberkati orang lain. Ayat 36 mengatakan, “Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak.” Jika kita mempersembahkan semua yang kita miliki kepada Tuhan, Dia akan mengambilnya, memecahkannya, dan mengemba-likannya kepada kita untuk dibagikan kepada yang lain, men-jadi berkat yang memuaskan dan melimpah (ayat 37). Apa saja yang kita persembahkan kepada Tuhan, betapa pun sedikit-nya itu akan digandakan oleh tangan berkat-Nya untuk me-menuhi keperluan orang banyak (ayat 38); dengan demikian keinginan-Nya digenapi (ayat 32).
Dalam 15:32-39 kita nampak makan yang korporat. Sela-gi muda saya merasa sulit dengan fakta bahwa Matius mem-beri kita dua kisah yang hampir sama (14:14-21; 15:32-39). Namun, jika membaca kedua bagian ini dengan saksama, Anda akan nampak bahwa tujuan kedua peristiwa itu ber-beda. Tujuan bagian tentang pemberian makan lima ribu orang ialah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita mengikuti Raja kita yang ditolak pada jalan yang me-nuju kemuliaan, Ia mampu memperhatikan kita. Tetapi tu-juan kisah memberi makan empat ribu orang ialah untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya makan Yesus sebagai remah-remah secara individu, sebagaimana anjing-anjing yang najis, kita pun perlu makan Dia secara korporat ber-sama-sama dengan orang banyak yang lain. Marilah kita semua makan Dia bersama. Dalam makan yang korporat ini kita tidak makan remah-remah, tetapi roti yang utuh dan berlebihan. Hari ini dalam hidup gereja kita bukan lagi anjing-anjing najis yang sedang makan. Sebaliknya, kita adalah orang yang tepat yang memakan Dia secara korporat. Setiap sidang gereja merupakan waktu makan bersama. Ke-tika pertama kali masuk ke dalam hidup gereja, kita da-tang sebagai anjing-anjing yang najis, dan kita makan di bawah meja. Tetapi kini kita tidak lagi di bawah meja, kita duduk di sekeliling meja. Sekalipun kita di padang gurun, namun kita duduk mengelilingi meja. Inilah makan secara korporat, makan yang lengkap. Roti yang utuh itu berada di atas meja orang-orang yang diselamatkan.