JALAN MENUJU KEMULIAAN (4)
Ketika kita mengikuti Tuhan pada jalan yang menuju ke-muliaan, kita mengalami penolakan, kekurangan akan keper-luan, dan angin sakal di laut. Setelah itu, kita menghadapi tuduhan dari agama. Dalam berita ini kita akan nampak ba-gaimana Tuhan menghadapi tuduhan kaum agamawan tra-disional (15:1-20).
V. MENYINGKIR DARI TRADISI AGAMA
A. Dipersalahkan oleh Kaum Agamawan
Karena Tidak Mambasuh Tangan
Sebelum Makan
Matius 15:1-2 mengatakan,“Kemudian datanglah bebe-rapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata, ‘Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’” Meskipun Tuhan meninggalkan ka-um agamawan yang menolak-Nya, mereka masih tidak ber-henti mempersulit diri-Nya. Mereka datang dari pusat agama mereka, Yerusalem, kepada-Nya untuk mencari kesalahan-Nya. Namun, kesulitan yang mereka datangkan atas diri-Nya malah memberi-Nya kesempatan lain untuk mewahyukan kebenaran tentang kebersihan yang sejati (ayat 10-11, 15-20). Orang-orang Farisi dan ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus mengapa murid-murid-Nya melanggar adat istiadat nenek moyang. Ini mewahyukan bahwa dalam mengikuti Tuhan, murid-murid tidak menuruti adat istiadat. Mereka ha-nya memperhatikan kehadiran Raja surgawi, tidak memper-hatikan yang lain.
Nenek moyang yang dikatakan dalam ayat 2 bukan tua-tua umat itu, melainkan orang-orang pada zaman kuno yang adalah angkatan yang telah lewat. Pada masa lalu, beberapa di antara mereka yang menyerahkan diri bagi Allah mem-punyai suatu tindakan, dan tindakan mereka ini pada akhir-nya menjadi suatu tradisi yang dipatuhi oleh orang-orang Yahudi ketika Tuhan Yesus di bumi. Sebagai contoh, ada se-bagian orang kuno yang mengadopsi peraturan membasuh tangan mereka ketika mereka hendak makan. Pada zaman Tuhan Yesus, ini suatu tradisi, bukan suatu perintah da-lam Alkitab. Tidak ada sesuatu pun yang diperintahkan oleh Allah yang dapat menjadi suatu tradisi, sebab firman Allah selalu segar. Sebaliknya suatu tradisi adalah sesuatu yang ditemukan atau diciptakan oleh manusia.
Beberapa penentang mengatakan bahwa kita harus kem-bali kepada apa yang disebut gereja historis dan mengikuti praktek-praktek tradisional. Akhir-akhir ini, sekelompok orang yang disebut Kristen fundamental bahkan menerbit-kan sebuah karangan yang menganjurkan orang Kristen un-tuk kembali ke gereja historis. Tetapi gereja historis telah menganut banyak peraturan yang sama sekali tidak berdasar-kan Alkitab dan telah membuat keputusan tentang hal-hal yang tidak terdapat dalam Alkitab. Misalkan saja, penyem-bahan terhadap Maria, yang dilakukan oleh dewan agama di Efesus. Tradisi dunia kekristenan hari ini lebih banyak da-ripada dalam agama Yahudi ketika Tuhan Yesus berada di bumi. Tradisi sangat kuat dalam kekristenan hari ini. Tradisi perayaan hari Natal adalah suatu contoh. Orang yang meng-kritik kita mengatakan bahwa asal usul hari Natal bukan penyembahan berhala. Ia bahkan menyangkal fakta bahwa pohon Natal adalah praktek kafir. Pohon Natal adalah kafir, jahat, dan bersifat berhala. Tidak akan ada pendamaian an-tara kesaksian Tuhan yang hidup dengan tradisi gereja. Kita ditentang sebab kita sebagai murid-murid yang mengikuti Tuhan hari ini tidak mau menaati tradisi semacam itu.
B. Kemunafikan Kaum Agamawan
1. Melanggar Perintah Allah karena Tradisi
Ayat 3 mengatakan,“Tetapi jawab Yesus kepada mereka, ‘Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?’” Kaum agama Yahudi menuduh murid-murid Tuhan melanggar tradisi mereka, tetapi Tuhan menyalahkan mereka karena mereka melanggar perintah Allah demi tradisi mereka. Mereka memperhatikan tradisi, tetapi mereka mengabaikan perintah Allah. Pada prinsipnya, kaum agamawan hari ini melakukan hal yang sama. Banyak kelompok kekristenan menihilkan firman Allah karena tra-disi mereka.
Dalam ayat 4 Tuhan melanjutkan, “Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang me-ngutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati.” Di sini, penanggulangan Tuhan terhadap orang Farisi dan ahli Taurat bukan hanya menyalahkan mereka karena menihilkan firman Allah demi tradisi mereka, tetapi juga menyiratkan bahwa manusia harus menghormati orang tuanya. Dalam pemerin-tahan-Nya atas manusia, Allah telah menetapkan bahwa ma-nusia harus menghormati orang tua. Dia telah menjadikan hal ini sebagai perintah pertama di antara sepuluh perintah yang membahas hubungan antar manusia (Kel. 20:12). Na-mun, sifat manusia yang jatuh selalu mendorong manusia mengabaikan orang tua, untuk memberontak terhadap pe-merintahan Allah. Untuk membawa manusia kembali kepa-da pemerintahan Allah, Tuhan sebagai Raja surgawi mene-kankan bahwa manusia harus menghormati orang tuanya. Ini berhubungan dengan perkataan-Nya dalam konstitusi Ke-rajaan Surga mengenai penggenapan hukum Taurat (5:17-19). Karena itu, rasul juga menekankan perkara ini dengan tegas (Ef. 6:1-3; Kol. 3:20). Kita, umat kerajaan, harus menghor-mati orang tua kita dan tidak memaafkan diri sendiri seperti yang dilakukan oleh kaum agamawan Yahudi. Memaafkan diri sendiri menunjukkan bahwa kita tidak berada di bawah pemerintahan surgawi, melainkan mengikuti sifat kita yang telah jatuh dan arus pemberontakan dari angkatan hari ini.
Dalam pertentangan antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi, Tuhan tidak memperhatikan tradisi. Sebaliknya, Ia menunjukkan kepada mereka firman Allah. Dalam prinsip-nya, kita juga melakukan hal yang sama hari ini. Orang masih menihilkan firman Allah dengan tradisi mereka, dan kita dipersalahkan hari ini karena tidak menaati tradisi. Akhir-akhir ini, seorang di antara penentang kita memutar-balikkan 1 Tesalonika 5:23, ayat yang membicarakan ten-tang tiga bagian manusia yakni roh, jiwa, dan tubuh. Ia me-nyatakan bahwa dalam ayat ini kata “dan” dalam bahasa Yunani dapat pula diterjemahkan “bahkan”. Tetapi jika kita menggunakan “bahkan” untuk kata sambung Yunani dalam ayat ini, maka roh, jiwa, dan tubuh, satu sama lain akan menjadi sama. Ini seperti dokter yang mengatakan bahwa kaki seseorang sama dengan perutnya dan perut itu sama de-ngan jantung. Betapa ngawurnya dokter semacam ini! Dalam kekristenan banyak orang masih menandaskan tradisi dan dalam gereja-gereja sebutan tradisi-tradisi sangat populer. Tetapi Tuhan telah membangunkan kita untuk kembali ke-pada firman yang murni. Kita tidak mempedulikan tradisi manusia, ajaran, atau praktek manusia. Ini telah menyinggung beberapa orang, dan kita dituduh merusak “gereja”. Tetapi “gereja” yang mereka anggap telah kita rusak, bukan gereja sesungguhnya, sebaliknya adalah gereja tradisi yaitu sekte, denominasi.
Puji Tuhan atas catatan dalam Matius 15! Semua aspek catatan ini sama dengan situasi kita hari ini. Tuhan Yesus dan para pengikut-Nya disalahkan oleh kaum tradisionalis dan hari ini kita disalahkan oleh kaum agamawan. Dalam menjawab mereka yang menyalahkan murid-murid-Nya, Tuhan seolah-olah berkata, “Kamu orang Farisi menyalahkan murid-murid-Ku karena melanggar tradisimu. Kamu perlu nampak bahwa kamu telah melanggar firman Allah dengan menaati tradisimu, dan kamu terus melanggarnya.” Dengan demikian Tuhan membawa mereka kembali ke firman yang murni, memberi tahu mereka apa firman Allah itu dan apa tradisi manusia itu. Hari ini pun sama. Kita disalahkan ka-rena tidak mengikuti gereja historis, tidak mengikuti tradisi. Kita menjawab bahwa kita harus kembali ke firman yang murni dan tidak mempedulikan tradisi gereja historis. Dalam berbagai dewan dan pengakuan iman gereja historis tidak disebutkan ketujuh Roh. Ini berarti bahwa jika kita meng-ikuti konsepsi tradisi Trinitas, kita akan mengabaikan ke-tujuh Roh. Pengkritik kita mengatakan, “Anda tidak menghor-mati dewan gereja dahulu kala yang merumuskan pengakuan iman tentang Trinitas.” Kita menjawab, “Kita tidak meng-ikuti pengakuan iman. Semua itu adalah ajaran dan tradisi manusia. Sebaliknya, kita kembali ke firman yang murni. Dalam Alkitab kita menjumpai sesuatu lebih dari yang ter-cakup dalam pengakuan iman, sebab Alkitab membicarakan ketujuh Roh. Dapatkah Anda menemukan sepatah kata ten-tang tujuh Roh dalam pengakuan iman Anda?” Ini semata-mata hanya sebuah ilustrasi mengenai jurang yang ada di antara pemulihan Tuhan dan agama Kristen tradisional. Ju-rang ini timbul karena pemulihan seluruhnya berdasarkan firman yang murni, sedangkan agama kekristenan dipenuhi dengan tradisi.
2. Memuliakan Allah dengan Bibir, tetapi Hatinya Jauh dari Dia
Dalam ayat 7-8 Tuhan Yesus berkata, “Hai orang-orang munafik! Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Pemerintahan surgawi dari kerajaan menuntut realitas batini, bukan hanya praktek luaran. Pemerintahan ini menanggulangi keadaan yang sejati dari hati manusia, bukan menanggulangi yang disingkapkan oleh bibir. Tradisi orang Farisi itu lahiriah, tetapi yang Tuhan perhatikan ialah sesuatu yang batiniah. Sebagian orang dalam agama hari ini menentang kita karena mereka bagi perkara-perkara lahiriah. Mereka tidak mengerti akan hayat batiniah atau kebenaran-kebenaran yang subyektif. Ada sebagian orang menyatakan bahwa karena Kristus ada di surga, Ia sesungguhnya tidak dapat bersemayam di dalam kita, Ia semata-mata terwakili di dalam kita dengan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki Kristus yang subyektif, mereka ha-nya mempunyai Kristus yang obyektif. Tetapi kita yang da-lam pemulihan Tuhan mempunyai baik Kristus yang obyektif maupun Kristus yang subyektif. Mereka yang mengatakan bahwa Kristus hanya terwakili di dalam kita mengajarkan demikian, karena mereka percaya bahwa dalam ke-Allahan, Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga individu yang terpisah. Ka-rena Putra ada di surga, maka mereka menekankan bahwa tidaklah mungkin bagi Dia berada di dalam kita. Mereka yang berdebat demikian berada dalam praktek triteisme. Me-reka percaya akan satu dalam tiga, tetapi tidak percaya akan tiga dalam satu. Namun, dalam Alkitab tidak ada pernya-taan yang menunjukkan bahwa tiga dalam ke-Allahan itu terpisah. Sebaliknya, Tuhan Yesus berkata kepada Filipus, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” (Yoh. 14:10). Dalam ayat yang sama Tuhan melanjutkan dengan berkata, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.” Ayat ini mewahyukan bahwa ke-tika Putra berkata, Bapa pun bekerja.
Yohanes 7:29 mengatakan, “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” Yohanes 15:26 mengatakan, “Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” Kata depan “dari” dalam ba-hasa Yunaninya dalam ayat ini dan dalam Yohanes 6:46 mempunyai arti “dari dan bersama-sama”. Putra diutus bukan hanya dari Bapa, tetapi juga dari dan bersama-sama Bapa. Dalam Yohanes 15:26 Tuhan berkata bahwa Ia akan mengu-tus Roh dari dan bersama-sama Bapa. Menurut konsepsi manusia, Roh diutus dari Bapa dan Bapa tetap berada di sur-ga. Namun, Roh realitas diutus oleh Putra, bukan hanya dari Bapa, tetapi juga bersama-sama Bapa. Penolong datang dari Bapa dan bersama-sama Bapa. Bapa itulah sumbernya. Keti-ka Roh datang dari sumber itu, Ia tidak meninggalkan sumber itu, melainkan sumber itu datang bersama-sama Dia. Roh, yang diutus oleh Putra dan datang bersama-sama Bapa akan bersaksi tentang Putra. Tiga ke-Allahan adalah tiga dalam satu. Bapa, Putra, dan Roh bukan tiga Allah yang terpisah, tetapi satu Allah yang unik. Inilah pengertian yang benar ten-tang Allah Tritunggal menurut firman Allah yang murni. Na-mun, mereka yang menganut konsepsi Trinitas tradisional sesungguhnya mempunyai tiga Allah.
Mereka yang mengatakan bahwa Kristus tidak berada di dalam kita tidak bisa mempunyai pengalaman subyektif akan Kristus. Bagaimana mereka dapat mengalaminya se-cara subyektif jika mereka tidak percaya bahwa Kristus ha-ri ini adalah Roh pemberi-hayat yang tinggal di dalam roh kita? Karena mereka kurang pengalaman subyektif tentang Kristus, maka mereka menuduh kita bidat. Lagi pula, mereka menyangkal fakta yang diwahyukan dalam 2 Petrus 1:4 bah-wa kaum beriman berbagian dalam sifat (kodrat) ilahi. Me-reka mengajarkan bahwa kosa kata “sifat ilahi” dalam ayat ini bukan berarti sifat ilahi, melainkan kebajikan ilahi. Me-reka menyatakan pula bahwa memiliki sifat ilahi berarti menjadi Allah sendiri. Lagi pula, mereka menuduh kita meng-ajarkan evolusi ke dalam Allah. Memang benar kita menya-takan bahwa kita memiliki sifat ilahi, sebab kita dilahirkan dari Allah kita. Betapa mustahilnya bila kita mengatakan bahwa seorang putra tidak mempunyai sifat ayahnya! Karena kita dilahirkan oleh Bapa ilahi, pasti kita mempunyai ha-yat-Nya beserta sifat-Nya. Tetapi ini tidak berarti bahwa kita menjadi atau akan menjadi Allah sendiri. Menurut firman yang murni, kita pun mengatakan bahwa gereja adalah ma-nifestasi Allah dalam daging (1 Tim. 3:15-16). Karena kita mengatakan hal ini menurut Alkitab, kita sekali lagi diper-salahkan menjadikan diri kita Allah dan mengajarkan evolusi ke dalam Allah. Kita sesungguhnya dituduh menjadi unsur keempat ke-Allahan! Betapa jahat tuduhan ini!
Pada bulan Oktober 1977, sebuah konferensi internasional telah diselenggarakan di Taipei. Sejak bulan Januari tahun itu saya mulai menengadah kepada Tuhan mengenai judul yang harus saya bicarakan selama konferensi itu. Menjelang permulaan Oktober, saya tetap tidak mendapat ide mengenai subyek pembicaraan saya. Ketika ditanya, saya hanya dapat berkata, “Saya tidak tahu.” Tetapi pada tanggal 2 Oktober 1977, suatu pembicaraan yang menentang kita disampaikan di depan sebuah pertemuan besar. Banyak saudara dan saudari kita menghadiri pertemuan itu dan melaporkan kepada kami, saya segera menyadari bahwa saya harus berbicara tentang pengalaman subyektif akan Kristus. Saya mengetahui bah-wa mereka yang menentang kita tidak mengerti sedikit pun tentang pengalaman subyektif akan Kristus. Mereka hanya memperhatikan pengetahuan obyektif dan doktrin Alkitab me-ngenai Kristus dan gereja. Karena itu saya berbeban membe-ri tahu semua wakil gereja-gereja yang hadir dalam konferensi itu bahwa kita perlu mengalami Kristus secara subyektif.
Masalah antara orang Farisi dan Tuhan Yesus serta para pengikut-Nya menerangkan bahwa orang Farisi hanya memperhatikan tradisi lahiriah, misalnya, pembasuhan ta-ngan. Mereka tidak mempedulikan apa pun tentang hal ba-tiniah. Sebab itu, Tuhan Yesus menunjukkan kepada mereka masalah batiniah hati. Seolah-olah Tuhan berkata, “Janganlah memperhatikan praktek lahiriah tentang pembasuhan tangan ini. Kenajisan yang perlu dibersihkan adalah yang ada di da-lammu.” Dalam pemulihan Tuhan hari ini kita tidak seha-rusnya mempedulikan perkara-perkara lahiriah, sebaliknya kita memperhatikan realitas batiniah.
Pada tahun 1968 banyak orang beriman di Los Angeles digugah untuk dikuburkan dalam air. Akibatnya, sejumlah pe-nentang mengutuk saya mengajarkan baptisan ulang. Namun, saya tidak mengajarkan ini. Tetapi saya gembira karena nampak kaum beriman yang merasa dirinya telah usang, be-ramai-ramai menguburkan diri dalam air. Tentunya ini jauh lebih baik daripada menghadiri kasino. Ada sebagian orang Kristen di Hong Kong yang bermain Mah-Yong, dan para pen-deta tidak menyalahkan mereka. Namun, ketika beberapa orang itu melompat ke dalam air untuk menguburkan diri me-reka, pendeta mengatakan bahwa ini adalah bidat. Hari ini banyak di antara mereka yang dikubur dalam air mengalami banyak penyertaan Tuhan. Tuhan memperhatikan realitas batiniah, bukan praktek lahiriah. Kepada mereka yang meng-kritik orang yang dibaptis lagi, saya berkata, “Umat Israel menyeberangi Laut Merah, jelas adalah lambang baptisan (1 Kor. 10:1, 2). Tetapi kemudian mereka menyeberangi Su-ngai Yordan. Bukankah itu suatu penguburan? Umat Israel harus menyeberangi Sungai Yordan sebab mereka telah usang. Jika setelah mereka menyeberangi Laut merah, mereka setia kepada Tuhan dan memasuki tanah permai, tidak perlu la-gi menyeberangi Yordan. Tetapi karena ketidakpercayaan mereka dan bertahun-tahun mereka berkeliaran di padang gurun, mereka menjadi usang. Sebab itu, mereka perlu me-ngubur keusangan dan diperbarui melalui menyeberangi Su-ngai Yordan. Dua belas batu dikubur dalam sungai mewakili Israel yang usang dan dua belas batu dibawa keluar dari sungai dan didirikan di atas tanah mewakili Israel yang di-perbarui. Benar, Anda dibaptis bertahun-tahun yang lalu, tetapi sejak saat itu Anda berkeliaran di padang gurun. Anda perlu dikuburkan dan diperbarui.” Tuhan tidak mempedu-likan ritual atau peraturan lahiriah, Ia hanya memperhati-kan realitas batiniah.
Karena Tuhan memperhatikan realitas batiniah, kita tidak mengkhawatirkan cara lahiriah tentang bersidangnya kita. Sidang itu ramai atau sepi sangat tidak berarti. Kita ha-nya mempedulikan pengalaman batiniah terhadap Kristus, realitas batiniah. Tangan kita kotor atau tidak, itu suatu hal yang tidak berarti, kondisi bagian batiniah kitalah yang penting.
Ayat 8 mengatakan, “Bangsa ini memuliakan Aku de-ngan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Mereka yang mengikuti tradisi mungkin memuliakan Tuhan secara lahiriah dengan bibir mereka, tetapi hati mereka jauh dari Allah. Praktek lahiriah tradisi kelihatannya bagi Allah. Na-mun sebenarnya, batin mereka tidak bagi Allah. Percayakah Anda bahwa mayoritas orang Kristen yang merayakan Natal adalah bagi Allah? Nampaknya demikian, tetapi sesungguh-nya dalam praktek Natal, hati banyak orang tidak bagi Tuhan. Mereka mempunyai penampilan, tetapi tidak ada realitas. Mereka mempunyai bibir yang menyatakan kepercayaan mereka, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Dalam pemu-lihan Tuhan, kita tidak berbicara tanpa realitas batiniah. Jika kita berbicara tanpa realitas, betapa kasihannya. Tradisi adalah masalah pengucapan dari bibir tanpa realitas dalam hati.
3. Percuma Beribadah kepada Allah karena Mereka Mengajarkan Perintah (tradisi) Manusia
Ayat 9 mengatakan, “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah ma-nusia.” Ini mewahyukan bahwa sebagian penyembahan (iba-dah) terhadap Allah mungkin saja sia-sia atau percuma. Se-bab utamanya adalah mengajarkan perintah manusia. Kita harus menyembah Allah menurut firman-Nya, yaitu kebe-naran. Banyak di antara mereka yang menyalahkan persi-dangan kita karena terlalu gaduh, tanpa hati bagi Allah. Se-kali lagi saya katakan bahwa dalam pandangan Allah bukan masalah penampilan lahiriah, tetapi masalah realitas ba-tiniah; bukan masalah apa yang kita katakan, tetapi masa-lah apa adanya kita. Pikirkanlah apa yang disebut kebak-tian kekristenan tertentu, di mana nyanyian solo dinyanyi-kan oleh anak perempuan muda yang cantik dengan rok mini. Di manakah hati banyak orang yang mendengarkan? Mung-kin dalam perzinaan. Mengapa nyanyian solo itu tidak dinya-nyikan oleh wanita tua, melainkan oleh gadis perempuan yang memikat? Apakah itu penyembahan kepada Allah? Ti-dak! Itu suatu nista bagi Allah kita yang kudus! Tetapi ke-gaduhan kita dalam sidang bukan suatu kebencian kepada-Nya. Marilah kita bersorak-sorai kepada Tuhan (Mzm. 100:1) dari roh. Kita suka berseru, “Puji Tuhan! Amin! Yesus itu Tuhan!” Kita tidak mempedulikan penampilan lahiriah, kita memperhatikan realitas batiniah.
C. Yang Sesungguhnya Menajiskan Orang
Dalam ayat 11 Tuhan mengatakan bahwa “bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Dalam Kerajaan Surga, kenajisan bukan dari benda-benda materi, melainkan dari perkara moral. Benda-benda materi tidak ber-hubungan dengan pemerintahan surgawi, melainkan dengan perkara moral. Semua kejahatan yang timbul dari hati mem-buktikan bahwa kita tidak berada di bawah pemerintahan surgawi.
D. Kaum Agamawan yang Munafik
1. Tidak Ditanam oleh Bapa Surgawi
Dalam ayat 13 Tuhan berkata, “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut de-ngan akar-akarnya.” Perkataan Raja surgawi ini menunjuk-kan bahwa orang-orang Farisi yang munafik tidak ditanam oleh Bapa surgawi. Karena mereka menolak Raja surgawi, mereka dicabut dari Kerajaan Surga.
2. Orang Buta yang Menuntun Orang Buta
Ayat 14 mengatakan,“Mereka orang buta yang menun-tun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang.” Kaum agamawan yang membenarkan diri dan yang congkak itu berpikir bahwa me-reka sudah jelas akan cara melayani Allah. Mereka tidak sadar bahwa mereka adalah orang buta yang menuntun orang buta. Mata mereka diselubungi oleh agama dan tradisi me-reka. Karena itu mereka tidak dapat melihat realitas ekonomi Allah dan dengan demikian tidak mampu masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kebutaan mereka membawa mereka “jatuh ke dalam lubang”.
Mereka yang mengikuti tradisi adalah orang buta yang menuntun orang buta. Hal ini benar pada hari ini. Banyak penentang adalah orang buta yang menuntun orang buta. Me-reka mungkin menyatakan bahwa mereka mengenal Alkitab, tetapi sesungguhnya mereka mutlak buta dan kehilangan penglihatan sama sekali. Sebab itu mereka memimpin orang lain ke dalam kebutaan. Saya merasa sangat sedih terhadap semua orang yang disesatkan. Saya mohon kepada hati nurani Anda untuk menanyakan pertanyaan ini: Dapatkah Anda menyangkal adanya sejumlah realitas dalam pemulih-an Tuhan? Dalam pemulihan, bantuan yang sejati telah di-berikan untuk membantu Anda mengalami Kristus secara subyektif dan menikmati Dia. Saya rasa Anda semua dapat berkata dari hati nurani Anda bahwa sebelumnya tidak per-nah ada di tempat lain, di mana Anda bisa mendapat bantuan yang begitu banyak untuk menikmati Kristus. Namun, se-jumlah orang menentang kita. Akan tetapi mereka kehi-langan berkat dan kenikmatan. Sebagaimana Tuhan Yesus berkata bahwa pemimpin-pemimpin buta itu bukan ditanam oleh Bapa. Kebutaan mereka menyebabkan mereka dicabut. Ketololan mereka, ketakhayulan mereka, dan kesalahan me-reka akan membuat mereka tercabut.
Sekali lagi kita nampak bahwa kita mengikuti jalan yang sama dengan yang ditempuh oleh Tuhan Yesus dan mu-rid-murid-Nya. Mereka menderita penolakan, mengalami ke-kurangan akan keperluan, menghadapi laut yang bergelom-bang, dan disalahkan oleh kaum tradisionalis serta kaum agamawan. Hari ini kita juga menghadapi hal yang sama. Inilah jalan menuju kemuliaan.