← Daftar isi Matius (3) · bab 11/19

JALAN MENUJU KEMULIAAN (3)

III. BADAI DI JALAN

Ketika kita mengikuti Tuhan pada jalan menuju kemu-liaan, pertama-tama kita mengalami penolakan, kemudian kita menderita kekurangan akan keperluan kita sehari-hari. Setelah ini kita mengalami angin sakal di tengah jalan (14:22-23). Angin sakal dalam pasal 14 menunjukkan bahwa pada jalan kita mengikuti Raja yang ditolak selalu ada ke-sulitan. Dari akhir pasal 13 sampai dengan akhir pasal 16, terdapat banyak perkara negatif. Dikatakan secara insani, ketika kita mengikuti Raja yang ditolak pada jalan yang me-nuju kemuliaan, tidak ada sesuatu yang baik, seolah-olah segala sesuatu itu merupakan kesulitan. Apakah Anda suka penolakan? Apakah Anda mengalami kekurangan benda-benda yang Anda perlukan bagi penghidupan harian Anda? Apakah Anda menghargai angin sakal di laut? Jika pada jalan kita tidak ada penolakan, tidak ada kekurangan akan keperluan harian atau angin sakal, itu menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar berjalan pada jalan ini. Jika kita benar-benar berada pada jalan yang menuju kemuliaan, kita akan mengalami kesulitan dan kesusahan.

A. Murid-murid Menyeberang dengan Perahu (Gereja)

Ayat 22 mengatakan,“Sesudah itu Yesus segera men-desak murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.” Tiba-tiba Tuhan mendesak murid-murid mening-galkan Dia, dan Dia sendiri tidak pergi bersama mereka. Dia mendesak mereka pergi dengan perahu agar Dia bisa me-miliki lebih banyak waktu untuk berdoa seorang diri kepada Bapa. Sebagaimana ayat 23 menunjukkan bahwa Dia naik ke atas gunung untuk berdoa. Sebelum Tuhan menyuruh mu-rid-murid pergi, murid-murid mengambil bagian dalam kenik-matan suplai Tuhan. Kekurangan akan keperluan menda-tangkan pengalaman yang sangat indah. Murid-murid menik-mati suplai Tuhan dan mereka bergembira. Andaikata kita di sana, kita pasti akan bersukacita. Saya yakin Petrus berbicara banyak tentang apa yang Tuhan perbuat. Petrus mungkin berkata, “Yohanes, bukankah ini ajaib? Lihatlah apa yang Tuhan lakukan dengan lima roti dan dua ikan ke-cil!” Kemudian Tuhan seolah-olah berkata, “Jangan bicara. Pergilah ke dalam perahu dan pergi mendahului aku ke se-berang. Aku tahu kamu sudah mempunyai waktu yang nik-mat, tetapi kini kamu sekalian harus pergi.” Murid-murid mungkin berkata, “Tuhan, maukah Engkau pergi bersama kami?” Boleh jadi Tuhan menjawab, “Tidak, pergilah sendiri. Aku mau pergi ke gunung untuk berdoa.” Sering kali, setelah kenikmatan Tuhan yang menyenangkan, Tuhan tiba-tiba menyuruh kita pergi ke laut. Kemudian, Ia meninggalkan kita. Inilah situasi hari ini. Tuhan telah pergi ke gunung, ke surga. Namun, Ia mengamanatkan gereja-Nya untuk pergi ke laut, di mana sering terdapat angin sakal dan badai.

B. Raja Surgawi Berdoa di Atas Gunung

Ayat 23 mengatakan,“Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri.” Dengan berdiri pada kedudukan manusia (4:4), Raja surgawi, Anak terkasih Bapa (3:17), perlu berdoa seorang diri kepada Bapa-Nya yang ada di surga, agar Dia bisa bersatu dengan Bapa dan memiliki penyertaan Bapa dalam setiap hal yang dilakukan-Nya di bumi untuk mendirikan Kerajaan Surga. Dia melakukannya bukan di padang gurun, melainkan di gunung, meninggalkan semua orang, termasuk murid-mu-rid-Nya, agar Dia bisa sendirian berkontak dengan Bapa sen-dirian.

C. Perahu dengan Murid-murid Diombang-ambingkan oleh Gelombang karena Angin Sakal

Ayat 24 mengatakan,“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.” Pasti Tuhan memperhati-kan fakta bahwa perahu itu diombang-ambingkan oleh angin sakal. Ketika Dia mendesak murid-murid masuk ke dalam perahu dan pergi mendahului Dia, Dia telah tahu bahwa angin sakal akan datang. Namun, Dia tidak pergi bersama-sama mereka. Sebaliknya, Dia pergi ke atas gunung untuk berdoa. Hari ini Tuhan Yesus berada di atas gunung yaitu di surga (Rm. 8:34; Ibr. 7:25), dan gereja berada di laut, dunia. Hari demi hari kita menghadapi angin sakal. Sejak hari pertama kami tiba di Anaheim, angin sakal menerpa kami, tanpa jeda satu hari pun. Perahu gereja terus-menerus diombang-ambingkan oleh angin. Namun, inilah takdir kita. Fakta bah-wa Tuhan berada di surga berdoa bagi kita merupakan suatu sumber kelegaan dan dorongan bagi kita. Kita tidak mem-perhatikan betapa kencangnya angin sakal, sebab kita tahu bahwa Tuhan berada di atas gunung untuk berdoa bagi kita. Angin sakal itu tidak di bawah kontrol musuh, melainkan di bawah kaki Tuhan.

Jangan takut angin sakal. Tidak perlu disusahkan oleh angin bahkan badai sekalipun. Orang lain dapat bersaksi bagi saya bahwa tidak peduli apa pun yang terjadi, saya tidak ta-kut. Istri saya dapat bersaksi bahwa setiap malam saya tidur nyenyak dan setiap siang saya tidur siang, tidak ada yang saya khawatirkan. Kadang-kadang istri saya merasa heran bahwa saya tidak disusahkan oleh kesulitan-kesulitan. Banyak yang harus saya lakukan, karena itu saya perlu beristirahat. Karena takdir kita berada dalam tangan Tuhan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk takut akan sesuatu. Angin sakal dan perlawanan ada di bawah kaki-Nya. Tuhan berada di atas gunung yang tinggi berdoa bagi kita dan menjadi perantara kita. Dia tahu betapa kencangnya angin itu. Tetapi Dia me-nertawai angin itu dan seakan-akan berkata, “Angin kecil, kamu tidak berarti apa-apa bagi-Ku. Kamu mencoba mela-kukan apa? Kamu tidak dapat berbuat apa pun terhadap gereja-Ku. Mereka yang berada di dalam perahu adalah pengikut-pengikut-Ku. Sesungguhnya mereka adalah Aku. Sekalipun Aku di sini, di surga, Aku pun bersama dengan mereka.” Betapa indahnya lukisan ini: gunung yang tinggi, gelombang ombak yang mengamuk dan angin sakal serta pe-rahu kecil di laut! Angin dan gelombang semua bersatu un-tuk mendatangkan faedah bagi kita. Tidakkah Anda percaya bahwa para penentang justru bekerja untuk kebaikan kita? Sungguh demikian. Di Anaheim kami nampak betapa baik-nya para penentang itu menyempurnakan kami.

Ada orang yang menyalahkan saya dengan mengatakan bahwa saya tidak percaya Yesus Kristus berada di surga. Mereka menuduh saya terlalu batiniah, selalu memberi tahu orang untuk tidak memandang ke surga, melainkan meman-dang kepada Kristus yang di dalam Anda. Faktanya ialah kita perlu memandang dalam dua arah. Pertama, kita wajib memandang kepada Tuhan yang di dalam kita dan berkata, “Oh Tuhan Yesus, apakah Engkau gembira dengan tinggal-Mu di dalam aku? Apakah Engkau menikmati tempat ini?” Kita semua perlu nampak bahwa Kristus berada di dalam kita. Untuk menikmati Dia, kita harus mengetahui bahwa Dia tinggal di dalam kita. Andaikata Dia berada di tempat jauh, kita tidak dapat menikmati-Nya. Kedua, untuk ber-sandar pada-Nya kita harus menengadah kepada Dia yang duduk dan berdaulat di surga dan menjadi pengantara kita, yang tak lama lagi akan segera datang kembali kepada kita. Haleluya Dia berada di dalam kita, juga berada di surga men-jadi pengantara kita! Jika kita nampak hal ini, kita tidak akan berduka, terganggu, atau disusahkan oleh badai apa pun, sebab kita yakin bahwa perahu yang kita tumpangi adalah perahu-Nya — gereja adalah gereja-Nya. Laut tidak dapat merusakkan perahu. Sebaliknya, laut melayani perahu. Seperti yang akan kita lihat, angin dan gelombang mengajar Petrus banyak pelajaran.

D. Raja Surgawi Berjalan di Atas Laut

Menghampiri Murid-murid

“Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada me-reka berjalan di atas air” (ayat 25). Pengawal Romawi mem-bagi waktu jaga malam menjadi empat bagian, masing-masing terdiri atas tiga jam, dari matahari terbenam (kira-kira pukul 18.00) sampai matahari terbit (kira-kira pukul 06.00). Waktu jaga pertama adalah jaga malam, waktu jaga kedua adalah jaga tengah malam, waktu jaga ketiga adalah jaga ayam berkokok, waktu jaga keempat adalah jaga pagi (Mrk. 13:35). Waktu jaga keempat kemungkinan dari pukul 03.00 sampai pukul 06.00 pagi.

Ketika murid-murid-Nya menderita karena gelombang, Tuhan berjalan di atas laut. Ini mempersaksikan bahwa Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam semesta (Ayb. 9:8).

E. Raja Surgawi Mendatangkan Keberanian bagi Murid-murid oleh Kehadiran-Nya

Karena mengira bahwa Tuhan adalah hantu, murid-mu-rid berseru ketakutan (ayat 26). “Tetapi segera Yesus ber-kata kepada mereka, ‘Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!’” (ayat 27). Raja surgawi membawakan keberanian kepada murid-murid karena kehadiran-Nya. Ketika mereka salah sangka bahwa Dia adalah hantu, Dia meneguhkan mereka dengan berkata, “Inilah Aku.”

F. Murid-murid Belajar Berjalan

dalam Badai oleh Iman

dan Bukan oleh Penglihatan

Ayat 28 mengatakan,“Lalu Petrus berkata kepada-Nya, ‘Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.’” Ketika Tuhan berkata, “Datanglah!” Petrus turun dari perahu, “berjalan di atas air mendapatkan Yesus” (ayat 29). Hanya Petrus yang berani melakukan hal ini. Saya tidak percaya bahwa di tengah-tengah kita ada orang yang demikian berani seperti Petrus. Adalah mukjizat bahwa Petrus dapat berjalan di atas air. Ia berjalan di atas gelombang oleh iman. Iman adalah kita bertindak menurut firman Tuhan. Beriman bukan berarti kita mampu melaku-kan suatu perkara, bukan pula berarti kita berketetapan untuk menuju ke suatu arah. Iman berarti walaupun kita mungkin sangat lemah, kita berani melakukannya menurut firman Tuhan. Tuhan berkata kepada Petrus, “Datanglah”, dan Petrus memegang firman itu, bertindak, dan berjalan di atas air. Janganlah menyelidiki apakah Anda beriman atau tidak. Janganlah bertanya kepada diri Anda, “Apakah aku ku-at dalam iman? Apakah imanku cukup?” Jika Anda bertanya kepada diri Anda sedemikian, Anda akan segera tenggelam di bawah gelombang.

Ayat 30 mengatakan tentang Petrus: “Tetapi ketika di-rasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, ‘Tuhan, tolonglah aku!’” Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air demi iman kepada perkataan Tuhan (ayat 29). Namun, ketika dirasanya angin yang kencang, imannya lenyap. Dia seharusnya berjalan demi iman kepada perkataan Tuhan, bukan dengan memandang lingkungan (yaitu penglihatan). Dalam mengikuti Tuhan kita seharusnya berjalan demi iman, bukan demi penglihatan (2 Kor. 5:7). Ketika Petrus berseru minta tolong, “segera Yesus mengu-lurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’” (ayat 31). Karena Tuhan berkata, “Petrus, datanglah” (ayat 29), Petrus seharusnya berdiri di atas perkataan itu dan tidak seharus-nya bimbang. Karena itu, Tuhan menegurnya. Iman berasal dari perkataan Tuhan dan bertumpu pada perkataan Tuhan. Asalkan kita memiliki perkataan Tuhan, kita seharusnya hanya percaya kepada perkataan-Nya dan tidak bimbang.

Janganlah dipersulit oleh badai apa pun, sebab kita ber-ada di dalam perahu, gereja Tuhan. Bahkan kalau kita ti-dak dapat melihat Tuhan atau tidak merasakan bahwa Dia beserta dengan kita, kita masih boleh diyakinkan bahwa Dia berada di atas gunung, menjadi perantara kita. Bahkan Dia mungkin sedang dalam perjalanan menuju ke perahu. Apakah Dia di atas gunung menjadi pengantara atau di atas gelom-bang berjalan menuju kita, kita tidak seharus terganggu. Sering kali kita bukan hanya mempunyai damai di dalam batin, bahkan kita telah menerima firman dari Dia untuk berjalan di atas gelombang. Ketika kita menerima firman se-demikian, kita harus hanya berjalan di atas laut yang ber-gelombang. Janganlah terganggu oleh penentangan dan peng-aniayaan. Bersandarkan firman Tuhan kita dapat berjalan menghampiri Dia, bahkan berjalan dan melampaui semua penentangan. Inilah iman.

Kita tidak boleh menyalahkan Petrus karena beriman kecil. Di antara semua murid dalam perahu, Petruslah yang pertama menikmati hadirat Tuhan. Beberapa di antara kita terlalu lambat dan takut-takut. Janganlah mengkritik orang lain terlalu cepat. Kadang-kadang Anda perlu mempercepat diri Anda. Anda lebih suka mana, seperti Petrus atau seperti Thomas? Petrus itu berani, tetapi Thomas takut-takut dan berhati-hati. Dalam gereja banyak orang yang sangat berhati-hati dan sangat waspada. Tetapi Petrus tidak waspada. Se-gera setelah ia mendengar perkataan Tuhan, ia melangkah keluar dari perahu dan berjalan di atas air. Namun, orang-orang yang waspada mungkin berkata, “Tetapi akhirnya Petrus harus berseru minta tolong kepada Tuhan. Kita tidak perlu berseru minta tolong. Di dalam perahu kita selamat.” Ya, Anda selamat di dalam perahu, tetapi Anda tidak ber-ada dalam hadirat Tuhan. Anda tidak seperti Petrus yang pertama-tama kembali ke hadirat Tuhan.

Petrus menyebabkan banyak sekali kesulitan. Orang yang tergesa-gesa selalu mendatangkan banyak kesulitan, se-dangkan orang yang penakut tidak banyak membuat kesu-litan, tetapi mereka pun tidak mendatangkan hadirat Tuhan. Dengan orang yang berhati-hati, seolah-olah tidak terjadi apa pun. Setahun demi setahun, segalanya tetap tenang. Mere-ka yang seperti Petrus, selalu menimbulkan perkara. Mereka menyebabkan kesulitan, tetapi mereka ditolong oleh Tuhan dan dengan demikian dibawa ke dalam hadirat-Nya. Beberapa di antara Anda, orang-orang yang berhati-hati perlu mem-bangkitkan sedikit kesulitan, kemudian berseru kepada Tuhan untuk minta tolong, dan masuk ke dalam hadirat-Nya. Siapa yang Anda kira lebih banyak menikmati Tuhan — orang yang berhati-hati atau yang buru-buru? Jawaban-nya pasti orang yang buru-buru. Namun, orang yang kecil ha-ti mungkin berkata, “Biarlah kami tidur. Lambat atau cepat, Tuhan Yesus pasti akan datang. Kita tidak perlu terjun ke dalam air untuk membuat kesulitan, lalu minta tolong, ki-ta tidak perlu begitu tergesa-gesa masuk ke hadirat Tuhan. Jika kita tenang dan tetap tenang, Tuhan akan datang.” Da-lam suatu arti, orang yang berhati-hati itu memang benar dan mereka yang seperti Petrus itu salah. Tetapi orang yang berani lebih menikmati Tuhan daripada orang yang kecil hati. Namun, pada akhirnya, hadirat Tuhan datang bukan hanya kepada Petrus, tetapi juga kepada semua murid di dalam perahu.

G. Angin Reda oleh Karena Kehadiran

Raja Surgawi

Ayat 32 mengatakan,“Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda”. Ini sebuah mukjizat. Mukjizat ini bukan hanya mempersaksikan Tuhan adalah Penguasa langit dan bumi, tetapi juga mempersaksikan bahwa Dia memperha-tikan kesulitan yang dialami para pengikut-Nya ketika mereka mengikuti-Nya dalam perjalanan. Ketika Tuhan ada di dalam perahu kita, angin pun redalah. Catatan kedua mukjizat dalam pasal ini menyiratkan bahwa ketika Kristus ditolak oleh orang-orang dalam kalangan agamawan dan politisi, Dia dan para pengikut-Nya berada di padang gurun yang gersang dan di atas laut yang bergelombang. Bagai-manapun keadaannya, Dia mampu menyediakan keperluan mereka dan membawa mereka melewati kesulitan itu.

Kehadiran Tuhan menyebabkan angin reda. Berulang kali saya mempunyai pengalaman ini. Saya tidak dapat mem-beri tahu Anda berapa banyak angin ribut yang telah saya lalui selama lima puluh tahun yang lalu, tetapi pada akhirnya angin ribut pun reda. Tidak satu pun angin ribut yang berlangsung lebih daripada tiga sampai lima tahun. Tiga sampai lima tahun sebenarnya bukan waktu yang lama; bagi Tuhan, hanyalah beberapa menit, sebab bagi-Nya seribu tahun sama seperti sehari. Janganlah tercengang — setiap angin ribut pasti akan reda.

H. Menyembah Raja Surgawi

dan Mengenal Dia sebagai Anak Allah

Setelah Tuhan meredakan angin, “Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah’” (ayat 33). Mengenal Tuhan sebagai Anak Allah adalah mengakui bahwa Dia sama dengan Allah (Yoh. 5:18). Ini menunjukkan bahwa murid-murid mengakui keilahian Tuhan (Mat. 1:23; 3:17).

Dalam 14:22-23 kita nampak sebuah lukisan diri kita sendiri. Beberapa di antara kita ini ada yang seperti Petrus dan yang lain seperti Thomas. Ada sebagian yang cepat dan berani, selalu membuat kesulitan dan kesalahan, yang lain adalah penakut, berhati-hati, dan kendur. Orang yang kecil hati mungkin mengomel dengan lantang, “Saudara A itu ter-lalu cepat. Aku tidak setuju. Ia mutlak salah. Tetapi aku tenang dan berhati-hati.” Saya sangat jelas tentang keadaan dalam gereja mengenai yang cepat dan yang berhati-hati. Saya tahu mereka yang berani dan yang membuat kesulitan, juga tahu mereka yang berhati-hati, yang tidak pernah membuat masalah. Saya menghargai semua yang berhati-hati, namun saya tidak setuju dengan mereka. Sebab mereka terlalu ber-hati-hati, tidak pernah menggugah seseorang, juga tidak mem-bangkitkan suatu hal. Orang perlu digugah agar berdiri dan berjalan di atas gelombang sehingga mereka dapat masuk ke hadirat Tuhan. Mereka yang berbuat demikian akan mem-bawa Tuhan ke perahu. Tidak ada seorang pun yang ber-hati-hati, penakut, dan lamban, yang pernah membawa Tuhan Yesus ke perahu. Dalam menghadapi orang yang berhati-hati, Tuhan harus datang ke perahu sendiri. Jika Ia berbuat de-mikian, Ia akan menemukan orang yang berhati-hati itu tertidur, tidak ada orang yang menantikan Dia. Setelah bangun dari tidur, orang yang berhati-hati akan berkata, “Tuhan, Engkau di sini. Ini sungguh baik. Puji Tuhan untuk ini! Kini saatnya untuk kembali tidur.” Mereka yang lamban dan berhati-hati tidak pernah menyebabkan kesulitan atau masalah apa pun. Kita perlu cepat dan berani. Namun, ketika dengan cepat dan berani melangkah keluar dari perahu dan berjalan di laut, kita harus memperhatikan empat hal: per-tama, kita bertindak menurut perkataan Tuhan, tidak ber-tindak tanpa mendengar perkataan-Nya; kedua, arah kita harus tertuju kepada Tuhan sendiri; ketiga, kita masuk ke dalam hadirat Tuhan; dan keempat, kita kembali ke perahu. Jika kita memperhatikan keempat perkara ini, kita akan be-nar, bahkan jika kelihatannya salah sekalipun.

IV. KUASA PENYEMBUHAN

Setelah Yesus dan murid-murid tiba di Genesaret, orang-orang yang di tempat itu membawa semua orang yang sakit kepada Tuhan. Ayat 36 berkata, “Mereka memohon kepada-Nya supaya diperkenankan walaupun hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sem-buh” (ayat 36). Kuasa penyembuhan itu keluar, bukan dari dalam apa adanya Kristus, melainkan dari jumbai jubah-Nya. Sebab jubah Tuhan melambangkan perbuatan kebenaran Kristus, dan jumbai menunjukkan Penguasa surgawi (Bil. 15:38-39). Yang keluar dari kuasa perbuatan surgawi Kristus ialah kebajikan yang menjadi kuasa penyembuhan. Menurut Bilangan 15, jumbai jubah melambangkan kebajikan umat Allah yang bertindak menurut pengaturan-Nya. Jumbai itu terbuat dari pita biru. Ini mewahyukan bahwa sepak ter-jang mereka setiap hari diatur oleh kuasa surgawi Allah se-perti yang ditunjukkan oleh warna biru, warna surgawi. Ke-tika Yesus berada di bumi sebagai manusia, Ia bertindak demikian. Tindakan-Nya setiap hari diatur oleh pemerintahan surgawi Allah. Sebab itu, pada Tuhan ada kebajikan yang keluar untuk menyembuhkan orang lain.

Penyembuhan yang terjadi di dalam hidup gereja, ter-utama tidak berasal dari dalam apa adanya Tuhan Yesus; se-baliknya, terutama berasal dari kebajikan hayat insani Tuhan. Dalam hidup gereja kita mengalami hadirat Tuhan beserta kita di laut, di tengah-tengah angin sakal. Hadirat-Nya me-nyiapkan jalan bagi kebajikan-Nya untuk menjamah orang sakit dan menyembuhkan mereka. Penyembuhan macam ini berbeda dengan penyembuhan ajaib oleh kuasa ilahi. Jubah Yesus tidak melambangkan keilahian-Nya, sebaliknya melam-bangkan perbuatan kebenaran insani-Nya. Insani-Nya me-ngandung tanda pita biru, diatur oleh penguasaan surgawi, yang menghasilkan suatu kebajikan yang mampu menyem-buhkan orang yang sakit. Kebajikan semacam ini hanya da-pat diekspresikan melalui hidup gereja yang wajar di mana Yesus hadir.

Wahyu 22:2 mengatakan bahwa daun-daun pohon hayat adalah untuk penyembuhan bangsa-bangsa. Dalam perlambangan, buah pohon hayat mewakili hayat ilahi Tuhan, dan daun-daunnya mewakili perbuatan insani Tuhan. Buah-nya, hayat ilahi Tuhan adalah untuk memberikan gizi kepada kita dan daunnya, perbuatan insani Tuhan, untuk menyem-buhkan orang lain. Dalam langit baru dan bumi baru, daun pohon hayat akan dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa, yaitu kebajikan insani Kristus akan menyembuhkan orang-orang. Dalam Matius, setelah perahu sampai pada tu-juannya, kebajikan perbuatan insani Tuhan menjadi sangat unggul sehingga segala penyakit disembuhkan. Demikian pu-la bila kita mempunyai kehidupan yang wajar dengan hadirat Tuhan hari ini, di antara kita akan ada keinsanian Yesus yang telah dipertinggi. Keinsanian yang telah dipertinggi ini mempunyai kebajikan yang dilambangkan oleh jumbai jubah Kristus. Jika kita, umat gereja, mempunyai hidup gereja yang wajar dan hidup oleh Kristus, kita akan memperhidupkan keinsanian-Nya yang dipertinggi. Dalam kehidupan seperti ini akan terdapat kebajikan serta kuasa untuk menyembuhkan orang di sekitar kita.

Dalam perlambangan, tanah yang dikunjungi oleh Tuhan setelah perahu mendarat ialah lambang masa seribu tahun. Dalam masa seribu tahun akan terdapat banyak kesembuhan. Namun, kesembuhan yang terdapat dalam masa seribu tahun wajib dialami hari ini. Umat gereja harus mempunyai pen-cicipan masa seribu tahun. Kita wajib memperhidupkan ke-insanian Yesus yang dipertinggi supaya kita memiliki keba-jikan yang dapat menyembuhkan mereka yang di sekeliling kita. Bagi yang lain disembuhkan berarti bahwa sifat me-reka yang telah bejat, diubah. Mereka yang berada di seki-tar hidup gereja adalah semua orang yang berada di dalam kegelapan dan kebejatan. Tetapi jika umat gereja memperhidupkan keinsanian Kristus yang dipertinggi, akan menyebabkan kuasa penyembuhan mengalir ke dalam mereka. Bahkan orang Kristen lain pun akan disembuhkan.