JALAN MENUJU KEMULIAAN (2)
Dalam berita ini kita akan melihat Matius 14:14-21, catatan tentang mukjizat Tuhan memberi makan orang banyak di padang gurun.
II. KEKURANGAN DALAM KEPERLUAN
A. Pada Sore Hari di Padang Gurun yang Tandus
Sering kali setelah kita mengalami penolakan dan telah melaluinya, kita merasa gembira dan lega. Tetapi setelah kita mengalami kelegaan ini, kita sadar bahwa kita berada dalam kekurangan dan tidak mempunyai sesuatu untuk hidup. Ki-ta kekurangan dalam keperluan. Inilah keadaan banyak orang yang mengikuti Tuhan ke padang gurun.
Saya percaya bahwa mereka yang mengikuti Raja sur-gawi ke padang gurun menikmati saat yang gembira dan menyenangkan. Boleh jadi mereka begitu gembira sampai-sampai lupa makan. Ayat 15 mengatakan,“Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata, ‘Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.’” Mungkin Petrus yang mendahului murid-murid lain untuk mengingatkan Yesus bahwa mereka sedang berada di padang gurun dan hari pun mulai malam, sedangkan orang banyak itu perlu makan. Boleh jadi dialah orang yang meng-anjurkan Tuhan untuk menyuruh orang banyak itu pergi ke desa-desa guna membeli makanan bagi mereka masing-masing. Seolah-olah murid-murid berkata, “Tuhan, Engkau nampak bahwa hari mulai malam. Jangan membiarkan orang banyak bergerombol di sini. Suruhlah mereka pergi.” Bukan-kah ini pendapat yang baik yang keluar dari hati yang baik? Petrus-Petrus hari ini semua berbaik hati. Di dalam hidup gereja, orang yang baik sering mengajukan usul. Janganlah menjadi Petrus yang sedemikian.
B. Belajar Memperhatikan
Keperluan Orang Lain
Dalam membaca Kitab Matius kita perlu memperhatikan pengaturan doktrin kitab itu. Banyak pembaca mempertim-bangkan Kitab Matius sebagai buku cerita atau sejarah. Te-tapi itu bukan buku sejarah, melainkan buku doktrin. Sebab itu firman Tuhan dalam ayat 16, sangat bermakna, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Murid-murid meminta Tuhan untuk menyuruh orang ba-nyak itu pergi, supaya orang banyak itu dapat membeli ma-kanan untuk diri mereka sendiri, tetapi Tuhan menyuruh murid-murid memberi makanan kepada orang banyak itu. Konsepsi murid-murid itu adalah menyuruh orang banyak itu melakukan sesuatu, ini adalah prinsip hukum Taurat. Tetapi konsepsi Tuhan adalah memberi sesuatu kepada orang-orang untuk dinikmati. Ini adalah prinsip anugerah. Apa yang diusulkan murid-murid seluruhnya berdasarkan prinsip hukum Taurat.
Dalam ayat 16 Tuhan Yesus memutus pembicaraan mu-rid-murid. Kitab Injil mencatat banyak kali peristiwa dipu-tusnya pembicaraan Petrus. Petrus sangat berpengalaman dalam hal diputus pembicaraannya oleh Tuhan. Di atas gu-nung, ketika ia mengusulkan untuk membangun tiga kemah, perkataannya diputus oleh Allah. Ketika ia memberi tahu orang yang mengumpulkan pajak dua dirham untuk Bait Allah bahwa Tuannya membayar pajak itu, perkataannya diputus oleh Tuhan. Tuhan Yesus selalu memutus orang yang berbaik hati. Jika Anda tidak mempunyai hati yang begitu baik, Tuhan tidak akan memutus pembicaraan Anda. Tetapi jika Anda berbaik hati, bersiap-siaplah diputus oleh-Nya. Hati baik Anda perlu diputus oleh sebab alamiah. Tuhan Yesus memutus perkataan murid-murid dengan mengatakan, “Kamu harus memberi mereka makan.” Tuhan seolah-olah berkata, “Jangan menyuruh orang banyak melakukan sesuatu untuk memperoleh sesuatu. Itu hukum Taurat. Kamu harus memberi mereka sesuatu untuk dimakan. Inilah anugerah. Aku tidak seperti Musa yang memberi tahu orang-orang harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Akulah Yesus Kristus. Aku datang dengan anugerah. Aku selalu memberi orang sesuatu. Hukum Taurat datang melalui Musa, tetapi anugerah datang beserta-Ku. Sebab itu kamu harus memberi orang banyak sesuatu untuk dimakan. Kamu, murid-murid, salah total. Sebab kamu masih berada di bawah hukum Taurat dengan memberi tahu orang-orang untuk melakukan sesuatu. Apakah orang-orang itu lapar? Pasti mereka lapar. Aku mengetahui hal ini. Aku belum melakukan sesuatu sampai pada butir ini untuk menyingkapkan kamu. Aku me-nunggu sampai menjelang malam supaya kamu dapat dising-kapkan. Jika Aku melakukan sesuatu untuk memenuhi ke-butuhan mereka, kamu tidak akan pernah tersingkapkan.” Sering kali dalam pemulihan Tuhan terjadi peristiwa-peristiwa seperti itu. Tuhan dengan sengaja melakukan beberapa per-kara untuk menghabiskan kesabaran manusia alamiah. Namun, orang yang berbaik hati tidak dapat bertahan. Se-ring kali, belum sampai pada saat terakhir, mereka sudah mengajukan usul. Jika mereka menunggu beberapa menit kemudian, ketololan mereka tidak akan tersingkap. Namun, kita harus belajar terhindar dari peraturan dan undang-un-dang hukum Taurat. Sebaliknya, kita harus belajar menge-nal anugerah, menggunakan anugerah, dan memberi kepada orang lain menurut prinsip anugerah.
Ketika Tuhan Yesus memberi tahu mereka untuk mem-beri orang banyak makanan, murid-murid berkata, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan” (ayat 17). Ketika Anda akan menggunakan anugerah, Anda akan nam-pak bahwa Anda tidak mempunyai apa-apa. Jika Anda hanya memberikan undang-undang kepada orang lain, Anda tidak akan mengetahui betapa miskinnya Anda. Anda mungkin mengira bahwa Anda sangat pintar dan berkata kepada diri Anda, “Aku sungguh pintar! Tidak ada seorang pun memper-hatikan bahwa hari sudah menjelang malam. Tetapi aku mengetahui segala sesuatu. Aku bahkan dapat memberi petunjuk kepada Yesus. Dalam pemulihan Tuhan akulah yang paling cerdas. Aku dapat memberi tahu orang lain untuk melakukan ini dan itu. Aku tahu saatnya, aku tahu situasi, aku tahu apa yang harus kukatakan, aku tahu apa yang ha-rus dilakukan, aku tahu segala sesuatu. Aku bahkan tahu bagaimana menyuruh Tuhan Yesus.” Namun, ketika kita di-beri tahu Tuhan untuk menggunakan anugerah, kita akan berkata, “Ketika aku di bawah hukum Taurat, aku buta dan tidak mengenal diriku. Di bawah hukum Taurat, kemiskinan-ku tidak tersingkapkan. Tetapi kini Tuhan Yesus mengatakan kata anugerah, menyuruh aku untuk memberi mereka ma-kan. Kata anugerah ini menyingkapkan kemiskinanku. Serta merta, aku nampak bahwa aku tidak punya apa-apa. Aku hanya punya mulut yang memerintah. Aku dapat memberi perintah, aku dapat memberi instruksi, dan aku dapat meng-ajar, tetapi aku tidak punya sesuatu untuk kuberikan.” Hu-kum Taurat tidak menyingkapkan kita sedemikian banyak, tetapi ketika kita akan menggunakan anugerah, kemiskinan kita disingkapkan. Kita nampak bahwa kita tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain, bahkan tidak ada sesuatu untuk memberi makan orang lain.
Kiranya Tuhan membelaskasihani kita! Janganlah me-ngira bahwa ini hanya cerita semata tentang Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang ditambah perempuan dan anak-anak dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Anda mungkin sangat paham akan cerita mukjizat ini, tetapi Anda mungkin masih kurang wahyu atau terang yang terkan-dung di dalamnya. Tetapi hari ini kita ada di bawah sorotan Tuhan. Kita semua adalah Petrus. Ketika kita mengira bah-wa kita tahu apa yang harus kita lakukan dan dapat mem-beri tahu orang-orang lain apa yang harus mereka lakukan, kita adalah Petrus di bawah hukum Taurat. Kita bukan orang yang di bawah anugerah. Orang yang di bawah anu-gerah selalu berkata, “Tuhan, aku tidak punya apa-apa untuk aku berikan. Kebutuhan ini besar, tetapi aku tidak dapat memenuhinya. Aku menyadari bahwa hari ini adalah hari anugerah, bukan hari hukum Taurat. Namun, aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan. Anugerah telah menying-kapkan aku.” Apakah Anda di bawah hukum Taurat atau di bawah anugerah? Jika Anda di bawah hukum Taurat, Anda akan merasa bahwa Anda masih memiliki sesuatu un-tuk dibanggakan — benak Anda yang pintar, prasangka Anda, pengetahuan Anda, kemampuan Anda memerintah orang lain. Tetapi ketika Tuhan menaruh Anda di bawah anu-gerah, kemiskinan Anda dan ketidakmampuan Anda akan tersingkap, dan Anda harus mengakui bahwa Anda tidak me-miliki sesuatu untuk diberikan, bahkan tidak memiliki apa-apa untuk makanan Anda sendiri. Di sini kita jelas prinsip hukum Taurat dan prinsip anugerah.
C. Mempersembahkan Seluruhnya kepada Raja Surgawi
Berbicara tentang roti dan ikan yang disebutkan dalam ayat 17, Tuhan berkata dalam ayat 18,“Bawalah kemari kepada-ku.” Apa pun yang kita miliki dari Tuhan perlu kita berikan kepada Tuhan agar menjadi berkat yang besar bagi banyak orang. Tuhan sering menggunakan apa yang kita per-sembahkan kepada-Nya untuk memenuhi keperluan pengikut-pengikut-Nya hari ini.
Meskipun Anda mungkin mengatakan bahwa Anda tidak memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi paling sedikit Anda mempunyai diri Anda. Puji Tuhan bahwa kita semua dapat memberikan diri kita kepada-Nya! Kita mungkin tidak memiliki apa pun selain diri kita yang miskin dan jelek ini, tetapi kita dapat memberikan diri kita kepada-Nya. Bahkan seseorang yang sakit pun dapat mem-berikan dirinya kepada Tuhan. Marilah kita memberikan apa adanya kita kepada Dia. Tuhan memerlukan persem-bahan kita. Jika apa yang kita miliki tersimpan sebagai kepunyaan kita sendiri, itu akan menjadi tidak berarti. Te-tapi jika melalui tangan kita diberikan ke dalam tangan Tuhan, akan menjadi berkat yang besar. Persembahkanlah diri Anda kepada Tuhan. Persembahkanlah apa yang Anda miliki kepada-Nya. Kemudian Tuhan akan mempunyai jalan untuk memberkati banyak orang dan Anda akan termasuk dalam berkat itu.
Kita semua harus nampak doktrin dalam firman bagian ini. Doktrin ini adalah kita harus tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah anugerah. Anugerah me-nyingkapkan kemiskinan dan kekosongan kita. Tetapi kita mempunyai sesuatu — diri kita — untuk diberikan kepada Tuhan. Meskipun sedikit sekali yang kita miliki, kita perlu mempersembahkannya kepada Tuhan. Jika kita meletakkan apa yang kita miliki ke dalam tangan-Nya, maka akan men-jadi suatu berkat yang besar.
D. Raja Surgawi Memperhatikan Semua Kebutuhan dengan Berkat yang Ajaib
1. Memberi Orang Makan
Ayat 19 berkata, “Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di rumput. Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap syukur. Ia memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak.” Tuhan memberi makan orang, Ia me-layankan suplai hayat kepada mereka. Dengan menyuruh orang banyak itu duduk di rumput, Ia mengatur orang-orang itu dengan tertib. Ini menunjukkan hikmat Tuhan dan ke-tertiban Tuhan. Dengan menengadah ke langit Raja surgawi menunjukkan bahwa sumber-Nya adalah Bapa-Nya yang ada di surga. Kemudian Ia memberkati ikan dan roti serta me-mecahkan-mecahkannya. Ini menunjukkan bahwa apa pun yang kita bawa kepada Tuhan harus dihancurkan, dipecah-kan, agar dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Tuhan akan memecahkan apa pun yang dipersembah-kan kepada-Nya. Ini berarti bahwa setelah kita mempersem-bahkan diri kita kepada Tuhan, kita akan dipecahkan oleh Dia. Namun, banyak di antara kita yang berdoa, “Tuhan, belas kasihanilah aku dan jangan pecahkan aku. Tuhan, Engkau tahu istriku memecah-mecahkan aku berkeping-keping. Lindungilah aku seluruhnya, dan tolonglah aku dari tangan istriku yang memecah-mecah.” Sejumlah saudari pun berdoa agar diselamatkan dari tangan pemecah suami me-reka. Tetapi semakin Anda berdoa demikian, semakin terja-di pemecahan. Namun, kita lebih mirip karet daripada roti. Memecah roti itu mudah, tetapi memecah karet itu sulit. Sebab itu, pada kita tidak cukup dengan pemecahan. Ada-kalanya Tuhan perlu juga mengiris-iris kita. Saya tidak ber-senda gurau, sebab saya tahu permasalahan saya. Namun apa adanya kita dan apa pun yang kita miliki harus diper-sembahkan kepada Tuhan. Jika kita melakukan ini, dalam tangan-Nya tidak akan ada yang tetap utuh. Sebaliknya, se-galanya akan dipecahkan. Tuhan akan memecahkan apa saja yang ditaruh dalam tangan-Nya. Jika kita tidak pecah, per-sembahan kita tidak berarti dan tidak efektif. Persembahan kita baru berguna setelah kita dipecahkan oleh Tuhan.
Setelah Tuhan memecahkan roti, Ia memberikannya ke-pada murid-murid. Roti berasal dari murid-murid, yang mem-bawanya kepada Tuhan. Setelah diberkati dan dipecahkan oleh Tuhan, roti itu diberikan kembali kepada murid-murid untuk dibagikan kepada orang banyak, yang kemudian men-jadi kepuasan mereka. Ini menunjukkan bahwa murid-murid bukan sumber berkat; mereka hanya saluran yang dipakai oleh Tuhan Sang sumber kepuasan manusia. Roti yang telah pecah itu diserahkan kepada murid-murid, dan murid-murid membagikannya kepada orang banyak. Roti yang telah pecah ini menjadi kepuasan bagi semua orang yang lapar, dan ter-dapat berkat yang besar. Prinsip hari ini pun sama. Tidak diragukan lagi bahwa terdapat berkat yang besar dalam pe-mulihan Tuhan dalam negara ini. Namun, kita wajib me-nyadari bahwa beberapa orang yang terkasih telah menye-rahkan diri mereka kepada Tuhan. Dalam tangan Tuhan, mereka semua telah dipecahkan dan mereka yang pecah ber-keping-keping itu telah mendatangkan berkat.
2. Dalam Kebangkitan
Yohanes 6:9 memberi tahu kita bahwa lima roti di sini adalah lima roti jelai. Jelai adalah lambang Kristus yang bangkit (Im. 23:10). Jadi, roti jelai melambangkan Kristus dalam kebangkitan sebagai makanan bagi kita. Roti adalah hayat nabati, melambangkan aspek kelahiran dari hayat Kristus; sedangkan ikan adalah hayat hewani yang melam-bangkan aspek penebusan dari hayat Kristus. Agar rasa lapar rohani kita dipuaskan, kita memerlukan hayat kelahiran Kristus dan hayat penebusan Kristus. Kedua aspek ini di-lambangkan oleh hal-hal kecil — roti dan ikan. Ini menun-jukkan bahwa dalam zaman ini, Raja surgawi datang kepada para pengikut-Nya bukan sebagai raja besar untuk meme-rintah mereka, melainkan sebagai sepotong kecil makanan untuk merawat mereka.
3. Dengan Kelimpahan
Ayat 20 mengatakan,“Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak dua belas bakul penuh.” Dua belas bakul penuh potongan-potongan roti yang sisa bukan ha-nya menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit tidak terbatas dan tidak habis dipakai, tetapi juga menunjukkan bahwa persediaan Tuhan bagi kita berlimpah, lebih dari cukup un-tuk memenuhi semua keperluan kita. Lima roti dan dua ikan memuaskan lima ribu orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak (ayat 21). Apa yang kita serahkan kepada Tuhan mungkin sangat sedikit, tetapi berkat itu akan besar dan ber-kelimpahan, kelebihannya akan lebih besar daripada apa yang kita persembahkan. Apa yang kita serahkan kepada Tuhan tidak akan habis, sebaliknya, akan dipakai oleh Tuhan untuk memberkati orang lain dengan berlimpah, bahkan dengan kelimpahan, untuk membuktikan bahwa inilah perbuatan Tuhan yang ajaib. Dalam catatan tentang mukjizat ini, mak-sud Roh Kudus dalam wahyu-Nya ialah menunjukkan bahwa sebenarnya yang diperlukan oleh para pengikut Raja surgawi adalah makanan yang tepat untuk memuaskan lapar mereka. Murid-murid Kristus tidak tahu hal ini, begitu pula orang banyak yang mengikuti mereka. Raja surgawi mengetahui hal ini dan melakukan sesuatu secara ajaib untuk mengesan-kan mereka terhadap keperluan mereka yang sesungguhnya dan persediaan-Nya untuk keperluan itu. Yang mereka perlu-kan adalah hayat kebangkitan-Nya, yang akan memuaskan rasa lapar rohani mereka, seperti yang dinyatakan dalam mukjizat ini.
Yang dilakukan Raja surgawi menunjukkan dengan te-gas dan kuat bahwa Dia menyediakan keperluan para pe-ngikut-Nya ketika mereka mengikuti-Nya dalam dunia yang menolak Tuhan. Ini berhubungan dengan perkataan-Nya dalam konstitusi kerajaan yang menyatakan bahwa umat ke-rajaan tidak perlu khawatir tentang apa yang akan mereka makan (6:31-33).
Dalam hal mengikuti Raja yang ditolak itu, kita harus melalui berbagai macam penolakan. Setelah penolakan ini, kita akan merasa kekurangan dan mempunyai beberapa ke-perluan. Tetapi janganlah khawatir tentang keperluan Anda, sebab Tuhan memperhatikannya, bahkan sampai pada hari menjelang malam di padang gurun. Tuhan mempunyai jalan untuk memenuhi keperluan Anda. Persembahkanlah apa ada-nya Anda dan apa yang Anda miliki ke dalam tangan-Nya, biarlah Dia memecah-mecah persembahan itu dan biarlah persembahan yang telah dipecah-pecahkan itu diberikan ke-pada orang-orang yang lapar. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan menikmati kepuasan dan masih akan ada sisanya.
Apa yang dilakukan Raja yang ditolak itu dalam 14:14-21 bukan hanya mukjizat untuk memberi makan orang. Mukjizat di sini menunjukkan bahwa sebagai Raja yang ditolak, Kristus memiliki suplai hayat untuk memuaskan lapar kita. Banyak di antara kita dapat membuktikan bahwa setelah melalui penolakan, kita masuk ke dalam situasi kekurangan. Namun Tuhan memperhatikan kita, dan kita tidak kekurangan apa pun. Pada akhirnya, kita tidak memperhatikan suplai materi, melainkan suplai hayat untuk memuaskan kelaparan rohani kita. Ketika kita mengikuti Raja yang ditolak itu pada jalan yang menuju kemuliaan, kita dapat bersaksi bahwa kita se-dang menikmati suplai hayat. Lagi pula, kita sedang mem-beri makan orang lain. Dan setelah menikmati sedemikian, masih ada sisa dua belas bakul penuh suplai hayat.
Kini kita dapat mengatakan bahwa jalan ini sangat baik. Sekalipun di sini ada penolakan dan kekurangan, tetapi Dia adalah suplai hayat kita. Dia memperhatikan keperluan jas-mani kita dan memberi suplai hayat yang kaya, bahkan de-ngan berlebih untuk memenuhi keperluan rohani kita. Sebab itu, kita dapat berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan ke-kurangan aku.” Bukan hanya kita tidak berkekurangan, kita adalah kaya, puas, dan mempunyai kelebihan sebanyak dua belas bakul penuh. Beserta Dia, kita memiliki suplai materi dan suplai hayat. Ketika kita mengikuti Dia, bahkan di pa-dang gurun pun kita dapat menikmati Dia sebagai sumber suplai kita. Sebab itu, kita tidak takut apa pun. Sebab Dia beserta kita, kita tidak akan kekurangan. Asalkan ada hadi-rat-Nya, segala sesuatu beres. Kita menyambut penolakan dan dalam suatu arti, kita bahkan menyambut situasi dalam kekurangan, sebab kita memiliki Dia. Keperluan kita memberikan kepada-Nya kesempatan yang sangat baik untuk melakukan sesuatu bagi kita.