← Daftar isi Keluaran (1) · bab 9/15

PEMBANTU LAKI-LAKI DAN PEMBANTU PEREMPUAN BAGI ORANG YANG DIPANGGIL

Catatan tentang panggilan Allah kepada Musa merupakan catatan paling lengkap untuk panggilan sedemikian yang terdapat dalam Alkitab. Dalam berita ini, kita akan membahas bagaimana Harun (Kel. 4:10-16) dan Zipora (Kel. 4:24-26) berkaitan dengan panggilan Allah atas Musa. Tanpa bagian yang berkenaan dengan Harun dan Zipora ini, panggilan Allah terhadap Musa tidaklah lengkap. Catatan tentang panggilan terhadap Musa, tidak hanya terdapat dalam Keluaran 3, tetapi juga dalam Keluaran 4. Karena itu, jika kita hendak memahami sepenuhnya tentang panggilan terhadap Musa, kita perlu memperhatikan pasal 4 sebagai bagian dari panggilan ini.

Keluaran 4:14 mengatakan bahwa “Bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa”. Bahkan setelah tanda-tanda mukjizat dalam pasal 4, Musa masih enggan pergi bersama Tuhan. Di sini seolah-olah Musa berkata, “Tuhan, karena Engkau telah memanggil aku dan telah memberi tanda-tanda mukjizat ini, maka aku menerima firman-Mu.” Meskipun demikian, Musa masih meminta agar Tuhan mengutus orang lain. Karena hal ini maka marahlah Tuhan kepada Musa. Ketika saya masih muda, di satu pihak, saya dapat melihat alasan kemarahan Tuhan. Tetapi, di pihak lain, saya merasa bahwa Tuhan terlampau besar, dan situasi ini terlampau kecil untuk membangkitkan murka Tuhan terhadap Musa.

I. PENDAMPINGAN HARUN

A. PRINSIP DUA ORANG SEBAGAI SAKSI

Saya percaya bahwa dalam hati-Nya, Tuhan menghendaki supaya Harun menjadi pendamping Musa. Ketika Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya, Ia mengutus mereka berdua-dua (Luk. 10:1), inilah prinsip dari dua orang sebagai saksi. Seorang diri adalah individualistis, tetapi diutus bersama orang lain adalah sesuai dengan prinsip Tubuh. Jadi, Harun sebagai pendamping Musa, sesuai dengan prinsip ilahi.

Meskipun hal ini sesuai dengan prinsip Allah, Allah tidak semata-mata mengatakan kepada Musa bahwa ia memerlukan Harun sebagai pendampingnya. Tetapi jika kita membaca bagian ini dengan cermat, kita akan nampak bahwa maksud ini sudah ada di dalam hati Allah. Ayat 14 mengatakan, “Maka bangkitlah murka (amarah) TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: ‘Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu kakakmu? Aku tahu bahwa ia pandai bicara; lagi pula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.’” Tuhan berharap Musa sadar bahwa ia memerlukan seseorang sebagai pendampingnya. Meskipun Tuhan telah menyediakan, namun Ia tidak menunjukkan hal ini kepada Musa, sampai Musa sendiri menyadari keperluannya. Tuhan sangat bijaksana. Mungkin Ia hendak melakukan sesuatu untuk kita, tetapi Ia sering tidak melakukannya sampai kita sendiri menyadari keperluan kita. Prinsip ini dapat diterapkan dalam hidup gereja di tengah-tengah kita. Meskipun mungkin Anda mengetahui bahwa saya memerlukan suatu barang, sebaiknya Anda jangan mengatakan kepada saya. Anda harus menunggu sampai saya sendiri menyadari keperluan saya.

Jika kita jelas tentang apa yang terkandung dalam hati Tuhan, kita dapat memahami mengapa murka Tuhan bangkit terhadap Musa. Kelihatannya kemarahan itu tidak menyenangkan, tetapi sebenarnya adalah manis. Hanya mereka yang pengenalannya dangkal terhadap Tuhan akan mengatakan bahwa kemarahan Tuhan di sini tidak baik. Tetapi mereka yang mempunyai pengenalan yang dalam terhadap Tuhan akan mengatakan bahwa hal itu menyenangkan. Kemarahan di sini menunjukkan suatu persekutuan manusiawi yang manis dan akrab. Beberapa orang mungkin merasa heran, bagaimana mungkin Allah mempunyai persekutuan manusiawi. Hal ini mungkin, sebab Tuhan menampakkan diri kepada Musa sebagai Malaikat TUHAN, yang merupakan lambang dari Kristus. Karena Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, Ia sungguh misterius. Karena itu, agak sukar bagi kita untuk memahami penampakan Malaikat TUHAN dalam Perjanjian Lama. Dalam Keluaran 4 Allah berbicara kepada Musa, seolah-olah Ia adalah seorang manusia yang berbicara dengan manusia lain. Menurut catatan tersebut, pembicaraan kali itu lebih banyak dilakukan seperti antar teman daripada seperti Allah yang Mahakuasa dengan manusia.

Keakraban antara Tuhan dengan Musa ini dapat disamakan dengan keakraban antara seorang suami dengan istrinya. Kadang-kadang seorang suami marah kepada istrinya, tetapi ungkapan kemarahan ini manis dan menyenangkan. Kemarahan ini bukanlah kemarahan seperti yang pernah ia tunjukkan kepada orang lain, ini adalah kemarahan yang mengekspresikan perasaan yang manis dan akrab. Hal ini sama dengan perasaan Tuhan terhadap Musa. Kemarahan Tuhan terhadap Musa dalam pasal ini, sangat jauh berbeda dengan murka-Nya terhadap Sodom. Kemarahan di sini ialah suatu kemarahan yang menyenangkan antara dua orang teman yang akrab. Setelah Tuhan berbicara kepada Musa dalam ayat 11 dan 12, Musa berkata, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (ayat 13). Perkataan Musa bukanlah suatu penolakan yang keras terhadap Tuhan. Sebaliknya, ini merupakan suatu pernyataan perorangan yang akrab. Meskipun demikian, jawaban Musa menyebabkan Tuhan marah kepadanya. Reaksinya memaksa Tuhan, dalam kemarahan-Nya yang menyenangkan, membeberkan isi hati-Nya yang ingin memberikan Harun sebagai pendamping Musa.

Sesuai dengan prinsip ilahi, Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya bersifat individualistis. Musa memerlukan Harun, karena itu kehadiran Harun bukanlah secara kebetulan. Tetapi Allah telah menyediakan dia sebagai seorang pendamping bagi Musa. Hari ini, berlaku pula prinsip pendampingan (koordinasi). Jika Anda telah dipanggil oleh Tuhan, Anda perlu menyadari bahwa Anda memerlukan seseorang sebagai pendamping Anda. Saya telah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya berdua-dua. Ketika rasul Paulus keluar untuk melayani Tuhan, ia tidak melakukannnya seorang diri, selalu ada orang lain yang mendampinginya. Hal ini dibuktikan dalam 1Korintus 1:1, “Dari Paulus, yang atas kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara seiman kita.” Sewaktu Paulus menulis surat ini, baik Timotius maupun Barnabas tidak ada di situ. Karena itu, Paulus mengambil Sostenes sebagai seorang pendamping; ia mengambil seorang saudara yang namanya hampir tidak kita kenal untuk mengukuhi prinsip ini.

Bertindak secara individual dalam pelayanan Tuhan tidaklah sesuai dengan prinsip ilahi. Hari ini, dalam ekonomi Perjanjian Baru, sikap individualistis melanggar prinsip Tubuh. Kita tidak akan bertindak secara individual, tetapi kita bertindak dan berbuat sesuai dengan prinsip korporat, paling sedikit ada seorang anggota lain yang mendampingi kita. Lebih banyak anggota yang mendampingi kita, lebih baik. Tubuh tidak dapat diwakili oleh individu. Sesuai dengan prinsip ilahi, wakil yang tepat dari Tubuh selalu berupa anggota yang berkoordinasi dengan anggota lainnya.

Tetapi didampingi atau berkoordinasi itu memang sulit. Dalam hal Musa dan Harun, saudara yang lebih muda menjadi pemimpin, dan saudara yang lebih tua menjadi pengikut. Berkoordinasi dengan siapa saja itu sulit, berkoordinasi dengan saudara sekandung dalam tubuh daging lebih sulit lagi. Koordinasi yang sedemikian, yaitu saudara yang lebih muda sebagai pemimpin, adalah yang paling sulit. Adik saya adalah saudara yang terkasih dalam Tuhan. Ia sangat mengasihi Tuhan. Ketika kami berada di daratan China, kami berada dalam gereja lokal yang sama. Namun dari pengalaman saya mengetahui, sulit untuk menerima dia sebagai pendamping saya. Karena dalam tubuh daging, Harun adalah saudara Musa yang lebih tua, maka sulitlah bagi Musa untuk didampingi oleh Harun. Mungkin karena alasan inilah Tuhan tidak mengatakan kepada Musa bahwa Harun akan menjadi pendampingnya, sampai Musa sendiri mengatakan kepada Tuhan tentang ketidakmampuannya memenuhi panggilan Tuhan. Hal ini menjadi alasan bagi Tuhan untuk mengatakan kepada Musa bahwa Harun akan menjadi juru bicaranya. Tuhan telah menyediakan Harun bagi Musa, dan bagaimanapun sulitnya, Musa tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima Harun sebagai pendampingnya.

Dalam Bilangan 12, tercatat suatu peristiwa yang menyangkut Harun dan Miryam, yang menunjukkan betapa sulitnya bagi Musa didampingi oleh Harun. Bilangan 12:1 mengatakan “Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.” Hal ini menunjukkan betapa sulitnya bagi Miryam dan Harun, yang usianya lebih tua daripada Musa, untuk menerima Musa sebagai pemimpin. Kesalahan Musa karena mengambil perempuan Kush sebagai istrinya, telah memberi kesempatan kepada Miryam dan Harun untuk menentangnya. Perkataan yang mereka utarakan ini bukan perkataan yang mendadak, melainkan perkataan yang merupakan ekspresi dari apa yang terkandung dalam hati mereka. Alangkah sukarnya bagi Musa untuk memimpin kakak-kakaknya! Memang Tuhan telah menetapkan baginya suatu keadaan yang menyulitkan.

Pada prinsipnya, hal itu sama dengan kita hari ini. Tuhan sering menyediakan bagi kita seorang pendamping yang menyulitkan. Tetapi pendamping yang sedemikian, sebenarnya merupakan suatu bantuan yang besar bagi kita. Tanpa itu, kita takkan memiliki pembatasan, perlindungan, dan pengamanan. Kebanyakan Miryam dan Harun taat kepada Musa, namun kadang-kadang mereka tidak taat. Sisi ketidaktaatan mereka itu merupakan suatu perlindungan bagi Musa, yang menjaganya agar tidak menjadi sombong. Bilangan 12:3 mengatakan, “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” Miryam dan Harun telah membantu Musa menjadi orang yang rendah hati. Meskipun demikian, betapapun banyaknya bantuan Miryam dan Harun kepada Musa, Allah tetap tidak membiarkan mereka menentangnya.

Adakalanya pengaturan Allah yang membuat kita berkoordinasi dengan orang lain di luar pengertian kita. Jangan mengira bahwa seorang pendamping itu akan selalu menyenangkan. Memang kebanyakan hal itu menyenangkan, namun kadang-kadang juga tidak menyenangkan. Meskipun demikian, ketidaksenangan ini menjadi perlindungan kita.

B. UNTUK MELAKSANAKAN AMANAT ALLAH

Di antara orang-orang Kristen hari ini, sedikit sekali kita temukan koordinasi semacam ini. Sangat sedikit koordinasi di antara pekerja-pekerja Kristen, sebab mereka kurang nampak visi tentang prinsip Tubuh. Saya mempunyai beban agar kita semua sebagai orang-orang panggilan Allah nampak perlunya koordinasi yang sedemikian ini. Saya melihat beberapa orang saudara yang sangat cakap menjadi tidak berguna karena menolak menerima pendamping. Pendamping akan mengikat kita dan membatasi kita. Karena itu, berkoordinasi dengan orang lain itu sukar.

Perlombaan lari kaki tiga, menggambarkan prinsip koordinasi ini. Dalam perlombaan itu, salah satu kaki pelari diikat dengan salah satu kaki pasangannya. Pelayanan Tuhan bukanlah suatu perlombaan yang ditempuh oleh individu-individu, melainkan perlombaan oleh mereka yang terikat dengan anggota lain dari Tubuh.

Bila tidak senang dengan pengaturan yang demikian ini berarti tidak senang dengan pelayanan Tuhan. Jika Anda ingin mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya, Anda harus rela menjadi salah seorang dari dua pemain dalam perlombaan lari kaki tiga. Jika Anda menolak untuk diikat dengan orang lain, Anda akan dikeluarkan dari perlombaan itu. Mungkin Anda sendiri bisa memperoleh banyak, namun apa yang Anda lakukan tidak berfaedah bagi pembangunan Tubuh. Ada orang mungkin melakukan banyak pekerjaan kristiani, tetapi pekerjaan itu tidak akan berfaedah banyak bagi Tubuh. Pekerjaan dalam pemulihan Tuhan bukanlah pekerjaan biasa orang Kristen, melainkan pekerjaan membangun Tubuh. Jika kita mau dipakai oleh Tuhan untuk membangun Tubuh, kita harus mau berlari seperti dalam perlombaan lari kaki-tiga, yaitu kita harus mau diikat dengan orang lain, sehingga membentuk satu unit.

Mengenai ini, banyak pelajaran yang dapat kita pelajari, terutama oleh mereka yang cakap. Orang yang cakap sangat sukar untuk diikat dengan orang lain. Keadaan kekristenan hari ini telah membuktikan hal ini. Setiap pengkhotbah atau pendeta yang cakap bersifat individualistis. Orang-orang yang demikian ini mungkin mempunyai pekerja-pekerja yang mereka gaji dan pecat, namun mereka tidak mempunyai teman sekerja sebagai pendamping mereka. Seorang yang digaji sangat berbeda dengan seorang pendamping. Musa tidak memberi upah kepada Harun; Paulus tidak memberi upah kepada Timotius. Tetapi banyak pekerja-pekerja Kristen yang terkenal hari ini yang bersifat individualistis.

Jika mereka membutuhkan orang lain untuk membantu mereka, mereka mengupah orang-orang tertentu, tetapi mereka tidak menerima orang-orang itu sebagai pendamping. Apa pun yang dilakukan oleh pekerja-pekerja Kristen yang sedemikian ini, tidak akan berfaedah banyak bagi pembangunan Tubuh. Dalam pemulihan Tuhan, sangat diperlukan pekerjaan yang sungguh-sungguh untuk pembangunan. Pekerjaan membangun ini, hanya dapat dilaksanakan oleh teman-teman sekerja yang berkoordinasi. Kita semua perlu berkoordinasi, tidak hanya dengan satu orang, namun dengan beberapa orang. Melalui koordinasi yang sedemikian, amanat Allah baru bisa terlaksana.

C. HARUN MENJADI JURUBICARA MUSA DAN

MUSA MENJADI ALLAH BAGI HARUN

Banyak orang berpikir, jika mereka berkoordinasi dengan orang lain, mereka akan kehilangan kedudukan mereka. Karena itu, mereka tidak ingin orang lain melakukan pekerjaan yang sama seperti yang mereka kerjakan. Namun sekali lagi mari kita lihat kasus Musa dan Harun. Harun tidak menyebabkan Musa kehilangan kedudukannya. Tidak ada satu pun pekerjaan Harun yang dapat menggantikan kedudukan Musa sebagai orang panggilan Allah. Dalam Keluaran 4:16, Allah berbicara kepada Musa mengenai Harun, “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Musa tidak perlu merasa khawatir akan digantikan. Demikian pula dengan orang-orang panggilan Allah hari ini. Kedudukan Anda sebagai orang yang dipanggil adalah dari Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari Anda.

Sesuai dengan catatan ini, dalam hal berbicara mungkin Harun lebih pandai daripada Musa; mungkin Harun lebih fasih daripada Musa. Tetapi Harun tidak menjadi sombong karena hal itu. Ia hanya dapat berbuat sampai kadar tertentu, sebab Allah tidak memberinya terlalu banyak kedudukan. Faktanya, ayat 16 mengatakan bahwa Musa akan menjadi seperti Allah bagi Harun. Dari koordinasi Musa dan Harun ini kita semua dapat melihat, betapa pentingnya kita mengetahui di mana kita berada. Kedudukan kita dalam hubungan koordinasi mutlak tergantung pada pengaturan Tuhan. Tuhan memanggil Musa, dan menyediakan Harun untuk mendampinginya. Tidak ada tempat bagi siasat manusia. Segala sesuatu sesuai dengan ekonomi ilahi dan pengaturan ilahi.

Hampir 50 tahun saya terlibat dalam hubungan koordinasi. Saya telah mempelajari bahwa mempertahankan hubungan yang demikian ini dalam jangka waktu yang lama tidaklah mudah. Untuk ini, kita perlu menerima anugerah dari Tuhan. Kiranya sekarang merupakan waktu yang tepat untuk mengumumkan tentang koordinasi. Saya harap, semua orang dalam gereja-geraja lokal dapat jelas tentang perlunya koordinasi yang tepat, sehingga di tengah-tengah kita ada koordinasi yang permanen dan konstan.

II. PEMOTONGAN OLEH ZIPORA

A. MENGGENAPKAN PENYUNATAN DALAM KELUARGA MUSA

Sekarang kita sampai pada catatan mengenai Musa dan Zipora (4:24-26). Ayat 24 mengatakan, “Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.” Dalam ayat 23, seolah-olah panggilan terhadap Musa telah lengkap. Karena itu, Musa membawa istrinya dan dua orang anak laki-lakinya dari Midian kembali ke Mesir. Tetapi sewaktu mereka tiba di suatu tempat dan bermalam di sana, Allah bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Musa pasti terkejut, dan Zipora pasti takut. Mungkin Zipora bertanya kepada Musa, mengapa Allah yang telah memanggil dan mengutusnya, sekarang berikhtiar untuk membunuhnya? Mungkin ia menanyakan apa kesalahan Musa. Saya percaya, Musa pasti segera menyadari masalahnya, yaitu anaknya yang kedua belum disunat. Sebagai seorang istri dari bangsa kafir, mungkin Zipora merasa tidak senang ketika Musa menyunat anaknya yang pertama, dan hal itu menyebabkan dia menolak penyunatan anaknya yang kedua. Karena kelemahan dan kelalaian Musa serta penentangan Zipora, permintaan Tuhan belum terpenuhi, sehingga Tuhan berikhtiar untuk membunuh Musa. Sebagai seorang perempuan kafir, tidak mudah bagi Zipora untuk melaksanakan permintaan itu. Sekalipun Zipora tidak senang akan hal itu, namun ia terpaksa menurutinya.

B. MEMAKAI PISAU BATU

Ayat 25 mengatakan, “Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: ‘Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.’” Ketika memotong kulit khatan anaknya, Zipora tidak menggunakan pisau, melainkan sebuah batu yang tajam, batu api, yaitu alat yang tidak biasa dipakai untuk memotong. Ia menggunakan alat yang demikian, mungkin karena penyunatan itu dilakukan dalam keadaan darurat. Penggunaan pisau batu yang tajam itu juga seolah-olah menunjukkan bahwa penyunatan itu dilakukan dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Hal itu juga ditunjukkan oleh fakta bahwa Zipora menyentuh kaki Musa dengan kulit khatan itu dan berkata, “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.” Meskipun suasana itu tidak menyenangkan, namun Allah membiarkan Musa setelah penyunatan itu digenapi. Jika keadaan waktu itu menyenangkan, tentu Zipora akan menyatakan penyesalannya terhadap Musa. Ia akan meminta Musa untuk melakukan penyunatan itu dengan pisau yang baik, yang biasa dipakai dalam penyunatan, sehingga pemotongan itu tidak akan demikian menyakitkan. Tetapi dalam pengalaman kita, hanya Tuhan sendirilah yang menggunakan pisau yang baik untuk melakukan pemotongan. Pemotongan di sini diwakili oleh hayat perempuan, sebab pemotongan ini bersifat subyektif. Tetapi kita semua, baik tua atau muda, saudara atau saudari, sedang melakukan pemotongan. Dalam hidup gereja, kita sedang memotong dan dipotong. Hampir dalam setiap kasus, pemotongan dilakukan dengan cara kasar dan sembarangan.

C. MUSA MENJADI PENGANTIN DARAH

Selama bertahun-tahun saya bingung oleh bagian firman ini. Saya baru mengerti setelah saya mempunyai sejumlah pengalaman. Melalui pengalaman-pengalaman itu saya sadar bahwa kaum terpanggil tidak hanya memerlukan pembantu laki-laki, yaitu bantuan Harun, tetapi juga pembantu perempuan, yaitu bantuan Zipora. Pembantu laki-laki adalah untuk koordinasi, tetapi pembantu perempuan adalah untuk memotong. Setiap orang yang dipanggil oleh Allah memerlukan pembantu laki-laki dan pembantu perempuan, yaitu koordinasi dan pemotongan.

Setiap saudara yang telah menikah tahu bahwa istri-nya adalah orang yang sangat mahir dalam hal memotong. Kadang-kadang istri Kristen pun, merupakan orang “kafir” bagi suaminya. Jika si suami tidak mengasihi Tuhan, atau tidak hidup bersama Tuhan, si istri mungkin tidak merupakan orang “kafir”. Namun, begitu si suami mulai mengasihi Tuhan, menempuh jalan Tuhan, dan hidup bagi Tuhan, maka tersingkaplah si istri sebagai orang “kafir”, orang yang “tidak berTuhan”. Artinya, seorang istri yang telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tiba-tiba bertindak seperti orang yang tidak dipisahkan untuk Tuhan dan tidak hidup bagi Tuhan. Hari ini, banyak orang Kristen yang masih seperti orang yang tidak berTuhan dalam kehidupan sehari-harinya: mereka tidak mengasihi Tuhan, tidak dipisahkan untuk Tuhan, dan tidak menempuh jalan Tuhan. Mereka adalah orang-orang Kristen yang telah dilahirkan kembali dan telah menerima hayat ilahi, tetapi dalam perilaku sehari-hari, mereka tidak seperti orang Kristen.

Ketika seorang saudara menempuh kehidupan duniawi tanpa memperhatikan kepentingan Tuhan, mungkin istrinya tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan baginya. Tetapi begitu ia mulai hidup bagi Tuhan, istrinya berkelakuan seperti Zipora, perempuan yang tidak berTuhan, dan tidak seluruhnya dipisahkan untuk Tuhan. Untuk sejangka waktu istrinya masih bisa berjalan bersama-sama, seperti Zipora dengan Musa. Namun dalam lingkungannya ada yang tidak bersunat, yaitu yang sekuler, tidak kudus, tidak dipisahkan sehingga kudus bagi Tuhan. Jika Tuhan tidak masuk ke dalam lingkungan saudara ini, maka sifat kekafiran istrinya tidak tersingkap. Tetapi begitu Tuhan campur tangan, boleh jadi saudara ini baru saja ingin memenuhi perintah Allah, sikap istrinya terhadap penyunatan tubuh dagingnya segera tersingkap. Mungkin karena terpaksa menyetujui pemotongan kulit khatan itu, maka si istri mau melaksanakannya, namun ia tidak melaksanakannya dengan sikap yang positif dan menyenangkan. Karena ia harus menerima pemisahan suaminya untuk Tuhan, maka ia menganggap suaminya sebagai “pengantin darah”.

Menjadi “pengantin darah” berarti menjadi seorang yang ada di bawah maut. Dalam pandangan Zipora, sunat berarti Musa berada di bawah hukuman maut. Jika kita, saudarasaudara, mutlak hidup terhadap Tuhan, maka dalam pandangan istri kita, kita akan menjadi “pengantin darah”.

Mari kita cermati kisah Musa dan Zipora dalam Keluaran 4. Ketika mereka sedang dalam perjalanan untuk memenuhi amanat Allah, Zipora agak menyetujui apa yang Musa lakukan. Namun, Musa lebih untuk Allah daripada Zipora. Ia menghendaki anaknya disunat, namun Zipora tidak menyetujuinya. Meskipun di sana tidak diceritakan bahwa Musa dan Zipora saling bertengkar dalam hal sunat, tetapi ada sesuatu yang tidak harmonis di antara mereka. Ia harus disunat, tetapi Zipora menolak. Zipora tidak setuju bahwa pemotongan daging itu sebagai tanda pemisahan bagi Tuhan. Akan tetapi, jika Allah memakai orang yang tetap hidup dalam tubuh daging atau hayat alamiah, ini bertentangan dengan prinsip ilahi. Tubuh daging dan hayat alamiah harus dipotong, Allah hanya dapat memakai orang-orang yang telah dipisahkan untuk-Nya.

Masalah sunat mencakup prinsip yang sangat penting dalam ekonomi Allah. Tanpa sunat, kita mustahil mendapat bagian dalam janji Allah kepada Abraham mengenai warisan tanah permai. Selain itu, orang yang tidak disunat tidak dapat berbagian dalam ministri Allah. Allah datang untuk membunuh Musa, berarti keadaan yang tidak bersunat akan menyebabkannya diakhiri dalam ministri Allah. Sebaliknya, arti sunat ialah dibawa masuk ke dalam ministri-Nya.

Karena itu, ketika Musa sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan amanat Allah, Allah tidak dapat membiarkan kelalaian Musa dalam hal sunat. Maka, Dia datang untuk menanggulangi Musa. Tidak diragukan, Musa tentu agak lemah karena penolakan istrinya itu. Karena kelemahan itu merupakan suatu pelanggaran terhadap Tuhan, maka Tuhan berikhtiar untuk membunuh Musa. Ketika Tuhan bertemu dengan Musa, seluruh keadaannya dibawa ke dalam terang. Musa sadar bahwa ia bersalah dan Zipora juga sadar akan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Karena ia menentang penyunatan, maka tanggung jawab itu terutama ada pada dirinya; kini ia terpaksa bertindak. Ia memotong kulit khatan anaknya dengan alat yang tidak lazim pisau batu. Meskipun demikian, kita harus mengerti bahwa Zipora melakukan pemotongan itu dalam kasih. Ia mengasihi Musa, dan ingin menyelamatkan nyawanya.

Bila peristiwa ini kita terapkan secara rohani, kita sering melihat para istri memotong suami-suami mereka dengan cara yang tidak lazim. Jika saudari-saudari itu membawa masalah ini kepada Tuhan dalam doa, Tuhan akan menunjukkan kepada mereka bahwa cara-cara yang mereka gunakan untuk memotong suami mereka itu tidak lazim. Namun, pemotongan tidak selalu dilakukan oleh istri. Rasul Paulus tidak pernah menikah, tetapi ia pasti dipotong oleh orang lain.

Bantuan Harun, yaitu pendampingan, bersifat obyektif; sedangkan bantuan Zipora, yaitu pemotongan, bersifat subyektif. Adakalanya Tuhan menaruh kita dalam suatu lingkungan di mana kita dipotong oleh orang lain, mungkin oleh saudara-saudara kita yang terkasih dalam Tuhan. Pada saat demikian, saudara-saudara itu bukan mendampingi kita, melainkan memotong kita. Mereka tidak menentang kita, tetapi bahkan waktu mereka kelihatannya setuju dengan kita, mereka sebenarnya adalah pemotong-pemotong. Kita semua perlu bersiap diri untuk menerima pemotongan itu.

Dalam kedaulatan-Nya, Allah tidak hanya menyediakan seorang Harun bagi kita, Ia juga menyediakan seorang Zipora. Kita tidak perlu melakukan pemilihan apa pun. Allah telah menyediakan Harun-Harun dan Zipora-Zipora yang siap dan yang sedang menunggu. Lebih-lebih dalam hidup gereja hari ini, banyak pendamping dan pemotong. Menguasai pendamping-pendamping itu sulit, tetapi mengatur pemotong-pemotong itu lebih sulit lagi, sebab mereka menjadikan kita “pengantin darah”.

Setelah berkoordinasi dengan Harun dan dipotong oleh Zipora, panggilan terhadap Musa menjadi lengkap. Ia telah siap pergi ke Mesir untuk melaksanakan amanat Allah. Terima kasih kepada Tuhan atas gambaran yang lengkap dari panggilan Allah terhadap orang-orang panggilan-Nya! Jika kita membawa perkataan-perkataan ini ke hadapan Tuhan, Tuhan akan menerangi kita. Kita akan berkata, “Tuhan, aku sungguh bersyukur kepada-Mu, ada beberapa Harun dan Zipora menyertaiku. Tuhan, aku memuji-Mu atas pendampingan (koordinasi) dan pemotongan ini.”