GAMBARAN LENGKAP TENTANG PANGGILAN ALLAH TERHADAP MUSA
Dalam berita ini, kita perlu melihat gambaran lengkap tentang panggilan Allah terhadap Musa. Menurut Keluaran 3-4, panggilan ini meliputi lima butir, yaitu: semak duri yang menyala, wahyu mengenai apa dan siapa Allah, tujuan panggilan Allah, tiga tanda mukjizat, dan pendampingan Harun serta pemotongan oleh Zipora. Kita akan memperhatikan tujuan panggilan Allah dalam berita selanjutnya. Dalam berita ini, kita akan melihat keempat aspek lain dari panggilan tersebut.
Mula-mula, Musa nampak visi semak duri yang menyala, namun tidak dimakan api. Penglihatan yang demikian ini sangat unik. Setelah Musa melihat semak duri yang menyala itu, Allah mewahyukan diri-Nya kepadanya. Pengenalan akan nama Allah sesungguhnya merupakan pewahyuan Allah sendiri. Tidak ada bagian lain dari Alkitab yang memberikan wahyu tentang nama ilahi, sejelas dan sedalam yang dicatat dalam Keluaran 3. Allah berfirman kepada Musa bahwa nama-Nya ialah “Aku adalah Aku adalah”. Ini menunjukkan bahwa nama Allah di sini ialah suatu bentuk kata kerja “adalah’. Wahyu 1:8 mengatakan bahwa Tuhan Allah ialah “yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang.” Lagi pula Allah berfirman kepada Musa bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Gelar ini mewahyukan bahwa Allah bukan hanya Allah yang eksis, Allah yang hidup, tetapi juga Allah kebangkitan.
Dalam pasal 4, Musa diberi tiga tanda mukjizat, yaitu tongkat yang menjadi ular, tangan Musa yang terkena kusta, dan air yang menjadi darah. Menjelang akhir pasal ini, Musa menerima pembantu laki-laki dan pembantu perempuan. Pembantu laki-laki diberikan oleh Harun adalah koordinasi, sedangkan pembantu perempuan diberikan oleh Zipora adalah pemotongan. Pemotongan ini menyebabkan Musa menjadi seorang “pengantin darah”. Seorang yang di bawah hukuman mati. Setelah Musa menerima dua macam bantuan ini, panggilan Allah terhadapnya baru lengkap. Sejak saat itu, Musa berguna bagi Allah, dan siap untuk melaksanakan perintah Allah. Jika kita nampak gambaran lengkap tentang panggilan Allah ini, yaitu dari visi semak duri yang menyala sampai pemotongan oleh Zipora, kita akan memiliki kesan yang mendalam.
I. SEMAK DURI YANG MENYALA
Ketika Musa dipanggil oleh Allah, ia nampak visi semak duri yang menyala. Saya telah menunjukkan bahwa semak duri yang menyala itu melambangkan umat Allah yang telah beroleh selamat (tertebus). Dulu kita ini semak duri di bawah kutukan dalam Kejadian 3; tetapi dalam Keluaran 3, kita ini semak duri yang tertebus. Kini Allah sedang membakar di dalam kita dan di atas kita. Semak duri yang menyala ini adalah orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama, juga Gereja dalam Perjanjian Baru. Dalam gereja hari ini masih ada “duri-duri”; gereja belum merupakan batu permata. Tetapi puji Tuhan, kita sekarang sedang dalam proses pengubahan (transformasi).
Dalam Ulangan 33:16, Musa menyebut Allah sebagai Dia yang diam dalam semak duri. Perkataan ini diucapkan ketika Musa berusia 120 tahun, yaitu 40 tahun setelah ia nampak visi semak duri yang menyala. Musa tidak pernah melupakan visi itu, bahkan setelah Kemah Pertemuan didirikan dan Allah tinggal di dalamnya. Mengapa dalam Ulangan 33:16 Musa tidak mengatakan “Perkenan dari Dia yang tinggal dalam Kemah Pertemuan?” Saya percaya bahwa bagi Musa menyebut “Allah yang tinggal dalam Kemah Pertemuan”, tidak akan semanis kalau ia menyebut “Allah yang diam dalam semak duri”. Saya percaya, bahkan ketika kita dalam Yerusalem Baru, kita akan mengingat kembali bagaimana dulu kita adalah semak duri yang didiami oleh Allah. Alangkah mengagumkan, semak duri dapat menjadi tempat kediaman Allah di bumi hari ini!
Dari Keluaran 3 hingga Wahyu 21, kita dapat menemukan garis yang berkenaan dengan tempat kediaman Allah. Ini berarti, tujuan kekal Allah ialah membangun tempat kediaman-Nya. Dalam Kitab Kejadian, kita memperoleh wahyu tentang rumah Allah di Betel. Namun kita belum mempunyai bangunan rumah Allah yang sesungguhnya. Pada permulaan Kitab Keluaran Allah berdiam dalam semak duri, namun pada akhir kitab tersebut, Ia berdiam dalam Kemah Pertemuan. Dengan demikian Kemah Pertemuan dengan tabut perjanjian menjadi titik pusat sejarah umat Israel. Akhirnya, Kemah Pertemuan diperbesar menjadi Bait Allah.
Tuhan Yesus datang sebagai Kemah Allah (Yoh. 1:14), juga sebagai Bait Suci Allah (Yoh. 2:19). Gereja hari ini juga merupakan Bait Allah (1Kor. 3:16). Akhirnya, Bait Allah ini akan terwujud dalam Yerusalem Baru, yang akan menjadi Bait Allah dalam kekekalan.
Pada mulanya tempat kediaman Allah ialah semak duri yang tertebus, namun semak duri ini berangsur-angsur dikuduskan, diubah, dibentuk, dan bahkan dimuliakan. Kemah Pertemuan ialah suatu ilustrasi mengenai pengubahan. Dalam Kemah terdapat kayu penaga yang disalut dengan emas, dan kain lenan yang disulam dengan benang emas. Kayu penaga dan kain lenan melambangkan manusia, dan emas melambangkan Tuhan. Manusia yang disalut dan disulam sedemikian ini ialah manusia yang diubah. Dalam Keluaran 3 tempat kediaman Allah ialah semak duri, tetapi dalam Keluaran 40, tempat kediaman-Nya ialah Kemah Pertemuan yang dibentuk dari manusia yang disalut oleh Tuhan, dan yang berbaur dengan Tuhan.
Semak duri dan Kemah Pertemuan kedua-duanya merupakan lambang. Tempat kediaman Allah yang sesungguhnya bukanlah semak duri dan Kemah Pertemuan yang material, melainkan adalah umat-Nya. Setelah orang Israel ditanggulangi oleh Allah, mereka menjadi kayu penaga yang disalut dengan emas, juga kain lenan yang disulam dengan benang emas. Gereja hari ini merupakan penggenapan lambang tersebut. Sekarang ini, mungkin gereja merupakan semak duri yang menyala. Tetapi akan tiba saatnya, kita akan menjadi emas, mutiara, dan batu permata. Puji Tuhan atas visi yang ajaib tentang tempat kediaman Allah! Visi ini meliputi tempat kediaman Allah dari tingkat awal, yaitu semak duri yang menyala, sampai pada tingkat yang sempurna, yaitu Yerusalem Baru.
Ketika Musa dipanggil oleh Allah, ia melihat api yang kudus menyala dalam semak duri. Ketika Paulus dipanggil, paling tidak pada dasarnya ia mempunyai visi yang sama. Ia nampak Allah Tritunggal yang membakar dalam kaum yang tertebus. Melalui pembakaran ilahi ini, api kudus menjadi satu dengan semak duri, dan semak duri menjadi satu dengan api, yaitu Allah Tritunggal sendiri. Hari ini Allah Bapa di dalam Putra, dan Putra sebagai Roh, telah datang kepada kita sebagai api. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa Ia datang untuk melemparkan api ke bumi (Luk. 12:49). Pada hari Pentakosta, Roh itu datang dalam bentuk lidah api. Hari ini Tuhan masih sedang melemparkan api ke bumi. Api yang kudus dan pembakaran ilahi ini telah menangkap kita, dan sekarang kita ini merupakan bagian dari semak duri yang sedang menyala bersama Allah Tritunggal. Allah Tritunggal sedang membakar di dalam dan di atas gereja yang telah dipilih dan ditebus-Nya. Jadi, gereja ialah pembakaran Allah Tritunggal dalam manusia yang tertebus. Inilah ekonomi ilahi (1Tim. 1:4, Tl.).
Ekonomi ini dinyatakan kepada Paulus (Ef. 3:3-5, 9). Inilah sesungguhnya fokus wahyu ilahi. Musa nampak hal ini dalam lambang, namun Paulus nampak hal ini dalam realitas. Puji Tuhan! Ekonomi-Nya juga telah dinyatakan kepada kita! Dengan berani kita memproklamirkan bahwa kita telah nampak visi tentang semak duri yang menyala itu. Setiap gereja lokal ialah semak duri yang menyala bersama Allah Tritunggal.
Ada yang bertanya, mengapa saya begitu teguh dan gigih memperhatikan ekonomi Allah dan pencapaiannya pada gereja-gereja lokal hari ini. Jawabannya adalah saya telah nampak visi surgawi. Musa dan Paulus tidak dapat melupakan visi yang telah mereka nampak. Surat-surat Paulus mewahyukan bahwa tidak ada hal-hal lain, termasuk hukuman penjara dan mati sahid, yang dapat memalingkan dia dari visi itu. Paulus setia dan tabah sampai akhir, karena ia telah tertangkap oleh visi surgawi itu. Kematian mereka yang mati sahid bagi Tuhan, hanya dapat menyebabkan semak duri itu makin menyala melebihi yang sudah-sudah.
Ribuan orang di antara kita hari ini telah nampak visi tentang semak duri yang menyala, dan tidak seorang pun dapat mengubah kita, bahkan kita sendiri pun tidak. Seandainya kita mencoba berpaling dari visi itu, maka visi itu tidak akan membiarkan kita pergi. Kita telah “diremukkan” oleh visi yang kita nampak itu. Saat ini saya yakin bahwa tidak ada hal-hal yang dapat menggoyahkan kaum beriman dalam pemulihan Tuhan. Penggoyahan hanya membuat mereka lebih mutlak. Banyak orang yang telah bersaksi bahwa mereka tidak dapat berpaling dari visi gereja dalam ekonomi Allah. Orang-orang yang menentang akan menyadari bahwa mereka terlambat menentang pemulihan Tuhan, sebab banyak sekali orang yang telah nampak visi tentang semak duri yang menyala. Haleluya atas visi tentang pembakaran Allah Tritunggal di dalam gereja!
Setiap aspek dari panggilan Allah terhadap Musa, dapat kita temukan dalam tulisan-tulisan Paulus. Dalam surat-surat Paulus, kita nampak visi tentang semak duri yang menyala itu. Dalam Efesus 1 dan 3 kita temukan ekonomi ilahi, yaitu penyaluran Allah Tritunggal ke dalam umat-Nya yang tertebus, sehingga mereka dapat menjadi ekspresi-Nya. Penyaluran ini menghasilkan gereja hari ini sebagai semak duri yang menyala. Betapa gembiranya saya, karena saya merupakan bagian dari semak duri yang menyala ini! Karena kita telah nampak visi ini, kita tak mungkin dapat kembali ke dalam agama. Sebaliknya, visi ini menyebabkan kita maju. Bahkan banyak orang muda yang bersaksi bahwa mereka telah nampak visi tentang semak duri yang menyala itu, visi tentang ekonomi Allah dalam gereja hari ini.
Visi ini telah diwahyukan ke dalam kita. Bahkan seandainya kita kembali ke dalam dunia pun, kita tidak dapat melenyapkan visi yang telah membakar ke dalam apa adanya kita. Sudahkah Anda nampak visi gereja? Sudahkah Anda nampak bahwa Allah Tritunggal sedang menyalurkan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya? Mungkin Anda lemah bahkan telah menyeleweng, namun visi ini tidak akan membiarkan Anda pergi. Bahkan ketika Anda tidak menginginkannya, visi ini tidak akan meninggalkan Anda. Anda adalah bagian dari semak duri yang menyala itu, dan tidak ada jalan lain untuk melepaskan diri Anda. Haleluya atas visi tentang semak duri yang menyala ini! Visi ini adalah aspek pertama dari panggilan Allah.
II. APA DAN SIAPA ALLAH ITU?
A. AKU ADALAH AKU ADALAH
Aspek kedua ialah mengenai apa dan siapa Allah itu. Allah ialah Sang swaada yang unik. Setiap benda apa saja akan datang dan pergi, tetapi Allah kekal ada. Bukan kita, melainkan Allah, dan hanya Allah sendiri yang selalu ada. Seperti yang kita lihat, nama Allah yang dinyatakan kepada Musa dalam Keluaran 3, merupakan kata kerja “adalah”. Ini menunjukkan bahwa sebelum segala sesuatu ada, Allah telah ada. Setelah sekian banyak benda datang dan pergi, Allah tetap ada. Dia adalah Allah yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang.
Sebagai Sang swaada, Allah merupakan realitas setiap hal yang positif. Injil Yohanes mengatakan, Ia adalah segala keperluan kita: hayat, terang, makanan, minuman, padang rumput, dan jalan kita. Kita harus mengenal Allah sebagai Sang adalah. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi Allah tetap ada. Apakah Anda merasa kecil hati karena kelemahan Anda? Suatu hari kelemahan Anda akan lenyap, tetapi Allah akan tetap ada. Jangan percaya kepada hal-hal lain selain Allah. Jangan pula percaya kepada kelemahan atau kekuatan Anda, sebab kelemahan dan kekuatan Anda akan berlalu. Sebaliknya bila semuanya lenyap, Allah tetap ada sebagai Sang adalah. Berdasarkan pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa kekayaan dan kekuasaan akan berlalu, tetapi Allah tetap ada. Entah kita kaya atau miskin, Allah selalu ada. Kita bahkan tidak akan menaruh kepercayaan kita kepada suami atau istri yang telah Tuhan berikan kepada kita. Kalaupun kita kehilangan istri atau suami kita, Allah akan tetap ada. Pada waktu yang demikian ini, kita harus percaya kepada-Nya sebagai Yang senantiasa ada. Jika kita mengenal Allah sebagai Sang adalah, kita akan sangat tergugah, dikuatkan, terutama pada waktu-waktu yang sulit.
Banyak orang Kristen yang mempunyai pengenalan yang dangkal terhadap Allah. Mungkin mereka hanya mengenal Dia sebagai Allah yang Mahakuasa. Tetapi aspek ini tidak dinyatakan kepada Musa dalam Keluaran 3. Sebaliknya, wahyu dalam Keluaran 3 itu berkenaan dengan Allah sebagai Dia yang adalah. Cukuplah mengatakan bahwa Dia adalah. Adakalanya malah menjadi penghalang mengatakan bahwa Dia Mahabisa, melainkan cukup mengatakan bahwa Dia itu adalah. Untuk diri-Nya sendiri, Allah selalu dapat dan Mahakuasa, tetapi bagi kita, mungkin Ia tidak tampil sebagai yang Mahakuasa dan Mahabisa. Lihatlah pengalaman Paulus. Dalam ministri sebelumnya, Paulus banyak menyembuhkan orang. Bahkan sapu tangan yang dipakainya pun dapat menyembuhkan orang lain (Kis. 19:11-12). Namun dalam ministrinya kemudian, Paulus tidak lagi mengalami kuasa penyembuhan yang sedemikian besar. Ketika Timotius sakit, Paulus menasihati dia supaya minum anggur, karena pencernaannya yang terganggu dan tubuhnya sering lemah (1Tim. 5:23). Lagi pula ketika Paulus dipenjarakan, ia tidak meminta Allah untuk membongkar tembok penjara itu, atau membuka pintu gerbangnya, seperti yang telah Allah lakukan pada Petrus dalam Kisah Para Rasul 12. Ada saat-nya Allah bertindak sebagai Sang Mahakuasa. Namun ketika Paulus segera mati sahid, Allah yang dia kenal bukan sebagai Allah Sang Mahakuasa, melainkan sebagai Sang adalah. Ini merupakan sumber kenikmatan dan kekuatan bagi Paulus. Paulus mengenal Allah dan percaya kepada-Nya, bukan sebagai Dia yang dapat menyelamatkannya dari penjara, melainkan sebagai yang senantiasa ada, yaitu Dia yang ada, dan yang akan selalu ada. Bahkan bila Allah tidak melakukan sesuatu atas kita, kita harus tetap percaya kepada-Nya sebagai Sang adalah. Semua orang Kristen hari ini mengenal Allah sebagai yang Mahakuasa, namun kita boleh mengenal-Nya dalam cara yang lebih dalam, yaitu sebagai Sang adalah.
B. ALLAH KEBANGKITAN
Kita juga percaya kepada Allah sebagai Allah kebangkitan, yaitu sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Meskipun Allah tidak melepaskan Paulus dari penjara, Paulus tahu bahwa setelah dia mati sahid, Allah akan datang untuk membangkitkan dia. Sebelum Paulus mati sahid, ia menikmati Allah sebagai Sang adalah. Namun setelah itu, ia akan menikmati Dia sebagai Allah kebangkitan. Mati sahid dengan mudah memberi Paulus kesempatan untuk mengalami Allah sebagai Allah kebangkitan.
Kita tidak seharusnya berusaha mengenal Allah berdasarkan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib saja. Sesungguhnya, kita tidak seharusnya mengharapkan keajaiban-keajaiban. Dalam Yohanes 2, Tuhan Yesus tidak menampakkan diri-Nya kepada mereka yang mencari-cari keajaiban. Kita perlu mengenal Allah sebagai Dia yang adalah dan sebagai Allah kebangkitan. Kita harus mengenal Dia sebagai Sang swaada, sebagai Sang kekal ada, dan sebagai Sang Kebangkitan. Sebagai orang-orang yang dipanggil Allah, kalau kita ingin melaksanakan amanat-Nya dalam pemulihan-Nya, kita harus menjadi orang yang mengenal Allah sebagai Sang adalah dan sebagai Allah kebangkitan. Dia adalah “Aku adalah” dan Dia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Selain nampak visi tentang semak duri yang menyala, kita masih perlu wahyu terhadap Allah sedemikian ini. Janganlah kita hanya mengenal Allah seturut apa yang Ia perbuat, tetapi kita harus mengenal-Nya menurut apa adanya Allah itu. Apakah Allah melakukan sesuatu atas diri kita atau tidak, itu tidak berarti apa-apa bagi kita. Suasana lingkungan kita mungkin berubah secara drastis, tetapi Allah tetap adalah. Setiap benda mungkin akan berubah, namun Allah tetap adalah, dan Ia selalu adalah. Pada Allah tidak ada perubahan. Tidak hanya demikian, setiap keadaan maut memberi kesempatan kepada-Nya untuk menjadi pengalaman kita sebagai Allah kebangkitan.
Pengalaman saya mula-mula di Taiwan memperkuat hal ini. Ketika pada tahun 1949 saya diutus bekerja ke Taiwan, Taiwan masih sangat terbelakang dan sangat miskin. Meskipun saya dikirim ke sana, namun saya tidak diberi tunjangan keuangan. Karena saya sepenuhnya sibuk dengan pekerjaan Tuhan, maka saya tidak bekerja selain melayani. Meskipun demikian, dengan sumber keuangan yang sangat terbatas, saya mampu menunjang satu keluarga besar. Pada mulanya, karena keadaan itu saya menjadi kecil hati, apa yang dapat saya kerjakan hanyalah memandangi tempat tinggal yang kecil itu, dan bertanya kepada diri sendiri apa yang dapat saya lakukan di sana. Dalam perpindahan ke pulau yang belum berkembang, dari tanah daratan di mana terdapat beratus-ratus gereja dan pelayanan telah maju dengan pesat, saya mengalami pergantian lingkungan yang drastis. Namun, meskipun hampir setiap benda yang di luar telah berubah, Allah saya tetap ada. Pada hari-hari berikutnya, kami mengalami Allah sebagai apa adanya bagi kami, dan kami nampak berkat rohani-Nya berlimpah, bahkan persediaan materi-Nya.
Pada prinsipnya, pengalaman itu sama dengan pengalaman saya ketika saya datang ke Amerika Serikat. Saya tidak menerima bantuan keuangan dari gereja di Taipei, sedangkan bantuan dari gereja di Los Angeles sangat sedikit. Saudara-saudara di sini mengira bahwa gereja-gereja di tempat lainlah yang memenuhi kebutuhan saya. Tetapi tidak ada satu gereja pun yang mengirim sesuatu untuk saya. Dari mana saya menerima suplai untuk kehidupan saya? Saya menerimanya dari Dia Sang adalah. Pada hari-hari itu saya hidup oleh manna surgawi. Saya tidak mencari keajaiban, sebab Allah, yaitu kepada siapa saya percaya, adalah Dia Sang adalah.
Dalam angin badai pada beberapa bulan yang lalu, saya tidak melakukan sesuatu apa pun, sebab saya percaya bahwa pemulihan ini adalah pemulihan Tuhan. Karena pemulihan ini adalah pemulihan Tuhan, maka tidak ada seorang pun yang dapat merusaknya. Firman Tuhan dalam Yohanes 2:19 berlaku untuk hari ini: “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Saya hanya berkata, “Tuhan, lakukanlah sesuatu untuk menegaskan bahwa pemulihan ini adalah pemulihan-Mu. Tuhan, tidak perlu aku mengerjakan sesuatu. Seandainya ini pekerjaanku, maka aku akan melakukan sesuatu untuk memeliharanya. Namun Tuhan, ini adalah pemulihan-Mu.” Betapa kita harus bersyukur dan menyembah-Nya, karena pada beberapa bulan yang lalu Ia telah bekerja sedemikian banyaknya. Ini mendorong kita untuk percaya kepada Allah sebagai Sang adalah, juga sebagai Allah kebangkitan.
III. TIGA TANDA MUKJIZAT
A. TONGKAT MENJADI ULAR
Setelah kita nampak visi tentang semak duri yang menyala, dan mengenal apa dan siapa Allah itu, kita masih memerlukan tiga tanda mukjizat. Tanda mukjizat yang pertama ialah tongkat menjadi ular. Ular yang licik yang meracuni Adam dan Hawa dalam Kejadian 3, tersingkap dalam Keluaran 4. Tanda ini membantu kita mengenal Iblis. Ini menunjukkan bahwa setiap hal yang membuat kita tidak bersandar Allah merupakan tempat persembunyian ular (Iblis). Bertahun-tahun saya telah belajar bahwa kapan saja saya bersandar pada suatu perkara, maka ular itu bersembunyi dalam perkara tersebut. Saya telah menunjukkan bahwa tongkat yang telah dipakai oleh Musa selama bertahun-tahun itu, merupakan tempat persembunyian ular penjajah. Namun, Musa baru menyadari hal itu pada saat menuruti firman Tuhan, yaitu saat ia melemparkan tongkat itu ke tanah, barulah ular yang tersembunyi itu tersingkap.
B. TANGAN KENA KUSTA
Tanda mukjizat yang kedua adalah tangan Musa kena kusta. Tanda ini ialah untuk mengenal daging dosa. Kita tidak hanya berpenyakit kusta, bahkan kita ini penyakit kusta itu sendiri. Ini berarti kita tidak hanya penuh dosa, tetapi kita adalah dosa itu sendiri. Ketika Kristus mati di kayu salib, Ia tidak hanya memikul dosa kita (1Ptr. 2:24), bahkan Ia telah dibuat menjadi dosa karena kita (2Kor. 5:21). Setiap orang yang dipanggil harus mempunyai pengenalan yang subyektif bahwa dagingnya adalah daging dosa, dan tidak ada satu pun hal yang baik yang berada di dalamnya. Daging kita adalah suatu susunan dosa, kebusukan, dan kebobrokan.
C. AIR MENJADI DARAH
Selanjutnya, orang yang dipanggil harus menyadari bahwa dunia ini penuh dengan maut. Hal ini dinyatakan dalam tanda mukjizat yang ketiga, yaitu air menjadi darah. Pada orang-orang dunia, kenikmatan datang dari suplai dan hiburan dunia, yang dilambangkan oleh Sungai Nil yang mengaliri tanah Mesir. Sebaliknya, dalam pandangan orang panggilan Allah, dunia bukannya penuh dengan air hidup, melainkan penuh dengan darah kematian. Apa yang dunia berikan kepada kita bukanlah air yang dapat meleraikan dahaga kita, tetapi maut yang meracuni dan membunuh kita.
Sebagai orang-orang panggilan Allah, kita harus mengenal Iblis, daging, dan dunia. Paulus mempunyai tiga pengenalan ini. Mengenai Iblis, Paulus berkata, “Sebab kita tahu rencana jahatnya” (2Kor. 2:11 Tl.). Mengenai daging ia berkata, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik” (Rm. 7:18). Mengenai dunia ia berkata, “Dunia telah disalibkan bagiku, dan aku bagi dunia” (Gal. 6:14). Sekali lagi kita nampak bahwa apa yang dialami oleh Musa dalam lambang, Paulus alami dalam realitas.
IV. KOORDINASI SAUDARA DAN PEMOTONGAN OLEH ISTRI
A. KOORDINASI SAUDARA
Setelah semuanya ini, Musa masih memerlukan pembantu laki-laki dan pembantu perempuan. Pembantu lakilaki ialah koordinasi. Bantuan semacam ini akan menyeimbangkan kita, membatasi kita, dan merendahkan kita. Melalui koordinasi saudaranya, Musa belajar membiarkan orang lain mengerjakan apa yang dapat ia kerjakan. Jangan mengira bahwa Harun lebih pandai bicara daripada Musa. Apa saja yang dikerjakan oleh Harun, Musa dapat juga melakukannya, tetapi Musa terbatasi sehingga tidak bertindak demikian. Dalam hidup gereja, Tuhan akan sering membangunkan suasana yang memaksa kita membiarkan orang lain mengerjakan sesuatu yang dapat kita kerjakan. Ini seharusnya menjadi prinsip berfungsinya kita di dalam gereja. Jika seorang saudara bisa mengerjakan sesuatu, biarkanlah dia yang mengerjakannya, meskipun mungkin Anda sendiri dapat melakukan pekerjaan itu dengan lebih baik. Ini bisa membuat Anda rendah hati. Tetapi saya lihat banyak di antara kita, terutama saudari, yang berpendapat bahwa hanya mereka sendirilah yang dapat mengerjakan hal-hal yang istimewa. Menurut karakter alamiah kita, kita tidak menginginkan orang lain mencampuri apa yang sedang kita kerjakan. Tetapi meskipun demikian, kita harus belajar membiarkan orang lain mengerjakan perkara-perkara yang dapat kita kerjakan.
Saya tidak percaya, Harun lebih cakap daripada Musa. Namun, Allah dengan berdaulat telah menetapkan suatu keadaan, yang membiarkan Harun mengerjakan apa yang dapat Musa kerjakan. Dalam hidup gereja, setiap perkara seharusnya tidak kita kerjakan sendiri. Sebaliknya, kita harus membiarkan orang lain mengerjakan apa yang dapat kita kerjakan, tetapi ini tidak berarti kita boleh bermalas-malasan. Sebaliknya, ini hanya berarti bahwa dalam hubungan koordinasi kita dibatasi, diseimbangkan, dan direndahkan.
Pembatasan ini merupakan penjagaan dan perlindungan. Dalam kehidupan rohani kita, tidak ada perlindungan yang lebih besar daripada koordinasi para saudara. Semakin kita berkoordinasi dengan yang lain, kita semakin terlindung.
B. PEMOTONGAN OLEH ISTRI
Dalam 4:24-26, kita nampak bahwa Zipora dipakai oleh Allah untuk menjadikan Musa seorang “pengantin darah”. Koordinasi bersifat obyektif, tetapi pemotongan bersifat sangat subyektif. Dalam Alkitab, laki-laki melambangkan kebenaran yang obyektif, sedangkan perempuan melambangkan pengalaman yang subyektif. Jadi, koordinasi Harun bersifat luaran dan obyektif, sedangkan pemotongan oleh Zipora bersifat batiniah dan subyektif.
Kalau kita mau dipakai oleh Tuhan dalam pemulihan-Nya, kita harus menyandang tanda pemotongan itu. Ini tidak berarti bahwa kita lalu menyiarkan pemotongan yang kita alami. Sebaliknya, kita harus dengan diam-diam menyandang tanda itu. Biarlah orang lain yang mengatakan bahwa kita telah dipotong. Dalam Keluaran 4, bukan Musa yang mengatakan bahwa ia adalah “pengantin darah”, melainkan Zipora.
Dalam hidup gereja dan kehidupan pernikahan, kita perlu menjadi “pengantin darah” yang demikian. Jika seorang saudara adalah orang yang sungguh-sungguh dipanggil Allah, ia perlu dipotong secara subyektif. Kita telah belajar banyak melalui pemotongan. Adakalanya istri saya memotong saya dengan membatasi makanan saya. Pemotongan ini menjaga saya supaya sehat, dan mencegah saya menuruti kehendak saya sendiri. Oleh faedah pemotongan dari istri saya, saya tidak terjerumus ke dalam kemauan daging dalam hal makan. Jadi, pemotongan ini menjaga saya dari hidup menurut hayat alamiah.
Di luar pemulihan Tuhan, sangatlah sukar bagi sekelompok orang Kristen untuk tinggal bersama-sama lebih dari 15 tahun, sebab tidak ada seorang pun mau dipotong. Sebaliknya, pemotongan itu diganti dengan permainan politik. Hanya mereka yang mau dipotonglah yang dapat berguna bagi Allah. Setiap orang yang berguna merupakan seorang “pengantin darah”. Setiap hari dan setiap jam, kita perlu mengalami penyunatan hayat alamiah. Tidak cukup hanya nampak bahwa kita penuh dengan dosa. Hayat alamiah kita harus pula disunat, baik oleh mereka yang berada dalam keluarga kita, maupun oleh saudara saudari dalam gereja. Saya mau dipotong. Dengan senang hati saya menyerahkan diri saya kepada mereka yang memotong saya. Pemotongan ini ialah aspek yang terakhir dari panggilan Allah. Setelah kita dipotong, barulah kita dapat melaksanakan amanat Allah. Setelah Musa dipotong, ia sungguh-sungguh berguna bagi Allah.
Bila kita membandingkan aspek-aspek panggilan Allah dalam Keluaran 3 dan 4 dengan catatan dalam Perjanjian Baru, kita nampak bahwa apa saja yang dialami oleh Musa, juga dialami oleh Paulus. Selanjutnya, semua ini harus menjadi pengalaman kita hari ini. Kita perlu nampak visi tentang semak duri yang menyala, yaitu pembakaran Allah Tritunggal di dalam dan di atas umat-Nya yang tertebus. Ini adalah titik fokus wahyu ilahi dalam Alkitab. Kemudian kita perlu mengenal apa dan siapa Allah itu. Kita juga harus mengenal Iblis, daging, dan dunia. Setelah itu, kita perlu koordinasi dan pemotongan. Kalau kita ingin mengalami penyunatan yang subyektif pada hayat alamiah kita, haruslah kita hidup oleh hayat kebangkitan, sehingga kita dapat berguna dalam tangan Tuhan bagi penggenapan kehendak-Nya yang kekal, dan siap untuk melaksanakan amanat Allah. Semoga setiap aspek panggilan Allah ini menjadi pengala-man kita dalam pemulihan Tuhan hari ini.