← Daftar isi Keluaran (1) · bab 11/15

TUJUAN PANGGILAN ALLAH

Musa merupakan sebuah lambang dari orang yang dipanggil Allah hari ini. Jangan mengikuti kebanyakan orang yang menganggap Musa jauh lebih unggul daripada kita. Kebanyakan orang Kristen memandang Musa sebagai hamba Allah yang paling tinggi dalam Perjanjian Lama, dan Paulus sebagai hamba Allah yang tertinggi dalam Perjanjian Baru. Setelah mereka membandingkan diri mereka dengan Musa dan Paulus, timbullah rasa rendah diri. Sikap yang sedemikian ini sangat keliru. Pada dasarnya, panggilan Allah terhadap kita sama dengan panggilan-Nya atas Musa dan Paulus. Apa yang Musa alami dalam lambang, Paulus mengalaminya dalam realitas. Hari ini, baik lambang maupun realitas, kedua-duanya akan menjadi pengalaman kita juga.

Dalam Pelajaran Hayat Efesus telah ditunjukkan bahwa semua orang beriman dapat melaksanakan pekerjaan dari para rasul, para nabi, pemberita-pemberita Injil, para gembala dan para pengajar. Sebagaimana seorang guru matematika menuntut murid-muridnya untuk mengerjakan apa yang dia bisa, demikian pula orang-orang yang memimpin, meminta kaum beriman melakukan apa yang mereka sendiri lakukan. Paulus ialah wakil dari anggota-anggota Tubuh Kristus. Bagaimana agungnya Paulus, ia juga hanya sebagai seorang anggota Tubuh Kristus. Pada dasarnya, apa yang dapat ia lakukan, dapat juga dilakukan anggota-anggota lain. Ini menunjukkan bahwa semua anggota Tubuh Kristus akan dipanggil seperti Paulus. Karena itu, kita semua harus tahu tujuan panggilan Allah.

I. UNTUK MEMBEBASKAN UMAT PILIHAN

ALLAH DARI TANGAN PENJAJAH FIRAUN DAN TIRANI MESIR

Tujuan panggilan Allah, pertama-tama ialah untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari penjajahan dan tirani (pemerintahan yang lalim) Firaun dan Mesir (3:8, 17). Firaun adalah lambang Iblis, sedang Mesir adalah lambang dunia. Sebagaimana Firaun merupakan penguasa tanah Mesir, demikian pula Iblis merupakan penguasa dunia (Yoh. 12:31). Allah masih sedang bekerja untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari tangan penjajah Iblis dan tirani dunia. Sebagai orang-orang yang dipanggil Allah, kita perlu mempunyai penglihatan yang jelas apa sebenarnya dunia ini. Dunia bukanlah sumber kenikmatan, melainkan tempat tirani. Dalam dunia ini, dengan tangan penjajahnya, Iblis sedang menjajah umat pilihan Allah yang dikhususkan bagi penggenapan tujuan Allah.

Setiap aspek dari dunia adalah suatu bentuk tirani. Dalam Kitab Keluaran, Firaun menjajah orang Israel di bawah tirani, dengan memaksa mereka melakukan pekerjaan yang berat. Hari ini berlaku pula prinsip yang sama. Ketika orang-orang bekerja, mereka menderita bermacam-macam bentuk tirani. Bahkan menempuh perjalanan menuju pekerjaan di jalan yang ramai pun merupakan suatu tirani. Begitu pula, persaingan untuk promosi dan ketidaktentuan mengenai kekurangan lapangan pekerjaan juga merupakan tirani. Setiap orang di dunia ini yang tidak bekerja bagi Firaun, tidak akan menerima suplai dari Sungai Nil. Untuk mencari nafkah di dunia ini, umat pilihan Allah harus menderita di bawah tirani Firaun. Berbelanja juga merupakan bentuk lain dari tirani dunia. Banyak pemudi yang dikuasai oleh tirani dunia ini dengan cara yang halus melalui berbelanja bagi mode-mode terbaru.

Baru-baru ini, beberapa orang beriman mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak mempunyai waktu untuk berdoa atau membaca Alkitab. Saya menunjukkan bahwa mereka mempunyai banyak waktu untuk bertelepon atau membaca majalah. Itu menunjukkan bahwa telepon atau majalah juga bisa merupakan sarana dari tirani.

Berkhotbah kepada orang lain memang mudah, namun membawa mereka keluar dari rampasan serta tirani Iblis dan dunia sangatlah sukar. Seperti yang kita lihat, Musa tidak berkhotbah kepada orang-orang Israel, tetapi ia dapat membebaskan mereka dari Firaun. Hari ini, kita juga perlu mempunyai kuasa untuk membawa orang-orang kudus keluar dari tangan penjajah Iblis. Salah satu aspek dari tuju-an panggilan Allah adalah memakai kita untuk membawa orang lain keluar dari rampasan serta tirani Iblis dan dunia.

II. MEMBAWA UMAT PILIHAN ALLAH

KE PADANG GURUN, MENEMPUH TIGA HARI PERJALANAN

Aspek lain dari panggilan Allah ialah membawa umat pilihan-Nya ke padang gurun, menempuh tiga hari perjalanan (3:18). Di bagian lain dalam Alkitab, “padang gurun” bukanlah sebuah istilah yang mengacu kepada benda atau hal yang positif, tetapi dalam Keluaran 3:18, istilah ini dipakai dalam arti yang positif, sebab padang gurun di sini adalah lawan dari dunia. Tempat ini merupakan tempat yang terpisah dari dunia. Segera setelah seseorang beroleh selamat, ia akan dibawa keluar dari dunia masuk ke padang gurun, tempat yang tidak mengandung unsur Mesir. Ketika orang-orang Israel memasuki padang gurun, mereka telah dibebaskan dari Mesir. Dalam prinsip yang sama, jika kita ingin keluar dari dunia, kita harus masuk ke padang gurun. Tetapi, tidak banyak orang Kristen yang telah dibawa masuk ke padang gurun. Ini berarti, walaupun mereka telah beroleh selamat, namun belum dibebaskan dan belum dipisahkan dari dunia.

Dulu, sebagaimana umumnya seorang pemuda di dunia, saya penuh dengan ambisi untuk hari depan saya. Tetapi ketika saya beroleh selamat, saya tidak hanya diselamatkan dari lautan api, bahkan dari dunia ini. Pada hari saya beroleh selamat, semua unsur dunia telah tertanggalkan dari saya, dan saya dibawa masuk ke padang gurun. Kita perlu berdoa mohon Tuhan memberi kita kekuatan untuk memimpin anak-anak-Nya keluar dari dunia, dan masuk ke padang gurun.

Menurut Keluaran 3:18, Musa dan para tua-tua Israel harus berkata kepada raja Mesir, “TUHAN, Allah orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah kami.” Dalam Alkitab, tiga hari menyatakan kebangkitan. Suatu keselamatan yang lengkap dan sempurna ha-rus mencakup tiga hari perjalanan, yaitu suatu perjalanan dalam kebangkitan. Pemberitaan Injil kita harus mengandung kuat kuasa kebangkitan. Karena kurangnya kuat kuasa kebangkitan ini, maka pemberitaan Injil kita hari ini kekurangan pengaruh yang menimbulkan perubahan. Orang-orang yang mendengarkan pemberitaan kita memang bertobat dan menerima Tuhan, namun mereka masih tetap tinggal dalam kubur-kubur mereka di tanah Mesir. Kita perlu mempunyai kuat kuasa kebangkitan dalam pemberitaan kita, agar orang-orang yang mendengarkan bisa bangkit dari kubur mereka, dan dibawa ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya. Perjalanan yang demikian ini dinyatakan dengan baptisan. Setiap orang yang percaya dalam Kristus harus dibaptis untuk menjadi saksi dari fakta yang menyatakan bahwa ia meninggalkan dunia ini, dan masuk ke wilayah lain dalam kebangkitan.

Kita harus berdoa supaya ministri firman kita mempunyai pengaruh yang menimbulkan perubahan. Kita tidak seharusnya hanya memberi orang pengetahuan saja. Sebaliknya, kita ingin supaya pemberitaan kita menyentuh hati mereka, sehingga mereka meninggalkan dunia ini untuk menempuh perjalanan ke padang gurun dalam kebangkitan.

III. MEMBAWA UMAT PILIHAN ALLAH

KE GUNUNG UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAH

DAN MEMPERSEMBAHKAN KURBAN KEPADANYA

Dalam Keluaran 3:12 Tuhan berfirman kepada Musa, “Apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Ini memperlihatkan bahwa tujuan panggilan Allah adalah juga untuk membawa umat pilihan-Nya ke gunung, di mana mereka boleh beribadah kepada Allah dan mempersembahkan kurban kepada-Nya (3:18; 19:1-2, 11; 24:16-18). Banyak orang Kristen yang belum pernah pergi ke padang gurun, lebih banyak lagi yang belum pernah pergi ke gunung. Mereka benar-benar telah beroleh selamat, sebab mereka telah percaya kepada Tuhan Yesus, dan mereka telah dibasuh oleh darah-Nya, namun mereka masih tetap tinggal di tanah Mesir. Ada sebagian yang telah keluar dari tanah Mesir dan pergi ke padang gurun, tetapi mereka belum sampai ke gunung itu. Wahyu ilahi mengenai kehendak Allah diberikan kepada Musa justru di atas gunung itu. Hukum Taurat pun diberikan kepada Musa di atas gunung itu. Di gunung itu pula ia menerima wahyu mengenai rancangan Kemah. Memang kebanyakan orang-orang Israel tidak naik ke puncak gunung itu, sekalipun demikian mereka berkemah dekat gunung itu. Musa, Harun, dengan lebih dari 70 orang lainnya, naik ke atas gunung untuk bertemu dengan Allah (24:1, 9). Gunung dalam Keluaran 3:12 adalah suatu tempat yang tinggi di padang gurun. Kita tidak hanya perlu dipisahkan dari dunia, tetapi dalam wilayah pemisahan ini, kita perlu naik ke suatu tempat yang tinggi. Hanya di tempat yang sedemikian inilah kita dapat menerima wahyu mengenai maksud kekal Allah.

Meskipun ada pengkhotbah-pengkhotbah tertentu yang mungkin pandai berbicara dan berpengetahuan luas, tetapi khotbah mereka tidak mempunyai pengaruh terhadap kita. Sesudah mendengarkan pemberitaan mereka, kita masih tetap berada dalam wilayah dan suasana seperti sebelumnya. Perbedaannya hanyalah kita telah mendapat beberapa berita baru. Tetapi pemberitaan dari seorang yang terpanggil sangatlah berbeda; setelah kita mendengarkan firman Allah dari orang-orang ini, kita tidak dapat tetap tinggal demikian. Perkataannya membebaskan kita dari Mesir, dan merebut kita kembali dari tangan penjajah Iblis serta tirani dunia. Perkataan-perkataannya tidak saja membawa kita pergi ke padang gurun, bahkan ke atas gunung. Di atas gunung inilah, di mana langit cerah (Kel. 24:10), kita nampak visi tentang ekonomi Allah. Ke sinilah kita datang untuk mengetahui isi hati Allah, dan kita pun nampak apa yang ingin Allah miliki di bumi hari ini. Kita mengerti bahwa Allah ingin memiliki suatu bangsa yang berjalan menurut hukum-Nya, dan yang mendirikan Kemah Pertemuan bagi-Nya, sehingga Dia dapat berdiam di tengah-tengah mereka.

IV. MENDIRIKAN KEMAH PERTEMUAN

Allah memanggil kita juga untuk mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah di bumi (25:8-9, 40). Visi dan pembangunan Kemah Pertemuan, hampir menempati separuh kitab ini. Musa menerima visi itu di atas gunung dan kemudian Kemah Pertemuan didirikan. Ini merupakan petunjuk untuk perjalanan orang Israel selanjutnya ke arah sasaran yang terakhir, yaitu memasuki tanah permai, dan membangun Bait Allah di sana.

V. MEMBAWA UMAT PILIHAN ALLAH

MEMASUKI TANAH KANAAN,

TANAH PERMAI YANG BERLIMPAH SUSU DAN MADU

Jika kita dapat membawa orang-orang keluar dari tirani dunia pergi ke padang gurun, dan membawa mereka ke atas gunung di mana mereka nampak wahyu ekonomi Allah, kemudian mendirikan Kemah Pertemuan bagi Allah, maka kita akan benar-benar puas. Sekalipun demikian, pada Kemah Pertemuan kita belum mempunyai bangunan yang kukuh, seperti yang dinyatakan oleh Bait Suci di tanah Kanaan. Karena itu, jika kita ingin mencapai tujuan akhir panggilan Allah, kita harus berjalan lebih jauh ke depan untuk memasuki tanah permai.

Ketika orang-orang Israel mencapai Gunung Sinai, mereka masih jauh dari tanah Kanaan. Jarak antara Mesir ke gunung itu kira-kira seperempat dari jarak antara Mesir ke tanah Kanaan. Umat pilihan Allah harus menempuh perjalanan ke depan, sampai mereka memasuki tanah Kanaan, tanah permai yang berlimpah susu dan madunya (3:1, 17). Telah saya tunjukkan bahwa dalam Kitab Keluaran terdapat banyak lambang dari realitas rohani dalam Perjanjian Baru. Di antaranya: hari raya Paskah, menyeberangi Laut Merah, manna, dan air dari gunung batu. Banyak orang yang mengartikan lambang “menyeberangi Sungai Yordan” dalam cara yang salah. Mereka menghubungkannya dengan kematian jasmani, dan pergi ke rumah yang besar dan indah di surga. Menyeberangi Sungai Yordan tidak berkaitan dengan kematian jasmani. Ketika orang-orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka mendapati bahwa negeri itu penuh dengan musuh. Jika tanah Kanaan itu melambangkan surga dengan rumah yang besar dan indah, ini berarti bahwa surga di mana Allah tinggal, penuh dengan musuh. Alangkah mustahil!

Sejarah umat Israel secara keseluruhan merupakan sebuah lambang. Sejarah ini meliputi hari raya Paskah, keluar dari Mesir, perjalanan melalui padang gurun, kenikmatan atas manna dan air hidup, mendirikan Kemah Pertemuan, memasuki tanah permai, mengalahkan musuh, dan menikmati hasil kekayaan negeri itu. Dengan mengalahkan musuh mereka, orang-orang Israel memperoleh tanah bagi pembangunan Kerajaan Allah. Kemudian setelah kerajaan itu didirikan, Bait Suci pun dibangun. Dengan demikian Allah mempunyai suatu tempat kediaman yang solid di bumi, di tengah-tengah kerajaan-Nya.

Kebanyakan orang Kristen memperhatikan lambang seperti hari raya Paskah dan manna, tetapi mereka tidak memperhatikan lambang-lambang seperti memasuki tanah permai, menikmati hasil kekayaan negeri itu, mengalahkan musuh dalam negeri itu, membangun kerajaan, dan mendirikan tempat kediaman Allah. Banyak di antara kita yang telah mendengarkan berita-berita tentang hari raya Paskah, manna, dan bahkan Kemah Pertemuan, namun mereka belum pernah mendengarkan sesuatu tentang tanah permai yang melambangkan Kristus yang almuhit. Melalui lambang-lambang itu kita nampak, supaya kita dapat berada di atas gunung dan menerima wahyu Allah, serta mendirikan Kemah Pertemuan sebagai tempat kediaman yang sementara bagi Allah, kita semua perlu menikmati Kristus sebagai anak domba, roti yang tidak beragi, dan air hidup. Setelah Kemah Pertemuan didirikan, orang-orang Israel harus melanjutkan perjalanan mereka. Dalam menempuh perjalanan ini, mereka memerlukan Kristus yang dilambangkan sebagai manna. Ketika mereka telah memasuki tanah permai, manna itu tidak ada lagi, tetapi mereka menikmati hasil negeri itu (Yos. 5:12). Ini menunjukkan bahwa hasil tanah itu ialah kelanjutan dari manna, kenikmatan akan Kristus yang telah mencapai tingkat yang lain. Tingkat yang pertama ialah anak domba Paskah di Mesir; kedua ialah manna dan air hidup di padang gurun; dan ketiga ialah hasil tanah permai.

Sangatlah sulit membuat perbandingan antara tanah permai dengan anak domba. Anak domba itu kecil, tetapi tanah permai itu luas dan kaya. Kalau begitu apa hubungannya negeri itu dengan manna? Tidak diragukan, sangatlah sulit untuk membebaskan umat pilihan Allah dari tangan penjajah Iblis serta tirani dunia, dan membawa mereka ke dalam pemisahan di padang gurun. Sulit pula membawa mereka ke atas gunung untuk menerima wahyu ekonomi Allah. Namun, jauh lebih sulit lagi membawa mereka masuk ke tanah permai untuk menikmati kekayaan Kristus yang almuhit.

Dalam Ulangan 8, kita mempunyai gambaran kekayaan tanah permai. Gambaran ini melukiskan berbagai aspek kekayaan tersebut: sungai, mata air, gandum, jelai, pohon anggur, pohon ara, pohon delima, pohon zaitun, madu, besi, dan tembaga (ayat 17-19). Besi untuk peperangan, kekuatan, kekuasaan, perlindungan, dan akhirnya untuk pembangunan kerajaan dan Bait Suci. Kekayaan Kristus seperti yang dilambangkan dengan hasil tanah Kanaan ini, ditulis secara terperinci dalam buku “KRISTUS YANG ALMUHIT”.

Baru-baru ini ketika saya sedang berdoa, Tuhan memperingatkan saya mengenai kurangnya saya hidup berdasarkan Kristus. Tuhan menunjukkkan, meskipun gereja-gereja sudah berada di jalan yang tepat, dan kaum beriman juga sedang masuk dalam firman dan doa, tetapi dalam hal hidup berdasarkan Kristus masih kurang sekali. Telah bertahun-tahun saya nampak bahwa Kristus hidup di dalam saya, dan saya telah menyampaikan banyak berita tentang hal ini. Memang mudah untuk mengatakan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20), dan “Bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Tetapi pelaksanaannya sangatlah kurang. Ketika Tuhan memperingatkan saya, saya bertobat dan mengakui kegagalan saya. Sejak saat itu, saya mempunyai perasaan bahwa keperluan yang terbesar bagi pemulihan Tuhan hari ini adalah kita semua harus hidup berdasarkan Kristus secara riil.

Berapa banyak Anda hidup berdasarkan Kristus selama satu hari ini? Mungkin hanya pada waktu Anda berdoa saja Anda hidup berdasarkan Kristus. Ketika Anda berdoa, Anda berada di tanah permai. Namun, segera setelah doa Anda selesai, Anda keluar dari tanah permai itu. Kita sering menyesali kegagalan-kegagalan kita, misalnya ketika kita marah-marah, tetapi mungkin kita tidak mempunyai penyesalan atas kekurangan kita dalam hal hidup berdasarkan Kristus. Telah berapa kali Anda menyesal di hadapan Tuhan karena tidak memperhidupkan Kristus? Sekalipun kelakuan kita baik, kita masih perlu mengakui kekurangan kita di hadapan Tuhan, sebab kita tidak hidup berdasarkan Dia. Sangat sedikit orang yang berdoa untuk ini. Kita mempunyai konsepsi “berkelakuan baik”, namun kita tidak mempunyai konsepsi “menerima Kristus sebagai hayat kita seraya hidup berdasarkan Dia”.

Pada tahun 1970, berita-berita tentang menerima Kristus sebagai persona kita telah diberitakan. Namun sekarang, siapakah di antara kita yang benar-benar menerima Kristus sebagai personanya? Kebanyakan di antara kita, masih memiliki diri kita sendiri sebagai persona kita. Meskipun kita telah mendengar berita-berita tentang ini, kita harus mengakui, bahwa secara riil kita tidak banyak memperhidupkan Kristus. Kita dapat menyanyikan “Dalam kemuliaan ada insan, yang hayat-Nya bagiku”, atau mungkin kita menggubah kata-kata itu menjadi, “Dalam rohku ada seseorang, yang hayat-Nya bagiku”. Tetapi setelah kita menyanyikan nyanyian ini, kita hidup berdasarkan hayat siapa? Berdasarkan hayat Kristus, ataukah berdasarkan hayat alamiah kita? Di dalam sidang kita memproklamirkan bahwa hayat Kristus ialah bagi kita, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari, hayat-Nya bukanlah bagi kita. Dalam prakteknya, apa yang kita perhatikan ialah berkelakuan baik, bukan hidup berdasarkan Kristus.

Dalam Yohanes 16:9, Tuhan Yesus berkata bahwa Roh itu akan menginsafkan dunia ini, akan dosa, “Karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku”. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa tidak percaya Tuhan adalah dosa yang satu-satunya. Allah memerintahkan kita untuk percaya kepada Putra-Nya. Setiap orang dosa yang menolak untuk percaya kepada Putra-Nya, melanggar perintah Allah. Tidak perlu melanggar kesepuluh perintah Allah, cukup dengan tidak percaya kepada Kristus sesuai dengan perintah Allah, akan membuat orang menemui kebinasaan. Selain perintah yang berkenaan dengan percaya ini, Allah memerintahkan orang-orang beriman dalam Kristus untuk hidup berdasarkan Kristus. Bagi orang dosa, tidak percaya kepada Kristus adalah berdosa; bagi orang Kristen, tidak hidup berdasarkan Kritus juga adalah berdosa.

Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki supaya Kristus menjadi hayat kita dan segala sesuatu kita, sehingga Ia memperoleh hidup gereja (church life). Tetapi kita tidak memperhatikan Kristus, sebaliknya memperhatikan hal-hal lain, seperti kelakuan yang baik. Ini berarti tidak taat, bahkan adalah pemberontakan. Allah mau Kristus, tetapi kita mau kelakuan yang baik. Karena alasan ini, maka hidup gereja dalam pemulihan Tuhan masih belum begitu kaya dan riil. Agar hidup gereja menjadi kaya dan riil, Kristus harus diperhidupkan dari kita.

Setelah Anda mendengar tentang perlunya memperhidupkan Kristus, mungkin Anda bertanya, “Bagaimana kita hidup berdasarkan Dia?” Saya akui, hidup berdasarkan Kristus memang sangat sukar. Salah satu alasan dari kesukaran ini ialah kita tidak menuntut Kristus sendiri, malah lebih suka menuntut kesucian, kemenangan, dan kerohanian. Karena itu, bahkan penuntutan kerohanian kita pun merupakan penghalang untuk memperhidupkan Kristus. Kita ingin menjadi suci atau menang atas dosa yang merepotkan kita, atau menang atas unsur-unsur negatif di sekitar kita. Selain itu, kita juga ingin menjadi rohani. Tetapi, meskipun kita menginginkan kesucian, kemenangan, dan kerohanian, kita tidak ingin memperhidupkan Kristus. Kehendak Allah ialah Kristus tergarap ke dalam kita; tetapi keinginan kita ialah mengembangkan kesucian dan kerohanian kita sendiri. Ini merupakan penentangan terhadap ekonomi Allah. Sekalipun kita berhasil menjadi suci dan rohani, kesucian dan kerohanian yang sedemikian ini justru merupakan pemberontakan.

Ketika saya masih sebagai seorang Kristen muda, saya mencari bermacam-macam cara supaya menjadi rohani, menang, suci, dan penuh dengan Roh. Saya membaca buku-buku yang memberi tahu saya bagaimana menempuh jalan ini, dan semua saran itu saya terapkan dalam praktek. Namun, saya merasa kecewa, sebab tidak ada satu pun yang berkhasiat. Kemudian saya tahu bahwa Kristus sendirilah jalan untuk menjadi suci, menang, dan rohani. Jika kita memiliki Kristus, maka kita memiliki kesucian, kemenangan, dan kerohanian yang sejati. Jika kita berusaha sendiri untuk mengatasi tabiat kita, kita akan kalah. Tetapi jika kita memperhidupkan Kristus, tabiat kita tidak akan menjadi masalah bagi kita.

Meskipun kita telah cukup banyak mendengar tentang hidup berdasarkan Kristus, namun dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak mempraktekkan apa yang telah kita dengar itu. Sebagai gantinya, kita malah berusaha untuk memperbaiki kelakuan kita. Jika kita digerakkan, kita harus digerakkan untuk hidup berdasarkan Kristus. Kehendak Allah ialah memimpin kita memasuki tanah permai. Kita perlu digerakkan sehingga kita terus maju ke depan, memasuki negeri itu, untuk menggarap dan menikmati hasil kekayaan negeri itu. Allah hanya mau Kristus; Ia tak mau gairah kita, kelakuan kita, atau moral kita.

Telah saya tunjukkan bahwa tanah Kanaan ialah lambang Kristus. Namun, lambang ini belum terpenuhi dalam pengalaman kaum beriman. Lambang-lambang seperti hari raya Paskah dan manna, telah terpenuhi dalam pengalaman beribu-ribu orang Kristen. Tetapi meskipun mereka banyak menikmati Kristus sebagai manna, mereka sangat kurang menikmati Kristus sebagai tanah permai mereka. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah kita yang di dalam gereja-gereja lokal benar-benar menikmati Kristus sebagai tanah permai atau tidak. Apakah di dalam Kristus kita mengenal bukit-bukit dan lembah-lembah? Apakah di dalam Kristus kita mengalami gandum dan jelai serta mineral-mineral dengan baik? Semua aspek Kristus ini perlu kita alami secara riil. Jika kita menganggap tanah permai dengan kekayaannya sebagai lambang Kristus, kita akan mengetahui bahwa kita kurang mengalami Kristus.

Gereja berbeda dengan organisasi sosial, karena gereja merupakan satu perwujudan yang tersusun dari Kristus. Jika kita memiliki Kristus, maka kita memiliki realitas gereja. Jika kita tidak memiliki Kristus, maka dalam praktek-nya, kita adalah suatu organisasi sosial. Kalau kita kurang mengalami Kristus, mungkin kelihatannya kita memprak-tekkan hidup gereja, tetapi sebenarnya kita sedang menik-mati kehidupan alamiah kemasyarakatan.

Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tujuan panggilan Allah bukan hanya membawa umat-Nya keluar dari tanah Mesir, masuk ke padang gurun, dan pergi ke gunung. Tujuan Allah ialah membawa umat-Nya ke dalam Kristus sebagai tanah permai. Orang-orang panggilan Allah bukan hanya diselamatkan dari dunia. Itu hanyalah aspek negatifnya saja. Tujuan panggilan-Nya ialah membawa umat-Nya memasuki tanah permai, sehingga mereka boleh menikmati Kristus dalam kealmuhitan-Nya. Kemudian, Allah akan dapat membangun kerajaan-Nya (19:16; 2Sam. 5:12; 7:12, 16; Rm. 14:17). Lagi pula, dengan membawa umat pilihan-Nya memasuki tanah permai, Allah akan dapat memiliki satu tempat kediaman yang dibangun di bumi ini (2Sam. 7:13; Ef. 2:20-22; 4:12). Hari ini, kita perlu membantu orang lain mengalami segala kekayaan Kristus yang tak terduga, sehingga Allah dapat membangun kerajaan-Nya, dan memiliki tempat kediaman-Nya di bumi.

Hal yang sangat penting ini ditulis oleh Paulus dalam Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose. Keempat kitab ini memperlihatkan kepada kita bahwa Kristus bukan hanya sebagai Anak Domba, tetapi juga sebagai Sang almuhit, yaitu sebagai tanah permai yang almuhit. Kolose 3:11 bahkan mengatakan bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Perkataan ini pasti membicarakan Kristus yang almuhit. Dalam Kitab 1Korintus kita nampak hari raya Paskah dan menyeberangi Laut Merah, namun dalam Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose, kita nampak tanah permai yang almuhit.

Kitab Efesus dan Kolose menyinggung tentang pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di tingkat-tingkat langit (tempat-tempat surgawi). Dalam kitab-kitab ini dikatakan bahwa justru di tempat-tempat inilah kita menikmati Kristus sebagai tanah permai. Dan di situ pula pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa yang jahat, yang dilambangkan dengan orang-orang yang jahat di tanah Kanaan, dikalahkan. Hari ini, kekuatan-kekuatan yang jahat ini ada di udara. Kita, orang-orang yang terpanggil, harus membebaskan orang-orang dari dunia, dan membawa mereka memasuki tempat-tempat surgawi, untuk menanggulangi pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa itu. Ketika orang-orang Israel makan anak domba Paskah, orang-orang Mesir ditanggulangi. Namun, setelah orang-orang Israel memasuki tanah permai, mereka tidak berperang melawan orang-orang Mesir, melainkan berperang melawan bangsa-bangsa negeri itu. Dalam lambang, bangsa-bangsa ini bukanlah orang-orang dunia; mereka adalah kekuatan yang jahat dari kegelapan, orang-orang yang memerintah dengan jahat, pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di udara. Kekuatan-kekuatan yang menduduki tempat-tempat di udara ini mencoba menghalanghalangi kita dalam menikmati Kristus yang almuhit. Karena itu, untuk menikmati Kristus dalam kealmuhitan-Nya, kita harus mengalahkan segala pemerintah, penguasa, kekuasaan dan kerajaan di udara itu.

Allah telah memanggil kita dengan satu tujuan. Tujuan ini ialah memakai kita untuk membawa orang-orang keluar dari tirani dunia hari ini, dan masuk ke padang gurun, yaitu tempat pemisahan. Juga membawa mereka ke gunung, di mana mereka bisa nampak wahyu mengenai ekonomi Allah, dan rancangan Kemah Pertemuan, sehingga Kemah Pertemuan dapat didirikan. Selain itu, masih perlu membawa mereka masuk ke tanah permai yang kaya dan almuhit, mengalahkan musuh Allah, dan menikmati kekayaan Kristus. Akhirnya, Allah akan dapat membangun kerajaan-Nya, yang di dalamnya Ia akan memiliki tempat kediaman-Nya di bumi ini. Semua butir ini berkembang sempurna dalam Kitab-kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose, yaitu empat kitab yang merupakan jantung dari Alkitab.

Musa dan Paulus dipanggil untuk tujuan ini, kita juga dipanggil untuk tujuan ini. Kita perlu membawa orang-orang keluar dari dunia, masuk ke dalam Kristus yang almuhit, bagi Kerajaan Allah dan bangunan Allah. Oh, semoga pemahaman kita akan firman Allah ditinggikan! Yang Allah inginkan bukan hanya Kemah Pertemuan dengan kenikmatan mula-mula atas Kristus sebagai anak domba, manna, dan air hidup, bahkan Bait Suci dengan kenikmatan yang kaya akan Kristus sebagai tanah permai yang almuhit. Hari demi hari, kita perlu dengan riil mengalami Kristus sebagai hayat dan persona kita. Ia tidak hanya akan menjadi manna kita, tetapi juga seluruh kekayaan dari tanah permai. Apa yang kita perlukan bagi penggenapan kehendak Allah hari ini adalah pengalaman yang sejati atas Kristus sebagai tanah permai Kanaan.