TIGA POS DALAM PENGGENAPAN KEHENDAK ALLAH
Dalam berita ini kita akan membahas tiga pos dalam penggenapan kehendak Allah seperti yang dinyatakan dalam Keluaran 3. Dalam panggilan Allah, umat pilihan diarahkan kepada tiga pos yang berbeda. Ayat 18 mengatakan bahwa bani Israel pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya. Dalam ayat 12 Allah berfirman kepada Musa, “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.” Akhirnya dalam ayat 8 dan 17 Allah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan menuntun bani Israel keluar dari Mesir menuju ke “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. Karena itu tiga pos dalam pasal ini adalah padang gurun, gunung, dan tanah itu.
I. KE PADANG GURUN
Banyak guru Kristen menekankan betapa pentingnya pengalaman bani Israel di padang gurun sebagai tempat ujian dan pencobaan. Walaupun beberapa tempat dalam Alkitab memang menyatakan bahwa padang gurun mempunyai arti demikian, tetapi arti padang gurun dalam Keluaran 3:18 bukan demikian. Padang gurun dalam Kitab Keluaran menyatakan sebuah tempat yang terpisah dari dunia. Menurut 3:18, bani Israel memerlukan tiga hari perjalanan jauhnya ke padang gurun untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan, Allah mereka. Sangatlah mustahil bagi umat Allah untuk mempersembahkan kurban kepada-Nya di Mesir. Untuk dapat melayani Tuhan, mereka harus berada di suatu tempat yang terpisah.
Padang gurun dipisahkan dari Mesir oleh Laut Merah. Menyeberangi Laut Merah melambangkan pembaptisan. Setelah percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima-Nya sebagai domba Paskah, kita dibaptis. Jadi, air baptisan memisahkan kita dari dunia dan membawa kita ke padang gurun tempat kita melayani Allah. Tetapi banyak orang yang telah beroleh selamat belum juga mencapai padang gurun. Ini berarti walaupun mereka telah beroleh selamat, mereka masih belum terpisah dari dunia.
Padang gurun, tempat yang terpisah dari dunia, merupakan pos pertama dalam hal pembebasan umat pilihan Allah dari Mesir. Pengalaman kita membuktikan hal ini. Sebelum kita beroleh selamat kita diduduki oleh hal-hal dan urusan-urusan dunia. Kemudian keselamatan Allah telah menyelamatkan kita dari pendudukan ini dan membawa kita ke padang gurun. Setiap orang yang benar-benar beroleh selamat pasti mempunyai pengalaman semacam ini.
Hal ini dapat terlihat baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Satu-satunya perbedaaan ialah Perjanjian Lama menyajikan lambang dan gambaran, sedang Perjanjian Baru menyajikan realitas rohani dalam perkataan-perkataan. Karena kita sering kesulitan untuk memahami hal-hal rohani dalam Perjanjian Baru, maka dalam hikmat-Nya Allah menggunakan gambaran-gambaran dalam Perjanjian Lama untuk membantu kita memahami-nya. Sejarah bani Israel adalah sebuah potret dari keselamatan sempurna orang beriman. Misalnya, domba Paskah adalah sebuah lambang dari Kristus. Dalam 1Korintus 5:7 Paulus berkata, “Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih.” Selanjutnya dalam 1Korintus 10:1-2, Paulus mengatakan bahwa menyeberangi Laut Merah adalah lambang dari pembaptisan. Selain itu, manna dan air dari batu karang yang terbelah juga merupakan lambang dari Kristus (1Kor. 10:3-4). Tidaklah sukar untuk melihat arti dari gambaran-gambaran ini, walaupun demikian sedikit sekali orang Kristen yang mengenal bahwa tanah permai ini juga merupakan lambang dari Kristus. Bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa hanya permulaan sejarah bani Israel sajalah yang merupakan lambang. Betapa kita berterima kasih kepada Allah yang telah menunjukkan kepada kita bahwa seluruh sejarah bani Israel adalah sebuah potret keselamatan kita.
Bani Israel keluar dari Mesir dan masuk ke padang gurun setelah menikmati domba Paskah (12:11, 31-41) dan melalui pembaptisan dalam Laut Merah (14:21-30). Bagi mereka, domba Paskah adalah suatu kenikmatan. Mereka menikmati domba, roti yang tidak beragi, dan sayur pahit. Suplai yang mereka terima dari kenikmatan ini menguatkan mereka untuk keluar dari Mesir. Tidak hanya demikian, pembaptisan dalam Laut Merah membebaskan mereka dari orang-orang Mesir. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah domba Paskah, dan demi kematian-Nya, kita dipisahkan dari dunia dan dibawa masuk ke padang gurun, pos pertama dalam penggenapan kehendak Allah.
II. KE GUNUNG
Pos kedua ialah gunung (3:12; 19:1-2, 11; 24:16-18), tempat bani Israel mendapatkan wahyu tentang Allah dan Kemah Pertemuan. Telah ratusan tahun mereka berada di bawah kegelapan Mesir, tanpa terang, dan tanpa firman Allah. Tetapi sekarang mereka berada di bawah sorotan terang, mereka hidup berdasarkan wahyu Allah, dan mereka membangun Kemah Pertemuan berdasarkan pola yang diwahyukan Allah.
Bani Israel dibawa ke gunung melalui tempat bertumbuhnya pohon yang membuat air pahit menjadi manis (15:23-25), dua belas mata air di Elim (15:27), manna surgawi (16:14-15, 31-32, 35), air kehidupan dari batu karang yang terbelah (17:6), dan kemenangan atas orang Amalek (17:8-16). Ketika orang-orang Israel sampai ke Mara, “mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya” (15:23). Karena bangsa itu bersungut-sungut kepada Musa, maka berserulah Musa kepada TUHAN (Yehova), “dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air, lalu air itu menjadi manis” (15:25). Kayu ini mengiaskan Kristus dengan salib-Nya. Bani Israel sampai di Elim, di sana terdapat dua belas mata air (15:27), lalu mereka berkemah di tepi mata air itu. Ketika mereka melanjutkan perjalanan dari Elim, mereka bersungut-sungut lagi, karena mereka tidak mempunyai makanan. Allah memenuhi kebutuhan mereka dengan menurunkan manna, makanan surgawi, untuk menunjang mereka. Begitu juga, ketika bani Israel bersungut-sungut tentang air, Allah mengalirkan air kehidupan dari batu karang yang terbelah (17:1-6). Kesemuanya ini mengiaskan berbagai aspek Kristus sebagai suplai hayat kita, suplai yang sedemikianlah yang dipakai Allah untuk membawa kita ke gunung. Dalam gereja lokal kita dapat bersaksi bahwa kita telah disuplai dengan air manis, dua belas mata air di Elim, manna surgawi, dan air kehidupan yang mengalir dari batu karang yang terbelah.
Umat pilihan Allah tidak menetap di gunung yang di padang gurun. Tujuan Allah ialah supaya mereka maju te-rus ke tanah permai. Demikian pula, hari ini kita tidak seharusnya menetap di padang gurun maupun di gunung. Kita harus menganggap keduanya sebagai pos sementara. Tempat tujuan kita yang terakhir ialah tanah permai.
Dalam pengalaman, sedikit sekali orang Kristen yang telah sampai di gunung. Banyak orang di antara kita yang dapat bersaksi bahwa sebelum kita menempuh hidup gereja (church life), kita tidak berada di gunung ini, tempat memperoleh wahyu. Namun kebanyakan orang beriman dalam pemulihan Tuhan telah sampai di gunung yang di padang gurun. Di satu pihak, memang sangat menakjubkan mempunyai pengalaman di gunung; di pihak lain, kita akan sengsara jika tinggal di sana terlalu lama. Beberapa orang yang telah bertahun-tahun berada dalam dalam Kristus tidak juga beranjak maju lebih jauh dari pos di gunung. Pada hari keempat belas bulan pertama, bani Israel merayakan paskah di Mesir, dan dalam bulan ketiga mereka tiba di gunung (19:1). Mereka tinggal di sana selama lebih kurang sembilan bulan. Pada hari pertama tahun berikutnya Kemah Pertemuan didirikan dan penuh dengan kemuliaan (40:17, 34). Ini menunjukkan bahwa tidaklah normal menetap terlalu lama di gunung. Dalam pemulihan Tuhan banyak orang di antara kita yang telah nampak visi di gunung dan telah ikut ambil bagian dalam pembangunan Kemah Pertemuan. Walaupun ini menakjubkan, tetapi hanya untuk sementara.
Kalau kita perhatikan gambaran dari bani Israel di padang gurun, kita nampak hanya dua orang dari mereka yang keluar dari Mesir, Yosua dan Kaleb yang masuk ke tanah permai. Yang lain, termasuk Musa, Harun, dan Miryam, meninggal di padang gurun. Bagi mereka, padang gurun tidak saja merupakan tempat pemisahan, juga merupakan tempat pengujian dan pencobaan. Sebelum bangsa Israel tiba di gunung, padang gurun merupakan hal yang positif, karena hanya merupakan tempat pemisahan. Tetapi setelah tiba di gunung, padang gurun menjadi tempat pengujian dan pencobaan karena ketidakpercayaan mereka.
Ketika di gunung, bangsa Israel menerima wahyu mengenai siapakah Allah itu. Janganlah memandang hukum Taurat itu hanya sebagai perintah belaka. Hukum Taurat itu merupakan kesaksian, definisi, gambaran, dan penjelasan tentang siapakah Allah itu. Melalui hukum Taurat kita dapat mengetahui diri Allah. Allah menuntut umat pilihan-Nya hidup berdasarkan wahyu tentang diri-Nya ini. Jadi, di atas gunung Musa menerima wahyu tentang siapakah Allah dan kehidupan macam apakah yang seharusnya dimiliki oleh umat-Nya. Karena Allah itu suci, adil, dan kasih, umat-Nya harus hidup dalam kesucian, keadilan, dan kasih. Keluaran 20-24 menguraikan bahwa Allah sangat memperhatikan kesucian-Nya, keadilan, dan atribut ilahi lainnya. Umat-Nya harus hidup sesuai dengan atribut-atribut Allah. Wahyu yang demikian hanya dapat dilihat di puncak gunung.
Selain itu hanya di atas gununglah umat Allah dapat melihat wahyu tentang keinginan hati Allah. Di sini kita nampak bahwa Allah menginginkan kita hidup berdasarkan apa adanya Dia karena keinginan hati-Nya ialah mempunyai tempat kediaman di bumi. Kemah Pertemuan didirikan sebagai penggenapan sementara akan maksud ini. Sebelum Kemah Pertemuan didirikan, setiap aspek tentang Kemah ini telah diwahyukan kepada Musa dalam Keluaran 25-31. Pasal-pasal selanjutnya mengungkapkan pengalaman bani Israel di gunung dan menceritakan pembangunan Kemah Pertemuan.
Di atas gunung kita mempunyai hidup gereja yang dilambangkan oleh Kemah Pertemuan. Hidup gereja yang kita miliki hari ini bukanlah hidup gereja berupa bait, melainkan hidup gereja yang dapat bergerak, kemah. Kemah Pertemuan dibangun langsung di atas tanah tanpa pondasi, sebaliknya Bait Suci yang dibangun di tanah permai, mempunyai pondasi yang teguh. Tidak ada satu ayat pun dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa gereja dibangun dengan kayu. Sebaliknya, baik Paulus maupun Petrus mengatakan bahwa gereja dibangun dengan batu-batu (1Kor. 3:12; 1Ptr. 2:5). Ini membuktikan bahwa Kemah Pertemuan, sebuah model gereja, adalah tempat tinggal sementara bagi Allah. Tempat tinggal permanen-Nya haruslah berupa bangunan yang dibangun di tanah Kanaan. Bagaimanapun, banyak orang Kristen belum mencapai taraf Kemah Pertemuan, hidup gereja yang sementara, apalagi mencapai bangunan kukuh itu.
III. KE TANAH PERMAI
Karena Kemah Pertemuan hanya merupakan tempat tinggal sementara bagi Allah, kita tidak seharusnya merasa puas dengan hidup gereja pada bagian ini. Kita perlu menuntut untuk mencapai taraf yang dinyatakan oleh Bait Suci di tanah permai. Dalam Perjanjian Lama, bangunan itu menggantikan Kemah Pertemuan. Akhirnya, barang-barang yang berada dalam Kemah Pertemuan ditempatkan dalam Bait Suci. Jadi, Kemah Pertemuan yang ada di padang gurun merupakan bangunan sementara dan Bait Suci di tanah permai merupakan bangunan yang permanen dan sempurna. Karena itu, bani Israel harus melanjutkan perjalanan dari padang gurun menuju tanah permai.
Seandainya waktu itu saya berada di antara bani Israel dalam Keluaran 40, saya akan merasa sangat puas dengan bangunan Kemah Pertemuan. Tetapi, sasaran Allah yang terakhir masih jauh, masih ada tiga per empat bagian perjalanan lagi. Karena alasan inilah bani Israel harus melanjutkan perjalanannya menuju pos ketiga, masuk ke tanah permai.
A. MELALUI TABUT DAN KEMAH PERTEMUAN
Kita telah melihat faktor yang membawa bani Israel ke padang gurun dan membawa mereka dari padang gurun ke gunung. Sekarang kita harus memperhatikan faktor yang membawa mereka ke tanah subur. Faktor ini ialah tabut dengan Kemah Pertemuan (Yos. 3:3, 6, 8, 13-17; 4:10-19). Ketika bani Israel masuk ke tanah permai, begitu tabut turun ke dalam Sungai Yordan, maka airnya berhenti mengalir. Sebelum itu, mereka mempunyai tabut sebagai faktor, tetapi mereka tidak mempunyai iman untuk menggunakannya. Tetapi pada tahun-tahun terakhir dari pengembaraan mereka di padang gurun, mereka mempergunakan tabut dengan cara ini. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup gereja hari ini Kristus sebagai tabut haruslah merupakan faktor masuknya kita ke dalam Kristus sebagai tanah permai.
Kristus macam apakah yang Anda nikmati? Apakah Anda menikmati Kristus sebagai Domba Paskah, sebagai roti tak beragi, sebagai manna, sebagai batu karang yang memancarkan air kehidupan, atau Anda menikmati-Nya sebagai tanah permai? Kolose 2:6 mengatakan, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” Kalau Kristus kita hanya sebagai Domba Paskah, manna, dan batu karang dengan air kehidupan, bagaimana kita dapat hidup (bertingkah laku) di dalam Dia? Kalau kita ingin hidup di dalam Kristus, kita harus mengalami-Nya sebagai tanah yang luas. Pengalaman akan Kristus pada kebanyakan orang Kristen masih pada tingkat dasar, sedikit sekali yang mengalami-Nya sebagai tanah permai.
Kita telah nampak bahwa bani Israel menikmati domba Paskah, roti tak beragi, manna, dan batu karang dengan air kehidupan. Namun, Allah tidak berjanji kepada Abraham bahwa Ia akan memberikan barang-barang semacam itu kepada keturunannya. Allah berjanji akan memberikan tanah permai kepada mereka. Menurut Galatia 3 berkat akan tanah yang dijanjikan kepada Abraham adalah Roh itu. Berkat akan tanah, Roh itu, adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses lewat inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan, menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Roh inilah berkat yang dijanjikan kepada keturunan Abraham dengan iman.
Abraham mempunyai dua macam keturunan: keturunan dalam tubuh daging dan keturunan dalam iman. Keturunan dalam tubuh daging adalah bangsa Israel, dan keturunan dalam iman adalah mereka yang percaya kepada Kristus. Bagi keturunan dalam tubuh daging, tanah permai adalah tempat yang harfiah; tetapi bagi keturunan dalam iman, tanah permai merupakan realitas rohani, Kristus sebagai Roh yang almuhit.
Saya bersyukur kepada Tuhan karena dalam gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan terdapat tabut dan Kemah Pertemuan. Tabut dan Kemah Pertemuan melambangkan Kristus dengan hidup gereja yang sementara dan bergerak. Kristus dengan hidup gereja yang sedemikian adalah faktor yang dengannya kita masuk ke dalam Kristus yang almuhit yang dilambangkan oleh tanah Kanaan.
Kitab-kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose menunjukkan kepada kita Kristus dan gereja dalam tanah permai. Dalam Kitab 1Korintus kita mempunyai gereja di atas gunung. Kitab ini membicarakan Paskah dan pembaptisan dalam Laut Merah, yang melaluinya kita dibawa ke luar dari Mesir dan masuk ke padang gurun. Juga membicarakan minum dari batu karang rohani, salah satu faktor yang membawa kita ke gunung. Ini menyatakan bahwa Kristus dan gereja yang diwahyukan dalam Kitab 1Korintus berhubungan dengan gunung yang ada di padang gurun. Banyak orang di antara kita telah melewati pos ini.
Beban saya dalam berita ini ialah menunjukkan bahwa kita tidak perlu mengembara di padang gurun dengan tabut dan Kemah Pertemuan. Banyak tahun yang lalu, beberapa orang di antara kita telah terpisah dari dunia dan masuk ke padang gurun. Kemudian kita naik ke atas gunung di mana kita melihat visi akan Allah, kehidupan umat Allah, dan visi mengenai tempat tinggal Allah. Kita juga membangun Kemah Pertemuan di kaki gunung. Jadi, kita adalah orang-orang Kristen yang mempunyai hidup gereja, setidak-tidaknya seperti yang dilambangkan oleh Kemah Pertemuan yang sementara, yaitu hidup gereja yang dapat bergerak. Namun, kita harus maju terus, menyeberangi Sungai Yordan dan masuk ke dalam tanah permai Kanaan.
B. MELALUI PENGUBURAN DALAM SUNGAI YORDAN
Umat pilihan Allah harus menyeberangi dua aliran sungai: Laut Merah, yang menanggulangi dunia, dan Sungai Yordan, yang menanggulangi ego. Kekuatan dunia yang dilambangkan oleh Firaun dan tentaranya terkubur dalam Laut Merah. Sedang dua belas batu mewakili ego usang dari bani Israel, terkubur di Sungai Yordan (Yos. 4:1-9 dan 20). Yang menghalangi kita untuk memasuki Kristus yang almuhit bukanlah dunia melainkan ego. Ego ini harus dikubur dalam Sungai Yordan. Faktor yang memungkinkan ego ini terkubur adalah tabut. Kedua belas batu itu tidaklah terkubur dalam sungai sebelum tabut masuk. Sebaliknya, tabut turun ke dalam sungai lebih dulu. Ini menunjukkan bahwa Kristus dengan hidup gereja yang bergerak adalah faktor yang dengannya kita masuk ke dalam Kristus yang almuhit. Hidup gereja yang kita miliki hari ini bukanlah Bait melainkan Kemah, hidup gereja yang masih dapat dipindah-pindahkan. Tetapi hidup gereja yang semacam ini juga adalah faktor untuk masuk ke dalam tanah permai. Saya dapat bersaksi bahwa Kristus dalam hidup gereja yang dapat bergerak sedemikian ini sangat membantu saya masuk ke dalam Kristus yang almuhit.
C. MELALUI PENYUNATAN
Setelah bani Israel masuk ke tanah permai melalui menyeberangi Sungai Yordan, mereka disunat, daging mereka dikerat (Yos. 5:2-4). Jadi, ego mereka terkubur dalam sungai dan tubuh daging mereka terkerat melalui penyunatan. Hidup gereja dengan Kristus membantu kita mengubur ego dan mengerat daging.
D. MENIKMATI KEKAYAAN TANAH PERMAI
Setelah penguburan dan penyunatan, bani Israel mulai menikmati kekayaan tanah permai (Ul. 8:7-10; Yos. 5:10-12). Waktu itu manna terhenti dan digantikan dengan hasil dari tanah itu. Melalui kenikmatan yang berlimpah atas tanah yang almuhit, umat Allah dikuatkan untuk berperang melawan musuh Allah dan mendirikan Kerajaan Allah. Dalam kerajaan itulah Bait Allah dibangun.
Perjanjian Lama mewahyukan dua tahap hidup gereja, tahap Kemah, dan tahap Bait. Hidup gereja yang kita miliki hari ini masih belum mencapai tahap Bait, masih dalam tahap Kemah. Ini dikarenakan kebanyakan orang di antara kita masih belum hidup dalam Kristus sebagai tanah permai. Kita dapat bersaksi bahwa Kristus adalah anak domba, roti tak beragi, manna, atau batu karang dengan air kehidupan bagi kita. Tetapi kita harus terus maju untuk menikmati Kristus sebagai tanah luas kita. Kita tidak saja harus memakan-Nya, juga harus hidup (bertingkah laku) di dalam-Nya.
Penghalang utama untuk memasuki Kristus yang almuhit bukanlah hal duniawi dan dosa, melainkan ego dan daging. Duniawi dan dosa telah ditanggulangi di dua pos di depan. Tetapi kita masih memerlukan penguburan untuk menanggulangi ego dan penyunatan untuk menanggulangi daging. Kalau kita dengan mutlak maju bersama Tuhan, akhirnya kita akan rela jika ego dan daging kita ditanggulangi. Bagaimanapun juga, penanggulangan ini tidaklah mudah. Terutama sangatlah sukar bagi kaum muda untuk menguburkan egonya dan mengerat dagingnya. Dalam sidang kita dapat mengumumkan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Tetapi setelah sidang, kita kembali hidup dalam ego dan daging. Kita bisa menyatakan, “Bukan lagi aku, tetapi Kristus yang hidup dalamku.” Namun, kesemuanya ini boleh jadi hanyalah pengajaran, karena dalam kehidupan kita sehari-hari penuh dengan ego. Ego dan daging menjauhkan kita dari pengalaman atas tanah permai.
Lihatlah gambaran dalam Perjanjian Lama sekali lagi, dan perhatikanlah bahwa bani Israel tidak menikmati hasil tanah Kanaan sampai egonya terkubur dan dagingnya terkerat. Tetapi begitu kedua hal ini ditanggulangi, bani Israel mulai menikmati hasil yang berlimpah dari tanah itu. Jadi, yang mereka nikmati sekarang adalah kekayaan dari tanah, bukan manna di padang gurun, yang memungkinkan mereka berperang melawan musuh di tanah permai.
E. PEPERANGAN DI ATAS TANAH
Setelah bani Israel masuk ke tanah permai, mereka harus mengalahkan orang-orang Kanaan, musuh yang menduduki tanah itu. Musuh-musuh ini melambangkan pemerintah dan penguasa di udara yang berusaha menghalangi kita dari kenikmatan akan Kristus yang almuhit. Dalam diri kita, kita dipersulit oleh ego dan daging; di atas kita di udara, kita dipersulit oleh kegelapan dari kekuasaan Iblis. Ketika kita menguburkan ego dan mengerat daging kita, kekuasaan kegelapan di udara akan tersingkapkan. Ego dan daging membantu kekuatan Iblis. Sebenarnya, ketika kita masih dalam ego dan daging, pemerintah dan penguasa di udara tidaklah perlu berbuat apa-apa untuk menghalangi kita, karena kita telah dirusak oleh ego dan daging. Tetapi begitu kita menanggulangi ego dan daging kita, kekuasaan kegelapan akan muncul dan berperang melawan kita. Saat itulah kita harus belajar mengadakan peperangan rohani. Peperangan rohani adalah peperangan di tanah permai dengan suplai dari hasil yang berlimpah dari Kristus.
Kita telah menunjukkan bahwa tanah permai kita hari ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh yang almuhit. Allah Tritunggal tidak hanya sebagai Pencipta, Penebus, Penyelamat, Tuan, dan Tuhan kita, juga Roh pemberi hayat yang almuhit. Melalui inkarnasi, hidup sebagai manusia, penyaliban, dan kebangkitan, Kristus, perwujudan Allah Tritunggal, telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat untuk tinggal di dalam umat pilihan-Nya. Jadi, hari ini Allah Tritunggal mencapai kita sebagai Roh pemberi hayat.
Roh yang ajaib ini sekarang berada dalam roh kita (Rm. 8:16). Satu Korintus 6:17 mengatakan bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Tuhan. Karena itu, dalam Perjanjian Baru kita diperintahkan untuk hidup di dalam roh (Gal. 5:16, 25; Rm. 8:4). Inilah perintah yang mutlak. Tidak hidup di dalam roh adalah dosa terbesar yang dilakukan oleh orang beriman terhadap Allah. Kalau Anda tidak hidup di dalam Kristus, walaupun boleh jadi Anda sangat baik, Anda adalah orang yang memberontak. Karena keinginan Allah adalah Kristus yang hidup melalui kita, bahkan kebaikan alamiah kita juga suatu pemberontakan terhadap Allah dan terhadap ekonomi Allah.
Kita harus mengakui dosa-dosa, kegagalan, dan kekurangan kita terhadap Allah. Tetapi pernahkah Anda me-minta Tuhan mengampuni Anda karena Anda tidak hidup berdasarkan Kristus? Tidak banyak orang Kristen yang berdoa demikian: Tuhan, ampunilah aku karena hari ini aku tidak memperhidupkan Engkau. Kelakuanku sangatlah baik, tetapi aku tidak hidup berdasarkan Engkau dan tidak menjadikan Engkau sebagai personaku. Tuhan, ampuni aku yang telah memberontak terhadap-Mu. Engkau ingin diperhidupkan melalui aku, tetapi aku malah hidup berdasarkan yang lain bukan berdasarkan Engkau. Aku hidup berdasarkan opiniku, tidak berdasarkan wahyu-Mu. Menurut wahyu ini, aku harus bertingkah laku di dalam-Mu. Tetapi sepanjang hari, Tuhan, aku sama sekali tidak bertingkah laku di dalam-Mu.” Saya dapat bersaksi bahwa khususnya akhirakhir ini, hampir setiap hari saya melakukan pengakuan dosa semacam ini kepada Tuhan.
Sangatlah mudah kita memperhatikan barang-barang lain, selain Kristus sendiri. Kita dapat terpusat kepada agama, etika, moral, atau kebaikan, tetapi kita tidak memperhatikan Kristus. Kalau kelakuan kita jelek, kita menyesal dan bertobat. Tetapi kalau kita jarang hidup berdasarkan Kristus, kita tidak merasa apa-apa dan tidak merasa perlu bertobat. Menurut Yohanes 16, satu-satunya dosa bagi orang kafir ialah tidak percaya Kristus. Tetapi dosa utama dari orang beriman adalah tidak bertingkah laku di dalam Kristus. Perjanjian Baru tidak memerintahkan kita untuk hidup menurut suatu pengajaran atau doktrin tertentu. Tetapi mengharuskan kita untuk hidup di dalam Kristus atau di dalam roh. Dalam Galatia 5:25 Paulus berkata: “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Dalam Roma 8:4 Paulus berkata bahwa tuntutan kebenaran dari hukum Taurat digenapi oleh mereka yang hidup menurut roh. Roh dalam Roma 8:4 ini adalah roh perbauran, Roh almuhit yang berbaur dengan roh kita.
Janganlah beranggapan bahwa tanah Kanaan terletak sangat jauh, dan Anda harus mengembara beberapa tahun sebelum Anda dapat memasukinya. Sebaliknya, tanah permai terletak di dalam kita, karena Ia adalah Allah yang telah melalui proses, menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit yang berhuni di dalam roh kita. Seperti Kaleb dalam Bilangan 13:30, kita harus percaya dan mengumumkan bahwa melalui Kristus dan hidup gereja, kita cukup layak untuk memiliki tanah permai ini.
Ingatlah bahwa tabut dan Kemah Pertemuan adalah faktor yang dengannya kita dapat masuk ke dalam tanah permai. Puji Tuhan bahwa kita telah menikmati domba Paskah, air manis, manna, dan air kehidupan dari batu karang yang terbelah. Kita juga memuji-Nya bahwa di atas gunung kita melihat visi tentang Allah dan ekonomi-Nya dan bahwa kita telah membangun Kemah Pertemuan, hidup gereja yang sementara. Jadi, kita semua mempunyai tabut dengan Kemah Pertemuan, Kristus dengan hidup gereja yang bergerak, sebagai faktor yang dengannya kita masuk ke dalam tanah itu. Karena faktor inilah, kita mempunyai keberanian untuk masuk ke dalam roh kita untuk menikmati Roh almuhit sebagai tanah permai.
Marilah kita melupakan agama, filsafat, etika, bahkan kedambaan rohani, dan marilah kita memperhatikan Kristus dan mempunyai kontak langsung dengan Dia dalam roh kita. Kita harus belajar untuk tidak berbuat apa-apa atau berkata apa-apa di luar Kristus. Dalam Yohanes 15:4 Tuhan berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Dalam ayat selanjutnya Ia berkata, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Kita perlu membiarkan hidup dan keberadaan kita dalam Kristus sebagai tanah permai. Ia adalah pusat juga kelilingnya, sentralitas dan universalitas. Sebagai tanah permai, Ia adalah segala-gala kita. Sasaran akhir kita haruslah melewati padang gurun dan gunung dan masuk ke dalam tanah permai. Marilah kita masuk ke dalam tanah ini dan memiliki Kristus yang almuhit dan menikmati kekayaan-Nya yang tak terduga, agar Kerajaan Allah dapat didirikan dan Bait Allah dapat dibangun.