← Daftar isi Keluaran (1) · bab 13/15

PERMINTAAN ALLAH DAN PENOLAKAN FIRAUN

Melalui berita ini kita akan mulai melihat masalah permintaan Allah dan penolakan Firaun. Permintaan Allah dan penolakan Firaun ditulis dalam sejumlah pertentangan yang tercantum dalam Keluaran 5-4. Dalam berita ini kita membahas perkara pertama dari pertentangan tersebut.

I. PERTENTANGAN PERTAMA

A. PERMINTAAN TUHAN, ALLAH ISRAEL,

ALLAH ORANG IBRANI, ATAS FIRAUN

Keluaran 5:1 mengatakan, “Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun’”. Dalam ayat ini kita memiliki sebutan yang penting akan Allah: TUHAN, Allah Israel. Dalam ayat 3 Allah disebut sebagai Allah orang Ibrani (penyeberang sungai). Jadi, permintaan kepada Firaun diajukan oleh TUHAN, Allah Israel, Allah orang Ibrani.

Saya telah menunjukkan bahwa dalam bahasa Ibrani gelar TUHAN berbentuk kata kerja “adalah”. Ini menunjukkan bahwa TUHAN adalah satu persona hidup yang unik. Ia ada (adalah) di waktu lampau, sekarang, dan yang akan datang. Hanya kepada-Nyalah kata “adalah” dapat digunakan dalam bentuk yang mutlak. Hanya Allahlah yang adalah, kita dan semua barang lainnya tidak. Dalam 6:2 Allah berkata, “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku, TUHAN (Yehova), Aku belum menyatakan diri.” Allah mewahyukan diri-Nya sebagai Yehova untuk kali pertama dalam Keluaran 3. Abraham, Ishak, dan Yakub tidak menerima wahyu ini dari Dia.

Dalam Keluaran 5:1 Allah juga disebut Allah Israel. Sebutan ini berbeda dengan sebutan Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, sebuah sebutan yang menunjukkan Allah sebagai Allah kebangkitan. Gelar Allah Israel menyatakan bahwa Allah adalah Allah dari sekelompok orang yang diubah. Yakub adalah nama dari manusia alamiah tetapi Israel adalah nama dari manusia yang terubah. Ia disebut Yakub, yang berarti pemegang, perebut. Tetapi melalui perjalanan hidupnya, Yakub diubah, dan akhirnya Allah mengubah namanya menjadi Israel. Nama ini menyatakan kemenangan dan jabatan raja. Di satu pihak, orang yang diubah adalah pemenang; di pihak lain, mereka adalah raja-raja. Sekalipun bani Israel berada dalam situasi yang menakutkan di Mesir, Allah tetap memandang mereka tidak sebagai Yakub, melainkan sebagai Israel. Dalam pandangan Allah, umat pilihan-Nya telah diubah menjadi pemenang-pemenang dan raja-raja.

Dengan prinsip yang sama pula Allah memandang gereja hari ini. Dalam pandangan Allah gereja sudah mulia. Tetapi, kalau kita memandang keadaan rohani kita, kita akan merasa bahwa kita sangat kasihan. Kita melihat diri kita sebagai Yakub, tidak sebagai Israel. Tetapi dalam pandangan Allah kita adalah Israel. Dalam menanggulangi Iblis penindas dan penjajah , Allah memberi tahu mereka bahwa Ia adalah Allah dari orang-orang yang diubah, pemenang, dan raja.

Kita semua perlu nampak dan percaya bahwa kita adalah Israel. Anda boleh saja tidak mempercayainya hari ini, tetapi Anda pasti mempercayainya kelak, mungkin tahun depan atau dalam kekekalan. Dalam kekekalan, seluruh umat pilihan Allah akan menjadi Israel. Janganlah berpandangan sempit, terbatas oleh penglihatan Anda terhadap keadaan Anda hari ini. Allah tidak memandang Anda sebagai orang yang masih dalam perbudakan Firaun, Ia memandang Anda sebagai orang yang telah dibebaskan dan dibawa masuk ke dalam Kristus yang almuhit yang dilambangkan dengan tanah permai.

Beranikah Anda percaya bahwa Anda adalah seorang Israel, pemenang, dan raja yang sedemikian? Kita semua harus cukup berani percaya dan menyatakan hal ini. Jangan berpegang pada perasaan Anda, tetapi percayalah kepada firman Allah. Kalau Allah berkata bahwa Anda adalah seorang Israel, Anda adalah seorang Israel, entah Anda merasakan ini atau tidak.

Ya, dalam Keluaran 5, bani Israel memang masih di bawah perbudakan di Mesir. Bagaimanapun juga Allah tahu bahwa mereka akan segera dibebaskan dari perbudakan dan dibawa ke padang gurun, ke gunung, dan akhirnya ke tanah Kanaan. Di tanah permai mereka menjadi Israel, dan Allah menjadi Allah mereka. Karena itu, ketika Allah datang kepada Firaun untuk berbicara kepadanya, Ia tidak merasa kecewa dengan keadaan umat-Nya. Dia tidak menyuruh Musa dan Harun memberi tahu Firaun bahwa Ia adalah Allah Yakub. Sebaliknya, Dia membuat Firaun tahu bahwa Ia adalah TUHAN, Allah Israel. Seolah-olah Tuhan berkata, “Firaun, engkau harus mengenal bahwa Aku adalah ‘yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang’. Engkau tidak dapat mengubah-Ku. Selain itu, dalam pandangan-Ku, umat-Ku telah diubah menjadi Israel. Mereka juga kaum Ibrani, kaum penyeberang-penyeberang sungai. Karena mereka adalah kaum Ibrani, jangan mencoba menahan mereka di seberang Laut Merah sini. Aku adalah TUHAN, dan apa saja yang Kukatakan harus terlaksana. Aku mengatakan bahwa umat-Ku adalah kaum Ibrani, maka mereka adalah kaum Ibrani. Engkau tidak dapat menahan mereka di Mesir. Engkau harus membiarkan mereka pergi.”

Gelar Allah yang tercantum dalam pasal 5 sangatlah penting. Dalam hubungan diplomatik antar bangsa-bangsa di dunia, gelar sangatlah berarti. Jika seorang wakil dari suatu negara ingin mengadakan perjanjian dengan peme-rintah Amerika Serikat, dia harus mempunyai gelar yang tepat. Seandainya ia adalah seorang konsulat atau seorang duta, kedudukannya tidak dapat lebih tinggi daripada itu. Ia perlu bertahan pada sebutan sebagai duta, barulah ia dapat melaksanakan perjanjian diplomatik. Dengan prinsip yang sama, ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Firaun, Ia menyatakan diri-Nya dengan gelar yang tepat: TUHAN (Yehova), Allah Israel, Allah kaum penyeberang sungai. Ia membuat Firaun tahu bahwa Ia adalah “Aku adalah” yang agung. Sebagai “Aku adalah”, Ia adalah segala sesuatu dan Firaun bukanlah apa-apa. Selain itu Ia mewahyukan diri-Nya sebagai Allah Israel, Allah dari orang-orang yang diubah yang menjadi pemenang-pemenang dan raja-raja. Sebagai persona yang mempunyai gelar yang sedemikian ajaib, Allah mengajukan permintaan-Nya kepada Firaun.

1. Membiarkan Umat-Nya Pergi,

Mengadakan Perayaan bagi-Nya di Padang Gurun

Permintaan Allah terhadap Firaun terlihat dalam 5:1. Berbicara atas nama Yehova, Musa dan Harun berkata kepada Firaun, “Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.” Perayaan bertolak belakang dengan perbudakan, kerja paksa yang kejam. Yehova memberi tahu Firaun untuk membebaskan umat-Nya dari perbudakan sehingga mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Nya. Kata-kata “bagi-Ku” dalam ayat ini menunjukkan bahwa ketika umat Allah mengadakan perayaan, Ia bahagia. Perayaan mereka adalah bagi-Nya. Seolah-olah TUHAN memberi tahu Firaun, “Aku tidak senang melihat umat-Ku di bawah perbudakan Mesir. Biarkanlah mereka pergi agar mereka dapat mengadakan perayaan untuk menyenangkan Aku. Aku senang melihat umat-Ku mengadakan perayaan dan bergembira. Aku gembira ketika mereka tidak berbuat sesuatu selain makan dan bergembira. Itulah perayaan bagi-Ku.”

Perayaan bagi Tuhan ini adalah penyembahan yang bersifat penyaluran, yaitu menyembah Allah menurut apa yang telah disalurkan kepada kita. Sewaktu kita makan, minum, memuji, menyanyi, dan bersukacita di hadirat Allah, kita mengadakan perayaan bagi-Nya. Kita akan melihat bahwa perayaan semacam ini juga merupakan kurban persembahan bagi Tuhan. Mempersembahkan kurban adalah menyembah Allah. Penyembahan yang bersifat penyaluran adalah penyembahan di mana Allah disalurkan ke dalam kita sebagai kenikmatan kita sehingga kita dapat mengadakan perayaan di hadapan-Nya dan bagi-Nya. Inilah penyembahan yang diinginkan Allah. Hal ini tidak hanya diwahyukan dalam Perjanjian Baru, tetapi juga disiratkan dalam Perjanjian Lama.

Kita boleh memandang perayaan di sini sebagai sebuah festival, hari libur, atau hari kudus, waktu bagi umat Allah untuk beristirahat dengan Allah dan menikmati apa adanya Allah dengan Allah. Tiga kali setahun Allah menetapkan waktu khusus untuk mengadakan perayaan bagi bangsa Israel. Ketiga hari raya utama itu adalah hari raya Paskah, termasuk hari raya Roti Tak Beragi; hari raya Pentakosta (akhir pekan); dan hari raya Pondok Daun. Pada waktu-waktu itu umat Israel tidak diperkenankan melakukan pekerjaan apa pun; orang yang bekerja pada hari-hari raya itu akan dibinasakan dari tengah-tengah umat Allah (Im. 23:30). Perayaan ini menyenangkan Tuhan karena ini adalah penyembahan kepada-Nya. Menurut konsepsi manusia, orang harus terus bekerja; tetapi menurut konsepsi ilahi, umat Allah harus mengesampingkan pekerjaan mereka pada waktu-waktu perayaan untuk beristirahat dari kesibukan mereka dan berpesta dengan Allah dalam penyembahan kepada-Nya.

Mengadakan perayaan bagi Tuhan adalah menyembah Dia. Menurut konsep alamiah, menyembah adalah membungkuk, berlutut, bersujud di hadapan Allah. Tetapi menurut Allah, penyembahan yang sejati ialah kenikmatan kita akan Allah sebagai bagian kita dan kemudian kita beristirahat dengan apa yang kita nikmati dari Dia. Seperti yang diungkapkan dalam Yohanes 4, penyembahan yang dikehendaki Bapa adalah minum air hayat. Semakin kita minum Anak-Nya sebagai Roh, semakin banyak penyembahan yang Bapa terima. Penyembahan yang sejati adalah meminum suplai Allah, yaitu Allah sendiri yang disediakan bagi kenikmatan kita.

Perayaan yang dibicarakan dalam 5:1 diadakan di padang gurun. Padang gurun di sini mempunyai arti yang positif. Inilah tempat pertama yang Allah kehendaki untuk dicapai umat-Nya. Pada hari saya beroleh selamat, saya segera dibawa Tuhan ke padang gurun. Padang gurun berlawanan dengan Mesir. Mesir penuh dengan kebudayaan dunia, kota harta benda. Allah ingin menyelamatkan umat-Nya dari kota perbendaharaan dan dari kebudayaan manusia, kemudian membawa mereka ke dalam tempat yang terpisah, di padang gurun. Sebelum kita beroleh selamat, kita berada di salah satu kota yang terletak di tepi Sungai Nil. Tetapi, dalam keselamatan Tuhan, kita telah dibawa keluar dari kota yang sedemikian ke padang gurun, di mana tidak ada kebudayaan manusia dan tidak ada bangunan duniawi.

2. Membiarkan Mereka Pergi

ke Padang Gurun Tiga Hari Perjalanan Jauhnya

Dalam ayat 3, Musa dan Harun memberi tahu Firaun, “izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya.” Ini menunjukkan bahwa ayat ini membicarakan tiga hari, bukan dua, empat, atau angka lainnya. Dalam Alkitab, angka 3 khususnya tiga hari, melambangkan kebangkitan. Tuhan Yesus bangkit pada hari ketiga. Setelah tiga hari berjalan bani Israel menyeberangi Laut Merah, di mana pasukan Mesir terkubur. Setelah menyeberangi laut, umat Allah berada dalam kebangkitan. Mereka telah melewati kematian pada malam Paskah, dan dikubur dalam Laut Merah. Karena itu, setelah menempuh perjalanan tiga hari lamanya, umat Allah yang dipilih dan beroleh selamat berada dalam kebangkitan.

Ada orang mungkin merasa heran bagaimana bani Israel dapat dikubur di Laut Merah juga di Sungai Yordan. Ini tidak sukar untuk dimengerti kalau kita memandangnya dalam terang akan pengalaman kekristenan kita. Pada hari kita beroleh selamat, kita diselamatkan ke dalam kematian Kristus. Sejak saat itu, kita menerima khasiat kematian Kristus. Ini berarti dalam pengalaman kita, kita disalibkan dan dikuburkan sekali demi sekali. Saya tidak dapat memberi tahu Anda berapa kali saya telah mengalami penyaliban dan penguburan ini. Ini menunjukkan bahwa pengalaman awal, dasar, kristiani kita pada hakikatnya sama dengan pengalaman lebih maju selanjutnya. Apa pun yang kita alami dalam kematangan hayat rohani kita akan sama prinsipnya dengan pengalaman kita pada hari-hari permulaan beroleh selamat. Ketika kita beroleh selamat, kita diletakkan dalam kematian Kristus, kita dikubur, dan dibangkitkan. Kita tidak dapat tamat dalam pengalaman akan kematian, penguburan, dan kebangkitan ini. Saya mengalami semuanya ini pada saat saya beroleh selamat, walaupun saat itu saya tidak tahu hal itu. Setelah saya keluar dari sidang Injil di mana saya beroleh selamat, ketika saya berjalan, saya merasa bahwa saya berjalan di padang gurun. Berada di padang gurun adalah berada di sisi lain dari Laut Merah, dalam kebangkitan. Dalam posisi yang demikian Anda adalah orang Ibrani, penyeberang sungai yang telah dibangkitkan dan diubah. Inilah pengalaman yang normal, telah menempuh perjalanan tiga hari jauhnya ke padang gurun dan mengalami kematian, penguburan, dan kebangkitan.

3. Mempersembahkan Kurban kepada TUHAN, Allah Mereka

TUHAN juga ingin agar Firaun mengizinkan bani Israel mempersembahkan kurban kepada TUHAN, Allah mereka (ayat 3). Mempersembahkan adalah sebuah kata yang setara dengan mengadakan perayaan. Bagi bani Israel, perayaan itu adalah suatu pesta, tetapi bagi Allah itu adalah suatu persembahan. Tanpa persembahan, tidak ada sesuatu pun bisa dimakan. Apa yang dimakan oleh bani Israel adalah kurban yang mereka persembahkan kepada Allah. Hari raya Paskah menggambarkan hal ini. Domba yang dipersembahkan kepada Allah adalah makanan bagi bani Israel. Ini mewahyukan bahwa perayaan dan persembahan adalah dua aspek dari satu hal. Apa saja yang kita persembahkan kepada Allah dengan sendirinya menjadi makanan kita. Ini juga penyembahan yang bersifat penyaluran. Penyembahan macam ini tidak menuntut kita untuk membungkuk bertiarap di hadapan Allah. Allah tidak mengatakan, “Biarkanlah umat-Ku pergi ke padang gurun sehingga mereka dapat membungkuk bertiarap di hadapan-Ku.” Allah tidak menginginkan umat-Nya berbuat demikian. Ia ingin mereka mempersembahkan kurban kepada-Nya dan mengadakan perayaan bagi-Nya.

Dalam permintaan Allah terhadap Firaun kita melihat sebuah penyelamatan yang sempurna dan lengkap bagi umat-Nya. Penyelamatan ini termasuk Allah menyelamatkan umat-Nya dari tangan perampas Iblis, dan membawa mereka masuk ke padang gurun dalam kebangkitan sehingga mereka dapat mengadakan perayaan bagi-Nya dan mempersembahkan kurban bagi-Nya. Sungguh suatu penyelamatan yang ajaib!

B. FIRAUN LAMBANG IBLIS PENJAJAH DAN EGO KITA YANG DIJAJAH DAN DIKUASAI OLEH IBLIS

Sekarang kita sampai pada penolakan Firaun (5:2, 4-9). Firaun melambangkan Iblis penjajah dan ego kita yang dijajah dan dikuasai oleh Iblis. Karena ego adalah Firaun dalam aspek riilnya, maka kita boleh jadi adalah Firaun baik bagi diri kita sendiri atau bagi orang lain. Seorang suami atau seorang istri boleh jadi saling menjadi Firaun; orang tua pun boleh jadi Firaun terhadap anak-anaknya.

Firaun adalah orang yang menghalangi umat Allah untuk mengadakan perayaan bagi Tuhan. Sebagai contoh, misalnya ada lima orang bersaudara yang tinggal bersama dalam sebuah rumah. Tiga di antara mereka mungkin berharap menghadiri sidang gereja sebagaimana biasanya, tetapi lainnya menghalangi mereka dan menganjuri mereka untuk diam di rumah. Dalam hal ini dua orang saudara itu menjadi Firaun. Kapan saja kita menghalangi orang mengadakan perayaan bagi Allah atau mempersembahkan kurban kepada-Nya, kita adalah Firaun. Orang tua, misalnya, mungkin sangat menekankan pendidikan anak-anaknya dan mereka melarang anak-anaknya menghadiri sidang gereja dan mengharuskan mereka tekun dalam sejumlah waktu belajar yang tidak wajar. Orang tua yang bertindak demikian adalah Firaun terhadap anak-anaknya.

Adakalanya kita terlalu menyalahkan Iblis. Ya, Iblis penjajah itu adalah Firaun yang obyektif. Tetapi kita pun adalah Firaun yang subyektif. Kita dapat menjadi Firaun bagi diri kita sendiri, dengan tidak mengizinkan diri kita ke padang gurun untuk mengadakan perayaan bagi Tuhan. Kalau Anda meneliti pengalaman Anda, Anda akan nampak bahwa sering kali Anda menghalangi diri sendiri mengadakan perayaan bagi Tuhan. Anda telah menjauhkan diri dari sidang-sidang gereja, mungkin dengan kelelahan sebagai alasan untuk tidak menghadiri perayaan gereja. Walaupun Anda dapat mengatakan terlalu lelah untuk mengikuti sidang-sidang, tetapi Anda dapat dengan penuh energi berbicara melalui telepon. Jangan mengira hari ini hanya Iblis yang dilambangkan oleh Firaun. Setiap orang dapat menjadi Firaun. Kapan saja ego dijajah dan dikuasai oleh Iblis, ego menjadi Firaun yang subyektif.

1. Menyangkal TUHAN Allah, Mengabaikan Permintaan-Nya,

dan Tidak Membiarkan Israel Pergi

Ayat 2 mencatat penolakan Firaun secara rinci: “Tetapi Firaun berkata: ‘Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.’” Di sini kita nampak Firaun menyangkal TUHAN Allah, mengabaikan permintaan-Nya, dan menolak membiarkan Israel pergi. Bahkan Firaun tidak mengakui TUHAN. Sungguh-sungguh merupakan penyangkalan terhadap keberadaan TUHAN. Sering kali ketika kita menghalangi orang lain mengadakan perayaan bagi Tuhan, kita menyangkal Tuhan dan mengabaikan permintaan-Nya. Sama halnya ketika kita menghalangi diri sendiri mempersembahkan kurban bagi Tuhan. Secara riil, ini berarti jika kita menahan diri dari sidang-sidang gereja, kita seperti Firaun yang menyangkal Tuhan.

Bagi kita orang Kristen, bersidang (berhimpun bersama) adalah perkara yang sangat berarti. Kapan saja kita berhimpun bersama menurut ketetapan Allah, kita mengadakan perayaan bagi Tuhan dan kita mempersembahkan kurban bagi Allah kita. Seandainya kita orang-orang Kristen tidak mempunyai perhimpunan yang tepat, apakah yang dapat dikerjakan Tuhan di bumi? Tuhan tidak dapat berbuat apa-apa dan Ia tidak akan mendapatkan penyembahan yang sejati. Melalui ini kita nampak bahwa perhimpunan bersama yang tepat dari orang-orang Kristen sangatlah penting.

Beberapa orang Israel mungkin mengira, asalkan mereka terlepas dari tangan Firaun dan diselamatkan dari Mesir, segalanya akan beres. Tetapi itu tidak benar. Umat pilihan Allah tidak hanya keluar dari Mesir, mereka juga mengadakan perayaan bagi Allah di padang gurun dan mempersembahkan kurban bagi-Nya. Dari sifatnya, sebuah perayaan adalah perkara korporat. Tidak ada seorang pun dapat mengadakan perayaan seorang diri. Untuk mengadakan perayaan, kita harus bergabung bersama orang lain. Makin banyak orangnya makin baik. Misalnya suatu makan malam terdiri atas beberapa macam hidangan, disiapkan dan diletakkan di atas meja makan di rumah Anda dan Anda duduk seorang diri untuk makan. Sebuah perayaan apakah itu? Pasti bukan! Supaya ini menjadi sebuah perayaan, Anda harus mengundang sejumlah orang untuk makan bersama Anda. Kalau Anda hanya mempunyai beberapa orang untuk makan bersama Anda, itu masih bukan merupakan sebuah perayaan. Anda memerlukan sejumlah besar peserta. Dalam prinsip yang sama, tidak seorang Kristen pun dapat mengadakan perayaan bagi Tuhan secara perorangan atau dengan sedikit orang beriman lainnya. Ia harus menghadiri perhimpunan yang tepat dari orang-orang Kristen.

Kehilangan sekali sidang gereja merupakan kehilangan sebuah perayaan akan kenikmatan. Kehilangan yang kita derita dalam hal ini tidaklah seserius seperti yang diderita Tuhan. Kalau kita tidak menghadiri perayaan, Allah tidak mempunyai perayaan dan tidak mendapatkan persembahan kurban. Semoga kita sungguh-sungguh terkesan akan pentingnya hal ini.

2. Memperberat Pekerjaan Mereka dengan Kekerasan

a. Tidak Lagi Memberikan Jerami

Dalam ayat 7 Firaun memerintahkan kepada pengerah-pengerah bangsa itu dan mandur-mandur itu, “Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami.” Bukannya membiarkan umat Israel pergi, Firaun malah memperberat pekerjaan mereka dengan kekerasan. Bahkan dia memerintahkan supaya mereka tidak lagi diberi jerami. Ini sama dengan pengalaman kita. Sewaktu Allah hendak menyelamatkan seseorang dari dunia masa kini, Iblis menyingkirkan “jerami” orang itu, yakni dia menghentikan suplai dunia kepadanya. Ini memaksa orang bekerja lebih keras untuk beroleh nafkah.

b. Menuntut dari Mereka Jumlah Batu Bata yang Sama

Dalam ayat 8 Firaun berkata, “Tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya.” Di sini kita nampak bahwa meskipun Firaun menghentikan suplai jerami, dia tetap menuntut jumlah batu bata yang sama. Ini menyatakan bahwa pekerjaan sehari-hari (nafkah) umat Allah akan lebih sulit lagi. Banyak orang Kristen yang sudah mengalami hal yang serupa ini. Setelah mereka dipanggil oleh Allah, mereka lebih sulit mencari nafkah daripada sebelum dipanggil oleh Allah. Ini tak lain karena mereka telah dijamah oleh Kristus, Iblis mengambil “jerami” mereka tanpa mengurangi permintaannya, sehingga mereka semakin sulit mencari nafkah.

c. Menuduh Mereka Bermalas-malasan

Selanjutnya Firaun berkata tentang bani Israel, “Karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan kurban kepada Allah kami” (ayat 8). Menurut Firaun, karena malaslah bani Israel hendak pergi ke padang gurun untuk mempersembahkan kurban kepada Allah mereka. Dalam pandangan Firaun masa kini, khususnya di mata penentang-penentang dan orang kafir, kita yang dalam pemulihan Tuhan adalah orang-orang malas. Mereka menuduh kita malas dengan sering bersidang, mengikuti sidang-sidang gereja atau sidang ministri firman. Mereka menghakimi kita dengan mengatakan bahwa kita tidak mau bekerja, belajar, atau memperhatikan rumah dan keluarga kita. Menurut pengertian mereka, kita memakai sidang-sidang sebagai alasan kemalasan kita.

d. Membuat Mereka Tidak Mempedulikan “Perkataan Dusta”

Dalam ayat 9 Firaun berkata, “Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta.” Firaun tidak menghendaki umat Allah mempedulikan apa yang dianggapnya “perkataan dusta”. “Perkataan dusta” ini, sebenarnya adalah firman Allah. Hari ini juga demikian. Firaun masa kini menganggap firman Allah sebagai “perkataan dusta” dan tidak lebih dari itu. Sejauh yang mereka tahu, kita yang mendengarkan firman Allah seperti biasa dalam sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri firman adalah mendengarkan perkataan dusta.

Apa yang kita lakukan dalam hidup gereja boleh saja mereka (orang dunia) anggap sebagai suatu kemalasan, tetapi apa yang mereka lakukan adalah kesia-siaan dalam pandangan Allah. Mesir penuh dengan kesibukan. Siapa pun yang masih di bawah perbudakan di Mesir sangatlah sibuk. Tetapi begitu seseorang diselamatkan dari dunia atau Mesir dan dibawa ke padang gurun, dia menjadi pemalas. Mana yang menurut Anda lebih baik, kesibukan atau kemalasan? Saya lebih suka kemalasan semacam ini. Meskipun saya bukanlah orang yang malas, saya hendak menjadi apa yang dianggap Firaun sebagai pemalas. Contohnya, saya suka membersihkan rumah atau membereskan kebun. Tetapi setelah bekerja sejangka waktu secara demikian, saya harus berkata, “Iblis, cukuplah ini. Aku tidak akan mengerjakan lebih banyak lagi. Sebaliknya, aku akan malas di hadapan Tuhan.” Betapa baiknya menjadi malas secara ini!

Adakalanya kita semua harus mengatakan, “Iblis cukuplah itu. Kini waktunya bagiku untuk malas.” Menjadi malas seperti ini berarti mengadakan perayaan bagi Tuhan dan mempersembahkan kurban bagi-Nya. Di mata orang dunia, hidup gereja adalah kehidupan yang malas. Sebenarnya kita tidak malas atau sibuk kita mengadakan perayaan, mempersembahkan kurban. Di hadapan Tuhan inilah kehidupan manusia yang tepat.

Penyelamatan Allah menyelamatkan kita dari kesibukan dan membawa kita kepada kemalasan. Hari ini manusia sangat sibuk memperhatikan urusan-urusan kehidupan hari ini. Beberapa di antaranya begitu sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengadakan perayaan bagi Tuhan. Kita perlu dibebaskan dari kesibukan ini agar mempunyai lebih banyak waktu untuk malas. Orang yang malas harus dilatih menjadi sibuk. Namun demikian, beberapa orang yang terlalu sibuk harus dilatih untuk menjadi malas, dengan menggunakan sejangka waktu untuk berkumpul bersama kaum beriman dalam sidang gereja. Kehidupan orang Kristen bukanlah kesibukan duniawi, melainkan kehidupan kemalasan yang normal. Kita jangan sampai sedemikian sibuk dengan urusan-urusan kehidupan hari ini sampai-sampai mengabaikan firman Allah. Betapa perlunya kita menikmati kemalasan dan mempedulikan “perkataan dusta” Allah dalam sidang-sidang gereja!

Terhadap kita yang hidup bagi Kristus, kita perlu eksis. Tanpa adanya manusia kita ini, kita tidak dapat memperhidupkan Kristus. Tetapi hari ini mereka yang ada di dalam dunia yang jatuh ini hanya memperhatikan eksistensi mereka; tidak memperhatikan tujuan eksistensi itu. Eksistensi manusia kita adalah satu hal, tetapi eksistensi kita untuk kehendak Allah adalah hal yang lain. Tujuan Allah bagi eksistensi kita adalah untuk memperhidupkan Kristus, memperhidupkan Allah, dan mempunyai kesaksian Allah. Tetapi manusia dunia ini hanya mempunyai eksistensi, tanpa mempunyai tujuan. Akhirnya mereka menjadikan eksistensi mereka sebagai tujuan eksistensi. Mereka tidak tahu apa-apa selain eksistensi mereka. Iblis memegang eksistensi hidup manusia atau kehidupan manusia dan mempergunakannya untuk menguasai manusia, sehingga dewasa ini seluruh dunia hanya memperhatikan eksistensi, tidak memperhatikan kehendak Allah atas eksistensi itu.

Semua benda yang diperlukan untuk eksistensi manusia kita perlu berada dibawah pembatasan ilahi. Apa pun yang melampaui keperluan kita menjadi duniawi, “milik Mesir”, menjadi barang milik Firaun, dan menghalangi kita dari ekonomi kehendak Allah. Dalam segala hal, ekonomi Allah haruslah menjadi faktor penentu. Kehidupan kita tidak seharusnya seperti “orang Mesir”, tidak seharusnya seperti orang dunia. Kita perlu sebuah tempat tinggal, juga perlu menjaga kebersihan rumah kita. Tetapi kalau kita meneruskan pembersihan pada waktu kita harus bersidang, pembersihan kita menjadi “Mesir”, suatu hal yang terpisah dari ekonomi Allah. Kita di bumi bukanlah untuk pembersihan, tetapi untuk mengadakan perayaan bagi Tuhan. Bahkan berapa banyak waktu yang harus kita pergunakan untuk anak-anak kita haruslah ditentukan oleh ekonomi Allah. Orang Kristen lainnya boleh berbuat seperti orang-orang dunia, tetapi kita haruslah menjadi orang yang kudus, orang yang terpisah.

Kehidupan dan eksistensi kita tergantung pada suplai dari sumber surgawi, bukan dari suplai dunia. Untuk ini kita perlu visi, dan kita perlu melatih iman kita. Musa adalah seorang yang sangat beriman untuk memimpin dua juta orang keluar dari Mesir pergi ke padang gurun, di mana tidak ada suplai bumiah untuk eksistensi mereka.

C. AKIBAT PERTENTANGAN

1. Orang Israel Makin Menderita Sengsara

Sekarang sampailah kita pada akibat pertentangan oleh permintaan Allah dan penolakan Firaun. Aspek pertama dari akibat itu ialah orang Israel makin menderita sengsara (5:10-21). Makin besar pertentangannya, makin menderitalah umat pilihan Allah. Inilah strategi musuh. Janganlah mengira bahwa bertambahnya penderitaan adalah tanda yang negatif. Sesungguhnya itu adalah tanda yang positif, karena itu menunjukkan bahwa “pembicaraan” Allah dengan musuh-Nya sedang terjadi dan kita terpengaruh olehnya. Penderitaan kita adalah tanda bahwa Allah sedang memproses kebebasan kita.

2. Musa Merasa Disulitkan dan Putus Asa

Ayat 22 dan 23 menunjukkan bahwa Musa dalam ke-sulitan dan keputusasaan bahkan bertanya kepada Tuhan mengapa Ia mengutusnya. Selanjutnya, Musa berkata kepada-Nya, “Dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali.” Banyak orang di antara kita yang mempunyai pengalaman demikian. Semakin menyampaikan Kristus kepada orang lain, makin menderitalah mereka. Ini menyebabkan mereka kesulitan dan putus asa. Konsepsi kita ialah, jikalau kita menyampaikan dalam cara yang tepat, orang lain akan mendapat berkat. Kita mengharapkan kematian menjadi kebangkitan, penyakit disembuhkan, yang lemah dikuatkan, dan yang miskin menjadi kaya. Namun, situasinya sering berlawanan dengan yang kita harapkan.

Saya dapat bersaksi dengan tegas melalui pengalaman saya. Sering kali saya telah dikecewakan seperti Musa. Adakalanya saya datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan apakah yang telah terjadi? Engkau menyuruh aku menyampaikan hal ini kepada umat-Mu, seolah-olah Engkau akan memberkati mereka dan memeteraikan ministriku. Tetapi semakin aku menyampaikan kepada mereka, mereka semakin menderita. Tuhan salahkah aku? Aku tidak mengerti apa yang terjadi.”

3. TUHAN Allah Sekali Lagi Menegaskan Nama-Nya dan Perjanjian-Nya

Setelah Musa menyatakan kekecewaannya dan kekesalannya terhadap Allah, TUHAN Allah datang dalam penegasan nama-Nya dan Perjanjian-Nya (6:1-8). Allah berkata kepada Musa, “Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku” (Kel. 6:1-4). Apakah yang lebih berharga daripada penegasan nama Allah dan perjanjian-Nya? Dengan penegasan Allah, Musa dikuatkan dan Musa dan Harun diteguhkan untuk kembali kepada Firaun dan berbicara lagi kepada bani Israel.

Singkatnya, nama TUHAN adalah apa adanya Dia, dan perjanjian-Nya adalah firman-Nya yang diucapkan dengan janji dan dikuatkan dengan sumpah. Kata-kata yang diucapkan secara biasa bukanlah perjanjian, tetapi kata-kata yang diucapkan dengan janji dan dikuatkan dengan sumpah menjadi sebuah perjanjian (lihat Pelajaran Hayat Ibrani, BeritaKUNING ke-36). Allah berkata-kata kepada Abraham mengenai tanah permai dengan sebuah janji, janji yang diteguhkan sekali dan sekali lagi. Akhirnya, timbullah sebuah sumpah, sehingga terdapatlah suatu persetujuan, suatu kontrak yang dibuat oleh Allah, antara Allah sendiri dengan Abraham. Firman Allah yang dijanjikan menjadi sebuah perjanjian (Kej. 15), dan sunat adalah tanda dari perjanjian ini (Kej. 17).

Hari ini kita mungkin mengalami penegasan Allah akan nama-Nya dan perjanjian-Nya. Adakala setelah saya mengeluh kepada Tuhan, Ia menegaskan nama-Nya kepada saya dengan mengingatkan bahwa Ia adalah “Aku Adalah”, suatu eksistensi pribadi yang unik. Pada waktu penegasan yang sedemikian, Tuhan seolah-olah berkata, “Aku tidak pernah gagal. Aku tahu apa yang Aku katakan. Aku adalah, semua penderitaan itu bukan. Janganlah percaya kepada keadaanmu, percayalah kepada apa adanya diri-Ku.” Pada saat sedemikian, Allah juga kembali menegaskan perjanjian-Nya kepada kita.

4. Orang Israel Tidak Mendengarkan Musa

Dalam Keluaran 6:6-8 Tuhan memberi Musa perkataan yang sangat menguatkannya untuk berbicara kepada orang Israel. Dia menghendaki Musa mengatakan kepada mereka bahwa dia akan membawa mereka keluar dari perbudakan orang Mesir, menebus mereka dengan tangan yang teracung, menjadikan mereka suatu bangsa bagi-Nya, dan membawa mereka masuk ke tanah yang dijanjikan-Nya untuk diberikan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Namun demikian ayat 8 mengatakan, “Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu”. Semangat mereka telah pudar karena penderitaan mereka, sebab itu mereka tidak mau mendengarkan firman Allah melalui Musa. Dalam keputusasaan mereka, umat Allah seperti mobil tanpa bensin. Sewaktu kita putus asa, kita tidak mampu menanggung penderitaan macam apa pun. Sebab itu kita perlu berdoa agar semangat kita terjaga dan tersuplai. Kita perlu meminta Tuhan menjaga kita dari keputusasaan.

Dalam berita ini kita telah nampak pertentangan antara Allah dengan musuh-Nya, Firaun, yang melambangkan Iblis secara obyektif dan ego kita yang diduduki (dijajah) dan dikuasai oleh Iblis secara subyektif. Allah menghendaki kita menempuh perjalanan selama tiga hari ke padang gurun agar kita mengadakan perayaan bagi-Nya dan mempersembahkan kurban bagi-Nya. Tetapi Iblis dan ego kita bangkit untuk menentang Allah dan tidak membiarkan kita pergi. Namun, karena penyelamatan Tuhan yang sempurna, banyak orang di antara kita yang telah terlepas dari perbudakan di Mesir dan kini sedang berada di padang gurun menikmati perayaan dan mempersembahkan kurban kepada Allah kita.