NAMA YEHOVA ALLAH DAN PERJANJIAN-NYA
Setelah pertentangan pertama antara Allah dengan Firaun, Musa yang mewakili Allah menjadi susah dan kecil hati (5:22-23). Dalam 6:1-8 Allah memberi Musa suatu perkataan yang kuat mengenai nama-Nya dan perjanjian-Nya. Karena kita masih kurang mengalami nama Allah dan realisasi perjanjian Allah dengan sesungguhnya, maka dalam berita ini kita perlu memperhatikan hal-hal ini.
I. NAMA YEHOVA (TUHAN) ALLAH
A. NAMA-NYA MENUNJUKKAN PERSONA-NYA
Marilah kita terlebih dulu melihat nama Yehova (LAI: TUHAN) Allah. Nama-Nya menunjukkan persona-Nya. Nama ini bukanlah suatu nama yang kosong, melainkan mendefinisikan apa adanya Dia.
B. EL SHADDAI
Dalam 6:2 Allah berfirman kepada Musa, “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa (Sang serba cukup, El Shaddai); tetapi dengan nama-Ku TUHAN (Yehova), Aku belum menyatakan diri.” Selama bertahun-tahun saya merasa bingung dengan ayat ini. Saya tahu bahwa menurut ayat-ayat tertentu dalam Kitab Kejadian, Abraham, Ishak, dan Yakub benar-benar sangat hafal nama Yehova (TUHAN, Kej. 12:4; 26:25; 32:9). Bagaimanakah kita dapat menyesuaikan ayat-ayat ini dengan firman Tuhan dalam Keluaran 6:3? Jawabannya terletak pada fakta bahwa tahu suatu nama adalah satu hal, mengenal Allah berdasarkan nama itu adalah hal yang lain lagi. Sebagai contoh, orang-orang di seluruh dunia tahu nama Yesus. Tetapi, tidak semua orang yang tahu nama ini juga mengenal Tuhan kerena nama ini. Tahu nama Yesus itu satu hal, tetapi mengenal Tuhan Yesus dalam pengalaman berdasarkan nama-Nya itu hal lain lagi. Yesus berarti Yehova Juruselamat. Mungkin saja orang-orang hafal dengan nama Yesus, tetapi mereka tidak mempunyai pengalaman terhadap Yehova Juruselamat ini.
Inilah keadaan saya sebelum beroleh selamat. Saya dilahirkan dalam keluarga Kristen, dan ibu saya mengajari saya kisah tentang Yesus. Bahkan saya juga menceritakan Yesus ini kepada orang lain, dan membela agama Kristen terhadap serangan-serangan. Akan tetapi, saya sendiri tidak mempunyai pengalaman akan Yesus sebagai Yehova Juruselamat. Saya tahu nama itu, tetapi saya masih belum mengenal Tuhan berdasarkan nama itu. Dalam prinsip yang sama, Abraham, Ishak, dan Yakub tahu nama Yehova, tetapi mereka tidak mengenal nama Allah berdasarkan nama ini.
Namun, mereka benar-benar tahu bahwa Yehova adalah Allah yang serba cukup, yaitu El Shaddai. “El” berarti Yang berkuasa, dan “Shaddai” meliputi makna buah dada atau ambing. Karena itu, nama ilahi ini menunjukkan bahwa Allah berkuasa dan serba cukup. Sebagai persona yang demikian, Dia adalah Allah penyuplai (Kej. 17:1; 28:3) dan Allah pemberi janji (Kej. 35:11).
C. YEHOVA (TUHAN)
Sebagaimana El Shaddai adalah nama Allah untuk menyuplai dan memberi janji, maka Yehova adalah nama-Nya bagi eksistensi dan penggenapan janji. Sebagai Yehova, Allah adalah Allah yang kekal ada (Kel. 3:14; Yoh. 8:24, 28, 58), dan Allah yang menggenapi janji (Kel. 6:5-7). Abraham, Ishak, dan Yakub mati tanpa menikmati kegenapan janji (Ibr. 11:13). Dalam pengalaman mereka, Allah adalah Sang serba cukup, tetapi bukan Yehova. Bagi mereka, Ia adalah Allah pemberi janji, bukan Allah yang menggenapi janji. Ketika Allah berbicara dengan Musa dalam Keluaran 6:1-8, Dia tidak berbicara sebagai El Shaddai, Allah yang berjanji, tetapi sebagai Yehova, Allah yang menggenapi janji. Di sini Allah tidak menjanjikan tanah permai kepada Musa, melainkan Ia datang untuk menggenapi janji yang dibuat-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika Allah membuat suatu janji dengan Abraham dalam Kejadian 15, Ia menyatakan dalam ayat 13 dan 14 bahwa akan diperlukan waktu 400 tahun sebelum janji tentang tanah permai digenapi. Tahun-tahun ini tergenapi ketika Musa berumur 80 tahun. Ini menunjukkan bahwa apa yang dijanjikan kepada Abraham digenapkan pada zaman Musa dan bani Israel. Karena itu, dalam pasal 6 Allah datang kepada Musa dan bani Israel, bukan sebagai Allah yang serba cukup, melainkan sebagai Yehova.
Supaya Allah menjadi Allah yang menggenapi janji, Ia harus menjadi Allah yang kekal ada, yaitu Ia harus menjadi Sang swaada. Dalam pengertian khusus, kata kerja “adalah” hanya cocok diterapkan untuk Dia. Kata kerja ini merupakan komponen dasar dari nama Yehova. Di alam semesta ini hanya Dialah Sang swaada. Sebagai Sang pemberi janji, Ia adalah El Shaddai; tetapi sebagai Sang penggenap terhadap apa yang Ia janjikan, Ia adalah Yehova, Sang Aku adalah. Eksistensi Allah tidak tergantung pada sesuatu apa pun di luar diri-Nya. Dia kekal ada, tidak mempunyai permulaan maupun akhir. Sebagai Yehova, Allah selamanya adalah.
Kira-kira 4000 tahun yang lalu, Allah menjanjikan tanah permai kepada Abraham. Janji Allah masih belum digenapi atas diri Abraham sendiri, karena Abraham belum dibangkitkan. Andaikata Allah bukan Sang swaada dan Sang kekal ada, janji yang dibuat ribuan tahun yang lalu pasti tak akan dapat tergenapi. Akan tetapi, karena Allah itu selalu ada dan kekal ada, Ia tak bisa tidak menggenapi janji-Nya. Di alam semesta ini ada satu “Aku adalah”, dan Dia adalah Allah yang menggenapi janji. Apa yang Ia katakan akan terjadi. Yehova pasti menggenapi firman-Nya.
Abraham, Ishak, dan Yakub mengalami Allah sebagai Allah penyuplai dan sebagai Allah pemberi janji. Mereka me-ngenal-Nya dengan nama El Shaddai. Tetapi karena mereka tidak menerima penggenapan janji, maka mereka tidak bisa mengenal-Nya berdasarkan nama Yehova, meskipun telah saya tunjukkan bahwa mereka benar-benar tahu nama ini. Mereka mati dalam iman tanpa menerima penggenapan apa yang telah dijanjikan. Tetapi dalam Keluaran 6, Allah datang untuk menggenapkan janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Karena alasan inilah, Allah berfirman kepada Musa, “Akulah Yehova” (6:2 Tl.). Ini berarti Tuhan berfirman kepada Musa, dan melalui dia berfirman kepada bani Israel sebagai Yehova, sebagai “Aku adalah”.
Selama bertahun-tahun saya merasa sulit memahami Yohanes 8. Dalam pasal ini Tuhan tiga kali menyebut diri-Nya sebagai “Aku adalah” (ayat 24, 28, 58 Tl.). Dalam ayat 58 Tuhan Yesus menyatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada.” Sebagai “Aku adalah” yang agung, Tuhan adalah Allah yang kekal ada. Karena itu, Ia ada sebelum Abraham. Secara rohani, Yohanes 8 dapat disamakan dengan Keluaran 3, di mana Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Musa sebagai “Aku adalah” (ayat 14).
Kita telah menunjukkan bahwa nama Yesus berarti Yehova Juruselamat, bukan El Shaddai Juruselamat. Dia yang datang menjadi Juruselamat kita adalah Sang kekal Sang adalah. Ia datang untuk menggenapkan semua janji yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Karena itu, Yesus datang bukan untuk memberi janji, melainkan untuk menggenapi. Ini berarti bahwa Ia datang bukan sebagai El Shaddai, melainkan sebagai Yehova.
Dalam prinsip yang sama, Allah datang kepada Musa sebagai Yehova, bukan sebagai El Shaddai. Nampaknya Tuhan seolah-olah berkata, “Musa, nenek moyangmu mengenal-Ku dengan nama El Shaddai. Tetapi sekarang Aku ingin engkau mengenal-Ku dan mengalami-Ku dengan nama lain dengan nama Yehova, nama “Aku adalah”. Apa pun yang telah Kujanjikan, akan Aku genapi.”
Tuhan berkata demikian kepada Musa karena Musa mengeluh kepada-Nya tentang hasil pembicaraannya dengan Firaun. Musa memberitahukan bahwa Firaun telah berbuat jahat terhadap umat-Nya. Sampai-sampai Musa berkata, “Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali” (5:23). Karena itu Allah berfirman kepada Musa bahwa Ia adalah Yehova. Ia ingin supaya Musa dan semua orang Israel mengenal-Nya dengan nama ini dan supaya mereka mengalami-Nya sebagai Allah yang kekal ada dan sebagai Allah yang menggenapi janji. Ketika Tuhan menguatkan hati Musa, nampaknya seolah-olah Ia berkata, “Musa, janganlah susah atau kecil hati. Engkau harus paham bahwa AKU ada di sini bukan hanya sebagai El Shaddai, tetapi juga sebagai Yehova. Sekarang adalah saatnya engkau mengalami Aku sebagai “Aku adalah” itu. Sebagai Yehova, Sang kekal ada, Aku pasti menggenapi perjanjian-Ku.” Ketika Allah datang kepada Musa, Ia datang bukan sebagai El Shaddai, melainkan sebagai Yehova. Ia datang bukan untuk memberi janji, melainkan untuk menggenapi apa yang sudah dijanjikan. Karena itu, Musa tidak perlu kecewa atau kecil hati. Allah telah datang ke dalam situasi yang dihadapinya sebagai Sang Kekal ada dan Sang penggenap.
Ini seharusnya bukan sekadar doktrin bagi kita, melainkan secara riil harus menjadi pengalaman kita. Dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita bukan dalam tahap janji; kita berada dalam tahap penggenapan. Tahap penggenapan meliputi penggenapan janji-janji yang dibuat baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Ada sebuah janji dalam Perjanjian Baru, yaitu firman Tuhan yang mengatakan, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat. 16:18). Perkataan ini digenapi bagi kita hari ini. Ini menunjukkan bahwa kita mengalami Tuhan bukan hanya sebagai El Shaddai saja, lebih-lebih sebagai Yehova.
Akan tetapi, kita harus mengakui bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, kita kurang mengalami Tuhan sebagai “Aku adalah” yang agung. Sekalipun kita menikmati kidung perihal kelimpahan Kristus, namun setiap hari kita masih di dalam kemiskinan. Berapa banyakkah Anda mengalami Allah sebagai Yehova? Agaknya lebih mudah mengenal-Nya dengan nama El Shaddai dan menyatakan Dia itu kaya, Mahakuasa, dan serba cukup. Akan tetapi, benar-benar merupakan perkara lain bagi kita, bila kita mempunyai pengalaman yang riil terhadap “Aku adalah” ini. Jika kita ingin mengenal Allah sebagai Yehova, kita harus mempunyai pengalaman. Kalau tidak, kita akan seperti Abraham, Ishak, dan Yakub yang tahu nama ini tanpa mempunyai pengalaman.
Lebih dari 40 tahun yang lalu, gereja dibangunkan di kampung halaman saya. Saat itu saya sangat sibuk dalam pekerjaan saya di suatu perusahaan yang besar. Urusan-urusan gereja juga menyita sangat banyak waktu saya, yaitu waktu yang saya perlukan untuk bersekutu dalam pertemuan-pertemuan gereja, sekurang-kurangnya empat kali dalam seminggu. Berkat Tuhan ada pada kami, dan jumlah orang beriman terus bertambah. Saya jadi semakin berbeban untuk melepaskan pekerjaan saya dan melayani Tuhan sepenuh waktu. Beberapa bulan lamanya, untuk hal ini saya berkali-kali datang kepada Tuhan, tetapi saya masih belum bisa membereskannya. Karena Tuhan tidak membiarkan hal ini berlalu, maka saya tak bisa makan dan tidur dengan enak. Akhirnya saya sampai pada suatu titik di mana saya tidak dapat jalan terus sebelum persoalan ini terbereskan. Suatu malam, ketika mengadakan pergumulan dengan Tuhan, Ia mengingatkan bahwa saya telah berjanji melayani Dia sepenuh waktu. Saya berkata kepada-Nya bahwa janji yang saya buat adalah janji sebelum saya mempunyai istri dan anak-anak. Sekarang saya merasa khawatir, bagaimana saya dapat menghidupi keluarga saya jika saya meninggalkan pekerjaan saya dan melayani Tuhan. Sebelum waktu itu, saya telah mengenal janji-janji Allah tentang suplai-Nya. Saya tahu bahwa jika kita mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, apa pun yang kita perlukan akan ditambahkan kepada kita. Akan tetapi, saya tidak mengenal Allah sebagai Allah yang menggenapi janji. Malam itu Tuhan bukan hanya menyatakan firman-Nya kepada saya, tetapi juga menyatakan diri-Nya sebagai Sang penggenap atas janji-janji-Nya. Kemudian Tuhan memberi saya suatu ultimatum memilih Dia atau melepaskan Dia. Ketika saya bangun dari berlutut, dengan penuh air mata saya berkata, “Tuhan, aku memilih Engkau.” Ketika saya berdiri, saya tahu dengan pasti bahwa persoalannya sudah terbereskan. Mulai saat itu hingga kini, bagi saya Tuhan benar-benar sebagai Allah yang menggenapi janji. Saya telah berkali-kali mengalami Dia sebagai “Aku adalah” itu. Karena Dia adalah Sang “Aku adalah”, maka Yehova tidak pernah lalai. Dia selamanya ada; Dia sekarang adalah, dan kelak pun adalah. Dari banyak tahun pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa Allah itu adalah. Haleluya, kita dapat mengenal-Nya bukan hanya sebagai Allah yang serba cukup, tetapi juga sebagai “Aku adalah” itu.
Kaum muda, beban saya dalam berita ini terutama tertuju kepada kalian. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk kesetiaan kalian bagi pemulihan-Nya. Tetapi saya tahu bahwa di depan kalian masih ada suatu perjalanan yang panjang dan banyak pencobaan serta pengujian menanti kalian. Saya ingin bersaksi kepada kalian bahwa Allah yang kalian layani bukan hanya El Shaddai, lebih-lebih adalah Yehova. Ia bukan hanya Sang serba cukup dan Sang pemberi janji, tetapi juga Sang kekal ada dan Sang penggenap. Karena Ia itu “Aku adalah”, Ia akan menggenapi semua yang telah Ia janjikan. Saya mungkin tak bisa menepati perkataan saya, karena saya bisa tidak ada lagi. Tetapi karena Yehova selamanya ada dan karena Ia adalah realitas dari kata kerja “adalah”, maka Ia pasti menggenapi apa saja yang telah diucapkan-Nya. Ketika Anda menjumpai pengujian, pencobaan, dan kesulitan, Anda boleh berkata, “Tuhan, Engkau adalah. Persoalanku akan lewat, tetapi Engkau, Tuhan, akan ada selama-lamanya.”
Firaun lebih berkuasa daripada orang Israel. Akan tetapi, setelah sejangka waktu, Firaun menjadi tak berarti lagi. Ia dapat bertahan terhadap Allah hanya dalam sejangka waktu yang pendek. Ketika Firaun tamat, Yehova tetap ada.
Dalam pasal 6, Allah menguatkan hati Musa dengan mengajaknya mengenal Dia sebagai Yehova. Seolah-olah Tuhan berkata, “Musa, engkau perlu mengenal-Ku berdasarkan nama Yehova. Engkau harus mengenal-Ku sesuai dengan apa adanya Aku, menurut eksistensi-Ku. Karena Aku adalah “Aku adalah” yang agung, apa alasanmu untuk berkecil hati?” Di sini Tuhan melatih Musa untuk mengalami-Nya dan mengenal-Nya berdasarkan nama Yehova.
Apakah Anda mengalami Tuhan hanya sebagai El Shaddai ataukah Anda juga mengalami-Nya sebagai Yehova? Ketika Anda mempunyai suatu kebutuhan atau berada dalam kesulitan, janganlah hanya memuji Tuhan untuk kelimpahan-Nya dan kecukupan-Nya. Anda juga harus memuji-Nya sebagai “Aku adalah”. Janganlah bersyukur kepada-Nya hanya karena Ia itu sanggup dan berkuasa, tetapi nyatakanlah dengan penuh keberanian, “Tuhan, Engkau adalah.” Banyak orang Kristen berdoa kepada Tuhan sebagai Sang maha cukup di kala mereka mempunyai keperluan. Tetapi pernahkah Anda mendengar orang-orang Kristen me-muji Tuhan untuk eksistensi-Nya yang kekal? Tuhan ingin ada orang yang menyatakan, “Tuhan, Engkau adalah!” Kita perlu menjadi orang-orang yang demikian memuji Tuhan.
Janganlah kita hanya bersyukur kepada Tuhan karena kelimpahan-Nya, kecukupan-Nya, dan kesanggupan-Nya. Jika kita menerima wahyu Tuhan sebagai “Aku adalah”, kita akan berdoa dengan cara yang baru. Ketika kesulitan tiba, kita akan datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, di sini ada satu masalah, tetapi Engkau adalah. Engkau adalah ‘Aku adalah’, dan aku percaya kepada-Mu.”
II. PERJANJIAN YEHOVA ALLAH
Kita sekarang maju kepada perjanjian Yehova Allah. Dalam Kejadian 12 Allah berjanji kepada Abraham. Dalam Kejadian 15 janji itu menjadi perjanjian, dan dalam Kejadian 17 dilakukan penyunatan sebagai bukti atas perjanjian itu. Jadi, apa yang Allah berikan kepada Abraham akhirnya bukan hanya suatu janji, tetapi suatu perjanjian dengan suatu bukti.
Janji Allah adalah firman-Nya (Rm. 9:9). Setiap kali Allah berfirman bahwa Ia akan melakukan sesuatu bagi kita, firman-Nya itu merupakan janji. Tetapi ketika atas janji itu ditambahkan sumpah, maka janji itu menjadi suatu perjanjian yang menjamin firman Allah. Perjanjian semacam ini sepertilah suatu kontrak.
Dalam Keluaran 6:7 Tuhan berfirman kepada Musa, “Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah (mengangkat tangan) telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu. Akulah TUHAN (Yehova).” Janji Tuhan untuk memberikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub merupakan suatu perjanjian yang dibuat dengan mengangkat tangan-Nya. Mengangkat tangan seperti itu adalah bersumpah. Dalam Kejadian 14 Abraham memberi tahu raja Sodom bahwa ia telah mengangkat tangan (bersumpah) demi Allah yang maha tinggi untuk tidak mengambil sesuatu pun darinya (ayat 22-23). Ini berarti Abraham telah bersumpah bagi perkara itu. Dalam Perjanjian Lama tangan diangkat bila suatu perjanjian dibuat. Tetapi dalam Perjanjian Baru seluruh Persona Tuhan Yesus telah ditinggikan. Dalam Yohanes 8:28 Tuhan Yesus berkata, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Aku adalah” (Tl.). Dengan meninggikan Tuhan Yesus, Allah membuat suatu sumpah yang besar yang menyebabkan janji-Nya menjadi perjanjian baru. Dalam keempat Injil, Tuhan membuat banyak janji. Ketika Ia ditinggikan ke atas salib, janji-janji ini menjadi perjanjian baru. Sekarang seluruh Perjanjian Baru merupakan perjanjian, suatu kontrak yang ditandai dan disahkan oleh terangkatnya Kristus.
Tuhan ditinggikan bukan hanya ke atas salib, yang terakhir, ke atas takhta Allah di langit tingkat tiga. Tuhan sekarang duduk di takhta sebagai lambang sumpah terbesar di alam semesta ini. Sumpah ini dibuat melalui dua tahap: Terlebih dulu melalui pengangkatan diri Tuhan ke atas salib, dan kemudian, ke atas takhta. Haleluya, Orang yang keseluruhan diri-Nya terangkat ini kini berada di atas takhta! Karena itu, apa yang telah kita miliki hari ini bukanlah suatu janji belaka, melainkan suatu perjanjian.
Ketika berbicara mengenai perjanjian dengan Musa, Allah seolah-olah berkata, “Musa, tidakkah engkau tahu bahwa Aku telah membuat suatu perjanjian dengan nenek moyangmu? Aku telah mengangkat tangan-Ku untuk membawa umat-Ku ke tanah permai. Apakah engkau mengira Firaun dapat menghentikan Aku untuk membawa umat-Ku ke tanah yang Kujanjikan? Musa, janganlah berkecil hati. Aku adalah, tetapi Firaun tidak. Aku adalah Yehova, akan menggenapi perjanjian-Ku. Aku akan membawa umat-Ku ke tanah permai dan memberikannya kepada mereka untuk menjadi milik mereka. Musa, berbesar hatilah dengan perjanjian-Ku dan nama-Ku yang sekarang.”
Hari ini kita juga mempunyai nama Tuhan dan perjanjian-Nya. Apa yang kita perbuat dalam pemulihan Tuhan bukanlah menurut khayalan kita, melainkan menurut perjanjian Allah. Pada waktu yang lampau kita memberi tahu Tuhan bahwa apa yang kita praktekkan adalah menurut firman-Nya. Mulai sekarang kita harus memberi tahu Tuhan bahwa apa yang kita perbuat adalah menurut perjanjian-Nya, perjanjian dengan sumpah yang akan Ia genapi. Dalam pergumulan untuk kepentingan-kepentingan Tuhan, kita harus berdiri di atas perjanjian-Nya. Perjanjian ini disahkan ketika Tuhan Yesus ditinggikan di kayu salib dan naik takhta.
Ada orang mengatakan tidak mungkin mempraktekkan hidup gereja hari ini. Mereka juga menegaskan bahwa Tuhan tidak mungkin mempunyai pemulihan-Nya. Mereka nampaknya tidak tahu bahwa pemulihan Tuhan adalah janji dalam perjanjian-Nya. Saya ingin menekankan suatu fakta bahwa pemulihan bukanlah menurut pemikiran, ramalan, atau perkiraan kita, melainkan menurut visi kita. Pemulihan Tuhan seluruhnya menurut perjanjian-Nya. Dalam perjanjian ini Tuhan Yesus telah berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Mat. 16:18). Sepanjang tahun, musuh berusaha menghancurkan pemulihan. Tetapi karena pemulihan itu menurut perjanjian Allah, maka pemulihan itu tidak dapat dihancurkan.
Kita mengakui, memang jalan pemulihan Tuhan itu tidak mudah. Keadaannya sama dengan orang-orang Israel dalam Kitab Keluaran. Sebelum mereka dilepaskan dari perbudakan, banyak pertentangan di antara Allah dengan Firaun. Firaun tidak mudah ditanggulangi. Dalam prinsip yang sama, Firaun hari ini Iblis dan ego yang dijajah dan dikuasai oleh Iblis tidak mudah ditanggulangi. Kadang-kadang kita menjadi kecil hati, sama seperti Musa dan orang-orang Israel. Pada saat demikian, kita perlu ingat kepada Yehova dan perjanjian-Nya.
Sungguh mengherankan, Allah tidak menghancurkan Firaun dengan satu pukulan! Sebaliknya, Ia sengaja menga-dakan pertentangan dengan Firaun. Bahkan Ia sengaja menyebabkan hati Firaun menjadi keras. Jika saya adalah Musa, saya akan berkata, “Tuhan, kalaupun Engkau telah mengeraskan hati Firaun, mengapa Engkau mengutusku kepadanya?” Melalui menanggulangi Firaun seperti itu, Tuhan melatih Musa dan orang-orang Israel mengenal-Nya berdasarkan nama Yehova dan mengetahui perjanjian-Nya. Bagaimanapun hebatnya pertentangan yang terjadi, akhirnya Yehova pasti menggenapi perjanjian-Nya.
Janganlah risau oleh banyaknya penentangan terhadap pemulihan Tuhan, dan jangan kecil hati bila agama bangkit menentang kita, Firaun hari ini akan merebut, menentang, dan menghambat, tetapi akhirnya ia tak akan dapat menang melawan Tuhan dan pemulihan-Nya, karena kita mempunyai nama Tuhan dan perjanjian-Nya.
Kita bukannya sibuk dalam pekerjaan kekristenan. Sasaran pemulihan Tuhan adalah membangun gereja sesuai dengan nama Allah dan perjanjian-Nya. Ingatlah, Tuhan telah ditinggikan di atas salib dan di atas takhta. Ia sekarang berada di atas takhta sebagai bukti yang meyakinkan bahwa perjanjian-Nya telah disahkan. Sebagai Yehova Juruselamat, “Aku adalah” yang agung, Ia akan menggenapi perjanjian-Nya dan membawa kita masuk ke tanah permai.