PELATIHAN LANJUTAN YANG ALLAH BERIKAN KEPADA MUSA
Dalam berita ini kita nampak pelatihan lebih lanjut Allah kepada Musa (6:1-7:7). Setelah pertentangan per-tama dengan Firaun, Musa merasa bahwa ia telah gagal. Allah mengutusnya untuk menyampaikan firman Allah ke-pada Firaun. Akan tetapi, Firaun bukannya mendengarkan firman ini, malahan perlakuannya terhadap orang-orang Israel menjadi lebih kejam, dan orang-orang Israel mengeluh kepada Musa. Musa, yang merasa gagal, mengeluh kepada Tuhan katanya, “Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali” (5:22-23). Reaksi Musa menunjukkan bahwa ia memerlukan pelatihan yang lebih lanjut. Allah tak akan mengutusnya kepada Firaun sampai ia selesai menerima lebih banyak pelatihan dari Allah.
Telah kita tunjukkan bahwa panggilan Allah kepada Musa dalam Keluaran 3-4 merupakan panggilan yang paling lengkap dalam Alkitab. Pada saat Allah memanggil Musa, Allah mengeluarkan banyak waktu untuk dia, dan Musa menerima wahyu juga menerima pengajaran. Ia menerima firman Allah dan melakukan semua yang diperintahkan Allah kepadanya. Akan tetapi, hasilnya tidak seperti yang Musa harapkan. Yang membuat Musa heran ialah, dia kalah, Firaun menang, dan orang-orang Israel lebih menderita daripada yang sudah-sudah. Inilah alasannya ia mengeluh kepada Tuhan tentang situasi yang terjadi.
Dalam melatih Musa lebih lanjut, Tuhan berusaha menanamkan kesan kepadanya terhadap nama-Nya dan perjanjian-Nya. Ia mengingatkan Musa bahwa Ia adalah Yehova, Sang adalah, yang ada dan yang kekal ada. Ia juga mengingatkan Musa tentang perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub perihal tanah permai. Ia memberi tahu Musa bahwa Ia telah mengangkat tangan-Nya untuk memberikan tanah itu kepada keturunan mereka. Sewaktu membicarakan kedua hal ini dengan Musa, Allah melatihnya mengenal persona-Nya dan firman-Nya yang setia dalam perjanjian-Nya.
Lagi pula ketika berbicara dengan Musa perihal nama-Nya dan perjanjian-Nya, Tuhan memberikan pelatihan lebih lanjut dalam enam perkara lainnya. Yang pertama dari keenam perkara ini adalah firman jaminan Allah. Kita harus memperhatikan firman jaminan Allah, yaitu perkataan yang berkali-kali Ia katakan kepada kita. Hari ini, jika kita ingin mengikuti Tuhan, dan mengemban kesaksian-Nya dalam pemulihan-Nya, kita harus belajar memperhatikan jaminan Allah yang dikatakan berkali-kali. Tetapi tidak banyak pelayan Allah yang mengenal perkataan seperti ini sewaktu perkataan ini diberikan.
Perkara kedua adalah ketidakpercayaan orang-orang Israel. Menurut konsepsi alamiah kita, orang-orang di tempat kita diutus itu seharusnya seperti orang-orang dalam rumah Kornelius, yang telah siap sedia dengan sebaik-baiknya untuk menerima perkataan kita. Kita mengira bahwa jika Allah mengutus kita berbicara kepada orang banyak di suatu tempat, hati mereka akan terbuka untuk menerima apa yang kita katakan. Akan tetapi, karena ketidakpercayaan mereka, orang-orang Israel tidak mau mendengarkan perkataan Musa. Orang-orang Israel bukannya membesarkan hatinya, malahan membuatnya gundah, kecewa, dan putus asa.
Di sini ada sebuah pelajaran bagi kita. Andaikata kita ditunjuk Allah untuk memimpin orang-orang tertentu, janganlah kita mengharapkan mereka akan bersikap positif terhadap kita. Misalnya, Tuhan menentukan Anda sebagai seorang penatua di suatu gereja. Janganlah berpikir bahwa mereka yang ada dalam gereja itu akan bersikap positif terhadap Anda atau percaya kepada segala sesuatu yang Anda katakan. Sebaliknya, bersiaplah menghadapi ketidakpercayaan orang-orang di mana Anda diutus.
Ketiga, Musa dilatih sehubungan dengan sikap keras kepala Firaun. Firaun tidak mudah ditaklukkan. Jika kita menjadi Musa dalam situasi seperti itu dan harus menghadapi sifat keras kepala Firaun, tak disangsikan lagi, kita akan sangat kecewa.
Keempat, Musa perlu dilatih berkenaan dengan konsepsi alamiahnya. Hal ini terlihat pada sikapnya yang bersikeras terhadap ketidakpetahan lidahnya serta pengabaiannya terhadap firman jaminan Allah. Dalam 6:11 Musa bertanya kepada Tuhan, “Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!” Pertanyaan ini menyebabkan Yehova menerangkan panjang lebar perihal jaminan. Tetapi, sekalipun perkataan itu sudah diberikan, Musa masih berkata, “Bukankah aku ini seorang yang tidak petah lidahnya, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku?” (ayat 29). Ini menunjukkan bahwa Musa mengukuhi sifat alamiahnya, dan melalaikan firman jaminan Allah. Kita telah mengetahui, baik orang Israel maupun Firaun tidak mendengarkan Allah. Di sini kita nampak bahwa Musa pun tidak mendengarkan Dia.
Sebagai pelatihan berikutnya, Allah juga menegaskan tentang penetapan Allah terhadap dirinya. Musa telah Allah pilih dan Allah angkat menjadi orang yang mewakili Dia. Terakhir, Allah melatih Musa untuk mengenal tangan-Nya yang kuat dan hukuman-hukuman-Nya yang berat (7:4). Jadi, pelatihan yang terakhir adalah mengenal tangan Allah, yaitu tangan yang menopang nama-Nya, perjanjian-Nya, dan firman jaminan-Nya. Tangan-Nya yang kuat inilah yang mengalahkan Firaun dan orang-orang Mesir dan yang menjadikan setiap orang, termasuk orang-orang Israel, takluk, dan percaya bahwa Allah adalah Yehova.
Di pihak positif, pelatihan lebih lanjut Allah kepada Musa meliputi lima perkara: nama Allah, perjanjian Allah, jaminan perkataan Allah, penetapan Allah, dan tangan kuat Allah. Di pihak negatif, pelatihan ini meliputi kepada tiga hal: ketidakpercayaan orang-orang Israel, sifat keras kepala Firaun, dan konsepsi alamiah Musa. Sebagai utusan, kita semua harus mengetahui kelima perkara positif dan ketiga perkara negatif ini. Kita perlu tahu bahwa orang-orang pilihan Allah penuh dengan ketidakpercayaan, musuh itu keras kepala, dan kita ini alamiah. Akan tetapi, bagaimanapun juga, kita mempunyai nama Allah, perjanjian Allah, firman jaminan Allah, penetapan Allah, dan tangan Allah yang kuat.
Setelah pelatihan lebih lanjut diberikan kepada Musa dalam pasal 6 dan 7, Musa tidak menerima pelatihan tambahan lainnya. Kelihatannya pada akhir pasal 4, Musa telah lulus dari pelatihan Allah. Akan tetapi, ia tak mempunyai pengalaman sedikit pun. Karena kekurangan pengalaman, ia harus mengalami pelatihan berikutnya. Dalam pasal 7 Musa benar-benar lulus sekolah pelatihan Allah. Agar kita semua bisa mempelajari pelatihan lebih lanjut yang Musa terima, baiklah kita sekarang memperhatikan keenam aspek pelatihan yang terkandung dalam 6:1-7:7 ini, satu per satu.
I. FIRMAN JAMINAN ALLAH
Dalam berita yang lalu kita mengungkapkan dua aspek positif dari pelatihan lebih lanjut yang diberikan Allah: nama Allah dan perjanjian Allah. Karena itu, dalam berita ini kita memulai dengan firman jaminan Allah.
A. MEMBEBASKAN ORANG ISRAEL DARI
PERBUDAKAN ORANG-ORANG MESIR
Allah menjamin Musa bahwa orang Israel akan dibebaskan dari perbudakan Mesir (6:1, 6-7; 7:5). Inilah firman jaminan Allah yang berbeda dengan perkataan yang bersifat janji. Ketika Allah memberikan firman jaminan kepada Musa, seolah-olah Ia berkata, “Musa, lupakanlah ketidakpercayaan orang-orang itu, lupakanlah Firaun, dan lupakanlah kondisi bibirmu. Ingatlah akan firman jaminan-Ku, Akulah Yehova, dan Aku mengingat perjanjian yang telah Kutetapkan. Sesuai dengan perjanjian-Ku, pastilah Aku akan melepaskan orang Israel dari Mesir. Musa, percayalah kepada firman jaminan ini dan perhatikanlah. Kujamin, orang-orang pilihan-Ku akan Kulepaskan.”
B. MENGANGKAT ORANG ISRAEL
MENJADI UMAT-NYA
Dalam 6:6 Tuhan berfirman, “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.” Di sini Allah memberi jaminan kepada Musa bahwa Ia akan menjadi Allah mereka. Tuhan tak ingin Musa melaporkan bagaimana jahatnya orang-orang itu atau bagaimana mereka menolak mendengar perkataannya. Tetapi Ia ingin Musa percaya dan melaporkan bahwa orang Israel adalah orang-orang yang paling baik di bumi. Tuhan mencintai mereka, mereka adalah milik-Nya yang berharga dan istimewa.
Jika kita adalah Musa, boleh jadi kita akan berbantah dengan Tuhan perihal umat-Nya. Mungkin kita akan ber-kata, “Tuhan, janganlah ambil mereka sebagai umat-Mu. Aku melalui pengalamanku dapat bersaksi bahwa mereka sama sekali tidak baik. Mungkin akulah satu-satunya orang yang taat kepada-Mu.” Tak peduli bagaimana pandangan Musa terhadap orang-orang itu, Allah menjamin Musa bahwa mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Dalam pandangan-Nya, mereka baik sekali.
C. MEMBUAT MEREKA MENGETAHUI BAHWA DIALAH YEHOVA, ALLAH MEREKA
Dalam ayat 6 Tuhan juga berfirman, “Supaya kamu mengetahui bahwa Akulah TUHAN (Yehova), Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.” Tuhan akan melakukan apa saja yang diperlukan agar orang Israel mengetahui bahwa Ia adalah Yehova, Allah mereka. Sewaktu memberikan jaminan ini kepada Musa, Ia berkali-kali mengulangi kata-kata: “Akulah Yehova”.
D. MENJADIKAN ORANG ISRAEL PASUKAN-NYA
Selanjutnya, Tuhan menjamin Musa bahwa Ia akan menjadikan orang Israel pasukan-Nya (6:25; 7:4). Ini berarti Ia akan menggunakan mereka untuk berperang bagi-Nya. Bukan main firman jaminan ini!
E. MEMBAWA ORANG ISRAEL KE TANAH YANG DIJANJIKAN
Terakhir, dalam 6:7 Tuhan berfirman, “Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah Yehova”(Tl). Tuhan tidak ingin mendengar keluhan-keluhan mengenai umat pilihan-Nya. Ia ingin mengangkat mereka menjadi umat-Nya. Ia akan memimpin mereka ke tanah permai seperti yang telah dijanjikan-Nya. Inilah firman jaminan Allah kepada Musa.
Secara manusiawi, apa yang dikatakan oleh Musa kepada Tuhan perihal orang Israel dan Firaun adalah benar. Tetapi Allah tidak percaya kepada situasi. Sebaliknya, Ia percaya kepada diri-Nya sendiri, perjanjian-perjanjian-Nya, dan firman jaminan-Nya, Ia juga percaya bahwa tangan-Nya yang penuh kuasa sanggup menggenapi. Akhirnya, Allah membuat orang Israel menjadi pasukan-Nya. Perhatikan apa yang terjadi sewaktu mereka mengalahkan Yerikho. Ketika orang Israel berbaris mengelilingi kota itu, malaikat-malaikat di surga girang melihat pasukan Allah berhasil mengalahkan musuh. Karena Allah percaya akan kesanggupan-Nya, Ia tak mempedulikan situasi di luar, baik mengenai ketidakpercayaan umat-Nya maupun sifat keras kepala Firaun.
Firman jaminan Tuhan kepada Musa mendorong kita dalam pemulihan Tuhan. Sebagian orang mengatakan mus-tahil mempunyai pemulihan hidup gereja hari ini. Akan tetapi, jika pemulihan hidup gereja mustahil terjadi, maka Tuhan Yesus tidak mempunyai jalan untuk datang kembali. Untuk kedatangan-Nya kembali, Ia memerlukan gereja yang terbangun. Hanya gereja yang terbangun sesuai dengan maksud Tuhanlah yang dapat menjadi batu tumpuhan ke dalam zaman kerajaan. Dalam Matius 16:18 Tuhan berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Karena itu, saya percaya bahwa bukanlah mustahil mempunyai pemulihan hidup gereja yang normal hari ini. Kita mempunyai janji Tuhan dan firman jaminan Tuhan.
Kita harus ingat, bukan kita yang memulai pemulihan Tuhan. Apa yang kita lakukan dalam pemulihan hari ini bukanlah menurut rencana kita, melainkan menurut perjanjian Tuhan dan firman jaminan-Nya. Tuhan Yesus berfirman bahwa Ia akan membangun gereja-Nya. Inilah yang berlang-sung hari ini, bukan menurut rencana kita, melainkan menurut firman Tuhan. Jangan mempercayai keadaan sekeliling atau lingkungan kita, percayalah kepada firman jaminan Allah. Jika Anda diutus Tuhan ke suatu tempat bagi hidup gereja, janganlah percaya kepada hal-hal negatif yang ada di sekeliling Anda. Dengarkan saja Tuhan dan perhatikan firman jaminan-Nya. Kita semua perlu berlatih dalam hal-hal ini.
II. KETIDAKPERCAYAAN ORANG ISRAEL
Musa juga berlatih terhadap ketidakpercayaan orang Israel (6:8, 11). Ketika saya mempelajari sejarah Israel be-berapa tahun yang lalu, saya tak begitu menghargai orang Israel. Dalam batin saya berkata, saya tak pernah seperti mereka. Akan tetapi, setelah 45 tahun lebih bersama umat Tuhan, saya sangat menghargai orang Israel. Dalam banyak hal, saya merasa mereka jauh lebih baik daripada umat gereja hari ini. Para penatua dalam gereja-gereja sebenarnya lebih suka kepada orang Israel daripada kaum beriman dalam gereja di tempat mereka. Nampaknya, di mana pun kita berada, orang-orangnya lebih payah daripada mereka yang ada di tempat lain. Akan tetapi, tak peduli bagaimanapun keadaan sekeliling kita, janganlah kita mempercayainya. Keadaan selalu berubah-ubah, tetapi firman Tuhan tidak berubah.
Di satu pihak, semua situasi itu sama sekali palsu, karena keadaan ini akan berubah, hanya sementara. Di pihak lain, setiap perkara di sekeliling kita berbicara kepada kita bagi Allah; karena itu, ketidakpercayaan orang Israel pasti telah berbicara kepada Musa. Melalui ketidakpercayaan dan kekeraskepalaan Firaun, tersingkap bahwa seluruh kekurangan Musa, dan seharusnya ia pergi kepada Allah untuk lebih banyak bersandar kepada-Nya. Namun, bukannya demikian, Musa malah pergi kepada Allah dengan roh yang mengeluh. Tanpa ketidakpercayaan dan kekeraskepalaan, tentu Musa akan berpikir bahwa segala sesuatu itu menyenangkan. Sesungguhnya, Musa mempunyai beberapa kesulitan batiniah yang perlu disingkapkan, dan perlu beberapa pelatihan lebih lanjut.
III. SIFAT KERAS KEPALA FIRAUN
Sekarang sampailah kita pada sifat keras kepala Firaun. Telah kita tunjukkan bahwa Firaun melambangkan Iblis. Iblis sifatnya keras kepala, tak pernah berubah, kecuali menjadi lebih keras kepala. Karena itu kita perlu belajar untuk tidak disimpangkan oleh kedegilan musuh.
IV. KONSEP ALAMIAH MUSA
A. KUKUH TERHADAP KETIDAKPETAHAN LIDAHNYA
Dalam pasal 6, dua kali Musa memberi tahu Tuhan bahwa ia seorang yang tidak petah lidah (ayat 11, 29). Pada mulanya, saya mengira ia hanya membuat suatu pengakuan seperti yang dilakukan oleh Yesaya (Yes. 6:5). Tetapi setelah saya perhatikan lebih lanjut, saya memperoleh suatu pengertian yang lain terhadap kedua ayat ini. Dalam 4:10 Musa berkata kepada Tuhan, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Inilah tanggapan terhadap panggilan Allah yang pertama. Akan tetapi, bagaimanapun juga, Allah tetap teguh untuk mengutusnya menghadap Firaun, karena itu Musa percaya bahwa lidahnya akan menjadi alat yang berkuasa dan apa pun yang ia katakan kepada Firaun penuh dengan kuasa. Boleh jadi ia berpikir bahwa kemampuannya berbicara akan menjadi demikian berkuasa, sehingga setiap orang, termasuk Firaun, akan menaati perkataannya. Namun, hasil pertentangan pertama dengan Firaun benar-benar berbeda. Firaun tidak mendengarkan dia, orang Israel juga tidak mau mendengarkannya. Karena itu, Musa mengeluh kepada Yehova, tetapi firman Yehova kepadanya, “Pergilah menghadap, kata-kanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya” (6:10). Pada saat inilah Musa berkata kepada Yehova, “Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!” (6:11). Kata-kata ini mengandung keluhan, Musa mengeluh karena Tuhan tidak melakukan sesuatu sehingga membuat mulutnya penuh kuasa. Ia merasa tidak bahagia karena mulutnya masih tetap sama.
Mereka yang dipanggil oleh Tuhan hari ini boleh jadi berdoa dan berharap agar Tuhan membuat perkataan mereka penuh dengan kuasa yang ajaib. Tetapi akhirnya kita menemukan bahwa bibir kita tetap sama dengan yang dahulu. Bibir kita masih tetap tidak pandai berbicara: Ini berarti kita masih alamiah.
Sewaktu memberi tahu Tuhan bahwa ia tidak petah lidah, Musa seolah berkata, “Tuhan, Engkau menyuruhku pergi dan berbicara kepada Firaun. Hal ini sudah kulakukan, tetapi tidak berhasil. Baik Firaun maupun orang Israel tidak mau mendengarkan. Aku mengira lidahku akan diubah, tetapi ternyata aku tetap tidak petah lidah. Engkau tidak melakukan sesuatu untuk mengubah bibirku. Kalau Engkau tidak melakukan hal ini, aku tak akan berbicara kepada Firaun lagi. Oleh karena lidah alamiahku, aku tak dapat melakukan sesuatupun. Tak seorang pun mau mendengarkan aku. Tuhan, Engkau harus membuat lidahku berkuasa. Itulah satu-satunya jalan supaya aku bisa berbicara sehingga orang-orang akan mendengarkan aku.”
Tidak diragukan lagi bahwa Musa berharap Allah akan memakai mulutnya untuk mengutarakan perkataan yang berkuasa kepada Firaun dengan cara yang ajaib. Namun sebaliknya, perkataan yang keluar dari mulut Musa biasa-biasa saja, sama sekali bukan yang luar biasa. Tetapi hasil dari perkataan biasa ini berasal dari perbuatan Tuhan, bukan perbuatan manusia. Hasilnya tergantung pada fakta bahwa kita diutus Tuhan dan diamanati oleh-Nya dan kita mewakili Dia; bukan oleh upaya kita, kecakapan kita, atau bagaimana baiknya pekerjaan yang kita lakukan. Bejana tanah tetap bejana tanah, tetapi bejana ini berisi mustika. Semak duri tetap semak duri, tetapi api kudus menyala dari dalamnya. Semak duri tidak mengharapkan perubahan atau kemuliaan itu datang kepadanya. Kemuliaan selamanya harus bagi Allah.
Andaikata Anda diutus Allah ke suatu tempat, boleh jadi Anda berdoa dan melatih diri Anda percaya bahwa Tuhan akan membuat bibir Anda berkuasa. Akan tetapi, ketika Anda berbicara, Anda mendapatkan bahwa mulut Anda sama sekali tidak berubah. Kalaupun terjadi sesuatu, perkataan Anda bahkan lebih buruk daripada sebelumnya. Berkali-kali saya mengalami hal ini. Setelah melepaskan satu berita, saya pergi kepada Tuhan seraya berkata, “Tuhan, aku berdoa supaya Engkau memberiku perkataan, tetapi Engkau sama sekali tidak menolongku. Tuhan, tidakkah Engkau menyadari betapa miskinnya persekutuanku? Aku ingin berhenti berbicara bagi-Mu. Aku masih tidak petah lidah.”
Memiliki sikap seperti ini menunjukkan bahwa kita masih bergantung kepada apa adanya kita dan apa yang dapat kita perbuat, bukan kepada apa adanya Tuhan dan apa yang dapat Dia perbuat. Tuhan tidak berniat mengubah bibir kita. Sebaliknya, Ia akan membiarkan keadaannya tetap sama. Meskipun Tuhan memberi tahu Musa bahwa Ia telah menjadikan dia Allah bagi Firaun (7:1), namun Ia tak akan melakukan sesuatu pun terhadap kondisi bibir Musa. Sebenarnya, Musa sama sekali tidak perlu berbicara sendiri kepada Firaun, karena Harun yang akan menjadi nabi baginya.
Kali pertama Musa bertemu dengan Firaun, ia tidak berbicara dengan cara yang ajaib, melainkan dengan cara yang biasa saja. Ketika berbicara dengan orang Israel, ia pun berbicara dengan cara yang biasa. Karena tidak terjadi sesuatu pun, ia mengeluh kepada Tuhan. Allah kemudian memberikan pelatihan lebih lanjut dan menyuruhnya sekali lagi menghadap Firaun. Tetapi Musa tidak mau melakukannya kecuali Allah melakukan sesuatu yang ajaib atas bibirnya. Jawaban Allah menyiratkan bahwa Ia tak akan melakukan apa pun untuk mengubah bibir Musa. Sebagai gantinya, Ia akan menjadikan Musa Allah bagi Firaun dan menyediakan Harun sebagai nabi bagi Musa. Seolah-olah Tuhan berkata, “Musa, Aku tidak akan melakukan sesuatu seturut caramu. Sebaliknya engkau harus mengikuti apa yang Kukatakan. Entah engkau merasa bibirmu disunat atau tidak disunat tidak ada bedanya. Sebenarnya, engkau tidak perlu berbicara kepada Firaun, karena Harun akan menjadi juru bicaramu. Musa, lupakan bibirmu.”
Di sini terdapat sebuah pelajaran yang sangat penting bagi kita. Kita ingin Allah melakukan perbuatan yang ajaib terhadap bibir kita. Tetapi Allah tidak berniat melakukan hal ini. Keberhasilan dalam melaksanakan panggilan Tuhan bukan tergantung pada kebijaksanaan kita atau usul kita. Untuk melakukan tiap perkara, Allah sudah mempunyai cara sendiri. Musa mengira segala sesuatu tergantung pada kondisi lidahnya. Tetapi jalan Allah adalah membiarkan lidah Musa tetap sama kondisinya dan menetapkan Harun menjadi nabi bagi Musa. Dalam hidup gereja hari ini kita perlu menghentikan usul-usul kita serta konsepsi-konsepsi kita seraya berkata, “Tuhan, apa yang kukatakan tak terhitung apa-apa, tetapi apa yang Kaukatakan sangatlah terhitung. Tuhan, aku rela melupakan diriku sendiri dan tidak lagi mempertahankan manusia alamiahku.” Marilah kita lupakan ketidakpetahan lidah kita. Marilah kita lupakan apa adanya alamiah kita.
B. MENGABAIKAN FIRMAN JAMINAN ALLAH
Dikarenakan Musa mengukuhi kondisi alamiahnya, maka ia mengabaikan firman jaminan Allah. Meskipun Alah telah mengucapkan firman jaminan yang menakjubkan, namun Musa tidak mau memperhatikannya disebabkan oleh konsepsi alamiahnya. Keadaan kita hari ini sama dengan keadaan Musa, karena erat berpegang pada ketegaran alamiah kita, kecenderungan kita, dan pengertian alamiah kita, maka sewaktu kita membaca Kitab Suci, kita tidak menerima terang. Memegang konsepsi alamiah kita merupakan penghalang untuk menerima terang melalui firman. Kita perlu belajar seperti yang dilakukan Musa, yaitu bahwa Allah tidak melakukan sesuatu menurut konsepsi atau ketegaran alamiah kita. Dalam hal ini Musa ditanggulangi dengan serius oleh Allah, dan hari ini kita memerlukan penanggulangan yang sama.
V. PENETAPAN ALLAH
A. DIPILIH OLEH ALLAH
Dalam 6:26-29 kita nampak penetapan Allah. Penetapan ini berhubungan dengan silsilah dalam 6:15-24. Untuk jangka waktu yang lama saya tidak bisa mengerti mengapa silsilah ini dimasukkan di sini. Meskipun Israel mempunyai dua belas putra, namun silsilah ini hanya menyebutkan Ruben, Simeon, dan Lewi, tiga orang putra pertama. Ini menunjukkan bahwa dalam catatan ini tidak ada niat untuk memberikan kepada kita silsilah yang lengkap. Tujuannya adalah untuk menunjukkan orang-orang yang dipilih Allah dari Yakub hingga Musa. Orang-orang pilihan ini meliputi Lewi, Kehat, Amran, dan Musa. Karena itu, sesungguhnya catatan ini bukanlah suatu silsilah, melainkan catatan dari seleksi Allah, pilihan Allah. Amran, salah seorang dari orang-orang pilihan Allah, adalah ayah Musa dan Harun. Ayat 25 mengatakan, “Itulah Harun dan Musa, yang diperintahkan TUHAN: ‘Bawalah orang Israel keluar dari tanah Mesir menurut pasukan mereka’”. Ini membuktikan bahwa Musa dan Harun tidak melayakkan diri sendiri (lancang), melainkan mereka dipilih oleh Allah. Mereka sudah diseleksi dan ditetapkan oleh Allah jauh sebelum mereka dilahirkan. Hal ini akan memberikan Musa jaminan dan kepercayaan bahwa apa saja yang Allah katakan kepadanya pasti akan digenapi.
Kita memerlukan jaminan yang sama hari ini. Jika kita memulai suatu pekerjaan yang bukan diprakarsai oleh Allah, kita harus menghentikan apa pun yang kita kerjakan. Pemulihan Tuhan ditetapkan oleh Allah; bukan kita yang memprakarsainya. Dalam pemulihan Tuhan tak ada tempat untuk tindakan melayakkan diri (kelancangan). Sewaktu kita mengemban kesaksian pemulihan Tuhan, janganlah kita menjadi lancang. Bahkan seharusnya kita hanya melakukan apa yang telah Tuhan pilih dan tetapkan.
B. DIAMANATI OLEH ALLAH
Ayat 27 dan 28 menyingkapkan bahwa Musa diamanati oleh Allah, “Pada waktu TUHAN (Yehova) berfirman kepada Musa di tanah Mesir, TUHAN berfirman kepadanya: ‘Akulah TUHAN; katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, segala yang Kufirmankan kepadamu.” Ayat 26 juga menunjukkan bahwa Musa dan Harun telah diamanati oleh Allah untuk membawa orang Israel keluar dari Mesir, “Merekalah yang berbicara kepada Firaun, raja Mesir, supaya mereka membawa orang Israel keluar dari Mesir. Itulah Musa dan Harun.”
Sama seperti Musa dan Harun diamanati, kita dalam pemulihan Tuhan juga telah diamanati. Allah telah mempercayakan kepada kita amanat untuk melaksanakan pemulihan-Nya hari ini.
C. MEWAKILI ALLAH
Musa juga mewakili Allah (7:1). Bila kita diamanati oleh seseorang, kita juga mewakili orang itu. Karena Musa diamanati oleh Allah, ia juga mewakili Allah. Dalam prin-sip yang sama, karena kita dalam pemulihan Tuhan telah diutus oleh Allah, kita mewakili Allah.
Berhati-hatilah ketika Anda menyentuh orang-orang yang mewakili Allah. Ada kemungkinan Anda menyentuh pemulihan Tuhan, tanpa mendatangkan faedah. Saya dapat bersaksi, dari pengalaman bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang menjamah gereja dalam pemulihan Tuhan secara negatif yang bisa terus menerima berkat. Karena mereka yang telah menerima amanat Allah adalah wakil Allah, maka menyentuh mereka dengan cara yang tidak tepat adalah perkara yang serius. Orang-orang yang pernah berkontak dengan gereja, tetapi kemudian menjadi negatif, saya tidak tahu siapa yang keadaan rohaninya masih tetap sama. Tanpa kecuali, semuanya telah kehilangan berkat rohani, dan mengalami kemunduran rohani. Ini menyatakan bahwa terlibat secara negatif terhadap orang-orang yang diamanati oleh Allah dan yang karenanya juga mewakili Allah, adalah perkara yang serius.
D. DIWAKILI OLEH HARUN
Di satu pihak, Musa mewakili Allah; di pihak lain, Musa diwakili oleh Harun (7:1-2). Perwakilan berbeda dengan penunjukan. Perbedaannya adalah perwakilan mengandung kekuasaan, sedangkan penunjukan tidak. Pengamanatan Allah selalu diikuti masalah kekuasaan. Kekuasaan ini berhubungan dengan mewakili Allah maupun diwakili oleh yang lain.
Tak seorang pun di antara kita yang menganggap diri sendiri layak beroleh kekuasaan. Kita semata-mata membiarkan kekuasaan terwujud dengan penetapan Tuhan dan pengamanatan Tuhan. Jika kita ingin menjadi seorang yang diutus hari ini, sudah tentu kita harus merupakan orang yang dipilih, dikuduskan, dan diamanati. Kemudian kita akan tahu bahwa kita adalah wakil Allah.
VI. TANGAN KUAT ALLAH SERTA
HUKUMAN-HUKUMAN-NYA YANG BERAT
Butir terakhir dalam pelatihan lebih lanjut Allah kepada Musa adalah menyangkut tangan kuat Allah dan hukuman-hukuman-Nya yang berat. Dalam 7:4 Yehova berkata kepada Musa, “Bilamana Firaun tidak mendengarkan kamu, maka Aku akan mendatangkan tangan-Ku kepada Mesir dan mengeluarkan pasukan-Ku, umat-Ku, orang Israel, dari tanah Mesir dengan hukuman-hukuman yang berat.” Dalam 5:24 Yehova telah memberi tahu Musa bahwa Musa akan melihat apa yang akan Ia lakukan kepada Firaun, “Sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya.”
Tanpa tangan yang kuat, perkataan itu sia-sia. Hal ini dapat dilihat dalam perundingan diplomatik antara bangsa-bangsa hari ini. Perundingan semacam ini tergantung kepada dukungan kekuatan militer. Dalam perundingan dengan Firaun, perkataan Musa didukung oleh tangan kuat Tuhan serta hukuman-hukuman-Nya yang berat. Tangan kuat Tuhan akan dibuktikan kepada Firaun bahwa Allah tak akan mengeluarkan perkataan yang sia-sia. Oleh tangan Tuhan, orang Mesir akan mengetahui bahwa Dia adalah Yehova. Seperti yang tertulis dalam 7:5: “Dan orang Mesir itu akan mengetahui bahwa Akulah Yehova, apabila Aku mengacungkan tangan-Ku terhadap Mesir”.
Karena Musa mengeluh kepada Tuhan, maka perlulah Tuhan berbicara kepada Musa mengenai tangan-Nya. Nampaknya seolah-olah Tuhan berkata, “Musa, Aku bukan cuma mempunyai mulut, tetapi juga tangan yang kuat. Pergi dan berbicaralah kepada Firaun. Aku akan mengeraskan ha-tinya sehingga tangan-Ku bisa ternyata. Katakanlah firman-Ku kepada Firaun. Tangan-Ku akan mendukung firman-Ku. Aku akan mengacungkan tangan-Ku untuk melakukan apa saja yang kaukatakan kepada Firaun atas nama-Ku.” Jadi, tangan Tuhan merupakan penegasan yang kuat bahwa Musa diutus oleh Allah.
Tahun demi tahun, kita nampak bahwa tangan Tuhan mendukung firman-Nya. Bila ada perlawanan terhadap fir-man Tuhan, akhirnya tangan-Nyalah yang ternyata. Allah tidak pernah berbicara dengan sia-sia. Firman-Nya selalu didukung oleh tangan-Nya yang kuat.
Firaun boleh saja melawan firman Tuhan, tetapi ia tak dapat melawan tangan Tuhan. Dalam berita-berita berikutnya kita akan melihat bahwa pertentangan Allah dengan Firaun menjadi semakin hebat hingga mencapai titik di mana Firaun mengusir orang-orang Israel. Karena tangan kuat Tuhan dan hukuman-hukuman-Nya yang berat mendukung firman-Nya, Firaun akhirnya terpaksa mengusir orang Israel keluar dari Mesir. Semoga kita semua mau mempelajari pelajaran tentang tangan Allah dan semua pelajaran dalam pelatihan lebih lanjut Allah kepada Musa.
?