TIGA TANDA
Telah kita lihat bahwa kisah panggilan terhadap Musa merupakan catatan yang paling lengkap bagi panggilan Allah dalam Alkitab. Ketika Musa pergi ke balik padang gurun dan berjumpa dengan Allah di sana, ia melihat tanda semak duri yang menyala tanpa dimakan api. Dalam berita ini kita akan melihat tiga tanda yang amat subyektif yang ada dalam pasal 4. Penting sekali kita nampak mengapa ketiga tanda subyektif ini disajikan. Panggilan Allah terhadap Musa tampaknya sudah rampung pada akhir pasal 3. Musa telah nampak tanda yang obyektif dari semak duri yang menyala, ia pun telah mendengar Allah berfirman kepadanya. Allah telah mewahyukan seluruh diri-Nya kepada Musa. Jadi, di pihak Allah, panggilan terhadap Musa sudah rampung. Namun di pihak Musa belum rampung. Keluaran 4:1 mengatakan, “Lalu sahut Musa: Bagaimana jika mereka tidak percaya kepada-ku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” Kalimat ini menyatakan bahwa meskipun Musa telah melihat tanda yang paling ajaib, bahkan telah mendengar suara Allah, namun ia tetap belum terangsang dan tergerak. Sebab itu, pasal 4 menyajikan tiga buah tanda, dan tanda-tanda ini merupakan bukti nyata yang menguatkan bahwa Musa benar-benar telah dipanggil oleh Allah. Sama prinsipnya dengan panggilan Allah terhadap orang-orang hari ini. Siapa yang menegaskan dirinya dipanggil oleh Allah, haruslah memiliki ciri-ciri tiga tanda yang subyektif ini.
Tuhan memperlihatkan kepada Musa tiga tanda, bukan dua, empat, atau angka-angka lain. Ini sungguh bermakna. Dalam Alkitab, angka tiga mengandung makna yang besar. Karena Allah itu Tritunggal, jadi angka tiga bersangkut-paut dengan ekonomi Allah, penyaluran Allah. Lukas 15 mencatat tiga perumpamaan, bertalian dengan Putra, Roh, dan Bapa. Tetapi dalam Keluaran 4 terdapat tiga tanda, menyangkut ular, kusta, dan darah.
Setiap pembaca mengetahui bahwa ular melambangkan Iblis. Dalam Kejadian 3 kita nampak ada Iblis, yaitu si ular yang licik. Ular dalam Keluaran 4 ialah ular yang di dalam Kejadian 3, oleh Kitab Wahyu disebut “si ular tua” (12:9; 20:2). Bagi orang yang dipanggil, hanya mengenal Allah tidaklah cukup; mereka harus pula mengenal si ular. Kita bukan hanya tahu bagaimana berhadapan dengan Allah, mengontak Allah, bersekutu dengan Allah, serta mengandalkan Allah; kita pun harus tahu menghadapi si ular.
Kusta dalam tanda kedua ialah kebusukan, kebobrokan, dan kenajisan daging di dalam dosa. Menurut Perjanjian Lama, setiap penderita kusta harus mengumumkan bahwa dirinya najis. Dosa yang dilambangkan oleh kusta bukanlah dosa yang di luar, melainkan dosa yang subyektif, dosa yang di dalam daging kita. Dari dosa ini timbul kebusukan, kebobrokan, dan kenajisan.
Tanda ketiga ialah air menjadi darah. Darah di sini melambangkan kematian yang didatangkan oleh dunia serta kenikmatannya. Jadi, darah dalam tanda ketiga bersangkutpaut dengan dunia. Ular, kusta, dan darah berhubungan berturut-turut dengan Iblis, dosa di dalam daging, dan kematian yang dibawakan oleh dunia. Orang yang dipanggil oleh Allah bukan hanya memerlukan tanda ajaib yang obyektif dalam semak duri yang menyala, tetapi juga harus ada tanda-tanda subyektif tentang ular, kusta, dan darah. Sebagai orang yang dipanggil, kita memerlukan pengalaman-pengalaman subyektif dan bukti-bukti subyektif, agar meyakinkan orang lain bahwa Allah benar-benar telah memanggil kita serta mengutus kita. Bukti-bukti ini adalah kekuatan untuk menghadapi Iblis, kekuatan untuk menanggulangi daging yang berdosa, dan kekuatan untuk menumpas kematian yang didatangkan oleh dunia. Seandainya ada orang tertentu datang kepada Anda sambil menyatakan dirinya telah diutus oleh Allah. Namun bila ia tidak tahu bagaimana menanggulangi Iblis, daging, dan dunia, maka janganlah percaya bahwa dia itu seorang utusan. Tanda api menyala pada semak duri bukanlah bukti yang cukup bagi seseorang yang telah dipanggil Allah. Seorang utusan harus bisa menanggulangi ular, kusta, dan darah.
Telah kita tunjukkan bahwa Kitab Keluaran adalah sebuah kitab gambar. Pasal 4 merupakan gambar yang sangat bagus! Dalam gambar-gambar itu kita nampak Iblis, daging yang berdosa, dan dunia kematian. Kalau kita tahu bagaimana menanggulangi hal-hal tersebut, barulah kita ini benar-benar utusan Allah. Kita semua mengerti makna dari ketiga tanda subyektif dalam pasal ini, dan memiliki pengalaman-pengalaman subyektif yang sedemikian ini amatlah penting.
I. TONGKAT MENJADI ULAR
A. TONGKAT MELAMBANGKAN APA YANG KITA SANDARI
Ketika Allah memanggil Musa, Musa mempunyai sebatang tongkat yang menjadi sandarannya. Boleh jadi ketika ia berbincang-bincang dengan Allah, Musa yang tua ini juga menyandarkan diri pada tongkat tersebut. Tongkatnya itu menjadi penopangnya. Jadi, tongkat melambangkan sandaran kita.
B. TONGKAT DILEMPAR KE TANAH SUPAYA TERBONGKAR DIA ADALAH ULAR
Musa tidak berani menerima panggilan Allah; ia berdalih, khawatir kalau bani Israel akan menolak dia dengan berkata bahwa TUHAN tidak menampakkan diri kepadanya. Maka Allah berkata kepada Musa mengenai tongkat itu, “‘Lemparkanlah itu ke tanah.’ Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya” (ayat 3). Ketika tongkat itu dilempar ke tanah, ular yang tersembunyi di sana segera tersingkap. Kalaupun tongkat itu tidak dilempar ke bawah, ular itu sudah ada di sana, hanya sangat tersembunyi. Alkitab mewahyukan bahwa ular selalu berusaha menyembunyikan dirinya di dalam, di belakang, atau di bawah sesuatu. Tongkat yang Musa sandari sebenarnya adalah ular, Iblis. Dalam pandangan Musa, tongkat itu hanyalah sebatang tongkat yang bisa ia sandari, namun dalam pandangan Allah, tongkat itu adalah ular yang bermaksud untuk menduduki manusia.
Segala sesuatu yang kita sandari adalah tongkat. Bila seorang saudara bersandar pada pekerjaannya, pekerjaan itu menjadi sebatang tongkat baginya. Namun bagi Allah, ular itu tersembunyi di dalam pekerjaan tersebut; sebab dengan bersembunyi di dalam pekerjaan itu, Iblis, si ular, mencoba menduduki saudara itu. Boleh jadi kita telah bersandar pada orang-orang atau benda-benda: istri atau suami kita, orang tua kita, anak-anak kita, kemampuan kita, pendidikan kita, tanah milik kita, rekening tabungan kita di bank. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa apa saja yang kita sandari telah menjadi ular yang menduduki kita. Hari ini Iblis sedang menyembunyikan dirinya di dalam tongkat sandaran manusia, untuk menduduki seluruh umat manusia.
Setiap orang yang dipanggil oleh Allah harus mengenal dengan tegas bahwa segala sesuatu yang kita sandari itu adalah tempat persembuyian ular. Boleh jadi lawan Allah, si penjajah manusia, bersembunyi dalam orang, perkara, atau benda yang kita sandari itu. Bertahun-tahun saya belajar bersandar kepada Tuhan dan tidak bersandar kepada tongkat yang mana pun.
Perhatikan, Allah tidak menyuruh Musa membuang tongkatnya. Ia menyuruh Musa melemparkannya ke tanah agar sifat dan rupa sesungguhnya bisa tersingkap. Titik berat di sini ialah apa saja tongkat kita suami atau istri kita, pendidikan kita, pekerjaan kita, kemampuan kita, rekening tabungan kita di bank perlu untuk sementara waktu meninggalkan tangan kita. Jika tongkat itu tetap tinggal di tangan kita dan kepalanya menengadah ke atas, ular itu takkan tersingkap. Tetapi bila tongkat itu kita lemparkan ke tanah, mata kita akan nampak sendiri bahwa tongkat itu adalah seekor ular. Keluaran 4:3 mengatakan bahwa ketika tongkatnya menjadi ular, “Musa lari meninggalkannya”. Tongkat itu telah dimiliki Musa bertahun-tahun lamanya, tentunya sangat disayang olehnya. Namun ketika dilemparkan ke tanah, tongkat itu tidak lagi terasa memikat, karena si ular yang selama ini tersembunyi di dalamnya itu tersingkap jelas.
C. PEGANG EKOR ULAR ITU,
MENJADILAH TONGKAT KEKUASAAN
Ayat 4 mengatakan, “Tetapi firman Tuhan kepada Musa: ‘Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya.’” Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya.” Tuhan menghendaki kita melemparkan tongkat kita ke tanah, bukan membuangnya. Janganlah membuang pendidikan Anda atau uang tabungan Anda, melainkan lemparkan mereka ke tanah. Setelah ular yang bersembunyi di dalamnya itu terbongkar, maka kita harus memegang “ekor”nya. Inilah cara terbaik dalam menanggulangi si ular. Jika Anda menangkap kepalanya, bisa-bisa Anda akan digigit; tetapi kalau Anda menangkap ekornya, tentu lenyaplah kekuatannya dan ia akan tergantung lunglai.
Gambaran Musa memegang ekor ular menunjukkan cara kita menanggulangi sesuatu itu seharusnya berkebalikan dengan orang dunia. Apa yang dikerjakan dan dilakukan oleh orang dunia adalah bagi diri sendiri. Namun semua perilaku kita seharusnya bagi Tuhan. Sebagai contoh, begitu orang dunia menikah, maka kehidupan pernikahan mereka itu hanya bagi diri mereka sendiri. Tetapi kehidupan pernikahan kita seharusnya bagi Tuhan. Sama prinsipnya, orang-orang dunia menempuh kuliah di perguruan tinggi bagi kepentingan dan kegemaran diri mereka; namun kaum muda dalam pemulihan Tuhan wajib rajin mengikuti kuliah di perguruan tinggi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan bagi Tuhan. Prinsip ini dapat diterapkan pada hubungan kita dengan setiap orang, setiap perkara, dan setiap benda. Semuanya seharusnya bagi Tuhan.
Jika kita memperoleh sesuatu atau melakukan sesuatu secara duniawi, berarti kita sudah memperoleh sesuatu atau melakukan sesuatu bagi diri kita sendiri. Jadi, tongkat kita itu kepala ularnya di atas dan ekornya di bawah. Tetapi jika kita memegang ekor ular, berarti kita menguasainya dengan cara yang berlawanan dengan dunia. Kita perlu memiliki kehidupan pernikahan yang wajar dan pendidikan yang bagus, namun jangan secara duniawi, melainkan seturut corak Tuhan. Cara Tuhan selalu membuat ular itu kehilangan kuasa, lemas, dan tak berdaya.
Pada tahun 1930, saya pernah mengunjungi sebuah universitas yang terkenal di China, terutama fakultas kedokterannya. Banyak saudara di dalam Tuhan yang menjadi mahasiswa kedokteran perguruan tinggi tersebut. Namun, setelah para saudara itu menikah, hampir semuanya menjauhi Tuhan, penyebab utama ialah istri-istri mereka. Saudara-saudara itu tidak tahu bagaimana memegang “ekor” kehidupan pernikahan mereka.
Alkitab tidak pernah menyuruh kita meninggalkan kehidupan insani kita. Sebaliknya, kita perlu memiliki kehidupan yang normal. Contohnya, Alkitab tidak melarang orang muda menempuh pendidikan yang baik. Hanya orang muda harus belajar memegang “ekor” pendidikan mereka. Orang muda juga perlu menikah, hanya jangan menangkap kepala ular, melainkan ekornya. Ini berarti mereka tidak seharusnya menikah menurut corak dunia, melainkan secara non duniawi, yaitu menurut corak yang bagi Allah. Jalan ini berlawanan dengan praktek yang lazimnya dipakai orang-orang duniawi. Para saudara yang telah menikah harus mencintai istri mereka, tetapi bukan secara duniawi, yaitu memegang kepala ular; melainkan secara non duniawi, yakni menangkap ekor ular. Dalam setiap aspek kehidupan insani kita, dari berbelanja sampai memotong rambut, kita harus memegang “ekor”nya.
Segala sesuatu mungkin saja menjadi tempat persembunyian si ular. Bahkan setiap bagian kecil dari kehidupan sehari-hari kita pun diintai oleh ular penjajah itu. Ia sudah siap menggigit orang yang memegang kepala ular, orang yang bukan menangkap ekor ular. Orang yang mengaku diutus oleh Tuhan harus mengenal bahwa si ular sedang bersembunyi di dalam setiap orang, perkara, dan benda. Lagi pula, dia harus tahu bagaimana melemparkan tempat persembunyian itu ke tanah dan juga harus tahu bagaimana menangkap “ekor”, sambil menanggulangi situasi tersebut.
Akhirnya, ular yang tertangkap ekornya akan menjadi sebatang tongkat kekuasaan (4:4, 17; Luk. 10:19). Ketika Musa memegang ekor ular, ular itu menjadi tongkat yang dengannya Musa bisa melakukan tanda-tanda mukjizat (4:17). Ini menyatakan bahwa dalam tangan Musa, tongkat yang telah berubah menjadilah tongkat kekuasaan. Asal saja kita ini memegang “ekor” setiap situasi, pastilah kita akan kuat dan berkuasa. Demikian, tongkat yang kita miliki bukan lagi tongkat alamiah, melainkan telah diubah. Posisi tongkat ini kini telah terbalik. Tongkat semacam inilah baru menjadi kekuasaan kita.
Hari ini banyak orang Kristen membicarakan kekuatan. Tetapi, semakin mereka memperbincangkan kekuatan, semakin tidak ada kekuatan. Mereka tidak berdaya menanggulangi ular yang tersembunyi itu. Kita para pelayan Kristus, baru bisa berkuasa bila memegangi “ekor” segala macam situasi. Contohnya, bila seorang saudara tahu bagaimana menangkap “ekor” perihal hidup bersama istrinya, maka dengan sendirinya ia akan memiliki kekuasaan. Amat disayangkan, saya mengenal banyak saudara yang baik, yang berbakat, dan bersyarat, namun mereka mempunyai kelemahan yang sama dan serius: mereka terlampau mengalah kepada istri mereka sehingga istri merekalah yang menjadi kepala. Akibat-nya, saudara-saudara ini menjadi tidak berdaya dan tidak berguna.
Ingin dipanggil Allah dan diutus oleh-Nya, kita harus belajar menghadapi suami, istri, atau anak kita, juga segala macam situasi, bukan secara biasa, umum, atau secara alamiah, melainkan melalui cara yang sama sekali berbeda pegang “ekornya”. Jika kita menghadapi seseorang atau suatu masalah secara alamiah, niscaya orang atau masalah itu akan menjadi tempat persembunyian ular.
Musa tidak menggunakan tongkatnya secara duniawi. Seandainya ia menggunakannya secara umum, si ular pasti malah bersembunyi di dalamnya. Tetapi setelah ia melemparkan tongkat itu ke bawah, ular yang bersembunyi tersingkapkan. Ini menunjukkan bahwa kita perlu sering melepaskan tangan kita dari situasi, sambil melihat apa akibatnya. Karena kita lepas tangan terhadap barang-barang yang menjadi sandaran kita, maka keadaan mereka yang sesungguhnya akan tersingkapkan. Kemudian kita akan berkata, “Ini bukan barang yang elok ini ular yang mengerikan.” Pada saat itulah Allah akan menyuruh kita menangkap ekor ular. Jika tongkat yang menjadi ular itu istri kita, kita harus kembali memungutnya dan mengasihinya dengan cara yang sama sekali baru; kita harus menangkap “ekor” dari seluruh keadaan.
Begitu Anda menikah, Anda tidak boleh meninggalkan kehidupan pernikahan. Orang yang berbuat demikian tidak berguna bagi perkara Tuhan. Anda harus mempertahankan kehidupan pernikahan, hanya saja bukan secara duniawi. Menikah dan bercerai secara duniawi memang mudah. Inilah sebabnya di negara Amerika Serikat banyak terjadi perceraian. Janganlah terhanyut oleh arus itu. Kita harus memegang “ekor” kehidupan pernikahan kita, serta mengendalikannya bagi Tuhan.
Tanda tongkat menjadi ular merupakan sebuah gambaran atas pengalaman yang sangat subyektif. Manusia, perkara, dan benda yang kita sandari akhirnya harus dilempar ke bawah, kemudian diambil kembali sesuai dengan firman Tuhan. Ketika kaum beriman muda dikecewakan oleh situasi tertentu, sering kali mereka memilih cara untuk meninggalkannya saja. Kita harus dengan kuat menganjuri mereka untuk tidak berbuat demikian. Mereka tidak sepatutnya meninggalkan atau membuang begitu saja, melainkan harus mempertahankan, namun bukan berdasarkan diri mereka atau bagi diri mereka, melainkan berdasarkan Tuhan dan bagi Tuhan. Jangan sekali-kali mengendalikan situasi dengan kemampuan alamiah Anda, melainkan dengan anugerah. Mengendalikan mereka dengan anugerah berarti memegang “ekor” mereka. Baiklah kita semua belajar menangani masalah bagi Tuhan dan dengan anugerah-Nya. Bila kita sudah mempelajari pelajaran ini, itulah tanda ajaib yang kuat, bukti yang kuat, bahwa kita telah dipanggil Allah dan diutus oleh-Nya. Sebagai utusan-Nya, kita tahu bagaimana menangani setiap situasi walaupun itu tempat persembu-nyian ular, kita pun tahu bagaimana menanggulangi si ular dengan menangkap “ekor”nya. Dengan demikian kita memiliki kekuasaan.
II. TANGAN KENA KUSTA
A. MEMASUKKAN TANGAN KE DALAM BAJU
Dalam ayat 6, Tuhan menyuruh Musa memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Boleh jadi Musa menduga begitu ia memasukkan tangannya ke dalam baju, dia akan menemukan mutiara, berlian, atau barang-barang berharga lainnya. Siapa tahu tangannya malah terkena kusta. Baju yang menutupi bagian dada dan perut menandakan apa adanya kita yang di dalam, sedangkan kusta menandakan dosa (Rm. 7:17-18). Ini menunjukkan bahwa selain harus mengenal Iblis, kita pun harus mengenal daging. Tongkat sandaran kita adalah ular, sedangkan daging adalah jelmaan dari kusta. Perlu kita ketahui bahwa di dalam daging kita, kita ini adalah penderita-penderita kusta. Dalam daging kita tidak ada yang baik, selain kusta melulu. Jika kita menjamah daging, kita akan menderita kusta.
Dalam ayat 2-6, Tuhan seolah berkata, “Musa, engkau minta bukti-bukti bahwa Aku mengutus engkau. Bukti yang pertama ialah engkau tahu bagaimana menanggulangi ular. Bukti lain ialah engkau mengenal bahwa dagingmu tidak lain penyakit kusta. Musa, letakkan tanganmu ke dalam bajumu dan lihat saja apa yang keluar dari dirimu.”
Ada pepatah yang mengatakan bahwa apabila seseorang menganggap dirinya baik, ia perlu bertanya kepada hatinya sendiri di larut malam, bagaimanakah sebenarnya dirinya itu. Kalau Anda berbuat demikian, niscaya Anda menemukan betapa keji dan jahatnya Anda ini. Boleh jadi ketika bersama dengan orang lain, Anda memegahkan kebaikan diri Anda. Tetapi di tengah malam yang sunyi, begitu Anda memeriksa lubuk hati sendiri, Anda akan nampak bahwa di dalam Anda tidak ada apa-apa, hanya ada kusta, hanya ada dosa.
Seseorang yang memegahkan kebaikan dirinya bukanlah orang yang dipanggil oleh Allah. Orang yang dipanggil tentu mengenal bahwa di dalam dirinya ada kusta. Setelah Musa melihat tanda bahwa tangannya terkena kusta, dia mengenal bahwa dagingnya adalah jelmaan penyakit kusta. Musa mungkin berkata, “Sebelum Tuhan menunjukkan tanda ini kepadaku, aku mengira diriku ini lumayan. Tetapi ketika Allah menyuruhku memasukkan tangan ke dalam bajuku lalu mengeluarkannya lagi, ternyata tanganku terkena kusta. Ini menunjukkan kepadaku bahwa dalam dagingku tidak ada yang lain selain kusta.”
Setiap orang yang dipakai oleh Tuhan dalam gereja hari ini, harus memiliki pengenalan yang sedemikian terhadap dagingnya. Mengenal daging secara subyektif sedemikian ini merupakan suatu bukti bahwa Tuhan telah memanggil dan mengutus kita. Sebagai orang yang dipanggil dan diutus, kita harus mempunyai tanda ini, yang menyatakan bahwa tidak ada yang baik di dalam daging kita. Kita semua terdiri dari penyakit kusta, yakni jelmaan kebusukan, kebobrokan, dan kenajisan. Jika Anda tidak percaya bahwa daging Anda itu demikian, maka saya anjurkan di keheningan larut malam, rabalah hati nurani Anda serta dengarkan apa jawabannya tentang diri Anda. Hati Anda akan menyatakan bahwa daging Anda tidak lain kusta belaka.
Orang yang diutus Allah harus mengenal daging sampai tahap ini. Ketika Yesaya dipanggil oleh Tuhan, ia berseru, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam” (Yes. 6:5). Bila kita pernah dijumpai Tuhan, pasti pertemuan itu akan menyingkapkan daging kita, sehingga kita akan tahu bahwa selain kusta, di dalam daging kita tidak ada apa-apa.
Belakangan ini kita sudah mendengar bahwa semua orang beriman bisa menjadi rasul-rasul dan nabi-nabi hari ini. Namun untuk menjadi karunia yang demikian di dalam Tubuh, kita harus mengenal bahwa daging kita itu tak lain jelmaan dari kebusukan, kebejatan, kenajisan, dan dosa. Daging kita adalah jelmaan dari dosa. Kesuksesan kita di luar dan kecakapan alamiah kita, tidak bisa membuat kita memenuhi syarat menjadi utusan. Kalau ingin memenuhi syarat, kita harus nampak bahwa dalam daging kita tidak ada yang baik.
B. DIBASUH KARENA
MELAKSANAKAN FIRMAN TUHAN
Dalam ayat 7 Tuhan berfirman kepada Musa, “Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu.” Musa “memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan setelah ditariknya keluar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya.” Ini menunjukkan bahwa tangan kusta Musa ditahirkan karena melaksanakan firman Tuhan. Melaksanakan firman Tuhan berarti taat kepada Tuhan. Ketidaktaatan kepada Tuhan merupakan unsur dasar dari dosa. Ketika kita melaksanakan firman Tuhan karena taat kepada Tuhan, niscaya kuasa pembasuhan-Nya akan menyertai kita, dan kita akan dibersihkan.
III. AIR MENJADI DARAH
Untuk tanda ketiga, Tuhan memerintahkan Musa, “mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu” (ayat 9). Sungai di sini adalah Sungai Nil, yang mengairi tanah Mesir. Air Sungai Nil mewakili suplai dan kenikmatan bumiah. Berdasarkan Alkitab, Mesir itu kaya akan makanan dan kaya akan kenikmatan oleh karena Sungai Nil. Ditinjau dari luar, air Sungai Nil mendatangkan suplai dan kenikmatan. Namun dalam pandangan Allah, itu adalah maut. Semua suplai, kenikmatan, dan hiburan dunia adalah maut. Untuk memahami ini, kita perlu mencurahkan air Sungai Nil ke atas tanah yang kering. Menurut Kejadian 1, tanah yang kering itu sumber yang menghasilkan hayat. Begitu kenikmatan dunia dan suplai bumi dituangkan ke atas tanah kering yang menghasilkan hayat, dengan spontan kematian yang dilambangkan oleh darah akan tersingkap. Jika Anda menyimpan air Sungai Nil itu ke dalam perigi, bejana, atau buyung, Anda akan tetap menganggap air ini sebagai sumber suplai dan kenikmatan. Namun bila Anda mencurahkannya ke tanah, dengan spontan kematian akan tersingkap. Jadi, tanda ketiga mewahyukan semua suplai bumi dan kenikmatan dunia tidak lain adalah maut. Semua olahraga dan hiburan yang mempesona orang-orang hari ini tak lain adalah berbagai bentuk maut. Suplai yang dunia sodorkan kepada kita juga adalah maut.
Air dunia sebenarnya bukanlah air, melainkan darah. Orang-orang dunia bukannya minum air, melainkan minum darah, yaitu maut. Dunia yang mereka nikmati itu adalah maut. Orang yang dipanggil harus mengenal apakah dunia itu. Bagi orang dunia, air Sungai Nil itu bagus sekali, namun bagi kita itu adalah darah. Orang yang dipanggil oleh Allah harus bisa memberi tahu umat-Nya supaya jangan tinggal di Mesir dan minum air Sungai Nil, tetapi keluar dari Mesir, dan masuk ke padang gurun untuk menyesap air yang mengalir dari batu karang yang terbelah.
Selain mengenal Iblis dan daging, kita pun perlu mengenal dunia. Dalam Perjanjian Baru, Iblis, daging, dan dunia telah berulang-ulang dibahas. Orang-orang yang dipanggil oleh Allah dan diutus oleh-Nya harus mengenal ular, kusta, dan darah; yaitu mengenal Iblis, daging, dan dunia. Menurut Perjanjian Baru, setan berlawanan dengan Kristus (1Yoh. 3:8); daging berlawanan dengan Roh Kudus (Gal. 5:17); dan dunia berlawanan dengan Bapa (1Yoh. 2:15). Sebab itu, Iblis, daging, dan dunia berlawanan dengan penyaluran Allah Tritunggal. Berhubung ada Iblis, daging, dan dunia, penyaluran Allah belum juga terwujud. Seperti halnya ekonomi Allah, yang terlihat dalam tiga perumpamaan pada Lukas 15, Putra datang mencari manusia yang telah jatuh dan Roh menerangi mereka agar membawa mereka kembali kepada Bapa. Tetapi si jahat bekerja melawan Putra, daging meronta-ronta melawan Roh Kudus, dunia menghalang-halangi orang berpaling kepada Bapa.
Orang yang diutus oleh Tuhan harus tahu bagaimana menangkap ular, bagaimana menanggulangi kusta, dan bagaimana menanggulangi dunia beserta suplai dan kenikmatannya. Kalau kita kekurangan syarat-syarat ini, berarti kita belum dipanggil oleh Allah dan karenanya belum bisa menjadi utusan-utusan-Nya. Di dalam orang-orang yang telah Allah panggil, Iblis, daging, dan dunia tidak ada kedudukan.
Fakta Keluaran 4 mencatat ketiga tanda ini merupakan bukti bahwa Alkitab adalah hembusan ilahi. Pengarang-pengarang di antara manusia takkan mampu menulis hal sedemikian. Dalam Keluaran 3 Allah memperlihatkan kepada Musa semak duri yang menyala tanpa termakan oleh api. Selanjutnya dalam pasal 4 Tuhan menampakkan kepada Musa tiga tanda ajaib yang subyektif agar ia mengenal Iblis, daging, dan dunia. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang dipanggil, mula-mula harus memiliki visi tentang semak duri yang menyala. Kemudian dia perlu beberapa pengalaman subyektif agar mengenal Iblis, daging, dan dunia.
Puji Tuhan atas tanda-tanda mukjizat bagi orang yang dipanggil dan diutus oleh Allah! Puji Tuhan atas gambar yang jelas dari tanda-tanda mukjizat dalam Keluaran 4! Belakangan ini banyak orang beriman ingin berguna di dalam tangan Tuhan. Namun, sebagaimana telah kita tunjukkan dalam berita ini, kalau ingin berguna di tangan Tuhan, kita harus mengenal ular, kusta, dan darah; yaitu kita harus tahu bagaimana menanggulangi Iblis, daging, dan dunia.