← Daftar isi Keluaran (1) · bab 7/15

SEMAK DURI YANG KORPORAT

Kita telah nampak bahwa semak duri dalam Keluaran 3 melambangkan Musa sebagai orang yang dipanggil oleh Allah. Dalam pandangan Allah, Musa adalah semak duri. Tidak ada orang yang menghargai semak duri, namun dia diterima oleh Allah, dan api kemuliaan Allah menyala di dalam dan di atasnya. Jadi, Musa adalah semak duri yang menyala-nyala dengan kemuliaan Allah.

Semak duri yang menyala dalam Keluaran 3 bukan hanya mengacu kepada Musa, tetapi juga kepada bani Israel sebagai kesatuan yang korporat. Umat Allah, yakni bani Israel, mencakup mereka yang lemah dan yang kuat. Musa hanyalah merupakan salah seorang di antara umat korporat Allah. Bagi Tuhan, semak duri yang menyala dalam pasal 3 itu bukan hanya satu orang, tetapi juga umat yang korporat. Beban saya dalam berita ini ialah menandaskan aspek korporat dari semak duri ini. Secara individual, kita semua adalah Musa-Musa hari ini. Namun kita pun merupakan bagian dari gereja sebagai semak duri yang korporat.

Tujuan Allah menanggulangi umat-Nya, bani Israel, adalah agar memperoleh sebuah tempat kediaman yang tepat. Ulangan 33:16 menyatakan Allah sebagai Sang yang berhuni di tengah-tengah semak duri. Perkataan ini dituliskan oleh Musa, menandakan bahwa Allah memiliki semak duri yang menyala itu sebagai rumah-Nya, tempat kediaman-Nya. Siapakah yang pernah mengira bahwa tempat tinggal Allah di dunia ini akan berupa semak duri?

Musa pasti tahu bahwa semak duri yang menyala yang ia lihat ketika Allah memanggil dia melambangkan dirinya. Dalam Ulangan 33, Musa menganggap dirinya sebagai semak duri, namun bagi Allah ia adalah “abdi Allah” (Ul. 33:1). Pada aspek individualnya, Musa adalah semak duri, dan pada aspek korporatnya, bani Israel adalah semak duri. Namun demikian, Allah pemberi berkat tinggal di dalam semak yang sedemikian ini. Tanpa Allah berhuni di dalam kita, tamatlah riwayat kita. Tanpa Dia, kita tidak lebih daripada semak duri biasa. Sekalipun kita ini orang-orang terpelajar atau kaum profesional yang sudah terlatih baik, kita tetap merupakan semak duri, sebab alamiah kita yang telah jatuh berkaitan dengan duri-duri dan kutuk.

Sehubungan dengan Allah sebagai Sang yang tinggal di dalam semak duri, hati Musa pasti penuh rasa syukur kepada Allah. Dalam 40 tahun hidupnya yang belakangan, Musa mengenal bahwa dia hanyalah semak duri. Tetapi, dia pun tahu bahwa Allah menyertai dia. Kita semua perlu mempunyai pemahaman yang serupa. Sering kali kita memiliki roh yang tepat terhadap Tuhan, niscaya kita tahu bahwa kita ini tak lain semak duri. Kita tahu, bahkan kebajikan alamiah kita, seperti kebaikan, kerendahan hati, kesabaran, dan lainnya adalah “duri-duri”. Adakalanya kita bahkan bersujud di hadapan Tuhan dan mengaku betapa kasihannya kita ini. Ketika Dia memberkati bani Israel, dengan sendirinya Musa memiliki perasaan yang sedemikian terhadap dirinya.

Sebuah nyanyian Injil terkenal mengatakan: “Aku inilah berdosa, namun diberi kurnia-Nya.” Perasaan Musa jauh lebih dalam, bahkan lebih lembut dan manis daripada ini, sebab ia mengenal bahwa dia adalah semak duri yang menyala oleh kemuliaan Allah. Hari ini, sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita bukan hanya orang-orang dosa yang diselamatkan oleh kurnia; kita pun semak duri yang menyala oleh api kemuliaan Allah. Musa mempunyai dua pemahaman ini, tentang dirinya dan tentang bani Israel sebagai umat korporat Allah. Dia paham sedalam-dalamnya bahwa dia secara pribadi dan bani Israel secara korporat, adalah semak duri.

I. DURI DAN NYALA API DALAM KEJADIAN 3

Kita perlu nampak bahwa Kejadian 3 berkaitan dengan Keluaran 3. Dalam kedua pasal ini kita menjumpai duri dan api. Duri dalam Kejadian 3 menunjukkan bahwa manusia berada di bawah kutukan (ayat 17-18), sedangkan nyala api menunjukkan bahwa manusia diusir dari hadapan Allah sebagai pohon hayat (ayat 22-24). Menurut Kejadian 3, duri-duri timbul dari kutukan yang diakibatkan oleh dosa. Jadi, duri-duri merupakan simbol bagi manusia yang telah jatuh ke bawah kutukan. Begitu kutukan diumumkan, sebilah pedang yang menyala-nyala ditempatkan di sebelah timur taman “untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan” (ayat 24). Jadi, dosa mendatangkan kutuk dan kutuk mendatangkan nyala api. Fungsi api dalam Kejadian 3 ialah memisahkan orang dosa dari pohon hayat, yaitu dari Allah sebagai sumber hayat.

Seandainya Alkitab berakhir pada Kejadian 3:24, niscaya situasi kita akan selama-lamanya tanpa harapan. Menurut Kejadian 1 dan 2, kita telah diciptakan khususnya untuk menerima Allah sebagai hayat. Manusia ciptaan Allah itu ditaruh di depan pohon hayat. Kemudian dosa masuk dalam pasal 3, sehingga manusia jatuh ke bawah kutukan dan api kekudusan Allah mencegah orang dosa yang terkutuk berkontak langsung dengan Allah sebagai pohon hayat.

II. DURI DAN NYALA API DALAM KELUARAN 3

Keadaan manusia dalam Keluaran 3 amat berbeda dengan yang dalam Kejadian 3. Dalam Keluaran 3 duri yang terkutuk menjadi bejana bagi Allah dan nyala api bersatu dengan semak duri. Melalui penebusan, yang dilambangkan oleh domba yang tersembelih dan dipersembahkan kepada Allah bagi manusia yang jatuh (Kej. 4:4), kutukan telah berlalu, sehingga nyala api bersatu dengan duri.

Realitas pada gambaran ini terlihat dalam Galatia 3:13-14. Ayat 13 mengatakan, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita.” Ini berarti melalui kematian Kristus di atas salib, kutukan telah disingkirkan. Ayat 14 melanjutkan, “Supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Jadi, menurut ayat-ayat ini, kutuk telah disingkirkan, dan Roh itu, api itu, telah dikaruniakan kepada kita.

Kisah Para Rasul 2:3 dan 4 menunjukkan bahwa Roh yang dicurahkan itu dilambangkan oleh lidah-lidah api. Pencurahan Roh sebagai api ini telah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 12:49: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu telah menyala!” Pada hari Pentakosta, Roh yang dijanjikan itu, yang dikaruniakan melalui penebusan Kristus yang telah mengangkut kutukan, tercurah atas diri murid-murid dalam bentuk api. Api ini tidak lagi menyekat kita dari Allah, malahan merupakan api lawatan Allah.

Ditinjau dari terang atas gambaran dalam Keluaran 3, kita nampak bahwa duri dan nyala api itu satu. Dalam Kejadian 3, manusia yang telah jatuh berada di bawah kutuk yang dilambangkan oleh duri. Nyala api di sana menjauhkan manusia yang telah jatuh dari Allah sebagai pohon hayat. Tetapi dalam Keluaran 3, semak duri yang bisa dipandang sebagai lambang bejana, menjadi satu dengan api. Dalam Kejadian 3, api menjauhkan manusia yang berada di bawah kutukan dari pohon hayat, dari Allah sebagai sumber hayat. Akan tetapi nyala api dalam Keluaran 3, mengunjungi semak duri serta tinggal di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa melalui penebusan Kristus Sang Allah sendiri, Sang kudus yang kekudusan-Nya mencegah manusia dari hadirat-Nya, kini dapat datang melawat kita, tinggal bersama kita, bahkan berhuni di batin kita. Haleluya, Kristus telah menyingkirkan kutuk dan telah melemparkan api Roh Kudus ke bumi! Kini kutuk telah disingkirkan, kita tak lagi dijauhkan dari Allah sebagai hayat. Puji Tuhan bahwa nyala api penghadang dalam Kejadian 3 telah menjadi nyala api lawatan dan tinggal di batin dalam Keluaran 3! Kini, duri yang tadinya terkutuk bisa menjadi tempat kediaman Allah.

Orang-orang yang telah bertahun-tahun menjadi Kristen adakalanya jatuh ke dalam pencobaan menganggap diri mereka lebih baik atau lebih kudus. Ketika Anda mengikuti Tuhan dan kemudian mengalami beberapa kesuksesan dalam hidup kristiani Anda, dengan diam-diam Anda mungkin menganggap diri Anda seorang “saleh” yang menonjol, yang lebih rohani daripada orang beriman lainnya. Namun, kita harus mengenal bahwa kita tetap semak yang penuh duri. Janganlah mengira diri Anda itu begitu mengagumkan dan jangan juga mengapresiasi terlalu tinggi mereka yang Anda kagumi. Kita semua tetap sebagai semak duri. Saya sangat paham terhadap fakta bahwa saya ini semak duri.

Jika kita ini seperti Musa, manusia milik Allah, kita akan memiliki perasaan ganda. Di satu pihak, kita tahu akan fakta bahwa kita adalah semak duri; di pihak lain, kita tahu bahwa kemuliaan Allah tinggal di dalam kita sebagai nyala api yang membara. Musa menjadi orang milik Allah, namun dia tetap memandang dirinya semak duri. Sama prinsipnya, kemuliaan Allah tinggal di antara bani Israel dan membuat mereka menjadi tempat kediaman-Nya yang mulia, tetapi mereka tetap adalah semak duri, bahkan semak duri yang korporat.

III. MUSA SEBAGAI SEMAK DURI INDIVIDUAL

Sebagai semak duri yang individual, Musa ditebus, dikuduskan, dan diubah. Mungkin ada yang bingung, apa alasannya kita mengatakan Musa diubah (ditransformasi). Meskipun istilah “ditransformasi” atau “diubah” tidak ditemukan dalam tulisan Musa, akan tetapi kitab-kitab tulisannya memperlihatkan fakta bahwa Musa mengalami pengubahan. Telah kita tunjukkan bahwa menurut Ulangan 33:1, Musa adalah manusia milik Allah. Tanpa pengubahan, mungkinkah orang yang begitu kuat dan aktif dalam hayat alamiahnya seperti Musa, bisa menjadi orang yang dimiliki serta dikuasai oleh Allah? Hanya melalui pengubahan baru ia bisa menjadi demikian.

Sebuah contoh mengenai pengubahan Musa ialah pengalamannya dengan Tuhan di puncak gunung. Setelah Musa bersama-sama Tuhan selama empat puluh hari di gunung, mukanya bercahaya, karena nyala api Allah yang kudus telah membakar di dalam dia. Musa seolah baja yang dimasukkan ke dalam api dan dibiarkan di sana hingga baja tersebut berpijar dengan api yang telah membakar ke dalam unsur hakikinya. Ketika Musa berada di puncak gunung, kemuliaan Allah membakar sampai ke dalam dirinya. Dan ketika dia turun dari gunung, mukanya bersinar. Jadi, “ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya” (Kel. 34:30). Bukankah itu tanda pengubahan? Inilah petunjuk yang tegas bahwa Musa telah diubah. Menurut latihan-latihannya di istana, Musa sudah mampu menjadi seorang ahli dalam semua pengetahuan Mesir. Namun karena ia telah ditebus, dipanggil, dikuduskan, dan diubah, ia menjadi manusia milik Allah.

Unsur-unsur atau tema-tema tertentu yang penting bisa ditelusuri melalui seluruh Alkitab. Mustahil kita bisa memahami Alkitab dengan memadai tanpa pengertian yang tepat atas masalah-masalah ini. Unsur-unsur penting ini meliputi penebusan, pengudusan, dan pengubahan. Musa telah ditebus, dikuduskan, dan diubah. Musa menjadi manusia milik Allah dan kita pun akan menjadi banyak manusia milik Allah. Berdasarkan wahyu dari Perjanjian Baru, sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita bahkan menjadi manusia-manusia-Allah, yaitu orang-orang yang bersatu dengan Allah Tritunggal dan berbaur dengan Dia. Harinya akan tiba di mana kita akan menjadi manusia-manusia-Allah di dalam realitas.

Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak menaruh perhatian kepada jumlah yang besar, melainkan kita menekankan pengalaman pengubahan yang sejati. Saya sungguh gembira karena kita berada di bawah nyala api ilahi, nyala api yang mengubah kita serta membuat kita berbeda sifat dengan orang duniawi. Karena unsur dan kadar Allah terbakar ke dalam sifat kita, kita menjadi manusia-Allah. Inilah makna dari menjadi semak duri yang menyala-nyala dalam pengertian individualnya. Menurut sifat kita, kita tetap adalah semak duri, tetapi menurut pembakaran Allah di dalam kita, kita adalah orang yang diubah. Di satu pihak, kita ini semak duri; di pihak lain, kita adalah manusia-Allah.

IV. ISRAEL SEBAGAI SEMAK DURI KORPORAT

Bani Israel adalah semak duri yang korporat. Sebagai semak duri yang sedemikian, mereka ditebus (13:14-16), dikuduskan (13:2), diubah, dan dibangun. Mungkin Anda merasa sulit untuk percaya bahwa bani Israel mengalami pengubahan. Sewaktu masih muda, saya pun merasa sulit untuk mempercayainya. Namun suatu peristiwa yang terjadi dalam sidang doa di Shanghai pada awal tahun 1940-an telah membantu saya, sehingga saya nampak umat Allah sebagaimana Ia memandang mereka. Dalam sidang itu seorang saudari sekerja yang berpengalaman sedang gundah oleh keadaan gereja yang tenggelam, ia menjerit kepada Tuhan bagi gereja. Ketika ia berdoa, ia mengeluh dan merintih atas kondisi gereja yang kasihan itu. Setelah saudari ini selesai berdoa, Saudara Watchman Nee mengucapkan puji syukurnya kepada Tuhan serta mengutarakan terima kasih kepada-Nya berhubung gereja tidak pernah lemah atau tenggelam, melainkan selalu membubung. Jemaat terkejut seketika. Kemudian Saudara Watchman Nee membantu kami untuk memahami makna nubuat Bileam mengenai bani Israel. Bileam diupahi oleh Balak untuk mengutuki orang Israel. Tetapi bukannya menyumpahi umat Allah, Bileam malahan memberkati mereka. Berbicara atas nama Allah, Bileam berkata, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Lebih lanjut, dalam Bilangan 24:5 Bileam berkata, “Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!” Menurut ayat-ayat ini, Allah tidak melihat kejahatan pada Israel. Sebaliknya, yang terlihat olehNya hanyalah kebaikan, kejujuran, dan keelokan. Begitu pula keadaan gereja hari ini.

Jangan mengatakan gereja tenggelam atau mati. Semakin Anda berkata demikian, Anda semakin menaruh diri Anda di bawah kutukan. Sebaliknya, bila Anda memuji Tuhan atas hidup gereja sambil mengatakan yang baik mengenai gereja, Anda akan meletakkan diri Anda di bawah berkat Allah. Selama bertahun-tahun saya dalam hidup gereja, saya tidak pernah menjumpai seorang pun yang berbicara negatif terhadap gereja yang diberkati Allah. Mereka yang telah mengatakan gereja itu miskin, tenggelam atau mati, malah berada di bawah kutukan. Siapa yang berbicara positif tentang gereja, mengumumkan gereja itu elok, gereja adalah rumah Allah, akan menerima berkat. Ini bukan sekadar doktrin; ini adalah satu kesaksian yang dapat dibuktikan oleh pengalaman-pengalaman kaum beriman.

Adakalanya saya kecewa terhadap gereja dan tidak berpikir dengan positif, Tuhan yang di batin segera memperingatkan saya agar waspada. Sertamerta saya mohon Tuhan membersihkan diri saya, dan saya mulai mengumumkan betapa indahnya gereja. Walaupun bisa saja gereja membuat saya susah, saya tetap mengasihi gereja. Semakin saya mengucapkan yang positif, saya semakin diberkati Allah.

Mana yang benar, kata-kata Anda atau firman Tuhan? Dalam kekekalan, firman Tuhan akan terbukti benar, sebab dalam kekekalan gereja akan menakjubkan, mulia, dan unggul. Semua gugatan musuh terhadap gereja itu bohong belaka. Situasi gereja yang kelihatan dari luar itu adalah bohong. Mengatakan gereja itu dingin atau mati atau tenggelam itu adalah bohong. Gereja itu membubung dan sangat hidup. Saya bersyukur atas perkataan Saudara Watchman Nee yang kuat mengenai nubuat Bileam. Kata-kata itu mengubah sepenuhnya konsepsi saya terhadap keadaan gereja sekarang ini. Sejak saya menerima kata-kata itu, saya selalu memandang gereja di dalam terang yang sama sekali berbeda.

Jangan memandang melampaui yang Tuhan pandang. Menurut perkataan Bileam dalam Kitab Bilangan, Tuhan tidak nampak kejahatan di dalam Yakub. Mengapa Anda bisa melihatnya? Apakah Anda lebih pintar atau lebih tajam daripada Allah? Alkitab menegaskan bahwa Tuhan tidak melihat kesukaran di dalam Israel. Tetapi Anda berkata bahwa Anda melihat kesukaran di dalam gereja. Manakah yang Anda percaya, pandangan Tuhan ataukah pandangan Anda? Jika kita berdiri pada penilaian Tuhan tentang gereja, kita akan terjaga dalam berkat dan bukannya jatuh ke dalam kutukan. Semoga kita semua berhati-hati dalam menghadapi gereja. Bani Israel bisa menjadi semak duri yang korporat dikarenakan mereka telah diubah dan dibangun. Allah percaya hal ini, kita pun harus setuju dengan Dia.Kemah Pertemuan menandakan bani Israel sebagai tempat kediaman Allah. Jangan sekali-kali menganggap Kemah Pertemuan itu sebagai sesuatu yang berbeda dari bani Israel. Sebenarnya tempat kediaman Allah adalah bani Israel. Kemah Pertemuan hanyalah sebuah lambang.

Setiap kali saya berbicara secara negatif mengenai gereja kepada orang-orang yang memimpin, setelah itu saya pasti merasa menyesal. Sebelum saya mengungkapkan kata-kata itu, saya berada dalam suasana surgawi, tetapi setelah itu, saya kehilangan kedamaian. Jika saya berusaha memaafkan diri dengan berkata bahwa saya bukan mengecam gereja, hanya membicarakan fakta yang ada, niscaya saya akan makin merasa gundah. Semakin memaafkan diri, saya semakin merasa bersalah. Sebab itu, saya bisa memberi kesaksian dari pengalaman bahwa mengkritik gereja bukanlah perkara yang sepele. Setiap kali kita menjamah gereja, kita harus menjamahnya secara positif, demikian kita akan menerima berkat.

Perjanjian Lama mewahyukan bahwa berulang kali Allah datang mencela bani Israel. Namun kalau orang-orang kafir menyerang umat Allah, cepat atau lambat, mereka akan menderita kerugian. Dalam pandangan-Nya, bani Israel itu telah ditebus, dikuduskan, diubah, dan dibangun, bahkan Allah mendapatkan tempat kediaman di antara mereka. Kita semua perlu nampak ini dan percaya ini.

Dengan prinsip yang sama, kita pun harus percaya bahwa gereja hari ini adalah indah. Berhati-hatilah atas pandangan alamiah Anda. Jika Allah tidak nampak kedosaan atau pelanggaran di dalam gereja, mengapa Anda bisa melihatnya? Ketika Allah membelaskasihani, maka belas kasihan-Nya itu sangat limpah. Walaupun bani Israel melakukan banyak kejahatan, Allah tetap bisa berkata bahwa Ia tidak melihat kejahatan pada Israel. Demikian pula halnya gereja hari ini. Seperti halnya bani Israel, gereja adalah semak duri korporat.

Menurut alamiah insan kita, di dalam gereja kita mempunyai banyak kelemahan, kesalahan, kegagalan, dan kekalahan. Namun demikian, kita perlu bersyukur kepada Tuhan bahwa sebagai gereja kita telah diubah dan dibangun. Bukan hanya Allah setuju dengan ini, malahan musuh Allah, Iblis, harus mengakuinya juga.

Sebagai semak duri korporat, gereja mengalami pengubahan, tetapi gereja sebagai semak duri, itu tidak berubah. Bagaimanakah kita bisa mengatakan bahwa sesuatu itu diubah tanpa berubah? Coba renungkan semak duri yang menyala dalam Keluaran 3. Api menyala di dalam dan di atasnya, sedangkan semak tersebut tidak berubah. Akan tetapi ia sudah mengalami pengubahan melalui nyala api.

Boleh jadi Anda heran, atas dasar apa kita mengatakan bahwa kita ini pemulihan Tuhan. Kita harus mengakui bahwa kita ini banyak durinya, mungkin lebih banyak duri daripada “semak-semak” lainnya. Tetapi meskipun kita ini penuh duri, kita tak dapat menyangkal bahwa api ilahi sedang menyala di dalam kita. “Semak-semak” lain mungkin sedikit durinya, namun mereka tidak memiliki api. Jadi, pertanda pemulihan Tuhan ialah nyala api ini. Yang membuat semak duri korporat dalam pemulihan Tuhan berbeda dengan semua semak duri lainnya ialah pembakaran dari nyala api ini. Hanya semak duri inilah yang menyala. Setelah Kemah didirikan, Kemah itu dipenuhi dengan kemuliaan TUHAN (40:34-35). Pada malam hari, awan kemuliaan ditampilkan oleh api (Bil. 9:15-16). Api menyala-nyala di atas Kemah Pertemuan menandakan bahwa bani Israel adalah semak duri yang menyala-nyala dengan api.

Memang mudah bagi mata manusia melihat kekurangan-kekurangan dalam gereja. Khususnya diarahkan kepada penatua-penatua, saudara-saudara yang memimpin. Begitu seorang saudara menjadi penatua, dia segera menjadi sasaran penelitian kaum saleh yang matanya cepat menemukan kekurangan-kekurangan. Tetapi mata Allah bukan demikian. Ingatlah kembali perkataan Bileam, “Tidak ada ditengok kepincangan (kejahatan) di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel.” Sebagaimana dinubuatkan Bileam, seolah Allah berkata, “Bani Israel sangatlah elok di dalam pandangan-Ku.” Kalau seseorang mengatakan bahwa Israel hanya berupa semak duri, niscaya Allah akan menyahut bahwa bagi Dia mereka itu bukan semak duri biasa, melainkan umat yang telah diubah dan dibangun menjadi tempat kediaman-Nya.

Ketika Musa menyebut Allah sebagai Sang yang tinggal dalam semak duri, sukarlah dibedakan apakah itu ditujukan kepada semak duri yang ia lihat 40 tahun yang lalu ataukah kepada dirinya sebagai semak duri individual dan bani Israel sebagai semak duri korporat. Saya sendiri yakin bahwa perkataan ini melibatkan semuanya. Di satu pihak, kita masih tetap berupa semak duri; di pihak lain, melalui penebusan, pengudusan, pengubahan, dan pembangunan, kita menjadi tempat kediaman Allah. Haleluya, hari ini Allah mempunyai tempat tinggal di bumi! Iblis boleh saja berkata kepada Allah, “Umat-Mu hanyalah semak duri belaka.” Namun Allah akan menjawab, “Iblis, menyingkirlah ke belakang. Tidakkah kau tahu bahwa orang-orang ini sudah ditebus, dikuduskan, dan diubah? Mereka pun sudah dibangun, dan kini mereka adalah satu. Aku pun tinggal di antara mereka. Kau berani mengatakan mereka itu hanya semak duri saja, tetapi Aku menyatakan mereka sebagai tempat kediaman-Ku.”

Gereja hari ini adalah tempat kediaman Allah. Boleh saja Anda menganggap gereja tidak menarik, tetapi bagi Allah gereja sangatlah menarik. Boleh saja Anda mengkritik gereja atas kekurangan-kekurangannya, tetapi Allah me-negaskan bahwa Dia tidak nampak kejahatan atau kesukaran pada umat-Nya. Mengenai umat-Nya, Allah bersabda, “Aku tidak menemukan kesalahan pada mereka. Aku ada di tengah-tengah mereka, dan mereka itulah tempat kediaman-Ku di bumi.” Inilah gereja yang sebagai semak duri korporat.

V. DALAM KEBANGKITAN

Allah yang di dalam semak duri ini, Sang yang memanggil Musa ini, adalah Allah kebangkitan. Hal ini dibuk-tikan oleh firman Tuhan terhadap orang-orang Saduki dalam Markus 12:18-27. Ketika orang-orang Saduki berdebat dengan Dia tentang kebangkitan, Tuhan berkata, “Juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana Allah berfirman kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” Di sini, Allah menunjukkan kepada orang-orang Saduki yang tidak percaya bagian firman tentang semak duri. Sebutan “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” menyiratkan Allah kebangkitan. Abraham, Ishak, dan Yakub, semuanya telah mati. Jika Allah disebut Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, dan jika memang tidak ada kebangkitan, maka Allah akan menjadi Allah orang mati. Tetapi Allah bukanlah Allah orang mati, Dia itu Allah orang hidup, Allah kebangkitan.

Fakta Allah kebangkitan tinggal di dalam semak duri menunjukkan bahwa semak duri korporat yang menjadi tempat kediaman Allah hari ini, adalah perkara yang sepenuhnya di dalam kebangkitan. Bisanya Sang kudus mengunjungi kita dan tinggal di antara kita dikarenakan Ia di dalam kebangkitan. Dia adalah Allah kebangkitan, dan kita, umat-Nya di dalam kebangkitan.

Sebagai orang-orang yang masih di dalam daging, mungkin kita sukar mempercayai atau memahami bahwa kita ini di dalam kebangkitan. Jika saya menanyai Anda, apakah Anda di dalam hayat alamiah atau di dalam hayat kebangkitan, Anda mungkin akan menjawab bahwa sebagian besar Anda di dalam hayat alamiah. Akan tetapi berkata demikian berarti Anda tidak beriman. Kita harus kuat dalam iman dan berani mengumumkan bahwa kita berada di dalam kebangkitan, sebab Allah kita bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Dalam diri saya, saya ada di dalam daging dan di dalam hayat alamiah, tetapi di dalam Allah, saya ada di dalam kebangkitan. Hari ini kita menikmati Allah sebagai Allah kebangkitan. Di dalam kebangkitan Dia adalah Sang Aku yang agung. Kita semua harus berkata dalam iman bahwa kita di dalam kebangkitan. Semakin kita mengucapkan ini dalam iman, hal ini semakin menjadi pengalaman kita.

Apa yang kita katakan ini adalah apa yang kita alami. Kapan kita mengatakan bahwa kita ini di dalam daging, nis-caya kita di dalam daging. Sebaliknya, kapan kita mengatakan bahwa kita ini di dalam kebangkitan, niscaya kita di dalam kebangkitan. Karena Allah yang tinggal di batin kita adalah Allah kebangkitan, kita mempunyai dasar untuk mengumumkan bahwa kita ada di dalam kebangkitan. Di sini, di dalam kebangkitan, semak duri bisa diberkati menjadi tempat kediaman Allah.

Kita tahu bahwa kita ini hanyalah semak duri. Akan tetapi Sang Aku yang agung, Allah kebangkitan, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, tinggal di dalam kita, dan kita menikmati Dia. Secara individual kita adalah semak duri, dan secara keseluruhan kita ini semak duri korporat yang menyala dengan Allah kebangkitan. Inilah gambaran hidup gereja hari ini.