PANGGILAN ALLAH TERHADAP ORANG YANG DIPERSIAPKAN (2)
Dalam berita terdahulu kita telah menyinggung empat aspek panggilan Allah terhadap orang yang disiapkan, yakni: motivasi panggilan Allah, waktu panggilan Allah, tempat panggilan Allah, dan Sang pemanggil. Dalam berita ini kita akan membahas tujuan panggilan Allah dan orang yang dipanggil.
V. TUJUAN PANGGILAN ALLAH
A. MELEPASKAN ORANG ISRAEL KELUAR DARI KEZALIMAN MESIR
Baik dari segi negatif maupun segi positifnya, tujuan Allah memanggil Musa sangatlah besar. Pada segi negatifnya, Allah memanggil dia untuk melepaskan orang-orang Israel keluar dari kezaliman Mesir. Dalam Keluaran 3:8 Tuhan berfirman, “Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir.” Pada saat Allah memanggil Musa, Mesir merupakan negeri terkemuka di bumi, dan Firaun memiliki kekuasaan yang mutlak. Di sini ada seorang laki-laki yang telah mencapai usia 80 tahun, orang ini telah menghabiskan 40 tahunnya di padang belantara. Sanggupkah orang semacam ini menyelamatkan orang Israel dari kekuasaan kelaliman Firaun? Bagi Musa itu memang kelihatan mustahil. Namun justru inilah tujuan Allah memanggil dia pada segi negatifnya.
B. MEMBAWA ORANG ISRAEL KELUAR DARI
MESIR, TANAH PERBUDAKAN, DAN MEMASUKI KANAAN,
TANAH YANG MENGALIRKAN AIR SUSU DAN MADU
Tujuan panggilan Allah bukan hanya membawa bani Israel keluar dari Mesir, tanah perbudakan, tetapi juga membawa mereka masuk ke Kanaan, tanah yang “berlimpah-limpah susu dan madunya” (3:8, 10, 17). Menurut pandangan manusia, segi positif panggilan Allah lebih mustahil daripada segi negatifnya. Hal sedemikian bagaikan mimpi. Tetapi justru inilah yang Allah suruh Musa lakukan, walaupun 40 tahun sebelumnya ia telah membelakangi pendidikan yang tertinggi pada masanya dan sejak saat itu telah menggembalakan kambing domba di padang gurun.
Di sini, bangsa Mesir mewakili kerajaan kegelapan, sedangkan Firaun mewakili Satan, Iblis. Bagaimanakah umat Allah bisa dilepaskan dari genggaman kuasa jahat seperti ini, dan diselamatkan dari kerajaan kegelapan? Hari ini, hal ini telah tercapai melalui penginjilan yang membawa orang-orang kepada karunia keselamatan. Jangan mengira memberitakan Injil dan membawa orang beroleh selamat adalah perkara yang mudah. Memimpin satu orang terlepas dari tangan Iblis dan keluar dari kerajaan kegelapan merupakan perkara yang luar biasa. Inilah alasannya wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru memberi nilai yang sangat tinggi terhadap penginjilan. Paulus mengatakan bahwa Injil adalah kuat kuasa Allah (Rm. 1:16).
Tujuan panggilan Allah adalah perkara yang sangat bermakna. Menurut perlambangan, membawa orang Israel memasuki tanah permai berarti membawa orang ke dalam Kristus, Persona almuhit yang dilambangkan oleh tanah Kanaan. Hari ini Kristus adalah tanah permai yang mengalirkan air susu dan madu.
Oleh hikmat-Nya, Allah telah melukiskan kelimpahan tanah permai dengan ungkapan “mengalirkan air susu dan madu”. Air susu maupun madu, kedua-duanya merupakan produksi kombinasi antara hayat nabati dengan hayat hewani. Air susu berasal dari ternak, yang makan rumput. Hayat hewani yang memproduksi air susu atas suplai hayat nabati. Jadi, air susu adalah produk dari campuran antara dua jenis hayat. Prinsip ini juga berlaku pada madu. Madu sangat berkaitan dengan hayat tetumbuhan. Kebanyakan madu diperoleh dari bunga-bunga dan pepohonan. Sudah tentu mengandung juga sebagian hayat hewani yakni tawon, si binatang kecil. Maka, dalam produksi madu, dua macam hayat berpadu. Kedua jenis hayat ini berpadu sehingga menghasilkan madu.
Susu dan madu menandakan kekayaan Kristus, kekayaan yang berasal dari dua aspek hayat Kristus. Sungguhpun Kristus itu satu Persona, Dia memiliki hayat penebusan, yang dilambangkan oleh hayat hewani, dan hayat melahirkan, yang dilambangkan oleh hayat nabati. Di satu pihak, Kristus itu Domba Allah untuk menebus kita; di pihak lain, Dia itu seketul roti jelai untuk menyuplai kita. Kedua macam hayat ini merupakan makanan hari raya Paskah. Di dalam hari raya Paskah terdapat domba dan roti tak beragi dengan sayur pahit. Hayat-hayat ini dikombinasikan untuk dinikmati umat tebusan Allah. Akan tetapi, tujuan panggilan Allah bukanlah untuk memberi umat-Nya sedikit kenikmatan atas hayat hewani dan hayat nabati di Mesir, melainkan membawa mereka ke dalam tanah yang luas yang berlimpah-limpah dengan air susu dan madu. Adakah kepastian pada Anda bahwa dalam hidup gereja hari ini Anda sedang menikmati Kristus sebagai tanah permai? Saya bisa bersaksi bahwa hari ke hari saya menikmati Kristus sebagai tanah yang luas yang mengalirkan air susu dan madu.
Siapakah yang memenuhi syarat untuk membawa umat Allah keluar dari tanah Mesir serta memasuki tanah yang ajaib ini? Sebelum Musa selesai disiapkan oleh kedaulatan Allah, tidak ada orang yang sanggup merampungkan ini. Bahkan sebelum Musa mencapai usia 40 tahun, Musa sudah tahu jelas bahwa bangsanya, bani Israel, berada dalam perhambaan dan menderita aniaya. Menyadari hal ini, dia mungkin memutuskan untuk mempelajari semua yang diperlukan bagi perlengkapan dirinya dalam hal menyelamatkan bangsanya. Namun, Musa mungkin kurang jelas bahwa sasarannya bukan hanya melepaskan umat Allah keluar dari Mesir, tetapi juga membawa mereka memasuki tanah permai. Setelah bani Israel dibawa keluar dari Mesir, mereka memerlukan sasaran, yakni tempat tujuan. Walaupun Musa tidak mutlak jelas akan sasaran, dia tetap mengharapkan berbuat sesuatu bagi kepentingan bangsanya. Dia “menolak disebut anak putri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (Ibr. 11:24-25). Pada usia 40 tahun, Musa menganggap dirinya sudah matang, memenuhi syarat dan cukup diperlengkapi untuk menyelamatkan mereka. Padahal, ia belum mampu melakukan sesuatu apa pun. Di dalam dirinya belum ada kekuatan untuk menyelamatkan bangsanya. Begitu situasi mengancam, dia segera melarikan diri.
VI. ORANG YANG DIPANGGIL
A. SETELAH DITANGGULANGI
DAN DISIAPKAN SELAMA 40 TAHUN
Dengan menghabiskan 40 tahun yang lain lagi, Allah membereskan laki-laki yang cakap namun telah kecewa ini sampai pada akhirnya. Tidaklah mudah mengakhiri orang yang sedemikian. Perlu waktu 40 tahun untuk membuat Musa menyadari bahwa ia tak memenuhi syarat untuk melepaskan umat Allah dari Mesir serta membawa mereka memasuki tanah permai.
Pada tahun-tahun permulaan di padang gurun, Musa bisa saja menggerutu atas penolakan sesamanya, orang Ibrani yang tak mau mengakuinya sebagai penolong bani Israel. Boleh jadi Musa berkata, “Alangkah butanya dia! Ia tak menyadari kalau aku ini yang akan menyelamatkan mereka. Gara-gara dia, aku terpaksa melarikan diri. Tidak ada di antara orang Israel yang sanggup melakukan apa yang telah kulakukan ini. Tetapi kini segalanya telah hancur.” Saya yakin bahwa tahun lepas tahun, sikap Musa mulai berubah; sampai-sampai akhirnya dia tak lagi menyalahkan orang lain atas situasinya.
Mendidik seseorang itu mudah, namun mengakhiri seseorang sangatlah sulit. Setelah tahun-tahun yang ditempuhnya di padang gurun, Musa telah mutlak terbereskan. Ketika Allah menampakkan diri di dalam semak duri yang menyala, Musa merasa dirinya tak berguna sama sekali kecuali mati. Akan tetapi, pada saat Musa memikirkan dirinya sudah tamat, Allah datang memanggil dia.
Allah menanggulangi Musa dan menyiapkannya selama 40 tahun (Kis. 7:30). Melalui fakta bahwa dia harus tinggal di padang gurun setelah ia dibesarkan di dalam istana raja, kita tahu bahwa Musa mengalami penanggulangan. Andaikata seseorang yang dibesarkan di Amerika Serikat, tiba-tiba dipaksa untuk tinggal di negeri yang sangat terbelakang, maka hari demi hari orang tersebut tentu mempunyai perasaan bahwa ia sedang ditanggulangi. Tak perlu diragukan, Musa tentu memiliki perasaan ini di padang gurun ketika ia bekerja sebagai gembala yang memelihara kambing domba yang bukan miliknya, melainkan milik bapak mertuanya. Melalui penanggulangan sedemikian ini, Musa berangsur-angsur disiapkan.
B. HILANG KEPERCAYAAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Setelah menempuh tahun-tahun di padang gurun, Musa sudah kehilangan semua kepercayaan terhadap diri sendiri (3:11, lihat 2:11-13). Sewaktu Allah memanggil dia, Musa menjawab, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah” (4:10). Mengapa dalam Kisah Para Rasul 7:22 Stefanus mengatakan bahwa Musa “berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya”? Ketika Musa berusia 40, dia berkuasa dalam perkataan dan perbuatan. Ini berarti bahwa dia itu fasih lidah. Tetapi 40 tahun berikutnya, ia kehilangan kepercayaan terhadap dirinya; ia menilai dirinya adalah orang yang berat mulut. Catatan dalam Keluaran 4 dan Kisah Para Rasul 7 kedua-duanya benar. Catatan dalam Kisah Para Rasul 7 berlaku bagi Musa ketika berusia 40, sedangkan catatan dalam Keluaran 4 berlaku pada saat ia berusia 80, yaitu setelah ia ditanggulangi dan setelah kekuatan alamiahnya dikupas habis-habisan.
Jarang sekali orang Kristen yang mengetahui sungguh-sungguh cara Allah menanggulangi orang. Saya pernah men-jumpai sejumlah orang beriman yang amat yakin bahwa mereka telah menerima beban dari Allah untuk melakukan sesuatu bagi Dia. Namun, tanpa terkecuali, begitu mereka mulai berbuat sesuatu, Allah turun tangan menanggulangi mereka. Kapan saja kita begitu yakin bahwa kita telah dipanggil dan telah diberi beban, haruslah kita menantikan penanggulangan Allah. Boleh jadi kita mengharapkan orang lain memihak kita, ternyata mereka malah melawan kita. Karena kecewa akibat penolakan itu, boleh jadi kita lalu memutuskan untuk melepaskan sama sekali beban tersebut. Tetapi mustahil kita bisa melepaskan beban apa pun yang benar-benar berasal dari Allah. Jika Anda bisa meletakkan suatu beban, ini menunjukkan bahwa hal itu tadinya bukan berasal dari Allah. Kapan saja kita telah diberi beban oleh Tuhan, tak peduli berapa banyak yang menentang kita, mustahil kita bisa mengesampingkan beban itu. Boleh saja kita terlampau dikecewakan, beban itu akan tetap ada pada kita. Cepat atau lambat, itu akan bangkit kembali di dalam kita.
Tak diragukan, ketika Musa berumur 40 tahun, sebuah beban timbul dalam dirinya dari Tuhan. Saya yakin, orang tua Musa, terutama ibunya, telah mempersembahkan dia kepada Allah. Dan sudah pasti Musa sudi mengemban beban Allah. Akan tetapi, ia terlalu yakin kalau ia memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melaksanakan beban ini, maka Allah mengatur agar ia ditolak. Musa tentunya sangat kecewa. Tahun demi tahun Allah bekerja di atas Musa, bukan untuk menyingkirkan beban tersebut, melainkan untuk mengakhiri kemampuan alamiah Musa serta membuat dia tidak percaya akan dirinya sendiri.
Problem kita ialah: jika kita diberi beban oleh Tuhan, kita lalu ingin melaksanakannya dengan kekuatan alamiah kita. Namun jika kekuatan alamiah kita ditanggulangi, serta-merta kita ingin mengesampingkan beban itu. Kita tidak memisahkan beban Allah dengan kekuatan alamiah kita. Kita suka menggabungkan kedua hal ini, namun Allah hendak memisahkan mereka, yakni mempertahankan beban serta mengesampingkan kekuatan alamiah kita. Allah telah memakai 40 tahun untuk menanggulangi kekuatan alamiah Musa. Dalam prinsipnya, Dia akan berbuat hal yang sama terhadap kita.
Sewaktu Allah memanggil Musa, Musa menjawab bahwa dirinya berat mulut. Musa seolah berkata, “Tuhan, Engkau telah menanggulangi aku, kini aku tidak sanggup lagi menerima beban-Mu. Aku ingin mengundurkan diri. Aku bukanlah orang yang tepat untuk disuruh menghadapi Firaun dengan maksud melepaskan orang Israel dari tangannya. Aku ini berat mulut. Mana bisa berbicara dengan Firaun?” Dalam mengucapkan kata-kata ini, sikap Musa tulus dan serius. Namun Allah memarahi dia (4:14). Ini menandakan ada masalah di pihak Musa. Allah hendak “menawarkan pekerjaan” kepada Musa, tetapi Musa menolak tawaran itu. Ketika Musa tawar-menawar dengan Tuhan, Allah mengetahui apa isi hatinya. Dalam batin Musa kira-kira berkata, “Tuhan, 40 tahun yang lalu aku mencoba sedapatku untuk menolong orang Israel, Engkau tidak membuatku berhasil. Aku ditentang sehingga harus melarikan diri ke padang gurun ini, di mana aku telah menderita selama 40 tahun. Aku telah lupa akan segala sesuatu yang kuketahui untuk menghadapi Firaun. Ketika aku memenuhi syarat, Engkau malah memecatku. Sekarang, aku tidak memenuhi syarat dan tidak cakap, Engkau ingin memakaiku.” Secara diam-diam boleh jadi Musa menyalahkan Tuhan. Dan inilah mungkin alasannya Allah tidak senang kepadanya.
Baik Musa maupun Allah, keduanya mempunyai sesuatu yang tidak diutarakan. Batin Tuhan mungkin berkata, “Musa, Aku tak memerlukan engkau melakukan apa-apa. Tidakkah kaulihat semak duri di sana? Yang menyala-nyala dengan api, namun tak sampai terbakar. Aku hanya menghendaki engkau mengekspresikan Aku saja. Musa, janganlah menolak beban ini. Terimalah, tetapi jangan melaksanakannya menurut kemampuan dan kekuatanmu. Berhubung engkau sudah memandang dirimu siap untuk mati, maka sekarang Aku dapat memakai engkau. Musa, janganlah tolak Aku. Aku tak bisa memakaimu menurut konsepsi alamiahmu. Aku akan memakaimu dengan cara-Ku, sama seperti semak duri yang menyala-nyala tanpa dihanguskan.”
Tidaklah mudah melakukan sesuatu bagi Allah tanpa menggunakan kekuatan atau kemampuan alamiah kita sendiri. Bertahun-tahun saya telah mempelajari pelajaran ini, terutama melalui penderitaan dan kegagalan. Sering orang berpendirian bahwa jika mereka diminta melakukan sesuatu, mereka harus dibiarkan melakukannya dengan cara mereka sendiri, tanpa campur tangan maupun nasihat dari orang lain. Sampai-sampai penatua-penatua dalam gereja pun adakalanya mempunyai sikap yang demikian. Perasaan kita mungkin demikian, “Bila Anda menghendaki aku mengerjakan hal ini, maka silakan berdiri di pinggir dan biarkan aku mengerjakannya sendiri.” Akan tetapi, ketika Allah memanggil kita untuk melakukan sesuatu, Ia menghendaki kita melaksanakan itu, namun bukan berdasarkan diri kita. Ketika Ia memanggil kita, Allah seolah berkata, “Ya, Aku menghendaki engkau melakukan hal ini, tetapi Aku menghendaki engkau melakukannya berdasarkan Aku, bukan berdasarkan dirimu.” Sering kali masalah kita ialah bila kita tak diperbolehkan melakukan hal tertentu seturut diri kita, lalu kita menolak untuk melakukan hal tersebut. Sikap yang sedemikian ini merupakan penghalang atau kerugian besar bagi pekerjaan pemulihan Tuhan.
Banyak orang beriman paham kalau kita memerlukan hidup gereja, namun oleh karena mereka telah dikecewakan, mereka dengan terpaksa menghadiri sidang-sidang. Mereka seperti Musa yang telah merasa kecewa di padang gurun, yang telah ditanggulangi oleh Allah sehingga kehilangan percaya dirinya. Akan tetapi dia masih tetap mau mengemban tugas dari Tuhan. Musa telah ditugaskan Allah sebelum berusia 40 tahun. Meskipun demikian, Musa harus belajar bekerja sama dengan Allah tanpa menggunakan kemampuan dan kekuatan alamiahnya. Panggilan Allah takkan tiba sebelum Musa kehilangan semua kepercayaan pada dirinya sen-diri. Demikian pula prinsip Allah menanggulangi kita. Ketika kita tidak lagi percaya diri, Ia datang memanggil kita.
C. MENGENAL KETIDAKMAMPUANNYA
Musa juga harus mengenal ketidakmampuannya (4:10-13). Ia menyadari sepenuhnya bahwa berdasarkan dirinya, dia bukanlah orang yang tepat untuk menjawab panggilan Allah. Mungkin sekali selama 40 tahun di padang gurun, ia bahkan mengalami kegagalan dalam menggembalakan kambing domba. Boleh jadi pengaturan Allah menciptakan situasi keliling tertentu yang tak dapat diatasi oleh Musa. Semuanya ini sengaja dirancang untuk membantu Musa mengenal ketidak mampuannya.
D. MEMANDANG DIRINYA HANYA PATUT MATI
Pada saat Allah memanggil Musa, Musa menganggap dirinya tak berguna apa-apa kecuali mati. Ingat, sewaktu Allah menampakkan diri kepada Musa dalam pasal 3, Musa sudah menginjak usia yang ke-80. Dalam Mazmur 90 yang ditulisnya, Musa berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” (ayat 10). Ini menandakan bahwa pada usia 80, Musa menganggap dirinya sudah siap untuk mati. Begitu Allah memanggil Musa, mungkin ia berkata dalam hati, “Tuhan, mengapa tak memakai aku ketika aku masih berumur 40? Yaitu saat aku mampu, lincah dan segar. Kini aku sudah menjelang mati. Sudah berumur 80 tahun, dan saat kematianku sudah dekat. Namun Engkau malah datang dan memintaku melakukan sesuatu. Rupa-rupanya Engkau telah datang pada saat yang salah. Tuhan, aku tidak lagi mampu atau berguna. Aku hanyalah orang tua yang layak mati.” Inilah perasaan Musa tentang dirinya saat Allah mendatangi dan memanggil dia untuk melepaskan orang Israel dari Mesir.
Pada tahun 1950, saya pernah menyampaikan berita mengenai tema ini kepada kaum muda di Manila. Hari esok-nya, mereka mulai berpura-pura dirinya seolah sudah lanjut usia dan akan meninggal. Meskipun kebanyakan dari mereka masih belasan tahun, namun mereka bertingkah seolah berusia 80 tahun. Tetapi, perilaku itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Jika kita ini berumur, ya memang berumur; dan jika kita ini masih muda, ya masih muda. Tidak ada gunanya berpura-pura atau bersandiwara. Kita hanya bisa menjadi apa adanya kita ini. Jika Anda seperti Musa yang memukul orang Mesir itu, itulah diri Anda. Dan jika Anda seperti Musa di saat berusia 80, maka itulah diri Anda. Suatu hari, kita semua akan mencapai titik di mana kita nampak diri kita ini hanya cocok dimatikan. Setiap orang yang dipanggil oleh Tuhan pasti akan melewati sejangka waktu di mana dia kehilangan kepercayaannya, mengenal ketidakmampuannya, dan menganggap dirinya hanya cocok untuk mati. Akhirnya, kita akan memiliki pengenalan akan diri kita, yang juga dimiliki oleh Musa pada usianya ke-80.
E. DITUGASKAN SEBAGAI UTUSAN, BUKAN PENGUTUS
Justru pada saat Musa menganggap dirinya siap untuk mati, Allah datang menugaskan dia sebagai seorang utusan (3:10, 15). Allah itulah Sang pengutus, Pemrakarsa, dan Musa adalah utusan yang melaksanakan maksud-maksud Sang pengutus. Guna menegaskan hal ini, istilah “utus” ini digunakan berulang-ulang dalam pasal 3 dan 4. Dalam panggilan-Nya terhadap Musa, Allah seakan berkata, “Musa, Aku selaku Tuhan, mengutus engkau. Engkau bukanlah pengutus atau pemrakarsanya. Engkau adalah utusan yang melaksanakan kehendak-Ku.” Dalam berita berikut kita akan nampak bahwa ketika Musa menghadap Firaun, dia tidak berbuat apa-apa berdasarkan dirinya. Sebaliknya, ia bertindak sebagai utusan Tuhan, melaksanakan apa yang Allah perintahkan.
Menjadi utusan berarti tidak melakukan apa-apa berdasarkan diri sendiri. Sebaliknya, hanya melaksanakan kehendak orang yang mengutus. Menjadi utusan itu sungguh diberkati, dan bisa membawa orang yang diutus itu ke dalam perhentian sepenuhnya. Untuk menjadi utusan, kita harus melewati banyak pelatihan dan pendisiplinan. Sering saya mengutus orang-orang melaksanakan tugas tertentu bagi saya. Meskipun mereka mengatakan, mereka telah jelas tentang apa yang saya inginkan mereka perbuat, akhirnya mereka tetap melakukannya menurut diri mereka. Itu menandakan menjadi seorang utusan memerlukan pelatihan.
F. SEMAK DURI YANG MENYALA TANPA TERBAKAR API
Sebelum Allah berbicara kepada Musa, Ia terlebih dulu menunjukkan kepadanya pemandangan semak duri yang menyala. Dia “menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri” (ayat 2); semak duri menyala oleh api tanpa terbakar oleh api. Setelah nampak semak duri yang menyala-nyala ini, Musa berkata, “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu.” (ayat 3). Semak duri mewakili Musa sendiri. Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang dipanggil oleh Allah harus mengenal bahwa dirinya tak lain hanyalah semak duri, di dalamnya ada nyala api, dan api ini tidak lain adalah Allah sendiri. Allah memang berhasrat menyala di dalam dan di atas kita, namun Dia tak mau membakar kita; yaitu Dia tidak ingin memakai kita sebagai bahan bakar.
Menurut Kejadian 3, duri melambangkan kutukan yang diakibatkan oleh dosa. Ini menunjukkan bahwa sebagai orang yang dipanggil oleh Allah, Musa adalah orang dosa yang di bawah kutukan Allah. Musa merupakan semak duri, bukan pohon aras dari Libanon.
Api menyala-nyala di dalam semak duri melambangkan pernyataan kekudusan Allah. Kejadian 3:24 yang menyebutkan nyala api untuk kali pertama dalam Alkitab, mencatat “pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.” Api mulai muncul setelah manusia jatuh lantaran makan pohon pengetahuan akan baik dan jahat. Nyala api ini menjauhkan manusia dari pohon hayat, bahkan menjaga pohon hayat jangan sampai tersentuh manusia. Dalam Keluaran 3, istilah api disebutkan kembali. Api di sini tidak menjauhkan manusia dari apa pun, sebaliknya memperlihatkan bahwa kemuliaan kekudusan Allah harus menyala-nyala di dalam dan di atas diri Musa, walaupun ia adalah semak duri, orang dosa di bawah kutukan Allah. Bagaimana mungkin kekudusan Allah menyala di dalam kita? Ini hanya mungkin melalui penebusan Allah, yang telah memenuhi tuntutan-tuntutan kekudusan Allah. Itulah sebabnya kekudusan Allah hari ini tidak menghalangi kita menuju pohon hayat, sebaliknya menyala-nyala di dalam kita, meskipun tadinya kita adalah orang-orang dosa yang di bawah kutukan Allah. Api kudus kini esa dengan orang dosa yang dikutuk dan bahkan menyala-nyala di atasnya.
Fakta bahwa semak duri menyala tetapi tidak hangus menunjukkan bahwa kemuliaan kekudusan Allah harus membara di dalam kita, namun kita tidak seharusnya hangus. Jika seorang hamba Tuhan hangus terbakar, berarti ia sedang menggunakan energinya sendiri dalam melakukan sesuatu bagi Allah. Allah tidak ingin memakai hayat alamiah kita sebagai bahan bakar. Dia hanya menghendaki pembakaran dengan diri-Nya sebagai bahan bakar. Kita hanyalah semak duri yang di dalamnya terdapat nyala api ilahi.
Saya yakin bahwa Musa tidak pernah melupakan penglihatan akan semak duri yang menyala itu. Ingatan terhadap visi ini pasti bekerja di dalamnya dan terus-menerus mengingatkan dia agar jangan menggunakan kekuatan atau kemampuan alamiahnya. Melalui tanda semak duri yang menyala, Allah memberi kesan kepada Musa bahwa dia itu tidak lain sebuah bejana, sebuah saluran, yang melaluinya Allah terekspresikan. Tidaklah mudah belajar bahwa kita hanyalah semak duri untuk mengekspresikan Allah. Banyak tahun saya terus belajar satu pelajaran: bekerja bagi Allah tanpa menggunakan hayat alamiah sebagai bahan bakar, kecuali membiarkan Allah membakar di dalam kita.
Dalam Markus 12:26 Tuhan Yesus menyinggung semak belukar dalam Keluaran 3:2. Dalam terjemahannya, Darby menambah kata “bagian tentang” di depan kata “semak belukar”; sedangkan American Standar Version menambahkan kata “pada tempat mengenai”. Catatan tentang semak duri yang menyala merupakan peringatan dan kesaksian yang tak terlupakan bagi orang-orang yang dipanggil Allah, yang memberi kesaksian atas fakta bahwa kita ini bukan apa-apa selain semak duri.
Belakangan ini kita telah nampak bahwa semua orang beriman bisa menjadi rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Akan tetapi, untuk menunaikan fungsi karunia-karunia sedemikian terhadap Tubuh Kristus, terlebih dulu kita harus sebagai semak duri yang menyala, sama seperti Musa, yang tidak memiliki kepercayaan atas diri sendiri, tidak bergairah bagi Allah menurut kekuatan alamiah.
Sejak Allah memanggil Musa, Musa tak lagi memiliki kepercayaan kepada dirinya sendiri. Ketika orang-orang lain memberontak melawan dia, dia tidaklah berdebat dengan mereka; dia pergi ke hadapan Allah, sujud di hadirat-Nya. Dengan berbuat demikian, Musa menunjukkan bahwa dia adalah semak duri yang terbakar. Begitu Musa sujud di hadapan Allah, Allah menampakkan diri sebagai nyala api, mengekspresikan diri-Nya dari dalam Musa yang adalah semak duri.
Semoga catatan tentang semak duri ini berkesan dalam pada kita, sehingga kita takkan pernah melupakannya. Di dalam diri kita, kita ini bukanlah apa-apa; hanya semak duri. Namun Allah masih tetap menghargai kita dan ingin mengekspresikan diri-Nya sebagai nyala api dari dalam kita. Kita harus menghargai pembakaran-Nya tanpa menaruh kepercayaan pada apa adanya kita menurut manusia alamiah. Manusia alamiah kita beserta bakat, kekuatan, dan kecakapannya harus diakhiri dan dilupakan. Kecakapan kita dan kekuatan kita tak berarti sama sekali. Apa yang bisa diperbuat oleh semak duri? Nihil. Mungkin Anda menganggap diri Anda mampu, namun akhirnya Anda akan mengakui bahwa Anda hanyalah semak duri yang tidak berguna. Kita semua harus memiliki pandangan yang sedemikian terhadap diri kita. Syukur kepada Allah bahwa Ia mengunjungi kita, tinggal bersama kita, dan membakar kita. Meskipun nyala ilahi membakar di dalam dan di atas kita, tetapi kita sendiri tidak hangus.
Setelah Allah memanggil Musa dan mengutus dia kepada Firaun, maka bukan lagi Musa, melainkan Allah sendiri yang melakukan segala sesuatunya dan yang dimuliakan. Musa tidak punya senjata apa-apa, dia hanya memiliki sebatang tongkat. Dengan tongkat itu ia menghadap Firaun menurut pesan Tuhan, dan Allah yang melakukan segalanya. Sebab itulah kemuliaan bukan dinyatakan untuk Musa, melainkan untuk Allah. Di dalam Musa dan di atas Musa, kemuliaan Allah dinyatakan.
Kita semua harus menjadi orang terpanggil seperti Musa. Cepat atau lambat, kita semua akan nampak visi yang Musa lihat dalam Keluaran 3, yakni visi semak duri yang menyala tanpa dihanguskan. Visi ini perlu dimeteraikan atas kita, agar setiap kali kita menyentuh pekerjaan Allah atau pelayanan gereja, kita teringat bahwa kita tak lebih daripada semak duri belaka. Saatnya akan tiba, kita semua akan memahami hal ini.