PANGGILAN ALLAH TERHADAP ORANG YANG DIPERSIAPKAN (1)
Dalam Keluaran 1 kita nampak orang Israel diperbudak, dalam pasal 2 kita nampak Allah mempersiapkan seorang penyelamat. Dalam berita ini kita memasuki Keluaran 3, kita akan nampak panggilan Allah terhadap orang yang dipersiapkan.
I. MOTIVASI PANGGILAN ALLAH
Motivasi dari panggilan Allah adalah seruan orang Israel (2:23-25; 3:7, 9). Keluaran 3:7 mengatakan, “Dan TUHAN berfirman: ‘Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.’” Allah bukan hanya mendengar seruan mereka, Dia pun mengunjungi mereka di tempat mereka tersiksa. Dia benar-benar mengetahui situasi mereka, ingin segera menolong mereka.
II. WAKTU PANGGILAN ALLAH
Meski Allah ingin menyelamatkan orang Israel dari perbudakan, namun Dia juga harus menunggu sampai Musa dipersiapkan sepenuhnya. Pasal-pasal dari Kitab Keluaran ini menampakkan betapa Allah itu panjang sabar. Bahkan sebelum Musa dilahirkan, orang Israel sudah menderita di Mesir. Tetapi Allah masih harus menunggu paling sedikit delapan puluh tahun. Sabar itu memang mudah apabila Anda tidak punya kekuatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu guna menghadapi situasi. Dalam hal ini, Anda tidak ada pilihan kecuali menunggu. Namun bagi orang yang cakap dan mampu, tentu sulit menunggu dengan sabar. Sudah tentu, Allah sanggup menyelamatkan orang Israel; kekuatan-Nya lebih daripada cukup. Namun, Dia tetap menunggu dengan sabar.
Adakalanya kita merasa lelah akan kesabaran Allah sehingga bertanya, “Berapa lama, Tuhan? Adakah Engkau mendengar doa kami? Di manakah Engkau, ya Tuhan? Ti-dakkah Engkau memperhatikan kami? Kapan Engkau baru memperhatikan kami? Kapan Engkau baru mau berbuat sesuatu bagi kami? Sepertinya di alam semesta ini tidak ada Allah.” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dinyatakan berulang-ulang dalam Kitab Mazmur, dikarenakan pemazmur sama seperti kita.
Sungguh baik jika kita merasa lelah akan kesabaran Allah, sebab setelah kita merasa lelah, kita akan beristirahat. Kita mungkin menjadi sedemikian lelah sehingga kita berhenti berdoa. Kita tahu bahwa Allah itu sejati dan nyata, dan Ia mempunyai waktu-Nya sendiri. Karena itu, kita harus belajar menyerahkan semua perkara kepada-Nya. Kemudian kita akan beristirahat.
Setelah melewati usia 40 tahun, Musa tidak sanggup lagi menunggu lebih lama untuk membebaskan orang-orang Israel. Dia telah menerima pendidikan yang paling tinggi, serta berkuasa dalam perkataan maupun perbuatan (Kis. 7:22). Menurut penilaiannya sendiri, dia mengira dirinya telah memenuhi syarat dan siap bertindak atas nama dan untuk rakyatnya. Tetapi Allah mengesampingkan Musa untuk 40 tahun yang lain, sampai ia benar-benar dipersiapkan sepenuhnya menurut standar Allah. Di sini kita nampak kesabaran Allah.
Apa perlunya Allah menunggu 80 tahun ini? Tidak seorang pun di antara kita yang rela menunggu selama itu. Tentunya Allah ingin datang selekasnya, namun di antara orang-orang Israel tidak ada seorang pun yang bisa Ia datangi. Jadi, Allah terpaksa harus menunggu sampai Musa dilahirkan. Empat puluh tahun kemudian Musa muncul dan telah dewasa, tetapi Allah tetap masih harus menunggu berhubung Musa terlalu alamiah. Allah harus menunggu karena belum ada orang yang siap.
Di sini kita nampak satu prinsip. Dalam setiap zaman Allah berhasrat melakukan sesuatu. Masalahnya bukan terletak di pihak Dia, melainkan selalu terletak di pihak umat-Nya. Masalahnya selalu ialah: Di manakah orang yang siap menerima panggilan Allah? Pada zaman kita ini, Allah juga ingin mengerjakan hal-hal tertentu. Tetapi siapakah yang siap bagi panggilan-Nya? Sembilan belas abad lebih yang lalu Tuhan Yesus berkata bahwa Dia akan datang segera (Why. 22:7). Tetapi Dia masih belum juga datang. Jika kita bertanya kepada Tuhan mengapa kedatangan-Nya kembali itu tertunda selama ini, pastilah Dia akan menjawab, “Di manakah orang-orang yang siap bagi kedatangan-Ku kembali? Aku akan datang, asal saja Aku melihat bilangan yang cukup itu telah siap. Aku memang ingin sekali kembali, namun harus ada sesuatu bagi-Ku untuk kembali.”
Dalam Kitab Keluaran Allah tidak berdaya datang selama Musa masih kanak-kanak atau masih mengandalkan kekuatan dan kemampuan alamiahnya. Allah terpaksa harus menunggu sampai Musa berusia 80 tahun. Setelah Musa dipersiapkan, Allah datang untuk memanggil dia. Orang Israel berseru karena tindasan politik, penyiksaan, dan tekanan, namun Allah harus tetap menunggu sampai Musa dipersiapkan. Sama prinsipnya, Tuhan terus menunda kedatangan-Nya kembali karena umat-Nya belum cukup siap bagi kembali-Nya.
Dalam Keluaran 2-3, kita nampak umat Allah berseru kepada-Nya, dan Allah Sang rahmani, penuh anugerah dan kasih, berhasrat menolong mereka, tetapi pertumbuhan Musa terlalu lambat. Seruan orang Israel sangat mendesak dan hasrat Allah sangat besar, tetapi pertumbuhan Musa sangat lamban. Sama dengan situasi hari ini. Banyak orang saleh mengeluh serta mendambakan kembalinya Tuhan, dan Tuhan pun rindu datang kembali. Namun, di manakah orang-orang yang telah disiapkan? Sebab itu, jangan mengeluh kepada Tuhan atas situasi hari ini, kita harus membuat diri sendiri bertumbuh dalam hayat.
Ketika Musa dikesampingkan oleh kedaulatan Allah, tentunya ia merasa sangat kecewa dan kehilangan semua harapan. Karena kehilangan harapan, ia puas untuk menjadi gembala yang menggembalakan kawanan domba di tanah Midian. Orang yang terdidik di istana raja, kini terpaksa menempuh hidup sebagai seorang gembala di padang gurun. Tahun berganti tahun, ia kehilangan segala sesuatunya keyakinannya, masa depannya, kesenangannya, dan sasarannya. Akhirnya, Musa mencapai batas di mana dia tidak lagi memikirkan bahwa dia adalah orang yang akan dipakai oleh Allah guna membebaskan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir. Boleh jadi Musa berkata kepada dirinya, “Aku harus memelihara kawanan domba ini, namun kawanan domba ini pun bukanlah milikku, melainkan milik bapak mertuaku. Aku tidak punya kekaisaran atau kerajaan. Tidak ada sesuatu apa pun yang ditinggalkan untukku kecuali bekerja bagi nafkah keluargaku. Perhatianku kini ialah mencarikan rumput yang segar dan air minum bagi kawanan domba.” Tetapi pada suatu hari, ketika Musa telah diproses seluruhnya, Allah menampakkan diri kepadanya serta memanggilnya. Pada usia 80, Allah memandang Musa telah siap dan memenuhi syarat, dan pada saat yang tepat Allah mendatangi dia.
Catatan mengenai panggilan Allah terhadap Musa lebih panjang daripada catatan panggilan-Nya terhadap yang lainnya dalam Alkitab. Panggilan-Nya terhadap Abraham itu dituliskan dengan singkat, demikian pula terhadap Ishak. Sama halnya dengan panggilan terhadap Petrus dan Saulus yang berasal dari Tarsus. Tetapi panggilan terhadap Musa dituliskan panjang dan rinci. Dalam kisah ini kita menemukan seluruh butir mendasar mengenai panggilan Allah. Jadi, bila kita ingin memahami makna sepenuhnya panggilan Allah, kita harus memperhatikan betul-betul panggilan Allah terhadap Musa dalam Keluaran 3.
Dalam sejarah, Musa merupakan hamba Allah pertama yang lengkap, memenuhi syarat, dan disempurnakan oleh Allah. Nuh hanya dipakai Allah untuk membangun bahtera, tetapi dia bukanlah hamba semacam Musa. Bahkan Abraham, bapa iman, tidaklah sesempurna Musa. Karena Musa adalah hamba Allah pertama yang memenuhi syarat sepenuhnya dalam Alkitab, maka panggilan Allah terhadap Musa merupakan model standar panggilan-Nya terhadap semua hamba-Nya. Dalam prinsipnya, kita semua perlu menerima panggilan seperti Musa.
III. TEMPAT PANGGILAN ALLAH
A. DI BALIK PADANG GURUN
Keluaran 3:1 mengatakan, “Adapun Musa, ia biasa meng-gembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.” Pada suatu hari Musa menggiring kambing domba ke balik gurun (Tl.). Ini menunjukkan bahwa kita bisa dipanggil hanya ketika kita berada di balik situasi kita, tidak pernah terjadi di saat kita berada di bagian depan. Saya yakin bahwa Musa membawa kambing domba ke bagian belakang padang gurun itu untuk mencari padang rumput yang terbaik. Dia mungkin tidak puas akan tempat-tempat yang sudah biasa dan menginginkan tempat yang baru. Karena itu, dia pergi ke bagian belakang.
Bila kita mau menerima panggilan Allah, kita pun harus berada di tempat yang tepat, yaitu di balik situasi kita. Jika Anda seorang guru, Allah takkan memanggil Anda di sebelah depan profesi Anda sebagai pengajar. Anda harus ada di sebelah belakang. Sama prinsipnya, jika Anda seorang pedagang, Anda harus pergi ke sebelah belakang usaha Anda, agar dipanggil Allah.
Berada di sebelah belakang berarti kita tidak puas akan situasi kita sekarang ini. Bertahun-tahun Musa menggembalakan kambing domba di bagian depan padang gurun. Tetapi suatu hari, karena jemu dan tidak puas, dia memutuskan untuk pergi ke bagian belakang untuk melihat di sana ada apa. Bila Anda tidak puas dengan jabatan atau pernikahan Anda, rasa tidak puas ini akan menggiring Anda pergi ke bagian belakang. Setiap orang yang telah dipanggil oleh Allah bisa bersaksi bahwa dipanggil Allah di bagian belakang.
Dalam panggilan terhadap Musa, siapa mendatangi siapa? Musa yang datang kepada Allah atau Allah yang datang kepada Musa? Jawaban saya ialah kedua-duanya itu berjalan sehingga akhirnya mereka bertemu pada tempat tertentu. Allah menempuh perjalanan-Nya dari langit, sedangkan Musa menempuh perjalanannya dari tempat di mana dia hidup. Jadi, sulit dikatakan siapa yang mendatangi siapa. Menurut pengalaman kita, suatu hari kita datang ke suatu tempat, dan di sanalah kita bertemu dengan Allah.
B. GUNUNG ALLAH
Ketika Musa pergi ke balik padang gurun, dia “sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.” Sering kali bagian belakang situasi kita ternyata adalah gunung Allah. Tetapi Musa tidak tahu bahwa gunung Allah berada di balik padang gurun. Ketika Musa perlahan-lahan menggiring kambing dombanya ke gunung Allah, Allah justru sedang menunggunya di sana.
C. TANAH YANG KUDUS
Dalam ayat 5 Allah bersabda kepada Musa, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” “Tanah yang kudus” dalam ayat ini mengacu kepada daerah yang bebas sentuhan manusia. Ini menunjukkan bahwa panggilan Allah terjadi di tempat yang bebas dari campur tangan manusia. Panggilan Allah selalu ditujukan kepada orang yang di tanah perawan, tanah yang hanya disentuh oleh Allah. Ini berarti, setiap panggilan yang sejati datang ke dalam wilayah di mana tidak ada manipulasi atau opini manusia. Bila kita ingin dipanggil oleh Allah, kita harus berada di tempat yang sepenuhnya disediakan bagi Dia.
D. DI TENGAH-TENGAH SEMAK DURI
Di atas tanah kudus ini terdapat semak duri. Ayat 2 mengatakan, “Lalu malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.” Semak duri melambangkan Musa sendiri. Fakta tentang Allah memanggil dari semak duri menyatakan bahwa tempat panggilan Allah adalah di dalam diri kita. Allah tidak memanggil kita dari surga; Dia memanggil kita dari dalam kita. Mungkin ada yang berpikir, apakah prinsip ini berlaku juga dalam kasus Saulus yang berasal dari Tarsus. Pada mulanya Saulus dipanggil Tuhan dari surga, tetapi akhirnya panggilan ini menjadi sesuatu yang di dalam Saulus. Tuhan yang memanggilnya masuk ke dalam dirinya, masuk ke dalam “semak” dari Tarsus ini.
Pengalaman kita memberi kesaksian bahwa tempat panggilan Allah adalah di dalam kita. Setiap orang yang benar-benar telah dipanggil oleh Allah bisa bersaksi atas hal ini. Boleh jadi pada mulanya, sepertinya Allah memanggil dari surga. Namun akhirnya jelas bahwa Allah memanggil dari dalam “semak duri”.
E. NYALA API
Ayat 2 juga mengatakan tentang “nyala api”. Ini mengacu kepada kemuliaan kekudusan Allah. Dalam Alkitab, kekudusan Allah diumpamakan dengan api. Kapan saja Allah memanggil seseorang, Dia memanggilnya dalam kemuliaan kekudusan-Nya. Melalui panggilan secara demikian, Allah memisahkan orang tersebut ke pihak kekudusan-Nya.
Kelihatannya panggilan Allah terjadi di balik padang gurun, sesungguhnya terjadi di gunung Allah, dan khususnya di tanah yang kudus. Secara pengalaman, itu berawal dari dalam semak duri, akhirnya, dari dalam nyala api. Inilah tempat Allah memanggil Musa: di balik padang gurun, di gunung, di tanah yang kudus, di dalam semak duri, dan di dalam nyala api. Allah memanggil Musa di dalam nyala api. Faktanya, Allah sendiri justru nyala api itu, karena suara yang memanggil Musa itu keluar dari dalam api. Jadi, api itulah yang berbicara dan memanggil. Kita semua perlu berada di tempat yang sedemikian, sehingga panggilan Allah bisa mencapai kita.
Dipanggil Allah bukanlah sekadar masalah mempersembahkan diri kita kepada Allah, atau mengikuti sekolah Alkitab dan seminari, kemudian ditahbiskan. “Panggilan” semacam itu tidak berarti sama sekali dalam pandangan Allah. Panggilan Allah terjadi di bagian belakang kehidupan kita di dunia ini, di gunung Allah, dan di tempat yang tidak ada campur tangan manusia. Tidak hanya demikian, kita dipanggil Allah di dalam kemuliaan kekudusan-Nya, di dalam semak duri yang terbakar.
IV. SANG PEMANGGIL
Alangkah pentingnya bagi orang yang terpanggil mengetahui nama Sang pemanggilnya. Keluaran 3 mewahyukan secara lengkap nama Allah, Sang pemanggil, bahkan mungkin lebih lengkap daripada bagian-bagian lain dari firman Allah. Ketika Allah memanggil Musa, Musa berkata, “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (ayat 13). Di sini kita nampak bahwa Musa menaruh perhatian terhadap nama ilahi Allah. Dia ingin mengetahui nama Sang pemanggilnya.
A. MALAIKAT TUHAN (YEHOVA)
Mula-mula, yang memanggil Musa adalah Malaikat TUHAN (Yehova; ayat 2). Dalam terjemahan Darby ditulis dengan huruf pertama besar “Malaikat”, untuk mengisyaratkan bahwa Malaikat ini adalah unik. Sesungguhnya itu adalah Kristus, Putra Allah, Malaikat Allah, Utusan yang unik. Menurut Alkitab, malaikat berarti pesuruh, yaitu yang diutus. Dalam Kitab Wahyu, orang-orang terkemuka dalam gereja disebut malaikat-malaikat, pesuruh-pesuruh, utusan-utusan. Jadi, Malaikat TUHAN dalam 3:2 ialah Utusan Allah.
Jika kita menjajarkan ayat 2 dan 4, kita akan nampak bahwa Yang diutus ini, yakni Malaikat TUHAN tidak lain TUHAN sendiri. Ayat 4 mengatakan, “Ketika dilihat TUHAN bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu.” Ini membuktikan bahwa Malaikat TUHAN adalah TUHAN sendiri, dan TUHAN adalah Allah. Perjanjian Baru memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus, Putra Allah, datang sebagai Utusan Allah, Dia pun adalah Allah sendiri.
Untuk memanggil dan mengutus Musa, Allah Sang pengutus, telah menyatakan diri kepadanya sebagai Sang utusan. Hanya Sang terutus yang bisa mengirim utusan-utusan. Rasul-rasul, misalnya, para utusan dalam Perjanjian Baru, telah diutus oleh Tuhan Yesus, Sang utusan Allah. Dalam Yohanes 20:21 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Jadi, kita yang menjadi murid-murid Tuhan diutus oleh Utusan Allah, yaitu Kristus yang sebagai Malaikat TUHAN.
Menurut Keluaran 3, Sang pemanggil ialah Sang utusan. Ini merupakan butir penting dalam panggilan Allah. Orang yang tahu memakai pegawainya serta tahu mengawasi mereka secara tepat, pasti ia sendiri pernah menjalani pekerjaan mereka itu. Sama prinsipnya, karena Kristus itu Utusan Allah, maka hanya Dia yang paham bagaimana mengutus orang lain.
Mengenai penciptaan, Kejadian 1 mencantumkan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Namun ketika Allah datang mengontak manusia dalam Kejadian 2 serta mengembangkan hubungan dengan manusia, sebutan “Yehova” (TUHAN) mulai dipakai. Di sini, dalam Keluaran 3, Allah datang memanggil Musa bukannya secara langsung memakai nama Allah atau pertama-tama memakai nama TUHAN, melainkan memakai nama Malaikat TUHAN. Pasal ini tidak membahas masalah penciptaan atau perkembangan hubungan dengan manusia, melainkan masalah memanggil Musa. Agar menjadi Sang pemanggil yang seperti ini, diperlukan seseorang yang memiliki kualifikasi sebagai orang utusan, yakni kualifikasi yang telah dipenuhi secara unik oleh Kristus yang sebagai Malaikat TUHAN. Ini adalah Sang terutus yang memanggil utusan, yakni Malaikat TUHAN, Putra Allah datang mengutus Musa.
Mengapa gelar “Malaikat TUHAN” tidak digunakan dalam dua pasal pertama dari Kitab Keluaran? Karena sebelum pasal 3, Musa belum selesai dipersiapkan. Setelah itu baru Allah mendatangi dia sebagai Malaikat TUHAN untuk memanggil serta mengutus dia. Untuk mengutus Musa, dibutuhkan Seseorang dengan pengalaman terutus. Menurut Zakharia 2, Sang pengutus adalah Sang Utusan, dan Sang utusan adalah Sang pengutus. Prinsip yang sama berlaku pada Keluaran 3. Malaikat TUHAN ialah TUHAN sendiri, Sang utusan Allah, Putra Allah, adalah sebenarnya Allah sendiri. Orang yang pada mulanya bersama Allah dan yang adalah Allah sendiri diutus oleh Allah.
Gelar “Malaikat TUHAN” terutama mengacu kepada Kristus, Putra Allah, yang diutus untuk menyelamatkan umat Allah dari situasi penderitaan mereka (Lihat Hak. 6:12, 22; 13:3-5; 16:22). Dalam Keluaran 3 ini Tuhan datang memanggil Musa untuk melepaskan orang-orang Israel dari kekangan perbudakan. Karena itulah Dia datang selaku Malaikat TUHAN.
B. TUHAN (YEHOVA)
Gelar kedua yang diwahyukan dalam pasal ini ialah TUHAN (Yehova), yang berarti “Dia yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang” (Why. 4:8. Tl.: Dia yang dulu adalah, sekarang adalah, yang akan datang adalah). Gelar ini terutama terdiri dari kata kerja “adalah”. Selain Tuhan, semuanya bukanlah apa-apa. Dialah satu-satunya yang ada secara riil. Kata kerja “adalah” tidak seharusnya diterapkan secara mutlak pada siapa atau apa pun selain Dia. Dia adalah satu-satunya yang swaada. Segala sesuatu di alam semesta bukanlah apa-apa. Hanya Yehova adalah “Dia yang dulu adalah, sekarang adalah, dan yang akan datang adalah”. Di masa lampau, Dia adalah; di masa sekarang, Dia adalah; di masa yang akan datang, Dia tetap adalah.
Ibrani 11:6 mengatakan, “Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah adalah” (Tl.). Menurut ayat ini, Allah itu adalah, dan kita harus percaya bahwa Allah adalah. Allah itu adalah, tetapi kita tidak.
Bila kita ingin dipanggil oleh Allah, kita harus mengenal bahwa Sang pemanggil pertama-tama adalah Sang utusan Allah dan kedua adalah Yehova, Sang adalah di masa lampau, sekarang, dan akan datang. Kita harus tahu bahwa Allah yang memanggil kita itu adalah, sedangkan kita tidak. Kita semua perlu memahami Allah secara demikian.
C. ALLAH
Sang pemanggil ini justru Allah sendiri (Kel. 3:4, 6, 14). Istilah Allah dalam bahasa Ibrani ialah Elohim, yang berarti Sang Mahakuasa yang setia terhadap janji-Nya. Selain Mahakuasa, Allah pun setia memenuhi perjanjian-Nya. Jika kita mau dipanggil Allah, kita harus tahu bahwa Dia itu Mahakuasa dan setia, mampu melakukan segala sesuatu bagi kita dan setia melaksanakan sabda-Nya.
D. ALLAH AYAH KITA
Keluaran 3:6 mengatakan, “Lagi Ia berfirman: Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Ungkapan “Allah ayahmu” menunjukkan sejarah bersama Allah. Ketika Allah datang memanggil Anda, Allah tidak seharusnya sebagai orang yang asing bagi Anda. Jika bagi Anda Dia adalah orang asing, Anda tidak memenuhi syarat untuk dipanggil oleh Dia. Mengatakan Allah itu Allah ayah kita bukan berarti Dia itu Allah ayah kita di dalam daging, karena ayah alamiah kita belum tentu anak Allah. Setelah beroleh selamat, kita sudah tergolong silsilah lain, yakni keturunan rohani. Berdasarkan inilah Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa dia memperanakkan mereka di dalam Injil (1Kor. 4:15). Paulus tidak menikah, dengan sendirinya dia tidak memiliki anak-anak dalam daging. Namun, dia mempunyai banyak anak rohani. Setiap orang yang percaya dalam Kristus mempunyai ayah rohaninya. Dalam pandangan Allah, Tuhan yang memanggil Anda itulah Allah ayah rohani Anda. Ayah Musa di dalam daging adalah orang yang saleh, maka ketika Allah memanggil Musa, Dia mengaku diri-Nya sebagai Allah “ayahmu”. Ini mengingatkan akan sejarah bersama Allah. Sewaktu Allah menampakkan diri kepada Musa dan memanggil Musa, Dia bukanlah sebagai orang yang asing, sebab Dia telah bersama keluarga Musa generasi demi generasi.
Allah ayah Musa ialah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Berarti Allah adalah Allah bagi setiap macam orang. Kita ini mungkin orang yang baik seperti Abraham, biasa seperti Ishak, atau perebut seperti Yakub. Apa pun kita ini, Allah adalah Allah kita. Allah Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Allah yang almuhit. Bila Allah datang memanggil Anda, selalu selaku Sang almuhit.
Allah adalah Allah ayah kita, dan Dialah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Gelar-gelar Allah ini menandakan juga Allah perjanjian. Allah yang berjanji adalah untuk setiap orang. Entah siapa Anda, Dia adalah Allah Anda, dan Dia itu memenuhi syarat memanggil Anda.
E. AKU ADALAH AKU ADALAH ITU
Sekarang kita tiba pada gelar Allah yang paling ajaib: “Aku adalah Aku adalah” (LAI: AKU ADALAH AKU, Kel. 3:14-15). Dalam ayat 14 Tuhan berfirman kepada Musa, “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: ‘Aku adalah’ itu telah mengutus aku kepadamu” (Tl.). Nama Allah di sini ialah “Aku adalah” itu. Dengan kata lain, nama-Nya ialah “adalah” (kata kerja) ini. Kita tidak memenuhi syarat untuk mengaku “aku adalah”. Kita ini bukanlah apa-apa; hanya Dialah yang adalah. Karena itu, Dia menyebut diri-Nya “Aku adalah Aku adalah” itu. Terjemahan Mandarin menyebut-Nya “Sang swaada dan kekal ada.” “Aku adalah” menunjukkan Sang swaada, eksistensi-Nya tidak tergantung pada apa pun yang di luar diri-Nya. Dia pun adalah Sang kekal ada, tanpa awal dan akhir.
Dalam Yohanes 8:58 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada (adalah).” Tuhan adalah “Aku adalah” yang agung, Tuhan adalah Allah yang kekal dan ada hingga abadi. Dalam Keluaran 3:14 kita telah nampak bahwa Tuhan menyuruh Musa menyampaikan kepada orang-orang Israel bahwa Sang “Aku adalah” itu telah mengutus dia. Kata-kata “Aku adalah” bukanlah kalimat yang lengkap, di sini berfungsi sebagai nama atau sebutan yang unik sekali. Sebagaimana telah kita lihat, nama ini sebenarnya merupakan kata kerja “adalah”. Hanya Allah saja yang bersyarat menerapkan kata kerja ini pada keberadaan-Nya, sebab hanya Dialah yang swaada. Anda dan saya harus mengenal bahwa kita ini bukanlah yang swaada.
Sebagai Sang “Aku adalah”, Allah adalah segala sesuatu yang kita perlukan. Terhadap kata “Aku adalah” dapat kita bubuhkan apa saja yang kita perlukan. Apakah Anda lelah? Sang Aku “adalah” ini justru perhentian Anda. Apakah Anda lapar? Dia adalah makanan Anda. Anda sedang mati? Dia adalah hayat. Dalam Perjanjian Baru Tuhan memakai banyak hal untuk melukiskan diri-Nya: “Akulah pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1), “Akulah roti hidup” (Yoh. 6:35), “Akulah terang” (Yoh. 8:12). Sebagai “Aku adalah” itu, Allah adalah segala-galanya langit, bumi, udara, air, pohon, burung, ternak. Ini bukan panteisme, kepercayaan yang menyamakan Allah dengan benda-benda alam semesta. Saya tidak mengatakan segala sesuatu itu Allah, melainkan mendeklarasikan bahwa Allah adalah realitas dari setiap hal yang positif. Ini pun menyiratkan bahwa Allah harus menjadi Anda, bahkan pula realitas adanya Anda. Kita bisa berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau adalah aku.” Jika Tuhan bukan kita, maka kita ini bukanlah apa-apa dan kita pun tidak ada realitas. Sang “Aku adalah” yang agung, Sang almuhit, adalah Sang yang telah datang memanggil kita. Mengatakan Allah kita itu Sang almuhit bukanlah bidah, malah kebenaran yang penuh terang. Hanya mereka yang buta dan yang tinggal dalam kegelapan yang menentang kebenaran ini.
Saya bisa bersaksi bahwa lebih dari 50 tahun saya menempuh kehidupan orang Kristen, Sang “Aku adalah” ini senantiasa menopang saya. Oleh karena topangan-Nya dengan apa adanya Dia, saya tidak pernah terpeleset mundur. Malahan saya dapat bertahan di dalam ministri lebih dari 40 tahun. Saya mengenal Sang yang memanggil saya. Saya telah dipanggil oleh Sang “Aku adalah” itu. Yang memanggil saya senantiasa menopang saya. Tidak ada bahasa manusia yang sanggup mengutarakan apa adanya Dia.
F. YEHOVA, ALLAH ORANG IBRANI
Akhirnya, Sang yang memanggil ini ialah “TUHAN, Allah orang Ibrani” (3:18). Kata “Ibrani” berarti orang yang menyeberang sungai. Kaum penyeberang sungai adalah umat yang terpisah, yakni terpisah dari dunia. Jika kita ingin dipanggil Allah, kita harus nampak bahwa sebagai Sang pemanggil, Allah adalah Allah kaum penyeberang sungai, umat yang tersisih. Sebagai Allah yang demikian, Dia tentu bukan Allah bagi mereka yang di Babel atau yang di Mesir, sebab mereka tidaklah terpisah. Kalau kita tidak terpisah dari dunia, Allah takkan menjadi Allah kita. Dia bukan Allah orang Mesir, melainkan Allah orang Ibrani, orang yang telah melintasi sungai bagi penggenapan kehendak-Nya.