← Daftar isi Keluaran (1) · bab 4/15

HAYAT YANG BERGUNA BAGI ALLAH

Kitab Keluaran mewahyukan macam orang yang bisa Allah pakai dalam ekonomi-Nya untuk menggenapkan kehendak-Nya. Seperti telah kita lihat dalam kitab ini, maksud Allah ialah ingin mendapatkan sekelompok orang untuk mendirikan sebuah tempat kediaman bagi-Nya di bumi. Karena itu, pada akhir Kitab Keluaran, Kemah Pertemuan didirikan sebagai tempat kediaman Allah. Selanjutnya, untuk merampungkan kehendak Allah, masih perlu ada pasukan yang berperang bagi kepentingan Allah di bumi. Begitu orang Israel secara kolektif keluar dari Mesir, mereka segera terbentuk menjadi pasukan. Sejak mereka ditebus hingga mendapatkan tanah permai, mereka harus menaklukkan musuh-musuh, terutama musuh-musuh yang telah menduduki dan menguasai tanah permai yang dijanjikan kepada mereka. Jika orang Israel ingin menikmati tanah permai dan menggenapkan kehendak Allah, membangun sebuah Kemah Pertemuan sebagai kesaksian Allah di bumi, mereka harus berperang untuk membebaskan tanah itu dari tangan pendudukan musuh. Jadi, berguna bagi Allah berkaitan dengan pembangunan tempat kediaman-Nya dan berperang bagi kepentingan-Nya di bumi.

Atas hal-hal ini, hayat yang berguna bagi Allah adalah hayat perempuan. Namun, menurut konsepsi alamiah manu-sia, hayat laki-lakilah yang berguna bagi Allah. Karena laki-laki dipandang sebagai pejuang yang perkasa, sedangkan perempuan dipandang sebagai kaum yang lemah.

Tidak banyak pembaca Keluaran 1 dan 2 yang nampak tema pokok yang menghubungkan pasal-pasal ini. Pasal 1 menunjukkan bahwa umat Allah berada di bawah perbudakan, dan pasal 2 menunjukkan bagaimana Allah mempersiapkan seseorang untuk menyelamatkan umat-Nya keluar dari perbudakan. Tema pokoknya ialah Allah memerlukan semacam hayat tertentu untuk melindungi umat-Nya; serta mempersiapkan seorang penyelamat yang membebaskan mereka dari perbudakan. Baik melindungi umat-Nya maupun mempersiapkan seorang penyelamat, hanya dapat dicapai melalui hayat perempuan.

Dalam Alkitab, arti konsepsi “laki-laki” sangatlah luas. Sudah tentu ini mengacu kepada orang laki-laki, namun ini juga mengacu kepada hayat yang “merdeka”. Tidak hanya demikian, juga dikatakan bahwa Kristus adalah satu-satunya laki-laki dalam alam semesta ini. Semua saudara yang telah menikah harus tahu bahwa mereka hanyalah para suami bayangan; suami yang sejati ialah Kristus. Karena Allah adalah satu-satunya suami, maka Yesaya 54:5 mengatakan, “Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau.” Dalam Perjanjian Lama, Allah menganggap umat-Nya sebagai jodoh-Nya (Hos. 2:19). Entah orang Israel itu laki-laki atau perempuan, ia adalah bagian dari istri korporat Allah.

Istilah “suami” dalam Alkitab menunjukkan kekepalaan, juga menunjukkan hayat yang merdeka, mandiri. Ketika kita menyebut laki-laki dalam pengertian yang positif, hal itu mengacu kepada seorang suami, dia adalah kepala dan memiliki hayat yang merdeka. Karena Allah adalah satu-satunya suami dalam alam semesta ini, maka hanya Dialah Sang kepala dan hanya Dia yang memiliki hayat yang merdeka. Adalah satu hujat bila mengatakan bahwa Allah perlu bersandar kepada seseorang atau sesuatu. Juga adalah hujat jika mengatakan bahwa kita bisa merdeka terhadap Allah.

Sebagai perempuan, para saudari yang telah menikah tidak seharusnya menyerobot kedudukan sebagai kepala, juga tidak seharusnya hidup secara merdeka. Mereka seharusnya menempuh hidup yang bersandar kepada suami mereka; suami mereka adalah bayang-bayang dari Tuhan sebagai suami yang sejati. Meskipun para saudara yang telah menikah adalah bayang-bayang suami yang sejati terhadap istrinya, namun mereka sesungguhnya perempuan terhadap Tuhan. Karena itu, mereka tidak seharusnya menyerobot kekepalaan Tuhan, juga tidak seharusnya menempuh hidup yang mandiri. Mereka harus taat dan menempuh hidup yang bersandar Tuhan.

I. ALLAH ADALAH KEPALA KRISTUS

Allah adalah kepala Kristus (1Kor. 11:3). Tidaklah tepat jika mengatakan Allah adalah kepala kita, sebab Kristus barulah kepala manusia.

II. DI BAWAH KEKEPALAAN ALLAH,

KRISTUS ADALAH KEPALA SETIAP LAKI-LAKI

Satu Korintus 11:3 mengatakan, “Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus.” Kristus sebagai kepala dari setiap laki-laki bukan di dalam diri-Nya sendiri; di bawah kekepalaan Allah, barulah Dia menjadi Kepala dari semua laki-laki.

III. DI BAWAH KEKEPALAAN KRISTUS,

LAKI-LAKI ADALAH KEPALA PEREMPUAN

Sebagaimana Kristus adalah kepala dari setiap laki-laki, demikian juga “kepala dari perempuan ialah laki-laki” (1Kor. 11:3). Namun, laki-laki tidak seharusnya bersandarkan dirinya sendiri menjadi kepala perempuan. Hanya ketika ia sendiri berada di bawah kekepalaan Kristus, barulah ia menjadi kepala.

Di satu pihak, Kristus berada di bawah kekepalaan Allah; di pihak lain, Dia adalah kepala dari setiap laki-laki. Demikian juga, di satu pihak, laki-laki berada di bawah kekepalaan Kristus; di pihak lain, dia adalah kepala dari perempuan. Berada di bawah kekepalaan sekaligus menjadi kepala atas yang lain bukanlah perkara yang mudah. Tetapi dalam seumur hidup Yesus di bumi, kita bisa nampak teladan yang paling baik tentang pelaksanaan ini. Keempat kitab Injil memperlihatkan bahwa Kristus selalu di bawah kekepalaan Allah, namun Dia juga sebagai kepala bagi murid-murid-Nya. Kristus tidak merdeka terhadap Bapa. Dalam Yohanes 5:30 Dia berkata, “Aku tidak dapat berbuat apa pun dari diri-Ku sendiri.” Juga dalam Yohanes 5:19, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Putra selalu berada di bawah kekepalaan Allah Bapa. Namun, Dia pun bertindak sebagai kepala atas yang lain. Misalnya, Dia memperlakukan Petrus dengan sangat keras. Ketika Petrus bertindak seolah dia adalah kepala dan menempuh hidup yang merdeka, Tuhan menanggulanginya dengan membuatnya sadar akan kekepalaan Kristus. Sebagaimana Kristus berada di bawah kekepalaan Allah Bapa, demikian pula Petrus harus berada di bawah kekepalaan Kristus. Di sini kita nampak bahwa Allah adalah Kepala Kristus, Kristus berada di bawah kekepalaan Allah adalah kepala dari setiap laki-laki. Demikian pula, laki-laki di bawah kekepalaan Kristus adalah kepala atas perempuan.

IV. LAKI-LAKI MELAMBANGKAN KRISTUS,

MENYATAKAN HAYAT YANG MERDEKA

Dalam gambaran mengenai hubungan antara Allah dengan manusia, laki-laki mewakili Allah, dan perempuan mewakili manusia. Dalam pengertian ini, laki-laki melambangkan Kristus, menyatakan hayat yang merdeka. Pada aspek di bawah kekepalaan Allah, Kristus memiliki hayat yang bersandar; tetapi pada aspek sebagai Kepala dari setiap laki-laki, Kristus memiliki hayat yang merdeka. Ini berarti Kristus bersandar kepada Allah, namun terhadap kita, Dia merdeka. Terhadap Allah, hayat Kristus adalah hayat yang bersandar, tetapi terhadap kita, hayat-Nya itu merdeka. Laki-laki melambangkan Kristus yang memiliki hayat yang merdeka. Terhadap Kristus, saudara-saudara yang telah menikah memiliki hayat yang bersandar, namun terhadap istri mereka, mereka memiliki hayat yang merdeka.

V. PEREMPUAN MELAMBANGKAN MANUSIA, MENYATAKAN HAYAT YANG BERSANDAR

Dalam hubungan antara Allah dengan manusia, sebagaimana laki-laki melambangkan Allah, maka perempuan melambangkan manusia. Dalam pengertian ini, perempuan menyatakan hayat yang bersandar. Laki-laki memiliki dua aspek, bersandar dan merdeka; namun perempuan hanya memiliki aspek bersandar. Yang tidak mengizinkan perempuan memiliki hayat yang merdeka adalah Allah, bukan laki-laki.

VI. LAKI-LAKI MENEMPUH HIDUP BERSANDAR ALLAH,

MENJADI “PEREMPUAN” YANG RIIL

Para saudara tidak seharusnya menjadi “laki-laki”, melainkan menjadi “perempuan”, yakni menempuh hidup bersandar Allah. Hanya hayat “perempuan” semacam ini yang berguna bagi Allah. Dalam Kitab Keluaran, sebuah kitab gambar, hayat perempuan ini telah diilustrasikan oleh bidan-bidan dalam pasal 1 dan semua perempuan dalam pasal 2 ibu dan kakak perempuan Musa, para dayang, putri Firaun, dan anak perempuan imam Midian. Semua laki-laki seharusnya menjadi “perempuan-perempuan” sedemikian.

VII. MANUSIA MANDIRI TERHADAP ALLAH BERARTI PEMBERONTAKAN

Manusia merdeka terhadap Allah berarti pemberontakan. Begitu kita merdeka, itu berarti memberontak terhadap Allah. Karena hayat laki-laki itu merdeka dan memberontak, maka Allah tidak dapat memakainya untuk menggenapkan kehendak-Nya.

VIII. PEREMPUAN MENEMPUH HIDUP

YANG MERDEKA, MENJADI “LAKI-LAKI” YANG RIIL

Jika perempuan menempuh hidup yang merdeka, ia menjadi “laki-laki” yang riil. Hari ini terlalu banyak perempuan yang menjadi “laki-laki”. Inilah penyebab utama perpisahan dan perceraian.

IX. HANYA HAYAT “PEREMPUAN” YANG RIIL YANG BERGUNA BAGI ALLAH

Baik saudara maupun saudari, semua perlu menjadi “perempuan” dan menempuh hidup hanya bersandarkan satu-satunya hayat yang berguna bagi Allah itu. Untuk menjadi “perempuan”, kita harus bersandar kepada Tuhan. Pohon hayat dalam Kejadian 2 menyatakan bersandar, sedangkan pohon pengetahuan menyatakan merdeka. Hayat selalu membuat kita bersandar, sedangkan pengetahuan selalu membuat kita merdeka. Misalnya, sebelum Anda mengajarkan sesuatu kepada seorang anak kecil, dia bersandar kepada Anda dalam hal itu. Tetapi, begitu ia sudah mempelajari hal itu, ia segera menjadi sombong dan merdeka. Sebaliknya, hayat membuat kita bersandar kepada Allah. Allah menghendaki kita memilih hayat, bukan pengetahuan. Ini berarti Dia menghendaki kita memilih bersandar, bukan merdeka.

Menempuh hidup yang merdeka berarti hidup berdasarkan pohon pengetahuan, sedangkan menempuh hidup yang bersandar berarti hidup berdasarkan pohon hayat. Hidup berdasarkan pohon hayat sebenarnya hidup bersandar Tuhan sendiri. Pohon anggur dalam Yohanes 15 merupakan sebuah gambaran yang sangat baik atas hayat yang bersandar. Yohanes 15:5 mengatakan “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Semua ranting pohon anggur bersandar pada pokok anggur. Tinggal di dalam pokok anggur berarti bersandar kepada pokok anggur. Jadi, selama ranting anggur tinggal pada pokok anggur, ia tidak merdeka.

Bukan hanya orang dunia yang menempuh hidup yang merdeka, banyak orang Kristen juga menempuh hidup yang merdeka terhadap Allah. Akibatnya, sebagian besar orang Kristen tidak berguna bagi Allah. Karena itu, entah kita laki-laki atau perempuan, kita harus senantiasa menempuh hidup yang bersandar kepada Allah. Tidak peduli sudah berapa lama kita hidup bersama Tuhan, hari ini kita tetap harus hidup bersandar kepada-Nya. Sama seperti kita tidak bisa tamat dalam hal makan, minum, dan bernafas. Alangkah tololnya jika seseorang berkata bahwa ia telah bernafas selama 70 tahun, maka ia tidak perlu lagi bernafas lebih lama! Terhadap hayat, tidak ada istilah tamat. Strategi Allah justru meletakkan kita pada posisi di mana kita harus bersandar kepada-Nya. Kita perlu berdoa, “Ya Tuhan, terlepas dari Engkau aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku harus tetap tinggal di dalam Engkau dan menerima Engkau menjadi hayatku. Setiap hari aku perlu makan pohon hayat. Ya Tuhan, aku mau menempuh hidup sebagai ‘perempuan’, yakni hidup yang selalu bersandar kepada-Mu.” Inilah hayat yang bisa Allah pakai untuk menggenapkan kehendak-Nya.

Ketika Musa berumur 40 tahun, ia menempuh hidup sebagai “laki-laki” yang merdeka. Bertindak secara merdeka terhadap Allah, memukul mati orang Mesir dengan kekuatan alamiahnya. Musa benar-benar seorang “laki-laki” yang merdeka. Tetapi selama 40 tahun selanjutnya, ia dikesampingkan. Allah memberi pelajaran agar dia tidak memakai hayat “laki-laki”nya. Tidaklah mudah melatih seorang laki-laki untuk menempuh hidup sebagai “perempuan”. Namun, selama 40 tahun kedua dalam hidupnya, Musa telah belajar menjadi perempuan. Selama 40 tahun ketiga, yakni mulai umur 80 sampai umur 120 tahun, Musa menempuh hidup sebagai “perempuan”. Hanya atas satu perkara, ia lakukan secara merdeka terhadap Allah, yaitu memukul batu sampai dua kali (Bil. 20:7-13). Karena tindakannya sebagai laki-laki dalam suasana itu telah menyakiti Tuhan, maka ia kehilangan hak untuk masuk ke tanah permai.

Umumnya, para pembaca Alkitab memandang Musa sebagai pemimpin bani Israel. Tetapi Musa sendiri tidak memiliki konsepsi ini bagi dirinya sendiri, ia tidak pernah ingin memiliki kedudukan sebagai pemimpin. Ketika bani Israel memberontak dan menentang dia, ia menganggap itu sebagai pemberontakan melawan Allah, bukan melawan dirinya. Musa hanya menghadap kepada TUHAN dan membentangkan perkaranya kepada Allah. Dalam melakukan ini, Musa menghormati TUHAN sebagai Kepala, dan satu-satunya Laki-laki. Ini menunjukkan Musa menempuh hidup sebagai perempuan, yaitu hidup bersandar kepada Allah.

Hayat “perempuan” tidak hanya terlihat dalam Keluaran 1 dan 2, tetapi juga pada pasal-pasal berikutnya. Kita telah menunjukkan bahwa Musa dilatih untuk menempuh hidup sebagai “perempuan”. Tidak hanya demikian, semua pasukan tentara juga menempuh hidup sebagai “perempuan” yang bersandar kepada Allah. Jika Anda belum belajar menjadi perempuan, Anda tidak akan bisa berperang bagi Kerajaan Allah. Allah hanya memakai pejuang-pejuang “perempuan”. Ini berarti, jika Anda menempuh hidup sebagai laki-laki yang merdeka, Anda pasti tidak berguna dalam peperangan rohani.

Saya ingin menegaskan masalah “laki-laki merdeka terhadap Allah” ini. Misalnya, seorang suami mungkin memperlakukan istrinya secara merdeka terhadap Allah, dan seorang istri menghadapi suaminya dengan sikap yang sama. Ini berarti suami maupun istri, kedua-duanya adalah “laki-laki” dalam arti negatifnya. Tetapi kita tidak seharusnya sebagai “laki-laki” yang merdeka terhadap Allah. Kita seharusnya sebagai “perempuan” yang bersandar kepada Allah; di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Semua yang kita katakan dan kerjakan haruslah bersandar kepada-Nya. Jika keadaan kita demikian, kita adalah “perempuan-perempuan” yang riil, menempuh hidup yang bersandar.

Sejarah gereja menunjukkan, kapan kala ada hayat “perempuan” yang sedemikian, Allah pasti bisa melakukan sesuatu bagi kehendak-Nya. Martin Luther, misalnya, adalah orang yang belajar bersandar kepada Allah. Tidak perlu diragukan, sejak lahir Luther pasti memiliki kemauan yang keras. Meskipun demikian, dia belajar bersandar kepada Tuhan. Dia tidak hidup dan bertindak sebagai “laki-laki” yang kuat, melainkan sebagai “perempuan” yang bersandar.

Rasul Paulus juga adalah “perempuan” yang demikian. Tulisan-tulisannya membuktikan fakta ini. Sebagai seorang “perempuan”, Paulus tidak melakukan apa pun secara merdeka terhadap Tuhan. Pekerjaannya, tingkah lakunya, dan tindakannya, semua berasal dari hayat yang bersandar kepada Allah.

A. ALLAH MEMPERLAKUKAN ISRAEL

SEBAGAI ISTRI-NYA

Dalam Alkitab, umat Allah diumpamakan sebagai perempuan. Dalam Perjanjian Lama Allah memberi tahu umat-Nya bahwa Dia adalah suami mereka dan mereka adalah istri-Nya. Bahkan Raja Daud, seorang pejuang yang perkasa adalah bagian dari istri korporat ini. Suami bani Israel bukanlah Daud, melainkan Allah. Bila orang Israel berontak melawan Allah, berarti mereka telah mengambil posisi sebagai suami, dan itu berarti mereka telah menceraikan diri dari Allah. Dengan memisahkan diri secara demikian dari Tuhan, berarti mereka bertindak secara merdeka terhadap Dia. Namun Allah sebagai Suami yang sejati bermurah hati dan mau memanggil mereka kembali kepada diri-Nya.

B. KRISTUS MEMANDANG ORANG BERIMAN-NYA SEBAGAI GADIS

Perjanjian Baru menganggap orang beriman Kristus sebagai gadis. Dalam Matius 25:1 Tuhan Yesus mengumpamakan murid-murid-Nya sebagai gadis-gadis. Selain itu, dalam 2Korintus 11:2 Paulus mengatakan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Sebagai kaum beriman, kedudukan kita dan hayat kita haruslah sebagai gadis. Kristus adalah suami yang satu-satunya, dan dalam pandangan-Nya kita semua ini ialah gadis.

C. KRISTUS MENGASIHI GEREJA-NYA

YANG MERUPAKAN JODOH-NYA

Efesus 5:25 mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Di sini kita nampak bahwa Kristus mengasihi gereja yang sebagai pasangan-Nya, yakni istri-Nya. Sebab itulah gereja tidak boleh merdeka; tidak boleh menjadi “laki-laki”, harus selalu menjadi “perempuan”. Inilah alasan kita menggunakan kata ganti bentuk perempuan sewaktu membicarakan gereja. Gereja harus selalu menempuh hidup yang bersandar kepada Kristus.

D. KRISTUS MENIKAHI YERUSALEM BARU

SEBAGAI MEMPELAI PEREMPUAN-NYA DALAM KERAJAAN SERIBU TAHUN

Wahyu 19:7 mengatakan, “Marilah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Ini mengacu kepada Kristus menikahi Yerusalem Baru sebagai mempelai-Nya dalam Kerajaan Seribu Tahun. Ketika Kristus datang kembali, Ia tidak akan menikah dengan seorang “laki-laki”, tetapi dengan seorang “perempuan”, mempelai perempuan.

E. ALLAH MENIKMATI YERUSALEM BARU SEBAGAI ISTRI-NYA SAMPAI KEKAL

Sampai kekekalan, Yerusalem Baru akan menjadi istri Allah (Why. 21:2-3, 9). Ini menunjukkan bahwa dalam langit baru dan bumi baru dalam kekekalan, kita akan tetap menempuh hidup yang bersandar.

Kita semua perlu menempuh hidup yang bersandar sedemikian ini di dalam gereja lokal hari ini. Tidak ada seorang pun di antara kita yang boleh bertindak sebagai “laki-laki”. Kesulitan di antara orang-orang Kristen dan di dalam gereja justru disebabkan oleh para saudara atau saudari yang menempuh hidup “laki-laki” yang merdeka. Bila ada saudara saudari dalam gereja lokal hidup sebagai “laki-laki”, niscaya kesulitan akan timbul. Kita harus belajar tidak menempuh hidup secara merdeka terhadap Allah! Jika kita belajar pelajaran ini, kita akan tahu bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita lakukan, bukan karena hal-hal itu salah, tetapi karena saat melakukan hal itu kita merdeka terhadap Allah. Asal kita semua memiliki rasa takut yang sehat terhadap kemerdekaan, tentu takkan ada masalah dalam hidup gereja. Juga takkan ada masalah di antara pasangan suami istri. Seluruh masalah dalam hidup gereja, dalam kehidupan pernikahan, atau di antara sesama orang saleh, berasal dari satu sumber, yaitu merdeka. Kita harus seperti bidan-bidan dalam Kitab Keluaran; kita perlu berdoa, “Tuhan, aku tak ingin menjadi ‘laki-laki’ yang kuat, yang penuh opini dan selalu mempertahankan caraku sendiri. Tuhan, aku ingin serupa bidan-bidan dalam Keluaran 1 dan para perempuan dalam Keluaran 2.”

Sebagaimana akan kita lihat, ketika Musa menghadapi Firaun, dia bukan bertindak sebagai seorang “laki-laki”. Da-lam berurusan dengan Firaun, dia bertindak sebagai “perem-puan” yang bersandar kepada Allah. Musa tidak membuat keputusan atau usulan apa-apa. Segala sesuatu yang ia lak-sanakan adalah atas prakarsa Allah. Musa menghormati Allah sebagai satu-satunya Pemrakarsa.

Pekerjaan yang diprakarsai oleh Allah terlihat sangat jelas dalam pembangunan Kemah Pertemuan. Bukannya Musa bangun pagi pada suatu hari, lalu timbul suatu ide untuk membangun sebuah Kemah Pertemuan bagi Allah. Sebaliknya, dia dipanggil Allah untuk mendaki sebuah gunung di mana Allah mewahyukan isi hati-Nya kepadanya dan kemudian menyuruhnya membangun Kemah Pertemuan menurut pola yang ditunjukkan kepadanya di atas gunung (25:40). Musa tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan yang bebas. Musa harus bersandar kepada Allah dalam setiap rinciannya. Inilah hayat yang bisa Allah pakai bagi kehendak-Nya.

Belakangan ini kita telah banyak membahas perkara penggenapan kaum saleh bagi pembangunan Tubuh Kristus. Kalau kita mau dipakai untuk menggenapkan orang lain, kita sendiri harus memiliki hayat yang bersandar. Satu-satunya hayat yang Tuhan ingin lihat digenapkan adalah hayat yang bersandar. Jika kita hidup dan bekerja secara merdeka terhadap Allah, niscaya hasil pekerjaan kita adalah hayat orang lain yang kita genapkan menjadi hayat yang merdeka. Kita akan menggenapkan hayat yang merdeka. Hanya hayat yang bersandar yang bisa menghasilkan hidup yang bersandar, hayat yang dalam segala hal bersandar kepada Allah yang bisa menyempurnakan orang lain menjadi “perempuan”. Andaikata ada orang yang sangat kuat di dalam dirinya sendiri, yakin akan kemampuan, opini, dan keputusannya sendiri, orang yang sedemikian ini hanya bisa menghasilkan hayat yang merdeka, orang cakap yang merdeka terhadap Allah. Hasil pekerjaan yang semacam ini bukanlah Yerusalem Baru itu akan menjadi Babel Besar, kota yang merdeka terhadap Allah dan memberontak terhadap Dia. Namun, gereja adalah perempuan. Sebagai perempuan, dia tidak berhak mengepalai atau memiliki hayat yang merdeka. Kepalanya adalah Kristus, dan hayatnya adalah hayat yang bersandar. Inilah seharusnya situasi gereja hari ini. Bila kita mau menyempurnakan orang lain secara tepat serta membangun gereja, kita membutuhkan hayat “perempuan” yang seperti ini.

Alasan gereja dari tahun ke tahun lebih banyak diruntuhkan daripada dibangun ialah karena orang-orang yang disebut para pembangun sangatlah merdeka. Mereka memperlakukan dirinya sendiri sebagai laki-laki, bukan perempuan. Namun demikian, kita bersyukur kepada Tuhan atas adanya sejumlah kecil orang yang mau menempuh hidup “perempuan” yang bersandar kepada Tuhan.

Yang penting di sini bukanlah masalah berapa banyak yang kita kerjakan, melainkan berapa banyak kita bersandar kepada Tuhan. Telah kita tunjukkan, dalam Yohanes 15:5 Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa di luar Dia. Kita telah terbiasa dengan perkataan ini, namun dalam hidup sehari-hari, kita sering melupakan atau mengesampingkannya. Lain dengan Rasul Paulus, dia adalah orang yang mempraktekkan hal ini. Dalam 1Korintus 2:3 dia berkata, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Paulus takut kalau-kalau dia mengerjakan sesuatu berdasarkan dirinya sendiri secara merdeka terhadap Tuhan. Hari ini betapa kita perlu rasa takut yang sedemikian! Kiranya Tuhan membelaskasihani kita serta mengaruniai kita rasa takut semacam ini. Jika kita memiliki itu, niscaya kita akan takut untuk berbicara atau berbuat sesuatu berdasarkan diri kita sendiri, yang merdeka terhadap Allah.

Segala sesuatu yang kita lakukan secara merdeka terhadap Tuhan merupakan pemberontakan. Bahkan penginjilan kita atau bantuan kita kepada kaum saleh pun mungkin merupakan suatu pemberontakan. Boleh saja kita mengerjakan ini dan itu untuk membantu gereja, tetapi segala yang kita kerjakan itu bisa jadi merupakan suatu pemberontakan, karena dikerjakan secara merdeka terhadap Tuhan.

Saya bersyukur atas terang yang Tuhan tunjukkan kepada kita mengenai hayat “perempuan” dalam Kitab Keluaran. Satu-satunya hayat yang berguna bagi Dia ialah hayat “perempuan”. Kita semua harus tahu bahwa Allah tidak pernah memakai hayat laki-laki. Perempuan-perempuan dalam pasal 1 telah dipakai untuk menyelamatkan orang-orang Israel, dan perempuan-perempuan dalam pasal 2 telah dipakai untuk menyiapkan bejana yang Tuhan bangunkan. Akhirnya, Musa sendiri bahkan dilatih menjadi “perempuan”; sepertilah bidan-bidan dalam pasal 1 dan beberapa perempuan dalam pasal 2. Berhubung Musa sebagai “perempuan”, maka ia bisa dipakai oleh Allah untuk menggenapkan kehendak Allah. Tetapi Musa sendiri, ketika gusar terhadap orang-orang Israel di padang gurun, pernah ia bertindak sebagai laki-laki untuk kali itu saja, akibatnya kehilangan berkat Allah. Dalam ekonomi Tuhan dan dalam pergerakan pemulihan-Nya hari ini, kita semua perlu waspada dengan rasa takut dan gentar agar jangan bertindak merdeka terhadap Allah. Semoga kita semua nampak bahwa Allah bisa memakai kita hanya apabila kita adalah “perempuan” yang bersandar kepada Dia pada setiap saat dan dalam segala hal. Penting sekali kita mengetahui dari Tuhan bahwa hanya hayat “perempuan” saja yang berguna bagi-Nya.