← Daftar isi Keluaran (1) · bab 3/15

MEMPERSIAPKAN PENYELAMAT

Dalam Keluaran 1, Firaun menahan orang-orang Israel dalam perbudakan dan mencoba membunuh semua bayi laki-laki yang dilahirkan perempuan Ibrani. Dalam pasal 2, kita nampak persiapan seorang penyelamat bagi orang Israel. Walaupun kedua pasal ini terpisah, namun ada suatu tema pokok yang mengikat mereka. Tema ini ialah: pada saat-saat yang krisis Allah memakai hayat perempuan bagi kehendak-Nya. Misalnya, dalam Keluaran 1 Allah memakai bidan-bidan, hayat perempuan, untuk melindungi hayat laki-laki bagi perampungan kehendak Allah. Firaun berniat membunuh hayat laki-laki yang mewakili hayat bagi kehendak Allah, tetapi membiarkan hayat perempuan yang mewakili hayat bagi kesenangan manusia. Jelas, niat Firaun membiarkan hayat perempuan adalah untuk kesenangan dirinya. Firaun berusaha memperalat bidan-bidan itu untuk melancarkan niatnya yang jahat. Namun di bawah kuasa kedaulatan Allah, bidan-bidan itu menolak bersekongkol dengan siasat busuk Firaun. Meskipun Firaun seorang raja yang sangat berkuasa, bahkan seorang tiran, tetapi bidan-bidan itu tidak takut kepadanya, dan tidak mendengarkan perkataannya. Mereka disuruh membunuh para bayi laki-laki, tetapi mereka malah mempertahankan bayi laki-laki itu. Jadi, Allah memakai hayat perempuan untuk mempertahankan hayat laki-laki bagi kehendak-Nya.

I. MELALUI HAYAT PEREMPUAN

Dalam Keluaran 2, ada keperluan mempersiapkan seorang penyelamat bagi pembebasan umat Allah dari tangan kelaliman Firaun. Dalam mempersiapkan penyelamat, yang terlebih dulu diperlukan bukan hayat laki-laki, melainkan hayat perempuan (ayat 1-10). Perempuan yang Allah pakai secara strategis untuk tujuan ini, berada di dalam rumah tangga Firaun yaitu putri Firaun sendiri. Hal ini mengingatkan kita akan pengungkapan Paulus dalam Filipi 4:22, mengenai “mereka yang di istana Kaisar”. Meskipun Kaisar telah memenjarakan Rasul Paulus, namun sedikitnya ada beberapa orang dari keluarga Kaisar yang telah menjadi Kristen. Sama prinsipnya, sungguhpun Firaun merencanakan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki yang terlahir di antara orang Ibrani, namun pengaturan Allah telah memakai putri Firaun untuk melindungi kelahiran laki-laki yang paling penting untuk orang Israel di Mesir.

Ibrani 11:23 mengisahkan Musa “disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya”, tetapi Keluaran 2:2 hanya menyebutkan ibunya menyembunyikan dia selama tiga bulan. Alasan Keluaran 2 menyebutkan ibunya saja menandaskan fakta bahwa selama saat-saat kritis, hayat perempuan berguna bagi Allah. Tanpa adanya bidan-bidan dalam pasal 1, Israel mungkin sudah dipunahkan. Begitu pula, tanpa adanya hayat perempuan dalam pasal 2, Allah takkan ada jalan untuk menyediakan seorang penyelamat yang menyelamatkan bani Israel. Dalam Keluaran 1 Allah menggunakan hayat perempuan untuk menyelamatkan umat-Nya, dalam Keluaran 2 Dia menggunakan hayat perempuan untuk menyediakan seorang penyelamat bagi umat-Nya, orang-orang yang Ia pertahankan bagi pencapaian rencana-Nya. Bukan hanya para saudari, bahkan para saudara pun perlu berterima kasih atas fungsi hayat perempuan. Sebetulnya, dalam pengertian yang tepat, semua orang beriman dalam Kristus, baik saudara maupun saudari, seyogyanya sebagai perempuan dalam pandangan Allah, sebab perempuan menggambarkan hayat yang bersandar, hayat yang sama sekali tergantung kepada Allah.

A. SEORANG PUTRI LEWI

Dalam pasal 2, kita jumpai beberapa perempuan yang dipakai oleh Allah. Yang pertama ialah ibu Musa, seorang perempuan Lewi (2:1). Ayah Musa bernama Amram, sedang ibunya bernama Yokhebed (Bil. 26:58-59). Bilangan 26 menekankan nama-nama, namun Keluaran 2 menekankan hayat perempuan. Dengan alasan inilah maka kecuali Zipora, istri Musa, pasal ini tidak menyebutkan nama-nama perempuan.

Setelah dilahirkan oleh ibunya, Musa disembuyikan selama tiga bulan. Sampai saat ibunya tidak dapat menyembunyikan dia lagi, lalu diletakkannya dia di dalam peti pandan dan ditaruhnya di tengah-tengah teberau di tepi Sungai Nil. Tetapi akhirnya dia diupahi oleh putri Firaun untuk merawatnya selama sejangka waktu. Jadi, perempuan pertama yang disebut Keluaran 2 adalah ibu Musa, hayat yang melahirkan dia serta merawat dia.

B. SAUDARA PEREMPUAN DARI ANAK LAKI-LAKI ITU

Wanita kedua ialah Miryam, kakak Musa. Boleh jadi ayah, ibu dan kakak perempuan Musa mengadakan rapat keluarga mengenai apa yang akan mereka perbuat terhadap Musa, karena mereka tak dapat lagi menyembunyikan dia. Saya yakin bahwa Tuhanlah yang memimpin mereka membuat peti pandan itu. Dalam bahasa Ibraninya, kata “peti” di sini sama dengan “bahtera” yang dibangun oleh Nuh. Bahtera ini jauh lebih kecil daripada yang dibangun Nuh, namun fungsi kedua bahtera ini sama: melindungi hayat dengan membawa mereka yang di dalamnya melewati air. Kemungkinan keluarga Musa telah mengetahui bahwa putri Firaun mempunyai kebiasaan untuk mandi di tempat tertentu di sungai, sehingga mereka mengharapkan Musa dapat ditemukan dan dipelihara olehnya. Dengan dukungan sang ayah dari belakang, Musa, ibu dan kakaknya bekerja sama untuk melaksanakan rencana tersebut. “Ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi Sungai Nil; kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia” (Kel. 2:3-4). Ketika putri Firaun nampak bayi itu dan menaruh belas kasihan kepadanya, kakak Musa lalu menawarkan agar ibunya diminta merawat dia (ayat 7-8). Demikianlah kakak Musa menjaga hayat laki-laki serta mengadakan hubungan antara putri Firaun dengan ibu Musa.

C. HAMBA PEREMPUAN PUTRI FIRAUN

Ketika putri Firaun melihat “peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya” (ayat 5). Di sini kita nampak bagian yang diperankan oleh seorang hamba perempuan. Hamba ini adalah perempuan ketiga yang disebut dalam pasal ini. Sekali lagi, nama sengaja tidak disebutkan agar kita lebih terkesan dengan maksud Allah mengenai hayat perempuan. Dalam Keluaran 2 kita nampak beberapa perempuan berkumpul mengitari sebuah peti yang di dalamnya terbaring seorang bayi laki-laki berumur tiga bulan. Masing-masing perempuan ini memiliki fungsi yang berbeda. Fungsi hamba perempuan ini adalah melayani. Khususnya untuk mengambil peti itu.

D. PUTRI FIRAUN

Putri Firaun, perempuan keempat dalam pasal ini, mempunyai fungsinya tersendiri. Pertama-tama dia menyelamatkan Musa, setelah itu mengupahi ibu Musa untuk merawat dia. Kemudian, anak itu dibawa kepada putri Firaun, “yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: ‘Karena aku telah menariknya dari air’” (ayat 10). Melalui Kisah Para Rasul 7:21, kita mengetahui bahwa “Putri Firaun memungutnya dan mengasuhnya seperti anaknya sendiri.”

Dalam Keluaran 2 kita memiliki catatan sejarah, namun dalam Kisah Para Rasul 7 dan Ibrani 11 kita memiliki catatan rohani. Misalnya, Kisah Para Rasul 7:20 mengatakan bahwa Musa “elok di mata Allah”. Ini berarti Musa sangat elok dalam pandangan Allah. Orang tuanya pasti takwa kepada Allah. Berdasarkan pandangan dan daya pembeda rohani yang tajam, mereka tahu bahwa Musa adalah anak yang sangat diharapkan bagi kehendak Allah. Sebab itu mereka menyembunyikan dia sampai tiga bulan lamanya, “karena mereka melihat bahwa anak itu elok rupanya” (Ibr. 11:23 Tl.).

Yang ditekankan dalam Keluaran 2 bukanlah makna rohani atas riwayat Musa semasa muda, melainkan peran penting yang diperankan oleh hayat perempuan. Tulisan tentang Musa, di tempat lain memang dipaparkan dengan panjang lebar, namun dalam Keluaran 2 terdapat catatan yang sangat sederhana, agar kita terkesan oleh cara Allah memakai hayat perempuan pada saat-saat yang kritis. Hayat yang bisa dipakai oleh Allah selama saat-saat yang genting adalah hayat perempuan yang berdiri di pihak Allah serta bersandar kepada-Nya.

Kita ini sedang hidup pada masa yang kritis, di mana hayat perempuan sangat diperlukan. Seseorang yang menganggap dirinya laki-laki akan menjadi Firaun. Kita semua, termasuk para saudara, seharusnya sebagai perempuan. Pada saat kritis seperti sekarang ini, hayat laki-laki yang merdeka terhadap Allah tidaklah berguna. Hanya hayat perempuan, yakni hayat yang bersandar kepada Allah itulah yang berguna. Jika kita nampak ini, tentulah kita akan mempunyai apresiasi besar terhadap hayat perempuan, yaitu hayat yang mutlak bersandar kepada Allah.

Dalam pasal 2 Allah memakai sejumlah perempuan untuk menggenapkan kehendak-Nya dalam mempersiapkan seorang penyelamat. Satu di antara perempuan-perempuan ini ialah ibu Musa, yang melahirkan dia dan merawat dia. Satu lagi, ialah Miryam, kakaknya yang mengawasi dia tatkala dia dalam peti dan menjadi penghubung antara putri Firaun dengan ibu Musa. Hamba perempuan mengambilkan peti pandan, dan putri Firaun membesarkan Musa sebagai putranya sendiri. Mungkin dia pula yang mendidik Musa dengan “segala hikmat orang Mesir” (Kis. 7:22). Hari ini kita juga memerlukan berbagai fungsi hayat perempuan: mengandung, melahirkan, dan merawat; mengasuh, membina, dan mendirikan hubungan yang wajar; membantu dan melayani; serta membesarkan, mendidik, dan melatih. Melalui keempat macam hayat perempuan ini, Musa dilahirkan, dibesarkan, dan dilatih bagi kehendak Allah. Bagi terlaksananya ekonomi-Nya hari ini, Tuhan memerlukan keempat macam hayat perempuan ini. Ia memerlukan para ibu, para putri, hamba perempuan, serta putri-putri raja yang membuat persiapan bagi penyelamatan umat-Nya sehingga mereka bisa mengenapkan kehendak-Nya.

II. MELALUI MEMPELAJARI HIKMAT ORANG MESIR

Kisah Para Rasul 7:22 mengatakan, “Musa pun dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Di bawah pengaturan Allah, Musa mempelajari segala hikmat orang Mesir sewaktu berada di istana raja sebagai anak putri Firaun. Melalui pendidikan Mesirnya, dia menjadi sangat terpelajar serta menerima pendidikan yang tertinggi di dunia, sehingga ia berkuasa dalam perkataan maupun perbuatan. Tetapi, itu sekadar persiapan di pihak alamiah; dia masih memerlukan persiapan di pihak rohaninya.

III. MELALUI DITOLAK OLEH SAUDARA-SAUDARANYA

A. BERUSAHA MENYELAMATKAN SAUDARA-SAUDARANYA

Kisah Para Rasul 7:23 mengatakan, “Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel.” Dalam Alkitab, angka empat puluh melambangkan pencobaan, ujian, dan penderitaan. Orang Israel telah diuji oleh Allah selama empat puluh tahun di padang gurun. Musa berada di gunung selama empat puluh hari, dan Tuhan berada di padang belantara selama empat puluh hari. Empat puluh tahun pertama dalam hidup Musa merupakan tahun-tahun pencobaan, pengujian, dan penderitaan. Menjelang akhir empat puluh tahun ini, Musa merasa yakin bahwa dia telah diperlengkapi, memenuhi syarat dan telah sempurna untuk menyelamatkan orang Israel. “Ia menyangka saudara-saudaranya akan mengerti bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka” (Kis. 7:25). Ketika dilihatnya seorang Mesir menindas seorang saudara sebangsanya, maka “dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir” (Kel. 2:12).

Kisah Para Rasul 7:22 mengisahkan bahwa Musa “berkuasa dalam perkataan”, namun dalam Keluaran 4:10 Musa berkata kepada Tuhan, “Aku ini tidak pandai bicara . . . sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Bagaimana kita bisa merujukkan ayat-ayat ini? Musa itu berkuasa dalam perkataan atau dia itu berat mulut? Pada usia empat puluh, Musa menilai dirinya sebagai orang yang berpendidikan lengkap dan memenuhi syarat, sehingga dia bertindak dengan berani dan bersikap keras. Namun kekerasan dan keberaniannya itu sepenuhnya alamiah. Allah tidak memakai kecakapan alamiah, kekuatan alamiah, atau keberanian alamiah Musa. Untuk mematahkan kekuatan alamiah Musa yang alamiah, Allah membuatnya bekerja sebagai gambala di tanah Midian. Demikianlah, seorang yang dibesarkan di dalam keluarga raja Mesir dan yang telah meraih taraf pendidikan tertinggi, menjadilah seorang gembala. Selama empat puluh tahun yang lainnya, Musa menggembalakan kawanan domba mertuanya di padang gurun. Inilah “sekolah” yang terbaik bagi Musa. Di “sekolah” ini dia dilatih untuk tidak mempercayai kekuatan alamiahnya. Dari segi alamiahnya, dia itu fasih lidah, pemberani, perkasa, dan kuat. Tetapi, dari segi rohaninya, dia terus dilatih sampai dia mengenal bahwa dirinya itu bukan apa-apa.

Sewaktu Allah memanggil Musa dalam pasal 3, Dia menunjukkan pertanda semak yang menyala, yakni semak yang menyala tanpa dihanguskan (3:2-3). Seolah-olah Allah berkata, “Musa, kamu ini justru semak yang melaluinya Aku ingin mengekspresikan diri-Ku. Aku menghendaki kamu sebagai saluran-Ku, namun Aku tidak mau menggunakan tenaga maupun kekuatanmu. Kamu hanya bejana, dan diri-Ku inilah bahan bakarnya. Apa saja yang kamu lakukan, haruslah bersandar kepada-Ku.”

Jangan sekali-kali mengira bahwa Allah mau menggunakan kekuatan atau kecakapan Anda untuk menggenapkan kehendak-Nya. Agar dapat dipakai oleh Allah, kita perlu memiliki hati tertuju kepada-Nya dan bagi kepentingan-Nya, tetapi kekuatan alamiah kita harus dikesampingkan. Allah tidak mau memakai kefasihan lidah, pengetahuan, bakat, keterampilan, energi atau kekuatan kita. Segala yang alamiah di dalam kita tidak dapat dipakai oleh-Nya.

Allah menggunakan empat puluh tahun yang pertama dari hidup Musa untuk membangun seorang manusia yang kuat dalam hayat alamiah, kemudian menggunakan empat puluh tahun yang berikutnya untuk mengupas manusia ini dari segala keterampilan alamiahnya. Terhadap kebanyakan orang, khususnya terhadap kaum muda, empat puluh tahun merupakan jangka waktu yang terlalu panjang bagi Allah untuk menanggulangi keterampilan dan tenaga alamiah kita. Tetapi sebagai saudara yang lebih tua, yang telah berpengalaman lebih dari lima puluh tahun di dalam Tuhan, saya bisa bersaksi bahwa empat puluh tahun itu lewat dengan sangat cepat. Jangan berharap untuk bertumbuh dan berkembang seperti jamur. Cara Allah ialah pertama-tama membangun kita dulu, dan kemudian dalam suatu pengertian, meruntuhkan kita. Allah memang menghendaki Musa mempelajari segala hikmat dan pengetahuan orang Mesir, namun hikmat dan pengetahuan itu tidak boleh tinggal mentah tanpa diproses, melainkan harus terus diproses. Baik kita menyukai proses ini atau tidak, kita wajib menempuhnya guna belajar tidak bersandar pada kekuatan atau kemampu-an alamiah kita. Setelah semua yang terbangun di dalam kita secara alamiah dikesampingkan, barulah kita akan berguna bagi Tuhan.

B. DITOLAK OLEH SAUDARA-SAUDARANYA

Dalam pasal ini Musa dipelihara oleh hayat perempuan dan ditolak oleh hayat laki-laki (ayat 11-15). Pada saat-saat kritis, hayat perempuan sering dipakai oleh Allah untuk memelihara sesuatu bagi kehendak-Nya. Tetapi, apa saja yang Allah pelihara melalui hayat perempuan, ditolak oleh hayat laki-laki. Prinsip ini bisa diterapkan pada sejarah pergerakan Allah di bumi ini.

Hayat manakah yang lebih Anda sukai hayat yang memelihara atau hayat yang menolak? Bila pertanyaan ini ditujukan kepada saya, saya akan menjawab bahwa saya menghargai kedua-duanya dan memerlukan kedua-duanya. Saya perlu dipelihara, juga perlu ditolak. Jika dalam pemulihan Tuhan Anda tidak pernah ditolak, Anda tidak akan tahu di mana Anda. Orang-orang yang ditolak itulah yang bisa dipakai oleh Allah. Jika Anda tidak ditolak, Anda akan tetap “mentah” dan belum diproses. Terprosesnya kita memerlukan tertolaknya kita. Saya telah ditolak berkali-kali. Karakter dan tabiat saya perlu dan patut menerima penolakan.

Telah kita lihat bahwa Musa itu secara alamiah sangat kuat dan menganggap bahwa saudara-saudara Ibraninya pasti akan mengakui dia sebagai penolong mereka. Karena ia kuat, maka ia terus terang. Inilah ciri khas semua orang yang kuat. Tetapi sama seperti Musa, semakin kuat diri kita, kita semakin ditolak. Mungkin hanya mereka yang seperti “ubur-ubur” yang akan selalu diterima.

Dengan hati yang baik serta maksud yang baik Musa menengahi perkelahian antara dua orang Ibrani. Dia berkata kepada yang bersalah, “Mengapa engkau pukul temanmu?” (2:13). Seolah-olah Musa berkata, “Sebagai sesama orang Ibrani, hendaklah kalian mengasihi satu sama lain. Mengapa engkau menyalahi saudaramu?” Orang Ibrani yang menyalahi sesamanya orang Ibrani menjawab, “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” (ayat 14). Jadi, di sini, orang yang telah dibesarkan melalui hayat perempuan mengalami penolakan.

Sama prinsipnya, Tuhan Yesus disalibkan oleh hayat laki-laki, tetapi diapresiasi oleh hayat perempuan. Ketika Tuhan disalibkan, saudari-saudari telah menyatakan kasih dan apresiasi mereka. Pada saat-saat krisis selalu demikian. Karena itu, kita semua perlu menjadi perempuan.

C. MENINGGALKAN POSISI RAJA

Ibrani 11:24 mengatakan, “Karena iman, setelah dewasa, Musa menolak disebut anak putri Firaun.” Ada beberapa ahli sejarah yakin bahwa jika Musa tetap tinggal di istana Mesir, dia bisa menjadi orang yang mewarisi posisi raja. Namun Musa meninggalkan posisi raja Mesir, yaitu satu posisi yang paling tinggi di dunia pada masa itu.

D. MEMILIH MENDERITA SENGSARA DENGAN UMAT ALLAH

Ibrani 11:25 dan 26 mengatakan, “Karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab ia mengarahkan pandangannya kepada upah.” Di sini kita nampak bahwa Musa membayar harga untuk berdiri di pihak umat Allah. Ia lebih suka menderita sengsara bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan sementara dari dosa. Kenikmatan di Mesir adalah kenikmatan atas pelesiran duniawi, yang berdosa dalam pandangan Allah. Itu merupakan kesenangan dosa, kenikmatan hayat dosa yang sementara, pendek umur, dan cepat berlalu.

E. MENINGGALKAN MESIR KARENA IMAN

TANPA TAKUT KEPADA MURKA FIRAUN

Ibrani 11:27 mengisahkan tentang Musa, “Karena iman, ia telah meninggalkan Mesir tanpa takut kepada murka raja.” Di sini terdapat kontradiksi antara Ibrani 11:27 yang mengatakan bahwa Musa tidak takut kepada murka raja, dengan Keluaran 2:14 yang mengatakan bahwa “Musa menjadi takut”. Sesungguhnya tidak ada kontradiksi. Secara lahiriah, Musa memang takut dan melarikan diri. Namun, secara batiniah, dia telah mempertimbangkan besarnya pengorbanan dan dengan suka rela memilih kedudukannya sebagai umat Allah.

F. BERTEKUN, SEOLAH NAMPAK YANG TAK KELIHATAN ITU

Ibrani 11:27 juga mengatakan bahwa Musa “bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan”. Musa bertahan, tabah, karena Allah yang tidak kelihatan itu sedang bekerja atas dirinya. Begitu nyatanya pekerjaan Allah, sehingga Musa seolah-olah nampak Allah yang tidak kelihatan itu.

IV. MELALUI DITERIMA OLEH ORANG KAFIR

A. MENOLONG PEREMPUAN YANG LEMAH DAN MENDERITA,

SERTA DIHORMATI DAN DIHARGAI OLEH HAYAT PEREMPUAN

Setelah Musa ditolak oleh saudara-saudaranya dan melarikan diri ke tanah Midian, di sana ia menolong perempuan yang lemah dan menderita, yang diperlakukan tidak baik oleh gembala-gembala (ayat 16-17). Sebagai imbalannya, Musa disambut oleh mereka. Musa ditolak oleh saudara-saudaranya karena terlalu berani, namun dia disambut oleh perempuan-perempuan karena ia menolong mereka dalam penderitaan. Perempuan-perempuan itu, yakni ketujuh putri imam Midian, merupakan bejana-bejana yang lemah. Ketika beberapa laki-laki menguasai sumur tersebut, mereka tak berdaya berbuat apa-apa. Tetapi “Musa bangkit dan menolong mereka dan memberi minum kambing dan domba mereka”

(ayat 17). Akibatnya, mereka menyambut Musa dan menceritakan kebaikannya di hadapan ayah mereka. Jadi, hayat perempuan bukan hanya hayat yang dapat Allah pakai untuk memelihara sesuatu bagi kehendak-Nya, tetapi juga hayat yang menerima apa yang telah dipeliharanya itu. Sebagian besar dari gambaran hayat laki-laki dalam pasal ini sangat gelap, sedangkan gambaran hayat perempuan itu manis dan sangat positif.

Pada prinsipnya, selama masa penganiayaan dan penderitaan, orang akan terhibur terutama oleh saudari-saudari. Contohnya, sewaktu Petrus dilepaskan dari penjara, dia tidak pergi ke rumah seorang saudara, melainkan ke rumah seorang saudari, di mana beberapa orang berkumpul untuk berdoa (Kis. 12:11-12). Pengalaman Saudara Watchman Nee sendiri juga menggambarkan prinsip ini. Saudari-saudari menghargai dia serta menghibur dia di saat-saat yang sulit. Yang menyalibkan Saudara Watchman Nee kebanyakan adalah saudara, sedangkan yang menyambut dan menghibur dia adalah saudari. Setelah saya menyadari hal ini di Shanghai, saya terus belajar tidak menjadi laki-laki yang mempertahankan opini, dingin, atau netral, tetapi menjadi perempuan, yang mau menyambut dan menghibur.

B. DITERIMA OLEH HAYAT LAKI-LAKI YANG DEWASA

Laki-laki Ibrani yang menolak Musa itu semuanya masih hijau dan tanpa pengalaman. Namun pada imam Midian kita nampak hayat laki-laki yang dewasa, berpengalaman, yang menyambut bejana yang dibangunkan oleh Allah. Semua perempuan dalam pasal ini adalah positif, tetapi laki-lakinya terbagi dua kategori, yaitu golongan hayat yang menolak dan yang satunya positif, hayat yang menerima. Yang menolak itu tidak berpengalaman, sedangkan hayat yang menerima itu berpengalaman dan dewasa. Karena itu, Allah bisa memakai hayat laki-laki yang dewasa ini untuk menyempurnakan bejana yang telah Ia bangunkan. Tidak diragukan, Musa digenapkan di bawah tangan mertuanya. Saya benar-benar ingin menjadi orang yang dewasa, yang bisa menerima orang lain seraya menggenapkan mereka.

Dalam hidup gereja hari ini, kita memerlukan hayat perempuan dan hayat laki-laki yang dewasa bagi ekonomi Tuhan. Jika Allah ingin membangunkan sesuatu, kita perlu memiliki beberapa perempuan yang seperti ibu dan kakak Musa, dayang-dayang, putri Firaun, serta ketujuh putri imam Midian. Kita pun harus memiliki hayat laki-laki yang berpengalaman untuk melakukan pekerjaan penggenapan yang terakhir, khususnya memerlukan hayat laki-laki yang dewasa.

Akhir-akhir ini, banyak di antara kita yang terdorong oleh berita-berita Surat Efesus bahwa kita semua bisa diperlengkapi menjadi rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, serta gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Untuk menjadi karunia-karunia sedemikian bagi Tubuh, kita tidak bisa tetap tinggal sebagai orang-orang yang tidak pernah diproses, masih hijau, tanpa pengalaman, tidak bisa menerima bejana-bejana pilihan Allah. Kita perlu dipelihara melalui hayat perempuan, dan digenapkan melalui hayat laki-laki yang dewasa.

C. BEROLEH ISTRI DI DUNIA ORANG KAFIR

Selama masa pengembaraannya di dunia kafir, Musa mendapatkan seorang istri, Zipora, anak perempuan seorang imam di Midian. Perempuan itu melahirkan seorang putra dan “Musa menamainya Gersom, sebab katanya: ‘Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing’” (ayat 22).

D. TINGGAL DI MIDIAN SELAMA EMPAT PULUH TAHUN

Musa tinggal di Midian selama empat puluh tahun (Kis. 7:30). Selama tahun-tahun itu, Allah bekerja pada dirinya dengan maksud menggenapkannya. Orang-orang muda yang mendengar hal ini, mungkin kecewa, dan menganggap bahwa mereka tidak tahan menunggu selama itu untuk digenapi. Jika ingin digenapi dalam jangka waktu yang panjang, kita harus memiliki hati yang tepat, sikap yang tepat, dan kedudukan yang tepat. Di manakah hati Anda? Apakah kedudukan Anda? Hati kita patutlah bagi Tuhan, dan kedudukan kita patutlah bersama umat Allah. Jika kita mempunyai hati dan kedudukan yang sedemikian, niscayalah kita rela menerima pelatihan Tuhan, tanpa memperhitungkan berapa lama itu berlangsung.

V. PERLU SEORANG PENYELAMAT

Di akhir pasal ini kita nampak bahwa di antara bani Israel ada suatu keperluan yang mendesak akan seorang penyelamat: “Orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah” (ayat 23). Itulah sebabnya Allah mendengar keluhan mereka, dan mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, yaitu akan membawa keturunan mereka ke tanah permai. Allah terikat oleh kewajiban memenuhi janji-Nya. Ayat 25 merupakan kesimpulan dari pasal ini: “Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan (tahu akan) mereka”. Ini menunjukkan bahwa Allah mengetahui situasi mereka, juga memahami kesulitan mereka.

Ayat-ayat terakhir pada Keluaran 2 mewahyukan bahwa semua peristiwa dalam pasal ini adalah untuk mempersiapkan penyelamat untuk membawa umat Allah keluar dari perbudakan. Sama dengan situasi hari ini. Jika kita memiliki hayat perempuan dan hayat laki-laki yang tepat, Allah bisa membangunkan sesuatu dan menggenapkan apa yang Ia bangunkan itu, untuk menyelamatkan umat-Nya serta memperoleh mereka bagi penggenapan kehendak-Nya. Demikian, Dia bisa mengalihkan zaman.