← Daftar isi Keluaran (1) · bab 2/15

ORANG ISRAEL DI BAWAH PERBUDAKAN

Dilihat dari komposisinya, Kitab Keluaran merupakan kelanjutan dari Kitab Kejadian. Hal ini dibuktikan oleh pembukaan Kitab Keluaran: “Inilah nama para anak Israel yang datang ke Mesir” (1:1). Kitab Kejadian mempunyai permulaan yang menakjubkan, namun diakhiri dengan sangat kasihan. Dibuka dengan kalimat, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Tetapi diakhiri dengan pernyataan, “Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir.” Ini menunjukkan bahwa umat pilihan Allah berada dalam situasi kematian.

Keluaran 1 merupakan pengungkapan lebih lanjut tentang keadaan umat Allah di Mesir. Walaupun mereka berada dalam kematian, tetapi bukannya tidak aktif; mereka hidup dan aktif dalam kematian. Inilah pemikiran Paulus dalam Efesus 2, yang memberi tahu kita bahwa kita yang mengikuti zaman dunia ini telah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa, hidup dalam hawa nafsu daging serta menuruti kehendak dan pikiran-pikiran daging. Orang-orang yang mati rohani itu walaupun masih dapat melakukan pekerjaan, namun itu pekerjaan-pekerjaan yang mati, pekerjaan dari kematian.

Keluaran 1 adalah catatan rinci tentang aktivitas umat Allah dalam situasi kematiannya di Mesir. Mereka dipaksa menjadi budak Firaun, mereka sudah di dalam kematian, bahkan setiap hari dibunuh. Kedengarannya memang aneh, orang mati masih akan dibunuh, namun ini nyata dalam pengalaman rohani. Meskipun orang-orang duniawi telah mati rohani, namun mereka dibunuh terus-menerus. Inilah ciri-ciri situasi perbudakan dan kematian di antara orang-orang duniawi hari ini, sama seperti umat Allah dalam Keluaran 1. Pertama-tama manusia diperbudak oleh dunia dan kemudian dimatikan dan dibunuh. Orang boleh mengira bahwa kebudayaan manusia sedang berkembang dan maju secara positif, namun dalam pandangan Allah, perbudakan dan kematian di bumi hari ini lebih hebat daripada sebelumnya. Sebelum kita datang kepada Kristus dan diselamatkan, kita juga berada di bawah perbudakan dan kematian. Lagi pula sebelum kita menempuh hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, banyak di antara kita yang terus-menerus berada di bawah perbudakan dan kematian, bahkan setelah kita beroleh selamat sekalipun. Kita semua perlu waspada agar tidak diperbudak dan dimatikan lagi.

Kitab Kejadian dimulai dengan permulaan yang indah dan ajaib, namun berakhir dengan situasi yang kasihan; sebaliknya Kitab Keluaran dimulai dengan situasi yang kasihan, namun berakhir dengan kemuliaan. Telah kita tunjukkan, Kitab Kejadian dimulai dengan penciptaan Allah, tetapi diakhiri dengan manusia yang mati di dalam peti mati di Mesir. Berkebalikan dengan Kitab Keluaran, yang dibuka dengan sebuah gambaran umat Allah yang diperbudak dan dalam kematian, tetapi diakhiri dengan tabut di dalam Kemah yang dipenuhi dengan kemuliaan Allah. Alangkah besar perbedaan antara akhir Kitab Kejadian dan akhir Kitab Keluaran! Mana yang Anda sukai sebuah peti mati di Mesir atau tabut di dalam Kemah yang dipenuhi dengan kemuliaan Allah?

I. BERKAITAN DENGAN NAFKAH MEREKA

Dalam berita ini kita akan melihat perbudakan terhadap orang Israel. Mereka dilahirkan di Kanaan, namun karena kekurangan makanan, mereka terpaksa turun ke Mesir, dan akhirnya diperbudak. Dengan ini kita nampak bahwa orang bisa diperbudak terutama karena nafkah atau untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Orang-orang dunia tertarik oleh berbagai hiburan, karena mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik. Demikian pula, hari ini orang-orang mengejar pendidikan atau pelatihan ketrampilan yang lebih tinggi agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik, bahkan yang paling baik. Di seluruh dunia, baik di negara yang maju maupun di negara yang terbelakang, orang-orang diperbudak oleh kebutuhan akan penghasilan yang baik. Ini juga merupakan situasi orang Israel di Mesir.

A. MESIR MELAMBANGKAN DUNIA

Menurut Alkitab, dunia sedikitnya meliputi tiga aspek: Babel melambangkan dunia yang memberontak dan menyembah berhala; Sodom melambangkan dunia kedosaan; dan Mesir melambangkan dunia kenikmatan dan pelesiran. Pemberontakan berhubungan dengan berhala, yaitu penyembahan terhadap sesuatu yang bukan Allah. Karena siapa saja yang menyembah berhala berarti memberontak terhadap Allah, maka menyembah berhala menandakan pemberontakan. Dalam Alkitab, Babel melambangkan dunia pemberontakan dan berhala. Hari ini bumi penuh dengan berhala, tidak terkecuali dalam kalangan kekristenan.

Abraham dipanggil keluar dari Babel berarti keluar dari dunia pemberontakan dan berhala. Panggilan Allah terhadap Abraham untuk keluar dari Babel melambangkan panggilan terhadap kita untuk keluar dari dunia pemberontakan dan berhala. Sebagaimana telah kita tunjukkan, panggilan terhadap Abraham baru melambangkan satu aspek dari diselamatkannya kita dari dunia.

1. Kaya akan Suplai Materi serta Penuh dengan Kenikmatan dan Pelesiran Jasmani

Keluarnya Israel dari Mesir melambangkan aspek yang lain. Mesir melambangkan kenikmatan dan pelesiran dunia. Orang yang terjerat dalam aspek dunia ini, terutama tidak jatuh ke dalam pemberontakan maupun berhala, melainkan diduduki oleh pelesiran, kekayaan materi, dan kenikmatan jasmani dunia (Kej. 12:10; 42:1; Bil. 11:4-5). Sungai Nil yang mengairi Tanah Mesir itu menjadikan tanah ini kaya akan produksi. Ketika orang Israel mengembara di padang gurun, mereka berkata, “Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih” (Bil. 11:5). Semua itu melambangkan kekayaan materi dari dunia bagi kenikmatan dan pelesiran jasmani.

Sebelum diselamatkan, kita tidak hanya berada dalam dunia pemberontakan dan berhala, tetapi juga dalam dunia kekayaan dan kenikmatan. Abraham dipanggil keluar dari dunia pemberontakan, tetapi orang Israel dikeluarkan dari dunia kenikmatan. Mesir bukan hanya kaya akan suplai makanan, tetapi juga kaya akan emas. Ini dibuktikan oleh fakta saat orang Israel akan keluar, mereka diberi emas oleh orang Mesir.

2. Menduduki Orang yang Allah Ciptakan dan Pilih bagi Kehendak-Nya

Dunia yang dilambangkan oleh Mesir telah menduduki orang yang Allah ciptakan dan pilih bagi kehendak-Nya (5:6-9). Orang Israel diperbudak oleh dunia yang memberikan kenikmatan dan nafkah kepada mereka. Hari ini, banyak orang, entah kaya atau miskin, telah diperbudak oleh uang. Mereka giat bekerja untuk mendapatkan uang yang banyak dan kemudian dalam waktu yang singkat dihamburkan untuk kesenangan pelesiran. Hari ini banyak orang tidak melayani Allah, tetapi melayani mamon. Inilah situasi di antara orang Israel kuno di Mesir. Mereka menempuh kehidupan yang “baik” dan mereka menikmati kekayaan dunia; namun Mesir membuat mereka tidak dapat menggenapkan kehendak Allah yang semula dalam memanggil mereka.

Orang-orang Israel di Mesir menjadi kuat. Keluaran 1:7 mengatakan, “Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.” Dalam satu pengertian, dengan dahsyat berlipat ganda berarti juga menjadi kaya. Suatu negara yang tidak memiliki banyak uang, bagaimana bisa menjadi negara yang hebat? Contohnya Amerika Serikat adalah negara yang hebat disebabkan oleh perekonomiannya.

Orang-orang Israel menikmati dunia yang dilambangkan oleh Mesir. Mereka tidak berada pada aspek pertama dunia yang dilambangkan oleh Babel, ataupun aspek kedua yang dilambangkan oleh Sodom. Tetapi mereka diperbudak dalam aspek ketiga, yang dilambangkan oleh Mesir. Karena mereka telah diduduki oleh kekayaan dan kenikmatan dunia, maka mereka tidak dapat menggenapkan kehendak Allah dalam menciptakan dan memilih mereka. Sama prinsipnya, hari ini orang-orang dunia telah diduduki oleh Iblis. Akibatnya, mereka tidak memahami kehendak Allah. Betapa kita perlu memuji Tuhan yang telah melepaskan kita dari perbudakan dunia dan membebaskan kita dari tangan penjajahan Iblis!

B. Orang Israel Jatuh

ke Dalam Kelaliman Orang Mesir

Karena perlu mempertahankan nafkahnya, orang Israel jatuh ke dalam kelaliman orang Mesir (1:10-11). Orang dunia hari ini juga berada di bawah kelaliman Iblis, bahkan pekerjaan mereka dan hiburan-hiburan duniawi juga menandakan bahwa mereka berada di bawah kelaliman Iblis. Mereka dipaksa untuk mengikuti suatu arus, mereka ditahan di bawah kelaliman Iblis, sehingga mereka tidak dapat menggenapkan kehendak Allah, tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan yang tepat.

II. PERBUDAKAN FIRAUN TERHADAP ISRAEL

A. FIRAUN MELAMBANGKAN IBLIS (SATAN)

Orang Israel berada di bawah perbudakan Firaun (1:8-11, 13-14) yang melambangkan Iblis, penguasa dunia (Yoh. 12:31; Ef. 2:2). Karena dalam hal ini Firaun merupakan perwujudan Iblis, maka dalam Kitab Keluaran sebagai sebuah kitab gambar ini, ia adalah gambaran dari Iblis.

B. FIRAUN MEMBUAT UMAT ALLAH

BEKERJA BAGINYA

1. Dengan Siasat Memperlakukan Mereka

Firaun memaksa umat Allah bekerja baginya (1:10-11, 13-14). Dalam ayat 10 Firaun berkata, “Marilah kita bertindak dengan bijaksana (siasat) terhadap mereka.” Orang-orang dunia tidak memahami siasat Iblis, dan betapa liciknya dia merampas, menduduki, dan memperbudak mereka. Tujuan siasat Iblis tidak lain adalah untuk memperbudak umat manusia.

2. Dengan Kejam Memaksa Mereka Bekerja

Ayat 13 mengatakan, “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja.” Beberapa terjemahan menerjemahkan kata “kejam” dengan “kekerasan”. Kata ini menunjukkan bahwa orang Israel tidak memiliki kemerdekaan, hak, dan perhentian. Tak peduli bagaimana keadaan mereka, tetap diperbudak. Mereka harus melakukan apa yang Firaun perintahkan.

3. Memahitkan Hidup Mereka dengan Pekerjaan yang Berat

a. Mengerjakan Tanah Liat,

Batu Bata, dan Berbagai Macam Pekerjaan

Ayat 14 melanjutkan, “Dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” Firaun memahitkan hidup orang Israel dengan pekerjaan yang berat. Dalam pandangan Allah, hari ini semua orang sedang bekerja di “padang”. Boleh jadi Anda sedang bekerja di rumah sakit, pabrik, atau kantor, namun sebenarnya Anda sedang bekerja di “padang” membuat “batu bata” dari adukan “tanah liat”.

b. Mendirikan bagi Firaun Dua Kota Perbekalan

Sebagai budak di Mesir, orang Israel “mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses” (ayat 11). Pitom berarti “muara kejujuran” dan Raamses berarti “guntur standar”. Nama-nama ini menunjukkan bahwa kota-kota perbekalan Firaun didirikan untuk kesombongan dan kemegahan diri, seperti halnya piramida. Saya yakin, atas perintah Firaun, rakyat Mesir mendirikan kota-kota perbekalan ini untuk menyombongkan ketulusan, kejujuran, dan kebaikan mereka, juga untuk menyebarkan standar kebudayaan mereka. Hari ini slogan kejujuran masih menggema di seluruh dunia. Setiap negara dan bangsa menyombongkan kebaikannya. Lagi pula, setiap negara baik yang berkembang maupun tidak, sangat membanggakan hasil pencapaian mereka. Berabad-abad lamanya dunia selalu membanggakan kebaikan dan meneriakkan standarnya. Hari ini orang-orang dunia sedang membangun kota-kota perbekalan bagi Iblis untuk memamerkan kejujuran dan standar mereka.

Berbeda dengan orang dunia, Tuhan Yesus tidak pernah memamerkan kejujuran-Nya. Bukan kata-kata kemegahan, melainkan kata-kata indah yang diucapkan-Nya (Luk. 4:22). Selain itu, Tuhan tidak pernah menggemakan standar-Nya. Matius 12:19 berkata tentang Dia, “Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.”

c. Sama seperti Jerih Payah di Babel

Jerih payah orang Israel di Mesir sama seperti jerih payah orang-orang yang memberontak di Tanah Babel; Abraham justru dipanggil keluar dari Babel. Di Babel, orang-orang diperintah untuk mengerjakan tanah liat, membuat batu bata dan semen bagi pembangunan kota dan menara Babel guna mencari nama bagi mereka sendiri (Kej. 11:3-4). Di Mesir, Firaun memaksa orang Israel mendirikan kota-kota dari bata dan tanah liat baginya.

III. PEMBUNUHAN FIRAUN

TERHADAP ANAK-ANAK ORANG ISRAEL

A. MEMBUNUH ANAK LAKI-LAKI

DAN MEMBIARKAN HIDUP YANG PEREMPUAN

Firaun bukan hanya memperbudak orang Israel, tetapi juga berusaha membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan Ibrani (1:15-19). Ayat 22 mengatakan, “Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: ‘Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.’” Menurut Alkitab, hayat laki-laki adalah untuk kehendak Allah; namun hayat perempuan, terutama di antara orang-orang yang telah jatuh, adalah untuk kepuasan manusia. Sama dengan apa yang diperbuat oleh Firaun di Mesir, hari ini Iblis pun berbuat demikian: Iblis sedang membunuh hayat yang untuk kehendak Allah dan melindungi hayat yang untuk kepuasan manusia. Bahkan kita sendiri, sebagai kaum beriman, mungkin juga diperalat oleh Iblis untuk membunuh hayat laki-laki, hayat yang untuk kehendak Allah, dan melindungi hayat perempuan, hayat yang untuk kepuasan manusia. Setiap orang beriman memiliki kedua macam hayat ini. Bila kita tidak memiliki anugerah Tuhan, sehari-hari kita akan menjadi Firaun, pembunuh hayat yang untuk kehendak Allah serta memelihara hayat yang untuk kepuasan manusia. Contohnya, pada hari Tuhan orang-orang Kristen tidak berminat menghadiri sidang-sidang gereja. Sebaliknya, mereka menggunakan hari itu untuk olah raga, pelesiran, dan hiburan-hiburan. Bagaimanapun, pada hari Tuhan, kaum beriman haruslah beribadah kepada Tuhan, mendengarkan firman-Nya, dan melayani-Nya. Namun banyak orang beriman pada hari Tuhan membunuh hayat laki-laki dan memelihara hayat perempuan. Mereka sangat kurang dalam hal beribadah kepada Tuhan pada hari Tuhan, sebaliknya, mereka sangat aktif dan antusias dalam hal mengikuti berbagai pelesiran dan hiburan duniawi.

Iblis selalu menantikan kesempatan untuk membunuh hayat yang untuk kehendak Allah dan memelihara hayat yang untuk kepuasan manusia. Pernahkah Anda pikirkan, mengapa jauh lebih mudah mengobrol daripada berdoa? Berdoa adalah melatih hayat laki-laki, sedangkan mengobrol adalah melatih hayat perempuan. Bahkan hari ini Anda mungkin telah bersatu dengan Iblis untuk membunuh hayat di dalam Anda yang untuk kehendak Allah. Ketika Tuhan menggerakkan kita untuk berdoa, kita lebih suka mengobrol, maka kita telah diperalat Iblis untuk membunuh hayat laki-laki dan memelihara hayat perempuan. Ini menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan hari ini sama dengan apa yang Firaun lakukan dalam Keluaran 1. Anda hidup berdasarkan hayat yang untuk kehendak Allah ataukah hayat yang untuk kepuasan manusia? Mungkin pada waktu-waktu tertentu Anda mengangkat diri sendiri sebagai Firaun dan membunuh hayat yang untuk kehendak Allah, namun memelihara hayat yang untuk kepuasan Anda sendiri.

B. MEMERINTAHKAN BIDAN-BIDAN

MEMBUNUH HAYAT LAKI-LAKI

Dalam Kejadian 3:1-6 kita nampak Iblis memperalat Hawa, hayat perempuan, untuk membunuh hayat pria. Ini berarti Iblis memakai hayat yang untuk kepuasan manusia guna membunuh hayat yang untuk kehendak Allah. Bagai-manapun, Allah tetap akan memakai hayat perempuan untuk menggenapkan sesuatu bagi diri-Nya sendiri. Pada permulaan Perjanjian Lama, Iblis mendatangi seorang perempuan, Hawa, dan memperalatnya untuk membunuh hayat laki-laki, namun pada permulaan Perjanjian Baru, Allah mendatangi anak dara Maria untuk membawa masuk penyelamatan Allah. Kedatangan Iblis kepada Hawa menimbulkan kejatuhan, namun kedatangan Allah kepada Maria membawakan penyelamatan. Sama prinsipnya, dalam Keluaran 1, Firaun memerintahkan bidan-bidan untuk membunuh hayat laki-laki, namun melalui mereka Allah mempertahankan hayat yang untuk Allah dan kehendak-Nya.

Mungkin para saudari sangat mudah dipakai oleh musuh, tetapi mereka juga sangat mudah dipakai oleh Allah. Keadaan gereja mati atau terbangun itu tergantung pada para saudari. Para saudari perlu menjadi Maria-Maria hari ini. Ada banyak Maria dalam Perjanjian Baru. Marialah yang dipakai untuk mengandung dan melahirkan Yesus. Sedikitnya ada dua Maria yang hadir pada saat Tuhan Yesus disalibkan dan dikuburkan. Lagi pula, pada pagi hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena. Semua Maria ini dipakai oleh Tuhan bagi perampungan kehendak-Nya.

Menurut sejarah, ketika kondisi hal-hal yang berhubungan dengan Allah itu sangat indah di dalam Taman Eden, di saat kebangunan, di saat yang paling mulia datanglah Iblis merusak situasi itu dengan merampas para perempuannya. Jarang sekali Iblis dapat memperalat laki-laki secara demikian. Namun pada kondisi yang jatuh, pada saat yang mendesak, Allah memakai hayat perempuan untuk menyelamatkan situasi itu, serta membawa masuk penyelamatan-Nya. Demikianlah keadaan dalam Keluaran 1. Iblis mendatangi para perempuan pada saat kebangunan, karena Iblis paham bahwa mereka itu bejana yang lemah. Demikian juga, dengan mendatangi para perempuan, Tuhan mempermalukan Iblis. Firman Allah dengan kuat menunjukkan bahwa pada saat ada keperluan yang mendesak, selalu ada saudari di sana. Sejarah membuktikan prinsip ini baik di pihak positif maupun negatif. Sebab itu para saudari perlu waspada pada saat-saat yang indah, tetapi mereka juga perlu siap berdiri di pihak Tuhan, seperti bidan-bidan itu, dan dipakai oleh-Nya untuk memulihkan situasi dan merampungkan kehendak-Nya pada saat-saat kejatuhan dan adanya keperluan yang mendesak.

Kunci bagian yang kedua Keluaran 1 bukanlah pada hayat laki-laki, melainkan pada hayat perempuan. Firaun yang melambangkan Iblis, memperalat hayat perempuan bidan-bidan itu, untuk memusnahkan hayat laki-laki, namun Allah datang dan memakai bidan-bidan itu untuk melindungi hayat laki-laki. Prinsip ini sama pada kasus bidan dan anak dara Maria. Mereka semua dipakai oleh Allah untuk membawa masuk penyelamatan. Prinsip ini juga berlaku dalam hidup gereja hari ini. Ketika para saudari diperalat oleh Iblis, akan ada perusakan di dalam gereja. Tetapi ketika mereka dipakai oleh Tuhan, akan ada penyelamatan. Kita menengadah kepada Tuhan, kiranya Dia kembali memakai hayat perempuan untuk menyelamatkan situasi hidup gereja hari ini!

IV. KEDAULATAN ALLAH

A. MEMBUAT ORANG ISRAEL BERKEMBANG BIAK DAN MENJADI KUAT

Meskipun Firaun memperbudak orang-orang Israel dan berusaha sedapat mungkin membunuh hayat laki-laki, namun Allah masih berdaulat atas seluruh situasi itu (1:7, 12, 17-21). Contoh kedaulatan Allah ialah bahwa “orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda” (1:7). Hari ini gereja sering kali menjadi kuat tanpa alasan yang nyata. Hanya kedaulatan Allah yang bisa menyebabkannya kuat. Bertahun-tahun saya telah belajar tidak mempercayai pekerjaan maupun jerih lelah kita. Kita hanya mempercayai anugerah kedaulatan Tuhan. Bahkan kesalahan-kesalahan kita sekalipun akan menjadi kebaikan bila Tuhan memberkatinya. (Ini tidak berarti kita boleh berbuat jahat supaya kebaikan datang). Tak peduli betapa baik dan benarnya kita ini, tanpa diberkati Tuhan, kita tidak akan melihat hasil yang positif. Keyakinan kita bukanlah pada apa adanya kita dan apa yang mampu kita kerjakan, melainkan sepenuhnya di dalam Tuhan. Kita harus berdoa, “Tuhan selama kami mengikuti Engkau, kami akan menunaikan kewajiban kami. Namun Tuhan, sebagaimana Engkau tahu, kami tidak mempercayai apa adanya kami maupun apa yang mampu kami lakukan. Ya Tuhan, kami sepenuhnya percaya kepada apa adanya diri-Mu. Jika Engkau memberkati gereja-Mu dengan kedaulatan, gereja pasti akan berkembang-biak dan kuat.”

B. MENGUATKAN PEREMPUAN IBRANI

Kedaulatan Tuhan juga terlihat pada penguatan-Nya terhadap perempuan Ibrani (1:19). Ketika Firaun bertanya kepada bidan-bidan itu mengapa anak laki-laki masih dibiarkan hidup, mereka menjawab, “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin” (ayat 19). Bidan-bidan itu tidaklah berdusta ketika menjawab Firaun secara demikian, karena faktanya memang demikian. Perempuan Ibrani lebih kuat daripada perempuan Mesir. Ini adalah kedaulatan Allah. Perempuan Ibrani menjadi kuat tak lain karena kedaulatan Allah yang melakukannya.

Demikian juga dengan gereja hari ini. Gereja menjadi kuat atau lemah bukan tergantung pada apa yang kita lakukan, melainkan tergantung pada kedaulatan Tuhan. Namun bukannya kita lalu bermalas-malasan atau menganggur. Di satu pihak, kita tidak boleh berpikir bahwa pekerjaan kita akan menghasilkan berkat Allah; di pihak lain, kita pun tidak boleh berpikir bahwa karena segala sesuatu tergantung pada berkat Tuhan, maka kita tidak perlu mengerjakan apa-apa. Kita perlu bekerja dan menunaikan kewajiban kita, sambil menyadari bahwa apa yang kita lakukan untuk kondisi gereja dan kaum saleh adalah masalah kedaulatan Allah.

C. MEMAKAI HAYAT PEREMPUAN UNTUK MENYELAMATKAN HAYAT LAKI-LAKI

Selanjutnya dengan kedaulatan-Nya, Tuhan memakai hayat perempuan, bidan-bidan itu, untuk menyelamatkan hayat laki-laki. Sama prinsipnya dengan Allah memakai anak dara Maria untuk melahirkan Juruselamat (Gal. 4:4-5). Dengan siasat dan rencananya Firaun berusaha memusnahkan bangsa Israel. Allah tidak berebut dengan Firaun; dengan kedaulatan-Nya, Ia memakai dua orang bidan untuk menyelamatkan hayat laki-laki.

D. MEMPERLAKUKAN BIDAN-BIDAN ITU DENGAN BAIK DAN MEMBUAT MEREKA BERUMAH TANGGA

Ayat 20 dan 21 mengatakan, “Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga.” Allah memperlakukan bidan-bidan itu dengan baik, membuat mereka berumah tangga untuk melahirkan hayat bagi perampungan kehendak-Nya. Ini berarti Dia menggunakan hayat untuk kepuasan manusia guna memproduksi hayat untuk kehendak Allah. Dalam gambaran ini kita nampak bahwa jika kita menolak untuk memihak Firaun, dan kita memihak kepada Allah, maka Allah akan berbuat baik kepada kita, sehingga kita boleh memproduksi hayat bagi perampungan kehendak-Nya. Saudari-saudari, ketika kalian memihak Allah, tidak memihak Iblis, Allah akan membentuk rumah tangga bagi kalian. Ini berarti Allah akan mendirikan unit-unit untuk memproduksi hayat bagi perampungan kehendak-Nya.

Melalui berita ini kita berkesimpulan bahwa tak peduli bagaimana Iblis berusaha memperbudak atau membunuh kita, Allah tetap berdaulat dan Dia dapat menjadikan kita bidan-bidan hari ini. Kita semua dapat mengalihkan hayat untuk kepuasan manusia menjadi hayat untuk kehendak Allah. Jika kita adalah bidan-bidan yang sedemikian, Allah akan membentuk rumah tangga bagi kita dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang memproduksi hayat bagi perampungan kehendak Allah. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat Musa dirawat dan diasuh oleh tiga orang perempuan: ibunya, kakak perempuannya, dan putri Firaun. Puji Tuhan atas bidan-bidan itu, hayat perempuan yang berpaling kepada Allah bagi perampungan kehendak-Nya! Puji Dia, dalam kegelapan di Keluaran 1 ada terang yang memancar!