PRAKATA
Wahyu ilahi dalam Alkitab bersifat progresif, terbuka, dan berkembang, kitab demi kitab dan pasal demi pasal. Keenam puluh enam kitab dalam Alkitab selesai ditulis selama lebih kurang 1600 tahun. Sepanjang masa ini, Allah tidak menyampaikan semuanya itu sekaligus pada satu saat yang khusus. Sebaliknya, selama itu Dia bersabda kepada umat-Nya setahap demi setahap, masa demi masa.
Dalam Kolose 1:25 Paulus mengatakan bahwa dia telah menjadi pelayan (minister) sesuai dengan ekonomi Allah “untuk melengkapi firman Allah” (Tl.). Pada masa Paulus, wahyu Allah dalam Alkitab belumlah lengkap. Jadi perlu Paulus berbeban mengatakan dan menulis, untuk melengkapi firman Allah. Sampai pada Kitab Wahyu tulisan Yohanes itulah wahyu ilahi dalam Alkitab baru lengkap. Karena wahyu ini sudah lengkap, maka kita diperingatkan agar tidak menambahi atau mengurangi firman-firman wahyu Allah (Why. 22:18-19). Sekarang wahyu Allah yang progresif itu sudah lengkap, tak seorang pun diizinkan menambah sesuatu. Apa yang perlu kita lakukan hari ini hanyalah membaca Alkitab, mempelajari, dan menelitinya kitab demi kitab.
I. SATU PERBANDINGAN
Setelah kita membaca pelajaran-hayat Kitab Kejadian, kini sampailah kita pada Kitab Keluaran. Dipandang dari sejarahnya, Kitab Keluaran memang merupakan kelanjutan dari Kitab Kejadian, namun dari segi pengalaman tidaklah demikian. Menurut pengalaman rohani, apa yang dilukiskan dalam Kitab Keluaran bukanlah kelanjutan pengalaman Abraham, Ishak, dan Yakub yang tercantum dalam Kitab Kejadian. Sewaktu mempelajari Kitab Kejadian telah kita tunjukkan bahwa pengalaman Abraham, Ishak, dan Yakub merupakan tiga tahap pengalaman dari satu orang, orang beriman: Pengalaman terpanggil, percaya, dan hidup bersekutu dengan Allah (Abraham), pengalaman menikmati warisan (Ishak), dan pengalaman diubah (Yakub). Dalam Kitab Kejadian kita nampak gambaran yang jelas dari tiga tahap utama pengalaman rohani seorang beriman. Karena gambaran dalam Perjanjian Lama demikian hidup dan rinci terhadap pengalaman rohani, maka Perjanjian Lama menjadi sangat berharga bagi saya, dan saya pun menghargainya tinggi-tinggi.
Pengalaman rohani tidak hanya ada tahapan-tahapan, juga ada aspek-aspek atau pihak-pihak yang berbeda, keadaan yang berbeda. Gambaran pengalaman kita dalam Kitab Kejadian hanya merupakan satu aspek, satu garis. Dalam Kitab Keluaran kita nampak aspek yang lain. Catatan pengalaman dalam Kitab Kejadian sangatlah ajaib, namun belum sempurna. Untuk dapat menyempurna-kannya, perlu aspek yang lain, yang terdapat dalam Kitab Keluaran.
A. GAMBARAN PENEBUSAN
Dengan memperbandingkan Kitab Keluaran dengan Kitab Kejadian, dapatlah kita nampak bahwa aspek atau garis pengalaman rohani dalam Kitab Keluaran tidak terdapat dalam Kitab Kejadian. Contohnya, tak ada gambaran yang jelas tentang penebusan dalam Kitab Kejadian. Pada Abraham kita nampak panggilan Allah, namun itu bukan untuk penebusan Abraham. Dia sekadar contoh khas dari orang yang terpanggil; dia dipanggil Allah untuk keluar dari UrKasdim, meninggalkan Babel, negeri yang durhaka dan menyembah berhala. Ketika Abraham masih tinggal di Babel, Allah yang mulia menampakkan diri serta memanggilnya (Kis. 7:2-3), namun tak ada kata-kata yang jelas mengenai penebusannya. Yang kita nampak dalam seluruh pengalaman Ishak adalah gambaran kenikmatan atas warisan yang kaya, bukan gambaran penebusan. Juga tidak ada gambaran tentang penebusan dalam catatan pengalaman Yakub. Walaupun akhirnya dia diubah menjadi Israel, pangeran Allah, namun tidak ada catatan mengenai pengalaman penebusan Yakub. Kalau begitu di mana Abraham, Ishak, dan Yakub ditebus? Mereka ditebus dalam Kitab Keluaran. Dalam Kitab Keluaran kita memiliki gambaran yang jelas dan konkret mengenai penebusan Allah.
Lukisan penebusan mana yang bisa lebih jelas daripada Paskah? Bahkan dalam Perjanjian Baru pun tak dapat kita temukan gambaran yang lebih terperinci. Paskah adalah gambaran yang indah dari penebusan kita. Dalam gambaran ini juga terdapat petunjuk tentang salib. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menggambarkan cara orang Yahudi menyembelih anak domba Paskah. Menurut artikel tersebut, mereka terlebih dulu mengambil dua batang kayu dan membentuknya menjadi salib. Kemudian kedua kaki belakang anak domba itu diikatkan pada kaki salib, sedangkan kaki-kaki yang lain direntangkan dan diikat pada palang kayu salib. Selanjutnya, anak domba itu dibunuh sehingga seluruh darahnya tertumpah. Sebab itu, dalam gambaran Paskah kita nampak salib. Asal kita mengingat gambaran tentang Paskah, kita menerima kesan yang dalam akan kuasa darah Anak Domba Allah. Keluaran 12:13 mengatakan, “Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir.” Gambaran yang sedemikian indah dan ajaib ini tercantum dalam Kitab Keluaran, bukan dalam Kitab Kejadian.
B. PEMELIHARAAN TUHAN
TERHADAP UMAT TEBUSAN-NYA
Kontras lain antara Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran terlihat pada masalah pemeliharaan Tuhan terhadap umat-Nya. Setelah Abraham dipanggil, dia mulai mengikuti Tuhan. Abraham tidak tahu ke mana ia harus pergi, dia hanya menikmati hadir Tuhan sebagai peta perjalanannya yang hidup. Dengan sederhana dia berjalan berdasarkan hadir Tuhan. Walaupun Abraham menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan, namun Kitab Kejadian tak pernah memberi tahu kita bagaimana Tuhan menunjang dia atau memeliharanya. Kita tahu secara umum Tuhan menyuplai segala kebutuhan Abraham, namun dalam Kitab Kejadian kita tidak memiliki hal-hal khusus yang menunjukkan pemeliharaan Tuhan secara langsung terhadap Abraham, seperti pemeliharaan-Nya terhadap umat-Nya yang kita lihat dalam Kitab Keluaran. Sejak permulaan Kitab Keluaran kita memiliki catatan yang jelas dan terperinci tentang bagaimana Tuhan memelihara umat tebusan-Nya. Ketika mereka kekurangan makanan, Dia menyuplaikan manna. Ketika mereka tidak memiliki air untuk diminum, Dia mengalirkan air hayat dari batu yang terbelah. Dalam Kitab Keluaran kita tidak hanya nampak pimpinan Tuhan, tetapi juga gambaran yang hidup akan pemeliharaan Tuhan terhadap keperluan hidup sehari-hari umat tebusan-Nya. Atas masalah ini, Kitab Keluaran lebih rinci dan solid daripada Kitab Kejadian. Bahkan dalam Perjanjian Baru pun tak bisa kita temukan gambaran suplai hayat rohani yang sedemikian ini. Itulah sebabnya kita begitu terkesan oleh makna dan pentingnya Kitab Keluaran.
C. PIMPINAN TUHAN
Beberapa perbandingan lebih lanjut akan menjadikan kesan ini lebih kuat. Meskipun dalam Kitab Kejadian Tuhan memimpin Abraham dengan hadir-Nya, namun masih samar-samar dan abstrak. Berbeda dengan Kitab Keluaran yang lebih konkret dan solid, karena melalui tiang sesuatu yang kokoh dan kuat, Dia memimpin umat-Nya. Sebagaimana kita tahu, hadir Tuhan pada siang hari berwujud tiang awan, sampai malam hari berwujud tiang api. Karena dalam pimpinan Tuhan ada sesuatu yang kelihatan, maka semua orang dapat mengenalnya.
D. WAHYU DAN BANGUNAN
TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Dalam Kejadian 18 Allah mengunjungi Abraham dan makan bersama dia, serta tinggal bersama Abraham sejangka waktu. Namun dalam Kitab Kejadian tidak ada wahyu yang jelas tentang Kemah Pertemuan (tabernakel) sebagai tempat kediaman Allah. Dalam Kitab Keluaran tidak hanya ada wahyu pola tempat kediaman Allah, bahkan catatan terperinci dari pembangunan tempat kediaman Allah yang sebenarnya secara riil. Dalam Kitab Kejadian, Allah menampakkan diri sekali demi sekali kepada umat pilihan-Nya namun Dia tidak memiliki tempat kediaman yang konkret di antara mereka. Kitab Keluaran penuh dengan catatan tentang wahyu dan pembangunan Kemah sebagai tempat kediaman Allah di bumi.
E. PENGALAMAN INDIVIDUAL
DAN PENGALAMAN KORPORAT
Satu lagi perbandingan antara Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran terlihat dalam perbedaan pengalaman individual dan pengalaman korporat. Dalam Kitab Kejadian yang ditekankan adalah pengalaman individual, namun dalam Kitab Keluaran adalah yang korporat. Abraham, misalnya, dia dipanggil secara individual. Demikian pula Tuhan memperoleh Yakub untuk diubah menjadi Israel juga satu masalah individual. Yakub memiliki dua belas putra, namun kecuali Yusuf, semuanya di bawah standar. Sebaliknya, seluruh pengalaman yang digambarkan dalam Kitab Keluaran adalah yang korporat. Penebusan, pimpinan, wahyu, dan pembangunan adalah masalah korporat.
Ada dua aspek dalam pengalaman rohani kita: aspek individual dan aspek korporat. Tidak diragukan, aspek individual itu adalah dasar, namun aspek korporat jauh lebih kaya, lebih tinggi, dan lebih besar. Perampungan dan kesempurnaan terakhir pengalaman kita sebagai kaum beriman bukanlah pada aspek individualnya, melainkan aspek korporatnya. Dalam Kitab Kejadian kita memiliki pengalaman individual yang mendasar; namun dalam Kitab Keluaran kita memiliki perampungan pengalaman korporat.
Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran menggunakan sebutan “Israel” sebagai ilustrasinya. Kitab Kejadian diakhiri dengan Israel yang individual, sedangkan Kitab Keluaran diakhiri dengan Israel yang korporat. Keluaran 14:30 mengatakan, “Demikianlah pada hari itu Tuhan menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut.” Dalam ayat ini kata “Israel” digunakan secara korporat untuk menunjukkan seluruh umat Israel. Namun dalam Kitab Kejadian, sebutan “Israel” itu digunakan secara pribadi dan individual untuk menyatakan Yakub yang diubah (Kej. 35:10, 21). Israel dalam Kitab Kejadian adalah orang yang individual, namun Israel dalam Kitab Keluaran adalah umat yang korporat. Pada akhir Kitab Kejadian, Israel yang individual ibarat tunas yang kecil, namun Israel yang korporat pada akhir Kitab Keluaran ibarat pohon yang bertumbuh besar dan berbuah lebat. Israel korporat tersusun dari keturunan Israel yang individual, yang merupakan penambahan dan perluasan dari Israel yang individual. Dalam Keluaran 40, kita bukan memiliki Israel yang terbatas pada satu orang saja, melainkan memiliki Israel yang meluas menjadi satu kesatuan korporat dari keturunan Israel individual. Betapa pentingnya kita nampak hal ini.
Lagi pula, penyelamatan dalam Kitab Keluaran bukanlah masalah individual, melainkan menyangkut semua orang Israel. Pada saat keluar dari Mesir, kira-kira ada dua juta orang Israel yang serentak diselamatkan; mereka melewati penghakiman Allah pada saat yang sama.
Di satu pihak, kita umat Kristen diselamatkan secara individual dan pribadi. Namun di pihak lain dan dalam pandangan Allah, kita diselamatkan bersama-sama. Kita diselamatkan secara korporat. Inilah konsepsi Paulus dalam Efesus 2:6, yang memberi tahu kita bahwa kita telah dibangkitkan dan didudukkan bersama-sama di surga. Kata “bersama-sama” dalam ayat ini berarti saling dengan yang lain. Dalam pandangan Allah, kita telah dibangkitkan pada saat yang sama. Bukannya Petrus dibangkitkan pada suatu saat, Stefanus di saat yang lain, dan Paulus di saat yang lain lagi. Tak peduli kapan kita dilahirkan, di dalam Kristus kita semua telah dibangkitkan secara korporat pada waktu yang sama.
Meskipun kita ditebus secara kolektif, namun dalam pengertian yang lain, kita dipanggil secara individual. Tak seorang pun di antara kita yang dipanggil pada saat Rasul Paulus dipanggil. Mengenai panggilan Allah itu ada unsur individual, namun terhadap penebusan Allah, tidak ada yang individual, semuanya korporat.
Telah kita tunjukkan bahwa pada akhir Kitab Kejadian kita memiliki seorang Israel yang individual. Namun dalam Keluaran 40, kita memiliki bejana yang korporat, tempat kediaman Allah, tempat tinggal Allah bersama manusia di bumi. Dari perbandingan ini kita dapat melihat perbedaan antara garis dalam Kitab Kejadian dengan garis dalam Kitab Keluaran. Dalam Kitab Kejadian ada garis pengalaman rohani yang individual, sedangkan dalam Kitab Keluaran ada garis pengalaman yang korporat. Dalam Kitab Kejadian secara mendasar ada dua orang yaitu Abraham dan istrinya, keluar dari Ur-Kasdim; namun dalam Kitab Keluaran ada lebih dari dua juta orang yang keluar dari Mesir. Satu perbandingan yang luar biasa!
F. KEMULIAAN ALLAH
Meskipun Kitab Kejadian itu kaya, namun dalam kitab ini tidak kita jumpai manifestasi kemuliaan Allah di antara umat-Nya secara konkret. Namun ketika Kemah Pertemuan didirikan dalam Keluaran 40, kemuliaan Allah nampak secara visual dan konkret. Kemuliaan Allah bukan hanya datang ke atas Kemah Pertemuan, bahkan memenuhinya.
G. KEJATUHAN
Perbandingan lebih lanjut antara Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran terlihat pada cara kejatuhan yang ada dalam kedua kitab ini. Alkitab menunjukkan kepada kita perbedaan aspek kejatuhan manusia. Kejatuhan dalam Kitab Kejadian adalah jatuh ke dalam pemberontakan dan penyembahan berhala, jatuh ke Babel. Sebelum diselamatkan, kita berada di Babel, tanah pemberontak dan penyembah berhala. Namun kita pun di Mesir, lambang tempat yang jatuh dalam Kitab Keluaran. Mesir adalah tanah kenikmatan daging. Kenikmatan ini membawa manusia ke dalam perbudakan, di bawah perhambaan. Sebab itu, Mesir dalam Alkitab melambangkan dunia sebagai kenikmatan daging yang membawa kita ke dalam perbudakan. Sebelum diselamatkan, di satu pihak kita berada di Babel dan di pihak lain di Mesir. Ini berarti kita berada dalam pemberontakan dan penyembahan berhala, juga berada dalam dunia beserta kenikmatannya, termasuk olahraga dan hiburan. Kenikmatan daging dalam dunia adalah bagi kepuasan manusia alamiah. Karena kenikmatan daging dan dunia semacam ini, manusia yang jatuh berada di bawah perbudakan Firaun, Iblis (Satan), Manusia yang jatuh adalah seperti orang-orang di Babel, juga seperti orang-orang Israel di Mesir. Jika kita menelusuri garis Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Kitab Kejadian, kita hanya bisa nampak aspek kejatuhan kita yang dilambangkan oleh Babel. Kita hanya nampak pemberontakan dan penyembahan berhala, tidak nampak perbudakan dan perhambaan karena kenikmatan duniawi. Bahkan kejatuhan manusia pun mempunyai dua garis. Di satu pihak, kita adalah Abraham, Ishak, dan Yakub; namun di pihak lain, kita adalah anak-anak Israel.
Setelah melihat beberapa perbandingan antara Kitab Kejadian dengan Kitab Keluaran, maka dalam pengalaman kita, tak seharusnya kita menganggap Kitab Keluaran sebagai kelanjutan dari Kitab Kejadian lagi. Sekali lagi, Kitab Keluaran bukanlah kelanjutan pengalaman rohani dalam Kitab Kejadian; melainkan mewahyukan pihak atau garis lain dari pengalaman kaum beriman. Pengalaman dalam Kitab Kejadian agak samar-samar dan abstrak, namun pengalaman dalam Kitab Keluaran kuat dan konkret. Sejak hadir Tuhan sebagai tiang sampai pada kemuliaan memenuhi Kemah, setiap aspek pengalaman dalam Kitab Keluaran sangatlah riil.
H. KITAB GAMBARAN
Kitab Kejadian dan Kitab Keluaran keduanya memuat gambar pengalaman rohani dalam Perjanjian Baru. Namun, gambaran dalam Kitab Kejadian tidaklah sejelas dalam Kitab Keluaran. Dari permulaan sampai akhir, Kitab Keluaran merupakan kitab gambaran (lambang). Contohnya, baik Firaun maupun Mesir merupakan gambaran (lambang). Firaun melambangkan setan, sedangkan Mesir melambangkan kekayaan, aspek produktif dunia. (Aspek dunia yang penuh dosa diwakili oleh Sodom). Tanah Mesir diairi oleh Sungai Nil, menghasilkan mentimun, bawang putih, bawang perai, dan bawang merah. Selama tahun-tahun pengembaraan di padang gurun, orang-orang Israel mengeluh karena kekurangan makanan ini, yang tadinya dapat mereka nikmati dengan mudahnya di Mesir. Di Mesir orang-orang Israel memiliki banyak kenikmatan yang dihasilkan oleh tanah Mesir, namun di padang gurun mereka hanya ada manna. Inilah sebuah gambaran.
Ketika Anda membaca Kitab Keluaran, ingatlah bahwa Anda bukan hanya membaca kata-kata, tetapi juga melihat gambaran. Perayaan Paskah dan pembunuhan anak-anak sulung oleh malaikat pembinasa adalah gambaran. Pada saat semua anak sulung di Mesir dibunuh, orang-orang Israel sedang menikmati perdamaian, perhentian, dan pemeliharaan sambil makan domba Paskah di bawah penutupan darah. Betapa ajaibnya gambaran ini! Pengejaran Firaun dan pasukannya terhadap orang-orang Israel juga merupakan gambaran pengejaran Iblis (Satan) dan malaikat-malaikat pemberontak terhadap umat tebusan Allah. Ketika kita sampai pada Kitab Keluaran, kita akan melihat televisi surgawi. Dalam televisi ini kita melihat gambaran penebusan dan penyelamatan diri kita sendiri. Firaun beserta pasukannya mengejar orang-orang Israel sampai di Laut Merah dan tenggelam di sana. Namun, orang-orang Israel bergerak menyeberang laut dengan jayanya. Tidak ada tempat lain dalam Alkitab yang menyajikan gambaran yang sedemikian ini.
Gambaran lebih banyak kita lihat dalam dipanggilnya Musa. Ketika Allah memanggil Musa, pertama-tama Ia memperlihatkan kepadanya visi semak yang terbakar, semak itu terbakar tanpa membuatnya hangus (3:2-4). Karena tak dapat menghindari panggilan Allah, Musa mengutarakan kebimbangannya, bagaimana kalau orang-orang Israel tidak mempercayai atau mendengarkan perkataannya (4:1). Kemudian Allah menyuruh Musa melemparkan tongkatnya ke tanah. Ketika Musa melakukannya, tongkat itu menjadi ular. Namun ketika Musa memegang ekor ular itu, jadilah sebatang tongkat lagi di tangannya (4:2-4). Kemudian Tuhan memerintahkan Musa untuk memasukkan tangannya ke dalam baju. Ketika Musa melakukannya, tangannya “kena kusta, putih seperti salju” (4:6). Atas perintah Tuhan, dia memasukkan kembali tangannya ke dalam bajunya dan kemudian mengeluarkannya lagi, maka “tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya” (4:7). Setelah menunjukkan tanda-tanda ini kepada Musa sebagai bukti bagi orang-orang Israel bahwa Tuhan benar-benar menampakkan diri kepadanya, Allah berfirman, “Dan jika mereka tidak percaya juga kepada kedua tanda mukjizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari Sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kau ambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu” (Kel. 4:9). Ini adalah tanda ajaib selanjutnya.
Tanda-tanda ini sangatlah berarti. Semak menunjukkan manusia alamiah kita. Fakta semak terbakar tanpa menghanguskannya menunjukkan bahwa ketika Allah memanggil kita, Dia tak mau menggunakan manusia alamiah kita.
Tongkat mewakili sesuatu di luar Allah yang kita sandari. Tongkat menjadi ular menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita sandari selain Allah adalah ular, si jahat itu. Jadi bila Anda bersandar pada suami atau istri Anda, suami atau istri Anda itulah “ular”. Demikian juga dengan pendidikan atau rekening Anda di bank. Ketika kita mematuhi Tuhan untuk melemparkan tongkat itu ke tanah, ia menjadilah seekor ular. Namun Allah tidak bermaksud supaya kita selamanya membuang tongkat itu. Kita perlu menaati perintah-Nya untuk memegang kembali “ekor”nya. Kita perlu memegang ekor pendidikan atau rekening bank kita.
Tangan Musa kena kusta menandakan bahwa dalam daging kita tak ada sesuatu pun yang baik; daging kita merupakan perwujudan dari penyakit kusta. Bila kita menyentuh diri sendiri, kita akan kena kusta.Terakhir, mengubah air Sungai Nil menjadi darah menandakan bahwa kenikmatan dunia adalah maut.
Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan menggunakan manusia alamiah kita, karena segala sesuatu yang kita sandari selain Allah, adalah Iblis, daging kita kusta, dan kenikmatan dunia adalah maut. Inilah gambaran-gambaran lain dalam kitab ini yang berhubungan dengan Laut Merah, manna, air mengalir dari batu yang dipukul, dan Kemah Pertemuan beserta segala perabotannya.
II. SKETSA UMUM
Pertama-tama, sketsa umum Kitab Keluaran menunjukkan bagaimana orang Israel diperbudak di Mesir (1:8-14). Kemudian mewahyukan orang Israel ditebus dan diselamatkan (12:27; 14:30). Setelah penebusan dan penyelamatan, orang Israel dipimpin Tuhan ke padang gurun (13:17-18, 21-22; 17:1; 19:1-2; 40:36-38). Mereka dipimpin oleh tiang awan dan tiang api. Selanjutnya, turunlah manna dari surga dan air hayat mengalir dari batu yang terbelah. Akhirnya, orang Israel dalam perjalanannya dibawa Tuhan ke Gunung Sinai, di mana mereka menerima wahyu kehendak Allah yang kekal, yaitu adanya tempat kediaman Allah di bumi (25:8-9, 40). Setelah menerima wahyu ini, mereka membangun Kemah sebagai tempat kediaman Allah (39:32; 40:2, 34-35).
Kitab Keluaran bukan hanya sebuah kitab yang menceritakan bagaimana orang Israel keluar dari Mesir, bahkan kitab penebusan, suplai, wahyu, dan pembangunan. Keluar dari Mesir dapat dikatakan sebagai permulaan. Kemudian disusul oleh suplai, wahyu, dan pembangunan.
III. POKOK PIKIRAN
Pokok pikiran Kitab Keluaran ialah Kristus adalah penebusan, keselamatan, dan suplai umat Allah, juga adalah sarana mereka beribadah dan melayani Allah, supaya di dalam Dia mereka terbangun bersama Allah, sehingga mereka dengan Allah saling bertemu, saling bersekutu, dan saling huni. Kita nampak Kristus dalam seluruh Kitab Keluaran. Sebagai Paskah, Dia adalah sarana tertebusnya kita. Sebagai Juruselamat umat Allah, Dia menolong kita keluar dari tangan Firaun, Iblis. Sebagai manna dan air hidup, Dia adalah suplai hayat kita. Selanjutnya, Laut Merah menandakan kematian Kristus yang ke dalamnya kita dibaptis (1Kor. 10:2). Roma 6:3 mengatakan bahwa siapa yang dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.
Dalam Kitab Keluaran, Kristus masih merupakan banyak butir lagi: tiang awan dan tiang api, ketujuh puluh pohon korma beserta dua belas mata air di Elim, Kemah Pertemuan beserta segala perabotannya. Melalui Kemah beserta perabotannya, umat tebusan-Nya dapat melayani dan beribadah kepada-Nya. Ini menandakan bahwa Kristus adalah sarana yang oleh-Nya kita melayani Allah dan menyembah-Nya. Umat pilihan Allah perlu terbangun bersama menjadi satu perwujudan Kemah Pertemuan di mana Allah dan manusia boleh saling bertemu, saling bersekutu, dan saling huni. Dalam Kristus, kita dengan Allah, Allah dengan kita, terbangun bersama, berkumpul bersama, dan tinggal bersama. Inilah pokok pikiran Kitab Keluaran.
IV. PEMBAGIANNYA
Kitab Keluaran dapat kita bagi secara sederhana. Kitab ini terdiri atas lima bagian: diperbudak (1:1-22), ditebus dan diselamatkan (2:1-15:21), dipimpin (15:22-18:27), menerima wahyu (19:1-34:35), dan mendirikan Kemah Pertemuan (35:1-40:38). Setelah kata pengantar ini, dalam berita-berita selanjutnya kita akan memasuki rincian kitab ini.